Kecewa PKS

Untuk kedua kalinya saya dikecewakan oleh pilihan yang sama. Tahun 2004 saya dikecewakan karena si Partai berjanji akan mencalonkan Habibie sebagai presiden, dijalan-jalan protokol di Sul-Sel bertebaran spanduk bertuliskan ” PKS pilihanku, Habibie Presidenku”. Suarakupun melayang karena tak ada kabar tentang pencalonan Habibie setelah suaraku kuserahkan cuma-cuma.  9 April kemarin 5 tahun setelah 2004, saya masih memaafkannya kumasih berharap seperti lagunya Hijau Daun, kuserahkan suaraku untuk PKS di Dapil Banten 3.

Setelah pemilu legislatif dan presiden mulai akan diajukan oleh tiap partai, elit partai pilihanku bermanuver dengan bergabung dengan SBY, ketika Golkar berniat bergabung dalam koalisi PKS mengancam akan keluar dari koalisi. Dan ternyata golkar yang memilih hengkang. Nah, terakhir ketika SBY mencalonkan Boediono, PKS kembali mengancam akan keluar dari koalisi, karena Boediono dianggap bukan calon yang tepat, serta PKS mempertanyakan komunikasi yang dilakukan oleh SBY yang sifatnya searah. Kali ini reaksi PKS sangat keras, beragam debat dan diskusi di TV menggambarkan betapa PKS tersinggung dan berniat akan membentuk koalisi sendiri jika SBY tetap bersikukuh akan menggandeng Boediono.

Tapi apa lacur? Tadi pada saat pendeklarasian pasangan SBY-Boediono, ketua PKS hadir di acara tersebut dan tampak melambaikan tangan, didampingi oleh Syarif Hasan yang nampak sumringah. PKS telah takluk oleh kekuasaan, dan saya menyesal telah menyerahkan suara saya ke PKS. Ternyata selama ini ancaman-ancaman yang dilakukan oleh PKS tidak lebih untuk menaikkan nilai tawarnya. Saya tambah apatis dengan politik, dan tidak bisa percaya lagi dengan partai politik. Awalnya saya berpikir bahwa, beruntunglah negeri ini memiliki PKS, sebagai partai yang bersih, dan profesional tapi ternyata tidak ada bedanya dengan partai lain yaitu partai transaksional, tergantung deal-deal politik kepentingan, tidak peduli kalau sebelumnya sudah menolak, mencerca dan mengancam.

Ternyata memang suara rakyat adalah buat alat transaksi bagi partai politik. Suara rakyat hanyalah mata uang dalam transaksi dagang politik.

Hasil Pemilu DPR dan Pencalonan Capres-Cawapres

Hanya 9 Partai yang akan mendudukkan wakilnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2009-2014. Partai Demokrat meraih kursi terbanyak dengan 148 kursi atau 26,43%. Berikut perolehan kursi kesembilan partai tersebut seperti dibacakan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary dalam rapat pleno penetapan suara sah nasional di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat Minggu (10/5/2009), pukul 00.02 WIB.

1. Partai Demokrat 148 kursi, atau 26,43 %
2. Partai Golongan Karya (Golkar) 108 kursi, 19,29%
3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 93 kursi, 16,61%
4. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 59 kursi, 10,54%
5. Partai Amanat Nasional (PAN) 42 kursi, 7,54%
6. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 39 kursi, 6,96%
7. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 26 kursi, 4,64%
8. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 30 kursi, 5,36%
9. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 15 kursi, 2,68%

Setelah pengumuman tersebut KPU membuka pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden mulai hari ini (10/05/09) sampai sabtu (16/05/09) . Sampai saat ini pasangan yang telah mendeklarasikan pencalonannya adalah Jusuf Kalla dan Wiranto, yang perolehan suara partainya jika digabung akan menjadi 21,96% kursi, dan telah cukup untuk memenuhi syarat untuk pencalonannya. Sementara itu Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu dan secara kursi berhak mengajukan capres-cawapres sendiri masih mengutak-atik calon Wapres pendamping SBY apalagi setelah mendekatnya PDIP, rencananya pendamping SBY akan diumumkan pada 15/05/09 di Bandung, Beberapa partai yang telah menyatakan koalisi dengan PD adalah PKS, PAN, PKB, dan terakhir PPP. Koalisi yang dibangun oleh SBY bisa saja menjadikan pilpres nantinya hanya akan diikuti oleh 2 pasangan. Secara hitung-hitungan koalisi kira-kira seperti ini

