Lima Alasan Kuliah di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Ada banyak pilihan tempat kuliah di Luar Negeri, beberapa orang dihadapkan pada keputusan penting untuk memilih tempat kuliah di beberapa negara. Tentu pertimbangan ini menjadi penting agar tidak menyesal di kemudian hari. Karena saya pernah kuliah di Skotlandia sebagai bagian dari Inggris Raya, maka saya akan menyarankan anda untuk kuliah di Inggris. Saya tak menjamin anda akan having fun selama kuliah, tapi saya menjamin anda tak akan menyesal kuliah di Inggris. Jika belum mengambil keputusan akan kuliah dimana, sebaiknya anda baca alasan-alasan keren di bawah ini sebelum anda memutuskan kuliah di negara lain. Apa keuntungannya saya berbagi hal ini? Tidak ada, kecuali saya akan mengambil honor di British Council (BC) karena mempromosikan sekolah di UK, hehehe. (Yang ini bercanda, sambil ngarep dikasih honor beneran sama BC).

Ada lima alasan utama kenapa anda harus kuliah di UK. Kenapa cuman lima? Karena lima sudah cukup banyak, satu alasan saja sudah cukup membuat anda memilih Inggris.:). Lima alasan akan membuat anda pada level “sakitnya tuh disini” jika tak memilih negeri Pangeran William ini.

1) Universitas Kelas Dunia

Knowledge-is-Great-Britain

(via telegraph.co.uk)

Pada daftar ranking 100 teratas universitas dunia yang dirilis oleh QS World Ranking, ada 19 Universitas yang berasal dari Inggris Raya, dan ada empat yang masuk dalam top enam dunia. Kebanyakan dari universitas ini telah berusia lebih dari 200 tahun. Anda tak perlu pusing untuk memilih universitas karena kekurangan stok universitas bagus yang akan di apply.

Dalam daftar 30 top dunia anda bisa memilih University of Cambridge, Imperial College London, University of Oxford, King’s College London, University of Edinburgh, University of Manchester dan Bristol. Masih banyak perguruan tinggi lain yang bagus di Inggris seperti Birmingham University, Leicester University, Lancaster University, University of Southamptown, University of  Warwick, University of Glasgow, University of St Andrews, dan masih banyak lagi yang lain yang bagus dan keren-keren.

Perguruan Tinggi di Inggris juga banyak menelurkan ilmuwan kelas dunia seperti Newton, Lord Kelvin, Michael Faraday dan Stephen Hawkings. Ratusan peraih Nobel juga lahir dari universitas-universitas ternama di Inggris.

Kualitas pendidikan yang bagus ini membuat anda tidak bisa main-main kuliah. Dosen Raja Tega adalah pemandangan biasa di Inggris. Tak ada namanya nilai kasian karena berasal dari negara dunia ketiga yang bahasa Inggrisnya pas-pasan, karena miskin, karena usianya sudah tua, karena jomblo atau karena putus cinta. Nilai berdasarkan hasil tugas atau exam. Tak akan ada toleransi bagi yang mencontek.

2) Bahasa Inggrisnya Orang Inggris

enhanced-buzz-2164-1402505049-8

(via buzzfeed.com)

Kuliah di Inggris pastinya pakai bahasa Inggris. Bahasa ini telah dipelajari orang Indonesia sejak bangku SMP. Little-little we can lah. Karenanya tentu tak sesulit ketika harus belajar bahasa baru, sehingga setahun pertama harus belajar bahasa pengantar sebelum memulai masuk ke substansi mata kuliah.

Aksen British sangat berbeda dengan aksen Amerika. Kedengarannya lebih tebal, lebih elegan dan lebih klasik. Mendengarnya orang Inggris bicara seperti sedang menonton film Harry Potter. Tiba-tiba saja rasanya kita merasa sedang bicara dengan bangsawan abad pertengahan. Kalau di Amerika hanya para Vampire yang hidupnya ratusan tahun yang memiliki aksen seindah ini. Sepulang dari Inggris anda akan merindukannya, mendengar dengan penuh hikmat film-film beraksen british.

Karena belajarnya di negara asal bahasa Inggris, maka persyaratan bahasa Inggris untuk kuliah disana sedikit lebih tinggi dibanding negara Eropa lainnya. Secara rata-rata dibutuhkan IELTS 6.5 atau TOEFL IBT 92 untuk dapat diterima. Memang agak tinggi, tapi bisa-lah, dengan berusaha bersungguh-sungguh, nilai segitu tak susah-susah amat.

