Nyaris Juara

Final Piala AFF 2010 telah usai, kita menang di pertandingan terakhir tapi tak mampu mengejar defisit kekalahan di Bukit Jalil. Malaysia secara jelas telah menjadi juaranya, dan kita kembali menjadi Runner Up, tetapi cerita tentang perjuangan timnas tetap menarik hingga kini.

Atas bantuan teman saya Opiq mencarikan tiket, saya berkesempatan bergabung dengan 95.000 penonton di Stadion GBK pada malam ketika sebuah gol Malaysia memperdaya kiper Markus, dan dua Gol dari Garuda tak mampu membuat kita mengangkat trofi.

Sore jam 16.30, ketika motor saya mulai berbelok di Jalan Sudirman, para suporter berbaju merah telah mulai mengular di jalanan, beberapa bahkan tak pakai baju tapi melumuri badannya dengan cat berwarna Merah dan Putih. Saya parkir di Plaza Semanggi dan melanjutkan perjalanan dengan Angkot nomor 19 yang dipenuhi Suporter dan bahkan kondekturnyapun memakai baju Timnas. Sepanjang jalan yang tak jauh dari Semanggi ke Pintu Satu GBK, terompet dan nyanyian para suporter telah bersahut-sahutan saling menyemangati meskipun peluang kita seperti kata Tuan Riedl hanya sekitar 5-10%, tapi suporter tetap yakin bahwa kemenangan 5-1 tetaplah realistis karena kita pernah melakukannya di Stadion yang sama.

Garuda di Dada

Turun di Jembatan Halte Busway Gelora Bung Karno, Suporter semakin banyak, hingga jembatan penyeberangan itu rasanya tak cukup besar untuk menampung orang yang ingin menyeberang. Para pedagang asesoris telah mulai menawarkan dagangannya, terompet aneka macam, stiker yang ditempel dijidat dan dipipi, serta ikat kepala.

Masuk ke area GBK lebih ramai lagi, pedagangnya lebih banyak lagi, kaos Timnas dengan berbagai macam motif dan harga variatif mulai dari 25.000 rupiah tergantung dimana-mana, para pedagang mendapat berkah luar biasa dari lolosnya kita ke Final dan euforia itu menjadikan para suporter rela mengeluarkan kocek untuk melengkapi dirinya dengan baju, syal, terompet dan topi.

Ketika masuk ke area jogging stadion GBK lebih banyak orang lagi, dibanyak sudut stasiun televisi tak mau ketinggalan menyiarkan secara langsung suasana meriah dari GBK, salah satu atau dua diantaranya dianggap banyak orang terlalu lebay menyiarkan tentang Timnas sehingga mendatangi pemain di hotelnya dan masih sempat mewawancarai para pemain ketika dalam perjalanan dari Jakata ke Kuala Lumpur, gangguan-gangguan yang disebut oleh Tuan Riedl sebagai salah satu penyebab hilangnya konsentrasi pemain ketika bermain di Bukit Jalil, gangguan yang disebut beberapa blogger sebagai kelebayan orang-orang Media yang sebenarnya tak mengerti Sepak Bola. Tapi siaran langsung suasana meriah dari GBK pastilah bukan bagian dari kelebayan itu, justru sekarang lah saatnya mendukung Timnas.

Beberapa kendaraan lapis baja berwarna gelap berjejer menjaga keamanan, RI 1 akan hadir dan wajah Indonesia akan tercoreng ketika penonton tak bisa bersikap dewasa. Kita memang harus bersiap-siap, perlakuan suporter Malaysia di Kuala Lumpur menjadikan banyak orang khawatir akan serangan balasan suporter Indonesia yang sudah mencontohkan banyak kerusuhan dalam serial Liga yang digelar PSSI. Kekhawatiran lain adalah suporter Indonesia dianggap belum cukup dewasa sehingga kemungkinan akan rusuh ketika kita tak bisa Juara, dan kemungkinan untuk tak Juara itu besar, seperti yang sudah diucapkan oleh Riedl. Bahkan ada yang berpesan agar tak membawa senjata tajam dan sejenisnya masuk ke Stadion GBK, semuanya sudah tersedia dibawah kursi.

Tapi saya yang membawa istri untuk menonton bersama, tetap berpandangan tak bakal ada kerusuhan, sebabnya sederhana, karena SBY akan hadir menonton dan ada banyak wanita yang menonton, petugas akan memastikan SBY tidak dipermalukan oleh ulah suporter, dan kelakuan para suporter yang biasanya brutal bisa dinetralisir oleh suara-suara halus wanita yang jumlahnya mungkin 1/3 dari penonton, jadi tak perlu khawatir.

Setelah lolos dari pusaran penonton yang banyak, kami masuk dalam Stadion yang kelihatannya sudah penuh, dan memang kelihatan tak ada tempat duduk kosong, tapi untunglah saya dapat dua kursi kosong, rugi rasanya kalau sudah bayar mahal-mahal tapi harus berdiri terus menerus sepanjang pertandingan.

Penonton di Stadion GBK sangat bersemangat, nyanyian penyemangat dari artis ibukota membahana di Stadion, dan ketika Markus, Ferry, dan Kurnia mulai masuk kelapangan untuk pemanasan, suara penonton sudah bergemuruh dimana-mana. Ketika keseluruhan tim masuk, penonton makin bersemangat, Mexican wave dilakukan oleh penonton, yang beberapa kali mengitari stadion dan berakhir dan meredup ketika melewati bagian VIP tak jauh dari RI-1. Semangat Very Important Person, kalah jauh dengan penonton biasa. Semoga bukan karena mereka dapatnya gratis.

Saat terindah ketika menonton di Stadion GBK adalah ketika Lagu Kebangsaan Indondesia Raya berkumandang, badan ini bergetar, atmosfer stadion membawa suasana menyanyikan lagu kebangsaan itu begitu menyentuh, rasanya dengan mendengar lagu Indonesia Raya ini, para pemain kita akan kembali bersemangat mengalahkan Malaysia seperti yang pernah mereka dan para pendahulunya sering melakukan.

Semangat itu semakin membahana ketika kick off pertandingan, Teriakan INDONESIA…, membahana dari segala penjuru. Saya memandang berkeliling, adakah laser balasan dari penonton Indonesia terhadap kiper malaysia, saya tak melihat, yang ada hanya kilatan lampu kamera yang berganti-gantian dari segala sudut, suporter kita tahu bahwa tindakan suporter Malaysia tak patut ditiru, kita bisa menang dengan cara yang elegan tanpa harus menggunakan trik Malaysia.

Ketika salah seorang pemain Malaysia handsball di kotak terlarang dan wasit menunjuk titik putih, para penonton bersorak, melompat, berangkulan dan meniup terompet. Ketika Firman Utina mulai mengambil ancang-ancang, kami menahan nafas, berdoa dan berharap satu gol merubah keadaan dan memompa semangat Timnas, dan ternyata tendangan Firman ke arah kiri gawang Malaysia bisa dibaca kiper Malaysia. Penonton lesu, beberapa orang menutup kepalanya, ada yang meninju tangannya sendiri, mengangkat tangannya sambil menarik napas panjang. Sejenak stadion hening, masing-masing berpikir dalam kekalutannya menyesali yang terjadi, sementara Firman di lapangan nampak berjalan dengan tatapan penuh sesal, atmosfer telah berubah. Tapi setidaknya kita pernah bergembira untuk pinalti itu. Beberapa suporter berusaha menyemangati Firman dan kawan-kawan, tapi secara keseluruhan stadion masih dalam suasana hening.

