Anti Nyontek di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Beberapa waktu lalu ada kehebohan di Indonesia, seorang pejabat yang juga akademisi yang dikagumi karena kelurusannya kedapatan menjiplak tulisan orang lain, celakanya lagi tulisan yang dijiplak juga pernah terbit di media yang sama dengan tulisan tersebut dimuat. Hebatnya lagi media yang memuat adalah media dengan oplah terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling didenger opininya di tanah air. Bagi saya itu apes saja, apes bagi yang menulis dan apes bagi yang memuat. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi feeling saya mengatakan sebagian besar dari kita pernah mencontek sebagian atau seluruh karya orang lain, baik karena kesengajaan, kemalasan atau ketidak tahuan bahwa itu mencontek.

So, kalau ada yang mencontek, menjiplak dan plagiat di negeri yang rawan kriminalisasi ini, itu sudah lumrah, sudah biasa dan sebentar lagi dijadikan SOP karena terbiasanya. Saya dulunya tak suka mencontek, khususnya waktu SD tk pernah sekalipun saya mencontek, tapi setelah SMP saya melihat semua orang mencontek dan mencontek seperti sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Sehabis ujian banyak yang bercerita bagaimana berhasilnya dia mengelabui pengawas yang sebenarnya juga tahu banyak yang mencontek ketika ujian.

Masuk SMA kebiasaan mencontek ketika ujian tak berhenti, hanya ketika EBTANAS lah saya tak nyontek. Kebiasaan buruk ini membuat saya harus bekerja keras jelang UMPTN yang memang membutuhkan kemampuan sendiri tanpa perlu bantuan orang lain atau contekan, disamping sistemnya yang tak memungkinkan untuk mencontek.

Di bangku kuliah, budaya nyontek ini jamak kembali saya temui. Tentu tak semua mata kuliah kita bisa nyontek, tapi ada banyak kesempatan para mahasiswa mencontek di ujian atau mencontek tugas temannya tanpa bisa di filter oleh dosen.

***

Karena besar di daerah yang membiasakan mencontek, saya harus belajar lebih keras ketika berkesempatan sekolah di Scotland. Sebelum berangkat, saya bersama beberapa teman mengikuti kursus singkat penulisan essay yang bisa menghindarkan kami dari tuduhan mencontek. Dari pelatihan saya mendapatkan satu pelajaran penting, belajarlah untuk paraphrasing.

Di bangku kuliah, ternyata menhindarai mencontek atau plagiarism tak semudah dibayangan saya selama ini. Saya awalnya berpikir, untuk tugas essay selama tidak mencontek sebagian atau keseluruhan tugas teman-teman kuliah sudah Oke. Mengambil langsung dari buku dan menyebut sumbernya saya pikir sudah terhindar dari tuduhan plagiat.

Ternyata tak semudah itu. Kalau akan mengutip buku atau artikel meskipun menyebut sumbernya, saya harus merubah kata-katanya dengan menggunakan kata saya sendiri, beberapa kata yang sama berturut-turut bisa dianggap plagiat (misalnya 5 kata berturut-turut kalau di School saya), atau 15 kata yang sama dalam satu paragraf bisa dikategorikan plagiat juga. Dengan aturan seketat ini, sangat mustahil bagi kita untuk mencontek, dan membuat kita harus banyak membaca dan banyak menelaah.

 turn it in

Contoh hasil analisis turn-it-in

Untuk mendeteksi plagiarism ini, setiap tugas yang dikumpul harus diupload melalui jaringan web universitas dan langsung dicek similarities-nya dengan semua tugas kuliah mahasiswa se-UK atau seluruh Dunia oleh program turn-it-in. Tugas ini juga dibandingkan dengan artikel, buku, jurnal, dan halaman web yang ada di internet. Bagaimana dengan yang diambil dari buku hard copy? Tak sulit untuk mendeteksinya, saat ini sudah banyak buku hard copy yang telah ada versi digitalnya.

