Dari Aceh ke Skotlandia, Wanita yang Tak Pernah Menyerah

83436408_10221539533333127_7485479691886202850_o

Dia wanita yang menerjang tembok dan meninju langit. Cobaan tak henti menghampirinya tapi dia setangguh karang. Istri saya bertemu dengannya ketika sama-sama mengantri di Lidl, sekitar tahun 2014, beberapa bulan sebelum saya selesai sekolah dan meninggalkan Edinburgh.

Dia menyapa istri saya langsung berbahasa Indonesia. Istri saya kaget, tapi Bu Aida sepertinya sudah biasa begitu, menyapa orang yang berwajah melayu. Dia pikir istri saya orang Malaysia, seperti banyak mahasiswi yang dikenalnya.

Setelahnya dia mengajak ke rumahnya. Ternyata flatnya hanya terpisah 100 meter dari tempatku. Kesanalah Gawa sering nonton CBeebies karena kami tak punya TV. TV harus bayar licence di Inggris. Setelah beberapa kali berbincang, istri saya mengajak, papa harus mewawancara Bu Aida, pengalaman hidupnya luar biasa.

Jadilah kemudian saya ke flatnya. Beliau sudah usia pensiun. Sebelumnya bekerja di rumah sakit sebagai cleaning selama lebih dari 30 tahun. Di usia pension dia telah menjadi warga Negara Inggris. Mantan suaminya adalah Warga Scotland. Dia punya dua anak yang tinggal di Edinburgh.

Negara membiayai kehidupan pensiun Bu Aida dari asuransi yang dibayarnya selama dia bekerja. Dia disewakan flat dan diberi tunjangan setiap pekannya. Tak ada pendidikan formalnya, dia tak pernah sekolah SD, tapi kemudian dia bisa hidup di UK. Kisah perjalanan hidupnya berliku dan penuh tantangan, tapi beliau wanita yang tangguh.

Diselingi suara TV, berikut cerita yang bisa saya sarikan dari rekaman sekitar 30 menit yang saya punyai. Beberapa logatnya kurang saya mengerti, jadi beberapa bagian saya pakai asumsi untuk membuat ceritanya mengalir. Sambil bercerita, dia lebih banyak menertawakan penderitaannya.

Aida berasal dari Aceh. Ayahnya meninggal saat umurnya 4 bulan, dan Ibu meninggal di usia 4 tahun. Dia anak bungsu dari 5 bersaudara. Setelah orang tuanya meninggal, kakaknya yang pertama sering memukulnya. Akhirnya dia pergi dengan kakak nomor dua, tapi kehidupan kakaknya sangat pas-pasan. Kakaknya tak punya apa-apa. Dia kemudian diangkat anak oleh seorang baik bernama Tuanku M di Banda Aceh.

Lain Tuanku M, lain pula istrinya. Istrinya tak suka dengan si Aida kecil. Dia sering kena cubit, sampai di masa tuanya bekasnya masih kelihatan. Kata Bu Aida, dokter di Edinburgh sampai pernah bertanya kepadanya kenapa punya banyak bekas luka.

Jari-jarinya juga melengkung tak bisa lurus karena keseringan kena hukum ditekuk. Dia memperlihatkan sambil tersenyum, “macam jari penari”. Kemudian keluarga M pindah ke kota Mdn dan Aida juga pindah ke sana. Di sana juga dia selalu dipukuli.

Akhirnya dia melarikan diri pulang ke Aceh. Kemudian tinggal di rumah seorang inspektur Polisi. Suatu hari datang surat dari anak Tuanku M yang di Mdn. Dalam surat itu dia menganggap Aida kecil seperti adiknya sendiri, dan Aidapun kembali ke Mdn lagi.

Aida kemudian tinggal di Mdn bersama keluarga Tuanku M. Dia tak pernah sekolah, meski diam2 belajar membaca. Dan salah satu anak gadis Tuanku M yanh bernama Tengku Z menikah dengan anak seorang Sultan. Aida kemudian diikutkan oleh Keluarga Tengku Z masuk ke Malaysia sekitar 1962 dan tinggal di daerah Petaling Jaya. Di Malaysia pernah diajaknya kawin lari seorang perantau asal Medan yang suka kepadanya, tapi sang pria tak berani.

Lalu keluarga itu bersama Aida pindah ke Singapura dan tinggal di flat. Beberapa penghuni flat sekitar heran, kenapa flat tempat bu Aida selalu bising, “dia pukulin kita” kata Bu Aida. Seperti Ibunya, Tengku Z juga tak kalah garangnya, kata Bu Aida, suaminyapun sering dia labrak.

Berkenalanlah dia dengan seorang perantau lain asal Aceh bernama Ramlah. Dan dari sanalah dia merencanakan lari dari keluarga Tengku Z. Awalnya mereka berdua berniat untuk melaporkan ke polisi, tapi tak jadi, resikonya lebih besar bagi mereka.

Akhirnya Aida berhasil pergi. Ramlah bekerja pada penjual nasi dan menikah dengannya. Aida kerja di sebuah toko orang India. Waktu dia lari paspornya sebenarnya masih ditahan di lemarinya Tengku Z. Tapi untung dia masih punya KTP. Setelah 13 tahun di Singapur. Suatu hari dia diajak oleh temannya ke Johor Bahru. Tapi ketika mau masuk Singapur dia tertahan di Johor karena working permitnya sudah habis.

Ada temannya yang mengajaknya bekerja di bar, dan saat hari pertama di bar itulah dia bertemu dengan suaminya yang orang Scotlandia. Saat itu dia belum bisa bahasa Inggris.

Kemudian mereka menikah dan boyong ke Scotland. Bu Aida kemudian bekerja di Rumah Sakit di Scoltand sebagai cleaning. Kwarganegaraannya juga berubah, sudah menjadi warga negara UK. Saat Scotland Referendum, dia ada diantara para imigran yang mendukung Scotland berpisah dari UK. Setelah menikah dan punya anak, cobaan tak berhenti. Suaminya selingkuh yang didapatinya sendiri di dalam rumahnya. Dia kemudian menggugat cerai.

Nama-nama di atas sengaja saya kaburkan karena ternyata setelah saya googling dan tracking keluarga yang ditgempati Bu Aida adalah salah satu keluarga kerajaan di Sumatera, persis dengan yang diceritakan Bu Aida nama-namanya.

“Anak kakak angkat saya meninggal saat bertugas menerbangkan pesawat saat menolong ketika bencana terbesar abad ini menimpa dunia”, begitu kira-kira bu Aida bercerita.

Ternyata di balik aktor-aktor utama yang tampil, bisa jadi ada pemain figuran yang babak belur dan menyimpan cerita penuh derita hingga berpuluh tahun.

***

Setelah saya pulang ke Indonesia, saya masih sempat berkabar dengan Bu Aida. Dia tak bisa medsosan dan hanya punya HP analog. Tiga kali kami berkirim surat. Dia sangat senang, tapi di balik ceritanya dia bilang matanya mulai kabur, khususnya yang sebelah kiri. Pernah juga saya titip emping lewat Aulia, kawan yang ikut wisuda ke Edinburgh.

Bu Aida lebih banyak menghabiskan waktunya beribadah. Jumatan biasanya di Central Mosque Edinburgh dan bercengkerama dengan orang Indonesia atau Malaysia di sana. Bu Aida juga sudah pernah menunaikan Ibadah haji.

Tanggal 29 Mei, warga Indonesia di Edinburgh, Bu Yufrita, mengabarkan kalau dia menemukan Bu Aida terbaring di pintu kamar mandi dalam keadaan setengah sadar, dia kemudian membawanya ke rumah sakit untuk perawatan. Meski masih ceria tapi keadaannya makin memburuk.

Dan Pagi ini, saya mendengar kabar duka dari Edinburgh. Bu Aida telah berpulang setelah memenangkan segala rintangan hidupnya.

Padanya kita bisa belajar, kesabaran, keberanian dan keteguhan hati. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Selamat jalan Bu Aida. Al Fatihah.

Setelah kemarin seorang sahabat berpulang dan akan selalu saya ingat karena kebaikannya, hari ini seorang wanita teguh telah juga berpulang.

Keduanya memberi kenangan pada saya. Dengan apa kita akan dikenang ketika pergi?

 

Anak Muda Palsu

Sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa untuk menyamarkan dan melindungi identitas teman-teman di Ramsis, nama yang saya tulis adalah nama samaran.Kalau ada yang mirip dan anda kenal, itu kebetulan belaka.

Setiap malam ruang TV Asrama Mahasiwa (Ramsis) Blok 2AB selalu ramai. Tapi tidak malam itu. Malam itu adalah malam minggu. Hampir semua kamar kosong. Lampu mati. Yang tersisa hanya nyong-nyong Ambon yang tak pernah lepas matanya dari tabung TV, bahkan lebih banyak tidur di ruang TV daripada di kamarnya.

Malam itu sepertinya semua sepakat keluar bermalam minggu. Semua maunya kelihatan ada acara.

Adde kemungkinan sedang mengantar mangga dari Kadidi ke rumah seseorang. Alim dan Sigit sedang ke rumah temannya menghafal nama-nama latin tulang tengkorak. Saya biasanya ke himpunan, ke Wisma Pelangi, atau ke tempat yang tak perlu saya ceritakan, adalah pokoknya. Sementara, Rahmat sedang ngapel di rumah seniornya.

Yang lain mengaku sedang ada acara ke kosan atau rumah pacarnya. Bahkan Adi yang terkenal sudah berkali-kali ditolak oleh anak Ramsis putri yang kebetulan sejurusannya juga tak tampak batang hidungnya.

Tersisa hanya tiga orang. Mereka berusaha menegakkan harga dirinya karena tak punya acara malam minggu. Mereka adalah Sunan, Ilmi dan Bunbun.

Tak lama Sunan pamit ke kamarnya. Dia kemudian keluar dari kamarnya dalam keadaaan rapi.

Dia berkemeja, baju masuk ke celana, memakai sepatu dan beraroma parfum. Lampu kamarnya mati, dia mengirimkan sinyal sebuah tanda-tanda tak ada orang. Kelihatannya malam itu spesial baginya.

