Solusi JK

solusiJK

Solusi JK/ Penerbit : Grasindo

H. Muhammad Jusuf Kalla telah resmi tak menjadi wakil presiden Republik Indonesia. Hari-hari terakhir ini kita harus membiasakan diri agar tidak salah sebut menyebut nama Wakil Presiden. Pada pesta perkawinan teman saya kemarin di Bekasi foto SBY dan JK masih tergantung di bawah garuda pancasila, dan diatas kedua mempelai yang terus menerus tersenyum, dan kadang saling colek-colekan (tak apapa kan sudah halal Wi).  Soal foto, JK dalam kampanye menyebut bahwa salah satu dari foto tersebut nantinya akan berganti posisi atau berganti orang, dan ternyata fotonyalah yang harus diganti dengan foto yang baru, kini tak ada lagi kumis tipis di foto Wapres yang baru.

Untuk mengenang selesainya masa tugas JK, Hamid Awaluddin menulis buku  untuk mantan bosnya tersebut. Judul bukunya Solusi JK : Logis, Spontan, Tegas dan Jenaka. Hamid Awaluddin, kelahiran Pare-pare 5 Oktober 1960, adalah Duta Besar Indonesia untuk Rusia. Beliau mantan anggota KPU dan Menteri Hukum dan HAM Kabinet Indonesia Bersatu jilid Satu sebelum Reshuffle. Hamid dan JK dikenal sangat dekat dan menjadi pionir dalam perundingan damai GAM dan RI di Helsinki.

Buku ini bercerita bagaimana JK menyelesaikan masalah-masalah dan menjawab pertanyaan yang timbul dalam banyak aspek kehidupan yang dijalaninya, baik sebagai Menteri, Wapres, pengurus partai, pengurus masjid, maupun setelah menjadi Capres. Hamid menulis buku ini dengan tujuan :” Saya hanya tak ingin agar kita cepat tua untuk melupakan bahwa di negeri kita ini, pernah ada seseorang yang teguh dalam pendirian, tak mengenal titik henti, logis dalam berpikir, cepat dalam tindakan, dan kaya dalam cara untuk mencapai tujuan. Diatas segalanya, ia tak pernah ragu untuk bertindak karena ia melakukan sesuatu secara ikhlas, tanpa digelitik oleh godaan seketika yang memberi kenikmatan sesaat. Begitulah : JK

Latar belakang JK adalah pengusaha yang memiliki ciri cepat berpikir, berani menambil resiko, dan selalu mencari teman dan tak suka mencari musuh. JK dikenal banyak kalangan sebagai orang yang mampu menembus elit-elit ormas, maka tak heran jika dalam pemilu lalu, JK didukung oleh dua ormas terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah. Keluwesan JK dalam berteman dan menjaga hubungan baik dengan orang lain ditunjukkan dengan hubungannya yang tetap harmonis dengan Megawati Soekarno Putri, mantan bosnya yang dikalahkannya bersama dengan SBY dalam Pilpres tahun 2004 dan masih santainya beliau berhubungan dengan SBY, lawannya dalam Pemilu 2009. Ada cerita dalam buku ini bahwa ketika mencalonkan diri menjadi Wakil Presiden berpasangan dengan SBY tahun 2004, JK mendatangi Mega dan menyampaikan keinginannya secara lansung dan terbuka, dan Mega mengerti posisi JK, dan sikap sportivitas itu menjadikan Mega tetap dan selalu menghargai JK.

Ada banyak cerita yang bisa kita gunakan sebagai teladan dan referensi, bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang elegan, menyelesaikan masalah yang rumit dengan cara yang sederhana. Masalah seperti penentuan idul fitri yang kadang berbeda antara Muhammadiyah dan NU yang biasanya mempersoalkan apakah dalam penentuan awal bulan syawal itu melalui perhitungan atau dengan melihat bulan langsung, masalah ini dijembatani oleh JK dengan memberi gambaran bahwa Apollo untuk sampai kebulan menggunakan roket dan roket dibuat dengan perhitungan, jadi tak perlu repot-repot mempertentangkan ” …, Nah Kalau manusia bisa mendarat dibulan karena perhitungan, mengapa hanya untuk melihat bulan saja kita tidak menggunakan perhitungan saja“. Juga kebijakan kapan kenaikan harga minyak mulai dilakukan, yang dengan pintarnya oleh JK dinaikkan pada saat bulan puasa, dengan alasan orang tidak akan arah pada saat berpuasa, dan setelah lebaran orang sudah lupa kenaikan harga BBM, yang paling penting katanya terbuka kepada rakyat, dan kita semua tahu bagaimana JK menunjukkan keberaniannya berhadapan dengan pers dan menjelaskan langsung ke masyarakat background dari kebijakan tersebut.

