Fadel Muhammad dan Hukum Karma

(wikipedia.org)

(wikipedia.org)

Kaget, kecewa, senang, sedih, campur baur perasaan itu melingkupi sebagian elit yang diganti, dicopot digeser, diangkat, dimutasi dan disumpah dalam rangka penggantain Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid IIb. Ada yang menangis terisak-isak karena bersedih meninggalkan anak buahnya di PLN untuk diangkat menjadi Menteri. Ada yang berkaca-kaca melakukan perpisahan dengan anak buahnya karena tak lagi mejadi Menteri. Ada yang sebelum dicopot sudah lebih cepat mengundurkan diri. Ada juga yang diam saja, tapi ada juga yang Protes. Ada yang dikabarkan batal, tapi tetap jadi, eh ada juga yang udah ditelpon gak akan diganti, malah tergusur. Macam-macamlah pokoknya.

Publik juga tak berbeda. Panggung reshuffle yang sejatinya merupakan hak prerogatif Presiden menjadi panggung hiburan dalam minggu-minggu terakhir ini. Akibatnya tak terdengar lagi fenomena Ayu Tingting, kampanye Komodo nampaknya tenggelam oleh eforia pergantian Menteri, tema usulan pembubaran KPK oleh DPR yang ditayangkan dalam Indonesia Lawyer’s Club pun nampaknya tak lagi menarik. Partai juga demikian, ada yang adem-adem saja karena jatahnya tak diganggu gugat, tapi ada juga yang menggugat secara wacana bahwa Presiden melanggar kontrak politik, tapi kemungkinan menarik diri dari Koalisi bukan pilihan yang menguntungkan sehingga gugatan dan gertakan tinggal wacana dan santapan media saja.

Salah satu yang mengagetkan orang adalah penggantian Menteri Kelautan dan Perikanan, sebelumnya dipegang oleh Fadel Muhammad yang digantikan oleh Sharif Cicip Sutarjo, keduanya adalah kader Golkar. Banyak spekulasi berkembang seputar penggantian ini. Apakah penggantian ini keinginan Aburizal Bakrie sang ketua Golkar, ataukah keinginan Presiden sang pemberi mandat. Saya tak tahu apa penyebab sebenarnya, bahkan Fadelpun tak tahu. Mungkin hanya pak SBY dan pak Sudi yang tahu.

Sehari sebelum pencopotan itu, Fadel masih yakin akan tetap menjabat, bahkan kemungkinan akan dipromosikan menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat menggantikan Agung Laksono. Jaminan dari partainyapun tetap ada kalau dia masih akan dikabinet. Namun sore harinya dia mendapat telpon dari pak Sudi Silalahi kalau dirinya akan dicopot.

Selama ini Fadel dianggap cukup berprestasi, dia beberapa kali bersinggungan dengan Menteri Perdagangan terkait dengan kebijakan impor garam yang dianggap merugikan petani garam di tanah air. Perseteruannya dengan Mendag tak selesai hingga keduanya berubah posisi, Fadel tak menjabat apa-apa, sedangakan Mari Elka Pangestu menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif.

KARMA FADEL

Dalam gonjang-ganjing pemilihan presiden tahun 2009, Fadel Muhammad yang waktu itu masih ketua DPD I Golkar Gorontalo dengan terang-terangan mendukung SBY sebagai presiden, alih-alih memilih JK sang Ketua Umumnya yang mencalonkan diri. Move politik yang dilakukan oleh Fadel dengan jelas sangat menohok JK saat itu. Fadel bahkan pernah bermaksud menggelar Munaslub untuk menurunkan JK dari jabatannya sebagai ketua umum Partai Golkar, siapa dibelakangnya? Pasti orang kuat. Sejarah kemudian membuktikan pilihan Fadel benar, SBY diangkat sebagai Presiden dan diapun mendapatkan jatah kursi menteri ketika kabinet dibentuk. Menelikung sudah biasa dalam politik, dan itulah yang dilakukan Fadel pada saat Pilpres kemarin, jika kemudian angin politik berubah, harusnya dia sudah mengerti memang demikianlah politik mengalir.

Fadel merasa dikhianati dan dizalimi. Sebelumnya Fadel rela meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Gorontalo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Sampai sekarang Fadel masih bertanya-tanya dalam hati kenapa dirinya diganti, introspeksi adalah jalan terbaik. Jika pernah mengkhianati bukan tak mungkin akan dikhianati, apapun alasannya.

Salam

Ahmad Amiruddin

PLN Setelah Dahlan Iskan

Oleh : Ahmad Amiruddin

Dua Tahun lalu (2009), sesaat sebelum Dahlan Iskan dilantik menjadi Direktur Utama PLN, beredar isu bahwa banyak internal PLN yang menolak pergantian Dirut yang berasal dari luar PLN. Pemilihan Dahlan Iskan dianggap merusak sistem yang selama ini telah menjadi pakem di PLN bahwa Dirut itu harus berasal dari internal PLN. Konon, pada saat itu 11 General Manager dari 34 General Manager PLN akan mengundurkan diri. Oleh SPLN (Serikat Pekerja PLN) saat itu, Dahlan disebut-sebut tidak memiliki kompetensi dibidang ketenagalistrikan dan hanya politik balas budi SBY atas dukungan Dahlan dalam pemilihan presiden di daerah Jawa Timur.

