Angin Sidrap untuk Semua

Oleh : Ahmad Amiruddin

P_20181121_152415

Sebagai putra Sidrap tentu membanggakan bisa melihat langsung ladang angin ini. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) terbesar dan komersial pertama di Indonesia.

Tower-tower yang berbaris di atas bukit ini memanen angin yang selama ini tak termanfaatkan. Kecepatannya bisa mencapai 20m/s, rata-rata tentu di bawah itu.

Tiga puluh tower dirangkai ke tiga arah pada masing-masing bukit, dimana tiap tower mampu menghasilkan 2,5 MW, sehingga total kapasitasnya 75 MW. 100.000 rumah tangga bisa dialiri listrik kalo dihitung semua kapasitasnya. Menurut data BPS 2011 rumah tangga di Sidrap hanga sekitar 63 ribu, mungkin sekarang sudah 70 ribuan, tapi intinya Sidrap sudah swasembada beras, telur dan sekarang energi. Kita tak hanya mengekspor beras dan mengirim telur ke pulau seberang tapi juga mengirim energi bersih. Berbahagialah orang Sidrap.

Sejak resmi beroperasi April 2018 dan diresmikan Presiden pada Juli 2018, PLTB ini sudah mensuplai ke sistem Sulawesi Selatan. Outputnya pernah mencapai 78 MW, begitu kata seorang kawan tampan di manajemen PLTB Sidrap, Wahyudi Azikin. Capacity Factor (perbandingan antara energi output dengan energi maximum yang bisa dibangkitkan) mencapai 58,29%, cukup tinggi dibanding dengan typical PLTB yang menurut referensi sekitar 30%. (sumber : mit.web.edu> wind energy 101)

Tentu ada tantangan khusus dari sisi pengaturan beban, karena kecepatan angin variatif dan berdampak langsung terhadap output pembangkit, sementara data kecepatan angin yang kita punya belum memadai sehingga prediksi angin berdasarkan modelling masih ada error hingga rata-rata 35%, dan menurut PLN bisa mencapai 74%, namun dengan semakin berjalannya waktu maka perbedaan antara prediksi dan real bisa semakin tipis. Angin adalah jenis energi yang predictable, asal datanya cukup dan dalam rentang yang lama, sangat berbeda dengan energi surya yang bisa langsung hilang karena tertutup awan.

Dalam pengalaman yang masih singkat sejak beroperasinya PLTB, terdapat kejadian menurunnya output (ramping down karena penurunan kecepatan angin, output turun hingga 60MW dalam waktu 66 menit.

Kawan saya Ikhsan Rahman dari PLN Kitlur Sulawesi, unit PLN yang mengatur beban, juga masih berusaha menyesuaikan agar dispatcher (sang pengendali jaringan) tidak kesulitan mengatur frekuensi sehingga PLN tidak merugi akibat penyediaan cadangan kapasitas untuk mempertahankan frekuensi sistem dalam rentang yang sesuai dengam aturan jaringan.

Tantangan lain adalah harga. Harga energi PLTB lebih tinggi dibanding PLTU apalagi dibandingkan dengan air. Tapi soal harga ini, akan semakin menurun dengan semakin berkembangnya teknologi dan manufaktur PLTB. Secara trend memang sih biaya pembangunan PLTB semakin murah. Tapi harga harus dibayar untuk ketahanan energi, kita tak bisa selamanya bergantung pada energi fosil, pada saatnya nanti dia akan habis.

Kalo ada daerah di Indonesia yang bisa jadi percontohan energy mix yang baik maka Sulawesi-lah tempatnya. Di sini, Energi Baru Terbarukan (EBT) memberi porsi yang sangat signifikan mencapai
30% yang berasal dari air, panas bumi dan angin.

Sulsel adalah memberi sumbangsih secara nasional untuk hal-hal yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonominya 7.5%, cadangan daya pembangkitnya 31% dan porsi EBTnya sudah lebih besar dari cita-cita nasional sebesar 23%.

Satu lagi tantangan yang harus dipecahkan kawan saya adalah bagaimana mengatur jaringan supaya tidak ada lagi black out yang terjadi seperti minggu lalu. PLTB Sidrap untungnya tak ada hubungannya dengan black out tersebut.

Dengan cadangan daya yang besar, ini adalah jualan yang sangat menggiurkan untuk Sul-sel kepada para investor. Termasuk juga banyak perusahaan multinasional yang sangat peduli dengan lingkungan sehingga hanya mau suplai ke pabriknya nya adalah dari EBT, ini bisa juga dijual oleh Pemerintah dan PLN.

Bagi masyakarat Sidrap, PLTB diharapkan tidak hanya menyerap tenaga kerja untuk pembangkitnya saja tapi juga memberi dampak lain pada masyarakat dengan menjadikan PLTB ini obyek wisata yang instagrammable, kebayang rasanya makan Palekko di pinggiran sawah di Sidrap dengan latar belakang kincir angin, setelahnya menikmati apang panas dengan segelas kopi Kalosi atau Toraja.

