Penipu SMS Masih Berkeliaran

Awalnya saya pikir tipuan SMS itu gak ada lagi. Sejak Rame-rame dan heboh-heboh kemarin, saya yakin para operator sudah banyak berbenah. Konten premiumpun dihentikan sementara, bahkan RBT dihentikan sementara.
Tapi kita tak tahu yang namanya sementara itu bisa sejam, sehari, seminggu atau sebulan. Heboh SMS sudah hilang dari peredaran, digantikan isu reshuffle yang juga sebentar lagi basi. Besok-besok orang sudah lupa kalau dulu banyak yang ketipu ngirim SMS, beli konten tanpa disadari atau pulsanya kesedot berbulan-bulan tanpa bisa dihentikan.

SMS dari

Hari ini saya dapat hadiah 15 juta, luar biasa senangnya. Sayangnya rasa ragunya lebih besar lagi. Pengirimnya tertulis TELKOMSEL@POIN, canggih bener.
Selengkapnya SMS-nya
TELKOMSEL@POIN
(777)Selamat! SimCard anda
mendptkan cek tunai senilai Rp. 15 jt
dr telkomsel poin
u/info Hub;
PT. TELKOMSEL
021 2871 7886
Karena penasaran pengen dapet 15 juta saya coba hubungi Telkomsel 111, mbaknya diujung sana mengecek apakah ada atau tidak nomor saya dalam pemenang Telkomsel Poin, katanya tak ada dan bisa dipastikan itu penipuan, dan bukan cuma saya yang telah melaporkan, sekarang sedang ditindaklanjuti.
Saya sih bisa membaca kalau ini penipuan, tapi yang membuat saya kagum sama penipunya nomor yang tercantum di HP saya adalah TELKOMSEL@POIN, nomornya sudah langsung terconvert menjadi nama. Sependek pengetahuan saya yang bisa merubah nama langsung adalah operator, tak bisa sembarang orang yang bisa, kalau semua orang bisa langsung merubah nama begitu, bisa celaka dunia pertelekomunikasian.
Harapan saya, tidak ada kerjasama antara Telkomsel dengan sang pengirim, karena itu, hal-hal semacam ini harus ditindak cepat. Saya sudah banyak mendengar orang yang mentransfer uang karena diiming-imingi hadiah yang banyak, dan itu manusiawi menurut saya. So, hati-hati aja, tipuan SMS masih bisa muncul dan menggerogoti pulsa atau rekening anda.

Salam
Ahmad Amiruddin

Bersatu dalam Bencana

Stadion Maguwoharjo adalah lokasi pengungsian terbesar korban letusan Gunung Meraapi di daerah Yogyakarta, stadion yang biasanya dipakai oleh PSS Sleman untuk bertanding dibanjiri oleh puluhan ribu pengungsi. Bantuanpun nampaknya terkonsentrasi disini, dibagian penerimaan logistik tak henti-hentinya para relawan menurunkan barang yang di drop dari mobil para donatur yang menyumbangkan bantuan bermacam-macam rupa kepada pengungsi seperti air mineral, beras, snack, pakaian baru dan bekas, mi instant, dan lain-lain.

Kondisi Pengungsi

Perserdiaan Logistik

Relawan di Posko Logistik adalah TNI, anak-anak muda dari berbagai komunitas, yang dari bajunya yang bisa terbaca seperti Pramuka, kaskus, serta mahasiswa dari beberapa PT di Jogja. Bahu membahu para relawan ini membagi logistik yang telah di drop kepada pada pengungsi yang kadang tak perlu mengantri mendapatkan air mineral atau snack jika mereka membutuhkan, namun tentu saja tak semua kebutuhan tersedia di Logistik. Karena sifatnya yang terbuka maka para pengungsi di stadion membutuhkan alas tikar dan selimut yang banyak untuk menghindari hawa dan angin malam. Di bagian lain kebutuhan air dikendalikan oleh Kementerian Perhubungan dengan menyediakan kebutuhan air yang mencukupi untuk pengungsi, beberapa Kementerian mendirikan tenda di lokasi ini, seperti Kementerian Lingkungan Hidup yang menyediakan fasilitas daur ulang sampah, KementerianPertanian yang berhubungan dengan sapi petani yang terancam mati di lereng Gunung Merapi dan Kementerian ESDM yang juga punya beberapa Posko di Jogja karena terkait vulkanologi, mitigasi bencana dan kebijakan kelistrikan pengungsi, ormas islam seperti HTI juga mendirikan posko yang sekaligus menjadi mushollah bagi pengungsi, tentu tenda yang paling banyak adalah milik Polisi dan Tentara, karena biasanya mereka khususnya Tentara diterjunkan dalam jumlah yang besar untuk menangani bencana.

Cas HP Gratis

Sementara itu, PLN mendirikan Posko Bencana yang selain bertanggung jawab mengenai kecukupan pasokan listrik dari feeder yang menyuplai stadion dan lokasi pengungsian lain, menyediakan Genset dan juga menyediakan cas gratis HP, deretan stop kontak yang berjumlah 50-an dipenuhi oleh para pengungsi yang menunggui HP sambil sms-an dan menelpon. Kata Pak Furqan, manajer PLN APJ Jogja, para pengungsi tentu membutuhkan baterainya terisi penuh agar dapat berkomunikasi dengan keluarganya dan dapat saling bertukar kabar, disamping itu PLN juga menyediakan dispenser bagi yang juga setiap saat didatangi pengungsi untuk menyeduh teh atau mi instant. Dibagian lain Bakrie juga mendirikan tenda terpisah di luar stadion, yang menyediakan fasilitas kesehatan gratis danmembagikan baju kaos bertulis Bakrie untuk negeri. Posko Bakrie ini nampak mandiri dibanding Posko lain karena juga menyediakan genset sendiri untuk dipakai di malam hari. Partai-partai juga banyak yang berseliweran mobilnya, beberapa mobil bergambar bu mega dengan relawannya berbaju banteng kepala miring juga nampak di lokasi, beberapa mobil partai matahari juga terlihat sebelum masuk stadion.

Memang beginilah seharusnya, setiap orang dan organisasi bersatupadu memberi sesuai kemampuan dan kewenangannya untuk menjadi bagian dari solusi penanganan pengungsi.

Logo Visit Indonesia di Kaos Manchester United

Jakarta (ANTARA) – Logo Visit Indonesia sedang diupayakan terpasang di kaos tim sepak bola asal Inggris, Manchester United (MU).

“Kami sedang mengupayakan agar logo Visit Indonesia bisa terpasang di kaos resmi MU,” kata Direktur Jenderal Pemasaran, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, untuk dapat memampangkan logo tersebut, pihak MU menawarkan biaya sebesar Rp496 miliar selama setahun.

Jika tercapai kesepakatan maka logo tersebut akan digunakan secara resmi di kaos MU dan terpampang pada setiap kali pertandingan termasuk pertandingan persahabatan mereka.

“Dan itu akan terpampang dalam semua merchandise MU termasuk kaos resmi mereka,” katanya.

Saat ini, logo resmi yang terpampang di kaos pemain MU adalah logo AIG yang kemungkinan tidak akan memperpanjang lagi kontraknya pada tahun depan lantaran bank tersebut terdampak krisis global.

“Jadi kalau Indonesia setuju logo Visit Indonesia akan dicantumkan mulai 2010,” katanya.

Di kaos MU saat ini hanya terdapat tiga logo, yakni logo AIG yang terbesar, di dada sebelah kanan logo Nike, dan di dada sebelah kiri logo tim MU.

Indonesia mendapatkan tawaran tersebut mengingat jumlah penggemar fanatik tim kebanggaan Sir Alex Fergusson di tanah air mencapai 28 juta orang atau lebih banyak daripada fans-nya di Malaysia yang hanya 4,2 juta orang. Jumlah penggemar di Indonesia menyamai jumlah fans MU di Korea yang juga 28 juta, tidak sebanyak penggemar mereka di China yang mencapai 72 juta orang.

MU dalam waktu dekat akan melakukan Asia Tour ke empat negara yaitu Indonesia, Malaysia, China, dan Korea.

“Tiga negara itu yaitu Malaysia, China, dan Korea juga merupakan pasar pariwisata utama kita. Oleh karena itu, kita juga akan memanfaatkan itu untuk promosi dengan menjadi title sponsor,” demikian Sapta Nirwandar. NNNN

Pengamen (:2)

Dia tak lebih tinggi dari sandaran kursi Bus Jemputan Sinar Jaya
berdiri di “lorong” dekat kursi nomor dua dari depan, aku hanya sempat melihatnya ketika naik bus tadi, setelah itu hanya suaranya yang terdengar dan bisa kutahu posisinya ketika kulihat para karyawan tampak memiringkan tubuhnya, sementara partnernya yang memetik gitar adalah seorang gadis kecil berusia sekitar 12-an.

Terdengar lagu kenangan, aku tak tahu judulnya, suaranya sambung menyambung dengan tarikan nafasnya, terdengar lucu karena biasanya suara seperti itu lebih cocok untuk lagu Balonku Ada Lima.
Malam itu sudah sekitar Jam setengah sepuluh, harusnya si bocah itu sudah tidur, agar besok bisa berangkat sekolah.
Ahhh tapi tidak, umur segitu belum cocok untuk sekolah, paling banter juga seumurannya masih di kelas nol besar, Tapi kenapa selarut ini dia masih bernyanyi, sementara orang dewasapun sudah mulai mengantuk
Mata saya sudah mulai agak berat, entah karena mendengar lagunya atau karena memang badan saya sudah protes hendak diistirahatkan, sebelumnya dia masih sempat lewat didekatku, menawarkan kantong permennya, mengharap diisi recehan sambil dia mengulas senyumnya.
dia tak tampak keletihan.

Hingga saya sampai dirumah saya masih teringat bocah tadi, kupikir dia juga mungkin baru sampai dirumah, atau justru masih harus dinas malam agar besok masih bisa makan, atau jangan-jangan dia justru tak punya rumah.

Ahh, mudah-mudahan dia dapat banyak uang malam ini, mudah-mudahan ada yang berbaik hati kepadanya, mudah-mudahan besok lusa dia tak perlu mengamen lagi karena besok dia harus sekolah, Mudah-mudahan orang tuanya dapat rejeki hari ini sehingga dia bisa minum susu dengan enak besok, dan tidak masuk angin sehabis keluar malam. Mudah-mudahan negeri ini makin makmur sehingga tak perlu lagi ada anak seusia itu yang harus berjibaku melawan malam dan kantuk.

Mudah-mudahan pemimpin kita sadar bahwa jangankan rakyatnya yang dewasa bahkan anak-anakpun tak mampu mereka cukupi haknya.