Tugas yang telah diinput dalam sistem turn-it-in akan keliatan similarities-nya dan dengan apa artikel tersebut sama, dengan gampang akan terlihat. Konvensi umum yang berlaku bahwa toleransi similarity ini adalah 20%, lebih besar dari itu akan diperhatikan oleh dosennya darimana sumbernya, jika kesamaannya karena kesamaan istilah atau bibiliography tidak akan menjadi masalah. Setelah diinput, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki, namun analisis similarity ini tidak akan muncul dengan cepat jika sudah reupload tugas, butuh waktu 1×24 jam untuk terlihat hasilnya, tujuannya adalah mahasiswa tidak sembarangan reupload tugas.

Dengan sistem yang seperti ini, mustahil orang berpikir untuk mencontek dalam mengerjakan tugas, kedapatan plagiat akan berakibat kena sidang dan akan dikeluarkan dari university dan hilanglah semua uang yang mahal yang telah dibayarkan.

***

Saya jadi berpikir mencontek ini memang sudah jadi budaya yang susah diberantas. Sudah berurat dan berakar di benak setiap siswa Indonesia. Tapi sistemlah yang membuat ini semua tak bisa dieliminir. Seandainya ada sistem yang keras terhadap para pencontek, niscaya kita semua akan berusaha untuk belajar. Kegagalan menerapkan sistem yang baik membuat banyak orang yang sebenarnya tidak berniat untuk nyontek atau melakukan plagiarism menjadi harus melakukannya karena melihat orang-orang yang nyontek mendapatkan nilai yang lebih baik dan tak mendapatkan hukuman apa-apa. Memang baik ketika orang menyatakan bahwa pendidikan sebaiknya tidak melihat nilai. Tapi come on, ayolah, kita ini senang berkompetisi dan mendapatkan nilai tinggi. Tak usah orang dihindarkan dinilai berdasarkan kemampuan akademiknya, akan tetapi sistem dibuat agar orang bisa mendapatkan nilai yang tinggi sesuai dengan kemampuannya. Anda belajar dan bersungguh-sungguh akan dapat nilai yang baik dan malas-malasan akan dapat nilai jelek. Yang terjadi di banyak tempat di Indonesia, yang malas-malasanpun bisa tetap mendapatkan nilai tinggi dengan mencontek pada yang rajin.

Salam Nyontek

Advertisements

Thank You

“Massikola tongengnotu nak okko Inggris, wasengko mauba’si wattemmu makkeda meloko lao”
(Akhirnya kamu benar sekolah di Inggris nak, saya pikir kamu main2) kata Mama’ku ketika kukabarkan lewat telpon ketika tiba di Inggris. Untuk murahnya pembayaran, saya Skype-an dengan mamanya Gawa dan kemudian mereka saling telponan, jadi interfacenya Skype-telpon-telpon, hehehe.

“Jadi disana orang pakai bahasa Inggris? Padahal saya ndak pernah dengar kau bahasa Inggris” kata mama’ku lagi. Saya hanya tertawa, pertanyaan ini masih ungkapan keheranannya.

Saya berangkat ke Inggris sebenarnya niatnya mau nonton Manchester United, tapi tidak ada sponsor yang mau membiayai, nah hanya lewat beasiswalah saya bisa nonton di Old Trafford. Hehehe, please forgive me bapak pewawancara.

Kota Edinburgh tempat kuliah saya adalah kota yang menyenangkan, tidak terlalu besar tapi juga tak sempit. Bangunan bersejarah dimana-mana, orang-orangnya ramah, dan makanan halal banyak tersedia, sebuah mesjid besar persis didepan kampus utama.