Piala AFF untuk Suporter

Para pemain di lapangan masih tetap berusaha mengurung pertahanan Malaysia, tapi Firman sang Kapten nampak kesulitan mengembalikan kepercayaan dirinya, Firman seperti hilang dari lapangan setelah kejadian yang juga tak diinginkannya itu. Hingga kemudian sebuah umpan dari Maman Abdurrahman bergerak kearah yang salah, bolanya tepat mengarah ke kaki pemain Malaysia yang langsung mengirim umpan ke Moh Safee, peluang Malaysia itu berbuah gol yang bersarang ke gawang Markus, suporter kembali terdiam, Malaysia memang “pencuri” yang ulung, sebuah golnya menjadikan pertandingan itu semakin berat bagi pemain kita, butuh lebih dari sebuah keajaiban untuk menciptakan 5 gol yang semakin sulit untuk diwujudkan.

Banyak yang menyalahkan Maman, tapi bagi saya yang juga seorang bek, blunder itu sering dilakukan oleh seorang bek, bahkan bek sekelas Rio Ferdinand pun pernah melakukan, faktanya bahwa Maman juga pernah menyelamatkan gawang Indonesia dari kebobolan, ketika Markus melakukan blunder dalam pertandingan Indonesia melawan Thailand, dua kali Maman melakukan kesalahan yang berbuah gol, ini pasti pukulan berat buat dia, Maman bisa menutup blunder temannya tapi kawan setimnya tak bisa menutup kesalahan Maman.

Saat babak kedua dimulai, penonton kembali bergemuruh, lagu Garuda di Dadaku berkumandang dimana-mana, Spanduk peringatan dari Polda Metro Jaya diatas saya telah ditarik oleh Suporter dan digantikan suporter hujatan kepada Nurdin Halid, dilain tempat sebuah spanduk nampak naik turun diatas kepala penonton isinya sama “Nurdin Turun”, nampaknya selain Malaysia yang diteriaki malam itu, Nurdinpun mendapat perlakuan yang sama.

Penggantian Firman dan Irfan, memberi tekanan lebih bagi Malaysia, sebuah gol dari Nasuha dan Ridwan menjadikan stadion kembali bersemangat, perlu tiga gol lagi agar Indonesia menang, dengan waktu yang tersedia sulit untuk melakukannya. Para pemain Timnas telah berusaha, tapi 2-1 adalah hasil maskimal yang bisa dicapai.

Dan peluit panjangpun berbunyi, beberapa suporter melempar botol minuman ke arah petugas, tetapi berhenti ketika di teriaki kampungan oleh suporter lain. Secara umum suporter patut diacungi jempol, mendukung dengan semangat dan tak bikin ribut. Akhirnya ketika keluar Stadion, banyak yang justru berfoto di Barracuda yang terparkir di luar Stadion, beberapa orang nampak membujuk agar aparatnya bersedia ikut berfoto.

Malaysia pulang dengan pialanya, kita hanya jadi runner up. Orang hanya mengingat siapa juaranya, dan itu bukan Indonesia, kita seperti biasanya menjadi Tim yang nyaris Juara. Seperti dalam banyak kasus, Malaysia begitu pintar memanfaatkan kelemahan kita, kita biasanya menang dihebohnya aja, tapi kemudian keok di tempat terjadinya peperangan yang sesungguhnya. Media massa yang memblow up secara berlebihan seperti Infotainment yang kehabisan berita, para politisi yang numpang tenar, dan pengurus PSSI yang itu-itu lagi menambah daftar panjang cerita akhir dari Piala AFF.

Tetap semangat Kawan-kawan, Garuda Tetap di Dadaku, dan bagi yang sering lebay, hentikan segera, bersikap wajarlah, seperti kata Riedl.

Nampang

Rokok di Singapura

Rokok itu tak baik, tidak hanya saya yang bilang, bahkan produsen rokokpun menuliskan itu di bungkus rokoknya. Karena rokok tak baik dan tetap saja banyak yang suka maka jadilah dia barang yang dibatasi dan dipajaki tinggi dibeberapa negara. Salah satu negara yang menjadi neraka bagi para perokok adalah Singapura.

12923418181257871252

Pak Suman dan Rokoknya

Beberapa bulan silam, saya bertemu dengan mantan bos saya di Siemens, Suman Sinha, di restoran India-Muslim di sebuah jalan di dekat Pusat Kota Singapura. Itulah untuk pertama kalinya saya ke Singapura. Suman adalah Warga Negara India yang pernah bekerja di Indonesia dan beristri Warga Negara Indonesia, sekarang dia bekerja di Singapura, di perusahaan tempatnya dulu bekerja sebelum ke Indonesia. Kami duduk di area khusus perokok. Saya memesan murtabak dan Suman memesan roti, mirip roti cane yang dulu kami makan di jalan Sabang. Selesai makan Suman mengeluarkan rokoknya, sebungkus Marlboro dengan peringatan macam rupa dibungkusnya lengkap dengan gambar bagian mulut yang terkena kanker, sebuah ancaman yang sangat menakutkan bagi para perokok.

Saya sudah tak biasa merokok, aturan “pemerintah” di rumah mengharuskan saya tak lagi merokok, akan tetapi saya kadang sedikit bandel, dan kali ini saya membawa sebungkus rokok dari Indonesia, rokok itu sudah lama tak tersentuh di tas. Buat jaga-jaga kalau lagi perlu.
Nostalgia bersama Suman tentang proyek-proyek yang dulu kami kerjakan di Indonesia dan sering bikin mumet mengalir seiring rokokpun keluar dari sarangnya. Ketika saya mengeluarkan rokok itu, Suman langsung memperingatkan, bahwa setiap batang rokok di Singapura harus mempunyai tanda SDPC. Kalau tidak ada, bisa kena denda sampai S$ 10.000. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa merokok bertahun-tahun di Indonesia tanpa perlu khawatir dengan anggaran rokok, dan sisanya bisa digunakan untuk berobat ke dokter. Suman menunjuk dua orang berpakaian polisi yang tak jauh dari kami, yang kalau dibandingkan dengan polisi-polisi di Indonesia, dua orang tersebut kelihatan terlalu culun untuk ukuran polisi Indonesia, terlalu intelek dan tak keliatan tampang sangar, meskipun muka-muka kaku tanpa senyum khas Singapura melekat erat di wajah mereka.

Sayapun menyembunyikan bungkus rokok tersebut, meskipun tetap menghisap sebatang, rokok seharga sepuluh ribu perak itu bisa membuat saya bangkrut kalau kedapatan Polisi Singapura yang katanya tak bisa diajak damai. Pantesan saja, dulu ketika Suman di Indonesia merokoknya kayak kereta api. Disamping murah, larangan merokokpun hampir tak ada di negara yang kita cintai, yang oleh Suman di klaim sebagai negara yang sangat dicintainya juga, setelah India tentunya.

Peringatan Suman menuai tuahnya. Minggu kemarin saya berkesempatan ke Singapura lagi, kali ini tak melalui Changi, tapi menyeberang dari Batam. Saya dan rombongan berangkat pagi-pagi dari Harbour Bay, salah satu dari 4 pelabuhan penyeberangan di Batam. Sambil menunggu pemberangkatan, saya membeli dua bungkus rokok, yang rencananya akan saya berikan kepada sopir yang mengantar kami selama di Batam, tapi si sopir tak kunjung keliatan batang hidungnya. Satu bungkus saya buka dan hisap sebatang sambil menikmati udara pagi Batam.

Ketika panggilan boarding sudah terdengar dari speaker pelabuhan yang toiletnya sangat-sangat kotor tersebut sang sopir tak jua keliatan. Rokok tersebut saya masukkan ke tas kecil yang saya bawa bersama paspor dan NPWP didalamnya. Dua bungkus rokok itu bersama saya menyeberang ke Singapura. Seiring hilangnya sinyal HP saya Singapura telah semakin dekat. Perjalanan menyeberang hanya 45 menit, akan tetapi karena waktu Singapura dimajukan satu jam, maka secara waktu perjalanan menjadi 1 jam 45 menit.

