Kisah Pencari Kerja (Bag 1/2)

Wisuda (2003)
Selalu ada keramaian di asrama jika ada wisuda. Malam sebelum wisuda para warga biasanya mempersiapkan tandu buat wisudawan, sebuah tradisi turun temurun di asrama, wisudawan harus diantar menuju ruang wisuda dengan tandu bak raja Makassar jaman dulu, pernak-pernik hiasan tandu dikerjakan bersama-sama oleh warga, wisudawan tinggal menunggu besoknya dan diarak menuju Baruga Pettarani diiringi tatapan lucu keluarga wisudawan yang hadir. Anak-anak akan menunggu sampai Baruga ramai baru mengantar wisudawan, memang tujuannya untuk mencari perhatian, tidak sering-sering bisa ditandu seperti itu hanya acara wisuda saja, dan hanya anak asrama yang punya tradisi seperti itu. Jadilah aku bak raja ditandu oleh sekitar 8 orang, 4 didepan dan 4 dibelakang, hari itu adalah hari penuh senyum. Hari itu diabadikan teman-teman asrama dalam sebuah video. Setelah itu, medali disematkan, sebuah map kosong diserahkan, dan dilambangkan sebagai ijazah yang diberikan, dan seulas senyum dari sang Rektor saat berjabat tangan seakan-akan berkata “help yourself”, “tolong dirimu”. Ijasahnya diberikan belakangan beserta transkrip, dengan nilai yang cukup memuaskan, paling tidak persyaratan lowongan kerja dengan IPK diatas 3.0 bisa dipenuhi.Babak barupun dimulai, dari yang tadinya berstatus mahasiswa berubah menjadi pengangguran, istilah kerennya pencari kerja. Lagu Iwan Fals pun bersenandung dari bilik asrama, ” engkau sarjana muda, lelah mencari kerja, mengandalkan ijasahmu”.

Melamar Kerja (2003)
Saya masih tinggal di asrama setelah lulus, sebenarnya tak ada lagi hak saya tinggal disana selepas tak berstatus mahasiswa. Tapi itulah tempat tinggal saya di Makassar, jadi selama masih di Makassar disanalah saya tinggal, tidur, makan indomie, main bola, nonton Inggris dipecundangi, nonton MU menang terus, diskusi tentang apa aja, gosip tentang putri, dan nyuci didalam kampus. Toh Unhas tak pernah keberatan saya tinggal disana, unhas cuek-cuek aja tuh.

Periode melamar kerja diisi dengan aktifitas hunting informasi dan mempersiapkan diri, belajar lagi bahasa inggris, aneh sebenarnya baru belajar bahasa inggris setelah jadi sarjana, padahal jaman kuliah kan banyak komunitas bahasa inggris di kampus, tapi daripada tidak sama sekali mendingan dioba aja (ahh semboyan ini bukan semboyan optimis kayaknya :) )
waktu ini juga diisi dengan menjadi penjaga warnet, sebuah aktifitas yang mengasyikkan sebenarnya, karena punya kesempatan mengakses informasi dalam waktu tak terbatas, sehingga kesempatan untuk mencari lowongan bisa dimaksimalkan, belum lagi di asrama ada koran kompas, jadi tak perlu repot-repot beli untuk dapat informasi, sayang semua lowongan di nun jakarta sana.

Pernah ada lowongan disebuah perusahaan kelapa sawit di palu yang mencari seorang engineer, kupikir inilah lowongan yang cocok buatku, kutulis cover letter dalam bahasa indonesia yang isinya kira-kira begini :
“saya sejak kecil senang bertani, sejak SD saya mengelola sendiri sawah saya, setiap pulang sekolah, sorenya saya selalu kesawah. karena itu saya yakin bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja didaerah pertanian. Saya mudah bergaul dengan orang, sejak kelas 2 SD saya jarang berkelahi, itu membuktikan saya mudah bergaul dan beradaptasi dengan orang lain, jaman kuliah saya juga tinggal diasrama yang mahasiswanya berasal dari seluruh indonesia, jadi saya bisa lebih toleran dengan kultur yang berbeda, tidak salah lagi sayalah orang yang bapak cari” suratpun terkirim, dan tidak ada balasan,
Pelajaran.1 : perusahaan belum bisa menerima cara-cara yang tidak konvensional.

