Perbandingan Kompor Gas dan Kompor Listrik Induksi

Gambar 1

Oleh : Ahmad Amiruddin (taroada.com)

Pada Mulanya

Kompor induksi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1933 di Wold Fair di Kota Chicago [1]. Konon kabarnya General Motors memperagakannya dengan meletakkan koran antara alat masak dan kompor, dimana koran tidak terbakar dan airnya mendidih.

Kompor induksi ini bukanlah penemuan yang ujug-ujug timbul karena hasil pemikiran satu tim. Tapi penemuan ini memiliki rentang panjang, sama panjangnya dengan penemuan listrik. Tapi kita sebut saja beberapa penemu, untuk mengingatkan bagaimana kompor induksi ini bisa jadi barang berguna kayak sekarang.

Pada tahun 1831, seorang ilmuwan bernama Michael Faraday menemukan bahwa dua buah koil yang terikat pada besi, dimana salah satu koil disambungkan dengan sumber listrik akan menghasilkan arus sesaat pada koil yang satunya, dari sanalah prinsip erlektromagnetik bermula. Hukum Faraday menyatakan bahwa magnet yang bergerak dalam koil akan menimbulkan arus listrik pada koil tersebut. Hukum Faraday menjadi peletak dasar ilmu listrik, yang kemudian berkembang menjadi mesin-mesin listrik hingga sekarang. [2]

Michael faraday juga meneliti mengenai  cahaya, tapi hubungan cahaya dan magnet tak dia temukan hubungannya, sampai seorang anak muda bernama William Thomson mengirimkan surat kepadanya setelah meneliti mengenai garis magnet yang dipublikasi Faraday. Anak muda tersebut kemudian menjadi professor pada Laboratorium yang berdekatan dengan Sungai Kelvin di University Glasgow.

Dari nama sungai itulah, William Thomson diberi gelar Lord Kelvin. Lord Kelvin nantinya lebih banyak meneliti mengenai thermodinamika, dan dialah peletak dasar Hukum Thermodynamika I dan II. Rumus dasar kita gunakan dalam perhitungan kalor dibawah nanti tak lepas dari sumbangsihnya.[3]

Ketika mesin listrik telah ditemukan, saat itu arus listrik masih jenis arus searah. Perusahaan listrik di Amerika dikuasai oleh Thomas Alfa Edison dengan General Electricnya. Tapi listrik arus searah tak praktis dan banyak rugi-ruginya khususnya saat dihantarkan jarak jauh.

Kemudian muncullah seorang jenius bernama Nikola Tesla. Dia menantang kemapanan Edison. Pada tahun 1887, Tesla menemukan arus bolak balik. Arus bolak balik dapat ditransmisikan dengan mudah, dinaikkan dan diturunkan tegangannya dengan transformator. Dari penemuan arus bolak balik inilah, listrik dapat diproduksi dan dihantarkan secara lebih mudah dan lebih efisien. Tapi tidak itu saja, penemuan listrik bolak balik juga menghasilkan banyak peralatan listrik yang menggunakan prinsip adanya frekuensi dari listrik yang dihasilkan.

Prinsip kerja yang ditemukan Faraday, ketika digabungkan dengan penemuan Tesla menghasilkan mesin listrik statis seperti transformator. Berkat penemuan Tesla, tak perlu ada bagian yang bergerak secara kasat mata seperti generator untuk menghasilkan listrik, tapi dengan adanya arus bolak balik otomatis ada arus yang berubah terhadap waktu yang menimbulkan fluks magnetik yang berubah-ubah pula. Induksi elektromagnetik yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi listrik inilah yang menyebabkan trafo bisa menaikkan dan menurunkan tegangan.  Prinsip yang mirip juga digunakan pada kompor induksi.

Kompor induksi di klaim memiliki keuntungan dibanding dengan kompor gas LPG. Bagaimana perbandingan antar kedua jenis kompor berbeda sumber tersebut? Artikel ini akan membandingkan biaya akhir yang dibutuhkan oleh konsumen dengan menggunakan kompor gas dan kompor induksi. Perhitungan yang digunakan adalah berdasarkan data-data yang dapat diakses melalui internet dan tidak dengan percobaan langsung. Selain itu, karena saya engineer elektro, bisa saja ada perhitungan saya terkait dengan kalor yang kurang tepat.