 

Ketika tiba di pelabuhan Harbour Front Singapura, kami masuk dalam antrian imigrasi Singapura. Sedikitnya empat loket dibuka untuk mencap paspor para pendatang. Di depan, seorang polisi Singapura, yang sekali lagi keliatan culun mondar mandir mempersilahkan orang maju menuju loket. Tiba giliran saya, diperiksa oleh seorang gadis India-Singapura, ketika ditanya mau kemana? Saya jawab aja “Orchard”, kata orang-orang sih kalau jawab begitu bisa cepat prosesnya karena dikiranya kita akan menghabiskan uang di Singapura, tapi sori jek, saya tak ingin belanja di Orchard, kalaupun kesana paling hanya untuk foto-foto.

Setelah melewati petugas tukang stempel, saya masuk ke arah X-ray, sebuah tempat flyer tentang aturan singkat imigrasi tersedia sebelum jalur X-ray. Saya mengambil satu, tak sempat membaca penuh dan langsung memasukkan barang ke X-ray. Ketika saya sudah keluar dari pintu detektor logam, tas kecil saya masih dalam jalur conveyor, perasaan saya sudah tak enak, pasti ini ada apa-apanya, sementara teman-teman yang lain sudah menungu di luar.

Ketika tas saya keluar dari pemindai bertirai hitam itu, langsung diambil oleh petugas dan ditanya
“ berapa bungkus rokoknya?”
Waduh, mati aku, pikirku rokok ini pasti jadi masalah, pikiranku sudah macam-macam saja, kali aja penjual rokok di Batam itu mencampur ganja di rokokku. Bisa kena gantung saya di Singapura.
Saya bilang ada dua bungkus, ketika petugas menanyakan bungkus rokoknya. Si petugas langsung mencatat, katanya ada masalah dengan Costums. Saya bilang ke dia, saya tak perlu rokoknya, saya tinggal aja disini. Si petugas tak mengiyakan dan tetap mencatat nama saya dan mengarahkan ke bea cukai. Ketika masuk di ruangan saya diantar oleh seorang gadis China-Singapura, saya tanya ke dia, apakah memang dilarang membawa rokok ke Singapura, dia tak menjawab dan menyerahkan saya ke temannya yang satunya lagi, seorang Melayu-Singapura, namanya Slamat Jay (anggap saja begitu namanya).

Si Slamat Jay, mempersilahkan saya duduk, saya ditanya
“darimana di Indonesia”
“Jakarta” jawab saya
“Jakarta di bagian mana?”
“Bekasi” jawabku
“Oo saya kira dari Tegal”
Saya cuma tersenyum,
“saya dari Bugis” kata saya

dalam hati saya bilang nenek moyang saya yang bikin Kampung Bugis disini, dan pernah menguasai Pulau Belakang Mati yang sekarang jadi Sentosa Island, mungkin kakekmu dulu pernah dengar ceritanya, tapi sedikit yang diceritakan dalam sejarah Singapura.
Sayapun disuruh membaca ancaman hukuman buat para pelanggar yang membawa rokok tanpa melaporkan terlebih dahulu kepada petugas, pelanggaran pertama 1000 dollar, pelanggaran kedua 5000 dollar, pelanggaran ketiga 10.000 dollar. Saya mengkerut, 1000 dollar itu setara dengan 7 juta rupiah, sangat banyak untuk ukuran Indonesia.

Si Slamat Jay, menanyakan kepada saya, apakah saya sudah tahu hukuman bagi para pelanggar peraturan. Dijelaskannya bahwa, apapun jenis barang yang dilarang bisa dideteksi di X-ray, bukan karena orangnya yang pintar tapi karena X-ray-nya yang pintar. Saya tak peduli pikirku, saya tak menyembunyikan apa-apa, bahkan rokok yang awalnya hanya satu bungkus didapat petugas kuperlihatkan satu lagi, maksud saya, okelah saya bersalah membawa rokok dan tidak bayar pajak, tapi karena saya tak tahu, rokok saya boleh kamu ambil dan hisap sepuasnya, kapan lagi merasakan nikmatnya rokok kretek Indonesia yang super susah didapatkan di Singapura.

Setelah selesai berceramah kepada saya, Slamat Jay akhirnya memberi dispensasi kepada saya, saya tak didenda 1000 dollar, saya cuma diharuskan membayar pajak yang tadinya belum terbayar sebanyak 12 dollar, tak seberapa dibanding 1000 dollar. Saya bisa sedikit lega.

Setelah membayar pajak, saya bilang sama Slamat Jay kalau saya mau cari tempat sampah dan rokok sialan itu akan saya buang, saya tak mau bermasalah lagi dengan rokok di Singapura. Dia menghalang-halangi saya, katanya bawa saja, tak perlu lagi khawatir, kalau ada yang menanyakan perlihatkan struk pembayaran resmi dari customs Singapura.

Saya akhirnya keluar dari Bea Cukai, rokok itu saya tinggal di tempat sampah, ketika saya cerita sama istri ucapannya hanya “begitulah kalau melanggar peraturan “pemerintah””

Bagi para perokok yang ingin ke Singapura silahkan dibaca ini :
disini

Mobil Nasional dari Anak SMK

Sabtu kemarin (4/12), saya mengunjungi Indonesian Manufacturing 2010 di PRJ Kemayoran. Pameran ini berlangsung tanggal 1-4 Desember, terdiri dari beberapa rangkaian pameran yaitu Machine Tools, Plastic & Rubber dan Pro Pak. Rasanya seperti “pulang kampung” lagi ke Pabrik, meskipun beberapa jenis mesin yang dipamerkan berbeda dengan mesin-mesin yang dulunya sering kutemui di LG Philips, tempatku bekerja. Sebagian besar mesin yang dipamerkan adalah mesin-mesin CNC, PLC, alat-alat ukur, tools, genset,  dan kompressor.

Pintu Depan

Selamat Datang

Pameran ini dikunjungi banyak praktisi di bidang manufaktur, di hari terakhir ini beberapa mesin telah di labeli SOLD dan siap diantar ke pemesan, saya yang datang tidak mewakili siapa-siapa pastinya tak memesan apa-apa, niat saya sebenarnya mencari mesin-mesin pengolah hasil pertanian yang bisa diaplikasikan di kampung, ternyata pameran ini hanya memamerkan mesin yang berhubungan dengan metal, tapi tak apalah berkeliling melihat stand pameran dengan berbagai macam produk tetaplah menarik bagi seorang laki-laki, seperti begitu tertariknya seorang laki-laki ketika berjalan-jalan di Toko Perkakas semacam AC* Har*****, istri sayapun yang kebetulan berlatar belakang Teknik senang melihat produk-produk yang dipamerkan.

Beberapa perwakilan negara-negara produsen seperti Taiwan, Jerman, Thailand, dan Singapura membuka stand, dan yang paling luas areanya adalah dari Singapura.Mereka serius menggarap pasar Indonesia

 

Indonesia Pasar yang Besar

Begitu memasuki stand-nya, saya langsung disapa oleh penjaga stand, Eky Hartono namanya, ternyata dia masih kelas 3 SMK Warga Surakarta. Untuk ukuran remaja seumurannya, Eky sangat fasih dalam menjelaskan produk, product knowledge dan mungkin ilmu marketingnya lumayan bagus. Beberapa pertanyaan dilayaninya persis seperti seorang CS bank menjelaskan produknya. Saya menggunakan analogi CS Bank, karena hanya itulah yang saya tahu, pengalaman membeli mobil belum pernah.