Test Kerja (2003)
Saya masih dimakassar, masih mengirim cover letter, masih berlangganan dengan tukang fotocopy, masih hampir tiap hari bertemu dengan pak Pos, yang sudah hapal kalau saya yang datang, sekali-sekali harus ke TIKI karena aplikasinya diminta dikirim mendadak, dengan persyaratan berlembar-berlembar, menghabiskan uang bagi seorang yang belum punya penghasilan. Di warnet juga demikian berkilobyte attachment terkirim, keratusan perusahaan, bermodalkan stempel cap ayam jantan.
Dulunya saya masih sering jalan-jalan ke kampus, tapi pada suatu pagi saya berpapasan dengan seorang ibu dosen berkacamata, dan langsung menyapa “masih disini kau ahmad? belum merantau ya”. Sayapun kemudian jarang kekampus setelah itu.
Pernah juga sekali saya bertemu di Bandara dengan seorang kenalan lama saya waktu masih SMA, seorang pejabat negara anggota DPR RI, Ketua DPP partai beringin, sayapun memperkenalkan diri, mungkin beliau masih ingat dan saya menceritakan kalau dulunya saya aktif diorganisasi yang dia bina dibawah naungan ICMI, dan saya bilang kalau dulu saya pernah home stay tiga hari di rumahnya di Jakarta, mungkin beliau ingat, seterusnya bertanya kepada saya
” dimana sekarang?”
” dimakassar bu, saya dulunya kuliah di elektro”
“terus sekarang dimana?”
dengan sedikit malu-malu saya bilang
“masih menganggur Bu”
terjadi perubahan pada mimik mukanya, dalam hati saya berkata, saya memang menganggur, dan saya tidak sedang meminta kerja, tapi sudahlah, toh beliau sudah banyak memberikan pelajaran hidup kepada saya, bagaimana mengelola hidup dan merencanakan masa depan.
Kembali ke Laptop
Saya tak akan bercerita tentang semua tes kerja saya, hanya yang berkesan aja.
Waktu di Makassar, sebuah BUMN listrik membuka pendaftaran, dan untuk Makassar hanya akan mengambil dari alumni Unhas. Sayapun mendaftar, dan menjalani test tertulisnya dengan sangat memuaskan menurut saya. Saya berkampanye kepada diri saya sendiri, sayalah calon yang paling layak dipilih nantinya, begitu aku memuji diriku dalam hati :) . Test tertulis dilalui dengan mudah, tak ada hambatan berarti.

Jadwal selanjutnya adalah Diskusi kelompok. Beberapa senior yang sudah masuk disana menyarankan banyak trik, sampai saya jadi bingung sendiri ngikutin yang mana. Nah salah satu saran yang saya ikuti adalah santai saja selama diskusi kelompok. Diskusi kelompokpun dimulai, ada sekitar sepuluhan orang dalam satu kelompokku, dan semua pastinya anak unhas, gabungan anak hukum dan anak elektro. Sebuah topik dilemparkan oleh para psikolog, intinya adalah kami disuruh untuk menyimpulkan sebuah kasus kematian seorang China, apakah dia bunuh diri atau terbunuh, semua orang tampak serius berdebat, satu orang langsung bersikap seolah-olah dia moderator, seorang bertindak sebagai notulen, dan mulailah perdebatan itu, dengan argumennya masing-masing, saya beberapa kali mengeluarkan pendapat, dalam hati saya berkata ayo bicara agar yang mengetes tertarik meluluskan. Hingga kemudian waktu yang ditentukan hampir habis dan kami harus mengambil kesimpulan, sayapun mengeluarkan pernyataan yang selalu saya ingat ” Baiknya begini, karena perdebatannya makin memanas dan susah mencari titik temu, untuk mengambil keputusan kita nonton di TV aja besok, kalau ada beritanya di Buser, artinya dia dibunuh, kalau acaranya di percaya nggak percaya, maka dia bunuh diri” semua peserta tertawa,
Dan hasil akhirnya adalah hanya satu diantara peserta yang tertawa yang tidak lolos, dan saya yang ditertawakan, tinggal menertawai nasib tidak lolos ke test selanjutnya. Dalam hati saya bilang, siapa suruh tidak serius. Sebuah pelajaran berharga
Pelajaran 2 : Bedakan antara santai dan main-main dalam tes

Selanjutnya di : Bagian 2/2

One comment on “Kisah Pencari Kerja (Bag 1/2)

  1. Pingback: Kisah Pencari Kerja (Bag. 2/2) « A Taro Ada of Ahmad Amiruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s