(dahlaniskan.wordpress.com)

Setelah menjabat, Dahlan berusaha merangkul semua pihak. Berusaha memberi contoh dan memberi semangat bagi para karyawannya. Disebut-sebut dia tidak menerima sepeserpun gajinya, mobil dinas tak dipakainya, dan beragam fasilitas kantor yang selama ini menjadi simbol kemewahan pejabat BUMN dilepaskannya. Perlahan-lahan publik bersimpati kepada kinerja yang ditunjukkan Dahlan Iskan dan timnya di PLN.

Salah satu proyek fenomenal yang telah digagasnya adalah Gerakan Sehari Sejuta Sambungan Listrik yng mulai dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2010 bertepatan dengan ultah PLN. Gerakan sejuta sambungan ini membongkar sistem percaloan sambungan baru yang selama ini menggerogoti PLN. Banyak calo yang gigit jari karena tak sempat dapat order, tak sempat memperlama waktusambungandan menunda-nunda pemasangan untuk membuat calon konsumen harus membayar lebih, meski begitu masih tetap banyak yang belum tersambung.

Hal yang membedakan Dahlan Iskan dengan Dirut sebelumnya adalah kemampuannya mengkomunikasikan kebijakannya di PLN, serta keberaniannya untuk menjelaskan ketika ada kritik terhadap performance PLN. Jiwa kewartawanannya dan kedekatannya kepada Media menjadikan citra PLN meningkat. Dahlan Iskan juga rajin menulis CEO note, berisi tulisan khasnya tentang perjalanannya ke wilayah PLN di seluruh Indonesia.

Sekali waktu saya berbincang dengan pejabat PLN didaerah, dikatakannya “Di PLN itu kita seperti menanam, apa yang kita rasakan sekarang ini adalah perjuangan para pendahulu PLN sebelumnya, pak Dahlan memang sudah berbuat untuk PLN tapi belum kita rasakan sekarang, perjuangan pak Dahlan sekarang akan kita rasakan 2 atau 3 tahun lagi”. Memang hal tersebut ada benarnya, pembangkit-pembangkit baru, jaringan-jaringan transmisi baru yang sudah beroperasi sekarang ini tidaklah direncanakan dan mulai dibangun oleh Dahlan tapi oleh Dirut-dirut sebelumnya, jadi kalau kita ingin melihat apa yang telah Dahlan Iskan berikan bagi PLN, lihatlah setelah beliau keluar apakah prestasi yang ditinggalkannya dapat memberi efek yang signifikan bagi perkembangan PLN kedepannya.

Satu PR Dahlan Iskan sebelum menjadi Dirut PLN yang tak selesai-selesai hingga sekarang adalah masalah pasokan gas buat PLN yang tak kunjung ketemu titik akhirnya. PLN terpaksa membakar minyak karena kekurangan gas, akibatnya Biaya Pokok Produksi meningkat, subsidipun membengkak. PLN selalu dijadikan prioritas dibelakang demi memenuhi kebutuhan ekspor. Dalam peluncuran Gerakan Sejuta Sambungan Tahap II 17 Juni 2011, Dahlan Iskan menyatakan bahwa inefisiensi ditubuh PLN adalah masalah gas, masalah kedua adalah gass, masalah ketiga adalah gass, masalah ke 4 adalah gasss dan masalah ke 5 adalah gassss.

Dengan segera ditunjuknya Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN, banyak pihak optimis Dahlan akan memberi warna lain bagi Kementerian BUMN. Dahlan yang dilantik sebagai Dirut PLN pada tanggal23 Desember 2009 oleh Mustofa Abu Bakar, akan menggantikan Menteri yang melantiknya saat itu. Dibanding penunjukan Menteri lain yang kadang ditanggapi dingin ataupun sinis oleh banyak orang, penunjukan Dahlan Iskan memberi angin segar. Banyak yang berharap Dahlan dapat menularkan semangatnya ketika memimpin PLN ke BUMN-BUMN lainnya. Tugasnya sebagai Meneg BUMN tentu semakin berat, tidak lagi hanya soal listrik, tapi menyangkut BUMN lain yang terus merugi seperti Merpati. Akan tetapi jika Pak Dahlan jadi Menteri kita bisa berharap masalah gasnya PLN bisa selesai, toh sekarang PGN dan Pertamina sudah dibawah kendalinya. Dulu, saat baru menjabat Dahlan sempat berujar dia hanya ingin 2 tahun berada di PLN, ternyata lebih cepat dari yang dijanjikannya. Semoga pengganti Dahlan Iskan di PLN, bisa melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Dahlan Iskan.

Selamat bertugas Pak Dahlan.