Edisi Sahabat (4)

Ime’ dan Wisma Pelangi

Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity. – Khalil Gibran

IMG-20140120-WA0001 (1)

Ki-Ka : Amma’, Halil, Rega, Kaddy, Tato’, Ime’, Otong, Chankgie, Opiq. Lokasi : Wisma Pelangi

Namanya Imran Ahmad, kami memanggilnya Ime’, dia sekampung dengan saya. Rumahnya di Rappang adalah sekaligus Toko Sepeda terkenal di kota kecil tersebut. Ime’ tidak bersekolah di SMA Rappang, dia melanjutkan pendidikan di STM Telkom Sandhy Putra Makassar, tempat dimana banyak orang tua menitipkan anak-anaknya yang pintar bersekolah. Di Rappang, Ime’ bersaudara terkenal pintar. Mereka bersaudara selalu menjadi juara kelas ketika SMP.

Di masa kuliahlah saya baru berkenalan dengan Ime’. Rumahnya di Makassar berada di belakang kompleks Aspol Tello, menjadi markas berkumpulnya teman-teman seangkatan. Kami menyebutnya Wisma Pelangi. Nama Wisma Pelangi muncul lama sebelum laskar pelangi muncul, jadi tak ada hubungannya dengan itu. Seingat saya nama wisma pelangi diambil, karena kami menyukai lagu Pelangi di Matamu yang dinyanyikan Jamrud. Kenapa kami menyukai lagu Pelangi di Matamu? karena saat itu banyak diantara kami yang sedang jatuh cinta dan tenggelam dalam romantisme ala mahasiswa. Namanya secara resmi di”umum”kan kepada khalayak ketika ada masalah di organisasi kemahasiswaan yang dipegang oleh Angkatan 97 dan kami mengirimkan surat terbuka kepada ketua Dewan Mahasiswa Elektro mengatasnamakan Wisma Pelangi. Surat tersebut saya yang ketik dan ditempelkan di banyak tempat umum di jurusan elektro, meski kemudian dicabut karena tak enak hati.

Kami menumpang dengan gratis di rumahnya dan merepotkan Ime’ setiap hari. Saya sebenarnya tinggal di asrama, tapi setengah waktu saya juga saya habiskan di rumah tersebut. Aktifitas yang dilakukan di Wisma adalah main domino dan main game Championship Manager selama berhari-hari.

Ime’ adalah sosok pemikir. Saya curiga, dia salah jurusan, harusnya dia masuk Sospol karena kemampuannya membaca situasi dan peta politik. Kemampuan Ime’ mengorganisasi dan memetakan konflik mengantarkannya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro dengan selisih suara yang sangat tipis dengan pesaingnya. Seperti bermain catur, Ime’ kadang sudah bisa membaca kemana arah sebuah masalah dua atau tiga langkah dibanding yang lain. Ketika Ime’ menjadi ketua himpunan, kami semua menjadi gerbong dibelakang kepengurusannya. Ada banyak riak yang bermunculan dimasa kepengurusan Ime’, adanya konflik dengan teman seangkatan dan faktor eksternal yang mengganggu konsentrasi Ime’ dalam bekerja. Namun kepengurusan kami selesai dengan baik.

Meski sahabat, kami juga susah membaca pemikiran Ime’. Dia kadang menjadi makhluk yang paling lambat tidur. Kalau ramadhan dia bahkan tidak tidur sebelum sahur dan bertugas membangunkan kami untuk sahur dan membeli nasi bungkus ala kadarnya untuk dimakan bersama. Di malam-malam, dalam kesendiriannya, kadang dia duduk termenung menghisap rokoknya dengan perlahan dan penuh hikmat, memandangi langit dan menghembuskan rokoknya dengan penuh perasaaan. Kisah cinta Ime’ di jaman mahasiswa adalah kisah cinta yang kompleks yang berakhir tragis.

Kami memanggil Ime’ dengan sebutan Opa. Gelar ini diberikan sebagai penghormatan dari teman-teman kepadanya, mungkin ada juga yang menggap celaan tapi itu tak jadi masalah buat Ime’. Kami menyebutnya Opa tidak saja karena seleranya dengan lagu-lagu jaman lawas, akan tetapi pemikiran dan tindak tanduknya memang lebih mirip orang yang lebih tua dibanding kami-kami semua.

Kami semua berhutang budi kepada Ime’, rumahnya menjadi saksi berkumpulnya banyak manusia dengan beragam latar belakang yang kemudian belajar untuk saling memahami satu sama lain. Kadang-kadang ada clash diantara kami sebagai sahabat, tapi itu tidak berlangsung lama, semuanya selesai melalui meja domino.

Saya tak tahu persis kenapa domino begitu mendominasi kehidupan mahasiswa kami, raja-raja domino gentayangan dimana-mana. Menjadi raja domino adalah kebanggaan tersendiri, tapi kadang juga menjadi siksaan. Di Wisma Pelangi setiap malam, akan ada makhluk yang membangunkan orang yang tertidur hanya untuk menemaninya bermain domino, Gau adalah tersangka untuk kasus seperti ini.

Jika malam telah larut dan perut mulai menuntut, kami biasanya menuju ke Antang, menyantap Songkolo’ Begadang untuk mengisi tenaga. Kadang-kadang juga ditengah malam buta, kami beraksi berkeliling kota mencari spanduk iklan untuk diambil dan dijadikan bahan untuk spanduk kegiatan mahasiswa.

To Be Continued

Edinburgh 16 Februari 2014

Advertisements

One thought on “Edisi Sahabat (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s