Kompor Listrik

Kompor listrik yang beredar di pasaran terbagi atas dua jenis. Kompor listrik konvensional dan kompor listrik induksi.  Kompor listrik konvensional menggunakan elemen pemanas yang terintegarasi dengan kompornya, elemen ini akan memanas dan berwarna merah ketika telah dihubungkan dengan sumber tegangan listrik. Dibandingkan dengan kompor listrik induksi, efisiensi kompor jenis ini lebih rendah dikarenakan adanya elemen pemanas yang harus dipanaskan dulu sebelum panas dikonduksikan ke peralatan masak. Perbandingan efisiensinya berdasarkan data US DOE adalah 74% untuk kompor listrik konvensional dan 84% untuk kompor listrik induksi.[4]

perbandingan 2

Prinsip kerja Kompor Induksi

Kompor induksi bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik, dibandingkan dengan menggunakan konduksi panas atau elemen pemanas. Kompor induksi memanaskan peralatan masak secara langsung sehingga suhu yang diinginkan dapat dicapai dengan cepat.

Prinsip dasarnya adalah koil digunakan pada bagian bawah kompor, yang kemudian dialiri arus listrik bolak balik. Arus bolak balik akan menimbulkan fluks magnet yang berubah-ubah menurut waktu. Sesuai dengan hukum Faraday, fluks yang berubah-ubah dan memotong penghantar akan menimbulkan arus. Arus tersebut timbul pada peralatan masak yang berbahan metal, karena adanya eddy current yang mengalir pada peralatan tersebut. Arus tersebut “terperangkap” dan menimbulkan efek panas ketika melewati tahanan [5]. Karena hal tersebut, maka peralatan masak untuk kompor induksi haruslah yang memiliki sifat magnetis, sehingga tidak bisa menggunakan yang berbahan kaca ataupun aluminium dan tembaga murni [6]. Cara terbaik untuk mengetesnya adalah dengan menempelkan magnet pada peralatan masak tersebut. Jika magnet dapat menempel, maka dapat digunakan, sedangkan jika magnet tidak menempel maka tidak bisa digunakan.

prinsip kerja

Gambar : Proses Kerja Kompor Induksi Listrik[5]

Gas LPG

Kompor gas LPG menggunakan bahan bakar LPG atau Liquified Petroleum Gas. Di Indonsia LPG yang berada di pasaran dijual oleh Pertamina dengan merk Elpiji. Elpiji mempunya komponen utama gas propane (C3H8) dan gas butane (C4H10). Berdasarkan Keputusan Dirjen Minyak dan Gas nomor 26525K/10/DJMT/2009 tentang Standard an Mutu (spesifikasi) bahan bakar gas jenis Liquified Petroleum Gas (LPG) yang dipasarkan di dalam negeri, LPG berisi campuran propan dan butane minimum 97% dari total berat. Nilai kalor dari elpiji adalah 47.089 kJ/kg.[7]

Prinsip kerja gas elpiji berbeda denga  kompor induksi. Pada kompor gas elpiji, sumber panas berasal dari pembakaran gas yang kemudian dikonduksikan melalui udara dan memanaskan alat masak. Dalam proses ini terdapat energi yang hilang menjadi panas. Prinsip kerja tersebut berbeda dengan kompor induksi dimana panas berasal dari peralatan masaknya langsung, sehingga efisiensi kompor induksi lebih tinggi dibandingkan dengan kompor gas. Namun jika dibandingkan antara bahan bakar gas dengan minyak tanah, efisiensi pembakaran gas lebih tinggi.

Metode Pehitungan[8]

Perhitungan yang digunakan berdasarkan data-data, asumsi dan rumus-rumus sebagai berikut:

  1. Berdasarkan data US DOE, Efisiensi kompor gas LPG adalah 40% dan kompor induksi adalah 84%
  2. Asumsi kedua jenis kompor tersebut akan digunakan memanaskan 10 liter air pada suhu awal 30 derajat celcius, sehingga untuk memanaskan 10 liter air dibutuhkan :
  • Energi = m x c x DT
  • Massa air = 10 liter x 1kg/liter = 10 kg
  • Delta T = 100 – 30 = 70 derajat
  • Energi yang dibutuhkan untuk memasak 10 liter air adalah = 10 x 4,2 kJ/kg x 70 = 2940 kJ.
  1. Harga eceran 1 tabung gas elpiji 12 kg berdasarkan pengalaman kami membeli dan diantar sampai di rumah pada bulan November 2017 adalah : Rp. 158.000,-.Harga ini bisa lebih mahal untuk daerah-daerah di luar jawa.
  2. Harga listrik untuk golongan tarif R1-1300 VA keatas = Rp. 1.467/kWh
  3. Tara kalor LPG = 47.089 kJ/kg.