Menurut Eky, mobil yang dipajang disana adalah asli bikinan anak-anak SMK yang bekerja sama dengan 2 perusahaan partner. Ada lima SMK tempat perakitan mobil, SMK tersebut berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satunya termasuk SMK Warga Surakarta tempat Eky bersekolah. Beberapa orang nampak mencoba mobil Double cabin dengan merk Digdaya, harganya termasuk murah hanya Rp. 125 Juta, dengan mesin 1500 cc yang dibuat sendiri oleh anak-anak SMK ini juga. Sementara itu untuk SUV harganya sedikit lebih mahal yaitu Rp. 140 juta dengan kapasitas mesin yang sama. Untuk pick upnya dijual seharga 60 juta. “Semua harga On The Road”, kata eky berpromisi. “90% bahannya adalah lokal dan sisanya yang diimpor adalah Electrical Component Unit”, jelas Eky.

 

Engine Merk Esemka

Engine Merk Esemka

Eky dan Mobil Karya Anak SMK

Eky dan Mobil Karya Anak SMK

Kalau diperhatikan bahan yang digunakan kayaknya lebih kuat dibanding mobil pada umumya, hanya saja dalam assembly-nya masih terdapat beberapa kekurangan dan nampak kurang teliti seperti bagian sambungan yang agak kurang rapi, tapi secara umum karya anak muda yang masih berumur belasan ini patut diapresiasi. Kabarnya beberapa Pemda telah melakukan pemesanan.

Anak-anak muda ini sebenarnya bisa berkarya, hanya saja dari sisi pemasaran mereka membutuhkan campur tangan dan bantuan tenaga profesional, termasuk dalam pengurusan perizinan. Seorang sumber mengatakan bahwa untuk saat ini, hanya dua Kepolisisan Daerah yang bersedia mengeluarkan STNK yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ilmunya sudah kita miliki, bahkan anak-anak muda inipun bisa membuat. Semoga langkah-langkah kreatif anak-anak muda ini bisa terus berlanjut sehingga suatu saat nanti kita bisa memiliki produk yang benar-benar asli indonesia, dari sisi merk, design dan produksi.

Salam Pemburu Souvenir :)

Pemburu Souvenir, hehe

Bersatu dalam Bencana

Stadion Maguwoharjo adalah lokasi pengungsian terbesar korban letusan Gunung Meraapi di daerah Yogyakarta, stadion yang biasanya dipakai oleh PSS Sleman untuk bertanding dibanjiri oleh puluhan ribu pengungsi. Bantuanpun nampaknya terkonsentrasi disini, dibagian penerimaan logistik tak henti-hentinya para relawan menurunkan barang yang di drop dari mobil para donatur yang menyumbangkan bantuan bermacam-macam rupa kepada pengungsi seperti air mineral, beras, snack, pakaian baru dan bekas, mi instant, dan lain-lain.

Kondisi Pengungsi

Perserdiaan Logistik

Relawan di Posko Logistik adalah TNI, anak-anak muda dari berbagai komunitas, yang dari bajunya yang bisa terbaca seperti Pramuka, kaskus, serta mahasiswa dari beberapa PT di Jogja. Bahu membahu para relawan ini membagi logistik yang telah di drop kepada pada pengungsi yang kadang tak perlu mengantri mendapatkan air mineral atau snack jika mereka membutuhkan, namun tentu saja tak semua kebutuhan tersedia di Logistik. Karena sifatnya yang terbuka maka para pengungsi di stadion membutuhkan alas tikar dan selimut yang banyak untuk menghindari hawa dan angin malam. Di bagian lain kebutuhan air dikendalikan oleh Kementerian Perhubungan dengan menyediakan kebutuhan air yang mencukupi untuk pengungsi, beberapa Kementerian mendirikan tenda di lokasi ini, seperti Kementerian Lingkungan Hidup yang menyediakan fasilitas daur ulang sampah, KementerianPertanian yang berhubungan dengan sapi petani yang terancam mati di lereng Gunung Merapi dan Kementerian ESDM yang juga punya beberapa Posko di Jogja karena terkait vulkanologi, mitigasi bencana dan kebijakan kelistrikan pengungsi, ormas islam seperti HTI juga mendirikan posko yang sekaligus menjadi mushollah bagi pengungsi, tentu tenda yang paling banyak adalah milik Polisi dan Tentara, karena biasanya mereka khususnya Tentara diterjunkan dalam jumlah yang besar untuk menangani bencana.

Cas HP Gratis

Sementara itu, PLN mendirikan Posko Bencana yang selain bertanggung jawab mengenai kecukupan pasokan listrik dari feeder yang menyuplai stadion dan lokasi pengungsian lain, menyediakan Genset dan juga menyediakan cas gratis HP, deretan stop kontak yang berjumlah 50-an dipenuhi oleh para pengungsi yang menunggui HP sambil sms-an dan menelpon. Kata Pak Furqan, manajer PLN APJ Jogja, para pengungsi tentu membutuhkan baterainya terisi penuh agar dapat berkomunikasi dengan keluarganya dan dapat saling bertukar kabar, disamping itu PLN juga menyediakan dispenser bagi yang juga setiap saat didatangi pengungsi untuk menyeduh teh atau mi instant. Dibagian lain Bakrie juga mendirikan tenda terpisah di luar stadion, yang menyediakan fasilitas kesehatan gratis danmembagikan baju kaos bertulis Bakrie untuk negeri. Posko Bakrie ini nampak mandiri dibanding Posko lain karena juga menyediakan genset sendiri untuk dipakai di malam hari. Partai-partai juga banyak yang berseliweran mobilnya, beberapa mobil bergambar bu mega dengan relawannya berbaju banteng kepala miring juga nampak di lokasi, beberapa mobil partai matahari juga terlihat sebelum masuk stadion.

Memang beginilah seharusnya, setiap orang dan organisasi bersatupadu memberi sesuai kemampuan dan kewenangannya untuk menjadi bagian dari solusi penanganan pengungsi.

Oleh-oleh Palangkaraya

Sebelum ibukota pindah ke Palangkaraya, minggu lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kota di Tengah Kalimantan ini, sambil menunaikan tugas sekalian mencari peluang jika benar-benar ibu kota pindah kesana, kira-kira di lokasi mana bisa mendirikan banyak kos-kosan.

Saya berangkat ke Palangkaraya dengan pesawat Batavia. Betapa ceteknya pengetahuan saya, karena berpikir bahwa Palangkaraya masuk Waktu Indonesia Tengah, sehingga mengira-ngira akan ada perubahan jam ketika tiba disana, tapi ternyata Palangkaraya masuk Waktu Indonseia Barat, meskipun matahari mengikuti WITA. Pesawat Batavia yang kutumpangi, adalah satu-satunya pesawat yang terparkir di Bandara Tjilik Riwut ketika itu, betapa sepi bandara ini pikirku, apalagi kotanya, hehehe. Tak banyak maskapai yang melayani jalur ke Palangkaraya, bahkan tak ada penerbangan langsung yang menghubungkan antar ibu kota provinsi sesama Kalimantan.

Ketika keluar dari landasan pacu, saya mencoba melihat-lihat peta untuk memperkirakan di hotel mana nantinya menginap, dan juga untuk memperkirakan ongkos Taksi keluar bandara, sudah menjadi insting saya, karena pernah kerja di Bandara, bahwa kendaraan untuk keluar area Bandara sering banyak menimbulkan masalah, tapi ternyata tak terjadi di Bandara Tjilik Riwut, dengan ongkos Flat Rp. 60.000, saya menuju kota ke kantor yang ingin saya tuju dalam rangka tugas.