3) Budaya dan Sejarahnya

great-heritage_2004843i

(via telegraph.co.uk)

Budaya Inggris sudah berusia ratusan tahun. Sampai sekarang Ratunya masih berkuasa dan memerintah United Kingdom of Great Britain yang terdiri dari England, Skotlandia, Wales dan North Ireland. Ratu Elizabeth II, raru Inggris Raya sekarang, juga menjadi kepala negara atau ratu bagi 16 negara berdaulat yang dulu pernah dibawah jajahannya  seperti Australia, New Zealand, Canada dan Papua New Guinea.

Kerajaan England dan Kerajaan Skotlandia yang menjadikan persatuan Inggris Raya sekarang ini sudah ada seribu tahun yang lampau. Keduanya punya sejarah panjang peperangan dengan bangsa-bangsa viking dan bangsa Eropa lain, kemudian berperang dengan mereka sendiri hingga menjadi sebuah uni pada tahun 1707 dengan satu Raja.

Karena sifatnya yang kerajaan banget, maka budaya rakyat Inggris menjadi terpengaruh oleh budaya kerajaan ini. Sopan santun ala bangsawan menjadikan rakyat Inggris terkenal sopan dan menghargai tamu. Dengan sekolah di Inggris, kita bisa belajar banyak mengenai budaya dan sejarah Inggris. Museum-museum besar banyak tersebar di kota-kota utama negara ini. Koleksinya sangat beragam dan menjadi rujukan bagi para pencari ilmu.

4) Kastilnya yang mempesona

edinburg castle

Edinburgh Castle dari arah Princess Street Garden

Kamu yang terbiasa narsis sangat cocok kuliah di Inggris.  Di sela-sela aktifitas kuliah kamu bisa menyempatkan diri mengunjungi kastil-kastil bersejarah di Inggris, mulai dari Buckingham Palace di London, Edinburgh Castle, Stirling Castle, Alnwick Castle, Urquhart Castle dan kastil-kastil yang lainnya.

Setiap kastil ini punya sejarah sendiri dan tak jarang menjadi tempat syuting film-film yang berbasis di Inggris macam Harry Potter. Jepret dimanapun akan keliatan keren. Kastil bertebaran dimana-mana. Spot fotonya sangat bagus. Tembok berlapis bata akan merefleksikan cahaya merah matahari.

5) Klub Sepakbola yang mendunia

gawa man united

Inilah alasan paling keren kuliah di Inggris, menonton langsung tim kesayanganmu berlaga. Tak lengkap menjadi penggemar Manchester United kalau belum pernah menonton di Old Trafford. Akan selalu kurang kalau menjadi penggemar Liverpool, Chelsea, Arsenal, City, Tottenham kalau hanya melihat di layar kaca tanpa sekalipun pernah melihat bintang kesayangan mengolah bola di lapangan hijau. Atmosfer stadion yang bergemuruh, chant para penonton yang selama ini hanya bisa dilihat you tube bisa dinyanyikan di lapangan.

Ke Inggris-lah, maka sempurnalah dukunganmu terhadap tim favoritmu.

So Tunggu Apa Lagi?

Anti Nyontek di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Beberapa waktu lalu ada kehebohan di Indonesia, seorang pejabat yang juga akademisi yang dikagumi karena kelurusannya kedapatan menjiplak tulisan orang lain, celakanya lagi tulisan yang dijiplak juga pernah terbit di media yang sama dengan tulisan tersebut dimuat. Hebatnya lagi media yang memuat adalah media dengan oplah terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling didenger opininya di tanah air. Bagi saya itu apes saja, apes bagi yang menulis dan apes bagi yang memuat. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi feeling saya mengatakan sebagian besar dari kita pernah mencontek sebagian atau seluruh karya orang lain, baik karena kesengajaan, kemalasan atau ketidak tahuan bahwa itu mencontek.