Dan alhamdulillah atas semua nikmat dimasa kecil, masa kini dan masa depan yang Allah berikan kepada kita…

Wassalam,

Ahmad Amiruddin
–> Bekasi

BBM naik awal tahun

Tadi malam saya sudah membayangkan kalo hari ini
bukan hari biasa
soalnya BBM sudah dinaikkan oleh pemerintah, hingga 31 %
secara hitung2an itu berarti ongkos angkot akan ikut naik
Logika yang beredar dikalangan sopir angkot dan tukang ojek
kalo BBM naik 30% maka ongkos angkot juga pasti naik 30%.
Padahal kan, kata Pak Hatta Rajasa bahan bakar hanya nyumbang sekitar 27 % dari biaya angkot, karena juga ada biaya lain yaitu upah kerja, serta biaya perawatan, dan mestinya kenaikan tarifnya cuman 7-10%.
Saya mendapatkan hal yang berbeda hari ini,
Kebetulan hari ini saat jam kerja saya minta ijin keluar ke Sudirman untuk ngurus ATM saya yang hilang , begitu keluar dari pabrik saya naik ojek ke pintu tol, Tarif biasanya hanya Rp. 3000, saya memberi uang Rp. 5000, dan tukang ojek tak bereaksi, sayapun enggan meminta kembalian, biasanya mereka akan mengembalikan sendiri dengan senang hati, barangkali mereka sedang mengukur sampai dimana kenaikan tarif ojek nantinya.Secara sepihak saya telah menaikkan sendiri tarif hingga lebih dari 60 % .
Perjalanan berlanjut, dari tol cibitung saya naik bus 3/4 ke tol bekasi timur, kali ini saya membayar Rp. 1500, naik 50% dari tarif biasa yang hanya Rp. 1000, di pintu tol timur saya sempat membeli koran tempo, syukurlah harganya tidak latah ikut2an naik, masih seribu rupiah seperti kemarin2, dari koran itulah saya baca, mestinya kenaikan ongkos angkot tidak sebesar yang saya bayar sebelumnya.
Dari tol bekasi timur, perjalanan berlanjut dengan Bus Kota tak ada perubahan tarif, tapi mungkin nggak bakal lama lagi bakal ada penyesuaian (kata lain buat kenaikan) harga . Sampai di Senayan saya nyambung naik busway, juga tarifnya masih seperti biasa, kecuali saya yang kadang2 seperti merasa terpental setiap busnya meninggalkan halte, karena sang sopir yang berdasi itu seperti tidak sadar kalo sekitar 10-an penumpangnya berdiri.
Di halte Setia Budi saya turun, dan masuk ke Wisma BCA, kali ini saya harus memaafkan diri saya, yang telah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, tapi tak bisa mengganti ATM karena ternyata untuk penggantiannya harus menggunakan surat kehilangan dari kepolisian, (maaf : tadi saya berpikir kalo harus berurusan dengan kepolisian tarifnya bakal naik juga 30%), sementara untuk membuka rekening baru harus menggunakan KTP Jakarta, ketika Costumer Servicenya menanyakan KTP tsb, saya dengan PD membuka dompet, dan astagfirullah.. kemarin waktu ada pendataan RT di tempat kos saya mengeluarkan dari dompet, tapi lupa mengembalikannya.KTP tersebut saya “beli” dengan harga yang cukup lumayan, dengan harga yang sama saya bisa dapat 5 KTP seperti itu di Makassar.
Jadi saya tak bisa ganti ATM, juga nggak bisa buka rekening baru agar bisa dapat ATM baru, terpaksa saya ngambil uang cash dan yang pasti harus kembali lagi ke BCA sudirman nantinya.
Dalam perjalanan pulang saya naik Bus Jurusan Kota-Bekasi, perjalanan diiringi oleh nyanyian sepasang pengamen berusia sekitar 40-an yang salah satu baitnya “teringat pada ayah dan bundaku”, pikiran saya berbelok ke kampung dan mulai kembali menghitung berapa yah kira2 kenaikan tarif pesawat ato kapal laut ke Makassar.
Sepasang pengamen tersebut bernyanyi dengan padu, tampak serasi, mungkin mereka suami istri. Melihat mereka saya jadi menghubung2kannya lagi dengan kenaikan harga BBM, saya membayangkan akan seperti apa trend uang panaik di kampung saya saat ini, yang konon menurut kabar juga mengikuti perubahan kurs rupiah terhadap dollar serta kenaikan harga BBM. :) ,mungkin bakal naik juga yah..
Pengamen turun di Jati bening dan kami pindah bus dan turun di tol timur, kembali saya naik bus 3/4, saya memberi kondekturnya uang Rp. 1500, tapi dia masih berdiri didepan saya, dan berbahasa sunda yang tidak saya mengerti, saya baru mengerti ketika dia menaikkan jari telunjuk dan tengahnya seperti semboyan golkar jaman dulu, saya bereaksi “biasanya kan cuman serebu, kok sekarang dua rebu, saya kan udah ngasih 1500″, .
Sang kondektur kembali berbicara dalam bahasa sunda tapi yang kedengaran jelas cuman kata “solar”, saya memberinya tambahan uang 500, sambil berkata ” seratus persen dong jadinya”.Sang kondekturpun hanya tersenyum dan berlalu.
Saya naik ojek ke Pabrik dan bayar lagi dengan tarif seperti ketika berangkat,
sampai di office saya tersenyum mengingat kejadian barusan.
Tapi hari ini tidak melulu tentang kenaikan harga BBM, dan misi saya yang ke Sudirman yang gagal. Karena hari ini saya menelpon sahabat saya, yang sudah beberapa hari selalu veronica terus kalo saya hubungi, dan diseberang telpon dengan suara cadelnya yang khas dia bilang ” alhamdulillah lulusjaka”
Selamat buat Saudara Rega 98, Lenny 00, dan Kiky 99 yang telah bergabung dengan PT Telkom.
Wassalam
Ahmad Amiruddin

"Makassar Bisa Tonji"

Makassar Bisa Tonji

Saya mendapat oleh-oleh dari Makassar, sebuah lagu berjudul Makassar
Bisa Tonji, saya memutarnya berkali-kali, dan tersenyum setiap kali
mendengarnya karena selalu ada hal lucu yang saya temukan. Sebelumnya
saya pernah mendengar kalau lagu ini begitu tenar di kota kebanggaan
saya, Makassar. Begitu saya dengar lagunya saya bilang
“oh ini mi lagunya, bagus juga di?.”
Tapi lagu tersebut kemudian menggelitik saya, ini bukan sekedar sebuah
lagu, tapi sebuah cuplikan realitas sosial yang kemungkinan besar
terjadi di Makassar. Baik tokoh yang mallogat maupun tokoh yang
melarang mallogat, semuanya ada diantara masyarakat makassar.
Sebelum berlanjut saya ingin bercerita tentang realitas yang hampir
mirip di kampung saya di Sidrap, saya ingat masa kecil saya, ketika
ada teman yang berbahasa Indonesia maka teman lain akan meledek dalam
bahasa bugis yang artinya “saya liatji rumahmu”.Yaa berbahasa
indonesia dianggap hanya buat gaya-gayaan, hanya buat pamer, makanya
(maaf) tidak sulit menemukan orang asli Sidrap yang Okkot(s?) di
Makassar (upps, saya juga :) ).Mungkin karena sulitnya memasyarakatkan
bahasa Indonesia, sewaktu SD, Ibu guru sampai membuat permainan “Kayu
Bahasa”, setiap murid yang berbahasa Bugis selama jam sekolah harus
memegang balok kayu kecil seukuran genggaman tangan yang akan bepindah
kalau ada yang kedapatan berbahasa bugis, dan yang memegang kayu
tersebut sampai pulang sekolah di denda membayar Rp. 50, jumlah yang
cukup banyak karena jatah jajanan saya waktu itu cuman segitu perhari.
Sewaktu SMA teman saya yang baru pindah dari Makassar bilang “Sejak
saya sekolah, barusan saya diajar oleh Guru Bahasa Indonesia yang
berbahasa Bugis.”

Kembali soal Makassar Bisa Tonji (MBT), sebagian besar diantara anda
pastinya sudah lebih dulu dan lebih sering dengar dibanding saya.
“Lagu yang aneh” (kata Tora Sudiro), karena justru lagu ini
diawali dan diiringi oleh langgam lagu dari Jawa, yaa mungkin yang
mecipta lagunya kesulitan mencari irama yang seperti itu dalam lagu
makassar.
Lagunya diawali dengan lirik:
“Lagunya lagu Jawa
logatnya logat Jawa
Semua serba Jawa”
Tapi justru ditengah lagu yang dipermasalahkan logat Jakarta. Padahal
anda tahu sendiri kan kalau logat Jawa vs logat Jakarta itu sama
berbedanya logat Makassar vs logat Jakarta. Karena justru Jakarta
banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, Arab, India, dan tentu saja
Melayu. Atau mungkin sang Rappers berpikir Jakarta sama dengan Jawa,
dan Jakarta adalah representasi Jawa.
Saya pada awalnya heran ketika saya bilang kepada teman yang asli Bogor
” Jawa memang subur ya, apapun bisa tumbuh” (Maksud saya pulau Jawa)
Dia menjawab, “Iya, beda banget dengan Jakarta atau Bekasi, kalau kita
ke Jawa itu hampir sepanjang jalan akan kita temukan padi”
Bagi Orang di sini, kata Jawa identiknya Jatim-Jateng, sementara
Banten, Jabar, dan Jakarta bukan Jawa.

Tapi saya yakin bukan itu maksud sebenarnya dari Rappersnya, mereka
sedang mengkritik kebiasaan sebagian dari orang (komunitas?) di
Makassar yang menganggap bahwa bergaya bicara seperti orang Jakarta
adalah gaul, maju dan lebih modern. Secara ekonomi, Jakarta memang
jauh lebih maju dari Makassar. Ditambah lagi hampir semua Stasiun TV
nasional berpusat di jakarta, dan dari media inilah kita diperkenalkan
dengan elu- gue.
Jaman mahasiswa saya sering meledek mahasiswa asal Jakarta dengan
membolak-balik kata elu dan gue (“kebiasaan yang aneh”, kata Indro
Birowo), gue saya gunakan sebagai kata ganti orang kedua dan elu jadi
sebaliknya, atau dengan meneruskan kata-kata seperti elu..elu
pallullu’ (bugis : pallullu = lap). Dan sekarang saya tiap hari
mendengar kosa-kata tersebut, di terminal, di bis, di pabrik, di
masjid, bahkan kadang-kadang di rumah keluarga saya.
Saya hanya khawatir, kalau ternyata MBT justru akan memperbanyak orang
seperti saya di jaman mahasiswa tersebut, mengkritik orang yang memang
lahir dengan budaya yang berbeda dengan yang kita kenal (“kekhawatiran
yang aneh”,kali ini kata Ronal)

Satu hal yang harus saya kritik dari lagu ini dalam lirik :
“penyiarnya radio
siaranpi nalogat
selesaipi siaran
berhenti tawwa logat”
bukannya justru ini yang membuat banyak remaja di makassar ikut-ikutan logat?
yang jelas yang punya lagu takut lagunya diboikot penyiar dan cuma
bisa diputar di Gamasi.
Makassar Bisa Tonji, So what gitu Lho?
(ahmad amiruddin,yang lagi belajar logat di Jakarta)

