Inggris Pantas di Semifinal

BESTPIX-Colombia-v-England-Round-of-16-2018-FIFA-World-Cup-Russia

Di luar banyak perkiraan, Inggris sudah sampai di semifinal. Argentina, Spanyol, Brazil sudah pulang kampung. Tuan rumah Rusiapun sudah kembali ke kosannya. Sementara Inggris, Kroasia, Belgia dan Prancis akan berebut satu juara dunia. Akankah Inggris dan Perancis menambah bintangnya atau Kroasia dan Belgia menjadi negara kesembilan yang punya bintang di atas badgenya.

Sebagai penggemar Inggris puluhan tahun, saya punya analisis sendiri maupun yang saya contek dari banyak komentator. Menurut saya inilah beberapa hal yang membuat Inggris bisa menjejakkan kaki di Semifinal.

1) Rendahnya ekspetasi publik.

Setelah Pialah Dunia 1990, Inggris hancur-hancuran di setiap helatan Piala Dunia. Semifinal terakhir di mayor turnamen hanyalah di Euro 1996, ketika Terry Venables bisa membawa Inggris ke Semifinal di tanahnya sendiri. Saat 1996 itu, harapan rakyat Inggris sangat besar, mereka punya Gareth Southgate, Sol Campble, Steve Mc Manaman, dan Alan Sharer.

Setelahnya Inggris punya banyak nama pemain yang kalau ditambahkan ternyata tidak lebih banyak dari diri mereka (rather than The whole is greater than the sum of its parts). Nama-nama mentereng macam David Beckham, Michael Owen, Rio Ferdinand, Gary Nevillve, Paul Scholes yang dikagumi oleh Xavi Hernandez, Steven Gerrard, semuanya tak bisa sampai semifinal.

Bahkan 4 tahun lalu, ketika saya di UK, saya tak bisa lama menikmati laga Inggris karena sejak pertandingan pertama Balotelli sudah membuat gaya selebrasi yang meruntuhkan mental Inggris hingga tak bisa lolos ke babak selanjutnya. Meskipun Italia juga tak lolos.

Karena hal tersebut, tahun ini publik Inggris tak menaruh banyak harapan pada timnasnya. Efeknya media Inggris juga tak kencang-kencang amat mengkritik.

Hampir semua pertandingan Inggris di Rusia, fansnya selalu kalah banyak di banding dengan fans lawan. Lawan Panama saja jumlah suporter Inggris kalah, padahal jumlah penduduk Inggirs 50an juta dengan ekonomi yang tinggi dan kecintaan padas sepakbola seakan-akan bola adalah agama.

Penyebab tak banyak suporter Inggris, disamping karena ada ketakutan masalah keamanan karena hubungan negara yang sedang garring-garring nya (demam) akibat diracunnya agen ganda Rusia di London, juga fans tak mau mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk kecewa kembali.

Sebelum-sebelumnya publik Inggris dan medianya selalu menkritik timnas Inggris, apalagi dibumbui dengan cerita mengenai para Wives And Girls (WAGs), pacar-pacar dan istri pemain yang selalu mencari perhatian di setiap event Piala Dunia.

Kalau sering baca media Inggris pasti minimal punya sense bahwa media di sana, kalau mencela, mencelanya setengah mampus, kalau memuji juga kadang nggak ketulungan. Tapi karena Shakespeare dari sana, maka membaca media Inggris tak akan membosankan, karena bahasanya yang dirangkai indah penuh metafora.

Karena kurangnya tekanan dari publik timnas Inggris bisa berkonsentrasi bermain dan tidak direpotkan oleh macam-macam isu. Mungkin hanya satu pemain Inggris yang paling sering jadi incaran. Raheem Sterling, apalagi setelah dia bikin tato senjata di betisnya, tapi itupun banyak yang membela.

2) Antonio Conte, Pochettino, Guardiola dan tentu saja Mourinho

Semua pemain Inggris mainnya di liga Inggris, tak satupun bermain di liga Eropa lainnya. Diantara semua tim semifinalis Piala Dunia kali ini, hanya Inggris yang begitu, tapi bukan itu yang membuat Inggris bisa sampai di Semifinal.

Inggris bisa sampai di Semifinal karena sumbangsih para pelatih yang melatih tim-tim liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Dari mekeralah bahan baku taktik dan pemain diambil oleh Gareth Southgate dan disempurnakan sesuai kebutuhan.

Kita tahu kedatangan Conte merubah lanscape liga Inggris, dia memperkenalkan (kembali) taktik 3-5-2. Taktik yang mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris tahun lalu. Taktik ini menyeimbangkan menyerang dan bertahan, namun membutuhkan stamina yang kuat serta adanya resiko serangan balik cepat yang sulit diantisipai.

Taktik 3-5-2 Chelsea membutuhkan pemain dengan ball posession yang baik di bagian belakang, holding miedfielder yang kokoh untuk melapisi pertahanan pada diri Nemanja Matic, box to box midfielder dengan nafas kuda pada diri Kante, dibutuhkan juga dua orang wingback dengan crossing yang bagus, seorang creative midfielder yang dilakoni oleh Eden Hazard dan poacher dengan finishing mematikan pada diri Diego Costa.