Hasil Perhitungan

Tabel

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kompor induksi dapat menghemat sampai dengan 44% dibanding dengan menggunakan kompor gas LPG.

hasil akhir

Catatan perhitungan

  • Data perhitungan sangat terkait dengan data efisiensi, karenanya jika ada riset yang menghasilkan perbedaan efisiensi akan sangat berpengaruh terhadap perbedaan perhitungan. Khusus terkait dengan gas, penggunaan efisiensi 40% adalah data yang umum digunakan pada banyak referensi. Sementera untuk data kompor induksi terdapat variasi data efisiensi antara 75-84%. Namun yang dapat disimpulkan adalah kompor induksi lebih efisien dari kompor gas.
  • Gas LPG merupakan sumber energi primer, sedangkan listrik adalah energi sekunder. Gas yang digunakan pada kompor LPG dirubah langsung menjadi energi panas melalui proses pembakaran, sedangkan energi listrik merupakan energi yang dibangkitkan dari perubahan energi primer. Energi primer ini dapat berupa batubara, minyak, gas, angin dan air. Dalam proses perubahan energi primer ini menjadi listrik tentu ada rugi-rugi yang timbul, disamping itu setelah menjadi listrik maka disalurkan melalui jalur transmisi dan distribusi dimana losses yang timbul sekitar 8% dari energi yang dibangkitkan. Perhitungan yang digunakan dalam artikel tidak memperhitungkan hal tersebut, namun tarif tenaga listrik yang digunakan dalam perhitungan ini sudah mencerminkan  hal tersebut.
  • Perhitungan ini juga tidak melihat perbedaan biaya pembangkitan listrik pada daerah-daerah yang masih mengandalkan pembangkit berbahan bakar minyak yang biaya pokok penyediaannya listriknya bisa lebih besar dari tarif listrik.
  • Perhitungan juga belum mempertimbangkan biaya pembelian kompor induksi baru, dan peralatan masak yang baru dikarenakan peralatan masak yang digunakan pada kompor induksi berbeda dengan menggunakan kompor gas.

 

Referensi :

[1] (2017, 10 Desember). The History of Induction Cooking Technology. Available: http://bestinductioncooktopreview.org/the-history-of-induction-cooking-technology/

[2] L. P. Williams, “Michael Faraday,” in Encyclopedia Britannica, ed: Encyclopædia Britannica, inc., 2017.

[3] (2017, 12 December). William Thomson, Lord Kelvin. Available: https://nationalmaglab.org/education/magnet-academy/history-of-electricity-magnetism/pioneers/william-thomson-lord-kelvin

[4] (2017, 12 Desember). Cooking. Available: http://www.t2c.org.uk/cooking/

[5] A. Rasoi. (2017, 12 Desember). How Induction Cooktop Works. Available: http://www.apanirasoi.in/Cooking/how-induction-cooktop-works/

[6] (2017, 12 Desember). Induction-Friendly Cookware Guide. Available: http://www.metrokitchen.com/induction-compatible-cookware

[7] KESDM, “Konversi MITAN ke GAS,” K. ESDM, Ed., ed. Jakarta: Direktorat Jenderal Migas, 2009.

[8] (2017, 12 Desember). Cooktop Comparison: Gas, Electric and Induction. Available: https://www.bijlibachao.com/appliances/cooktop-comparison-gas-electric-and-induction.html

 

* Tulisan ini sengaja saya sebut nama Faraday, Tesla dan Kelvin karena saya mengambil nama mereka untuk nama anak saya :D.