Dibagian akhir buku ini dari total 49 buah artikel, adalah tentang kepintaran JK dalam menjadi juru damai dalam konflik Poso dan Ambon. JK mendekati kedua pihak yang betikai dengan metode yang membuat masing-masing pihak merasa nyaman untuk berdamai. JK berani menantang kedua pihak untuk menunjukkan dalil yang memperbolehkan untuk membantai dan saling membunuh ” Ayo, saya tantang kalian.Apa ada perintah Tuhan yang begitu…Kalian akan masuk neraka sebab agama menganjurkan kita agar hidup damai“. Kata Hamid “JK sukses secara gemilang merajut benang-benang bangsa yang terserak karena kekerasan, menjadi sebuah sulaman indah”.

Silahkan dibaca sendiri bukunya, sudah ada di Gramedia, harga 39.900, jumlah halaman 197+xxiv

Sepak Bola

taroada/ photo by : opiqsaja

taroada /photo by : opiqsaja

“Aneh orang-orang itu, bola satu dikejar dua puluh dua orang, begitu didapat eh…malah ditendang”

Begitu kata beberapa orang yang tak mengerti mengapa begitu banyak orang menyenangi bermain bola, rela begadang sampai subuh hanya buat melihat tim kesayangannya bermain, tak punya duit tapi berani jauh-jauh datang ke stadion untuk mendukung timnya, juga ada yang sampai sehari semalam mengahbiskan waktunya hanya untuk bermain Game Bola. Apa sebenarnya yang menarik dari sepakbola sehingga pemainnya bisa dibayar mahal, kaosnya diburu, bahkan tiket pertandingannya sudah diborong untuk satu tahun oleh beberapa orang?.

Saya penggemar bola, senang bermain bola, suka nonton bola, senang koleksi baju bola meskipun ada yang palsu, menempel poster banyak pemain kesukaan di dinding asrama ketika masih mahasiswa, tidur berselimut Manchester United, mandi pakai handuk dengan motif klub kesayangan, jalan-jalan ke mall dengan kaos bola, dan ngobrol soal bola.

Saya menyenangi bola sejak kecil. Ketika masih dikampung, pertandingan bola selalu jadi hal yang menarik, mungkin karena itulah tontonan satu-satunya. Pemain kampung yang jago dribel dan mencetak gol, menjadi idola anak-anak waktu itu. Jadilah saya menjadikan waktu sore sepulang sekolah untuk bermain bola, ternyata menyenangkan menendang bola, menggiring bola, mengoper, menembak dan gol. Selebrasi pemain top dunia macam Bebeto yang menggendong bayi jadi sebuah contoh untuk merayakan gol. Kalau saya ditanya waktu itu kenapa suka main bola, maka saya jawab karena itu adalah permainan, jadi intinya untuk bergembira untuk bersenang-senang.

Ketika beranjak kuliah, di kampus ada begitu banyak lapangan bola tersebar disekitar kampus. Kalo dihitung-hitung bisa sekitar 15 buah, hampir setiap fakultas punya lapangan, bahkan mahasiswa pondokan mengklaim lapangan juga disekitar kampus. Permainan saya tak menanjak membaik ketika umur telah bertambah, yang main bola makin banyak yang pintar, tapi saya tetap menyukai main bola, dan saya menemukan sebuah alasan lain kenapa main bola itu begitu berguna. Ketika saya mendapat bola, seorang kawan yang tak kenal memanggil ” Merah, oper sini”, dia memanggil saya berdasarkan baju, seminggu kemudian ketika saya ingin melempar bola dia memanggil “Mad, lempar sini”. Saya tak pernah berkenalan secara langsung dengan memperkenalkan namanya padanya, tapi karena kami sering main sama-sama maka otomatis dia akan berusaha untuk mengetahui nama saya, begitu pula sebaliknya. Jadi alasan yang saya temukan adalah bermain bolalah agar banyak teman.

Prinsip itu saya terapkan ketika pertama masuk kerja di tahun 2004. Ketika saya sudah berkenalan dengan karyawan lama, saya menanyakan kapan jadwal main bola. Begitu jadwal tiba, saya ikut nimbrung main bola, dalam dua minggu sebagian besar karyawan sudah mengenal saya. Efektif dan efisien.

Hal lain yang saya pelajari dari bermain bola adalah sifat egaliter. Di  lapangan semua adalah pemain bola, tak peduli dia Guru, Tentara, Bos, Manager, OB, Tukang Becak semua setara posisinya kalo main bola. Tak pernah saya lihat orang bermain bola satu orang Manajer dianggap sama dengan 2 orang OB, sehingga ketika harus bermain jumlah pemain bisa timpang. Semua dianggap sama. Worker ditempat kerja saya yang lama, dengan seenaknya mengomel ketika tak dioper oleh Sang Manager yang juga Bosnya, dan dengan “kurang ajarnya” menekel Direktur yang sedang membawa bola. Jika itu terjadi dioffice, bisa dianggap sebagai pelanggaran tingkat III, tidak menuruti kehendak atasan. Tapi ini dilapangan bola, aturannya ada sendiri.