Namun kehidupan awal kuliah adalah tantangan buat saya, dua masalah utamanya. Pertama, kendala bahasa, kadangkala saya tak mengerti apa yang diomongkan dosennya, dan tak jarang dosen tak mengerti yang saya tanyakan. Untunglah saya tak sendiri. Di minggu-minggu awal, setiap jeda mahasiswa beragam bangsa berkumpul sambil saling bertanya
“Dosen tadi ngomong apa ya?” Hehehe.
Kendala kedua adalah banyaknya pelajaran yang menuntut menggunakan turunan rumus-rumus matematika jaman SMA atau awal kuliah. Dengan entengnya temenku asal China ketika saya tanya tentang sebuah rumus bilang “ini pelajaran high school, masak lupa”, alamakk SMA gw udah 15 tahun lalu.

Hal lain yang membuat keder adalah begitu cepatnya dosen menerangkan, sehingga bahan bejibun untuk dipelajari. Aturan plagiarisme juga diawasi ketat, tak boleh mengkopi tulisan orang 5 kata berturut-turut sama dan 10 kata sama dalam satu paragraf, harus diparafrase. Aturan ini menjadikan kita lebih hati-hati agar tak dipanggil dan disidang karena ketahuan copy paste. Dosen juga memberikan nilai secara tega, ada teman yang dapat nilai 9 dari 100%, untuk di Indonesia bisa dikatakan dia diberi ongkos menulis saja nggak. Yang lebih mengkhawatirkan karena tidak ada istilah reseat ketika ada mata kuliah yang gagal, kalo gagal ya terima aja, kalo mau ngulang bayar full dan ngulang dari awal tahun program. Syarat untuk lanjut disertasi adalah minimal melulusi 80 dari 120 kredit dan rata-rata dari 120 kredit adalah 50%. Kedengarannya 50% ini biasa-biasa saja, namun di Inggris nilai 70% sudah dianggap A atau Distinction dan nilai 40% sudah lulus. Tiga dari kawan sekelas saya tak bisa lanjut tahap disertasi karena tak memenuhi syarat ini. Dia hanya dapat gelar Diploma dan tak berhak mendapatkan gelar Master nantinya.

Tapi untunglah semangat saya tak pernah kendur, akhirnya semuanya berjalan baik, semua mata kuliah semester I lulus dengan baik. Dan saya masih sempat nonton Man United sebelum revision week. Teteup .

Jelang exam semester II, Gawa dan mamanya bergabung ke Edinburgh, saya pindah ke flat, tak lagi ngekos di keluarga scotland yang baik hati.
Saat Revision week, saya lebih banyak di kampus, Gawa dan mamanya sesekali datang dan kami bersantai bersama di Meadow atau Nicholson square sambil membiarkan Gawa kejar-kejaran dengan Merpati.

Hanya seminggu libur setelah exam, kerja yang lebih keras dimulai,menyelesaikan disertasi (iya, namanya emang disertasi di Inggris untuk thesis master kalo di Indenesia). Rutinitas mengukur di Lab, mengolah data dan mengukur lagi dilakukan selama sebulan. Tak sepatah katapun yang sempat di ketik, semuanya masih tahap simulasi di Matlab.

Bulan kedua, ramadhan datang bertepatan dengan summer, puasa bisa 19jam. Magrib jam 10, dan subuh jam 3. Saya biasanya buka di mesjid mengambil beberapa bungkus nasi biryani dan dibawa kerumah, saya tidur setelah shalat subuh dan berangkat lagi ke Lab jam 8 pagi. Hingga selesai bulan kedua, belum sepatah kata jua terketik, dan saya mulai khawatir dengan progress disertasi ini, padahal saya sudah full time 14 jam sehari dan 6 hari seminggu, namun masih jauh targetnya. Namun, sesekali saya juga rehat dengan menonton pertandingan Piala Dunia .

Selepas lebaran, saya tetap bekerja di lab dan di library dengan jadwal yang sama dengan saat ramadhan. Tapi kali ini setiap siang, Gawa dan mamanya datang membawa makanan ke Lab komputer. Saya makan siang sementara Gawa nonton Yutub pakai account kampus saya. Beberapa penghuni Lab mulai nampak familiar dengan Gawa.