Advertisements

Murphy’s Law, Van Gaal, Jonru dan Angkot Medan

Murphy Law 1

“Segala sesuatu yang bisa menjadi buruk pada akhirnya akan jadi buruk”,

—Murphy’s Law

Hukum Murphy ini salah satu hukum yang dianggap paling pesimis di dunia, Pak Mario Teguh pasti tak suka dengan hukum ini. Kata orang-orang, kalo jadi “hukum” kebenarannya sudah diakui 99.99%, dan itulah yang membedakannya dengan Teori. Teori Evolusi, misalnya, belum semua orang menerimanya. Katanya lagi, kalau sebuah Teori sudah diterima semua orang, maka akan menjadi Hukum.

Tapi ternyata tak seperti itu juga, Teori takkan pernah jadi hukum. Teori Evolusi milik Tuan Darwin dari University of Edinburgh (Ehm ehm) takkan pernah jadi hukum evolusi atau hukum Darwin. Maka berbahagialah Kirchoff dan Ohm yang namanya diabadikan dalam hukum atas namanya masing-masing. Menurut salah satu sumber beda hukum dan teori : Hukum adalah  sebuah statement singkat dan jelas tentang sebuah fenomena sementara theory sifatnya adalah penjelasan keseluruhan mengenai sebuah fenomena [1] . Nah bagaimana dengan Teori Hukum? mungkin Farhat Abbas yang lebih tempe tahu.

Dari mana asal muasal hukum Murphy?. Ceritanya berawal dari jaman Bapak saya masih SD di tahun 1948. Saat itu jalanan kampong saya masih belum beraspal dan Ibu saya belum lahir, saya gak yakin juga di usia segitu Bapak saya sudah pernah lihat pesawat, tapi saat itu di Benua lain yang jaraknya 15996.88 km[2] dari Makassar (Makassar ke kampong saya berjarak 3 hari berkuda ditambah perjalanan kaki sepenanakan nasi) ilmuwan Amerika sedang mengetes kemampuan manusia menahan impek dari G-forces pada saat terbang dalam kecepatan tinggi. Saat pengetesan kesalahan terjadi dan dilakukan oleh Edward Aloysius Murphy yang memasang sensor utama kebalik sehingga percobaan tidak berhasil. Dalam konferensi pers-nya sang Bos bernama Dr. John Stapp menyebutkan peristiwa tersebut sebagai Murphy’s Law dan menyatakan bahwa dari insiden tersebut mereka belajar bahwa apapun yang bisa menjadi salah akan menjadi salah pada akhirnya. Dalam dunia penerbangan, Hukum Murphy menjadikan standar penerbangan menjadi sangat ketat dikarenakan kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal.

Hukum Murphy disamping menjadikan standar safety penerbangan tak pernah kehabisan improvement untuk mencegah kesalahan, juga menjadikannya kambing hitam dari sebuah kegagalan. Bulan lalu seorang bernama depan Aloysius juga mengutip Murphy’s Law sebagai penyebab kekalahan tim kaya raya dan (setidaknya dulu) terbaik sejagat raya. Tim ini dikalahkan oleh sebuah tim bernama Midtjyland yang tak dikenal, sepert juga saya tak mengenal nama tukang parkir alfamart dekat rumah yang minta dua ribu rupiah ketika saya cuma belanja aqua botol seharga tiga ribu perak. Aloysius yang satu ini bernama lengkap Aloysius Paulus Maria “Louis” van Gaal. Segalanya menjadi makin buruk bagi van Gaal. Dikasih duit 200 juta pound buat beli kwaci pemain, tapi tak bisa juga tampil baik dan menang secara meyakinkan. Sungguh Aloysius Murphy telah mengutuknya.

Meskipun Murphy’s Law ini masih dhaif sanad dan matannya, tapi saya yakin Hukum ini sudah menjadi virus di Indonesia.  Ada orang-orang tertentu yang berpemahaman karena segala sesuatu bisa makin buruk, maka kehidupan Indonesia ini akan makin buruk juga. Tak mungkin Indonesia makin baik. Kresek 200 rupiah adalah kezaliman yang akan membuat pemerintah makin zalim. Kereta cepat hanya akan membuat China makin berkuasa. Pembangkit listrik 35 ribu megawatt tak akan ada yang memerlukan. Pokoknya tak mungkin besok lebih baik hari ini. Jonru adalah adalah satu murid Murphy yang salah ajar kayaknya. Hanya sprei dan seminar menulisnya aja yang bagus.

Nah, bicara-bicara tentang Murphy’s Law, hukum ini tak berlaku di Medan, khususnya bagi para sopir angkot dan tentu juga penumpangnya. Angkot di Medan (juga bentornya) adalah nemesis dari Murphy, mereka percaya bahwa segala sesuatu yang bisa menjadi baik akan menjadi baik-baik saja. Hari ini saya di Medan, dalam hitung-hitungan saya yang pernah mengulang mata kuliah Kalkulus tiga kali, tabrakan antara angkot dengan kendaraan lain kemungkinannya sangat besar. Sopir angkot membawa lari penumpangnya dengan kecepatan tinggi, selap selip mirip orang bawa motor, berhenti mendadak, tiba-tiba belok, tapi fine-fine aja. Taka ada lampu merah yang benar-benar merah di Medan, begitu kata teman saya. Begitu tahu ini, Aloysius Murphy bisa-bisa bunuh diri dengan memakan terong belanda bersianida.

Murphy, van Gaal dan Jonru bisa belajar banyak dari sopir angkot ini, kalau bisa baik maka akan baik-baik saja.

Salam dari Medan

26/02/2015

[1]          (25 Feb). The terms model, theory, and law have exact meanings in relation to their usage in the study of physics. Available: https://www.boundless.com/physics/textbooks/boundless-physics-textbook/the-basics-of-physics-1/the-basics-of-physics-31/models-theories-and-laws-195-6078/

[2]          (25 Feb.). Available: http://www.prokerala.com/travel/distance/#calculator

http://www.irishcentral.com/roots/history/The-surprising-origin-of-Murphys-Law-revealed.html

http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-3453553/Louis-van-Gaal-blames-Murphy-s-law-Manchester-United-s-2-1-Europa-League-defeat-Midtjylland.html

Hendak kemana PLTN Jepang?

PLTN Fukushima

                        Pekerja PLTN Fukushima (gambar : AFP/Getty)                     

Meski bangsa Jepang terkenal gagah berani dan hampir tak kenal takut, tapi merkea punya trauma mendalam terhadap satu hal, Nuklir. Di bulan Agustus tahun 1945 dalam waktu hanya berselang 3 hari, dua bom nuklir di jatuhkan oleh tentara Amerika di dua kota, Nagasaki dan Hiroshima. 129.000 orang meninggal, sebagian meninggal saat itu juga, sebagian lagi meninggal karena penyakit dan radiasi. Lebih mengenaskannya, para korban adalah warga sipil. Setelahnya jutaan orang Jepang trauma dengan efek nuklir tersebut.

Setelah Perang Dunia II, Jepang kembali membangun negaranya dari puing. Dimulailah proyek pembangunan PLTN untuk tujuan damai. Sepuluh tahun setelah bom nuklir menghancurkan Jepang, tahun 1955, Jepang menandatangani kesepakatan pengayaan uranium dengan negara pengebomnya, Amerika Serikat. 21 tahun kemudian, atau tepatnya Juli 1966 mulailah pembangunan PLTN pertama di Jepang di Tokai Power Station. Pembangkit pertama dibangun justru oleh kontraktor dari Inggris. Kapasitasnya 166 MWe, relatif kecil untuk ukuran PLTN saat ini.[1] Dari kontraktor yang menangani PLTN tersebut itulah langkah pertama Jepang membangun PLTN berikutnya. Jepang belajar banyak dari proyek tersebut, dan kita tahu sendiri bahwa Jepang adalah pembelajar yang ulet.

Langkah kedua yang dilakukan Jepang setelah membangun PLTN tersebut adalah membentuk Join Venture antara swasta Jepang (Hitachi dan Toshiba) dengan kontraktor Amerika Generl Electric. Mereka membangun PLTN Light Water Reactor (LWR) pertama berkapasitas 357 MWe. Selanjutnya dalam selang waktu sejak 1970 s.d 1990 Jepang telah membangun 36 PLTN dengan total kapasitas 29 GW dan puncaknya pada tahun 2009 total kapasitas pembangkitan PLTN Jepang sudah mencapai hampir 50 GW, hanya sedikit lebih rendah dari total kapasitas pembangkitan Indonesia saat ini yang sekitar 52 GW[1].

Dalam masa membangun tersebut, rakyat Jepang menerima PLTN dengan terbuka. Tak ada kecelakaan di PLTN yang merenggut jiwa maupun berdampak luas. Memang ada beberapa kasus seperti kebocoran pipa dan adanya tiga buah pembangkit yang pernah shutdwon karena gempa, tapi semua aman dan terkendali. Para insinyur dipercaya menjalankan PLTN sesuai dengan kaidah ilmu yang telah dipelajarinya. Resiko PLTN dapat diminimalisir karena bangunan PLTN di Jepang tahan terhadap gempa berkekuatan tinggi sekalipun.

Tapi pada tanggal 11 Maret tahun 2011, sebuah gempa dahsyat terjadi di Jepang. Gempa tersebut berkekuatan 9 Skala Richter[2]. Tak ada kerusakan berarti di semua PLTN di Jepang. PLTN sekitar Fukushima shutdown secara otomatis. Control rod langsung masuk mendinginkan reaktor. Menjadi nature-nya tenaga nuklir, reaksi yang sudah terjadi tidak bisa langsung dihentikan, dibutuhkan pendinginan yang lama dan terus menerus agar panas yang timbul akibat reaksi fisi yang terjadi tetap terkendali. Saat itu PLTN tidak bisa memproduksi energinya sendiri untuk pendinginan sehingga menggunakan generator back up untuk memompa water cooling.

Ada ada hal yang terlupa oleh para engineer Jepang yang terkenal teliti dan sangat berdedikasi. Mereka tidak mempersiapkan bagaimana kalua PLTN terkena tsunami yang lebih tinggi lagi. Memang, generator backup masih bisa beroperasi dan memompa water cooling, tapi terjangan tsunami setinggi 15 meter menyebabkan generator terendam air sehingga rusak dan terjadilah pemasanan dan berakhir dengan adanya kebocoran reaktor yang berisi zat radioaktif.  Standar benteng tsunami PLTN Fukushima saat itu hanya 10 meter[3]. PLTN di Fukushima dibangun tahun 1970an, dan data yang digunakan adalah data tahun 1960-an sehingga prediksi tsunami saat itu tidak terlalu tinggi. Saat tsunami terjadi, 3 orang pekerja PLTN meninggal, tapi tak ada kaitannya dengan radioaktif.

Hari itu juga pemerintah mengumumkan status bencana nuklir, lebih dari 100 ribu penduduk diungsikan dalam radius 20km sekitar PLTN. Hingga saat ini, lokasi sekitar masih tak berpenghuni. Tim penanganan PLTN bekerja sangat keras dan beresiko untuk mengontrol pendinginan PLTN. Tapi tak ada korban jiwa dari dari Pekerja maupun warga sekitar akibat kecelakaan tersebut. Tapi konsekuensinya berdampak besar terhadap nasib 43 unit PLTN di Jepang.[1]

Tsunami yang melanda Fukushima juga menjadi “bencana” bagi PLTN yang lain. Semua PLTN dihentikan untuk sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan. PLTN yang tidak ada kerusakan dan sejarah kecelakaanpun semua ikut imbasnya. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang sangat ketat dan assessment harus dilaksanakan ulang terhadap semua PLTN. Site-site baru PLTN tidak mendapat izin dari Pemerintah.

***

Sebagai peserta training energy policy yang diselenggarakan oleh Japan Internantional Cooperation Agency, saya berkesempatan mengunjungi PLTN Hamaoka yang berada di daerah Shizuoka Prefecture, di pantai timur Jepang, sekitar 200 km dari Tokyo. Masuk ke area PLTN sudah terlihat pemeriksaan yang sangat ketat terhadap pengunjung dan kendaraan yang masuk. Kami ditunjukkan simulasi reactor PLTN di area exhibition center. Bentuknya dibuat menyerupai reaktor yang sebenarnya. Saya tidak terlalu berharap bisa melihat ke area PLTN karena setahu saya PLTN adalah salah satu obyek vital negara yang sangat sangat ekstra hati-hati penjagaannya.

