Menjadi Muslim di Edinburgh Skotlandia

Menjadi minoritas di negeri orang adalah pengalaman yang berwarna warni. Sebagai muslim, hidup di Inggris tidaklah menjadi susah, karena penerimaan masyarakatnya yang baik.

MACAM-MACAM MUSLIM

Di Edinburgh tak sulit bertemu muslim, dan tak sulit untuk menandainya. Sekali-kali kita akan melihat orangnya di Central Mosque berjamaah dan melihatnya kembali di bis atau di toko. Salah seorang security penjaga supermarket LidL di City Centre ternyata seorang muslim, saya pernah melihatnya sehabis jumatan di Central Mosque. Salah seorang pustakawan di Kings Buildings University of Edinburgh juga seorang muslim, saya biasa berjamaah dengannya di Praying Room di Kings Buildings.

Muslim di Edinburgh di dominasi dari Arab, Pakistan, dan Afrika. Sebagian besar muslim berkulit berwarna. Sebagian kecil berkulit putih dan ras asli inggris.

Selesai shalat jumat para jamaah di Central Mosque biasanya berkumpul di luar mesjid saling berjabat tangan, kemudian berpelukan dan bercengkerama. Kadang sampai bikin macet orang yang mau keluar dari pintu belakang. Setiap minggu selalu begitu, shalat jumat menjadi waktunya saling berbagi kabar.

Kami yang dari Asia Tenggara semacam Indonesia dan Malaysia juga biasanya bertemu di depan mesjid selepas jumatan. Jumlah teman-teman asal Malaysia selalu lebih banyak, kadang-kadang saya dikira orang Malaysia. Kalau saya perhatikan, setiap jumatan ada turis malaysia yang datang ke Edinburgh untuk liburan. Malaysia memang mendapat kemudahan bebas visa dari Inggris sebagai sesama negara Commonwealth, itulah sebabnya mereka banyak ke Edinburgh, disamping kemampuan ekonominya yang relatif lebih baik. Kadang-kadang saya juga bertemu dengan orang Indonesia yang sedang ada pelatihan di London kemudian jalan2 ke Edinburgh, sekali-kali ketemu mahasiswa Indonesia dari Kota lainnya.

Di kelas saya ada beberapa orang muslim juga. Satu orang dari Malaysia, namanya Q, dua orang dari Saudi Arabia yaitu Badar dan Asis, seorang Scotish berdarah asli Palestina bernama Saad.

Seorang lagi teman dari negara kaya minyak pecahan uni soviet bernama Joni. Awalnya saya berpikir kawan Kazakhs ini bukan muslim karena sebelumnya saya tak pernah melihatnya berjamaah di Mesjid Central Mosque ataupun praying room di Kings Building. Sekali waktu saya bertemu dengannya di sekitaran George Square ketika saya akan shalat jumat di Central Mosque dan dia sedang mendorong sepedanya.
“Hi Ahmad, where are you going?”
“Hi man, I’m gonna praying” kataku sambil menunjuk mesjid
“Oo, you are a moslem” katanya
Hanya itu saja, dia tak mendeklarasikan dirinya muslim juga, dan kemudian dia mendorong sepedanya ke arah berbeda.

Aku dan si Q kadang bertanya-tanya itu teman kita muslim apa bukan sih, soalnya namanya ada unsur2 arab-arabnya sedikit. Dibelakang namanya ada ulla.

Hingga kemudian satu semester berlalu, nilai-nilai ujian sudah keluar. Beberapa orang nampak kecewa dengan para dosen yang Raja Tega. Ada yang masih tak percaya berusaha menenangkan diri. Masalahnya tak ada pengulangan. Kawan ini dapat nilai sangat rendah di salah satu mata kuliah, kalau tak salah ingat nilainya 20 dari 100, dan dimata kuliah lain nilainya jelek juga.
Saya bertanya kepada dia
“How was your mark?”
“Dont ask me man, very bad” jawabnya dengan lusuh

Habis itu saya tak bertanya lagi. Pas waktu shalat dzhuhur, saya berjalan menuju ke Praying Room yang terletak di Chaplaincy Kings Building. Ketika saya berjalan melewati Cafetaria kawan ini memanggil saya.

“Are you going to shalah?” Tanyanya
Lo dia tahu nih shalat, kata saya dalam hati
“I am going with you, only Allah can help me in this situation, man”
Kamipun berjalan bersama, sejak itu saya sering bertemu dengannya di Central Mosque atau di Praying Room di Kings Buolding.

Dua orang Arab temanku tadi, satu orang sering saya lihat di Praying Room,satunya lagi tak pernah sekalipun ketemu, tapi dia muslim.

Yang paling sering saya temui adalah Saad dan Q. Saya sering bertemu dengan teman-teman Malaysia di Kings Building. Bisa dibilang, saya satu-satunya mahasiswa muslim asal Indonesia di Kings Building, ada juga sih yang muslim lain tapi mahasiswi.

Pada masa-masa awal kuliah, saat duduk di Praying Room menunggu jamaah, temab-teman beewajah melayu biasanya menghampiri dan bertanya dalam bahasa “darimana?”. Saya jawab ” Indonesia”, dan mereka akan bercerita kalau sebelumnya ada juga satu orang Indonesia lain yang kuliahnya di KB. Teman-teman Melayu yang bertanya ini asal Malaysia.

TEMPAT IBADAH

lebaran iduladha_DSC_0681

Suasanan di dalam Central Mosque (2013)

Lokasi shalat bagi muslim di Edinburgh tidaklah sulit didapatkan, khususnya bagi mahasiswa. Ada Central Mosque yang merupakan mesjid besar di Poterrow beedekatan dengan University of Edinbugh di Central Area. Kapasitasnya bisa mencapai 1000 orang dan ada balkonnya buat jamaah wanita.Mesjid ini dibiayai oleh Raja Saudi Arabia waktu itu Raja Fahd. Ada juga mesjid di Roxburgh, cuma saya tak pernah kesana jadi tak bisa cerita.

Shalat jumat dipusatkan di Central Mosque. Khatibnya biasanya berbahasa Arab dan Inggris, tapi 3/4 khutbahnya adalah bahasa arab. Shalat jumat selalu dimulai jam 13.00, meskipun waktu shalat zuhur bisa lebih maju dari itu. Hal ini dilakukan untuk menunggu para jamaah yang bekerja kantoran menyesuaikan dengan jam istirahatnya.
Di musim dingin (winter), bulan november merupakan hari terpendek, seringkali shalat jumat langsung dirangkaikan dengan shalat ashar berjamaah, karena ashar biasanya pada jam 13.45. :).

Shalat jumat di Central Mosque selalu ramai. Khatibnya biasanya berbahasa Arab 80% dan Inggrisnya 20%. Lebih sering saya tak mengerti apa yang diucapkannya dibanding mengertinya.

IMG_20131129_133117

Shalat Jumat di King’s Buildings (2014)

Di Kings Building sendiri, Praying room berada di gedung chaplaincy. Chaplaincy memiliki beberapa ruangan. Salah satu ruangannya adalah mushollah yang bisa menampun sekitar 20 orang Jamaah. Selalu cukup untuk menampung jamaah yang memang tak banyak. Di Mushollah ini juga dilaksanakan shalat jumat, meskipun jumlah jamaahnya tak pernah sampai 40 orang. Jadwal shalat berjamaah ditempel dan diupdate setiap beberapa hari karena perubahan jam shalat yang bisa berubah karena musim. Biasanya yang selalu menyesuaikan adalah jadwal shalat dzhuhur yang digeser, kadang mendekati jadwal shalat ashar di musim dingin.

Pernah sekali waktu, saya berada di Kings Building di hari jum’at saat masa menyusun Thesis, waktu itu adalah libur summer sehingga banyak mahasiswa yang libur kecuali yang memang sedang mengerjakan thesis. Saya sudah menunggu lama, tapi tak ada jamaah tambahan yang datang, sekitar 30 menit menunggu datang dua orang lagi. Kami saling memandang dan kemudian berniat untuk shalat dzuhur saja. Tapi salah seorang jamaah berkebangsaan Arab menawarkan solusi : Kita tetap shalat jumat bertiga, dia jadi khatib dan sekaligus imam. Bertiga kami setuju. Khotbah pendek dalam 3 menit disampaikan oleh Sang Khatib, kemudian dilanjutkan shalat jumat 2 rakaat, kami jumatan dengan sukses :).

HARI RAYA

Idul adha dan idul fitri dirayakan dengan semarak bagi muslim di Edinburgh. Meski tak ada hari libur, tapi umat muslim merayakannya dengan menghadiri shalat Ied di Mesjid. Pada hari raya idul adha, shalat dilaksanakan dalam 2 shift karena banyaknya jemaah, sementara untuk idul fitri shalat Ied sampai 3 kali shift karena jamaah lebih banyak.

Bagi pelajar dan warga Indonesia di Edinburgh, hari raya adalah saatnya mengenang dan mencicipi masakah khas kampung halaman Indonesia. Kami berkumpul dan mengadakan syukuran metode pot luck, dimana setiap orang membawa makanan atau minuman untuk dinikmati bersama. Di acara inilah kami bisa makan rendang, soto madura, siomay, coto makassar, sate, tempe goreng dan macam-macam masakan Indonesia lainnya. Acara kumpul bareng ini juga dihadiri oleh warga Indonesia non muslim.

warga indo_DSC_0807

Halal Bihalal Warga Indonesia Setelah Idul Adha (2014)

TOLERANSI

Negeri ratu Elizabeth bukanlah negara dengan mayortitas muslim. Islam minoritas di negara ini. Persentase muslimnya berdasarkan sensus tahun 2011 hanya 4.5% dari total populasi , tetapi agama ini adalah agama terbesar kedua setelah kristen (wikipedia). Di Skotlandia sendiri persentasenya hanya 1.45%. UK adalah negara sekuler yang memisahkan kehidupan beragama dari pemerintahan. Tak ada Menteri Agama, tetapi hak-hak beragama dijamin oleh Undang-undang.

Tentu disetiap tempat ada juga orang-orang yang tak toleran terhadap yang berbeda. Saya pernah menjumpainya dalam perjalanan dari St. Andrews ke Edinburgh, begitu tahu saya seorang muslim, 2 orang penumpang mencecar saya dengan pertanyaan apa maksud saya sebenarnya datang ke UK, apakah saya akan mengebom juga, tapi itu lebih karena mereka dalam keadaan pengaruh minuman keras. Selebihnya saya merasakan kehangatan orang-orang UK. Landlord, sopir, penjaga toko, lecturer, teman kuliah, tetangga rumah semuanya OK-OK saja. Istri saya bisa dengan nyaman menggunakan jilbab tanpa pernah dilecehkan.

Namun isu-isu mengenai muslim sering muncul di media. Kadang tone-nya  baik seperti ini, kadang juga tone-nya agak menohok kayak gini. UK merupakan salah satu pengekspor relawan ISIS yang menyebabkan berita-berita mengenai ISIS di UK rasa-rasanya lebih ramai di UK dibanding di Indonesia.  ISIS juga menggunakan anak muda dari UK yang fasih berbahasa Inggris untuk mengkampanyekan ISIS ke seluruh dunia.

Selain berita mengenai ISIS, berita lain yang bersinggungan dengan dunia islam adalah mengenai isu-isu makanan halal. Pernah menjadi berita nasional perihal Pizza Express yang ternyata menyajikan pizza dari daging halal tanpa memberitahukan kepada konsumennya. Para aktifis penyayang binatang memprotes hal tersebut, karena daging halal berarti si hewan-hewan ini disembelih yang berarti tidak berperikebinatangan karena menyiksa binatang, lebih baik menurut mereka hewan-hewan ini di setrum saja, hehehe.

MAKANAN

Tak sulit menemukan makanan halal di Edinburgh, banyak tersedia restoran halal dan toko bahan makanan halal disekitar city center Edinburgh. Toko bahan makanan yang paling sering saya kunjungi adalah Toko Bismillah. Toko ini dimiliki keturunan India atau Pakistan, tersedia daging ayam, kambing dan sapi berlabel halal di toko ini. Harganya bersaing, seekor ayam sekitar 2pound dan daging harganya 8pound, murah kan? Toko Bismillah terletak di pinggir jalan utama Nicholson Street dan berada diseberang Nicholson Square yang kadang menjadi tempat menikmati sinar lembut matahari dan bermain-main dengan burung merpati. Hari paling ramai di toko ini adalah pada hari jum’at karena jamaah shalat jumat yang pulang sekalian berbelanja kebutuhan. Selain daging di toko ini juga tersedia sayuran segar, pisang, singkong yang dilapisi lilin, kacang panjang, dan bumbu-bumbu kari India dan masalkan timur tengah. Indomie juga ada di toko ini, harganya 0.35pound, tapi produksi Arab, rasanya sedikit lebih hambar dibanding Indomie kita di Indonesia karena kurang MSGnya.