Dari Conte, Southgate mendapatkan taktik, kemudian dari Guardiola didapatkan bahan pemain dengan ball possesion bagus di belakang pada diri John Stones dan Kyle Walker yang di plot menjadi bek.

Dari Pochettino, Southgate mendapatkan 3 orang pemain yang dibutuhkannya, seorang poacher yang konsisten dan sekarang menjadi top skorer sementara pada diri Harry Kane, wing back kanan yang kandidat terbaik sekarang. Dan penemuan selanjutnya adalah Delle Alli, seorang pemain box to box dengan karakter menyerang, yang memberikan gol kemenangan Inggris semalam.

Tentu saja Mourinho tak ketinggalan. Inggris sangat terberkati oleh kepercayaan Mourinho kepada Ashley Young. Young, yang spesialis kaki kanan, diplot oleh Mourinho sebagai bek kiri, di Inggris dia menyingkirkan banya bek kaki kiri.

Konsistensinya menjadikan dia pilihan utama di depan Danny Rose. Namanya boleh Young tapi dia yang tertua.Crossingnya maut. Lihat saja gol yang diheading Meguire semalam, itu adalah tendangan Young.

Kemudian Mou menyumbang salah satu pemain dengan karakter khas lulusan akademi MU, seorang yang pekerja keras, tak mudah menyerah dan selalu bekerja untuk tim, dia adalah Jesse Lingard. Peran Lingard dan Delle Alli mirip peran Kante, namun peran tersebut mereka mainkan bersamaan ditunjang dengan peran sebagai playmaker juga.

3) Gareth Southgate dan Steve Holland

Ketika Sam Allardyce dipecat dari kursi kepelatihan, muncullah Gareth sebagai penggantinya. Dia bukan pelatih top. Fabio Capello yang sudah bergelimang piala dan diberkahi pemain di era Beckham saja tak mampu meracik tim yang bagus apalagi seorang Gareth yang hanya pernah melatih Middlesbrough, tim yang kini tak lagi berlaga di Divisi Utama.

Tapi pada diri Southgate, FA mempercayakan timnya untuk dibangun kembali dari puing-puing. Gareth kemudian bekerja sama dengan Steve Holland yang juga pernah menjadi asisten Conte. Nah taktik Conte diterjemahkan dengan baik oleh Southgate dan Holland.

Semula, orang menganggap, dengan mempercayakan tim Inggris yang bahan bakunya biasa-biasa saja pada Southgate, sampai lolos qualifikasi saja sudah syukur, eh tapi Southgate berhasil membawa tim ini ke Rusia dengan memuncaki kualifikasi grup dan belum pernah kalah, sampai waktu England B vs Belgia B di fase grup.

Apa rahasia Gareth? Dia punya rencana, dan dia berpegang pada rencananya dan mengeksekusinya dengan baik. Banyak suara-suara sumbang ketika misalnya dia justru memanggil Ashley Young dan memasangnya dibanding pemain yang lebih muda. Menempatkan Maguire dibanding Gary Cahill yang lebih berpengalaman di Piala Dunia. Mempercayakan ban kapten kepada Harry Kane dibanding Kapten Liverpool Jordan Henderson, serta tekanan publik agar tidak memainkan Sterling. Dia kukuh pada rencananya.
Souhtgate juga menciptakan harmoni di ruang ganti. Dia berusaha agar ruang ganti kondusif, dan tak ada pemberontakan dari para pemain yang tak dimainkan semacam Gary Cahill, Danny Welbeck, Phil Jones, Butland dan Danny Rose.

4) Jalur kucing

Iya, England diuntungkan dengan jalur ke semifinal yang tidak seterjal jalur lainnya yang berisi Uruguay, Perancis, Belgia, Argentina, dan Brazil. Hanya satu lawan kuat pada jalurnya yaitu Spanyol. Itupun sudah dikalahkan oleh Rusia di babak 16 besar.

Tak ada lawan berarti England hingga semifinal. Tapi mirip strategi Game Of Thrones, kita biarkan dulu klan Targaryan dan Starks berperan melawan dead walker, supaya bisa memperpanjang nafas hingga episode 8. Apakah yang terbaik yang selalu menang? Tak selalu. Italia pada Piala 2006 dan Yunani pada Piala Eropa 2004 bermain kotor, tapi mereka yang menjadi Juara. Hanya juara yang diingat.

God Save The Queen.

Advertisements

Save Eva

11866488_10206537512851991_1827835269431382748_n

Dokter cantik ini jadi buah bibir akhir-akhir ini. Sebabnya karena dia masuk lapangan menolong Eden Hazard yang sedang cedera saat pertandingan Liga Inggris antara Chelsea vs West Ham Sabtu lalu.