“Kerumahnyaka’ cewekku di Cendrawasih dulu cess” Katanya pamit kepada Ilmi dan Bunbun yang hanya bisa merutuki nasib.

Sunan turun dari tangga, kemudian menunggu pete-pete di depan Ramsis. Bau parfumnya menyengat Bunbun. Dia menghentikan pete-pete 05 arah Cendrawasih. Ilmi mengintip dari jauh.

Sekitar setengah jam kemudian, Ilmi dan Bunbun tak tahan di Ramsis. Mereka jalan kaki keluar makan nasi goreng Sabili di pintu 2 Unhas.

Setelah makan Nasi Goreng mereka singgah di Wartel depan Rumah Sakit Wahidin.

Mereka masuk ke wartel. Wartel ramai sekali di malam Minggu. Saat ada yang keluar Ilmi masuk ke bilik terdekat.

Saat akan memutar nomor yang dituju, matanya menangkap sosok akrab di sampingnya. Ilmi tak jadi menelpon, dibukanya pintu wartel di sebelah, sambil berseru :

“PALSUUUU”.
Sunan tertangkap tangan tak kemana-mana. Senyumnya lebih asem dari langsat kacci.

Sejak saat itu, jika ada yang mati lampu kamarnya di malam minggu akan diteriaki

PALSUUU !!!

Itulah salah satu kisah anak muda palsu yang ori, selain yang tayang di bioskop.

#ceritaramsis

Ahmad Amiruddin

Cerita Penjaga Warnet

STeaM Net

Di akhir masa kuliah saya, senior-senior di Ramsis, Kak Jarre’ Daeng Jarr, kak Sultan Syam, kak Iqbal Mukaddas mendirikan warnet. Warnet kala itu lagi menjamur di Makassar dan juga di Indonesia.

Ilustrasi Warner

Para senior ini adalah alumni Teknik ’90 yang dulunya punya standplast di atas gedung Teknik Tamalanrea yang dinamakan Steam, senior team (edit steja anak mesin). Dan dari sinilah nama warnet tersebut berasal. Mereka sebenarnya super senior saya di Teknik. Panitia pozma saya yang paling jagoan sekalipun akan tunduk dan tabe’-tabe’ sama senior ini.

Mahasiswa jaman itu senang ke warnet cari bahan kuliah, belajar, baca 17tahundotcom, atau nonton gambar bergerak 18+. Penjaga warnet melakukan semua itu dan juga main MiRC, jenis medsos paling jadul yang pernah ada. MiRC dipakai buat cari jodoh, dan memang banyak yang dapat jodoh dari sana.

Kami di Ramsis diberi kesempatan untuk menjaga warnet di Steam Net. Saya, Andi Makkuradde N, Ukan, Sarjan Moeh, dan masih banyak lagi diberi waktu untuk jaga. Tentu kami dapat gaji dari Kak Jarre setelah jaga.

Lokasi warnet di jalan Oerip Sumiharjo, berdekatan dengam Apotik Maccini Farma dan warung Coto Maros yang enak. Sesekali kalau ke Makassar cobalah.

Pernah suatu malam, sambil jaga saya duduk di depan warnet, di atas motor GL Pronya kak Jarre. Tiba-tiba mendekat tiga pemuda tanggung.

“Ada interne’ di dalang?”

Syaraf saya langsung berdesir, logat dan tekanan suaranya sangat familiar. Saya teringat diri sendiri dan lebih-lebih teringat sahabat saya Ompe’.

“pasti dari Sidra’ ya?” kata saya

“iye, SMK Sidra’ lagi pe es ge”

“Wa cocokmi, sama darita, masukmaki'” kata saya.

**

Di lain waktu, suatu siang warnet sedang ramai. Tiba-tiba seorang mahasiwi yang lagi internetan, kayaknya anak ramsis putri, memanggil yang berjaga dengan suara panik. Anak ramsis putri memang suka teriak 😅😅. Beberapa orang tampak menonjolkan kepala dari balik pembatas karena penasaran. Dia tambah panik.

Saya mendekat, dia menunjukkan gambar laki-laki tanpa busana yang terus menerus muncul. Semakin di klik malah semakin banyak adegan. Dia klik tombol X malah makin banyak gambar tak senonoh yang muncul.

Saya mau ketawa, tapi takut menyinggung. Sementara dari bilik lain, terdengar suara menahan ketawa.

“Bukan saya yang buka” Katanya membela diri. Suaranya memelas, mukanya memerah. tangannya meraih ujung jilbabnya menutupi sebagian wajahnya.

“Sumpah”

“Iye, memang biasa begitu” kata saya

Mungkin dipikirnya saya bilang

“iye memang biasa ndak ada yang mengaku”

Dalam sekejap dia pergi, berusaha menyembunyikan dirinya dari pandangan pengunjung lain .

Padahal memang sebenarnya itu hasil bukaan yang masuk sebelumnya. Buka gambar begitu harus pintar membedakan tombol close sebenarnya dan jebakan. Tapi, itulah resikonya kalau lupa clear cache.

#ceritaramsis

Ahmad Amiruddin