Disampin toko Bismillah terdapat 2 toko halal food yang lain, tapi tak terlalu ramai karena tidak pas berada di pertigaan jalan. Toko lain yang lebih besar dari Bismillah adalah Maqbool yang juga dimiliki orang India atau Pakistan. Letaknya bersampingan dengan mesjid di daerah Potterrow, seberang kampus University of Edinburgh. Di toko ini saya biasanya membeli kacang hijau dan kadang-kadang daging kalau di Bismillah sudah habis. Maqbool juga menjual aneka produk olahan daging dan berbagai jenis roti dan bumbu-bumbu khas timur tengah. Pembeli daging di toko ini tidak seramai di Toko Bismillah, namun nampaknya dia juga mensuplai untuk restoran karena sering saya melihat potongan-potongan daging diangkut keluar dari toko.

Kalau mau membeli bahan makanan lain tersedia toko kelontong China di dekat Central Mosque juga. Toko ini memberi diskon 5% bagi pelajar, cukup dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Selain menerima mata uang Pound Sterling, anda juga bisa berbelanja dengan menggunakan Yuan. Teman saya Jin dan Molin sering berbelanja dengan menggunakan mata uang Yuan. Saya biasanya beli Indomie dan Sambal ABC di toko ini, Indomie yang dijual di toko ini adalah asli Indonesia tapi untuk ekspor. Rasanya juga masih kalah sama Indomie Indonesia yang berjuta MSG rasanya. Beras juga kadang saya beli disini, jenisnya beras jenis Jasmine dari Thailand.

Kalau untuk membeli roti, kami membeli di Tesco atau Lidl. Hanya saja harus diperhatikan kode-kode komposisinya agar terhindar dari babi, kode yang paling gampang dikenali adalah E-471 dan E-472. Beras jasmine juga biasa kami beli Tesco, kadang harganya lebih murah saat diskon dibandingkan dengan di Toko China.

Selain toko bahan makanan, terdapat banyak juga restoran halal di sekitaran kampus University di Ciy Centre. Di samping mesjid ada Mosque Kitchen, menu andalan mahasiswa adalah chicken curry with rice seharga 4.5pound, Mosque Kitche juga ada di pinggir jalan Nicholson Street. Restoran ini ramai oleh para pengunjung baik yang muslim maupun yang bukan. Selain Mosque Kitchen ada juga Tikka Mahal, restoran india dengan rasa yang sangat menggugah selera. Sampai sekarang saya masih merindukan nikmatnya Rati Naan berisi daging dan Chicken Biryani dari Tikka Mahal. Kalau ke Edinburgh lagi, saya harus makan disini lagi.

Kursus Bahasa Inggris, Bersama Guru Bahasa Inggris di Inggris

Oleh Ahmad Amiruddin

@Barterbooks

@Barterbooks

Suatu hari, teman saya Morning- begitu kami memanggilnya- seorang mahasiswa asal China Daratan, menyampaikan kabar kalo ada kursus bahasa gratis bagi mahasiswa University of Edinburgh, namun harus mendaftar satu semester sebelumnya, dia bercerita sedang ikut kursus bahasa Inggris conversation.

Awalnya dia bersemangat untuk ikut kursus, tapi setelah hari pertama dia mulai kehilangan semangat, semua teman sekelasnya adalah orang China. Orang China di Scotland atau dimanapun ketika ketemu pasti akan lebih memilih berbahasa China (bukan cuma China sih, kita juga hehe), itu yang terjadi di kelas bahasa Morning, seperti juga terjadi di kelas kuliah kami, ketika Morning bertemu dengan teman-temannya se China daratan, dengan Jin, Vincent, atau Winny. Saya membayangkan bagaimana Morning berusaha melatih percakapan Bahasa Inggrisnya di Inggris tapi persis dengan caranya mempraktekkan bahasa Inggrisnya di Beijing.

Atas saran Morning, saya mendaftar kelas bahasa khusus untuk menulis di semester berikutnya. Menulis dalam bahasa Inggris bukanlah hal mudah. Meski nilai IELTS saya dalam written test adalah 7.0, dan ini adalah nilai yang tinggi (ihh sombong hehehe), namun saya tidak cukup pede untuk menulis panjang sebentuk thesis (disertasi kata orang2 UK).

