Tiga Tahun Sudah

Dear faraday.ponggawa@gmail.com

DSC_0691

Sudah tiga tahun usiamu. Banyak hal terjadi dalam 3 tahun ini, dan banyak pengalaman mengitari hidupmu di setahun terakhir. Kamu bertambah tinggi, gerak motorik yang makin baik, daya ingat yang mengesankan dan mulut yang tak berhenti berkicau. Papa dan mama menyapakati beberapa hal yang telah kami turunkan kepadamu, soal warna kulitmu, soal mata sipitmu, caramu menonton TV, cara berjalanmu, dan daya ingatmu. Satu hal yang masih menjadi perdebatan sengit diantara kami adalah sifat keras kepala yang kayaknya mulai nampak diusiamu yang ke-3. Mamamu bersikukuh bahwa itu adalah turunan dari papa, tapi papa bersikeras itu gen dari Mamanya. Pada akhirnya kau bisa menebak itu dari mana sebenarnya, hehehe. Satu hal lain yang kami tidak tahu dari mana adalah kegemaranmu menyanyi dan mengaitkan dengan tema-tema yang sedang kamu lihat dengan lagu-lagu anak-anak.

DSC_0629

@Salisbury Craig Edinburgh

Setahun terakhir, kamu telah menempuh perjalanan belasan ribu kilometer. Terbang dari Indonesia, transit di Dublin dan mendarat di Glasgow. Kata Om Google, jaraknya kalau ditarik garis lurus adalah 11.877 km. Lebih dari dua kali lipat dari jarak Sabang ke Merauke yang berjarak 5248km.

DSC_0589

Perjalanan masih jauh

Engkau telah melihat dua jenis negara dengan garis lintang yang terpaut jauh. Indonesia, negara tropis yang kita cintai berada di garis nol derajat, dimana singkong dan kelapa bisa tumbuh dimana saja. Dan Inggris Raya, negara yang berada di garis lintang utara 55 derajat, dimana daun pohon mapple berguguran di musim semi dan singkong dan kelapa di jual dengan harga yang mahal. Tapi daging, ayam, susu, keju, paprika, dan butter dijual lebih murah.

Engkau juga telah melihat pusat waktu dunia. Di Kota Greenwich di Ingggris, kita mengangkangi garis bujur yang menjadi penanda dimulainya awal waktu. Dari sanalah waktu di dunia di tambah atau dikurangi berdasarkan standard Greenwich Mean Time (GMT). Atas berkat garis itulah waktu kita di Jakarta selalu lebih cepat 7 jam dari waktu di Inggris, atau lebih cepat 6 jam ketika orang-orang Inggris memberlakukan British Summer Time dari Akhir Maret sampai Akhir Oktober setiap tahunnya.

Kamu sudah pernah merasakan angin hangat khatulistiwa yang berhembus meniup mata membuat tidur siang di bawah kolong rumah orang bugis jadi terasa seperti surga. Di Edinburgh, kamu merasakan angin yang lebih dingin, berhembus lebih kencang, dengan suara seperti layang layang lambaru yang di kampung kita, membuat kita lebih betah dirumah, meringkuk dibalik duvet dan tertidur tanpa pernah merasa pegal karena kelamaan.

Meski tak bertemu salju, kamu sudah pernah merasakan suhu dibawah 10 derajat. Berlari tanpa jaket sementara kami harus merapatkan jaket karena dingin. Di Salisbury Craig kamu berlari bersama papa, memandang thistle, bunga khas Scotland, dan naik ke atas bukit dan memandang kota dari atas. Di Indonesia, jangan khawatir, kita punya gunung yang lebih tinggi dan kamu bisa melakukannya di banyak tempat. Kamu bisa memulainya nanti dengan mendaki Gunung Bambapuang. Papa belum pernah kesana, tapi Om Adde sudah, kamu bisa minta diantar sama dia nanti.

DSC_0913

@Buckingham Palace

Banyak pengalaman dalam usiamu yang baru 3 tahun ini, yang papa sendiri tak pernah bayangkan sebelumnya. Kamu sudah pernah menonton upacara ketika Prajurit Ratu Inggris berganti di Buckingham Palace. Sambil tersenyum, kamu menunjuk-nunjuk prajurit yang berjalan tegap mendekati kerumunan penonton beragam ras. Didepan istana buckingham, kita berfoto, dan kamu berlama-lama menyusuri pagar dan menginjak rumput, untung kami mengangkatmu sebelum prajurit ratu yang duluan mengangkatmu dan melaporkan kepada Queen Elizabeth II.

