Anti Nyontek di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Beberapa waktu lalu ada kehebohan di Indonesia, seorang pejabat yang juga akademisi yang dikagumi karena kelurusannya kedapatan menjiplak tulisan orang lain, celakanya lagi tulisan yang dijiplak juga pernah terbit di media yang sama dengan tulisan tersebut dimuat. Hebatnya lagi media yang memuat adalah media dengan oplah terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling didenger opininya di tanah air. Bagi saya itu apes saja, apes bagi yang menulis dan apes bagi yang memuat. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi feeling saya mengatakan sebagian besar dari kita pernah mencontek sebagian atau seluruh karya orang lain, baik karena kesengajaan, kemalasan atau ketidak tahuan bahwa itu mencontek.

So, kalau ada yang mencontek, menjiplak dan plagiat di negeri yang rawan kriminalisasi ini, itu sudah lumrah, sudah biasa dan sebentar lagi dijadikan SOP karena terbiasanya. Saya dulunya tak suka mencontek, khususnya waktu SD tk pernah sekalipun saya mencontek, tapi setelah SMP saya melihat semua orang mencontek dan mencontek seperti sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Sehabis ujian banyak yang bercerita bagaimana berhasilnya dia mengelabui pengawas yang sebenarnya juga tahu banyak yang mencontek ketika ujian.

Masuk SMA kebiasaan mencontek ketika ujian tak berhenti, hanya ketika EBTANAS lah saya tak nyontek. Kebiasaan buruk ini membuat saya harus bekerja keras jelang UMPTN yang memang membutuhkan kemampuan sendiri tanpa perlu bantuan orang lain atau contekan, disamping sistemnya yang tak memungkinkan untuk mencontek.

Di bangku kuliah, budaya nyontek ini jamak kembali saya temui. Tentu tak semua mata kuliah kita bisa nyontek, tapi ada banyak kesempatan para mahasiswa mencontek di ujian atau mencontek tugas temannya tanpa bisa di filter oleh dosen.

***

Karena besar di daerah yang membiasakan mencontek, saya harus belajar lebih keras ketika berkesempatan sekolah di Scotland. Sebelum berangkat, saya bersama beberapa teman mengikuti kursus singkat penulisan essay yang bisa menghindarkan kami dari tuduhan mencontek. Dari pelatihan saya mendapatkan satu pelajaran penting, belajarlah untuk paraphrasing.

Di bangku kuliah, ternyata menhindarai mencontek atau plagiarism tak semudah dibayangan saya selama ini. Saya awalnya berpikir, untuk tugas essay selama tidak mencontek sebagian atau keseluruhan tugas teman-teman kuliah sudah Oke. Mengambil langsung dari buku dan menyebut sumbernya saya pikir sudah terhindar dari tuduhan plagiat.

Ternyata tak semudah itu. Kalau akan mengutip buku atau artikel meskipun menyebut sumbernya, saya harus merubah kata-katanya dengan menggunakan kata saya sendiri, beberapa kata yang sama berturut-turut bisa dianggap plagiat (misalnya 5 kata berturut-turut kalau di School saya), atau 15 kata yang sama dalam satu paragraf bisa dikategorikan plagiat juga. Dengan aturan seketat ini, sangat mustahil bagi kita untuk mencontek, dan membuat kita harus banyak membaca dan banyak menelaah.

 turn it in

Contoh hasil analisis turn-it-in

Untuk mendeteksi plagiarism ini, setiap tugas yang dikumpul harus diupload melalui jaringan web universitas dan langsung dicek similarities-nya dengan semua tugas kuliah mahasiswa se-UK atau seluruh Dunia oleh program turn-it-in. Tugas ini juga dibandingkan dengan artikel, buku, jurnal, dan halaman web yang ada di internet. Bagaimana dengan yang diambil dari buku hard copy? Tak sulit untuk mendeteksinya, saat ini sudah banyak buku hard copy yang telah ada versi digitalnya.

Tugas yang telah diinput dalam sistem turn-it-in akan keliatan similarities-nya dan dengan apa artikel tersebut sama, dengan gampang akan terlihat. Konvensi umum yang berlaku bahwa toleransi similarity ini adalah 20%, lebih besar dari itu akan diperhatikan oleh dosennya darimana sumbernya, jika kesamaannya karena kesamaan istilah atau bibiliography tidak akan menjadi masalah. Setelah diinput, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki, namun analisis similarity ini tidak akan muncul dengan cepat jika sudah reupload tugas, butuh waktu 1×24 jam untuk terlihat hasilnya, tujuannya adalah mahasiswa tidak sembarangan reupload tugas.

Dengan sistem yang seperti ini, mustahil orang berpikir untuk mencontek dalam mengerjakan tugas, kedapatan plagiat akan berakibat kena sidang dan akan dikeluarkan dari university dan hilanglah semua uang yang mahal yang telah dibayarkan.

***

Saya jadi berpikir mencontek ini memang sudah jadi budaya yang susah diberantas. Sudah berurat dan berakar di benak setiap siswa Indonesia. Tapi sistemlah yang membuat ini semua tak bisa dieliminir. Seandainya ada sistem yang keras terhadap para pencontek, niscaya kita semua akan berusaha untuk belajar. Kegagalan menerapkan sistem yang baik membuat banyak orang yang sebenarnya tidak berniat untuk nyontek atau melakukan plagiarism menjadi harus melakukannya karena melihat orang-orang yang nyontek mendapatkan nilai yang lebih baik dan tak mendapatkan hukuman apa-apa. Memang baik ketika orang menyatakan bahwa pendidikan sebaiknya tidak melihat nilai. Tapi come on, ayolah, kita ini senang berkompetisi dan mendapatkan nilai tinggi. Tak usah orang dihindarkan dinilai berdasarkan kemampuan akademiknya, akan tetapi sistem dibuat agar orang bisa mendapatkan nilai yang tinggi sesuai dengan kemampuannya. Anda belajar dan bersungguh-sungguh akan dapat nilai yang baik dan malas-malasan akan dapat nilai jelek. Yang terjadi di banyak tempat di Indonesia, yang malas-malasanpun bisa tetap mendapatkan nilai tinggi dengan mencontek pada yang rajin.

Salam Nyontek

Advertisements

2 thoughts on “Anti Nyontek di Inggris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s