Ada yang suka main bola, tapi ada juga yang lebih suka menonton bola. Ketika diajak main bola selalu menolak, tapi kalau ditanya tentang hasil pertandingan dan detail bagaimana Messi mempecundangi Van Der Saar dalam perebutan Juara Champion tahun lalu, dengan penuh semangat dia bisa menjelaskannya, bagaimana proses gol itu tercipta, hasil lengkap dengan analisa statistik, analisa teknis, ada berapa jumlah offside, jumlah penonton, kecepatan angin, nama stadion, siapa nama wasitnya, bahkan nama hakim garis dan anak gawangnya (ahh lebay banget yah).

Ada juga yang lebih suka main PS Winning Eleven. Sebuah turunan dari permainan bola yang tak pernah bisa saya kuasai. Saya selalu kalah dalam soal ini, dan karena itu saya tak tega melihat diri saya terus menerus tersiksa oleh kekalahan sehingga memutuskan cabang olahraga ini tak saya mainkan, disamping memang bermain game ini telah menghilangkan daya tarik dari main bola yaitu interaksi antar pemain, masa’ mau ngobrol dengan pemain di TV.

Nah, saatnya main bola yuk..

Liburan : Mamuju

Peta Sulawesi Barat

Peta Sulawesi Barat

Sudah lama saya ingin berkunjung ke Mamuju, bersilaturrahmi dengan kakak saya Nanni yang bekerja disana. Anda tahu Mamuju kan? Bagi yang kurang familiar, Mamuju adalah ibu kota propinsi Sulawesi Barat, sebuah propinsi baru hasil pemekaran Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat terdiri dari kabupaten Mamuju, Mamuju Utara, Majene, Polewali serta Mamasa.

Kesempatan itu datang pada saat libur lebaran. Tanggal 1/10 sayapun berangkat ke Mamuju. Dari Makassar saya berangkat naik bus LITHA dengan tarif 125 ribu rupiah. Bus ini cukup eksklusif dilengkapi dengan toilet dalam dan ruang yang lapang antar kursi, terdapat penyangga kaki buat yang suka selonjoran, serta selembar selimut untuk menemani tidur dan menahan hawa AC dari bus. Kata orang, ke Mamuju itu harus siap untuk merasakan mabuk darat, karena  banyak tikungan menjelang masuknya Kota Mamuju. Karena trauma itulah, istri saya yang pernah tinggal di Mamuju tak ikut bersama saya.

Dengan berat hati dia tak bisa ikut. Saya hanya berangkat bersama dengan adik saya yang paling bungsu, Uli. Uli sudah beberapa kali ke Mamuju, dia sudah cukup siap untuk menemani saya. Sebelumnya di Tahun 2001 saya pernah sampai Majene, tapi jalur perjalanan ke Majene tak berliku dan biasa-biasa saja. Kali ini saya harus lebih siap mental, sehari sebelumnya dalam ‘tes’ perjalanan ke Soppeng tak ada masalah melewati tikungan di Camba dan Bulu Dua.

Bus berangkat sekitar pukul 20.00 malam, beberapa penumpang nampak  akrab satu sama lain, sepertinya mereka sudah saling mengenal. Mereka bercengkerama dengan dialek yang khas Mamuju, bagi saya mirip dengan dialek kawan saya dulu di Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas yang berasal dari Mambi, yang kini jadi bagian dari Kabupaten Mamasa.

Sedikit saya cerita kawan saya di Asrama tersebut. Namanya Bayanuddin, kami memanggilnya Bayao. Dia adalah salah satu mahasiswa yang memperjuangkan berdirinya Propinsi Sulawesi Barat. Dia begitu bersemangat bercerita tentang propinsi baru ini nantinya akan seperti apa jika telah berdiri, dan dia akan menjadi apa dalam pemerintahan yang baru nanti. Sayangnya Bayao ketinggalan kereta, ketika Sulbar telah berpisah dari Sulsel, dia masih berkutat dengan kuliahnya yang tak kelar-kelar hampir satu dekade. Masalah lain menghampiri kampungnya Mambi yang tak pernah bisa menerima harus bergabung dengan Mamasa, setelah Kabupaten Polewali Mamasa dipecah menjadi masing-masing kabupaten sebagai bagian dari berdirinya propinsi Sulawesi Barat. Alasannya, secara kultural, historis, dan agama Mambi berbeda dengan Mamasa, dan dijaman dahulu orang Mamasa adalah orang yang “menumpang”, yang berasal dari Tana Toraja yang tinggal di dataran tinggi yang kini disebut Mamasa. Pemekaran daerah memang memiliki banyak dimensi dan motivasi, ada motivasi mensejahterakan daerah, tapi juga tidak sedikit motif yang melingkupinya adalah semangat untuk mendapatkan posisi baru, dan mengambil keuntungan pribadi sebagai elit dipemerintahan.