So, kalau ada yang mencontek, menjiplak dan plagiat di negeri yang rawan kriminalisasi ini, itu sudah lumrah, sudah biasa dan sebentar lagi dijadikan SOP karena terbiasanya. Saya dulunya tak suka mencontek, khususnya waktu SD tk pernah sekalipun saya mencontek, tapi setelah SMP saya melihat semua orang mencontek dan mencontek seperti sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Sehabis ujian banyak yang bercerita bagaimana berhasilnya dia mengelabui pengawas yang sebenarnya juga tahu banyak yang mencontek ketika ujian.

Masuk SMA kebiasaan mencontek ketika ujian tak berhenti, hanya ketika EBTANAS lah saya tak nyontek. Kebiasaan buruk ini membuat saya harus bekerja keras jelang UMPTN yang memang membutuhkan kemampuan sendiri tanpa perlu bantuan orang lain atau contekan, disamping sistemnya yang tak memungkinkan untuk mencontek.

Di bangku kuliah, budaya nyontek ini jamak kembali saya temui. Tentu tak semua mata kuliah kita bisa nyontek, tapi ada banyak kesempatan para mahasiswa mencontek di ujian atau mencontek tugas temannya tanpa bisa di filter oleh dosen.

***

Karena besar di daerah yang membiasakan mencontek, saya harus belajar lebih keras ketika berkesempatan sekolah di Scotland. Sebelum berangkat, saya bersama beberapa teman mengikuti kursus singkat penulisan essay yang bisa menghindarkan kami dari tuduhan mencontek. Dari pelatihan saya mendapatkan satu pelajaran penting, belajarlah untuk paraphrasing.

Di bangku kuliah, ternyata menhindarai mencontek atau plagiarism tak semudah dibayangan saya selama ini. Saya awalnya berpikir, untuk tugas essay selama tidak mencontek sebagian atau keseluruhan tugas teman-teman kuliah sudah Oke. Mengambil langsung dari buku dan menyebut sumbernya saya pikir sudah terhindar dari tuduhan plagiat.

Ternyata tak semudah itu. Kalau akan mengutip buku atau artikel meskipun menyebut sumbernya, saya harus merubah kata-katanya dengan menggunakan kata saya sendiri, beberapa kata yang sama berturut-turut bisa dianggap plagiat (misalnya 5 kata berturut-turut kalau di School saya), atau 15 kata yang sama dalam satu paragraf bisa dikategorikan plagiat juga. Dengan aturan seketat ini, sangat mustahil bagi kita untuk mencontek, dan membuat kita harus banyak membaca dan banyak menelaah.

 turn it in

Contoh hasil analisis turn-it-in

Untuk mendeteksi plagiarism ini, setiap tugas yang dikumpul harus diupload melalui jaringan web universitas dan langsung dicek similarities-nya dengan semua tugas kuliah mahasiswa se-UK atau seluruh Dunia oleh program turn-it-in. Tugas ini juga dibandingkan dengan artikel, buku, jurnal, dan halaman web yang ada di internet. Bagaimana dengan yang diambil dari buku hard copy? Tak sulit untuk mendeteksinya, saat ini sudah banyak buku hard copy yang telah ada versi digitalnya.

Tugas yang telah diinput dalam sistem turn-it-in akan keliatan similarities-nya dan dengan apa artikel tersebut sama, dengan gampang akan terlihat. Konvensi umum yang berlaku bahwa toleransi similarity ini adalah 20%, lebih besar dari itu akan diperhatikan oleh dosennya darimana sumbernya, jika kesamaannya karena kesamaan istilah atau bibiliography tidak akan menjadi masalah. Setelah diinput, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki, namun analisis similarity ini tidak akan muncul dengan cepat jika sudah reupload tugas, butuh waktu 1×24 jam untuk terlihat hasilnya, tujuannya adalah mahasiswa tidak sembarangan reupload tugas.

Dengan sistem yang seperti ini, mustahil orang berpikir untuk mencontek dalam mengerjakan tugas, kedapatan plagiat akan berakibat kena sidang dan akan dikeluarkan dari university dan hilanglah semua uang yang mahal yang telah dibayarkan.