Tanda kekhawatiran juga terlihat di mukanya mamanya Gawa. Beberapa orang teman sudah 30%, ada yang 50% dan ada yang sudah hampir seleesai. Pernah dia bertanya progress disertasi dan berusaha menyemangati, tapi saya tak senang dikejar, akhirnya dia tak bertanya lagi, tapi diwajahnya tampak kekhawatiran saya tak selesai. Jika tak selesai saya harus ngembaliin beasiswa, dan dia merasa akan disalahkan karena justru jadi distraction di Edinburgh.

Karena terlalu banyak data yang harus diolah, saya beristirahat lebih sedikit lagi. Saya mulai jam 8 pagi dan pulang jam 3 pagi. Sesekali bertemu dengan pria mabuk sempoyongan di jalan pulang. Disertasi saya selesai di print 4 jam sebelum deadline. Saya bawa dengan semangat ke kampus, dan kemuadian menyusul Gawa dan mamanya merayakan keberhasilan sementara saya mengumpul disertasi. Khusus untuk hari terakhir saya telah tak tidur lebih dari 24 jam.

Setelahnya saya tinggal menunggu hasil penilaian examiner dan supervisor.

***

Hari ini sebuah paket tiba dari Edinburgh, selembar kertas tipis hasil perjuangan setahun,banyak cerita dibaliknya dan tak sedikit perjuangan menyertainya dan ada banyak doa dan bantuan yang membuatnya layak saya terima.

Terima kasih tak berhingga untuk mama’ dan bapak atas doanya. Terima kasih buat Gawa dan Mamanya yang menemani dengan penuh sabar selama di proses disertasi, makasih buat kakak2 dan adekku yang membantu secara materil maupun immateriil, thanks juga buat teman2 atas supportnya. Terima kasih spesial buat sponsorku yang baik hati TPSDM Kementerian Komunikasi dan Informasi. Makasih juga buat teman2 Indonesia di Edinburgh yang membuat Indonesia rasanya dekat.

Meskipun mereka gak ngerti apa yang ditulis diatas, thanks to my supervisor and my friends in SES of UoE.

Pelayanan dan Fasilitas Umum di Inggris Raya

Oleh : Ahmad Amiruddin

Selama tinggal dan belajar setahun di UK, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan pelayanan umum yang diberikan kepada para warga Edinburgh, baik dia sebagai orang asing maupun sebagai penduduk UK atau Scotland. Saya menangkap kesan bahwa sistem pelayanan di Edinburgh terpercaya dan reliable, tidak harus cepat, tapi mereka bekerja dengan efisien, terencana dan taat asas. Berikut adalah beberapa pengalaman saya:

Transportasi Umum

DSC_0461_taroada

Transportasi umum di Edinburgh adalah bis, tram dan kereta api. Bis dalam kota menggunakan Lothian Bus yang menghubungkan hampir semua titik di Edinburgh. Tak banyak perumahan yang tak terjangkau oleh Bis ini. Lothian Bus mengoperasikan 50 rute di sekitar kota Edinburgh. Jadwal bis terpublikasi dengan baik dan terintegrasi dengan beberapa aplikasi berbasis android maupun iOS. Jadwal bis juga terintegrasi dengan Google map yang memberikan petunjuk nomor bis, jalur dan jadwal kedatangan, cukup dengan menginput titik keberangkatan dan tujuan.