Kembali ke bus. Karena perjalanan malam, saya tak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Jalur yang dilewati bus adalah menyusuri pantai barat sulawesi, yaitu dari Makassar – Pare Pare -Pinrang – Polewali – Majene – Mamuju. Saya tertidur dalam perjalanan dari Makassar – Pare Pare, terbangun ketika di Pinrang karena jalanannya terasa bergelombang, kemudian tertidur lagi hingga subuh, dan shalat subuh di daerah Malunda. Selepas shalat subuh dan sang fajar menyingsing, telah nampak sisi gunung yang akan dilewati. Bagi saya rugi kalau tak melihat  pemandangan sepanjang jalan yang tersisa. Itulah awal malapetaka bagi saya, ternyata jika perjalanan sudah pagi artinya sudah mendekati Mamuju, dan itulah tikungan-tikungan terberat dalam perjalanan. Ketika saya mulai berbalik kiri kanan melihat sisi gunung, mata saya mulai berkunang-kunang dan perut terasa mual, Uli berkata, “jangan liat jalannya, tutup mata”, dia berusaha untuk menutup mukanya karena takut terpengaruh. Tapi terlambat saya sudah sangat mual dan saya memuntahkan air yang terminum semalam, tak ada sedikitpun makanan, setelah tiga kali mengeluarkan isi perut, bus ternyata sudah masuk ke Terminal Mamuju. Syukurlah penderitaan itu tak berlangsung lama. Kami tiba di terminal jam 07.30 pagi, perjalanan total 11.5 jam telah ditempuh.

Turun dari bus saya masih merasa tak enak badan, berusaha untuk menghirup udara segar dan memandang berkeliling. Mamuju dilingkari oleh gunung di satu sisi dan laut di sisi lain, hawanya terasa sejuk. Tapi setiap kali melihat ke arah gunung rasa pening saya bertambah, masih terpengaruh ketika di bus. Sampai di rumah saya istirahat sekitar sejam, dan berkeliling ke beberapa bagian kota Mamuju dengan sepeda motor, nampak sekali bahwa kota ini sedang membangun, hampir disetiap jalan, terlihat rumah yang sedang dibangun. Harga jual rumah  dan sewa rumah di Mamuju tak mengikuti logika umum seperti di Makassar atau di Jakarta, untuk harga rumah yang sama dengan di Jabotabek, harga sewa rumah di Mamuju lebih tinggi. Sebagai contoh untuk di Jakarta biasanya harga sewa rumahadalah 5% dari harga rumah pertahun, jika harga rumah type 42 adalah 140 juta maka sewa pertahunnya adalah 6.5 s/d 8 juta rupiah. Sedang di Mamuju, dengan type yang sama harga rumah 100 jt, bisa disewakan dengan harga 12 juta. Trend ini dimulai ketika Mamuju mulai menjadi ibukota propinsi.

“Kontrak rumah disini tak masuk akal” kata kakakku,

“Harga kebutuhan pokok juga begitu, asal sebut saja para pedangang itu kayaknya”.

Fenomena harga kontrakan ataupun kosan yang melambung biasanya memang terjadi pada daerah-daerah yang baru berkembang. Ketika saya berkunjung ke Sangatta ibu kota Kutai Timur, sayapun mendapati fenomena harga kontrakan dan kosan yang tinggi, tapi bagi saya itu cukup masuk akal, Sanggatta menggantungkan roda perekonomiannya pada pertambangan batubara KPC, sehingga jumlah pendatang disana banyak, dan kemungkinan tinggalnya tidak permanen. Disamping itu, harga kebutuhan pokok juga tinggi karena sebagian besar kebutuhan pokok didatangkan dari luar Kutai Timur.

Saya shalat jum’at di masjid Raya mamuju, jaraknya tak terlalu jauh dari rumah, saya dan kakak ipar naik sepeda motor ke masjid. Ketika sampai kakak ipar saya memarkir motornya di sekitar mesjid, tanpa kunci stan. Ketika saya tanya kok tidak dikunci, katanya bahwa Mamuju masih aman, tak perlu mengunci motor. Mamuju masih tempat yang aman.

Malam harinya kami mengunjugi Losari-nya Mamuju, tempat jajanan Kaki Lima di pinggir Pantai Mamuju. Sebagian besar makanan yang tersedia adalah Nasi Goreng, Bakso dan Mie Pangsit. Penjualnya adalah orang Jawa. Sambil menikmati debur ombak dari Selat Makassar, saya menikmati semangkok Mie Pangsit, harganya saya tak tahu karena dibayarkan. Tapi kata kakak saya untuk seporsi makanan dengan harga 10 ribu di Makassar bisa seharga 20 ribu di Mamuju, alamak…

* * *

Pagi harinya saya terbangun dengan segar, hawa sejuk terasa. Kami bersiap menuju ke Kali Mamuju, tempat wisata orang-orang Mamuju. Perjalanan dari rumah sekitar 20 menit dengan naik motor, 10 tahun lalu kata istri saya kalau mau ke Kali Mamuju harus dengan jalan kaki, pemekaran punya dampak positif juga, jalanan menuju Kali Mamuju beraspal dan tanpa lubang. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan banyak pemikul Durian, dan Makan durian itulah yang sebenarnya menjadi daya tarik Kali Mamuju. Jika anda tak sanggup makan banyak durian, maka ke Kali Mamuju lah. Kok bisa? karena ternyata makan durian disana diselingi dengan berendam di sungai dengan air jernih dan sejuk. Ketika perut sudah mulai panas, maka dengan berendam di kali maka panas itu bisa berkurang. Di sekitar kali juga banyak penjual durian, hanya saja jika tak pintar-pintar menawar para pedagang durian biasanya menjual dengan tarif lebih mahal, kata kakak saya ” mereka sukanya asal sebut saja”. Harga perbiji durian 15 ribu rupiah, padahal kalau beli dipasar harganya bisa setengahnya bahlan lebih murah lagi. Saya puas-puasin makan durian sambil berendam, meskipun banyak juga yang mandi dan mencuci di Kali tersebut, tapi tak cukup signifikan untuk mengotori kejernihan air. Tak seperti warna sungai di Tangerang yang coklat.

****
Saya hanya 2 hari di Mamuju. Saya pulang hari sabtu malam, dengan berbekal satu tablet Vit B6 dan CTM, obat anti muntah dan obat tidur agar tak malu-maluin dalam perjalanan. Begitu Bus mulai jalan, sayapun menutupi muka, berusaha untuk tidur dan memancing CTM bekerja. Saya selamat, tertidur hampir sepanjang perjalanan.

Sepulang dari Mamuju saya kepikiran untuk membuat kos-kosan di Mamuju. Biaya pembangunan tidak terlalu mahal tapi harga sewa tinggi. Cukup dengan membuat 10 petak kosan, dengan harga sewa 5 juta pertahun, bisa menikmati passive income yang besar, berminat berinvestasi di Mamuju?

Toilet yang tidak user-friendly

toilet-in-japanIni masalah yang mungkin agak remeh, tapi saya sering mengalaminya. Kepentingan buang air di toilet umum.

Di mall, saya sering bermasalah dengan urinoir atau toilet yang tidak menyediakan air untuk bilasan.
Cobalah berkunjung di mall-mall besar di Jakarta, sebagian besar diantaranya tidak menyediakan fasilitas toilet sesuai dengan yang dibutuhkan, dipikirnya bahwa yang datang ke mall itu orang bule kali, sehingga toilet tak disediakan air untuk bilasan atau urinoir yang tak memiliki saluran untuk mencuci, untuk membersihkan hanya disediakan tissue.

Nah, kalau saya saja yang cowok dan relatif sederhana dalam kegiatan yang satu ini, lebih parah lagi kalau buat cewek. Istri saya sering terpaksa tak jadi melakukan kegiatannya lantaran di toilet hanya disediakan tissue, tak bersih dan tak bisa menghilangkan najis.

Saya tak habis mengerti apa yang menjadi pertimbangan pengelola mall, dengan menyediakan fasilitas yang sebenarnya tak cocok dengan mayoritas masyarakat indonesia yang muslim, yang mensyaratkan membersihkan dengan air setelah buang hajat. Toiletnya memang tetap terjaga kebersihannya, tapi pelanggan tak bisa puas dan bersih bertoilet ria.

Kalau dulu di beberapa tempat di kampus lain lagi masalahnya (sekarang sih sudah bagus mungkin). Toilet di kampus biasanya berada di sekitar tangga, dan aroma harum siap menyapa setiap kali naik turun tangga. Tak sulit mencari lokasi toilet ada dimana, tak perlu petunjuk papan, cukup dengan penciuman lokasinya bisa ditebak.

Sayangnya sebagian besar tak bisa dipakai, beberapa terkunci rapat dengan gembok. Yang terbuka tak ada airnya, yang ada airnya tak punya pula pintu, yang ada pintunya tak ada pula penguncinya. Bagi cowok yang buang air kecil terpaksa berdiri lebar-lebar agar sebelah kakinya bisa dipakai untuk menyangga pintu. Yang repot kalau buang air besar, jarak jambangan dengan pintu cukup jauh, tak mampu dijangkau tangan. Cara yang biasanya ditempuh kalau sudah benar-benar kebelet adalah melaksanakan hajat sambil memegang sapu yang mendorong pintu, dan berdehem dalam interval tertentu agar ketahuan ada orang di dalam, maka beruntunglah orang-orang yang memang lagi sakit batuk. Bagi cewek harus punya teman yang bisa diajak dalam suka dan duka, tidak hanya bisa diajak makan tapi bisa juga diajak untuk menjaga pintu ketika lagi buang hajat. Di kampus biasanya cewek tak pernah sendiri untuk urusan yang satu ini.

Tiket MU via Three Sudah Bisa Refund

Kabar gembira buat semua MU mania yang sempat terkatung-katung nasibnya mengenai kejelasan pengembalian tiket MU yang dibeli via Three. Setelah menunggu lama, dan kartu Three yang dibeli hampir tak ketahuan lagi dimana rimbanya, akhirnya Three berbaik hati mengembalikan uang para pembeli tiket pertandingan yang tak jadi karena terlanjur diteror oleh Noordin M Top. Berikut saya kutipkan email dari Three Care.
——————————————————————————————-
from 3care
to 3care
date Sun, Sep 13, 2009 at 1:26 PM
subject Pengembalian Uang Tiket MU
Kepada Yth. Pelanggan 3,

Dengan ini kami informasikan bahwa. Untuk pengembalian tiket MU dapat dilakukan mulai tanggal 14 – 20 September 2009 di 3Store tempat Bapak/Ibu melakukan pembelian ticket mulai pukul 10:00 s/d 17:00. Pengembalian ini hanya berlaku untuk tiket yang dibeli di 3Store kami dengan membawa persyaratan sebagai berikut:

* Kuitansi Pembelian Tiket

* Kartu 3 pembelian tiket MU

* Kartu Identitas asli dan photo copy.

Dan pada saat pengembalian ticket MU ini, Bapak/Ibu dapat menikmati promo berupa bonus tambahan pulsa 50% setiap pembelian voucher minimal 30.000 tanpa syarat dan ketentuan, promo dan bonus lainnya yang tersedia di 3Store. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan dan berikut kami lampirkan alamat-alamat 3Store sebagai referensi. Apabila Bapak/Ibu masih memiliki pertanyaan ataupun saran berkaitan dengan layanan kartu 3, silahkan menghubungi kami.

Hormat kami, Bobby

3Care

123 dari kartu 3 Anda

(Bebas pulsa) 089644000123 dari nomor lainnya

www.three.co.id

“Gubernur Banten Kok SBY”

Merah Putih (taroada doc)

Merah Putih (taroada doc)

Hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta tahun ini diperingati dengan gegap gempita oleh seluruh rakyat indonesia, tak terkecuali warga di RT 04/05 Cipondoh Indah, Tangerang. RT saya dihuni sekitar 50% etnis tionghoa,sisanya adalah jawa, betawi,  dan hanya kami sekeluarga yang bugis. Tapi semuanya sangat antusias mengikuti acara perlombaan yang dikoordinir oleh RT.

Anak-anak Indonesia (taroada doc)

Anak-anak Indonesia (taroada doc)

Acara lomba dimulai setelah upacara bendera 17-08-09, beragam lomba telah disiapkan seperti lari bendera, balap karung, lari kelereng, lomba memecahkan balon, dan yang paling banyak hadiahnya dan diminati oleh anak-anak adalah kuis yang dipandu langsung oleh pak RT. Pak RT sudah menyiapkan catatan pertanyaan yang ingin diajukannya, sebuah buku tulis dengan bermacam pertanyaan . Anak pak RT ikut juga dalam kuis, mudah-mudahan sih tidak ada bocoran soal :) , karena sepertinya buku yang dipegang pak RT itu buku tulis anaknya.