***

Saya jadi berpikir mencontek ini memang sudah jadi budaya yang susah diberantas. Sudah berurat dan berakar di benak setiap siswa Indonesia. Tapi sistemlah yang membuat ini semua tak bisa dieliminir. Seandainya ada sistem yang keras terhadap para pencontek, niscaya kita semua akan berusaha untuk belajar. Kegagalan menerapkan sistem yang baik membuat banyak orang yang sebenarnya tidak berniat untuk nyontek atau melakukan plagiarism menjadi harus melakukannya karena melihat orang-orang yang nyontek mendapatkan nilai yang lebih baik dan tak mendapatkan hukuman apa-apa. Memang baik ketika orang menyatakan bahwa pendidikan sebaiknya tidak melihat nilai. Tapi come on, ayolah, kita ini senang berkompetisi dan mendapatkan nilai tinggi. Tak usah orang dihindarkan dinilai berdasarkan kemampuan akademiknya, akan tetapi sistem dibuat agar orang bisa mendapatkan nilai yang tinggi sesuai dengan kemampuannya. Anda belajar dan bersungguh-sungguh akan dapat nilai yang baik dan malas-malasan akan dapat nilai jelek. Yang terjadi di banyak tempat di Indonesia, yang malas-malasanpun bisa tetap mendapatkan nilai tinggi dengan mencontek pada yang rajin.

Salam Nyontek

Thank You

“Massikola tongengnotu nak okko Inggris, wasengko mauba’si wattemmu makkeda meloko lao”
(Akhirnya kamu benar sekolah di Inggris nak, saya pikir kamu main2) kata Mama’ku ketika kukabarkan lewat telpon ketika tiba di Inggris. Untuk murahnya pembayaran, saya Skype-an dengan mamanya Gawa dan kemudian mereka saling telponan, jadi interfacenya Skype-telpon-telpon, hehehe.

“Jadi disana orang pakai bahasa Inggris? Padahal saya ndak pernah dengar kau bahasa Inggris” kata mama’ku lagi. Saya hanya tertawa, pertanyaan ini masih ungkapan keheranannya.

Saya berangkat ke Inggris sebenarnya niatnya mau nonton Manchester United, tapi tidak ada sponsor yang mau membiayai, nah hanya lewat beasiswalah saya bisa nonton di Old Trafford. Hehehe, please forgive me bapak pewawancara.

Kota Edinburgh tempat kuliah saya adalah kota yang menyenangkan, tidak terlalu besar tapi juga tak sempit. Bangunan bersejarah dimana-mana, orang-orangnya ramah, dan makanan halal banyak tersedia, sebuah mesjid besar persis didepan kampus utama.

Namun kehidupan awal kuliah adalah tantangan buat saya, dua masalah utamanya. Pertama, kendala bahasa, kadangkala saya tak mengerti apa yang diomongkan dosennya, dan tak jarang dosen tak mengerti yang saya tanyakan. Untunglah saya tak sendiri. Di minggu-minggu awal, setiap jeda mahasiswa beragam bangsa berkumpul sambil saling bertanya
“Dosen tadi ngomong apa ya?” Hehehe.
Kendala kedua adalah banyaknya pelajaran yang menuntut menggunakan turunan rumus-rumus matematika jaman SMA atau awal kuliah. Dengan entengnya temenku asal China ketika saya tanya tentang sebuah rumus bilang “ini pelajaran high school, masak lupa”, alamakk SMA gw udah 15 tahun lalu.

Hal lain yang membuat keder adalah begitu cepatnya dosen menerangkan, sehingga bahan bejibun untuk dipelajari. Aturan plagiarisme juga diawasi ketat, tak boleh mengkopi tulisan orang 5 kata berturut-turut sama dan 10 kata sama dalam satu paragraf, harus diparafrase. Aturan ini menjadikan kita lebih hati-hati agar tak dipanggil dan disidang karena ketahuan copy paste. Dosen juga memberikan nilai secara tega, ada teman yang dapat nilai 9 dari 100%, untuk di Indonesia bisa dikatakan dia diberi ongkos menulis saja nggak. Yang lebih mengkhawatirkan karena tidak ada istilah reseat ketika ada mata kuliah yang gagal, kalo gagal ya terima aja, kalo mau ngulang bayar full dan ngulang dari awal tahun program. Syarat untuk lanjut disertasi adalah minimal melulusi 80 dari 120 kredit dan rata-rata dari 120 kredit adalah 50%. Kedengarannya 50% ini biasa-biasa saja, namun di Inggris nilai 70% sudah dianggap A atau Distinction dan nilai 40% sudah lulus. Tiga dari kawan sekelas saya tak bisa lanjut tahap disertasi karena tak memenuhi syarat ini. Dia hanya dapat gelar Diploma dan tak berhak mendapatkan gelar Master nantinya.

