Edisi Sahabat (3)

Edisi Sahabat (3) :

“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything” Muhammad Ali

Opiq dan Gau

Opiq

Opiq

Opiq adalah makhluk yang misterius. Ketika awal bertemu dengannya sebagai mahasiswa baru, saya langsung merasa tak nyaman. Sikapnya yang cuek dengan pandangan mata tajam nampaknya punya potensi untuk menjadi musuh. Tapi itu hanya awalnya saja, kami akhirnya menjadi sahabat yang kental, dan partner dalam banyak hal.

Selain Adde sebagai sesama penghuni Asrama, Opiq adalah salah seorang teman yang paling sering mengunjungi dan menginap di kamar saya. Dia juga adalah pasangan skripsinya Adde. Sosok Opiq memang agak sulit ditebak, dia begitu misterius, ada banyak hal dipendamnya yang lama kemudian kami mengerti kenapa dia memendamnya.

Opiq adalah keturunan Soppeng, salah satu daerah di Tanah Bugis yang dikenal karena kehalusannya, namun di Makassar dia tinggal di Rappokalling. Daerah dimana busur asli menjadi penunjuk arah jalan. Beredar anekdot bahwa di Rappokalling, ketika kita menanyakan arah maka orang akan mengatakan “ikuti arah panah” dan panah yang dimaksud adalah panah yang sesungguhnya. Mungkin perpaduan itu juga yang membuat Opiq menjadi sosok yang kadang temperamen terhadap orang dilingkaran luarnya dan menjadi sangat sabar dan nerimo ketika berada dilingkungan sahabat-sahabatnya.

Bersama Gau, mereka berdua adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan. Sama-sama keriting, dan memiliki rambut gondrong, kadang-kadang kedua teman ini saling melilit kalau jalan berdua, dan kadang-kadang dari balik rambutnya keluar pensil, pulpen dan tip ex hehehe. Opiq paling tidak suka dijanjangi (diliat dengan selidik), sudah ada beberapa orang tak dikenal yang merasakan efeknya, bersama Gau dia akan melakukan investigasi, interogasi dan eksekusi kalau itu dilakukan oleh orang tak dikenal.

Opiq memang paradox, selain sikapnya yang kadang temperamen, dia adalah sahabat yang penyabar. Tak pernah sekalipun saya melihat Opiq emosi kepada sahabatnya, meskipun dia kadang menjadi obyek penderita dari banyaknya cobaan celaan dari teman-teman. Level sabarnya begitu terjaga ketika bersama teman-teman. Salah satu ujian kesabarannya Opiq adalah ketika menjadi koordinator konsumsi acara pengkaderan. Opiq bertransformasi menjadi manajer konsumsi yang sabar dan pelayan yang setia bagi ratusan orang.

Ketika Opiq memotong rambutnya, dia mendapat gelar baru, Opiq Gundul. Topi dengan lidah ditekuk menjadi trade marknya. Kadang-kadang dia membuka topinya dan menggaruk-garuk kepalanya. Kebiasaan menggaruk-garuk kepala ini berlanjut sampai sekarang. Opiq sebenarnya juga lucu, dan kelucuannya akan menjadi-jadi ketika partnernya Gau ada didekatnya. Bersama mereka berdua kami akan dibuat ketawa oleh sandiwara saling menjatuhkan diantara sahabat ini.

Ketika saya masih bekerja dan begadang di Pabrik, saya sering menelpon Opiq yang waktu itu masih berkantor di Makassar. Saya yang bekerja dalam tekanan berusaha mengalirkan tekanan itu dengan bercengkerama dengan sahabat yang juga masih berusaha untuk settle dengan pekerjaannya saat itu. Sebagai sahabat kami saling menyemangati dan bersyukur masih diberi pilihan untuk mencari pekerjaan yang menurut kami lebih baik.