Pertanyaan pak RT diperebutkan oleh anak-anak, tingkah mereka lucu, dan kadang meskipun tidak tahu jawabannya tetap angkat tangan, dan diam ketika diberi kesempatan menjawab :

kuis dari pak RT (taroada doc)

kuis dari pak RT (taroada doc)

Pertanyaan yang disiapkanpun tidak sulit-sulit amat buat ukuran anak-anak, tapi salah satu pertanyaan yang bikin bingung banyak anak adalah ketika pak RT bertanya “siapa nama gubernur kita?”
seorang anak perempuan dengan percaya diri mengangkat tangan
” FAUJI BOWO !” teriaknya lantang
“salah”
“ESBEYE” jawab yang lain
“salah lagi !” kata pak RT
“SUSILO BAMBANG YUDHOYONO !” jawab si gendut
“RATU ATUT !” akhirnya pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang anak SMP peserta paling tua diantara yang hadir, hadiahpun hinggap ditangannya

Acara berlangsung hingga sore, semua senang, semua gembira Indonesia merdeka, kemerdekaan ini untuk semua, apapun sukunya dan darimanapun dia berasal. Tapi ada PR untuk Gubernur Banten, anak-anak kecil itu tak tahu siapa gubernurnya. MERDEKA !!!

Jika bukan Noordin, Berita Penyerbuan Itu Menjadi Lelucon

Awalnya judul berita di media TV adalah, “Pengepungan Noordin M. Top”, setelah itu judulnya meningkat tensinya menjadi “Noordin M. Top Tertembak“, sesaat setelah police line dipasang di sekitar rumah Mozahri yang hampir hancur lebur itu, judul berita menjadi “Noordin M. Top Tamat“, sehari setelahnya judulnya menjadi “Noordin M. Top Tamat ?” dengan tanda tanya dibelakangnya, sekarang judulnya menjadi tambah kabur ” Memburu Noordin M. Top“.

Sebelumnya media telah memastikan itu adalah Noordin M. Top, alasannya adalah karena pada saat ditanya ” siapa didalam?” dijawab ” Noordin M. Top”. Tentu sebagai orang biasa kita akan ketawa kalau Noordin selugu itu. Seorang teman kemudian bercanda dengan mengatakan bahwa ketika aparat melihat ada gerakan, ditanyanya penghuni didalam ” Noordin apa kucing?”, dan dijawab oleh penghuninya ” kucing, meooong”.

Berita penangkapan yang berlangsung selama 18 jam tersebut, diliput dengan sangat intens oleh media TV, khususnya Metro TV dan TV One, keduanya berlomba untuk memberikan laporan terdekat dari lokasi, masing-masing memasang label eksklusif. Kita sebagai pemirsa tentu berdebar-debar menanti akhir penyerbuan itu, yang ternyata berakhir anti klimaks dan kabur. Kata Neta S. Pane dari IPW, jangan lagi kepolisian mempertontonkan kebobrokan seperti peristiwa Temanggung.

Seperti dikemukakan pak Veven S. Wardhana dalam jagad televisi Indonesia Rumor itu menjadi Humor. Densus 88 melakukan penyerbuan ke sebuah rumah di Temanggung adalah Fakta, tapi bahwa yang di dalam rumah adalah Noordin adalah rumor, bahkan bahwa yang didalam rumah adalah seorang teroris masih rumor, dan rumor itu kini telah menjadi lelucon.

Surat Cinta (Mengenang Rendra)

Saya tak seromantis WS rendra, kalau saya sih langsung bilang aja Aku ingin melamarmu. :)

Kalau Rendra inilah “surat cinta”nya

Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

dikutip dari : link

Setelah Mbah Surip, WS Rendra menyusul

rendra

rendra

Innalilllahi wainna ilaihi raji’un, salah satu penyair terbesar Indonesia dan juga tokoh reformasi WS Rendra berpulang ke Rahmatullah, penyair yang lahir pada tahun 1935 di solo, meninggal d RS Mitra Keluarga Kelapa Gading hari ini. Rendra pergi menyusul sahabatnya Mbah surip yang dua hari lalu dimakamkan di makam bengkel teater miliknya. Karena sakit-sakitan rendrapun tak sempat mengikuti prosesi pemakaman mbah surip.

Rendra telah menjadi legenda, kepergiannya menjadi kehilangan buat para pecinta seni dan puisi dan rakyat indonesia pada umumnya

Berikut profil rendra dikutip dari wikipedia.org

Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935; umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya. Beliau wafat Kamis, 6 Agustus 2009, pkl. 22.05 WIB karena sakit

PENDIDIKAN

* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
* SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo – Tamat pada tahun 1955.
* Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta – Tidak tamat.
* mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967).

RENDRA SEBAGAI SASTRAWAN

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

KONTROVERSI PERNIKAHAN, MASUK ISLAM DAN JULUKAN BURUNG MERAK

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

sumber :

http://www.detiknews.com/read/2009/08/06/224136/1178891/10/ws-rendra-meninggal-dunia

http://id.wikipedia.org/wiki/WS_Rendra

Lanjutkan Bang Andi

Tiga hari sebelum pilpres saya didatangi oleh hansip dari RT, dia mendapat mandat dari Ketua RT untuk membagikan formulir C4, tiket untuk mencontreng di hari penentuan selera rakyat Indonesia 8 Juli 2009. Namanya bang Andi (bukan Andi Mallarangeng), sebenarnya profesi bang Andi banyak, selain hansip yang ronda semalam suntuk dia adalah tukang tagih iuran warga, kadang-kadang jadi tukang batu di rumah yang baru dibangun, sekali-kali saya lihat jadi penjaga warung kopi pak RT di pasar. Bang Andi adalah sahabat saya, bermacam obrolan bisa mengalir dari lidah khas tegal-nya.