Kamu sudah pernah mengunjungi Wembley Stadium yang merupakan stadion nasional England, mengunjungi klub kesayangan papa Manchester United di Old Trafford Stadium, berfoto-foto di Anfield Stadiumnya Liverpool, berjalan-jalan ke Stadionnya Everton Goodison Park, berkeliling Emirates Stadiumnya Arsenal, dan menangis minta digendong di Stamford Bridge nya Chelsea.

Papa memperkenalkan klub bola tersebut dengan harapan kamu tidak salah memilih klub bola. Banyak orang yang memilih klub bola hanya untuk membuat dirinya menderita bully setiap minggu karena tim kesayangannya selalu kalah atau selalu gagal juara dalam banyak tahun yang berlalu. Bahkan ada klub yang menunggu juara ketika Ryan Giggs mulai masuk tim utama Manchester United tahun 92, masih menunggu ketika Ryan Giggs memenangkan treble tahun 99, masih menunggu ketika Ryan Giggs memenangkan Juara Liga tahun 2012, masih menunggu ketika Ryan Giggs menjadi pemain/pelatih tahun 2013 dan masih terus menunggu hingga sekarang. Papa membebaskan kamu untuk memilih klub, yang penting klub yang kamu pilih Klub sepakbola terbaik di Inggris, sudah 20 kali memenangkan juara liga, pemenang treble winner, tiga kali memenangkan Liga Champion Eropa dan sudah pernah memenangkan Piala Dunia Antar Klub.

DSC_1410

@Oxford University

Kamu sudah pernah mengunjungi Manchester, Liverpool, London, Oxford, Glasgow, St. Andrews, Inverness, Northumberland, Stirling, Sheffield, dan Edensor. Padahal Papa baru bisa menginjakkan kaki di Jakarta saja ketika kelas 5 SD sewaktu mengikuti Jambore Nasional 91. Betapa senangnya waktu itu bisa lihat Jakarta. Papa menumpang kapal laut dari Makassar ke Jakarta, transit di Surabaya dan berlanjut ke Jakarta. Tentu saja papa berangkat tak ditemani kakek nenekmu, tapi berangkat bersama anak-anak lain yang lebih besar yang sudah kelas dua atau kelas 3 SMP.

Setahun lalu, kamu berulang tahun ketika papa tak sedang disampingmu. Ketika berkomunikasi lewat skype di Ipad, kamu kadang berusaha menutup layar Skype dengan menarik kelima jarimu ke posisi menutup di layar Ipad dan berkata “ndak bagus papa, angry bird aja” seakan-akan Skype dengan papa adalah bagian dari game yang ada di Ipad. hehe.

Kamu menyusul ke Edinburgh setelah usiamu 2.5 tahun. Terbang berdua bersama mama. Kata mama kamu bersikap baik dan manis sepanjang perjalanan. Tiba di Glasgow, kulihat kamu tersenyum, tertawa dan minta di gendong. Mungkin kamu berpikir, ternyata game yang di Ipad, orangnya ada di kehidupan nyata. hehehe.

Tiga tahun ini kamu bertemu dan berteman dengan banyak orang baru. Teman-teman papa di kuliahan adalah teman-temanmu juga. Dan anak-anak teman papa adalah juga teman-temanmu. Papa kadang suka senyum sendiri, ketika kita berjalan-jalan di Edinburgh, banyak yang mencoba ngobrol dengan kamu, meskipun kamu nampaknya malu-malu. Ketika pulang kamu sepertinya juga mencoba mengobrol dengan setiap orang yang ditemui, meski lebih banyak dicuekin, hehehe.

Di Edinbugrh, di masa penyusunan disertasi, kamu dan mama mengunjungi papa setiap hari di Hugh Robson building untuk membawakan makan siang. Dan kamu akan menikmati waktu untuk menonton youtube. Dengan kehadiranmu di masa thesis, papa lebih bersemangat karena keharusan papa untuk memberi contoh yang baik dalam berusaha kepadamu.

Tiga tahun sudah, papa berharap ini tiga tahun yang menggembirakan, membahagiakan, dan semoga kamu bisa mengingatnya. Jika tak bisa mengingatnya, biarlah catatan ini mengingatkanmu. Semoga tahun-tahun mendatang makin baik buat kita sekeluarga.