Screenshot_2014-10-07-10-19-21

Google Maps Screenshot

Di halte-halte disediakan juga jadwal keberangkatan dan jadwal tiba bis. Rentang waktu kedatangan bis tergantung jurusan dan kepadatan jalur tersebut. Umumnya jadwal kedatangan bis dalam rentang 10 s.d 15 menit. Secara umum jarang terjadi keterlambatan. Sepanjang pengalaman saya selama setahun, tidak lebih dari 3 kali saya mendapatkan bis yang terlambat 10 menit dari jadwal yang tertera. Bis menyediakan 1 tempat untuk stroller untuk bayi dan 1 space untuk pengguna kursi roda. Tinggi bis bisa diturunkan ketika ada penyandang disabilitas yang harus turun. Hal ini menjadikan bis sangat ramah bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus. Bis ini juga dilengkapi dengan CCTV dan perekam suara yang untuk memberi rasa aman bagi penumpang maupun supir bisnya.

IMG_20130907_112901_taroada

Ongkos bis sekali naik disekitaran kota Edinburgh adalah £1.5 (£1 = ± Rp. 19.700) untuk tiket sehari adalah £3.5. Bagi pelajar diberikan diskon untuk berlangganan bis £40 selama sebulan dengan menggunakan Rida Card. Bagi para pensiunan di Edinburgh mendapatkan fasilitas bis gratis dengan menggunakan Scottish Concession Card.

Rida Card (lothianbuses.com)

Rida Card (lothianbuses.com)

Kendaraan yang menghubungkan antar kota adalah bis dan kereta. Harga tiket bis bisa 80% lebih murah daripada menggunakan kereta. Stasiun-stasiun kereta terhubung dengan halte bis dan bandara-bandara besar. Jika bis masih memiliki toleransi waktu lebih kurang lima menit dari jadwal kedatangan dan keberangkatan, maka kereta berangkat sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Terkadang kereta berhenti hanya 1 menit di stasiun untuk menyesuaikan waktu keberangkatan dengan jadwal. Saya sendiri pernah ketinggalan kereta dari London ke Oxford, setelah hanya terlambat 3 menit dari jadwal. Akhirnya harus membayar dengan harga yang jauh lebih mahal. Awalnya saya hanya perlu membayar £17 untuk dua orang, namun karena terlambat harus membeli tiket baru dengan harga £58 untuk sekali jalan.

Untuk kereta juga tersedia kartu untuk mendapatkan diskon kereta. Salah satunya dengan menggunakan kartu 16-25 bagi yang berusia 16 s.d 25 tahun atau bagi pelajar meskipun berusia lebih dari 25 tahun dapat mengajukan pembuatan kartu dengan melampirkan keterangan sebagai mahasiswa dari universitas masing-masing. Kartu ini berlaku selama setahun dengan biaya £30. Dengan menggunakan kartu ini, bisa didapatkan diskon hingga 30% dari biaya normal.

Dengan jadwal dan ketepatan waktu bis, orang-orang bisa melakukan aktifitasnya secara terjadwal dan teratur yang bisa berandil dalam meningkatkan produktifitas.

Akses di Jalan Raya

Jalanan di Edinburgh ramah terhadap pejalan kaki dan yang menggunakan kursi roda. Setiap trotoar memiliki akses naik dan turun disetiap persimpangan jalan. Jika ada proyek perbaikan jalan yang menutup trotoar, maka trotoar pengganti yang berpagar dan bisa dilalui oleh kursi roda juga disediakan. Jika ada pembangunan yang berdekatan dengan jalan maka scaffolding yang dilalui pejalan kaki diberikan semacam busa sebagai peredam jika terjadi benturan antara pejalan kaki dengan tiang scaffolding tersebut.

Lalu lintas di Edinburgh tidak macet karena jumlah kendaraan yang tidak terlalu banyak dijalan. Untuk membayar parkir disediakan mesin pembayaran parkir off street. Tidak ada tukang parkir yang berdiri mengatur posisi parkir. Petugas parkir hanya berkeliling untuk memeriksa apakah seseorang telah membayar parkir atau tidak atau melanggar batas garis tidak boleh parkir. Tidak hanya denda tilang yang diberikan, mobil pengerek juga disediakan jika melanggar batas parkir dalam waktu yang lama.