Opiq kemudian pindah ke Jakarta dan berkantor di Kantor Pusat Indosat. Opiq menemukan hobi baru ketika telah tinggal di Jakarta. Dunia fotografi menjadi “istrinya”. Saya dan istri yang juga sahabatnya Opiq sempat mendapatkan sesi foto gratis di Kota Tua. Karya Opiq kini menjadi pajangan di ruang tamu kami.

Sahabat saya ini adalah salah satu yang masih ada dalam daftar bujangan yang masih tersisa. Saya mendoakan dia cepat mendapatkan jodohnya.

Gau dan Halil

Halil dan Gau

Gau adalah salah satu sahabat yang tak kan bisa dilupakan. Dia perpaduan banyak hal. Kadang usil, kadang lucu dan kadang temperamen. Hampir semua sahabatnya pernah dikerjai oleh Gau, anehnya kami memaafkannya, dan kemudian dia mengerjai lagi dan kami memaafkannya. Sebagai sahabat harus kami akui bahwa keusilan Gau adalah bagian dari rasa sayangnya kepada sahabatnya, dan karena itu kami juga menyayanginya.

Seperti saya sebut diatas, Gau dan Opiq are partner in crime. Mereka adalah pasangan yang tak terpisahkan. Kedua orang ini sangat klop meskipun tak pernah mau mengakui satu sama lain.  Gau kami gelari sebagai orang paling jujur sedunia, gelar yang diberikan karena dia sering mengerjai kami.

Awalnya saya menduga Gau adalah non muslim, saya tak pernah mendapatkannya di mushollah kampus dan teman-teman bergaulnya adalah teman-teman dari Toraja. Namun ternyata belakangan saya tahu dia adalah muslim. Biasanya, setiap jumat dia akan pamit kepada teman-teman untuk shalat jumat di CV Dewi, belakangan kami tahu bahwa itu adalah alasannya untuk pulang tidur. Hehehe.

Pernah suatu waktu,setelah dia bekerja di soroako, Gau mengajak semua sahabat-sahabatnya untuk bertemu di Pantai. Semalam sebelum ketemuan dia mengirimkan sms untuk janjian bertemu di pantai jam 9 besok hari. Kata pantai bagi anak-anak di Makassar identik dengan Pantai Losari Makassar. Maka keesokan harinya teman-teman berkumpul di Pantai Losari. Sementara Gau tak tampak batang hidungnya. Sebuah sms masuk “saya sudah di pinggir pantai di soroako”.

Tapi tak selamanya Gau bisa mengerjai orang lain, pernah juga dia kena batunya. Ketika berkunjung ke Jakarta dalam rangka training perusahaannya, Gau mengajak saya dan Adde untuk makan di kawasan Kemang. Sebagai orang berduit dari tanah soroako, kami beruntung mendapat traktiran. Begitu turun dari Taksi dijalanan Kemang Raya yang mulai ramai, gau bilang

“cari warung yang paling enak, dan pesan yang paling mahal”.

Kami masuk ke warung seafood dan Gau tidak tahu,  kalau di Jakarta itu yang namanya seafood tak semurah di Makassar dan yang namanya kepiting adalah menu paling mahal. Saya dan Adde memesan kepiting, kami makan dengan lahap dan menghabiskan kepiting yang rasanya tak seenak di Makassar. Begitu selesai dan meminta tagihan, wajah Gau pucat pasi, tak disangkanya harganya jauh diluar perkiraan, dia sampai lupa kalau bayar bisa pakai gesek kartu, seluruh uang didompetnya sampai yang kecil-kecinya dicari-cari untuk membayar. Saya dan Adde hanya tertawa, siapa suruh bilang cari yang paling mahal.

Gau adalah spesialis seksi keamanan, bakat alami sudah mengalir dalam dirinya sebagai seorang seksi keamanan. Sebagai sahabat dia adalah pelindung yang baik bagi teman-temannya. Seperti juga sahabat-sahabat yang lain Gau tak akan pernah menolak ketika dimintai bantuan selama memang dia sanggup. Asal jangan sampai jiwa usilnya muncul ketika bermaksud menolong malah mengerjain.

To Be Continued

Edinburgh 15 February 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s