Bang Andi menyerahkan form C4 dengan senyum ke arah saya, ketika form mulai berada diujung jari saya, dia berkata ” lanjutkan mas ahmad”. Saya cuma tersenyum saja, saya bertanya dalam hati apakah ini perintah langsung dari RT atau dia hanya bercanda saja. Tiga minggu sebelum pilpres di rumah pak RT diadakan rapat tentang hajat hidup warga di RT kami, ketika rapat belum resmi dibuka dan warga mulai memenuhi teras rumah pak RT, seorang warga dengan penuh inisiatif mengisi obrolan tentang pemilu,

“gimana nih pak RT pilpres nanti?”,

“Kemungkinan besar babe kita naik lagi nih, tak ada pesaing berarti nampaknya” kata pak RT dengan penuh senyum,

warga lain bergantian manggut-manggut sambil mengiyakan, masa depan cerah terpancar dari wajah-wajah itu, saya berada dalam lingkungan membiru haru , saya tak mengangguk tapi saya jadi mengerti kenapa KTP saya jadi lama ngurusnya tempo hari, dibutuhkan waktu 2 bulan. Pak RT sudah mengaku siapa babenya.

Kembali ke peristiwa di teras rumah saya bersama bang Andi. Karena penasaran atas dasar apa bang Andi memilih “Lanjutkan”, saya bertanya kepadanya kenapa bukan mega dan JK, jawabnya ” dulu jaman mega, saya kerja di Cikarang, dikontrak setiap 6 bulan, ketika saya dipecat saya tak dapat pesangon” dia mengenang . Lalu kenapa tidak memilih JK? ” Saya takut sama wiranto” jawabnya, tak dijelaskannya apa yang ditakutkan. Mendengar percakapan kami, istri saya keluar dan menambah ramai pembicaraan, ditanyakannya alasan kenapa bang Andi pilih SBY dijawabnya “sudah dua kali saya mimpi memilih SBY, dan kalau saya melakukannya sesuai mimpi tersebut, minimal satu bulan setelahnya akan ada perubahan penting dalam hidup saya”.

Pada pileg kemarin, bang Andi menjadi jurkam salah satu caleg Partai Demokrat, alasannya karena tak ingin terus-terusan menjadi hansip, dia ingin hidupnya berubah, dan alasannya yang paling keren adalah “ calegnya itu bergelar Master, pasti sudah pernah ke luar negeri, yang lain mah masih SE, atau SH”

Di hari pencontrengan, saya tak sempat ikut penghitungan suara, tanda tinta hitam dijari saya gunakan untuk berwisata dengan diskon 50% di Dufan. Akhir pekan setelah pencontrengan, bang Andi lewat depan rumah, diparkirnya motor, dan diceritakannya kalau dalam penghitungan kemarin, suara Mega 49, SBY 139, dan JK 2, golput seratusan lebih, dan kembali dengan senyumnya dia bilang “yang dua itu sudah pasti mas ahmad dan istri”.

Apa kira-kira kejadian penting setelah bang Andi melaksanakan hajatnya?, Tak sampai Seminggu setelah pilpres bang Andi mendapat order harian dari tetangga saya untuk mengantar setiap pagi anak-anaknya ke sekolah, pagi-pagi sekali bang Andi sudah berada di depan pintu rumah tetangga, siap mengantar ke sekolah. Hari kedua mengantar, bang Andi terlambat datang menjemput. Hari ketiga mengantar, tetangga saya mengantar sendiri anaknya ke sekolah, sebabnya ternyata adalah karena bang Andi menjadi hansip semalam suntuk, maka dia terlambat bangun, ordernyapun putus. Tapi itu juga berarti kalau malam bang Andi telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, dan tidak ketiduran ketika jaga.

Sembilan hari setelah bang Andi memilih presiden baru teror melanda kawasan Mega Kuningan korban berjatuhan dan sembilan orang meninggal, Manchester United tak jadi datang ke Indonesia. Tiga minggu setelah pemilu, saya bersua lagi dengan bang Andi,

“gimana kabarnya?” sapa saya

“yaa namanya juga lanjutkan, ya nggak berubahlah, ya gini2 aja”.jawabnya

Bang Andi sudah lupa rupanya dengan mimpinya.