Listrik, Gas dan Air

Konsumen berlangganan listrik di Inggris Raya melalui retailer dengan sistem open market. Konsumen bisa mengajukan perpindahan retailer secara bebas. Tercatat 30% pelanggan berpindah retailer setiap tahunnya. Selama tinggal disana, belum pernah saya mengalami mati lampu. Sistem pembayaran yang digunakan adalah single tarif.

Perusahaan retailer untuk gas dan listrik di tempat saya sama. Di beberapa flat yang lain tidak menggunakan gas sama sekali namun menggunakan listrik. Harga listrik terdiri atas dua komponen yaitu . Secara rata-rata dalam sebulan kami menghabiskan

Pencatatan meter dilaksanakan setiap 6 bulan sekali untuk menyamakan antara tagihan dengan pembacaan yang sebenarnya. Konsumen juga dapat memperbaiki bacaan meter untuk tagihannya melalui website yang tersedia. Nilai pembacaan ini akan diverifikasi oleh pihak utility dengan pengecekan ke lapangan. Listrik dan gas ditagih setiap 3 bulan.

Harga perkWh listrik yang ditagihkan adalah 12.82p atau £0.1282 ditambah dengan Discounted standing charge 24.53p perhari. Secara rata-rata, kami menggunakan listrik sekitar 540kWh perbulannya. Untuk air tidak menggunakan meter, namun harus membayar pajak air setiap tahunnya yang besarnya adalah £147.91 pertahun.

Taman dan Tempat Bermain Anak-anak

Kota Edinburgh dikelilingi banyak taman yang luas, asri dan Indah. Diantara taman kota yang besar adalah Royal Botanical Garden, Princess Street Garden dan Holyrood Park dan Meadowbank. Di tempat-tempat ini juga tersedia lokasi permainan bagi anak-anak yang digratiskan. Arena permainan ini didesain agar aman bagi anak-anak karena dilengkapi dengan pengaman dengan memasang karet tebal sebagai lantai lentur untuk mencegah cedera pada anak ketika terjatuh dari permainannya. Arena bermain ini tidak terlalu dipadati oleh anak-anak karena banyaknya pilihan taman dan permainan yang tersedia di seputaran kota.

DSC_0815_taroada

Flower Clock di Princess Street

Sementara untuk taman digunakan oleh warga untuk duduk santai menikmati udara luar dan berjemur jika matahari bersinar cerah. Royal Botanical Garden di semacam kebun raya yang berisi koleksi tanaman-tanaman khas sub tropik maupun tropik. Tanaman dari daerah tropik ditempatkan pada rumah kaca untuk mendapatkan suhu dan kelembaban yang sesuai.

Kesehatan

Fasilitas kesehatan diberikan secara gratis bagi para pelajar di Inggris Raya melalui asuransi National Health Service (NHS). Asuransi ini diberikan juga untuk keluarga inti para pelajar yang memiliki visa student dependant. Tak banyak persyaratan yang harus disediakan untuk mendaftar. Namun, biasanya untuk mendaftar harus membuat janji terlebih dahulu untuk mengambil dan mengembalikan formulir yang harus diisi. Persyaratannya adalah melampirkan paspor,visa, surat keterangan tempat tinggal dan surat keterangan study dari University. Pendaftaran dilakukan di praktek dokter yang terdekat dengan tempat tinggal.

Di Klinik ini, tak mudah untuk menemui dokter. Dokter hanya bisa ditemui jika benar-benar emergency atau tak bisa menunggu. Saya pernah terkena flu dan batuk yang agak berat. Karena sudah berlangsung 3 hari dan terasa batuknya semakin menyiksa, saya ke klinik untuk membuat appointment dengan dokternya. Saya pikirnya paling lambat besoknya akan dijadwalkan bertemu dengan dokternya, namun ternyata saya dijadwalkan dua minggu baru bisa bertemu, karena hanya itu jadwal dokternya yang kosong. Akhirnya setelah dua minggu batuk dan flu saya sudah sembuh dengan sendirinya dan sayapun membatalkan appointment ke dokter.