Akhirnya saya mendaftar via web yang telah tersedia. Kursusnya sih sekali seminggu setiap hari Rabu selama 8 kali pertemuan. pesertanya juga tak banyak, slot yang tersedia kalo tak salah ingat hanya untuk 8 orang.

Pada pertemuan pertama, kami berkenalan dengan para peserta. Saya lebih beruntung dari Morning, teman kursus saya “hanya” 4 orang dari China, ke empat2nya adalah calon Guru Bahasa Inggris yang sedang mengambil master degree untuk Program TESOL (Teaching of English as a Second  Language).

Ternyata dari 4 orang ini, hanya 3 yang terdaftar, 1 orang lagi hanya ikut temannya, katanya dia terlambat mendaftar. Oleh si Fasilitator, dia ditanya, namanya kok ndak ada di list, mbak-mbak dari China ini menjawab kalau dia sebenarnya pengen mendaftar, tapi sudah terlambat dan slot penuh dan dia meminta kebijaksanaan dibolehkan duduk untuk menyaksikan dan ikut belajar.
Om Fasilitator yang beraksen english, berusaha menampik dan mengusir secara halus-kemudian makin tegas, hingga si mbak tadi beranjak pergi dari tempat duduknya dan melambai pada temannya yang jadi peserta beneran.

Peserta lain adalah seorang pemuda amerika latin berbahasa asli spanyol, seorang lagi adalah Jerman yang sudah lulus S1 mechanical di Jerman tapi ngambil S1 lagi sipil di Edinburgh (gendeng nih anak),  satunya lagi gadis blonde asal Spanyol dari jurusan yang saya lupa, pokoknya bukan anak Teknik. Peserta terakhir adalah seorang mahasiswa S3 asal Thailand, dia mahasiswa tahun ke-4 program S3 jurusan vetenary, raut mukanya tampak kusut, entah karena risetnya yang tak kelar-kelar atau jadwal kerja paruh waktunya yang dia cerita sangat menyita waktunya, satu hal yang pasti, bahasa Inggrisnya acakadut. Dia ditahun ke-4, dan saya sendiri ngeri membayangkan kemampuan bahasa Inggrisnya di sisa waktu studinya yang sangat mepet.

Lokasi program kursus ini berbeda gedung dengan tempat kuliah saya sehari-hari. Saya kuliah di Kings Building, letaknya agak dipinggiran, sedangkan tempat kursus ini di St Leonard Land, di City Centre, berdekatan dengan Scottish Parliament dan Holyrood Park.

Selama proses kursus berlangsung, saya yang paling rajin, selalu masuk kelas, sungguh sebuah prestasi anak Teknik yang jaman S1nya lebih sering main domino daripada masuk kelas. Teman saya yang rajin yang lain adalah si calon-calon master guru bahasa Inggris dari negeri komunis tadi.

Mereka para calon master guru bahasa inggris ini adalah calon pengajar anak2 komunis (ngeri nih, komunis). Mereka bersekolah di UK dengan biaya sendiri, tanpa beasiswa sedikitpun, mereka ini sebenarnya kaya banget untuk ukuran Indonesia, dan kaya aja untuk ukuran china :).

Teori konspirasi mengatakan, Jangan2 ini sudah diagendakan oleh para komunis untuk menginvasi negara-negara lainnya, dengan mengirim mahasiswanya untuk kuliah di luar negeri, dan memaksa mereka mengaku dengan biaya sendiri (konspirasi banget). Jangan-jangan para calon guru ini akan mengajar para calon tenaga kerja China yang akan di ekspor ke Luar Negeri. Jangan-jangan mereka ini yang akan dikirim ke Indonesia diantara 10 juta tenaga kerja aseng yang akan didatangkan Jokowi. Hehehe

Padahal, ini simple. Mereka, kawan dari China ini, persaingan kerja sangat ketat di negaranya, lapangan kerja tak mudah karena jumlah orang sudah sama dengan jumlah koloni rayap, miliaran men.
Untuk bersaing mereka harus sekolah lebih baik, lebih bermutu dan bisa jadi lebih jauh. Maka terdamparlah mereka di Edinburgh, negeri dieropa barat, tempatnya bahasa Inggris disemai dan disini merkea belajar bahasa Inggris untuk di ajarkan lagi kepada anak-anak komunis di China, mungkin di salah satu sekolah elit di China, tempat anak-anak penggede Partai Komunis di sekolahkan, eaaaa.

