Testimoni Seorang Pemilik MOGE Harley

Gue harus bikin testimoni soal banyaknya pandangan miring buat para pemilik Harley khususnya setelah kejadian penghadangan konvoy motor Harley di Jogja oleh Mas Elianto. Buat gue, penghadangan itu tidak perlu, karena dengan adanya peristiwa tersebut beredar kabar tak sedap mengenai Harley dan MOGE terikut imbasnya.

Sebagai pemilik MOGE, ada beberapa hal yang harus gue luruskan perihal MOGE:

1. MOGE Ekslusif

Menurut gue pandangan ini keliru. Tak ada larangan buat siapapun untuk menjadi pemilik MOGE, yang penting mau bayar. Masalahnya tak semua orang mau membayar. Mau bayarpun, maunya yang murah yah gak bisalah. Mau bayar mahal, yang punya belum tentu mau jual. Ya begitulah kehidupan cuy, tak selalu sesuai keinginanmu. Menjadi ekslusif itu lebih enak dan nyaman. Lu tahu kenapa orang berusaha menjadi ekslusif, karena menjadi sedikit diantara yang banyak itu keren. Ah sudahlah, lu gak paham.

2. MOGE selalu cari perhatian

Ini juga harus diluruskan. Gue naik MOGE tiap hari ke kantor dari Bintara Bekasi ke Kuningan Jakarta Selatan. 13 kilometer cuy, bayangkan betapa banyak yang bisa liat gue. Tapi, tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan gue jadi pusat perhatian. Terakhir kali ada yang manggil-manggil penuh perhatian tadi pagi, sebabnya kantong tas gue kebuka. Sebelum-sebelumnya pernah juga, tapi itu karena setandar motor gue belum naik udah ngacir. Pernah juga sih lebih ramai, tapi itu karena lupa bayar parkir. Selain itu, biasa-biasa aja. Tak perlu melebih-lebihkan menuduh yang macam-macam.

3. MOGE sok mau dikawal dan penerobos lampu merah

Eh kemon kawan, siapa sih yang gak suka dikawal-kawal. Kemana-mana jalanan diatur, lampu merah bisa diterabas, ah rasanya seperti pejabat kerajaan. Kalian-kalian pasti juga merindukan hal seperti itu, cuman tak punya kesempatan aja. Gak dikasih kesempatan aja udah nyuri-nyuri waktu di lampu merah. Beberapa kali gue lihat orang tabrakan di lampu merah hanya karena masing-masing mau memanfaatkan jeda lampu merah yang hanya 2 detik. Mereka bertabrakan, tak tahu nasibnya, dan mereka gak MOGE, mereka pake motor supra fit, gak jauh beda dengan motor-motor kalian-lah.

4. MOGE berisik

Nah ini sangat tergantung kondisi kawan. MOGE lewat dekat bengkel las, masih lebih keras suara las tuh. MOGE lewat dekat robot excavator yang lagi garuk-garuk, gak kedengaran tuh suara MOGE. dan MOGE lewat dekat lu yang lagi dengar lagunya Kangen Band pakai over-ear headphone merk SONY suara MOGE gak bakalan kedengaran. Kawan., hidup ini pilihan, lu bisa memilih-milih suara yang masuk ke telingamu, seleksilah dan biasakanlah.

Gue harap testimoni gue bisa memberi lu pencerahan. Kalo tak mempan juga boleh lu coba-coba MOGE. Bolehlah kita cerita-cerita dan berdiskusi sekali-kali di Phoenam Tebet, sambil menikmati Kopi kita bahas mengenai MOGE HARLEY. Yang penasaran liat MOtor GuE ada gambarnya kok dibawah.

*

*

*

*

*

Salam,

MOGE = MOTOR GUE,

HARLEY = HARUS LIMA ENAM TAHUN NYICIL

IMG_20150819_223313

Ini MOGE, mana MOLU?

Advertisements

5 thoughts on “Testimoni Seorang Pemilik MOGE Harley

  1. Mantap Bung! Hanya saja, persoalannya kan tidak sekedar seperti itu, mungkin suara miring itu adalah hak. Jika ada hak tentu ada kewajiban. Mungkin Bung bisa baca pernyataan kantor situs purbakala DIY dua hari lalu tentang dampak suara 1000-an Moge di pelataran Candi Prambanan yang berpengaruh aktif terhadap struktur Candi Prambanan. Namun, soal tahu nggak tahu..semua punya persepsi masing-masing. Biarkanlah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s