Fiksi Alat Penghemat Listrik

Tahun 2000. Dia mengetuk pintu kamarku dengan tergesa. Kubuka pintu, ditangannya ada handphone. Tangannya keliatan bergetar, darah nampaknya menghilang dari wajahnya, campuran panik dan gelisah.

“Ada uangmu di rekening BNI, dua ribu?” katanya dengan gusar.

“Aiii, ndak ada, kenapakah?” kata saya penasaran.

Sambil menunjukkan teks di HPnya dia bilang, saya dapat hadiah, orangnya sudah saya telpon, saya akan dapat sepuluh juta, tapi harus ke ATM dulu dan minimal punya saldo dua ratus ribu.

Duit sepuluh juta, bagi anak Asrama Mahasiswa (Ramsis) yang berhutang tiap hari di warung Kak Tina adalah kemewahan yang luar biasa. Sepuluh juta itu senilai SPP 5 tahun atau bisa membebaskan kami makan minimal setahun di warung Kak Tina.

Tapi saya merasa kawan saya ini dalam bahaya penipuan. Jadi saya memberi tahu. Saya, kalaupun punya uang di rekening, tak akan melayani SMS kayak gitu. Itu kemungkinan penipuan. Dan kita sama mafhum, penipuan SMS memang berlangsung saat itu.

Orang mudah terpedaya oleh janji-janji. Dijanji sepuluh juta dengan memberi uang dahulu dua ratus ribu. Memang itu sifat manusia. Percaya pada janji-janji lah yang membedakan manusia dengan simpanse. Begitu kata Yauval Noah Harari. Manusia bisa maju karena percaya fiksi. Bisa menunda keinginan dengan harapan akan  ada yang lebih baik. Simpanse yang dijanji dapat pisang satu truk besok asal tak mengambil pisang di depannya akan lebih memilih satu pisang di depan mata.

Sifat dasar manusia inilah yang diserang tukang jualan berkedok alat atau kartu yang bisa menghemat energi.

***

Alat penghemat listrik hadir dengan janji-janji. Anda investasi 400 ribu, bisa untuk menghemat hingga jutaan nantinya. Terdapat dua jenis produk yang diklaim bisa menghemat energi. Yang pertama adalah kartu-hemat-energi, yang kedua adalah alat-pengemat-energi. Prinsip kerja keduanya berbeda, tapi janjinya sama, dapat menghemat listrik.

Kartu-hemat-energi, diklaim bisa menghemat energi listrik, menghemat penggunaan bahan bakar, mengobati hernia bahkan menurunkan panas. Dia bisa ditempel di meter listrik, di tangki bahan bakar, bagian yang sakit, juga di kepala. Harganya sekitar Rp. 350 ribu dan diperdagangkan dengan sistem MLM. Kalau membeli banyak bisa dapat diskon, hingga hanya seharga Rp. 200 ribu per kartu. Penjualnya dengan yakin akan menjelaskan bahwa listrik bisa dihemat hingga 30% dengan kartu ini. Cukup tempel saja di meteran listrik. Bisa juga digunakan di tangki kendaraan dengan bahan bakar apapun, premium, pertamax, pertalite, atau solar. Benar-benar sakti.

Tapi itu tak mungkin benarlah, dan sudah saya jelaskan di Hoax kartu sakti.

 

beer

Sedangkan alat-penghemat-energi jenisnya beda lagi. Alat ini sudah beredar lama di Indonesia. Mungkin sudah lebih sepuluh tahun. Dan iya, sudah banyak yang complain. Metode penjualannya sampai ke pintu-pintu rumah berbekal surat yang diklaim dari instansi yang berwenang yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan klaim mereka.

Ada beberapa istilah yang sering disebut dalam iklan-iklan alat penghemat energi, yaitu daya aktif, daya reaktif dan faktor daya. Untuk mempermudah penjelasan analoginya seperti pada gambar yaitu segelas bir :p. (contohnya nganu banget, tapi ini yang paling sering dipakai)

Daya yang betul-betul berguna adalah daya aktif atau real power. Daya ini yang mengangkat beban, memutar motor, menggerakkan mesin, membuat lampu memancarkan sinar. Intinya inilah daya yang memang berguna. Kalo pada contoh bir, itulah yang diminum.

Daya reaktif adalah daya yang tidak jadi kerja nyata, tapi diperlukan untuk proses elektromagnetik pada mesin listrik. Contoh kalau pada gelas bir adalah busanya. Total dari daya yang ada adalah daya total atau apparent power satuannya kVA.

Sementara faktor daya adalah perbandingan antara daya aktif dengan daya reaktif. Faktor daya ini akan selalu ada dalam listrik bolak balik. Seandainya daya reaktifnya nol maka faktor dayanya adalah nol. Nilai yang ideal adalah semakin mendekati satu atau semakin kecil daya reaktifnya, atau pada segelas bir diatas semakin sedikit gelembungnya.

Alat penghemat listrik diklaim bisa menurunkan pemakaian listrik dengan alasan bahwa dia mengurangi daya semu atau daya reaktif. Sekilas klaim ini nampak benar. Tapi yang terjadi adalah penurunan daya semu tidak berpengaruh terhadap daya aktif. Semakin sedikit gelembung pada bir tidak berpengaruh pada birnya sendiri, tetap saja yang bisa digunakan adalah yang ada.

Tapi daya semu ini pada titik tertentu juga berpengaruh, khususnya pada pelanggan industri yang menggunakan mesin-mesin listrik. Mesin-mesin listrik menarik daya reaktif karena adanya proses elektromagnetik pada mesin-mesin. Itulah sebabnya PLN mensyaratkan untuk pelanggan industri yang faktor dayanya kurang dari 0.85 agar membayar biaya daya reaktif, selain harus membayar biaya daya aktif nya. Kalau pada rumah tangga yang dibayar adalah daya aktifnya saja, karena penggunaan peralatan mesinnya tidak terlalu banyak.

Pada industri, untuk memperbaiki faktor daya, mereka menggunakan capasitor, agar daya reaktif tidak perlu semuanya ditarik dari PLN, dan tidak membayar biaya daya reaktif. Metode inilah yang ditiru oleh penjual alat penghemat listrik.

Hanya saja iklannya bisa menyesatkan, karena diiklankan bisa menghemat hingga 30% dari pembayaran bulanan. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal karena bagaimanapun daya aktif yang dibayar, itulah yang dibutuhkan oleh peralatan listrik untuk bekerja normal.

Secara keilmuan listrik alat ini memang tak menghemat penggunaan listrik. Kalaupun berguna, bisa saja hanya memperbaiki faktor daya. Dari tulisan saya sebelumnya di : https://taroada.com/2014/12/27/bener-nih-alat-penghemat-listrik-bisa-bikin-hemat/

Beberapa kesimpulan yang bisa saya ambil adalah :

  1. “Alat Penghemat Listrik” bukanlah penghemat listrik, bisa jadi merupakan alat Power Factor Correction. Kemungkinan bisa memperbaiki faktor daya dengan metode koneksi tertentu namun tidak didesain untuk menghemat listrik. Peralatan semacam ini umum digunakan pada konsumen besar untuk power factor correction.
  2. Efek signifikan terhadap penurunan tagihan listrik secara teoritis sangat kecil.
  3. Cara terbaik untuk mengurangi pembayaran rekening listrik adalah mengganti beban dengan daya yang lebih rendah, menggunakan listrik seperlunya dan berhemat menggunakan listrik.
  4. “Alat Penghemat Listrik” dapat meningkatkan faktor daya
  5. “Alat Penghemat Listrik” dapat mengurangi rugi daya di kabel.
  6. “Alat Penghemat Listrik” dapat mengoptimalkan daya berlangganan pada PLN

Kasih tahu temannya yang belum tahu ya. 😀

 

 

 

Advertisements

Hoax Kartu Sakti Hemat Energi dan Sains Oplosan

Oleh : Ahmad Amiruddin

37070666_10215565314701395_8804931004046245888_o

Setiap muncul fenomena seperti ini, komentar kritis kayak saya biasanya dibalas “kamu sudah bikin apa?” “sudah bagus mereka mau berinovasi, kamu hanya bisa mengkritik”.

Iming-iming hemat energi, dan harga yang murah membuat banyak orang memesan kartu ini. Meski nampak absurd banget, dilihat dari cara pemakaiannya dan klaim hematnya tetap saja banyak yang memesannya. Ada yang bersaksi benar bisa menghemat listrik, tapi banyak yang kecewa.

Simak promosinya pada salah satu website :

“Terjadi pemborosan listrik antar kabel di kotak sekering dan stang meter. Pemborosan listrik yang besar ini dapat dikendalikan dengan menggunakan energi yang diisikan ke dalan kartu. Konsep Kartu Sakti adalah menciptakan gelombang getaran melalui sistem energi yang tersimpan di dalam kartu. Energi ini cukup kuat untuk mempengaruhi peningkatan arus listrik berlebihan yang menjadi penyebab utama pemborosan listrik sekaligus mengubah energi pemborosan menjadi energi yang dapat digunakan.”

Cara menggunakannya gampang sekali, cukup ditempel di meteran listrik. Bahkan diklaim juga bisa menghemat bahan bakar minyak dengan ditempel ditangki motor. Jaminan 5 tahun.

Jika mendengar ini, Michael Faraday dan Nikola Tesla bisa bangkit jadi pocong, kemudian minum baygon.

Segampang itukah energi dihemat? Segampang Bowo Tik Tok mendapat banyak follower? Lebih mudah dari itu kalau versi kartu ini.

Tak usah kita bicara hemat BBM dengan cara ditempel tadi, karena proses pembakaran itu kasat mata, jadi tak mungkinlah barang ditempel di tangki bisa mempengaruhi proses pembakaran yang terjadi diruang bakar mesin. Nonsense dan hoax kelas picisan kalo itu bisa menghemat bahan bakar.

Sekarang kita bicara bagaimana caranya dia bisa dianggap menghemat listrik. Listrik tak kasat mata, jadi kemungkinan masih lebih besar dibanding dengan BBM.

Supaya agak nyambung, buat yang awam saya kasih pengantar sedikit.

Listrik yang kita pakai di rumah adalah bentuk energi sekunder. Sebelum jadi listrik dia adalah energi lain, sebagian besar adalah energi kinetik (energi gerak). Sebelum jadi energi kinetik bisa jadi dia tersimpan dalam energi kimia (batubara dan minyak) atau energi potensial (air) atau memang sudah dalam bentuk kinetik kayak angin. Ada juga jenis energi foton seperti surya.

Intinya adalah energi listrik dirubah dari energi lain. Jadi listrik tidak ujug-ujug muncul begitu saja. Seperti Hukum Kekekalan Energi bilang energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, hanya bisa dirubah bentuknya saja.

Listrik yang dari PLN masuk ke dalam rumah kita melalui meteran listrik, setiap kWh yang masuk dihitung oleh dia. Sumber energinya dari pembangkit PLN yang ditransfer melalui kabel.

Nah pada listrik sendiri, energi adalah perkalian antara tegangan (V) , arus (I), faktor daya (cos phi) dan waktu pemakaian (t), satuannya watt hour atau (wh)

E = V*I*cos phi*t

Sementara daya adalah
Tegangan dikali arus dikali faktor daya.
P = V*I*cos phi

Jadi bisa juga E = P*t

***

Kalau kartu ini dianggap bisa menghemat maka dia harus melakukan salah satu diantara kemampuan ini : menurunkan arus yang masuk atau menambahkan arus ke dalam rumah melalui kartunya. Bagaimana caranya dia bisa? Gak tahu, mungkin lewat mantra-mantra.

Listrik bisa timbul dari pergerakan elektromagnetik, pada kartu ini katanya pergerakan ion negatif. Tapi ion negatif ini gak mungkin jalan-jalan sendiri kayak ABG di mall kalau medianya tak ada dan tak ada pemicu eksternal. Contoh dekat adalah sel surya, dia harus dipicu energi foton dari matahari, itupun bahannya harus dari kristal, daya keluarannya relatif kecil dan butuh tempat yang luas baru bisa signifikan.

Nah ini, cuman ditempel saja, ujug-ujug bisa bikin hemat.

Cara pemakaian kartu ini, memang agak menggelikan untuk dipercaya. Kalau anda heran kenapa banyak orang Indonesia jadi follower Mimi Peri, maka kenyataan bahwa orang percaya dengan menempel kartu diatas kwh meter maka listrik bisa dihemat juga sama menyebalkannya.

Apa hubungannya coba, menempelkan kartu dengan arus, tegangan dan faktor daya?

Arus hanya akan timbul kalau ada tegangan (beda potensial) dan rangkaian tertutup. Kita taruh kartunya diatas kwh meter, bagaiamana caranya dia bisa mempengaruhi besaran arus dan tegangan yang diukur kwh meter. Tak ada media penghantarnya dan tak ada beda potensial di kartu itu, mau dapat darimana beda potensialnya sementara kutubnya saja tak tahu dimana.

Mungkin ada teori nanti akan ada gelombang elektromagnetik yang dipancarkan kartu yang dapat mempengaruhi meteran. Bagaimana caranya gelombang itu muncul? dari mana sumbernya? kenapa bisa teratur pancarannya? komponen apa yang dipengaruhi? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa jadi satu chanel you tube yang mengalahkan Gen Halilintar kalo bisa dijawab.

Tapi karena tetap harus diuji, di foto terlihat hasil uji PLN, hasilnya sebelum dan sesudah alat ini dipasang, padahal tanpa diujipun secara rumus listrik gak mungkin ada pengaruh benda statis begitu terhadap pengukuran. Hasil pengujian menunjukkan tegangan, arus, energi dan harmonisa sama sebelum dan sesudah kartu ini ditempel. Mungkin kalau nempel koyo di jidat lebih ada pengaruhnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Dirjen Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan sendiri sudah mengatakan kalo kartu ini ilegal.

Apa yang diiklankannya tak sesuai dengan kenyataan dan akan merugikan konsumen.

Kartu sakti ini asli kartu Hoax dan marketingnya sungguh tahu psikologis pasar. Menawarkan sesuatu yang baru hasil penelitian, ditambah testimoni, jadilah paket pembohongan itu diproduksi, dan lakulah kartu tak berguna itu.

Terus kan ada yang bersaksi benar bisa menghemat. Itu bukan karena kartu ini pastinya, bisa saja waktu itu dia pakai listriknya sedikit, misalnya gak mau nonton TV lagi karena timnya tersingkir di babak awal Piala Dunia.

Sains Oplosan

Setiap muncul fenomena seperti ini, komentar kritis kayak saya biasanya dibalas “kamu sudah bikin apa?” “sudah bagus mereka mau berinovasi, kamu hanya bisa mengkritik”.

Fenomena kartu sakti ini mirip beberapa sains oplosan sebelumnya. Kayak proyek blue energi jaman old, generator bahan bakar air dan alat penghemat listrik.

Intinya “inovasi” ini muncul tidak melalui uji sains yang benar. Semua penemuan baru harus bisa diuji dan dikritisi, kalau tidak dia tidak akan pernah bisa diakui dan potensial merugikan orang awam. Itulah gunanya kita belajar rumus-rumus. Rumus-rumus itu bisa dijadikan acuan karena melalui serangkaian uji secara empirik maupun matematis baru dia bisa berdiri kokoh dan diterima.

Sekarang bukan jamannya Galielo lagi, dimana ilmu pengetahuan dikungkung oleh dogma-dogma. Penemuan, kalau dia memang mengikuti hukum fisika, akan diterima dan akan menjadi primadona.

Kalau dikritik dan disuruh uji lab saja tak mau, bagaimana hitung-hitungannya bisa diakui. Kalau baru ditanya mana hitungannya saja sudah tak bisa menunjukkan, bagaimana kita bisa percaya. Apalagi kalau bentuk “inovasi”nya sudah berlawanan dengan Hukum-hukum listrik dan hukum thermodinamika.

Suatu saat ada yang menawari alat penghemat listrik. Alat ini bukanlah kayak kartu yang dijual, tapi memang bisa dicolokkan di stop kontak rumah, dan diiklankan bisa menghemat listrik. Harganya sekitar 400ribu.

Secara rangkaian listrik kita tahu bahwa itu bukan alamat penghemat listrik, tapi bisa untuk memperbaiki faktor daya di rumah. Sedikit ada pengaruhnya, namun tak signifikan menghemat pembayaran listrik.

Saat bosnya ditanya untuk mempresentasikan isi dalamnya dan hitungannya, dia malah menunjukkan foto alatnya sudah dipakai Jenderal, dan foto-foto pembesar yang memegang alatnya.

Dan foto itulah yang dia gunakan untuk beriklan. Kekuatan public figure yang dicaplok namanya membuat masyarakat awam percaya. Padahal, tak mungkin secara ilmu listrik alat ini bisa menghemat listrik hinggal level 30% seperti yang diiklankannya. Hemat hingga 1% saja saya masih skeptis. Kenapa? alat tersebut tak pernah diuji di laboratorium Universitas atau lembaga yang kredibel, dan berdasarkan pelajaran rangkaian listrik itu untuk memperbaiki faktor daya.

Sains oplosan ini diproduksi untuk kepentingan ekonomi dan ada juga untuk kepentingan pencitraan. Kita senang mendengar kabar baik, tapi daya kritis harus tetap dipelihara.

Seandainya dunia ini adalah Marvel Universe maka bisa jadi kartu itu memang sakti. Kalau itu yang terjadi saya akan minta Doktor Strange menggunakan time stone, agar ada ulangan semifinal Piala Dunia 2018 supaya “football is coming home”. 😀

salam taroada.com

Hendak kemana PLTN Jepang?

PLTN Fukushima

                        Pekerja PLTN Fukushima (gambar : AFP/Getty)                     

Meski bangsa Jepang terkenal gagah berani dan hampir tak kenal takut, tapi merkea punya trauma mendalam terhadap satu hal, Nuklir. Di bulan Agustus tahun 1945 dalam waktu hanya berselang 3 hari, dua bom nuklir di jatuhkan oleh tentara Amerika di dua kota, Nagasaki dan Hiroshima. 129.000 orang meninggal, sebagian meninggal saat itu juga, sebagian lagi meninggal karena penyakit dan radiasi. Lebih mengenaskannya, para korban adalah warga sipil. Setelahnya jutaan orang Jepang trauma dengan efek nuklir tersebut.

Setelah Perang Dunia II, Jepang kembali membangun negaranya dari puing. Dimulailah proyek pembangunan PLTN untuk tujuan damai. Sepuluh tahun setelah bom nuklir menghancurkan Jepang, tahun 1955, Jepang menandatangani kesepakatan pengayaan uranium dengan negara pengebomnya, Amerika Serikat. 21 tahun kemudian, atau tepatnya Juli 1966 mulailah pembangunan PLTN pertama di Jepang di Tokai Power Station. Pembangkit pertama dibangun justru oleh kontraktor dari Inggris. Kapasitasnya 166 MWe, relatif kecil untuk ukuran PLTN saat ini.[1] Dari kontraktor yang menangani PLTN tersebut itulah langkah pertama Jepang membangun PLTN berikutnya. Jepang belajar banyak dari proyek tersebut, dan kita tahu sendiri bahwa Jepang adalah pembelajar yang ulet.

Langkah kedua yang dilakukan Jepang setelah membangun PLTN tersebut adalah membentuk Join Venture antara swasta Jepang (Hitachi dan Toshiba) dengan kontraktor Amerika Generl Electric. Mereka membangun PLTN Light Water Reactor (LWR) pertama berkapasitas 357 MWe. Selanjutnya dalam selang waktu sejak 1970 s.d 1990 Jepang telah membangun 36 PLTN dengan total kapasitas 29 GW dan puncaknya pada tahun 2009 total kapasitas pembangkitan PLTN Jepang sudah mencapai hampir 50 GW, hanya sedikit lebih rendah dari total kapasitas pembangkitan Indonesia saat ini yang sekitar 52 GW[1].

Dalam masa membangun tersebut, rakyat Jepang menerima PLTN dengan terbuka. Tak ada kecelakaan di PLTN yang merenggut jiwa maupun berdampak luas. Memang ada beberapa kasus seperti kebocoran pipa dan adanya tiga buah pembangkit yang pernah shutdwon karena gempa, tapi semua aman dan terkendali. Para insinyur dipercaya menjalankan PLTN sesuai dengan kaidah ilmu yang telah dipelajarinya. Resiko PLTN dapat diminimalisir karena bangunan PLTN di Jepang tahan terhadap gempa berkekuatan tinggi sekalipun.

Tapi pada tanggal 11 Maret tahun 2011, sebuah gempa dahsyat terjadi di Jepang. Gempa tersebut berkekuatan 9 Skala Richter[2]. Tak ada kerusakan berarti di semua PLTN di Jepang. PLTN sekitar Fukushima shutdown secara otomatis. Control rod langsung masuk mendinginkan reaktor. Menjadi nature-nya tenaga nuklir, reaksi yang sudah terjadi tidak bisa langsung dihentikan, dibutuhkan pendinginan yang lama dan terus menerus agar panas yang timbul akibat reaksi fisi yang terjadi tetap terkendali. Saat itu PLTN tidak bisa memproduksi energinya sendiri untuk pendinginan sehingga menggunakan generator back up untuk memompa water cooling.

Ada ada hal yang terlupa oleh para engineer Jepang yang terkenal teliti dan sangat berdedikasi. Mereka tidak mempersiapkan bagaimana kalua PLTN terkena tsunami yang lebih tinggi lagi. Memang, generator backup masih bisa beroperasi dan memompa water cooling, tapi terjangan tsunami setinggi 15 meter menyebabkan generator terendam air sehingga rusak dan terjadilah pemasanan dan berakhir dengan adanya kebocoran reaktor yang berisi zat radioaktif.  Standar benteng tsunami PLTN Fukushima saat itu hanya 10 meter[3]. PLTN di Fukushima dibangun tahun 1970an, dan data yang digunakan adalah data tahun 1960-an sehingga prediksi tsunami saat itu tidak terlalu tinggi. Saat tsunami terjadi, 3 orang pekerja PLTN meninggal, tapi tak ada kaitannya dengan radioaktif.

Hari itu juga pemerintah mengumumkan status bencana nuklir, lebih dari 100 ribu penduduk diungsikan dalam radius 20km sekitar PLTN. Hingga saat ini, lokasi sekitar masih tak berpenghuni. Tim penanganan PLTN bekerja sangat keras dan beresiko untuk mengontrol pendinginan PLTN. Tapi tak ada korban jiwa dari dari Pekerja maupun warga sekitar akibat kecelakaan tersebut. Tapi konsekuensinya berdampak besar terhadap nasib 43 unit PLTN di Jepang.[1]

Tsunami yang melanda Fukushima juga menjadi “bencana” bagi PLTN yang lain. Semua PLTN dihentikan untuk sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan. PLTN yang tidak ada kerusakan dan sejarah kecelakaanpun semua ikut imbasnya. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang sangat ketat dan assessment harus dilaksanakan ulang terhadap semua PLTN. Site-site baru PLTN tidak mendapat izin dari Pemerintah.

***

Sebagai peserta training energy policy yang diselenggarakan oleh Japan Internantional Cooperation Agency, saya berkesempatan mengunjungi PLTN Hamaoka yang berada di daerah Shizuoka Prefecture, di pantai timur Jepang, sekitar 200 km dari Tokyo. Masuk ke area PLTN sudah terlihat pemeriksaan yang sangat ketat terhadap pengunjung dan kendaraan yang masuk. Kami ditunjukkan simulasi reactor PLTN di area exhibition center. Bentuknya dibuat menyerupai reaktor yang sebenarnya. Saya tidak terlalu berharap bisa melihat ke area PLTN karena setahu saya PLTN adalah salah satu obyek vital negara yang sangat sangat ekstra hati-hati penjagaannya.

