Edisi Sahabat (1)

Edisi Sahabat (1) :

Adde and Amma

Amma’ dan Adde

“True friendship comes when the silence between two people is comfortable” David Tyson Gentry

Dalam hidup saya bertemu orang-orang luar biasa. Jalan hidup mempersatukan kami dalam kebersamaan yang penuh kenangan. Saya salah seorang paling beruntung di dunia. Di semua jenjang pendidikan saya, saya bertemu sahabat-sahabat dengan pribadi yang unik, lucu, ngangenin dan loyal.

Kami adalah orang-orang biasa yang belajar untuk saling memahami, saling menolong dan saling menyemangati. Ini adalah serial dari (akan) banyak tulisan tentang sahabat-sahabat saya.

Adde

Dari TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah kami terus sama-sama. Saya dan Adde, lahir dan besar di kampung bernama Kadidi di Sidrap Provinsi Sulawesi Selatan. Rumah saya dan rumahnya berhadapan dan dibatasi oleh seutas jalan menghubungkan Pangkajene-Rappang. Sejak TK, saya sudah sekelas dengan Adde. Namanya juga sekolah di kampung, maka temannya ya itu-itu juga.

Di TK, Adde sebenarnya agak nakal untuk anak seumurannya. Beberapa kali dia membuat menangis anak dari Guru TK karena menjolok muka anak tersebut dengan lidi. Setelah setahun di TK, kami lulus. Tapi saat itu umur belum mencukupi untuk masuk SD, belum genap 7 tahun. Saya dan Adde jadi pengangguran di usia yang sangat belia. Kerjaan saya setiap hari adalah menonton anak SD lewat depan rumah. Selain itu, main di lapangan, main di sawah, berkelahi atau bertinju dengan Adde di ring yang disiapkan tetangga sampai usia 7 tahun.

O iya, berdasarkan akte kelahirannya, Adde lahir 11 Maret 1980, tapi dia tidak percaya, “tanggalnya terlalu populer” katanya, bersamaan dengan Supersemar, dia curiga bapaknya hanya memilihkan tanggal tersebut.

Saya dan Adde sekolah di SD 6 Macorawalie, sekarang sudah menjadi SD 6 Kadidi. Di SD, saya, Adde dan teman yang bernama Basri Kalla menjadi tim cerdas cermat. Kami sempat menjadi juara, meskipun hanya tingkat kecamatan. HeheheSekolah kami tak banyak muridnya, tak sampai dua puluh orang, dan hingga kelas enam tersisa hanya sekitar 15 orang. Beberapa orang putus sekolah dan harus membanting tulang membantu keuangan keluarga mereka sedari kecil. Ada yang jadi tukang becak dan ada pula yang kembali ke sawah karena desakan ekonomi.

Di SD, Adde juga pernah dihukum karena berkelahi. Beberapa kali juga dia berkelahi di mesjid, ada sisa cakaran dimukanya yang saya ingat masih berbekas hingga SMA. Cakaran itu adalah kenang-kenangan “olahraga”nya setelah tarwih. Di kampung saat itu, setiap malam ada saja yang berkelahi di mesjid dan sahabat saya ini salah satunya.

Saat SD, setiap lebaran kami punya uang lebih, dan karenanya setiap selesai shalat Ied kami berjalan kaki menuju Rappang untuk membeli petasan. Selain lebaran, kami tak punya cukup uang untuk beli petasan. Biasanya “petasan” kami adalah dari busi yang dimodifikasi, ditambahkan pentul korek didalam lubangnya dan dilempar ke udara untuk mengagetkan orang. Mengagetkan orang adalah kesenangan masa kecil dan tentu saja para tokoh kampung adalah “polisi” yang harus kami hindari.

