Dunia Hingga Kemarin

Oleh : Ahmad Amiruddin

Dalam bukunya The World Until Yesterday, Jared Diamond menggambarkan dunia sebelum jaman modern. Terdapat perbedaan mencolok antara masyarakat tradisional dengan dunia modern sekarang. Dan perbedaan itu masih bisa ditemui di banyak suku-suku pedalaman di Afrika, Papua, Indian atau aborigin di Australia.

Cara pandang tentang bahaya pada satu suku membuat mereka bisa survive dan bertahan dengan alam sekitarnya. Kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia di perkotaan.

Sebagai contoh, bahaya yg banyak ditakutkan oleh mayoritas masyarakat tradisional adalah kelaparan, tertimpa pohon, jatuh dari pohon, binatang buas atau ancaman dari suku lain. Itulah sebabnya mereka punya kemampuan indera yang baik untuk menghindari berteduh di bawah pohon besar atau mengenali tanda-tanda wilayahnya telah dimasuki oleh suku asing hanya berdasarkan satu dahan yang patah.

Sebaliknya bagi masyarakat modern, bahaya yang banyak merenggut nyawa adalah kecelakaan lalu lintas. Masyarakat Jakarta mengembangkan indera keenam menyeberang jalan raya dengan cara yang unik. Bisa meliuk dan bisa memperkirakan kapan mobil mendekat dan kapan tak boleh memotong.

Suku tradisnional akan berkeringat dingin memotong jalan kalau disuruh menyeberang di Jalan Casablanca. Sebaliknya masyarakat perkotaan tak bisa juga survive di pedalaman tanpa mempelajari kemampuan adaptasi mereka.

Satu hal lainnya, adalah tema pembicaraan dikuasai oleh hal-hal yang dianggap berbahaya atau tak bisa dijamin. Makanya di banyak suku tradisional tema pembahasan adalah makanan, karena bisa jadi mereka tak bisa bertahan karena makanan. Mereka tak banyak membicarakan seks, karena ada banyak waktu untuk itu. Sebalikanya di masyarakat modern–ini kata Jared ya–, tema makanan tak selalu dibicarakan dan tema seks lebih mendominasi karena ada banyak makanan, tapi tidak banyak waktu atau kesempatan untuk seks.

Dunia kita juga seperti baru saja ditarik garis pembatas, 2019 sebelum ada Corona dengan 2020, ketika telah ada Corona.

Tahun 2019, kita masih bisa ngumpul-ngumpul, ngopi-ngopi di Phoenam, rapat, meeting, business trip, jalan-jalan ke Bukit Tinggi, ke Raja Ampat, umroh dan sebagainya.

Tiba-tiba saja Corona ini menarik garis batas jelas. Tak ada lagi rapat, meeting, konser, pertandingan bola dan tabligh akbar. Bahkan Liverpool yang sudah harus juara, harus menunda dulu. Mungkin 30 tahun lagi.

Tema pembicaraan juga berubah. Semua tentang Corona. Tukang Sayur selalu tanya, dikompleksnya ada yang Corona gak, Mama’ di kampung mengkhawatirkan anaknya yang berada di Zona Merah dan anaknya di rantau mengkhawatirkan orang tuanya yang menua. Abang saya setiap hari harus mempersiapkan RS darurat di wisma Atlet. Bahkan anak saya yang tengah sudah semakin fasih bermain dengan menyebut-nyebut vilus colona.

Kapan ini selesai? Kita tak tahu. Tapi ini akan selesai. Sebuah peristiwa besar akan melahirkan pemimpin baru dan tatanan dunia baru. Sebuah dunia yang tak akan sama lagi. Akan ada yang jadi pahlawan, menjadi martir, jadi korban, dan akan ada pula yang menangguk untung dengan cara culas dari kehidupan yang serba tak pasti ini.

Kelak anak cucu kita mungkin akan membuat catatan juga. Dunia saat Corona. Kakek neneknya akan jadi pahlawan di sana, minimal dengan tetap berada di rumah.

Published by taroada

Engineer | Manunited Fans | Indonesia | Edinburgh

One thought on “Dunia Hingga Kemarin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog