Boomer dan Jereppae

Boomer dan JereppaEDalam kehidupan saya, pernah ada masa penuh romansa dengan dua makluk ini, tahun kelahiran saya hampir sama dengan keduanya. Boomer adalah anjing kampung berwarna orange, khas anjing kampung. Yang membuatnya berbeda adalah Boomer adalah musuh hampir setiap orang, termasuk juga ayam dan itik.

Namanya diambil dari tokoh anjing dalam salah satu film di TVRI. Jaman itu hampir semua rumah di Kadidi memiliki anjing, tidak hanya 1, bahkan banyak yang anjingnya dua. Anjing berguna untuk menjaga rumah, juga untuk berburu tikus di sawah. Dan Boomer adalah jagonya menangkap tikus di sawah.

Saya senang melihat dia menggali lubang tikus dari satu pematang ke pematang lainnya. Saat saya selesai TK, usia saya masih 6 tahun, jadi tak bisa masuk SD, pekerjaan sehari-hari saya setiap pagi adalah menonton anak SD dikejar Boomer di depan rumah. Saat itu tak ada komplain, karena setiap orang punya anjing yang dilepas, dan hal biasa melihat anak2 dikejar anjing, disamping juga kak seto masih merintis karier, jadi aman dari KPAI.

Banyak korban Boomer di sekitar rumah, termasuk Andi Makkuradde N dan Kak Amin Daif. Untungnya Bapak saya juga yg mengobati.

Namun tindakan Boomer nampaknya sering meresahkan para peternak itik yang mengangon bebeknya di tengah sawah. Boomer kayaknya ada masalah sama mereka. Saya sering menemukan bekas luka di badannya sehabis dia menjelajah ke sawah. Tapi semuanya sembuh. Pernah yang agak parah di samping duburnya kena tombak, tapi dia selamat. Boomer dan JereppaE sahabat baik.

Jereppae adalah nama motor Bapak saya yang dikasih nama oleh tetangga, ada juga yang menyebutnya La Joko. Nama Jereppae berarti jerapah dalan bahasa Indonesia. Setiap mendengar suara motor ini dari jauh, Boomer akan berlari menyambut.

Kadang2 kalau Bapak saya keluar dia ikuti hingga jarak yg cukup jauh.Boomer berumur panjang hingga saya SMA, bulunya mulai rontok, dan giginya habis. Tapi sepertinya kelakuan nakalnya mengganggu bebek orang masih ada. Hingga suatu hari dia pulang membawa luka cukup lebar di bagian paha kanannya. Luka itu tak pernah bisa sembuh.

Setiap hari saya kompress dengan rivanol punya bapak saya, tapi tak kunjung sembuh. Di usia saya kelas dua SMA, Boomer mati, dan saya kuburkan di belakang rumah. Dia salah satu sobat masa kecil saya.

Sementara sahabatnya yang satu lagi, jereppae, masih beristirahat di Kadidi. Menanti, suatu saat bisa mengaspal lagi.

Published by taroada

Engineer | Manunited Fans | Indonesia | Edinburgh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

%d bloggers like this: