Save Eva

11866488_10206537512851991_1827835269431382748_n

Dokter cantik ini jadi buah bibir akhir-akhir ini. Sebabnya karena dia masuk lapangan menolong Eden Hazard yang sedang cedera saat pertandingan Liga Inggris antara Chelsea vs West Ham Sabtu lalu.

Mourinho, si pelatih Chelsea yang control freak, tak suka dengan tindakan Eva yang masuk ke lapangan bersama fisioterapisnya. Tindakan dokter yang masuk menolong pemain ke lapangan berkonsekuensi pemain harus keluar lapangan sebelum masuk kembali bermain, sesuai dengan aturan FIFA.

Saat itu pertandingan sedang imbang 2-2. Chelsea tinggal 10 pemain setelah kiper yang sulit disebut namanya, Thibaut Courtois, di kartu merah akibat melanggar pemain lawan diluar kota pinalti. Dengan keluarnya Hazard, maka chelsea tinggal 9 orang, atau hanya 8 orang selain kiper dan berbahaya jika ada serangan balik. Mourinho berpendapat bahwa Hazard tidak cedera, hanya kecapean – dan ternyata dia benar, harusnya kata si Mou, dokter ngerti sepakbola dan aturannya. Mou ngamuk2 di pinggir lapangan saat Dokter ini masuk, setelahnya dia meng grounded Dokter Eva, tak boleh lagi Dokter tersebut berada di hotel, tempat latihan maupun stadion tempat pertandingan.

Kemarahan Mou mendapat porsi berita yang cukup besar di Media Inggris. Daily Mail mengangkat banyak cerita setelah peristiwa ini. Mungkin karena tak ada kejadian yang cukup istimewa di Minggu pertama liga Inggris, semua biasa-biasa saja, kecuali City yang menang besar. Berita lainnya hanyalah rutinitas aja, kemenangan MU melawan Tottenham dan kekalahan Arsenal, berita yang sudah sering kita dengar.

Kontroversi Mbak Eva makin menjadi-jadi karena dia perempuan, masih 40an dan menarik. Fans menyanyikan namanya dan pemain Chelsea mencintainya, dan kita sebagai penonton juga terhibur. Tak ada yang menarik dari Chelsea selain dokternya ini. Masak permainannya membosankan, dokternyapun membosankan.

Karena itu teman2 mari kita dukung gerakan ‪#‎saveeva‬, 😀

Advertisements

Sabar Dik Messi

Dik Messi yang lagi galau…

image

Messi (cvtnews.ca)

Saya turut prihatin dengan kekalahan tim adik kemarin. Dik Messi dan teman-teman dikalahkan secara dramatis oleh Tim Chilie, tim tuan rumah. Teman saya yang orang Chili, si Alejandra pasti senang bukan main timnya mengalahkan tim Adik.

Sebagai kaka saya sebenarnya berharap Dik Messi bisa meraih juara. Katanya Adik dari planet lain karena hampir tidak mungkin pemain sehebat Dik Messi lahir di bumi. Aku juga dari planet lain, planet bekasi, artinya kita sekelas ya. Masak pemain sehebat Dik Messi tidak bisa ngangkat Piala Copa Amerika. Eh kalo ngangkat doang sih bisa beratnya cuman berapa kilo, maksud saya menjadi juara kembali setelah 23 tahun. 23 tahun bukan waktu yang sebentar lo. Gak percaya? Tanyakan kepada jomblo yang telah puasa pacaran selama itu, sakit tahu.

Sebenarnya saya sudah lihat tanda-tanda kekalahan kemarin malam. Dik Maria keluar lebih cepat. Junior abang di Manchester ini ditarik, dan peristiwa semacam tahun lalu di Piala Dunia terulang kembali. Adik nampak terisolasi, tak dapat bola dan susah menembus pertahanan lawan. Apalagi aku liat wasitnya agak berpihak sama tuan rumah. Ya wajarlah dek, namanya wasit juga manusia, butuh tiket pesawat dan hotel dan juga rasa aman. Harusnya tuh ya, waktu pemain Chili menarik badan Marcos Rojo, Argentina dikasih pinalti, tapi tak dikasih, kamu tahu kenapa? Kalo kamu tahu kasih tahu aku, daripada aku menduga duga yang nggak nggak soal tiket dan hotel tadi.

Aku gak setuju sebenarnya kamu jadi kapten Dik. Kamu terlalu pendiam, kurang semangat dan kurang teriakan. Sekali kali kamu harus bisa teriakin teman2mu tuh supaya mainnya bener. Jangan dibiarin teman2nya main tanpa arah. Kamu gak cocok jadi kapten, lebih cocok main sebagai anggota tim biasa aja. Sebaiknya kita kasih ke Bambang Pamungkas saja, yang ceritanya lebih hebat dari mainnya.

Aku doain semoga 3 tahun lagi kamu bisa main sebaik2nya dan merebut Piala Dunia. Tapi asal tahu saja, usiamu sudah 31 tahun waktu itu. Usia diatas 30 itu Dik, lari sudah ngos ngosan, napas kadang udah gak saling mengejar, dan makan sate kambing dan tengkleng di Sate Giyo sudah haru dikurangi.

Eh sebenarnya kamu pemain bola atau dokter sih? Dengar2 kamu sudah jadi dokter. Eh itu bukan Messi ya? Itu Maissy. Ah sudahlah…

Memilih Klub Bola

Memilih klub bola sama seperti memilih pasangan hidup. Entah karena klubnya bagus sehingga kita mencintainya, atau karena kita mencintainya sehingga klub itu tampak selalu bagus. Seperti juga pasangan hidup, ada yang mempunyai dua, tiga bahkan empat pasangan, tergantung hormon dan tingkat kesetiaannya. Tipe SETIA atau setiap tikungan ada juga berlaku di Sepakbola. Ada yang memiliki klub kesayangan di setiap negara, ada yang menjagokan Real Madrid di Spanyol, Juventus di Italy, Bayern Muenchen di Jerman, Manchseter United di Inggris, Porto di Portugal dan Bujumfura FC di Uganda (ahh klub bola apa pula itu?). Ada juga yang punya empat klub kesayangan di Eropa, yang bingung sendiri kalau semua klub ini ketemu di Liga Champion, dia seperti suami yang kebingungan (atau bersorak) melihat madunya bertempur.

Level cinta para fans ke klub ini bisa melebihi kecintaan mereka terhadap kehidupan. Ada yang sampai jual rumah dan pasangan hidup (konon terjadi di Afrika), bahkan ada yang sampai bunuh diri karena malu, atau menembak teman sendiri.

Saya sendiri hanya menggemari satu klub, saya ini tipe monogami dalam memilih klub. Inisiasi pemilihan klub saya sewaktu SMA, dimana Manchester United sedang berjaya. Ketika sudah senang pada klub ini, semuanya jadi indah. Sir Alex Ferguson selalu datang memenuhi janji-janjinya membawakan trofi setiap tahunnya. Sekarang masa-masa indah Ferguson sudah selesai. Tak ada yang sebaik beliau, tapi saya sudah terlanjur suka dengan Manchester United. Karenanya menang atau kalah saya tetap mendukung United.

Saya mau anak saya mendukung Manchester United, meskipun nampaknya dia juga senang dengan Arsenal. Saya harus mendidiknya agar menjadi lebih tabah jika memilih klub ini.

gawa emirates

Bukan Fans Arsenal


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});