Edisi Sahabat (2)

Edisi Sahabat (2) :

Amma dan Rega

Amma’ dan Rega

“Good friends are like angel, you don’t have to see them to know they are there”

Rega

Rega adalah salah seorang sahabat terdekat saya. Dia lahir di Kota Makassar tapi besar di Pinrang (daerah berbahasa bugis) Sulawesi Selatan. Itulah sebabnya dia bisa berbahasa Bugis dengan fasih atau berbahasa Makassar dengan sama bagusnya. Kepada Ibunya dia biasa berbahasa bugis dan kepada bapaknya dia berbahasa Makassar. Nama aslinya Rizal, tapi dia menyebut dirinya Remaja Gagah, dipanggil Rega. Dia sebenarnya tak mampu menyebut namanya sendiri dengan lurus karena setiap mencoba melafalkan huruf “R”, lidahnya mengkhianatinya dengan menyebut huruf “L”.

Rega adalah jenis parecu, tukang ricuh, dan usil. Suasana akan segar ketika Rega datang atau menjadi riuh karena keberadaannya. Itulah sebabnya Rega selalu didaulat untuk menjadi seksi acara dalam kegiatan pengkaderan. Lucu dan usil adalah syarat mutlak untuk menjadi koordinator acara.

Karena kelucuan dan keusilannya, kadang orang tidak menyadari kalau Rega adalah sosok dengan kecerdasan di atas rata-rata. Sebelum kuliah di Elektro dia bersekolah di SMA 17 Makassar, salah satu sekolah unggulan di kota Makassar. Masih banyak yang tidak percaya kalau dia pernah sekolah disana, hehehe. Tapi Rega bisa menunjukkan ide-ide brilian ketika dia di kepanitiaan pengkaderan sebagai coordinator Steering Committee. Dia  juga cepat memahami pelajaran dan mengelaborasinya dengan detail yang baik.

Saya dan Rega adalah asisten di Laboratorium Teknik Energi, kami biasa menyebutnya Lab Bawah. Menjadi asisten lab adalah cita-cita Rega sejak lahir, hehehe. Buktinya di salah satu toilet di rumahnya di daerah Antang Makassar tertulis “ Nama : Muhammad Rizal, Cita-cita : Asisten Lab Bawah”.

Rumah Rega berada di Kampung Nipa-nipa Antang, salah satu kampung yang dianggap Texas-nya Makassar. Hampir semua orang di Nipa-nipa adalah keluarga Rega. Nenek, Om dan sepupunya ada disana. Di banyak tembok di Nipa-nipa bertebaran nama Rega. Saya curiga dia adalah panglima perangnya Nipa-nipa yang menyerang Perumnas Antang dijaman kami kuliah. Saat ini ditanyakan kepadanya, dia cuma tersenyum dan tak membantah.

Rega pernah “hilang” satu semester ketika awal-awal kuliah, kabarnya dia menjadi supir pete-pete (angkot) Antang-Kota. Entah apa alasannya, mungkin dia bosan dengan kehidupan kampus yang ternyata tak seindah mimpi masa SMA. Tapi itu tak berlangsung lama, dia kemudian muncul kembali dan menjalani aktifitasnya sebagai salah satu sosok populer dan usil di kampus.

Rega ini berwajah imut, dan mungkin itulah sebabnya hindarilah banci ketika sedang bersama Rega, hehehe. Ada dua pengalaman saya dengan Rega terkait banci. Pertama, di Antang, ada songkolo’ (nasi ketan) (yang dijual) begadang dan kami sering kesana, dan entah kenapa, setiap kesana bersama Rega selalu saja bertemu dengan si Banci, dan dengan mesra bancinya akan mencoba bercengkerama dengan Rega.

Pengalaman kedua, ketika kami memutuskan untuk berhenti gondrong, kami berusaha untuk membuat pengalaman memotong rambut panjang kami menjadi lebih berkesan dan tidak sembarangan. Biasanya rambut mahasiswa dipotong oleh teman mahasiswa lainnya. Tapi kali ini lain, kami sepakat untuk berfoto bersama dulu di Mall untuk mengabadikan rambut panjang kami. Hal kedua yang harus kami lakukan adalah memotong rambut disalon, tapi tak boleh oleh bencong, yang memotong harus perempuan. Setelah kami berfoto bersama di Mall Ratu Indah, kami berkeliling untuk mencari salon, dan akhirnya melihat sebuah salon dibilangan jalan veteran dengan nama yang feminine. Kami berkesimpulan ini pasti salon yang ditangani oleh perempuan dan kami akan terhindar dari banci. Kami kemudian masuk, dan ternyata yang melayani adalah bencong.

Saya sudah tahu, banci yang agak genit akan memilih Rega. Saya santai-santai saja. Dalam proses potong rambut itu, si mas mbak salon mulai menginterogasi Rega. Rega mulai kikuk dan tak tenang. Saya sudah selesai dicukur ketika Rega masih ¾ nya. Melihat saya sudah selesai, dengan cepat Rega langsung menyuruh si mas mbak untuk selesai. Cukuran rega belum sempurna tapi dia sudah menutup sesinya secara sepihak, dengan cepat dia berdiri, mengeluarkan uang dan membayar dan kami bergegas kabur. Begitu motor sudah berbunyi, sebuah suara manja terdengar dari depan pintu salon “sering-sering kesini ya Ical”. Hehehe.

Pernah suatu saat, kami dan teman-teman di Wisma Pelangi (tentang wisma pelangi akan saya cerita sendiri) menjual koran pengumuman UMPTN, saya berpasangan dengan Rega dan kami berkeliling Makassar untuk menjual Koran, hasilnya lumayan saat itu meskipun banyak juga teman-teman lain yang apes.

Saat akhir-akhir kuliah, kami mengikuti kerja praktek di intansi kerja Bapaknya Rega. Saat itu beliau adalah manajer ranting di Majene, dan kami ikut belajar disana. Setiap hari kami disuguhi ikan bakar yang enak dari laut disekitar Majene, dan malam harinya kami disuguhi durian. Nikmatnya ikan dan durian menjadi masalah bagi perut saya waktu itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya dirawat di rumah sakit karena isi perut yang terus menerus keluar lewat jalur atas dan bawah. Untung saya hanya perlu menginap semalam dan semua biaya rumah sakit waktu itu ditanggung bapaknya Rega.

Selepas wisuda, butuh waktu yang relative lama bagi Rega untuk mendapatkan pekerjaan. Karena saking lamanya, sampai bapaknya menyesal kenapa anaknya tidak langsung jadi polisi saja ketika lulus SMA seperti adiknya, seandainya sudah jadi polisi “bisamako dipakai” (sudah bisa diandalkan) kata bapaknya. Namun Tuhan memberinya jalan lain, sekarang si ricuh dengan banyak ide itu bekerja di Telkom dengan karier yang terus meroket.

To Be Continued

Edinburgh 15 February 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s