DSC_0745

Salam

Advertisements

Manchester is Red

Kalau anda penggemar bola, anda sudah akan curiga duluan dengan judulnya. Pasti gak obyektif nih jalan ceritanya, pada ujung-ujungnya saya dianggap akan memuji-muji Manchester united sebagai penguasa Kota Manchester. Tenang saja, bagi anda penggemar Manchester City atau pembenci Manchester United ini bukan kisah tentang itu, meskipun nanti akan nyerempet juga, hehehe.

Ini cerita biasa tentang jalan-jalan saya ke Manchester bersama keluarga kecil ke Kota Manchester. Bagi saya, ini yang kedua kali ke Manchester, tapi bagi istri dan anak saya ini adalah pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di Kota di tengah Inggris ini. Perjalanan dari Edinburgh ke Manchester hanya 3.5 jam dengan kereta dari Waverley Station Edinburgh. Pindah kereta di Lancaster dan lanjut ke Manchester Piccadilly. Di Manchester kami menumpang di flat teman saya di Manchester yang baik hati, Thia, Maureen dan Tika. Thia merelakan kamarnya menjadi tempat menumpang kami, maklumlah sebagai pelajar dengan kantong yang cekak, tumpangan dirumah teman adalah penyelamat kantong yang menipis. Mereka juga harus rela mendengar teriakan, celotehan dan tangisan sibocah kecil Gawa yang moodnya seperti cuaca di Edinburgh ketika matahari mendekati summer solstice, sudut dekilnasi bumi terhadap matahari mendekati 23.45deg, meski kadang cerah namun bisa tiba-tiba mendung berangin dan hujan, begitulah kelakukan Gawa. Untuk hal ini saya harus berterima kasih sebanyak-banyaknya buat mereka.

Kami menginap dua malam di Manchester, namun hanya menghabiskan waktu setengah hari pertama dan seperempat hari kedua jalan-jalan disana, hari kedua kami ke Sheffield dan lanjut ke Edensor, sementara hari ketiga kami cabut dari Manchester dan menuju ke Liverpool. Kedua perjalanan ke kota tersebut akan saya ceritakan di lain seri.

Kami tiba di Manchester masih agak pagi, sekira pukul 11 siang, dijemput oleh Thia di Stasiun Piccadilly dan naik bis menuju flatnya yang berada di kawasan University of Manchester, tempat kuliahnya. University of Manchester adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, peringkatnya selalu 50 besar dunia, kampusnya juga besar, seorang artis Indonesia idola anak muda kabarnya sekolah di Business School disana. Dibandingkan dengan tempat kuliahku di Edinburgh, bangunan di University of Manchester nampaknya lebih luas. Ceritanya University of Manchester ini gabungan dua buah university yang dilebur menjadi satu. Keduanya adalah University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST) yang berdiri tahun 1824 (karena itu lambangnya masih pakai 1824) dan The Victoria University of Manchester yang berdiri tahun 1851. Mereka bergabung ditahun 2004.

DSC_0348

University of Manchester is Red

Saya sebenarnya diterima bersekolah di kampus ini, dan inilah universitas pertama yang mau menerima saya bersekolah di UK. Namun karena saya pikir ongkos hidup di Manchester lebih mahal dari Edinburgh, maka saya pilih yang Edinburgh, tapi ternyata saya salah, ongkos hidup di Manchester lebih murah dari Edinburgh, karena Edinburgh adalah Kota Wisata. Seperti juga University of Edinburgh, University of Manchester punya banyak penerima nobel, macam Ernest Rhutherford, Niels Bohr, John Hicks, dan penerima terkahir tahun 2010 adalah Andre Geim dan Konstantin Novoselov. Total 25 orang penerima nobel yang terasosisasi dengan University of Manchester yang sebagian besar di bidang Fisika, Kimia dan Ekonomi.

Apa obyek wisata yang bisa didatangi di Manchester? Obyek paling terkenal ya Old Trafford stadium, kandang salah satu klub terbaik di dunia, terbaik di Eropa versi saya, terbaik kedua didunia setelah PSM Makassar. Setelah beristirahat sejenak dan menyimpan bagasi, kami menuju ke Stadion Old Trafford. Hari itu Old Trafford sedang ramai-ramainya, karena ada pertandingan antara Man United vs Norwich City. Supporter berbondong-bondong menuju stadion menyaksikan tim hebat bertadning di kandang. Saya jadinya berbaur dengan para supporter yang berfoto disekitar stadion. Obyek yang paling sering digunakan berfoto adalah patung trinity Manchester United. Ini adalah patung tiga pahlawan Manchester United yang membawa piala champion ke tanah inggris untuk pertama kalinya ditahun 1968, mereka adalah George Best, Denis Law dan Bobby Charlton. Waktu itu pelatihnya adalah Sir Matt Busby. Sampai saat ini Sir Bobby Charlton masih hidup dan sering nangkring di kursi VIP bersama Sir Alex Ferguson.