1. Golkar + Hanura = 21,96%
2. PD + PPP + PAN + PKS + PKB = 56,07%
3. PD + PPP + PAN + PKS + PKB + PDIP = 72,68%
4. PDIP + GERINDRA = 21,96%

Mendekatnya PDIP ke kubu PD, menurunkan kans GERINDRA untuk pencalonan Prabowo baik sebagai Capres maupun Cawapres. Jika PDIP jadi bergabung dengan PD maka GERINDRA otomatis tidak punya teman koalisi lagi di parlemen, sementara jika GERINDRA mencoba untuk mencapai 25% suara sah dengan bergabung dengan partai gurem tidak akan cukup, karena suara partai gurem dibawah 2,5% jika digabung-gabung akan mencapai sekitar 18%, belum lagi adanya kabar PBB sebagai partai peraih suara di urutan 10 memilih untuk mendukung SBY.

(Detik/taroada)

Blog Rani Juliani

rani profile

rani profile

Saya mengunjungi blog Rani Juliani di http://rani-juliani.blogspot.com, wanita yang sedang bikin heboh karena tersangkut paut dengan Antasari Azhar dan Almarhum Nasruddin Zulkarnaen ini ternyata seorang blogger, meskipun tidak cukup produktif, di halaman depannya terdapat visi misi STMIK Raharja tempatnya kuliah, serta sebuah tulisan tentang alasan kenapa dia kuliah disana, saya menebak ini kemungkinan semacam tugas membuat blog dari dosennya, he he he

Mungkin yang paling menarik orang adalah halaman profilenya, disitu terpampang foto Rani berlatar belakang lapangan rumput, mungkin lapangan golf, tempatnya bekerja :)

Blog rani

Blog rani

“Saya seorang gadis yang manies menurut pengamatan orang2 di sekeliling aq..”

begitu kata Rani, sepertinya sih memang manis kenyataannya, kalau nggak manis nggak mungkin bakal bikin heboh

“Diriku lahir pada tanggal 01 juli 1986. jangan lupa ngado yah… Anak ke 3 dari 4 sodara, tadinya mau bungsu, tapi bonyok gw doyan. he he”

lanjutnya

Sambil membuka blognya kita cukup terhibur karena ada widget MP3 dipasang oleh Rani,

mp3-player

mungkin sudah diniatkan untuk menghibur para pengunjung blognya. Hal yang cukup menarik adalah commentar di kedua artikelnya sebagian adalah pernyataan simpati, tapi sebagian yang lain adalah iklan, inilah cerdasnya orang indonesia karena tahu blog ini begitu banyak pengunjung iklanpun membanjiri baik di comment maupun pada shoutmix chatnya. Beberapa orang menggunakan nama berbeda untuk iklan ke situs yang sama, Indonesia banget deh.

Kronologi Lengkap Pengungkapan Kasus Pembunuhan Nasrudin

Jakarta – Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, polisi berhasil mengungkap tabir di balik kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen Iskandar. Pengungkapan kasus ini berawal dari kesaksian para saksi di lokasi penembakan, kemudian polisi menemukan motor Yamaha Scorpio yang digunakan pelaku penembakan.

Setelah itu, polisi kemudian menangkap Heri Santosa, pengemudi Yamaha Scorpio itu di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari pengakuan Heri, kemudian nama para tersangka lainnya terungkap. Kombes Pol Wiliardi Wizar dan Komisaris PT Pers Indonesia Merdeka (PIM) Sigid Haryo Wibisnono kemudian juga ditangkap.

Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/5/2009), Kapolda menjelaskan kronologi pengungkapan kasus pembunuhan Nasrudin ini. Namun, Kapolda menjelaskan kronologi ini dengan menyebut para tersangka dengan inisial-inisial.

Kapolda juga tidak menyebutkan motif pembunuhan terhadap Nasrudin. Kapolda juga belum menyebut peran Antasari Azhar secara jelas dalam kasus ini.

Penjelasan Kapolda tentang ini sama dengan data kronologi pengungkapan kasus Nasrudin yang diterima detikcom. Bahkan, data tersebut sudah mengungkap motif pembunuhan dan peran Antasari. Berikut kronologi lengkap yang didapatkan detikcom:

1. Dari hasil olah TKP yang dilakukan Tim Labfor Mabes Polri dan hasil analisa dari keterangan saksi yang ada di TKP diperoleh informasi bahwa pelaku menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru dan dibuatkan sketsa wajah pelaku dari keterangan saksi Sarwin yang berada di dekat TKP. Sarwin merupakan saksi yang saat kejadian penembakan, berada hanya 5 meter dari mobil Nasrudin.