***

Di St. Leonard Land juga ada mushollah, luasnya sekira 3×3 meter dengan satu kran untuk berwudhu. Saya beberapa kali berjamaah dan bertemu mahasiswa (kalo boleh disebut mahasiswa) asal Iraq dan Saudi Arabia yang sudah setahun berada di Edinburgh untuk belajar bahasa Inggris. Hanya buat belajar bahasa inggris to’, dan setahun, bayangkan biayanya, kaya raya kawan-kawan ini.

Ketika memperkenalkan diri, kawan ini menjabat tangan saya dan dengan pede berkata
“I am scottish” dengan aksen yang dimirip-miripin scottish.
“Hahahaha No no no”, saya bilang, lu kira gue kagak tahu bedain aksen arab ama british.
Akhirnya dia cerita dia pernah ke Indonesia, dan bisa nebak kan dia pernah kemana?
Kemana lagi kalo bukan ke Puncak. 🙂

Lima Alasan Kuliah di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Ada banyak pilihan tempat kuliah di Luar Negeri, beberapa orang dihadapkan pada keputusan penting untuk memilih tempat kuliah di beberapa negara. Tentu pertimbangan ini menjadi penting agar tidak menyesal di kemudian hari. Karena saya pernah kuliah di Skotlandia sebagai bagian dari Inggris Raya, maka saya akan menyarankan anda untuk kuliah di Inggris. Saya tak menjamin anda akan having fun selama kuliah, tapi saya menjamin anda tak akan menyesal kuliah di Inggris. Jika belum mengambil keputusan akan kuliah dimana, sebaiknya anda baca alasan-alasan keren di bawah ini sebelum anda memutuskan kuliah di negara lain. Apa keuntungannya saya berbagi hal ini? Tidak ada, kecuali saya akan mengambil honor di British Council (BC) karena mempromosikan sekolah di UK, hehehe. (Yang ini bercanda, sambil ngarep dikasih honor beneran sama BC).

Ada lima alasan utama kenapa anda harus kuliah di UK. Kenapa cuman lima? Karena lima sudah cukup banyak, satu alasan saja sudah cukup membuat anda memilih Inggris.:). Lima alasan akan membuat anda pada level “sakitnya tuh disini” jika tak memilih negeri Pangeran William ini.

1) Universitas Kelas Dunia

Knowledge-is-Great-Britain

(via telegraph.co.uk)

Pada daftar ranking 100 teratas universitas dunia yang dirilis oleh QS World Ranking, ada 19 Universitas yang berasal dari Inggris Raya, dan ada empat yang masuk dalam top enam dunia. Kebanyakan dari universitas ini telah berusia lebih dari 200 tahun. Anda tak perlu pusing untuk memilih universitas karena kekurangan stok universitas bagus yang akan di apply.

Dalam daftar 30 top dunia anda bisa memilih University of Cambridge, Imperial College London, University of Oxford, King’s College London, University of Edinburgh, University of Manchester dan Bristol. Masih banyak perguruan tinggi lain yang bagus di Inggris seperti Birmingham University, Leicester University, Lancaster University, University of Southamptown, University of  Warwick, University of Glasgow, University of St Andrews, dan masih banyak lagi yang lain yang bagus dan keren-keren.

Perguruan Tinggi di Inggris juga banyak menelurkan ilmuwan kelas dunia seperti Newton, Lord Kelvin, Michael Faraday dan Stephen Hawkings. Ratusan peraih Nobel juga lahir dari universitas-universitas ternama di Inggris.

Kualitas pendidikan yang bagus ini membuat anda tidak bisa main-main kuliah. Dosen Raja Tega adalah pemandangan biasa di Inggris. Tak ada namanya nilai kasian karena berasal dari negara dunia ketiga yang bahasa Inggrisnya pas-pasan, karena miskin, karena usianya sudah tua, karena jomblo atau karena putus cinta. Nilai berdasarkan hasil tugas atau exam. Tak akan ada toleransi bagi yang mencontek.

