Ramadhan hari terakhir…
Perasaanku kurang tenang di hari terakhir puasa
mungkin karena memang tak seharusnya aku menghabiskan waktu
di pabrik dalam situasi menyambut lebaran seperti ini…
Yaa, seharusnya sekarang ini aku sudah berkumpul dengan keluarga
di seberang selat makassar…
HP bututku berdering beberapa kali, dan satu persatu pesan dari teman dan saudara
menyapa, terpaksa aku harus menghapus beberapa pesan karena kapasitas
inbox HPku yang memang tidak banyak, agar pesan2 tersebut leluasa masuk…
Macam2 isinya dan beberapa diantaranya dirangkai dengan kata-kata yang indah
juga ada pesan dalam bahasa Makassar, hal yang sama pernah kulakukan menjelang
ramadhan tapi dalam bahasa bugis…
Aku mencoba menelpon beberapa diantara yang mengirim pesan, setidaknya itu bisa menggantikan wujud fisikku yang tak bisa bertemu dan bersalaman langsung…
Waktu berbuka tiba dan kuucapkan Alhamdulillah karena masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini
Aku pulang sekitar Jam 7 malam, dan sudah kusiapkan segala sesuatunya untuk langsung berangkat ke Bogor dan shalat Ied disana, aku tak pulang ke Bekasi
Aku ikut mobil jemputan ke arah Gandaria, dan turun di UKI, jalanan di depan UKI tak ramai seperti hari biasa
mungkin karena para pengguna jalan telah berkumpul dengan keluarganya di kampung dan hanya menyisakan saya, sopir, kernet, penjual buah2an dan pak polisi yang mengatur jalan…
Kumandang takbir terdengar dimana-mana, aku naik mobil AC arah bogor…
Bus ngetem didepan terowongan UKI
satu persatu pedagang naik ke bus, seorang lelaki pedagang yang memakai peci dengan jidat berwarna agak kehitaman naik ke bus menawarkan sticker surah alfatihah, orasi-nya cukup menarik…
“jaman sekarang orang lebih takut sama Nyi Roro Kidul dibanding Allah
padahal yang punya Selatan itu Allah, Nyi Roro Kidul cuman ngontrak
kok lebih takut ama yang ngontrak daripada yang punya…
….karena itu adalah lebih baik anda membeli barang yang saya tawarkan
jangan khawatir apakah uang yang anda berikan sampai kepada yang berhak atau tidak
karena amalnya sudah sampai pada Allah”
saya tak beli,karena lagi asyik baca koran, lagian yang begituan saya masih punya di rumah…
Setelah masuk tol Jogorawi, TV di dekat pak sopir dimatikan, dan dari arah belakang, muncul seorang lelaki berusia sekitar 35-an, dengan tas di pundaknya dan sebuah mic di tangan kirinya
isi tasnya adalah speaker, begitu tebakan saya
“wah apes deh, tumben-tumbenan ada pengamen amatiran naik bis jurusan Bogor” pikirku
karena biasanya pengamen yang kearah Bogor mampu menghibur saya dengan lagu-lagunya
tapi kali ini, yang naik bermodalkan mic dan speaker, dan yang seperti ini biasanya dangdutan atau
paling tidak hanya putar kaset doang dan dia tinggal mengikuti lagu, kalau begitu kan mendingan nonton yang tadi lagi diputar diTV bus..
Dugaan saya tak meleset, tak beberapa lama terdengarlah alunan suara dari kaset
tapi isinya bukan dangdutan, salawat, si lelaki itu mengiringi lagu tersebut tapi nggak pake mic
jadi suara radionya lebih keras dari suaranya sendiri, mic masih berada ditangan kirinya yang berpegangan dilaci atas bus, lagi rusak kali mic-nya pikirku…
Sebenarnya saya kepengen kesel, tapi ini kan salawat, jadi harus dinikmati…
Selang lima menit, salawat berhenti, dan si lelaki, mencoba mic-nya, Oo akan sedikit lebih seru kalau dia punya usaha untuk menjual suara…
tapi lagu tak keluar2 juga, yang terjadi dia justru mengucap assalamu alaikum, salam pembuka dan mulailah dia berpidato…, bak Da’i yang lagi tampil di Stasiun TV dia berceramah, temanya seputar puasa, idul fitri, kesenjangan sosial,kemiskinan, kenaikan BBM, . Sebenarnya lumayan enak untuk di dengar, dan tak jarang menggunakan bahasa inggris, hanya saja kadang enggak nyambung,:), mungkin seperti yang dibilang salah seorang guru saya Pak Sonny Taniaji, “menggunakan bahasa tinggi untuk menjatuhkan lawan bicaranya, meskipun dia sendiri tak mengerti maksudnya”, Tapi saya tak berhak menyalahkan sang Dai, dia kan nggak pernah ngambil mata kuliah Proteksi dan dia juga tak pernah diajar oleh Pak Sonny. Tapi ceramah dimalam takbir adalah siraman rohani yang cukup menenteramkan selama perjalanan kurang lebih 35 menit tersebut yang berarti sama dengan mendengar 5 x kultum..
Untuk pertama kalinya saya mendengar ceramah agama dengan durasi yang panjang yang dibawakan live diatas bus, di malam takbiran lagi..