DSC_0420

United Trinity (Saya, Gawa dan Tul)

Obyek lainnya adalah patung Sir Alex Ferguson. Bos Manchester asal tanah Scotland ini memang pelatih jempolan, jumlah gelarnya berderet-deret, kalau ditotal jumlahnya adalah 28 tropy major selama 26 tahun masa kekuasaannya. Maka itu wajar kalau sosoknya diabadikan dalam patung dan juga bagian tribun penonton dinamakan Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0441

Bajunya Rooney ini Buatan Negara Tercinta, Made In Indonesia

Setelah berfoto, lihat-lihat souvenir, kami meninggalkan stadion sebelum pertandingan dimulai menuju ke stadion lain. Stadion ini tempatnya jauh dari mana-mana, kalau kesana harus naik perahu getek, terus naik ojek sejam dan dilanjutkan dengan jalan kaki, lokasinya dipinggir sawah dan dari dekat stadion kita bisa mendengar gembala menghalau kambingnya, itulah Stadion Tetangga,hehehe. Enggak ding, saya becanda.

Selain Manchetser United, ada lagi klub lain di Kota Manchester, namanya Manchester City, pasti baru denger kan namanya? Hehehe. Meski prestasinya tak sementereng Manchester United, Manchester City adalah salah satu klub dengan prestasi besar, dia sudah juara liga Inggris sebanyak empat kali, prestasinya sudah setaraf dengan Sheffield Wednesday dan Newcastle United, namun masih dibawah Sunderland (6 gelar) dan Ason Villa (7 gelar), apalagi Everton yang sudah mengantongi 9 gelar, hehehe.

DSC_0485

Etihad Stadium

But Arab money has changed many things sodara-sodara, klub semenjana ini telah berubah wujud menjadi monster yang menakutkan, pemain-pemain mahal dia datangkan dari luar negeri, dia beli pemain kayak beli gantungan kunci, tinggal sebut harga langsung diboyong. Berkat uang minyak dari tanah Arab, pemain-pemain luar tersebut akhirnya main dipekarangan City of Manchester, hingga kini hanya satu anak kompleks sana yang masih tercatat sebagai pemain Manchester City, itupun cadangan abadi Micah Richards. Para pemain Inggris juga hanya satu yang bermain regular yaitu Joe Hart. Terakhir tim Manchester City menjuarai liga Inggris tahun ini, mungkin ini bener-bener terakhir karena Manchester United akan kembali berkibar, hehehe.

Selain kota bola kota Manchester adalah kota industry dan bisnis. Kota Manchester adalah kota Metropolitan, salah satu yang terbesar di UK, lebih besar tentunya dari Kota tercinta Edinburgh. Jika di Edinburgh warna kulit tak banyak macamnya, maka di Manchester lebih banyak jenis manusianya. Nampaknya area terbuka hijaunya tak sebanyak di Edinburgh, itulah sebabnya Piccadilly Garden di pusat kota seperti kekecilan menampung warga yang bersantai, sampah agak berserakan dan overcrowded menurut saya, sangat berbeda dengan di Edinburgh. Kami sempat juga jalan-jalan berkeliling Piccadilly Garden dan National Footbal Museum.

Nah kenapa saya menyebut Manchester is Red, karena hampir semua bangunan di Manchester berwarna merah, baik rumah maupun university berwarna merah, warnanya senada dengan warna stadion Old Trafford, jadi kalo saya menyebut Manchester is Red cukup fair kan?, kalo nggak, iya ajalah, hehehe.