Bandara Tjilik Riwut (dok. pribadi)

Setelah menyelesaikan urusan hari pertama, saya menuju ke hotel Amaris, di Bandara saya juga sudah ketemu beberapa orang yang akan menginap di tempat yang sama, ratenya tak terlalu mahal Rp. 350.000 untuk kelas standar, bentuk kamarnyapun lucu dan minimalis, senang juga melihat isinya, apalagi lokasinya tak terlalu jauh dari Sungai Kahayan. Hanya sepeminuman teh, sudah bisa sampai di pinggir jembatan Sungai Kahayan yang merupakan icon Kota Palangkaraya.

Hotel Amaris (dok. pribadi)

Selepas ganti baju, sayapun berjalan kaki menuju Jembatan Sungai Kahayan, tak sampai 5 menit, saya sudah tiba. Beberapa pasangan muda-mudi menikmati pemandangan sore, sambil sesekali menenggelamkan kakinya di permukaan air sungai yang nampak kemerahan dari atas. Dua orang berlatih kayak, tanpa pakai baju, badannya sangat ateletis, menonjolkan otot dada six packs, latihan mendayung pasti telah memberinya berkah badan sebagus itu. Nampak pula dari kejauhan perahu getek mengantar penumpang menyeberangi sungai. Bosan hanya memoto-moto dan tak bisa memotret diri sendiri, saya mendekati seorang driver perahu getek, dia tengah asyik mengetik sesuatu si HP-nya ketika saya masuk ke perahunya, sambil mengajak ngobrol. Pak Utuh namanya, dia lagi menunggu penumpang untuk diseberangkan, tapi tak seorangpun yang mengisi perahunya, diapun menawari saya untuk naik perahu menyusuri sungai ke arah hulu

“dua puluh ribu” katanya ketika kutanya ongkosnya

“biasanya lima puluh ribu kalau rombongan, di hulu bagus pemandangannya”

Karena penasaran sayapun langsung mengiyakan, dan berkata

“ bapak jadi fotografer saya ya” jiwa narsis saya menunjukkan sifat aslinya

Pak Utuh Mendayung Penuh Senyum (dok. pribadi)

Pak Utuh Mendayung Penuh Senyum (dok. pribadi)

Jembatan Sungai Kahayan (dok. pribadi)

Perahu getek bermesin 20 HP itupun bergerak menjauhi pinggir sungai, awalnya Pak Utuh mendayung, kemudian dia menyalakan mesinnya dan bergerak perlahan, sebelum berangkat dia memotret saya dulu. Beberapa burung melayang mengitari sungai dan hinggap dibawah jembatan, sarangnya ada disana, diantara burung tersebut terdapat burung walet kata Pak Utuh.

Hal pertama yang kami temui adalah stasiun pengisian BBM milik pertamina dipinggir sungai, untuk memenuhi kebutuhan BBM perahu di sungai Kahayan, tak begitu jauh pak Utuh menunjuk monyet yang berlompatan di pohon pinggir sungai, monyet ekor panjang.

Dibagian agak hulu lagi, agak kejauhan saya melihat enam buah perahu kecil nampak berlomba, setiap perahu hanya diisi oleh drivernya dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi untuk ukuran kendaraan sungai “mereka lagi ngisi waktu dengan lomba” kata pak Utuh.

“Dibagian sana, depan lagi ada pesawat capung, punya orang bule” kata Pak Utuh lagi. Ketika mendekat dua buah pesawat nampak tergantung, tiga orang berada di sekitarya dan sepertinya mereka kenal dengan Pak Utuh. Masih terus menyusuri pinggir sungai, Pak Utuh menunjuk rumah makan dengan menu khas ikan yang biasanya ramai dikunjungi di Palangkaraya, karena lupa mencatat namanya saya tak bisa menulis namanya disini. Sekitar 25 menit menyusuri sungai masih kearah hulu, perahu kami merapat ke sebuah rumah makan pinggir sungai, namanya Kum Kum, kata Pak Utuh ini juga salah satu tempat yang sering dikunjungi orang, daya tariknya adalah karena ada koleksi hewan langka yang dipamerkan dalam sangkar, ada 3 ekor beruang madu, satu ekor burung khas kalimantan, beberapa ekor monyet ekor panjang, dan di sebuah kolam berair keruh bersemayam seekor buaya betina berumur 20 tahun bernama Jamila, nama yang cantik. Jamilah akhirnya muncul kepermukaan setelah penjaganya memancing untuk naik dengan sebuah daun yang digoyang-goyangkan diatas permukaan air, besar juga makhluk betina satu ini.

Setelah puas memoto Jamila dan Jamila sudah tahu kalau yang tadi bukan makanan, saya dan Pak Utuh pulang kembali ke arah hilir ditempat sebelumnya, di jalan masih berpapasan dengan orang-orang yang lagi lomba perahu, nampak pula dari kejauhan ekor angin topan yang ada diatas Kota Palangkaraya. Saya sempat bertanya ke Pak Utuh tentang penghasilannya mengoperasikan perahu getek, tapi dia tak bersedia menjawab, ketika didesak dia cuma tersenyum saja.

Pak Utuh Memandang Ekor Angin Topan

Malamnya saya dan kolega disana makan malam di Jl. Yos Sudarso, pusat kulinernya Palangkaraya, makanannya sea food khas Jawa Timuran, jenis warung yang biasa kita temui di Jakarta, hehehe. Sebelah kiri kanan Jl. Yos Sudarso dipenuhi banyak warung, nampaknya ada segmentasi, karena satu sisi jalan lampu warungnya terang dan yang satunya nampaknya kekurangan pasokan listrik, tapi setelah lebih dekat ternyata mereka lebih memilih listriknya digunakan untuk memutar musik keras dibanding untuk penerangan.

Besoknya setelah selesai tugas, saya jalan-jalan ke Arboretum Nyaru Menteng. Sebuah kawasan konservasi Orang utan. 40-an orang utan bergelantungan dalam dua buah sangkar besi berukuran besar, saudara tua kita ini dalam pemeliharaan sebelum dilepas kembali ke alam liar, sayang sekali tak bisa bersentuhan langsung dengan orang utannya. Lucu juga gaya mereka, persis Tarzan melompat dan bergelantungan kesana kemari, sesekali ada juga yang penasaran dan memandang tanpa dosa kearah saya.

Arboretum Nyaru Menteng (dok. pribadi)

Tak lengkap jika ke suatu tempat tanpa merasakan masakan khasnya, dan saya beruntung sepulang dari Arboretum Nyaru Menteng, kami singgah di RM Samba dan mencicipi Ikan Sungai khas Palangkaraya dan sayur rotan, rotan ternyata bisa dibikin sayur seperti bambu juga bisa dibuat sayur. Rasanya agak pekat dan manis diujung lidah, hingga selesai makan, sensasinya masih terasa.

Sayur Rotan (dok. pribadi)

Kembali ke soal jadi Ibukota, dari berita di koran lokal, anggota DPRD setempat sedang menyiapkan dengan serius Panitia Kerja untuk persiapan pemindahan ibukota. Konon, ide pemindahan ibu kota ini sudah ada sejak jaman Bung Karno. Bundaran besar di tengah kota Palangkaraya dinamakan Bundaran Soekarno, katanya dipersiapkan oleh Bung Karno sebagai pusat Ibu Kota negara nantinya. Kalaupun jadi pindah, banyak tanah kosong disekitar kota Palangkaraya, yang saati ini adalah berupa rawa-rawa yang tak dimanfaatkan.