2. Selanjutnya dilakukan penyelidikan dan diperoleh informasi adanya seseorang yang memiliki kendaraan roda dua dengan ciri-ciri seperti yang di TKP dengan pemilik bernama Heri Santosa, beralamat di Menteng Atas Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Setelah dilakukan pengecekan ke alamat tersebut, ditemukan sebuah sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru no pol B 6862 SNY dan selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap tersangka Heri Santosa. Heri Santosa mengaku sebagai pengemudi sepeda motor (pilot) dalam penembakan terhadap korban Nasrudin.

3. Heri Santosa mengaku saat kejadian dia mengendarai kendaraan tersebut bersama-sama dengan Daniel yang melakukan penembakan sebanyak dua kali terhadap korban dari arah sisi kiri kendaraan BMW B 191 E warna silver di Jalan Hartono Raya Kompleks Modern Land, sekitar 900 meter dari lapangan Golf Modern Land Tangerang pada Sabtu, 14 Maret 2009 sekitar pukul 14.00 WIB, sesaat setelah korban selesai bermain golf. Dalam pemeriksaan, diperoleh keterangan bahwa Heri Santosa dan Daniel mendapatkan pesanan untuk melakukan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dari Hendrikus Kia Walen.

4. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Hendrikus Kia Walen di Menteng Dalam Atas Jakarta Pusat. Rumah Hendrikus hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah Heri Santosa. Pengakuan Hendrikus, di lokasi penembakan saat itu adalah Heri Santosa (sebagai pilot), Daniel (sebagai eksekutor) dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru, sementara Fransiskus Alias Ansidan sdr SEI (sebagai pengawas) dengan menggunakan kendaraan Avanza B 8870 NP. Hendrikus Kia Walen sebagai penerima dan pemberi order. Dari keterangan Hendrikus diketahui bahwa Hedrikus menerima uang sebesar Rp 400 juta dari Edo, dengan perincian: dibagikan ke masing-masing Heri Santoso Rp 70 juta, Daniel Rp 70 juta, Amsi Rp 30 juta, Sei Rp 20 juta, dan sisanya untuk Hendrikus serta biaya operasional sebesar Rp 100 juta.

5. Dari hasil pemeriksaan terhadap Hendrikus diketahui bahwa senjata api yang digunakan jenis Revolver kaliber 38 berikut peluru 6 butir yang masih ada di dalam silinder, dua sudah ditembakkan dan empat masih belum ditembakkan yang ditanam di halaman rumah di Tebet Jakarta Selatan. Selanjutnya senjata api itu disita dan dilakukan uji balistik Labfor Mabes Polri. Hasilnya, peluru itu identik dengan anak peluru yang ditemukan di tubuh Nasrudin.

6. Dari pengakuan Hendrikus, diperoleh keterangan tentang keberadaan Fransiskus. Polisi akhirnya menangkap Fransiskus alias Amsi di Batu Ceper Kali Deres Jakarta Barat. Saat diperiksa, Amsi mendapat uang Rp 30 juta, kemudian Hendrikus memberi dana operasional kepada Fransiskus sebesar Rp 15 juta untuk membeli senjata api dan sebesar Rp 5 juta untuk menyewa kendaraan Avanza.

7. Dari hasil peneriksaan Heri Santosa, dilakukan penangkapan terhadap Daniel (penembak/eksekutor) di Pelabuhan Tanjung Priok sewaktu pulang dari Flores dengan menggunakan kapal laut Silimau. Saat diperiksa, Daniel mengaku mendapatkan pesanan penembakan terhadap Nasrudin dengan mendapat imbalan uang Rp 70 juta.

8. Kepada polisi, Hendrikus mendapat pesanan penembakan terhadap Nasrudin dari Eduardus Ndopo Mbete alias Edo. Kemudian polisi menangkap Edo di rumahnya di Jalan Jati Asih Bekasi. Edo mengakui dan membenarkan pengakuan Hendrikus. Kemudian dilakukan pendalaman terhadap Edo untuk mengetahui motif dan siapa yang menyuruh Edo untuk melakukan penembakan terhadap Nasrudin.