Hari Lebaran

Ramadhan hari terakhir…
Perasaanku kurang tenang di hari terakhir puasa
mungkin karena memang tak seharusnya aku menghabiskan waktu
di pabrik dalam situasi menyambut lebaran seperti ini…
Yaa, seharusnya sekarang ini aku sudah berkumpul dengan keluarga
di seberang selat makassar…
HP bututku berdering beberapa kali, dan satu persatu pesan dari teman dan saudara
menyapa, terpaksa aku harus menghapus beberapa pesan karena kapasitas
inbox HPku yang memang tidak banyak, agar pesan2 tersebut leluasa masuk…
Macam2 isinya dan beberapa diantaranya dirangkai dengan kata-kata yang indah
juga ada pesan dalam bahasa Makassar, hal yang sama pernah kulakukan menjelang
ramadhan tapi dalam bahasa bugis…
Aku mencoba menelpon beberapa diantara yang mengirim pesan, setidaknya itu bisa menggantikan wujud fisikku yang tak bisa bertemu dan bersalaman langsung…
Waktu berbuka tiba dan kuucapkan Alhamdulillah karena masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini
Aku pulang sekitar Jam 7 malam, dan sudah kusiapkan segala sesuatunya untuk langsung berangkat ke Bogor dan shalat Ied disana, aku tak pulang ke Bekasi
Aku ikut mobil jemputan ke arah Gandaria, dan turun di UKI, jalanan di depan UKI tak ramai seperti hari biasa
mungkin karena para pengguna jalan telah berkumpul dengan keluarganya di kampung dan hanya menyisakan saya, sopir, kernet, penjual buah2an dan pak polisi yang mengatur jalan…
Kumandang takbir terdengar dimana-mana, aku naik mobil AC arah bogor…
Bus ngetem didepan terowongan UKI
satu persatu pedagang naik ke bus, seorang lelaki pedagang yang memakai peci dengan jidat berwarna agak kehitaman naik ke bus menawarkan sticker surah alfatihah, orasi-nya cukup menarik…
“jaman sekarang orang lebih takut sama Nyi Roro Kidul dibanding Allah
padahal yang punya Selatan itu Allah, Nyi Roro Kidul cuman ngontrak
kok lebih takut ama yang ngontrak daripada yang punya…
….karena itu adalah lebih baik anda membeli barang yang saya tawarkan
jangan khawatir apakah uang yang anda berikan sampai kepada yang berhak atau tidak
karena amalnya sudah sampai pada Allah”
saya tak beli,karena lagi asyik baca koran, lagian yang begituan saya masih punya di rumah…
Setelah masuk tol Jogorawi, TV di dekat pak sopir dimatikan, dan dari arah belakang, muncul seorang lelaki berusia sekitar 35-an, dengan tas di pundaknya dan sebuah mic di tangan kirinya
isi tasnya adalah speaker, begitu tebakan saya
“wah apes deh, tumben-tumbenan ada pengamen amatiran naik bis jurusan Bogor” pikirku
karena biasanya pengamen yang kearah Bogor mampu menghibur saya dengan lagu-lagunya
tapi kali ini, yang naik bermodalkan mic dan speaker, dan yang seperti ini biasanya dangdutan atau
paling tidak hanya putar kaset doang dan dia tinggal mengikuti lagu, kalau begitu kan mendingan nonton yang tadi lagi diputar diTV bus..
Dugaan saya tak meleset, tak beberapa lama terdengarlah alunan suara dari kaset
tapi isinya bukan dangdutan, salawat, si lelaki itu mengiringi lagu tersebut tapi nggak pake mic
jadi suara radionya lebih keras dari suaranya sendiri, mic masih berada ditangan kirinya yang berpegangan dilaci atas bus, lagi rusak kali mic-nya pikirku…
Sebenarnya saya kepengen kesel, tapi ini kan salawat, jadi harus dinikmati…
Selang lima menit, salawat berhenti, dan si lelaki, mencoba mic-nya, Oo akan sedikit lebih seru kalau dia punya usaha untuk menjual suara…
tapi lagu tak keluar2 juga, yang terjadi dia justru mengucap assalamu alaikum, salam pembuka dan mulailah dia berpidato…, bak Da’i yang lagi tampil di Stasiun TV dia berceramah, temanya seputar puasa, idul fitri, kesenjangan sosial,kemiskinan, kenaikan BBM, . Sebenarnya lumayan enak untuk di dengar, dan tak jarang menggunakan bahasa inggris, hanya saja kadang enggak nyambung,:), mungkin seperti yang dibilang salah seorang guru saya Pak Sonny Taniaji, “menggunakan bahasa tinggi untuk menjatuhkan lawan bicaranya, meskipun dia sendiri tak mengerti maksudnya”, Tapi saya tak berhak menyalahkan sang Dai, dia kan nggak pernah ngambil mata kuliah Proteksi dan dia juga tak pernah diajar oleh Pak Sonny. Tapi ceramah dimalam takbir adalah siraman rohani yang cukup menenteramkan selama perjalanan kurang lebih 35 menit tersebut yang berarti sama dengan mendengar 5 x kultum..
Untuk pertama kalinya saya mendengar ceramah agama dengan durasi yang panjang yang dibawakan live diatas bus, di malam takbiran lagi..
Sampai di Bogor disambut oleh hujan yang mengguyur seputaran Baranangsiang, bergegas aku mencari Angkot arah Bubulak, aku naik di kursi spare yang berada dekat pintu, si sopir negur
“tolong Bang isi satu lagi yang masih tiga sebelah kiri”
“Ini kan sudah full” Ucapku dengan nada tinggi, kurasakan suaraku melengking di dalam angkot
sambil menunjuk kursi yang memang sudah terisi 4 orang
dengan cepat ibu yang duduk dijajaran tersebut menarik anak berusia 10 tahunan yang duduk paling pinggir dan memangkunya…
padahal aku sudah emosi, hampir pindah ke angkot lain, ah.. aku tak tahu kenapa aku seemosi ini di malam takbiran..aku mengucap istighfar sepanjang perjalanan, aku tak boleh emosi, aku tak biasanya begini…
Di sekitar jembatan merah lalu lintas penuh sesak oleh para pedagang yang mengais rejeki dimalam terakhir, pedagang buah, pakaian, alat elektonik, makanan, bunga, tumplek blek jadi satu mengambil separuh badan jalan yang memang sudah macet oleh angkot yang ngetem
Aku turun di Jembatan merah, berkeliling, kali aja ada yang bisa dibeli, tapi tak ada yang menarik hati, beberapa muda-mudi tampak asyik memilih bunga, aku tak tahu pasti apa hubungannya bunga dengan malam lebaran tapi ada banyak penjual bunga malam itu, mungkin buat ziarah kubur kali
kuputuskan untuk naik angkot dengan nomor yang sama…
Tiba di SBJ aku turun dan nyambung ke arah Semplak tempat yang kutuju, sebuah daerah sejuk yang berdekatan dengan hutan CIFOR yang kadang-kadang dijadikan tempat syuting sinetron…
Sesampai dirumah, orang-orang lagi ramai menabuh beduk diluar rumah, suara saya timbul tenggelam kalah oleh suara beduk yang ditabuh bergantian dan saling sahut menyahut dengan suara takbir di mesjid…
Saya kepengen tidur cepat malam itu, tapi karena rumahnya dekat mesjid, jadinya suara beduk tak berhenti hingga jam 12 malam, “agar Syiar lebaran lebih menggema” kata kakakku
padahal kalo di kampungku diatas jam 10 malam orang-orang justru tak sibuk lagi dengan beduk dan takbir tapi lagi sibuk dengan masak burasa’, serta persiapan makan besok di hari Raya…
Hari Lebaran…
Subuh menjelang lebaran kami sudah siap2, beduk sedari tadi sudah ditabuh, dan kumandang takbir sudah menggema sebelum subuh, hari seperti ini biasanya akan membuat kenangan melayang ke kampung halaman, tapi untuk kesekian kalinya lebaran harus terpisah dari orang tua dan keluarga.
Aku dan kakakkupun berangkat ke masjid, setelah sebelumnya menelpon orang tua dan memohon maaf dan do’anya dari kejauhan…
Acara dibuka oleh sambutan tokoh masyarakat, dia pidato dengan semangat, sayangnya yang kutahu dari kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah eta, sami, aya’, dan beberapa kata-kata pasaran dalam bahasa sunda, aku merasa agak terasing melihat jamaah mengangguk-angguk mendengarkan sambutan tersebut…
Setelah shalat IED ceramah diisi oleh seorang ustadz yang mungkin seumuran saya, berjanggut tipis dan memakai jubah putih yang panjang..
Saya dan semua jamaah mendengarkan dengan takzim, kali ini yang berceramah dalam bahasa persatuan,
Ustads mengajak untuk mempertahankan semangat ibadah agar setelah selesai ramadhan semangat itu masih tetap ada, tutur bahasanya santun dan sangat menarik, isi ceramahnyapun sangat mengena…
Saat do’a dipanjatkan, mulailah satu-persatu terdengar suara sesenggukan jamaah,
Setelah khotbah, para jamaah berdiri dishaf-nya masing-masing, dan shaf terdepan mulai bergerak menyalami jamaah di shaf belakangnya, dibarisan terdepan dimulai oleh Ustadz, suara tangis semakin terdengar, suasana saat itu begitu mengharukan, hampir seluruh jamaah tampak menitikkan air mata,
air mata penuh penyesalan atas kesalahan-kesalahan terhadap sesama saudara
beberapa jamaah sempat memeluk saya, dan berurai airmata meminta maaf…
Hanya satu orang yang punya pertalian darah dengan saya di masjid itu, tapi dimasjid itu saya merasakan punya saudara-saudara yang lain, yang seiman dan menganggap saya sebagai saudaranya meskipun saya hanya “numpang” lebaran ditempat itu
Sayapun tak kuasa menahan air mata, luluh sudah keresahan hati saya yang saya pendam sejak semalam…
Bogor yang dikaruniai oleh Allah dengan hujan yang terus menerus mengguyur, serta udara yang adem, pohon yang rindang dan Neng Geulis yang menyejukkan mata, juga dikaruniai kesantunan warganya untuk menerima orang baru…
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Wassalam,
Ahmad Amiruddin

Ooh Unhas

Ohh… Unhas

“Kenapa Kampus anda sering terjadi perkelahian?”

Saya tak begitu terkejut mendengar pertanyaan ini andai pertanyaan tersebut
bukan pertanyaan wawancara kerja, dan saya yakin bukan cuma saya alumni
Unhas yang pernah mendapatkan pertanyaan serupa dari pewawancara.
Seakan-akan Unhas memang identik dengan perkelahian dan tawuran. Satu hal
yang jelas, banyak orang yang mengenal Unhas, meskipun tidak sedikit
diantaranya adalah orang-orang dengan pertanyaan seperti diatas.

Hari rabu kemarin (31/08) ketika sarapan di tempat kerja, sepintas
ditayangkan berita tentang pembakaran gedung di FISIP, beberapa teman kerja
langsung menghadap kearah saya, “waa gimana kampusmu ini, mahasiswa kok
begitu?” . Menjelang shalat dzhuhur saya disapa teman yang lain dan
diberitahu kembali, katanya dia habis menonton liputan 6 siang tentang
pembakaran di Unhas, dan sepanjang hari itu, saya cuman bisa tersenyum kecut
ketika teman yang lainnya lagi berkata ,”biasanya orang itu bakar roti, atau
ikan, ini kok malah bakar kampus sendiri?”. Dan saya juga tak bisa
menjelaskan kepada mereka penyebab kejadiannya, saya hanya punya jawaban
standar, kalau hal tersebut adalah hal biasa disana. Jawaban yang justru
membuat mereka tambah heran, hal buruk kok malah dilestarikan.