Jika Toko ini di Makassar

Nama itu sebuah do’a. Maka ketika kecil di kampung saya tak pernah membayangkan kalau ada orang yang berani menamakan tempat usahanya dengan sebuah nama yang berarti alat kelamin laki-laki, untungnya nama tersebut hanya berarti jika berada di daerah bugis atau makassar. Sebuah toko di Mal Taman Anggrek Lt.2 yang menjual perlengkapan renang menggunakan nama tersebut. Saya berikan fotonya untuk anda

Toko Perlengkapan Renang, Kalo dipikir-pikir namanya memang ada hubungannya dengan jualannya

Trims Hendri !

Ketika pertandingan Indonesia Vs Oman pada Rabu (06/01) di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta hampir selesai dan Indonesia sebentar lagi mengucapkan selamat tinggal pada Piala Asia. Seorang suporter berlari masuk kelapangan, badannya kelihatan sedikit gempal, berkacamata dengan baju timnas garuda di dada. Wasit meniup peluit untuk menghentikan sementara pertandingan, pemain Oman kemudian menendang bola ke sisi sebelah kanan pertahanannya. Lelaki bernama Hendri Mulyadi itu berlari dengan cepat mengincar bola, dia lolos dari hadangan Boaz Salosa yang ingin menangkapnya. Ketika bola berhasil didapatkannya, dengan telanjang kaki Hendri menggiring dan mendribel bola dengan cepat menyusur sisi kiri mengarah ke gawang, seorang polisi nampak kesusahan mengejarnya, ketika telah masuk daerah gawang, Hendri berusaha mengecoh kiper dan menendang bola, sepakannya kurang keras, dengan tertawa namun waspada kiper Oman, Al Habsiy,  yang juga Kiper Bolton Wanderes menahan bola dan menyelamatkan gawangnya dari keisengan suporter Indonesia yang kesal dan kecewa dengan tim nasionalnya.

Aksi Hendri berakhir setelah dia menendang bola, polisi yang tadi mengejarnya menarik lehernya dan Hendripun tersungkur, pemuda asal Bekasi itu menjadi tontonan jutaan orang seluruh Indonesia dan mungkin seluruh dunia setelah videonya di upload di you tube.  Meski tak baik untuk ditiru, tapi protes Henri dipuji banyak orang, banyak yang menyesal kenapa Hendrik tak bisa bikin gol untuk menolong timnas agar tak kalah di kandang sendiri, ada-ada aja. Protes Hendri termasuk unik, banyak yang bilang dia kurang waras, namun demikian ini adalah protes yang paling kreatif yang pernah saya lihat. Yang paling sering kita lihat adalah suporter masuk kelapangan dengan lari membawa bendera, atau menarik kaos pemain, tapi yang ini lain, dia merebut bola dan berusaha mencetak gol lagi, bener-bener gila. Kenapa Hendrik melakukan itu ?  ”Saya melakukan itu karena kecewa tas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri,” tuturnya saat ditanya wartawan di ruang interogasi keamanan yang terletak di area GBK.

Secara pribadi saya berterima kasih kepada Hendrik yang telah membuat PSSI harus mengevaluasi diri sebaik-baiknya . Setelah pencapaian terburuk sepanjang sejarah timnas di Sea Games Laos yang lalu, PSSI kembali menuai rekor buruk dalam 14 tahun terakhir yaitu tak lolos Putaran Final Piala Asia.  Kompetisi Indonesia Super League yang kita harap bisa melahirkan pemain-pemain tangguh, terlatih dan kompetitif berlaga di tingkat regional, belum menampakkan hasil, justru lebih sering disuguhi pertandingan bola plus plus, plus karate atau taekwondo. Untuk bersaing saja di tingkat ASEAN kita sudah jauh ketinggalan, bagaimana mau bermimpi bisa ikut Piala Dunia? Berbenahlah PSSI !

Bagi yang penasaran ingin melihat aksi Hendri, bisa dilihat disini :

Sang Pemimpi

Bermimpilah, karena kalau tidak kita akan mati.
Kesempatan menonton film sang pemimpi datang juga, sebuah film yang diadaptasi dari novel laris Andrea Hirata “Sang Pemimpi”, juga merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi. Produsernya adalah Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza. Namanya juga adaptasi maka tak semua isi cerita sama dengan novelnya, beberapa bagian nampak sengaja diubah agar sesuai dengan alur cerita film, beberapa bagian juga nampak kesulitan untuk menyesuaikan dengan dramatisasi Andrea di novelnya.

Tokoh sentral sang Pemimpi adalah Arai, si pemimpi kelas kakap dan pengkhayal paruh waktu, kata Ikal menggambarkan sahabatnya itu. Sebagian besar isi cerita adalah tentang bagaimana usaha tiga sahabat : Ikal (diperankan Zulfani ketika kecil, Vikri Setiawan ketika remaja, dan Lukman Sardi saat dewasa), Arai (diperankan Sandy ketika kecil dan Rendy Ahmad ketika remaja, serta Nazril Ilham saat Dewasa) dan Jimbron (diperankan Aswir Fitrianto) untuk meraih mimpi mereka, dan sumber peniup mimpi itu adalah Arai.

Pembaca novel Sang Pemimpi tentu sudah tahu bahkan mungkin banyak yang hafal dengan setiap detail adegan dalam novel tersebut. Jika anda bisa tertawa dan menangis membaca novelnya, anda tetap bisa merasakan hal yang sama dalam filmnya juga. Jika ketika kita membaca novelnya merasakan semangat yang menyala dan mimpi penuh gelora dari Arai, maka Arai remaja dalam filmpun bisa membuai kita. Meski dengan segala kekurangannya, film tersebut tetap punya nilai cita rasa lain yang  memberi pengalaman berbeda dibanding kita membaca novelnya.

Agak berbeda dengan novelnya, Arai di novel adalah penggemar Jim Morrison, dan meskipun telah dilatih berkali-kali memetik gitar, hasil akhir yang bisa dilakukannya untuk memikat Zakiah Nurmala adalah bernyanyi dengan lipsing di dekat jendela rumah Zakiah untuk menarik hatinya. Hasil adaptasinya memberi muatan lokal melayu, ketika Arai menyanyi begitu merdu dengan lagu melayu di jendela rumah Zakiah, mantap nian suaranya, sebuah mimpi lain dari Arai yang terwujud untuk memberi kesan kepada Zakiah sebelum berangkat merantau.

Arai, sang pemimpi itu, memberi cahaya bagi kedua sahabatnya. Terus menerus menyemangati teman-temannya, tentang mimpi mereka menjelajah Eropa dan bersekolah di Perancis, seperti yang diinginkan guru sastranya pak Balian (diperankan dengan mulus oleh Nugie). Mimpi-mimpi itulah yang menyemangati ketiga anak miskin itu untuk bekerja keras dan juga belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus sekaligus menabung untuk persiapan merantau ke Jakarta, titik singgah pertama mereka sebelum melanglang buana ke Eropa. Sebuah peta telah dibuat Arai sebagai guide jalur perjalanan mereka nantinya. Tapi mimpi tak selalu mudah apalagi dalam keterbatasan, karena itu Arai  tidak hanya sekedar berdiam diri dan hanya bermimpi, tapi terus menerus memlihara mimpi itu, mencurahkan tenaga pikiran dan doanya untuk meraihnya. Ada saat dimana mereka berkonflik, ketika Ikal capek dengan keadaan yang ada, ketika mereka terhukum atas ulah Arai, dan Ikal mulai meredup mimpinya. Sosok guru yang keras Pak Mustar menyadarkannya, Arai sahabatnya tetap menyemangati dan memperhatikannya, serta janji kepada orang tua yang telah memberi teladan agar tak pernah menyerah dalam keadaan apapun, menyebabkan ikal kembali berlari mengejar mimpinya. Sebuah pelajaran berharga bahwa jika ingin menjadi pemimpi yang berhasil, milikilah Orang tua yang pantang menyerah, sahabat yang senantiasa bersemangat dan guru yang bijak.