2) Bahasa Inggrisnya Orang Inggris

enhanced-buzz-2164-1402505049-8

(via buzzfeed.com)

Kuliah di Inggris pastinya pakai bahasa Inggris. Bahasa ini telah dipelajari orang Indonesia sejak bangku SMP. Little-little we can lah. Karenanya tentu tak sesulit ketika harus belajar bahasa baru, sehingga setahun pertama harus belajar bahasa pengantar sebelum memulai masuk ke substansi mata kuliah.

Aksen British sangat berbeda dengan aksen Amerika. Kedengarannya lebih tebal, lebih elegan dan lebih klasik. Mendengarnya orang Inggris bicara seperti sedang menonton film Harry Potter. Tiba-tiba saja rasanya kita merasa sedang bicara dengan bangsawan abad pertengahan. Kalau di Amerika hanya para Vampire yang hidupnya ratusan tahun yang memiliki aksen seindah ini. Sepulang dari Inggris anda akan merindukannya, mendengar dengan penuh hikmat film-film beraksen british.

Karena belajarnya di negara asal bahasa Inggris, maka persyaratan bahasa Inggris untuk kuliah disana sedikit lebih tinggi dibanding negara Eropa lainnya. Secara rata-rata dibutuhkan IELTS 6.5 atau TOEFL IBT 92 untuk dapat diterima. Memang agak tinggi, tapi bisa-lah, dengan berusaha bersungguh-sungguh, nilai segitu tak susah-susah amat.

3) Budaya dan Sejarahnya

great-heritage_2004843i

(via telegraph.co.uk)

Budaya Inggris sudah berusia ratusan tahun. Sampai sekarang Ratunya masih berkuasa dan memerintah United Kingdom of Great Britain yang terdiri dari England, Skotlandia, Wales dan North Ireland. Ratu Elizabeth II, raru Inggris Raya sekarang, juga menjadi kepala negara atau ratu bagi 16 negara berdaulat yang dulu pernah dibawah jajahannya  seperti Australia, New Zealand, Canada dan Papua New Guinea.

Kerajaan England dan Kerajaan Skotlandia yang menjadikan persatuan Inggris Raya sekarang ini sudah ada seribu tahun yang lampau. Keduanya punya sejarah panjang peperangan dengan bangsa-bangsa viking dan bangsa Eropa lain, kemudian berperang dengan mereka sendiri hingga menjadi sebuah uni pada tahun 1707 dengan satu Raja.

Karena sifatnya yang kerajaan banget, maka budaya rakyat Inggris menjadi terpengaruh oleh budaya kerajaan ini. Sopan santun ala bangsawan menjadikan rakyat Inggris terkenal sopan dan menghargai tamu. Dengan sekolah di Inggris, kita bisa belajar banyak mengenai budaya dan sejarah Inggris. Museum-museum besar banyak tersebar di kota-kota utama negara ini. Koleksinya sangat beragam dan menjadi rujukan bagi para pencari ilmu.

4) Kastilnya yang mempesona

edinburg castle

Edinburgh Castle dari arah Princess Street Garden

Kamu yang terbiasa narsis sangat cocok kuliah di Inggris.  Di sela-sela aktifitas kuliah kamu bisa menyempatkan diri mengunjungi kastil-kastil bersejarah di Inggris, mulai dari Buckingham Palace di London, Edinburgh Castle, Stirling Castle, Alnwick Castle, Urquhart Castle dan kastil-kastil yang lainnya.

Setiap kastil ini punya sejarah sendiri dan tak jarang menjadi tempat syuting film-film yang berbasis di Inggris macam Harry Potter. Jepret dimanapun akan keliatan keren. Kastil bertebaran dimana-mana. Spot fotonya sangat bagus. Tembok berlapis bata akan merefleksikan cahaya merah matahari.

5) Klub Sepakbola yang mendunia

gawa man united

Inilah alasan paling keren kuliah di Inggris, menonton langsung tim kesayanganmu berlaga. Tak lengkap menjadi penggemar Manchester United kalau belum pernah menonton di Old Trafford. Akan selalu kurang kalau menjadi penggemar Liverpool, Chelsea, Arsenal, City, Tottenham kalau hanya melihat di layar kaca tanpa sekalipun pernah melihat bintang kesayangan mengolah bola di lapangan hijau. Atmosfer stadion yang bergemuruh, chant para penonton yang selama ini hanya bisa dilihat you tube bisa dinyanyikan di lapangan.

Ke Inggris-lah, maka sempurnalah dukunganmu terhadap tim favoritmu.

So Tunggu Apa Lagi?