Malamnya saya tiba dirumah, dan menyetel TV, dan ternyata berita yang saya
cari ditayangkan berkali-kali malam itu, bahkan ceritanya bertambah dengan
lemparan batu.

Siapa yang mesti bertanggungjawab dengan kejadian ini?, begitu susah kita
mengangkat citra Unhas, tapi justru kejadian yang sama hampir tiap tahun
semakin menyeret Unhas jauh dari citra akademik yang santun. Informasi juga
semakin cepat tersebar, membuat kita mudah menyaksikan cuplikan acara lempar
batu tersebut, berikut embel-embel “Hidup Teknik”, atau “FIS bersatu” dari
para petarung. Unhas tak bisa menutup mata kalau dia telah jadi tontonan
banyak orang, dan alumninya jadi bahan ledekan koleganya. serta jadi lelucon
tukang becak (seperti yang sering kita dengar kalau tukang becak menegur
temannya “Jangko berkelahi kayak mahasiswa saja”.)

Selama ini memang kelihatan, Unhas seperti Ibu yang tak diakui oleh anaknya
sendiri (mungkin juga bisa berarti ibu yang lalai kepada anaknya).Mahasiswa
teknik lebih bangga dengan identitas keteknikannya, begitu pula fakultas
lainnya. Masing-masing menonjolkan fakultasnya masing-masing dan membangun
sekat psikologis diantara mereka. Coba survey dan tanya 10 orang mahasiswa
Teknik ada berapa orang sih yang hapal Mars Unhas?Maka anda akan kecewa jika
berharap ada lebih dari 3 orang diantaranya yang tahu, tapi coba tanya
tentang Mars Teknik, hampir semuanya akan bisa menyanyikannya. Seingat saya
sendiri, saya hanya pernah sekali menyanyikan lagu Mars Unhas hingga tuntas,
yaitu ketika saya diwisuda. Maka wajar jika fakultas “sebelah” dianggap
musuh karena memang tak ada identitas yang mengikat sesama Unhas. Tak ada
rasa kebersamaan bahwa Unhas adalah milik semua fakultas, dan semua orang
yang belajar dan menimba ilmu di Unhas adalah orang-orang yang juga punya
cita-cita bersama untuk membangun Unhas.

Lantas siapa yang merasa memiliki Unhas ? Sepertinya hanya para petinggi di
Unhas yang merasa memilikinya, rasa memiliki dalam arti harfiah yang
sebenar-benarnya, rasa kepemilikan yang tidak jauh dari pengelolaan aset dan
finansial semata. Lupa kalau banyak kader bangsa yang dititipkan oleh orang
tuanya untuk dididik menjadi manusia berguna, yang bisa jadi contoh buat
masyarakat luas, atau atau paling minimal tidak menjadi contoh buruk lewat
tayangan perang-perangan di TV.

Juga, selama Organisasi Kemahasiswaan di Unhas masih menanamkan doktrin
kebencian terhapap Fakultas lain dalam pengkaderannya, maka perkelahian atau
tawuran hanyalah bom aktif yang siap untuk meledak setiap waktu, tinggal
mencari sebab, dan kampus kita akan tayang lagi di TV.

“Kenapa Kampus anda sering terjadi perkelahian?”

Jika anda mendapat pertanyaan seperti diatas, anda akan menjawab apa?

(Ahmad Amiruddin E’98, alumni Unhas)

Pengamen

Jakarta, My stories (Bag. 1: Pengamen)

” Terima kasih buat bapak sopirnya dan kondekturnya
Mohon maaf kepada bapak2, ibu2, mbak2
kalo saya mengganggu perjalanannya
kembali lagi kami seniman jalanan menemani perjalanan anda ke kota Jakartanya
dengan tembang-tembang lawasnya”

Ibukota punya banyak cerita. Satu diantaranya adalah kehidupan di
jalan. Setiap hari bergaul dengan debu dan polusinya, juga mendengar
nyanyian rintih para pengamen yang silih berganti menawarkan suaranya,
tanpa bisa dicegah atau dikomentari seperti para bintang AFI yang
mendapat komentar dari para dewan juri-nya. Jadi kalau tak suka
lagunya,cukup tutup telinga memejamkan mata sambil membayangkan kalau
yang sementara menyanyi adalah bintang idola.

Memang tak semua bersuara sumbang, banyak juga yang suaranya merdu
seperti Glenn, atau serak-serak basah mirip Bang Iwan, tapi kebanyakan
sih di bawah standar.Lahh iyalah, kalau suaranya bagus ngapain juga
dia ngamen?, kan kalau suaranya merdu mendingan dia nyanyi di cafe
atau ikut audisi Indonesian Idol, kali aja jadi orang terkenal
seketika, tiba-tiba kaya raya dan dielu-elukan banyak orang, bisa
jadi bintang iklan permen lagi. Kemana-mana dimintai tanda tangannya,
orang-orang pada rebutan pingin foto bareng, serta para ABG (atau ada
juga yang udah tuaan) akan memajang poster sang bintang gede-gede
dikamarnya.

Ada banyak macam pengamen yang saya temui, mulai dari bocah ingusan
sampai yang pipinya udah kempot. Juga ngamen bukan hanya dominasi kaum
pria, cewekpun banyak juga yang ngamen.Yang berada diantara kedua
jenis itu (baca : banci) juga banyak, tapi untuk jenis yang satu ini
kebanyakan mangkalnya di lampu merah. Sebagian diantara pengamen
tersebut kadang-kadang mengingatkan dengan teman-teman di makassar,
kalau pas dengar lagu dangdut ingatnya sama Rega, kalau yang ngamen
bawain lagu yang agak melankolis saya membayangkan kalau yang lagi
memetik gitar itu adalah Asdhy, kalau mendengar nyanyian seperti orang
menggerutu saya ingat diri saya sendiri kalau konser bersama Adde, dan
kalau lihat pengamen cewek yaa ingatnya sama Riry Fajriah, teman kita
yang suaranya merdu itu, tapi pengamen cewek sih jarang, hanya ada di
rute tertentu, kalau yang udah tua-an mah banyak. Rute yang sering
ketemu pengamen cewek biasanya kearah UKI-Bogor, dan memang kebetulan
hampir tiap minggu saya ke bogor.