DSC_0346

Manchester is Red

Salam dari Manchester

26 April 2014

Refleksi Akhir Tahun : Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin, aku dan sahabatku Adde, berhenti sekolah setelah selesai TK sementara umur belum genap 7 tahun, dan jadilah kami pengangguran di usia yang sangat muda. Belum lama rasanya, dua orang anak ingusan berhadapan di lapangan bola dengan tangan siap mencakar anak didepannya, dalam teriakan dan sorakan anak-anak yang lebih besar. Keduanya kemudian pulang dalam keadaan muka penuh cakar sambil menangis sesenggukan. Dua bocah itu adalah aku dan adde. Itu sudah 28 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin, bapak membelikan sepeda Mustang warna merah yang dicicil lima belas ribu perbulan selama sepuluh bulan, yang kupakai ke sekolah bersama Adde. Di jalan kami dipalak, dan was-was setiap hari. Masih segar dalam ingatan, aku memanggul sepeda itu masuk pekarangan sekolah karena kena hukuman dari Guru BP. Rasanya baru kemarin, tapi itu 21 tahun lalu.

Rasanya baru kemarin, Pak Nursalam guru Fisikaku, datang kerumah dimusim ujian dan mengajak kami jalan-jalan santai di malam sebelum ujian dan pergi mencari jangkrik di perbatasan Kabupaten. Rasanya belum lama, aku jatuh cinta dengan Fisika dan menyenangi kesederhanaannya. Rasanya semuanya baru kemarin, tapi itu sudah 17 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin Piala Dunia 98 digelar. Mahasiswa bergerak menumbangkan rezim Soeharto, gedung dewan jadi lautan mahasiwa. Pak Harto turun dengan terpaksa dan rakyat berpesta dan bersorak. Media massa dibuka krannya. Sementara aku dan teman-teman berjibaku dengan soal-soal UMPTN, melewatkan sebagian pertandingan bola, demi masa depan. Rasanya baru kemarin, Titi datang membawa sepucuk Koran ke Kadidi dan kami membacanya bersama Adde, dan ternyata kami lulus UMPTN. Rasanya masih segar, Aku, Kele, Adde dan Kadisman melewatkan malam tanpa tidur, menggunting papan nama suruhan senior Teknik, dan disubuh hari yang gelap, merangkak dari depan Kampus sampai ke Area Teknik, dalam pusaran senior yang tak berhenti mencari mangsa. Rasanya semua baru kemarin tapi itu sudah 16 tahun lalu.

depan

13 tahun lalu

PBT 401

12 tahun lalu

Rasanya baru kemarin, begadang sampai pagi, tidur disiang hari, bercanda tanpa ingat waktu di depan himpunan, sementara kuliah tak banyak yang perhatikan. Rasanya baru kemarin, ujung jari melepuh bersama bunyi ketukan mesin ketik tenggelam dalam suasana praktikum dan tekanan dari asisten Laboratorium. Rasanya baru kemarin, songkolo’ bagadang masih hangat, coto begadang masih mengepul, nasi kuning masih harum disantap dalam dinginnya subuh hari di Makassar bersama sahabat-sahabat masa kuliah. Rasanya baru kemarin, tahun baru millennium, dengan rambut yang mulai memanjang, terkena razia polisi di Pantai Losari, hanya karena kami semua kurus dan berwajah kusut di malam tahun baru yang sangat ramai. Rasanya semua baru kemarin, tapi itu sudah 13 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin, setelah lima tahun kuliah, tandu dibuat oleh teman-teman di Asrama Mahasiswa dan kami para wisudawan menjadi Raja Sehari. Kami ditandu dari Asrama menuju Baruga Pettarani dengan tatapan kagum dan aneh dari para hadirin di Aula tersebut. Pak Rektor dengan akrab memindahkan tali di toga sebagai tanda resminya kami menjadi pengangguran. Lagu Iwan Fals, sarjana muda menjadi lagu penyambut kami setelah wisuda berlangsung. Rasanya semua baru kemarin, tapi itu sudah 10 tahun lalu.

Kini, aku telah dikaruniai Istri yang cantik dan penuh kasih sayang dan diberkahi anak yang cerdas dan sehat. Sekarang, aku berada jauh dari semua tempat peristiwa tersebut terjadi. Di Inggris Raya yang dulu hanya bisa dilihat dan ditandai dipeta. Kini di Edinburgh, menjelang 2014, aku hanya bisa mengingat memori itu satu persatu dan merangkainya dalam satu barisan panjang dan mensyukuri setiap kolom hidup yang kujalani. Semoga Tahun 2014, jauh lebih baik, lebih bermakna dan Allah masih memberikan kesehatan untuk kembali mengingat kenangan ini 10, 20 atau 30 tahun lagi.

Refleksi Akhir Tahun 2013

DSC_0822

Salam dari Edinburgh