Pengalaman teman yang lain, biasanya mereka hanya bisa ditemui perawat jika memang harus diperiksa dihari yang bersamaan. Dokter sangat sulit ditemui dan hanya hadir jika diperlukan. Teman yang mengalami persalinan di Edinburgh, dalam proses kehamilannya hanya diperiksa oleh Bidan dan tak pernah ketemu dokter hingga persalinannya.

Saya juga mendaftarkan anak ke klinik tempat saya mendaftar. Setelah mendaftar, beberapa minggu kemudian perawat dari klinik akan mendatangi rumah untuk melakukan wawancara mengenai perkembangan anak dan riwayat kesehatannya. Setelah itu, beberapa kali ada undangan dari klinik untuk dilakukan vaksin sesuai dengan umur anak. Pernah pula ada undangan untuk dilakukan assesment terhadap perkembangan anak terkait kemampuan motorik dan kemampuan verbal anak sesuai dengan usianya. Semua layanan diatas gratis.

Dari pengalaman menggunakan fasilitas umum dan layanan umum beberapa hal yang dapat dipelajari dari kultur pelayanan di UK adalah:

1. Efisiensi

Pelayanan di UK diselenggarakan dengan cara yang efisien dan efektif. Sebagai contoh, pelayanan di Bank hanya dibuka 3 loket sebagai kasir sekaligus customer service. Untuk aplikasi rubah data, kita tidak harus mengisi dan menandatangani formulir, cukup datang ke bank dan akan langsung diganti oleh pihak bank dengan cukup menggunakan kartu debit. Layanan ini memberi efisiensi dan kecepatan, tak banyak rantai administrasi yang harus dilakukan.

2. Tepat Waktu

Pelayanan dilakukan dengan tenggat waktu yang jelas dan terstruktur. Jadwal kereta dan bis dipatuhi dan terpercaya. Waktu keberangkatan dan ketibaan bisa diperkirakan berdasarkan jadwal yang telah dipublikasi.

3. Tak Selalu Cepat

Berbeda dengan pemikiran saya selama ini bahwa semua pelayanan di luar negeri bisa cepat sesuai dengan keinginan kita, ternyata tidak selalu demikian. Tingkat urgensi dari layanan menjadikannya kecepatan bisa berbeda. Seperti pengalaman saya yang ingin menemui dokter akan tetapi dijadwalkan lebih lama dari yang saya inginkan, akan tetapi karena tidak terlalu urgen secara hitungan kesehatan, maka jadwal bertemu dijadwalkan lebih lama dari yang saya inginkan.

4. Tak banyak basa basi

Meskipun orang Inggris termasuk sangat ramah, namun tak banyak basa basi dalam melayani. Mereka memang senang tersenyum, namun tak berlebihan ataupun menampakkan tindakan yang dibuat buat hanya untuk berbasa basi dengan kami. Kadangkala saya juga berpikir, mereka agak sedikit kaku di pos pendaftaran, menegur kalo kita memotong penjelasannya, dan membiarkan mereka menjelaskan jawabannya yang belum selesai.

5. Semua diperlakukan sama

Saya mendapati bahwa pelayanan yang diberikan kepada orang dengan tidak melihat warna kulit, ras, dan agama. Semua diperlukan dengan sama dan setaraf. Prioritas hanya diberikan kepada orang penyandang disabilitas, orang yang sudah lanjut usia dan ibu hamil.

Standard yang ditampilkan oleh layanan umum di Inggris memang tidak harus sepenuhnya di contoh di Indonesia tapi ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dijadikan acuan seperti keteraturan, efisiensi dan ketepatan waktu pelayanan di Inggris.

Salam dari Bekasi

Baca Juga:

Kota Cantik Bernama Edinburgh