Tapi untunglah semangat saya tak pernah kendur, akhirnya semuanya berjalan baik, semua mata kuliah semester I lulus dengan baik. Dan saya masih sempat nonton Man United sebelum revision week. Teteup .

Jelang exam semester II, Gawa dan mamanya bergabung ke Edinburgh, saya pindah ke flat, tak lagi ngekos di keluarga scotland yang baik hati.
Saat Revision week, saya lebih banyak di kampus, Gawa dan mamanya sesekali datang dan kami bersantai bersama di Meadow atau Nicholson square sambil membiarkan Gawa kejar-kejaran dengan Merpati.

Hanya seminggu libur setelah exam, kerja yang lebih keras dimulai,menyelesaikan disertasi (iya, namanya emang disertasi di Inggris untuk thesis master kalo di Indenesia). Rutinitas mengukur di Lab, mengolah data dan mengukur lagi dilakukan selama sebulan. Tak sepatah katapun yang sempat di ketik, semuanya masih tahap simulasi di Matlab.

Bulan kedua, ramadhan datang bertepatan dengan summer, puasa bisa 19jam. Magrib jam 10, dan subuh jam 3. Saya biasanya buka di mesjid mengambil beberapa bungkus nasi biryani dan dibawa kerumah, saya tidur setelah shalat subuh dan berangkat lagi ke Lab jam 8 pagi. Hingga selesai bulan kedua, belum sepatah kata jua terketik, dan saya mulai khawatir dengan progress disertasi ini, padahal saya sudah full time 14 jam sehari dan 6 hari seminggu, namun masih jauh targetnya. Namun, sesekali saya juga rehat dengan menonton pertandingan Piala Dunia .

Selepas lebaran, saya tetap bekerja di lab dan di library dengan jadwal yang sama dengan saat ramadhan. Tapi kali ini setiap siang, Gawa dan mamanya datang membawa makanan ke Lab komputer. Saya makan siang sementara Gawa nonton Yutub pakai account kampus saya. Beberapa penghuni Lab mulai nampak familiar dengan Gawa.

Tanda kekhawatiran juga terlihat di mukanya mamanya Gawa. Beberapa orang teman sudah 30%, ada yang 50% dan ada yang sudah hampir seleesai. Pernah dia bertanya progress disertasi dan berusaha menyemangati, tapi saya tak senang dikejar, akhirnya dia tak bertanya lagi, tapi diwajahnya tampak kekhawatiran saya tak selesai. Jika tak selesai saya harus ngembaliin beasiswa, dan dia merasa akan disalahkan karena justru jadi distraction di Edinburgh.

Karena terlalu banyak data yang harus diolah, saya beristirahat lebih sedikit lagi. Saya mulai jam 8 pagi dan pulang jam 3 pagi. Sesekali bertemu dengan pria mabuk sempoyongan di jalan pulang. Disertasi saya selesai di print 4 jam sebelum deadline. Saya bawa dengan semangat ke kampus, dan kemuadian menyusul Gawa dan mamanya merayakan keberhasilan sementara saya mengumpul disertasi. Khusus untuk hari terakhir saya telah tak tidur lebih dari 24 jam.

Setelahnya saya tinggal menunggu hasil penilaian examiner dan supervisor.

***

Hari ini sebuah paket tiba dari Edinburgh, selembar kertas tipis hasil perjuangan setahun,banyak cerita dibaliknya dan tak sedikit perjuangan menyertainya dan ada banyak doa dan bantuan yang membuatnya layak saya terima.

Terima kasih tak berhingga untuk mama’ dan bapak atas doanya. Terima kasih buat Gawa dan Mamanya yang menemani dengan penuh sabar selama di proses disertasi, makasih buat kakak2 dan adekku yang membantu secara materil maupun immateriil, thanks juga buat teman2 atas supportnya. Terima kasih spesial buat sponsorku yang baik hati TPSDM Kementerian Komunikasi dan Informasi. Makasih juga buat teman2 Indonesia di Edinburgh yang membuat Indonesia rasanya dekat.

Meskipun mereka gak ngerti apa yang ditulis diatas, thanks to my supervisor and my friends in SES of UoE.