Fenomena yang saya perhatikan, beberapa pengamen juga mengikuti selera
pasar. Kalau yang lagi hit Peter Pan, maka yang paling sering
kedengaran Ada Apa Denganmu?, waktu tsunami di Aceh, kebanyakan kita
akan mendengar tembangnya Ebiet G. Ade, kalau sekarang-sekarang ini
sih yang paling jamak itu Cinderella, Manusia Biasa, atau Jujur dari
Radja.

Anyway, apapun jenis pengamennya, serta musik yang dibawakannya,
semuanya memang bertujuan mencari sesuap nasi yang semakin sulit dari
hari ke hari, dan karena hidup harus jalan terus dan perut butuh untuk
diisi, maka mungkin ngamenlah jalan yang paling halal buat mereka,
seperti kata seorang pengamen yang udah hampir saya hapal
“Ibu saya berpesan, daripada saya mencuri, menjambret atau merampok,
mending saya mengamen”, Prinsip yang sederhana, karena memang ngamen
lebih baik dari mencuri. Meskipun pilihan yang terbaik tidak dengan
mengamen.

Memperhatikan para pengamen membuat saya kadang merenung, betapa
beruntungnya saya, karena tak perlu harus mengamen untuk tetap hidup
dan bernapas dengan wajar di ibu kota. Yang berarti saya tak harus
meloncat pindah-pindah bus, atau harus menahan diri dari perlakuan
yang kadang agak kasar dari kondektur bus, serta pandangan sinis
beberapa penumpang yang mungkin lagi kelelahan dan tidak punya space
di dalam dirinya untuk mendengar gerutuan (baca : nyanyian) saya.

Meskipun kadang-kadang saya juga merasa mendzalimi mereka karena saya
ikut menikmati lagunya, tapi tak memberi sepeserpun uang receh,
kecuali seulas senyum dan gerakan tangan.

Yaa, pengamen yang bernapas dan menyanyi bersama lelahnya ibu kota,
bisa jadi hiburan diperjalanan, juga bisa mengesalkan bagi yang nggak
lagi mood, atau mungkin tak berarti apa-apa. Seperti kata teman saya
yang sempat berkunjung ke kosku, “awal-awal nggak kerasa ngasih uang
bagi pengamen, tapi lama kelamaan saya bisa mati rasa”

Mengutip satu lagu yang sering saya dengar dari bocah2 pengamen

” saat adzan subuh kami lelap tertidur
saat adzan zduhur kami sibuk bekerja
saat adzan ashar kami lelah bekerja
saat adzan maghrib kami di perjalanan
saat adzan isya kami telah mengantuk
Tuhan pantaskah kami ke Surga-Mu?”

Yang pasti surga terbuka bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya, entah
pengamen atau orang yang dihiburnya.

“Demikian beberapa tembang dari kami
Terima kasih atas jiwa sosialnya
Ikhlas bagi anda halal bagi kami
Semoga rejekinya dilipatgandakan dan selamat sampai tujuan
jangan lupa barang bawaan anda
assalamu alaikum, dan salam sejahtera bagi penganut agama lain”

….to be continued

(Ahmad Amiruddin, di pinggiran Jakarta)

Hidup Teknik

Hidup Teknik !!!”

teriak Ferry, mantan ketua senat Teknik, sambil mengepalkan tangan kearahku..
Itu terjadi setahun yang lalu di Bandara Hasanuddin Makassar ketika aku akan berangkat mengadu nasib ke Jakarta.
Akupun membalas dengan teriakan yang sama
aku tak main-main, mungkin itulah teriakan Hidup Teknik yang paling menyemangatiku
aku memejamkan mata, dan kurasakan aku punya spirit baru
aku akan berangkat mengais rejeki, dan aku telah di bekali di Teknik
Jika aku bisa survive sebagai mahasiswa Teknik maka bukan hal yang mustahil aku juga bisa survive di luar…
Kubaca basmalah dan kulangkahkan kaki menuju tangga pesawat
Ketika pesawat menjejak di cengkareng
aku mencoba merasakan hawanya, kuhirup dalam2 udara daratan yang kupijak.
here i come
hari ini untuk kesekian kalinya aku teringat Teknik
Bossku, mendamprat hari ini,mengomel sana sini
dengan ekspresi yang tegang
tapi aku pernah merasakan yang jauh lebih keras dari ini
belum seberapa dibanding dampratan asisten praktikumku dulu
hanya saja kali ini menyangkut perut dan isi dompet
dan bukan buat belajar lagi, tapi berhadapan dengan dunia yang sesungguhnya
untungnya yang seperti ini sudah sering kudapatkan dulu
meskipun tetap saja aku dongkol dengan omelan
Ketika aku membutuhkan teman cerita
aku masih punya banyak teman yang bisa kuajak sharing
tugas yang bertumpuk, kerjaan yang tak kelar, dan perasaan yang carut marut
menjadi sedikit cair ketika bertegur sapa dengan sahabat2 di Teknik yang berada diujung telpon
atau bisa kuhubungi lewat e-mail..
Teknik dengan segala kelebihan dan kekurangannya,
selalu punya banyak hal yang bisa dikenang…
Hidup Teknik !!!
21 Nov 2005
Wassalam,
Ahmad Amiruddin E’98

.