Sampai di Bogor disambut oleh hujan yang mengguyur seputaran Baranangsiang, bergegas aku mencari Angkot arah Bubulak, aku naik di kursi spare yang berada dekat pintu, si sopir negur
“tolong Bang isi satu lagi yang masih tiga sebelah kiri”
“Ini kan sudah full” Ucapku dengan nada tinggi, kurasakan suaraku melengking di dalam angkot
sambil menunjuk kursi yang memang sudah terisi 4 orang
dengan cepat ibu yang duduk dijajaran tersebut menarik anak berusia 10 tahunan yang duduk paling pinggir dan memangkunya…
padahal aku sudah emosi, hampir pindah ke angkot lain, ah.. aku tak tahu kenapa aku seemosi ini di malam takbiran..aku mengucap istighfar sepanjang perjalanan, aku tak boleh emosi, aku tak biasanya begini…
Di sekitar jembatan merah lalu lintas penuh sesak oleh para pedagang yang mengais rejeki dimalam terakhir, pedagang buah, pakaian, alat elektonik, makanan, bunga, tumplek blek jadi satu mengambil separuh badan jalan yang memang sudah macet oleh angkot yang ngetem
Aku turun di Jembatan merah, berkeliling, kali aja ada yang bisa dibeli, tapi tak ada yang menarik hati, beberapa muda-mudi tampak asyik memilih bunga, aku tak tahu pasti apa hubungannya bunga dengan malam lebaran tapi ada banyak penjual bunga malam itu, mungkin buat ziarah kubur kali
kuputuskan untuk naik angkot dengan nomor yang sama…
Tiba di SBJ aku turun dan nyambung ke arah Semplak tempat yang kutuju, sebuah daerah sejuk yang berdekatan dengan hutan CIFOR yang kadang-kadang dijadikan tempat syuting sinetron…
Sesampai dirumah, orang-orang lagi ramai menabuh beduk diluar rumah, suara saya timbul tenggelam kalah oleh suara beduk yang ditabuh bergantian dan saling sahut menyahut dengan suara takbir di mesjid…
Saya kepengen tidur cepat malam itu, tapi karena rumahnya dekat mesjid, jadinya suara beduk tak berhenti hingga jam 12 malam, “agar Syiar lebaran lebih menggema” kata kakakku
padahal kalo di kampungku diatas jam 10 malam orang-orang justru tak sibuk lagi dengan beduk dan takbir tapi lagi sibuk dengan masak burasa’, serta persiapan makan besok di hari Raya…
Hari Lebaran…
Subuh menjelang lebaran kami sudah siap2, beduk sedari tadi sudah ditabuh, dan kumandang takbir sudah menggema sebelum subuh, hari seperti ini biasanya akan membuat kenangan melayang ke kampung halaman, tapi untuk kesekian kalinya lebaran harus terpisah dari orang tua dan keluarga.
Aku dan kakakkupun berangkat ke masjid, setelah sebelumnya menelpon orang tua dan memohon maaf dan do’anya dari kejauhan…
Acara dibuka oleh sambutan tokoh masyarakat, dia pidato dengan semangat, sayangnya yang kutahu dari kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah eta, sami, aya’, dan beberapa kata-kata pasaran dalam bahasa sunda, aku merasa agak terasing melihat jamaah mengangguk-angguk mendengarkan sambutan tersebut…
Setelah shalat IED ceramah diisi oleh seorang ustadz yang mungkin seumuran saya, berjanggut tipis dan memakai jubah putih yang panjang..
Saya dan semua jamaah mendengarkan dengan takzim, kali ini yang berceramah dalam bahasa persatuan,
Ustads mengajak untuk mempertahankan semangat ibadah agar setelah selesai ramadhan semangat itu masih tetap ada, tutur bahasanya santun dan sangat menarik, isi ceramahnyapun sangat mengena…
Saat do’a dipanjatkan, mulailah satu-persatu terdengar suara sesenggukan jamaah,
Setelah khotbah, para jamaah berdiri dishaf-nya masing-masing, dan shaf terdepan mulai bergerak menyalami jamaah di shaf belakangnya, dibarisan terdepan dimulai oleh Ustadz, suara tangis semakin terdengar, suasana saat itu begitu mengharukan, hampir seluruh jamaah tampak menitikkan air mata,
air mata penuh penyesalan atas kesalahan-kesalahan terhadap sesama saudara
beberapa jamaah sempat memeluk saya, dan berurai airmata meminta maaf…
Hanya satu orang yang punya pertalian darah dengan saya di masjid itu, tapi dimasjid itu saya merasakan punya saudara-saudara yang lain, yang seiman dan menganggap saya sebagai saudaranya meskipun saya hanya “numpang” lebaran ditempat itu
Sayapun tak kuasa menahan air mata, luluh sudah keresahan hati saya yang saya pendam sejak semalam…
Bogor yang dikaruniai oleh Allah dengan hujan yang terus menerus mengguyur, serta udara yang adem, pohon yang rindang dan Neng Geulis yang menyejukkan mata, juga dikaruniai kesantunan warganya untuk menerima orang baru…
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Wassalam,
Ahmad Amiruddin