Mourinho, si pelatih Chelsea yang control freak, tak suka dengan tindakan Eva yang masuk ke lapangan bersama fisioterapisnya. Tindakan dokter yang masuk menolong pemain ke lapangan berkonsekuensi pemain harus keluar lapangan sebelum masuk kembali bermain, sesuai dengan aturan FIFA.

Saat itu pertandingan sedang imbang 2-2. Chelsea tinggal 10 pemain setelah kiper yang sulit disebut namanya, Thibaut Courtois, di kartu merah akibat melanggar pemain lawan diluar kota pinalti. Dengan keluarnya Hazard, maka chelsea tinggal 9 orang, atau hanya 8 orang selain kiper dan berbahaya jika ada serangan balik. Mourinho berpendapat bahwa Hazard tidak cedera, hanya kecapean – dan ternyata dia benar, harusnya kata si Mou, dokter ngerti sepakbola dan aturannya. Mou ngamuk2 di pinggir lapangan saat Dokter ini masuk, setelahnya dia meng grounded Dokter Eva, tak boleh lagi Dokter tersebut berada di hotel, tempat latihan maupun stadion tempat pertandingan.

Kemarahan Mou mendapat porsi berita yang cukup besar di Media Inggris. Daily Mail mengangkat banyak cerita setelah peristiwa ini. Mungkin karena tak ada kejadian yang cukup istimewa di Minggu pertama liga Inggris, semua biasa-biasa saja, kecuali City yang menang besar. Berita lainnya hanyalah rutinitas aja, kemenangan MU melawan Tottenham dan kekalahan Arsenal, berita yang sudah sering kita dengar.

Kontroversi Mbak Eva makin menjadi-jadi karena dia perempuan, masih 40an dan menarik. Fans menyanyikan namanya dan pemain Chelsea mencintainya, dan kita sebagai penonton juga terhibur. Tak ada yang menarik dari Chelsea selain dokternya ini. Masak permainannya membosankan, dokternyapun membosankan.

Karena itu teman2 mari kita dukung gerakan ‪#‎saveeva‬, 😀

Sabar Dik Messi

Dik Messi yang lagi galau…

image

Messi (cvtnews.ca)

Saya turut prihatin dengan kekalahan tim adik kemarin. Dik Messi dan teman-teman dikalahkan secara dramatis oleh Tim Chilie, tim tuan rumah. Teman saya yang orang Chili, si Alejandra pasti senang bukan main timnya mengalahkan tim Adik.

Sebagai kaka saya sebenarnya berharap Dik Messi bisa meraih juara. Katanya Adik dari planet lain karena hampir tidak mungkin pemain sehebat Dik Messi lahir di bumi. Aku juga dari planet lain, planet bekasi, artinya kita sekelas ya. Masak pemain sehebat Dik Messi tidak bisa ngangkat Piala Copa Amerika. Eh kalo ngangkat doang sih bisa beratnya cuman berapa kilo, maksud saya menjadi juara kembali setelah 23 tahun. 23 tahun bukan waktu yang sebentar lo. Gak percaya? Tanyakan kepada jomblo yang telah puasa pacaran selama itu, sakit tahu.

Sebenarnya saya sudah lihat tanda-tanda kekalahan kemarin malam. Dik Maria keluar lebih cepat. Junior abang di Manchester ini ditarik, dan peristiwa semacam tahun lalu di Piala Dunia terulang kembali. Adik nampak terisolasi, tak dapat bola dan susah menembus pertahanan lawan. Apalagi aku liat wasitnya agak berpihak sama tuan rumah. Ya wajarlah dek, namanya wasit juga manusia, butuh tiket pesawat dan hotel dan juga rasa aman. Harusnya tuh ya, waktu pemain Chili menarik badan Marcos Rojo, Argentina dikasih pinalti, tapi tak dikasih, kamu tahu kenapa? Kalo kamu tahu kasih tahu aku, daripada aku menduga duga yang nggak nggak soal tiket dan hotel tadi.

Aku gak setuju sebenarnya kamu jadi kapten Dik. Kamu terlalu pendiam, kurang semangat dan kurang teriakan. Sekali kali kamu harus bisa teriakin teman2mu tuh supaya mainnya bener. Jangan dibiarin teman2nya main tanpa arah. Kamu gak cocok jadi kapten, lebih cocok main sebagai anggota tim biasa aja. Sebaiknya kita kasih ke Bambang Pamungkas saja, yang ceritanya lebih hebat dari mainnya.

Aku doain semoga 3 tahun lagi kamu bisa main sebaik2nya dan merebut Piala Dunia. Tapi asal tahu saja, usiamu sudah 31 tahun waktu itu. Usia diatas 30 itu Dik, lari sudah ngos ngosan, napas kadang udah gak saling mengejar, dan makan sate kambing dan tengkleng di Sate Giyo sudah haru dikurangi.

Eh sebenarnya kamu pemain bola atau dokter sih? Dengar2 kamu sudah jadi dokter. Eh itu bukan Messi ya? Itu Maissy. Ah sudahlah…