9. Saat diperiksa, Edo mengaku mendapat perintah untuk membunuh korban dari Wiliardi Wizar (Kombes Polisi). Edo bisa bertemu Wiliardi atas prakarsa Jerry. Sebelumnya Wiliardi meminta Jerry untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Untuk itu, Jerry kemudian mengatur pertemuan Wiliardi dengan Edo di Halai Bowling Ancol. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Jerry di Perumahan Permata Buana Jakarta Barat.

10. Jerry mengaku bahwa Wiliardi bertemu dirinya di Halai Bowling Ancol untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Saat itu, dia mempertemukan Wiliardi dengan Edo. Saat itu, Edo dijanjikan imbalan Rp 500 juta. Pada pertemuan itu, diserahkan foto korban dan foto mobil yang biasa digunakan korban kepada Edo.

11. Kepada polisi, Edo mengaku menerima uang sebesar Rp 500 juta dari Wiliardi di lapangan parkir Citos (Cilandak Town Square) Jakarta Selatan. Berdasarkan keterangan Edo dan Jerry, selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Wiliardi Wizar di Taman Ubud Lippo Karawaci Tangerang.

12. Dari pemeriksaan Wiliardi, diperoleh keterangan bahwa uang yang diserahkan kepada Edo berasal dari Sigid Haryo Wibisono dan atas sepengetahuan Antasari. Sebab, saat Sigid memberikan Rp 500 juta kepada Wiliardi, Sigid menelepon Antasari untuk mengkonfirmasi penyerahan uang tersebut sebagai biaya operasional di lapangan. Maka pada hari Selasa 28 April 2009, polisi menangkap Sigid di Jalan Pati Unus 35 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

13. Dari hasil pemeriksaan Wiliardi dan Sigid diperoleh keterangan bahwa yang mempunyai keinginan untuk menghilangkan nyawa Nasrudin adalah Antasari Azhar. Sebab, Nasrudin sering meneror dan memeras Antasari dengan ancaman akan membongkar perselingkuhan Antasari dengan istri siri Nasrudin bernama Rani yang terjadi Hotel Grand Mahakam Kebayoran Baru Jaksel sekitar bulan Mei 2008. Karena ancaman tersebut dirasakan sudah sangat mengganggu baik diri pribadi maupun istri dari Antasari, maka Sigid menghubungi Wiliardi untuk meminta bantuan pembunuhan terhadap Nasrudin.

Sumber (Detik.com)

Antasari “Tertembak”

Antasari Azhar (AA), sosok yang begitu dielu-elukan selama ini sebagai tokoh yang patut diteladani karena prestasinya dalam pemberantasan korupsi mendadak menjadi pemberitaan di media massa akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena prestasinya menangkap koruptor kakap, tapi karena dia terjerat simpul yang rumit dalam kasus terbunuhnya Andi Nasruddin Zulkarnaen (ANZ),  seorang Direktur BUMN yang tertembak dengan sangat presisi dibagian kepalanya sepulang dari bermain golf.

Cerita terus bergulir, polisi bertindak cepat, 9 orang tersangka diciduk, tapi kemudian yang membuat gempar adalah telunjuk penyidik mengarah ke Bapak yang satu ini. Konon karena wanita, karena cinta segitiga, antara AA, seorang caddy bernama Rani dan ANZ. ANZ tewas setelah pulang dari bermain golf ditempat dimana si gadis bertugas sebagai caddy, kabarnya Rani menghilang setelah ramainya pemberitaan kematian ANZ dan dicurigainya AA sebagai pembunuh. Jadilah AA sasaran tembak media sekarang ini.

Banyak spekulasi yang beredar tentang benar tidaknya AA sebagai otak intelektual dibelakang pembunuhan tersebut, ada yang percaya ada juga yang sangsi, mengingat begitu banyaknya orang yang tidak suka ke AA, jadi bisa saja ini adalah sebuah skenario untuk menghancurkan karakter AA.

Saya masih ingat ketika AA diundang hadir diacara Kick Andy, banyak masyarakat yang berharap besar sama AA, bahkan berharap dia menjadi salah seorang pemimpin di negeri ini. Tapi apa yang terjadi, AA harus berusaha untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, sementara dipihak lain kejaksaan sepertinya akan berusaha untuk membuat AA mati kutu kali ini. Bukan rahasia lagi kalau kejaksaan cemburu dengan prestasi KPK dan dibuat ketar ketir oleh KPK setelah Jaksa UTG tertangkap tangan menerima sogokan. AA yang masih berstatus saksi versi pengacaranya, sudah terlanjur diumumkan oleh kejaksaan berstatus terdakwa, hal yang disesalkan oleh pengacara AA.

Bagaimanapun kasus ini harus terungkap tanpa pandang bulu meskipun itu serigala berbulu domba, dan pelaku sebenarnya harus tertangkap.

By taroada Posted in Recent

Dewasalah Partai Yang Kalah dan Meminta Maaflah KPU !

Hari ini saya teringat lagu lama malaysia, Gerimis Mengundang, yang salah satu liriknya : “mencari sebab serta mencari alasan”. Partai-partai kalah berkumpul, dan beramai-ramai menggugat pemerintah soal DPT. Elit-elit partai-partai sekarang mulai bersikap genit, ini sebenarnya tidak jauh beda dengan caleg-caleg yang stress, dan melampiaskan kekesalannya ke masyarakat sekitar. Logika yang berkembang di partai yang kalah adalah suaranya hilang karena masalah DPT, padahal tidak bisa juga dibuktikan bahwa suara yang hilang itu adalah suara partainya. Sebenarnya ini adalah dampak dari sikap yang tidak dewasa, malu untuk mengaku kalah. Jadi cara apapun, atau siapapun bisa disalahkan hanya agar dia tidak kehilangan muka.

Dilain pihak ada juga KPU yang ngeyel, selalu mengatakan kalau semua baik-baik saja. Padahal KPU menimbulkan banyak kekacauan dalam PEMILU. Harusnya KPU mengaku salah bahwa terdapat banyak kesalahan dalam pemilu kali ini, yang sebenarnya bisa diantisipasi sebelumnya.

Calon Legislatif Stress

Sekarang ini Rumah Sakit Jiwa dan Psikolog mungkin adalah tempat favorit bagi para caleg yang kalah 9 April lalu. Ternyata calon legislatif yang dulu begitu gagah dan bangga berkampanye tak mampu menerima kenyataan kalah. Bahkan di Jawa Barat ada caleg yang sampai bunuh diri, ditempat lain ada yang shock, sebagian yang lain karena kecewa justru melampiaskan kekecewaannya kepada masyarakat sekitar, dengan memblokir jalan, pasar, dan sekolah. Beberapa hari lalu, ada kabar dari sebuah daerah di Sulawesi, sarung yang sudah dibagikan ke masyarakat oleh caleg partai tertentu diminta kembali karena si Caleg mendapatkan suara minim di daerahnya.

Sebenarnya sebagai pemilih, saya justru bersyukur orang-orang seperti itu tidak terpilih. Kalau terpilih, bisa kacau Dewan nanti karena anggota dewan yang tidak bisa mengontrol emosi dan kejiwaannya. Orang-orang seperti itu tidak pantas mewakili kita sebagai pemilih.

Temporary Vote of Indonesia’s Election 2009

Five days after election day,data from Vote Tabulation Center shows democrat party still taking the lead followed by PDI-P and Golkar, data updated on April 14th 2009, 19.49 WIB

No Party Votes %
1 Partai Demokrat (31) 1.230.794 20,22%
2 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (28) 882.091 14,49%
3 Partai Golongan Karya (23) 870.707 14,31%
4 Partai Keadilan Sejahtera (8) 514.504 8,45%
5 Partai Amanat Nasional (9) 385.314 6,33%
6 Partai Persatuan Pembangunan (24) 325.350 5,35%
7 Partai Kebangkitan Bangsa (13) 310.028 5,09%
8 Partai Gerakan Indonesia Raya (5) 269.920 4,43%
9 Partai Hati Nurani Rakyat (1) 214.072 3,52%
10 Partai Bulan Bintang (27) 116.683 1,92%
11 Partai Karya Peduli Bangsa (2) 97.681 1,60%
12 Partai Kebangkitan Nasional Ulama (34) 87.143 1,43%
13 Partai Damai Sejahtera (25) 70.948 1,17%
14 Partai Peduli Rakyat Nasional (4) 69.103 1,14%
15 Partai Bintang Reformasi (29) 63.595 1,04%
16 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (7) 57.235 0,94%
17 Partai Demokrasi Pembaharuan (16) 55.057 0,90%
18 Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (3) 43.846 0,72%
19 Partai Barisan Nasional (6) 41.877 0,69%
20 Partai Demokrasi Kebangsaan (20) 38.616 0,63%
21 Partai Persatuan Daerah (12) 38.384 0,63%
22 Partai Republika Nusantara (21) 31.646 0,52%
23 Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (26) 28.528 0,47%
24 Partai Patriot (30) 25.238 0,41%
25 Partai Matahari Bangsa (18) 24.969 0,41%
26 Partai Kedaulatan (11) 21.818 0,36%
27 Partai Pemuda Indonesia (14) 21.297 0,35%
28 Partai Indonesia Sejahtera (33) 19.842 0,33%
29 Partai Pelopor (22) 18.557 0,30%
30 Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (15) 18.248 0,30%
31 Partai Perjuangan Indonesia Baru (10) 17.691 0,29%
32 Partai Kasih Demokrasi Indonesia (32) 16.505 0,27%
33 Partai Karya Perjuangan (17) 14.137 0,23%
34 Partai Buruh (44) 12.293 0,20%
35 Partai Penegak Demokrasi Indonesia (19) 9.744 0,16%
36 Partai Sarikat Indonesia (43) 8.717 0,14%
37 Partai Merdeka (41) 7.283 0,12%
38 Partai Persatuan Nahdlatul Ummah (42) 7.167 0,12%
JUMLAH 6086628 100,00%

source : kpu.go.id

Golongan Putih dan Efek Parliamentary Treshold

Sudah ketahuan, pemenang pemilu 2009 adalah Golongan Putih. Golongan orang-orang yang kalau dalam ilmu silat dianggap sebagai pembela kebenaran. Suara miring berdatangan dari orang yang memilih dan memiliki kesempatan untuk mencontreng pada 9 April lalu. Dalam pemilu kali ini saya termasuk golongan hitam, golongan orang-orang yang menyontreng dengan spidol hitam dan orang-orang yang mencelupkan jarinya ke dalam tinta hitam. Golput dianggap tidak bisa merubah kehidupan berbangsa dan negara. Sebaliknya orang yang golput beranggapan bahwa golput adalah cara terbaik untuk menghukum anggota dewan negeri ini yang tindakannya tidak untuk kepentingan rakyat.

Sebenarnya kalau dilihat dari hasil pemilu, ada juga para pemilih yang senasib dengan Golput, meskipun untuk yang ini tetap harus diapresiasi atas jerih payahnya. Orang-orang ini adalah para pemilih yang memilih partai gurem dengan persentase suara nasional kurang dari 2.5%, di DPR pusat suara mereka akan hangus, secara hitung-hitungan orang-orang ini akan memberi keuntungan kepada partai besar dengan persentase kenaikan cukup siginifficat. Jika merujuk ke hasil Quick Count versi Lembaga Survey Indonesia, maka berikut prediksi kenaikan suara tiap partai tersebut :

No Partai Hasil Quick Count (%) Efek PT (%)
1 Demokrat 20,46 25,21
2 PDIP 14,41 17,76
3 Golkar 13,98 17,23
4 PKS 7,84 9,66
5 PAN 5,74 7,07
6 PPP 5,23 6,44
7 PKB 5,18 6,38
8 Gerindra 4,59 5,66
9 Hanura 3,72 4,58
Total 81,15 100

Nampak dari tabel diatas bahwa sistem Parliamentary Treshold memberi keuntungan hingga 5% bagi partai Demokrat, angka yang cukup signifikan dan menambah daya tawar dari Partai Demokrat di Pemilihan Presiden nanti.

Indonesia’s Election Remains Many Problems

Election 2009 has done, but it remains many problems, several Parties prepare for bring the problem to the court. Here are the problem in election 2009 :

1. List of Permanent Voters (DPT)
Analysts predicted millions voters in Indonesia lose their right because their name not in the list, mismanagement of voters data by the General Election Committee KPU makes this problem occur.

2. Ballots problem
In many poll stations, ballots exchange with other district, it makes election should be rerun in several districts such as in Maluku. The Election Supervisory Body (BAWASLU) has received report from 79 District, such as in Bali, South Kalimantan, Riau dan and East Java.

3. Contravention of Election Rule
There are 2.228 contraventions in campaign period, and as reported by suarapembaruan.com only 11.4% followed up by BAWASLU. The amount will increase after the election day, which many report that there were contravention in Polls Stations. The Jakartapost.com reported that BAWASLU has eceived 205 reports of election violations.

4. Tabulation Data is too late
Until today auto tabulation data is too late, it’s only achieve 4,5 million vote. After 4 days it is not increase significant. KPU plans that auto tabulation data only cover 80% of votes, the rest of them will wait for manual entry which was planned finish on 9 may 2009.

5. Non voters
It’s about 40% voters not use their rights in the election day.

Experts said that the quality of election in 2009 is worse than in 2004. There are many problem around election. It makes the legitimation of election still remains question mark.