hamaoka japan

Kunjungan ke PLTN Hamaoka Jepang

Tapi ternyata kami diajak masuk melihat, sebelumnya paspor di scan selama proses perkenalan di exhibition center. Saat masuk ke gerbang, pemandu kami yang juga GM operation PLTN melaporkan keberadaan kami di pos masuk dan kami diperbolehkan masuk ke ring-3 (istilah saya) yang punya akses terhadap tsunami wall yang berada di bibir pantai. Saat ini PLTN sedang melakukan perbaikan tsunami wall yang sebelumnya 18 meter menjadi 21 meter diatas permukaan laut, sesuai dengan regulasi dari Pemerintah. Sejak kecelakaan di Fukushima keempat unit PLTN Hamaoka di shutdown. Dua unit dalam tahap decommissioning, yang artinya sudah pasti berhenti operasi dan 2 unit lagi sedang dalam perbaikan untuk memenuhi regulasi pemerintah Jepang. Proses decommissioning PLTN memaka waktu 20 tahun, dan ini juga yang menjadi salah satu perbedaan mendasarnya dengan pembangkit yang lain, PLTN tidak bisa serta merta ditinggalkan dan dibongkar dengan cepat karena masih adanya zat radioaktif.

Setelah melihat tsunami wall, kami berkesempatan melihat hingga di luar bangunan reaktor. Pemeriksaan metal dan scanning tubuh dilaksanakan sebelum masuk area ini. Dari area tersebut nampak konstruksi sedang dilakukan untuk mengantisipasi adanya tsunami dan dampak setelah air masuk ke dalam area PLTN. Pintu-pintu masuk dalam plant diganti dengan yang tebal sehingga air tak bisa masuk. Ini lah mungkin yang disebut orang dikampung, “tutup pintumu supaya air banjir tidak bisa masuk”.

Tidak diperbolehkan mengambil gambar selama tur berlangsung, karena sangat terlarang. Yang pasti, pihak Engineer PLTN yang saat ini unitnya di shutdown hanya bisa berucap lirih “ tak ada dasar ilmunya sampai PLTN ini harus di shutwdown, semuanya karena pertimbangan non saintik”

***

Sejak seluruh PLTN shutdown di Jepang pada tahun 2011, PLTN digantikan oleh PLTU Batubara dan PLTG. Dalam 5 tahun itu, Jepang sukses melewati musim dingin dan musim panas tanpa pernah black out atau kekurangan daya. Publik di Jepang akhirnya berkesimpulan tak perlu ada PLTN lagi, karena semuanya baik-baik saja. Padahal Jepang sebenarnya di ambang krisis energi kalau tak mengoperasikan PLTN dalam waktu ke depan karena kemampuan internal Jepang untuk mensuplai dayanya sendiri hanya 6% dari total energi yang dibutuhkannya. Hampir tak ada batubara di Jepang, semuanya diimpor dari Australia dan Indonesia, demikian juga minyak dan gas, semuanya impor. Sebelumnya pada saat PLTN beroperasi Jepang bisa mensuplai sendiri 25% dari energi primernya.

Ditutupnya PLTN juga menyebabkan harga listrik yang dibayar konsumen menjadi lebih mahal dan defisit perdagangan Jepang meningkat. Jajak pendapat publik tak menunjukkan kemajuan berarti, tak ada Prefecture yang bersedia wilayahnya dibangun PLTN. Engineer berada dalam keadaan terjepit, opini masyarakat pasti diikuti oleh politisi karena pemilik hak suara ditentukan mereka. Padahal dalam sejarah panjang nuklir untuk kepentingan damai di Jepang dalam 50 tahun terakhir, tak  ada orang yang meninggal atau terkena kanker karena radiasi dari PLTN, semuanya baik-baik saja. Engineer Jepang punya tugas berat meyakinkan rakyat Jepang akan keamanan PLTN dan pentingnya PLTN untuk masa depan bangsa Jepang.

 

Salam dari Tokyo,

Juli 2016

Reference :

[1]          K. Shigimori, “Nuclear Energy Policy in Japan,” ed. Tokyo: The Institute of Energy Economics Japan, 2016.

[2]          USGS. (2011, 1 Juni). Magnitude 9.0 – NEAR THE EAST COAST OF HONSHU, JAPAN. Available: http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqinthenews/2011/usc0001xgp/

[3]          WNA. (2016). Fukushima Accident. Available: http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/fukushima-accident.aspx