Edisi Sahabat (5)

Edisi Sahabat (5) :

halil

Kiri ke Kanan;  Atas : Ongen, Alam, Ancha | Tengah : Saya, Imam, Fakha, Ilo’, Awi’ | Bawah : Dana, Abi’, Chankgie, Halil, Anggie

“Good friends are hard to find, harder to leave and impossible to forget “

Halil

Ketika kelulusan UMPTN diumumkan, Titi teman se SMA datang membawa Koran Harian Fajar ke rumah Adde yang juga sepupunya. Dengan harap-harap cemas penuh doa, kami menelusuri nomor dan nama kami, dan ternyata kami semua lulus. Saya dan Adde kemudian memperhatikan nama-nama calon teman kuliah kami nantinya. Salah satu nama yang sangat menarik adalah Halilintar. Nama yang melambangkan kecepatan, kebesaran, kedengaran sangar namun sangat natural.

Di masa mahasiswa baru saya kemudian bertemu dengannya. Tidak hanya saya yang penasaran dengan halil, seniorpun penasaran dengan namanya. Halilintar menjadi nama yang diincar oleh para senior. Halil adalah seniornya Rega di sekolah, setingkat diatasnya, namun dia baru diterima di Unhas setahun setelah lulus.

Halil adalah jenis orang yang sangat teliti, malampe pabbekkeng kata orang bugis yang berarti setiap akan melakukan sesuatu akan banyak hal yang harus dia cek dan dia ingat. Setiap akan berangkat, dia akan mengecek kantongnya satu persatu, menerawang takut ada yang lupa, berbalik menghadap kerumah, menerawang lagi, masuk ke rumah mengecek, berdiri didepan pintu menerawang lagi, baru bergabung bersama kami. Tak akan nada yang kelupaan oleh Halil, kecuali lupa kalau kami sudah menunggu lama.

Bakat telitinya menempatkan halis sebagai special perlengkapan dalam kegiatan kemahasiswaan. Bagian perlengkapan dituntut menyediakan kebutuhan seperti tenda, senter, tali, lampu, kabel, genset, handy talky, speaker, dan lain-lain. Tak ada yang lebih berbakat selain halil untuk mengelola hal ini, sebabnya adalah semua pinjaman dan semua barang tersebut harus kembali dalam keadaan baik dan utuh kepada pemiliknya.

Halil juga termasuk makhluk yang aneh. Rumahnya berada di kawasan mewah di kota Makassar. Besar dan megah, saya yang dari kampong sampai merasa masuk istana ketika ke rumahnya Halil. Tapi, dirumah inilah saya pertama kali mengenal Pete. Oleh Ibunya Halil saya disuguhi sambal goreng hati dari pete, rasanya nikmat sekali, sejak saat itu saya jatuh cinta dengan pete. Bagi orang Bugis Makassar, pete bukanlah makanan yang popular, tidak karena baunya tapi karena kami memang tidak mengenalnya.

Soal keanehan Halil ini adalah karena kesederhanaannya.Cara bersikap, bertutur dan bertindak tidak melambangkan kalau orang tuanya memiliki kekayaan. Motornya adalah Astrea Grand yang sudah bertahun-tahun dipakainya, sementara dirumahnya banyak terparkir mobil. Dia juga lebih senang tidur di Wisma Pelangi, Rumah sahabat kami Ime’, berdesak-desakan dengan teman-teman yang lain, hanya beralaskan tikar dan berteman obat nyamuk bakar.

Halil adalah teman curhat yang baik, dia pemikir yang baik dengan nasihat-nasihat yang masuk akal. Kepadanya bisa dipercayakan rahasia. Kadangkala, Halil bersikap lebih banyak diam dibanding teman-teman yang lain. Kadang juga dia seperti menyimpan sesuatu. Mungkin saja karena kisah cintanya yang jarang berakhir bahagia, hehehe.

Setelah kami selesai kuliah, para sahabat berpencar keseluruh penjuru. Selama beberapa tahun Halil masih tinggal di Makassar. Dia menjadi perekat teman-teman. Hampir tak ada acara nikah teman-teman yang tidak didatangi oleh Halil. Dia akan berusaha mengumpulkan teman-teman dan mengajak mereka menghadiri acara tersebut. Ketika lebaranpun, rumah yang akan kami kunjungi adalah rumahnya Halil, dari rumah halil kami memulai tur ziarah idul fitri ke rumah teman-teman yang lain.

Beberapa tahun lalu, Halil meninggalkan base-nya di Makassar. Dia mengabdi di sebuah instansi Pemerintah yang bersifat Militer dan ditempatkan di Pulau yang berjauhan dari kami semua, dia tinggal di Tanjung Balai Karimun. Disanalah dia menemukan pasangan hidupnya. Istri saya sebenarnya sangat berkeinginan menghadiri acara pernikahan Halil, dia teringat bagaimana Halil selalu akan menyempatkan diri dan mengorganisir teman-teman untuk menghadiri sebuah acara pernikahan meski tempatnya jauh. Namun jarak menjadi kendala, kami hanya bisa mengirim doa.

To Be Continued

Edinburgh 15 February 2013

Advertisements

One thought on “Edisi Sahabat (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s