Riri Riza sang sutradara menurut saya, sangat tepat ketika memilih Rendy Ahmad sebagai pemeran Arai remaja. Sorot mata dan bahasa tubuh dari Rendy sangat pas dengan penggambaran Arai di novel, dia cocok sekali dengan peran itu. Satu yang kurang, meskipun cukup menarik dengan kemunculan perdananya di layar lebar,pemeran Arai dewasa adalah Nazril Ilham alias Ariel Peterpan. Sayang sekali pemeran Arai dewasa ini tak bisa memerankan dengan baik sosok Arai. Sorot mata, bahasa tubuh, senyum dan ketawanya sangat kaku, dan tak bisa menggambarkan sosok Arai yang luwes, sorot mata bercahaya, dan senyum yang agak sedikit nakal. Mata Ariel nampak menyimpan gundah, seperti biasa ketika kita mendengar lagu-lagunya.

Ah, saya tak usah bercerita banyak, kasihan yang belum nonton.

Judul: Sang Pemimpi
Genre: Drama
Sutradara: Riri Riza
Produksi: Miles Production
Pemain: Zulfani, Sandy Pranatha, Rendy Ahmad, Vikri Setiawan, Lukman Sardi, Nazril Ilham, Nugie, Mathias Muchus, Rieke Dyah Pitaloka

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Pemimpi_(film)

http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2009/11/26/brk,20091126-210531,id.html

http://www.filmsangpemimpi.com/filmsangpemimpi.htm

Hal Tak Penting Tentang Bandara Soekarno Hatta

DSC_0166

Gerbang Soekarno Hatta/ Photo by : A. Makkuradde

Menarik membaca tulisan pak Chappy Ada yang baru di Soekarno Hatta !. Saya juga pengen cerita tentang bandara. Tapi karena saya belum pernah ke Luar Negeri jadi tak bisa bercerita tentang antrian pemeriksaan Imigrasi. Saya mau cerita hal-hal tak penting yang kadang dilewatkan orang ketika di Bandara International Soekarno Hatta.

Saya ingin berbagi pengalaman saya selama lebih dua tahun berkantor di sekitar bandara.

Pernahkah anda ditawari ojek di bandara? Sering melihat motor berkeliaran dibandara? Dimanakah Parkir motor di Terminal 1 dan 2 bandara? Tahukah anda kalo dibandara ada Angkot? Dimana warung makan yang murah? Dimana bisa dapat kopi harga kaki lima? Percayakah anda kalo dibandara ada bendi yang kayak sering dilihat di Monas?

Nah kita bahas satu-satu aja

Transportasi

Ketika baru mendarat di Terminal 1 & 2 untuk kedatangan domestik kita sering kebingungan ketika begitu banyak yang menawari jasa untuk diantar. Ada yang dengan penuh senyum dan berompi menawari ojek, yang lain dengan pakaian lebih rapi berkemeja membawa kunci mobil menawarkan mobil carteran, ada juga yang membawa pengalas dengan selembar kertas check list menawarkan Taksi. Ada juga Damri yang melayani beberapa rute kearah Jakarta, serta Travel ke Bandung. Jadi ada banyak pilihan.

Tapi mungkin yang tak banyak orang tahu bahwa untuk keluar dari Bandara ada Angkot bertuliskan Airport Transportation, mobil kijang berwarna silver, berAC dengan tarif Rp. 4000, mengantar dari bandara ke Rawa Bokor. Rawa Bokor adalah daerah sekitar bandara, kalau anda baru keluar dari pintu tol Sedyatmo ada petunjuk arah keluar ke Rawa Bokor. Rawa Bokor menjadi pilihan buat kos-kosan sekitar bandara, beberapa hotel-hotel kecil untuk yang transit juga tersedia disana.

Kadangkala ada penipuan terhadap penumpang yang baru turun dari pesawat ketika ditawari angkutan. Sebuah cerita teman saya, sebut namanya Udin. Malam itu dia baru mendarat di Terminal 1 bandara Soekarno Hatta, rencananya akan menginap dulu dikosan Jai di Rawa Bokor. Jai sudah bilang ke Udin “Naik Ojek aja, paling bayar 10 atau 15 rebu”

Setelah Udin mengambil ranselnya bergegas dia keluar. Begitu keluar pintu, seorang bapak-bapak menawari untuk ikut dimobilnya, katanya kebetulan dia juga mau ke arah Rawa Bokor

Udin berkata ke yang nawarin ” Ongkosnya lima belas ya?”

Dijawab dengan anggukan oleh sang orang baik hati.

” Waa saya lebih untung nih, bisa ikut numpang naik mobil daripada harus naik ojek” Kata Udin dalam hati

Merekapun berangkat dari parkiran Terminal 1 bandara, ketika mendekati pompa bensin, sebelum keluar bandara didepan wisma soewarna

“Kita isi bensin dulu ya” kata sopir

Setelah masuk antrian buat isi bensin, si sopir minta uang dulu buat beli bensin

“Mas, bisa bayar dulu nggak, mau isi bensin nih”

Si Udin mengeluarkan dompet, dan diberinya duit 15 ribu ke sopir

“Masa lima belas ribu mas, ongkosnya 150 ribu”

“Loh tadi kan saya sudah tanya, ongkosnya lima belas kan?”

” Maksud saya tadi itu 150 ribu”Kata sopir

Setelah mengorek-ngorek semua isi dompetnya terkumpul uang 50 ribu, dan diserahkan ke sopir tadi, dia tak punya duit lagi dan sopir tak bisa memaksa. Selang lima menit mereka tiba di Rawa Bokor. Saya yang mendengar cerita teman itu dibuat gemas juga, ini sebenarnya penipuan. Tarif biasa naik ojek yang hanya menempuh waktu 15 menit dari bandara itu 10 ribu, paling mahal 15 ribu. Sementara kalau naik Taksi paling bayar 30 ribu

Jadi bagi yang baru mendarat dibandara Soekarno Hatta dan ada yang menawari untuk ikut mobilnya atau carteran, mending pikir-pikir dan harap lebih hati-hati. Saya sarankan untuk naik Taksi Blue Bird jika perjalanannya tak jauh dari daerah Tangerang dan Jakarta Barat, Taksi lain biasanya menolak. Alternatif lain naik Damri, tapi kalau mau lebih hemat adalah naik Angkot dari Bandara ke Rawa Bokor, dari Rawa Bokor ada Metromini arah Kali deres-Tanah abang, kalau sudah sampai di Kali deres disana ada busway yang bisa mengantar ke arah Harmoni. Dari Terminal Kalideres juga banyak bus yang mengantar ke Terminal-terminal di seputaran Jabotabek.