hamaoka japan

Kunjungan ke PLTN Hamaoka Jepang

Tapi ternyata kami diajak masuk melihat, sebelumnya paspor di scan selama proses perkenalan di exhibition center. Saat masuk ke gerbang, pemandu kami yang juga GM operation PLTN melaporkan keberadaan kami di pos masuk dan kami diperbolehkan masuk ke ring-3 (istilah saya) yang punya akses terhadap tsunami wall yang berada di bibir pantai. Saat ini PLTN sedang melakukan perbaikan tsunami wall yang sebelumnya 18 meter menjadi 21 meter diatas permukaan laut, sesuai dengan regulasi dari Pemerintah. Sejak kecelakaan di Fukushima keempat unit PLTN Hamaoka di shutdown. Dua unit dalam tahap decommissioning, yang artinya sudah pasti berhenti operasi dan 2 unit lagi sedang dalam perbaikan untuk memenuhi regulasi pemerintah Jepang. Proses decommissioning PLTN memaka waktu 20 tahun, dan ini juga yang menjadi salah satu perbedaan mendasarnya dengan pembangkit yang lain, PLTN tidak bisa serta merta ditinggalkan dan dibongkar dengan cepat karena masih adanya zat radioaktif.

Setelah melihat tsunami wall, kami berkesempatan melihat hingga di luar bangunan reaktor. Pemeriksaan metal dan scanning tubuh dilaksanakan sebelum masuk area ini. Dari area tersebut nampak konstruksi sedang dilakukan untuk mengantisipasi adanya tsunami dan dampak setelah air masuk ke dalam area PLTN. Pintu-pintu masuk dalam plant diganti dengan yang tebal sehingga air tak bisa masuk. Ini lah mungkin yang disebut orang dikampung, “tutup pintumu supaya air banjir tidak bisa masuk”.

Tidak diperbolehkan mengambil gambar selama tur berlangsung, karena sangat terlarang. Yang pasti, pihak Engineer PLTN yang saat ini unitnya di shutdown hanya bisa berucap lirih “ tak ada dasar ilmunya sampai PLTN ini harus di shutwdown, semuanya karena pertimbangan non saintik”

***

Sejak seluruh PLTN shutdown di Jepang pada tahun 2011, PLTN digantikan oleh PLTU Batubara dan PLTG. Dalam 5 tahun itu, Jepang sukses melewati musim dingin dan musim panas tanpa pernah black out atau kekurangan daya. Publik di Jepang akhirnya berkesimpulan tak perlu ada PLTN lagi, karena semuanya baik-baik saja. Padahal Jepang sebenarnya di ambang krisis energi kalau tak mengoperasikan PLTN dalam waktu ke depan karena kemampuan internal Jepang untuk mensuplai dayanya sendiri hanya 6% dari total energi yang dibutuhkannya. Hampir tak ada batubara di Jepang, semuanya diimpor dari Australia dan Indonesia, demikian juga minyak dan gas, semuanya impor. Sebelumnya pada saat PLTN beroperasi Jepang bisa mensuplai sendiri 25% dari energi primernya.

Ditutupnya PLTN juga menyebabkan harga listrik yang dibayar konsumen menjadi lebih mahal dan defisit perdagangan Jepang meningkat. Jajak pendapat publik tak menunjukkan kemajuan berarti, tak ada Prefecture yang bersedia wilayahnya dibangun PLTN. Engineer berada dalam keadaan terjepit, opini masyarakat pasti diikuti oleh politisi karena pemilik hak suara ditentukan mereka. Padahal dalam sejarah panjang nuklir untuk kepentingan damai di Jepang dalam 50 tahun terakhir, tak  ada orang yang meninggal atau terkena kanker karena radiasi dari PLTN, semuanya baik-baik saja. Engineer Jepang punya tugas berat meyakinkan rakyat Jepang akan keamanan PLTN dan pentingnya PLTN untuk masa depan bangsa Jepang.

 

Salam dari Tokyo,

Juli 2016

Reference :

[1]          K. Shigimori, “Nuclear Energy Policy in Japan,” ed. Tokyo: The Institute of Energy Economics Japan, 2016.

[2]          USGS. (2011, 1 Juni). Magnitude 9.0 – NEAR THE EAST COAST OF HONSHU, JAPAN. Available: http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqinthenews/2011/usc0001xgp/

[3]          WNA. (2016). Fukushima Accident. Available: http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/fukushima-accident.aspx