Tamat SD, kami sekolah di Rappang. Sekolah ini jaraknya sekita 5 km dari rumah. Saya dan Adde naik sepeda ke sekolah sama-sama. Kami mengayuh dengan santai dan sejuk ketika pagi, namun pulang dalam keadaan kering di siang hari. Hanya kami berdua dari Kadidi yang sekolah di Rappang. Di Kadidi sebenarnya ada SMP, tapi kami mau suasana baru.

Saat SMA, kami bersama lagi di SMA Rappang meskipun beda kelas. Di SMP dan SMA, Adde juga pernah kena hukum karena berkelahi di sekolah. Hehehe.

Sejak SD, Adde adalah anak yang mandiri. Dia membantu bapaknya mengelola pabrik penggilingan beras dengan pelanggan dari masyarakat sekitar. Pabriknya menyediakan jasa penggilingan bagi para petani yang punya gabah kering. Dari hasil penggilingan itu, dia akan mengambil persentase beras, yang hasilnya dijual di Pasar Rappang.

Saat SMA, Adde beternak ayam. Jumlah ayamnya ratusan. Tapi, dia harus kembali ke rumah untuk memberi pakan setiap siang. Jadinya, setiap istirahat kelas, Adde akan meminjam motor Guru Fisika kami yang baik hati, Pak Nursalam, untuk memberi makan ayamnya dan kembali lagi ke sekolah.

Kami biasanya ke Rappang setiap malam, untuk bertemu dengan sahabat-sahabat masa SMA dan kembali kerumah tengah malam. Bersama Pak Nursalam, kami sering naik motor berkeliling Rappang, mencari jangkrik di perbatasan kota Rappang, mengunjungi teman di Maroangin Enrekang, makan sop ayam dan bubur telur di rumah teman di Mario, atau hanya sekedar mengobrol di rumah Irfan, Imma dan Tanti, sahabat SMA kami.

Saat tiba UMPTN, kami sama-sama berjibaku belajar menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kami sadar waktu itu berasal dari Kampung dan sudah hampir sepuluh tahun, lulusan sekolah kami kesulitan untuk menembus PTN. Kami saling menyemangati dan hampir tak ada kongkow-kongkow dan santai, meskipun Piala Dunia sedang asyik-asyiknya.

Saat pengumuman, kami berdua ternyata lulus di Jurusan Elektro Unhas. Kami akhirnya sekolah di tempat yang sama lagi, tinggal di Asrama Mahasiswa (Ramsis) yang sama dan berbagi sahabat kuliah yang sama pula. Dikalangan teman-teman sekuliah, Adde adalah teman yang lucu dan menyegarkan suasana. Namun di Ramsis, bakat masa kecilnya yang sering dihukum karena berkelahi lebih sering muncul; tidak dalam arti sering berkelahi, namun sikapnya yang tak kenal takut membuatnya sering berhadapan dan bersinggungan dengan penghuni asrama yang lain ataupun dengan orang luar yang dianggap mengganggu ketertiban berasrama. Kami diwisuda di hari yang sama, dan berdasarkan tradisi asrama, masing-masing kami ditandu dari Ramsis menuju ke Aula Baruga Pettarani untuk diwisuda.

Saat Adde melaksanakan akad nikahnya di Bukit Tinggi, di sebuah tempat yang sangat jauh dari keluarganya di Sulawesi, dia menangis, dan saya juga hadir disana dan menitikkan air mata. Saya bersyukur bisa menjadi salah satu orang terdekatnya yang ada disana ketika dia mengucapkan ijab kabul.

Saya dan Adde sebenarnya jarang saling memuji. Kami mengagumi dan menghormati satu sama lain dalam diam. Tak pernah saya menceritakan keburukan Adde, seperti juga dia menjaga saya. Kami mengerti bahwa ada batas-batas yang hanya kami berdua yang tahu.

The friend who can be silent with us in a moment of despair or confusion, who can stay with us in an hour of grief and bereavement, who can tolerate not knowing… not healing, not curing… that is a friend who cares. – Henri Nouwen

****

To Be Continued

Edinburgh 15 February 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s