Parkir Motor

Sebelum dibangunnya Terminal 3, tak pernah secara tegas ada petunjuk dimana harus parkir motor di Bandara. Untuk Terminal 1 & 2, kita harus cukup tahu tempatnya baru bisa parkir, tak ada petunjuk sebelum benar-benar hampir masuk parkiran. Padahal ada area parkir khusus buat motor, tarifnya Rp. 2000 sekali masuk, dalam waktu tak terbatas. Sayangnya kondisi lahan parkirnya tak terawat, tempatnya tak bersemen jadi becek ketika hujan. Soal keamanan, tak usah khawatir para petugas keamanan tak akan membiarkan motor keluar kalau tak bawa STNK, saya pernah mengalaminya, ketika saya bilang sama petugasnya “tahan SIM saya aja pak dulu pak, saya kerja juga sekitar sini, besok saya ambil dengan membawa STNK” dengan santainya petugas bilang ” SIM itu Surat Ijin Mengemudi, kalo STNK itu Surat Tanda Nomor Kendaraan, jadi tak bisa pak” dengan sedikit dongkol saya tinggalin motor dan pulang, baru saya ambil lagi besoknya, bayarnya tetap Rp. 2000

Makan Minum

Bagi yang bawa duit pas-pasan, makan dan minum di bandara mungkin menjadi agak berat. Harga makan dan minum di bandara bisa jauh berbeda dengan di luar bandara, padahal rasanya biasa-biasa aja, tak ada yang istimewa. Tapi sebenarnya ada pilihan lain bagi anda yang mau sedikit menghilangkan gengsi dan tetap ingin mengisi perut. Di Area parkiran Terminal 1 & 2 terdapat bangunan pavilyun dimana terdapat rumah makan Padang, harganya sama dengan diluar, kalau mau makan rendang dengan teh manis cukup bayar 11 ribu. Mau ngopi yang murah? ada juga. Di kios yang terdapat di Terminal Bandara, Kopi Hitam dihargai biasanya dengan harga 10 ribu rupiah, tapi jika anda tidak peduli dengan gengsi dan rasa kantuk menyerang ketika menunggu di bandara, jalan-jalanlah ke arah parkiran mobil, disana terdapat pedagang asongan, ibu -ibu dengan penutup kepala yang menjual kopi dengan harga kaki lima, tinggal cari pohon yang teduh anda bisa ngopi sambil menikmati angin yang berhembus dan sesekali dihibur dengan pemandangan pesawat terbang rendah di langit.

Nah, itu aja deh, buat yang pengen alternatif hemat dibandara, ada pilihannya kok. Satu lagi yang belum saya jawab soal bendi di bandara, pernah lihat nggak? kalo saya sih nggak pernah, hehehe :)

Kisah Pencari Kerja (Bag. 2/2)

Baca juga Kisah Pencari Kerja Bag. 1

Kisah Pencari Kerja (Bag. 2)

Tes Kerja (2004)

Periode ini saya berangkat ke Jakarta, mungkin kalau Makassar kurang berkenan mengapprove aplikasi saya, Jakarta tempat yang kutuju, Sutiyoso mudah-mudahan berkenan menerima saya didaerahnya, sebagai seorang tenaga potensial siap kerja (kembali bahasa keren dari pengangguran).

Dua Minggu di Jakarta, saya dapat panggilan dari dua perusahaan pada hari yang sama, waktu itu hari rabu dan diundang untuk test hari kamis besoknya, kedua perusahaan itu adalah PT LPD di cibitung dan PT T di Simatupang, PT LPD bergerak di bidang manufaktur sedang PT T adalah sebuah perusahaan kontraktor mining, LPD adalah perusahaan korea dan PT T adalah perusahaan Australia.

Kebetulan orang dirumah tempat saya menumpang tidak tahu jalan ke Simatupang, mereka tahunya jalan ke Cibitung, aksesnya lewat mana, jadi pada hari kamis saya berangkat ke cibitung, dan test disana. Pada saat istirahat siang selepas test pertama, tiba-tiba saya HP saya bergetar, dapat telpon dari HRD PT T

HRD  : Hallo, anda kami undang hari ini untuk test dikantor, kenapa anda tidak datang?
Saya : Aduh maaf bu, saya tidak tahu jalan kesana
HRD : anda kurang inisiatif ya
Saya : Bisa ndak dijadwal ulang bu
HRD : Oke, andakami jadwal selasa depan jam 9, ya

Saya menyanggupinya, hari itu saya lolos test di LPD sampai test ke-2, tinggal 1/4 jumlah peserta dari yang ikut pertama, hari jum’atnya saya test lagi, dan lolos bersama 4 orang lainnya.Dua orang kemudian tidak jadi masuk, karena buta warna dan yang satunya karena dapat ditempat lain.

Hari senin pekan berikutnya, saya dapat telpon dari HRD PT LPD (orang HRD yang menelpon saya ini, lebih dulu keluar daripada saya disana), mengatakan kalau orang Korea-nya mau ketemu jam 9 pagi besoknya, dan itu berarti berbenturan dengan jadwal tes saya di PT T, sayapun beralasan bagaimana kalau jamnya diundur ke jam 2 siang, karena saya mau menjemput orang tua (sebuah ide berbohong yang muncul tiba-tiba, entah ini bakat darimana), kemudian HRD PT LPD pun membolehkan.

Ternyata ada teman saya yang tinggal di sekitar simatupang, dan saya menginap ditempatnya, sebelumnya saya masih menelpon ke PT T agar tesnya dimajukan waktunya ke jam 8 pagi, dan dia tidak berkeberatan, saya berharap bisa mengejar waktu tiba jam 2 ke LPD.

Malam test, saya survey lokasi, dan sudah membuat tanda X besar di jidat saya, dimana kantornya berada. Besoknya pada hari selasa, saya sudah berpakaian rapi dan bersiap berangkat ke PT T, saya singgah sarapan bubur ayam. Tiba-tiba HP saya berdering sebuah telpon dari LPD agar saya kesana karena orang Koreanya maunya ketemu jam 9. Inilah nasibku kupikir, kutelpon ke PT T dan minta maaf nda bisa datang, sebuah nada marah terdengar diujung telpon, “anda tidak konsisten dengan janji anda” katanya. Saya naik taksi ke LPD, dan ternyata saya ketemu koreanya jam 2 siang juga, nasib menggariskan begitu.

Dua minggu saya bekerja di PT LPD, saya stress dengan tekanan kerja dan jenis pekerjaannya, saya masih merindukan jenis pekerjaan yang tidak jauh dari motor listrik, trafo, atau yang semacamnya. Dengan sedikit nekat saya menelpon lagi ke PT T, kembali si ibu yang ngangkat,

Saya : Hallo, saya ahmad amiruddin, saya yang kemarin diundang untuk tes
HRD  : iya, kenapa pak ahmad?
Saya : saya bisa ndak dijadwal lagi bu untuk wawancara?
HRD  : waduh ndak bisa lagi pak, anda sudah dua kali kami undang dan tidak hadir, waktu itu expatnya sudah
menunggu tapi anda tidak hadir
Saya : saya minta maaf bu, tapi kalau ada posisi kosong tolong saya dihubungi ya
HRD  : memangnya kenapa dengan posisi anda sekarang?
Saya : pekerjaannya tidak banyak berhubungan dengan teknikal bu
HRD  : Jadi anda carinya yang teknikal ?
Saya : iya bu
HRD  : posisi yang kami tawarkan juga tidak berhubungan dengan teknikal
Saya : ?*&&%#
Akhirnya saya menghabiskan waktu saya di LPD selama 3 tahun disana
Pelajaran 3 : Ngotot sih ngotot, ngoyo sih ngoyo, tapi kalau sudah jalannya akan begitu akhirnya

Seminggu sebelumnya saya test di sebuah perusahaan distributor UPS di kelapa gading, atas rekomendasi senior yang pernah bekerja disana. Test tertulisnya adalah rangkaian listrik, sebuah hal yang tidak sulit untuk orang yang baru setahun lulus kuliah. Setelah tahap itu, sayapun diwawancara oleh user-nya, salah satu pertanyaan yang saya ingat betul adalah : ” Bagaimana anda menangani konflik dalam pekerjaan?”
saye menjawab ” saya belum pernah bekerja, dan karenanya saya tidak pernah berkonflik”
usernya bingung, sayapun bingung, kenapa jawaban ndeso itu keluar, dan hasilnya mudah ditebak, tidak ada telpon, email, atau surat, just let you know that we didn’t need employee like you
Pelajaran 4 : Jangan asal njeplak