Sidrap yang terkenal dengan tukang kayu, pandai besi dan pengrajin batu nisannya bisa mulai juga belajar membuat replika kincir angin. Pemerintah daerah bisa mendorong dengan membuat lomba bagi masyarakat. Masyarakat Sidrap juga bisa memasang replika kincir di setiap rumahnya, sehingga ketika orang masuk ke wilayah Kabupaten Sidrap langsung teridentifikasi kalo kita sudah di Sidrap. Sidrap pasti makin keren.

Semoga Angin ini bisa makin bermanfaat untuk Sidrap dan Indonesia.

Advertisements

Fiksi Alat Penghemat Listrik

Tahun 2000. Dia mengetuk pintu kamarku dengan tergesa. Kubuka pintu, ditangannya ada handphone. Tangannya keliatan bergetar, darah nampaknya menghilang dari wajahnya, campuran panik dan gelisah.

“Ada uangmu di rekening BNI, dua ratus ribu?” katanya dengan gusar.

“Aiii, ndak ada, kenapakah?” kata saya penasaran.

Sambil menunjukkan teks di HPnya dia bilang, saya dapat hadiah, orangnya sudah saya telpon, saya akan dapat sepuluh juta, tapi harus ke ATM dulu dan minimal punya saldo dua ratus ribu.

Duit sepuluh juta, bagi anak Asrama Mahasiswa (Ramsis) yang berhutang tiap hari di warung Kak Tina adalah kemewahan yang luar biasa. Sepuluh juta itu senilai SPP 5 tahun atau bisa membebaskan kami makan minimal setahun di warung Kak Tina.

Tapi saya merasa kawan saya ini dalam bahaya penipuan. Jadi saya memberi tahu. Saya, kalaupun punya uang di rekening, tak akan melayani SMS kayak gitu. Itu kemungkinan penipuan. Dan kita sama mafhum, penipuan SMS memang berlangsung saat itu.

Orang mudah terpedaya oleh janji-janji. Dijanji sepuluh juta dengan memberi uang dahulu dua ratus ribu. Memang itu sifat manusia. Percaya pada janji-janji lah yang membedakan manusia dengan simpanse. Begitu kata Yauval Noah Harari. Manusia bisa maju karena percaya fiksi. Bisa menunda keinginan dengan harapan akan  ada yang lebih baik. Simpanse yang dijanji dapat pisang satu truk besok asal tak mengambil pisang di depannya akan lebih memilih satu pisang di depan mata.

Sifat dasar manusia inilah yang diserang tukang jualan berkedok alat atau kartu yang bisa menghemat energi.

***

Alat penghemat listrik hadir dengan janji-janji. Anda investasi 400 ribu, bisa untuk menghemat hingga jutaan nantinya. Terdapat dua jenis produk yang diklaim bisa menghemat energi. Yang pertama adalah kartu-hemat-energi, yang kedua adalah alat-pengemat-energi. Prinsip kerja keduanya berbeda, tapi janjinya sama, dapat menghemat listrik.

Kartu-hemat-energi, diklaim bisa menghemat energi listrik, menghemat penggunaan bahan bakar, mengobati hernia bahkan menurunkan panas. Dia bisa ditempel di meter listrik, di tangki bahan bakar, bagian yang sakit, juga di kepala. Harganya sekitar Rp. 350 ribu dan diperdagangkan dengan sistem MLM. Kalau membeli banyak bisa dapat diskon, hingga hanya seharga Rp. 200 ribu per kartu. Penjualnya dengan yakin akan menjelaskan bahwa listrik bisa dihemat hingga 30% dengan kartu ini. Cukup tempel saja di meteran listrik. Bisa juga digunakan di tangki kendaraan dengan bahan bakar apapun, premium, pertamax, pertalite, atau solar. Benar-benar sakti.

Tapi itu tak mungkin benarlah, dan sudah saya jelaskan di Hoax kartu sakti.

 

beer

Sedangkan alat-penghemat-energi jenisnya beda lagi. Alat ini sudah beredar lama di Indonesia. Mungkin sudah lebih sepuluh tahun. Dan iya, sudah banyak yang complain. Metode penjualannya sampai ke pintu-pintu rumah berbekal surat yang diklaim dari instansi yang berwenang yang sebenarnya tak berhubungan langsung dengan klaim mereka.

Ada beberapa istilah yang sering disebut dalam iklan-iklan alat penghemat energi, yaitu daya aktif, daya reaktif dan faktor daya. Untuk mempermudah penjelasan analoginya seperti pada gambar yaitu segelas bir :p. (contohnya nganu banget, tapi ini yang paling sering dipakai)

Daya yang betul-betul berguna adalah daya aktif atau real power. Daya ini yang mengangkat beban, memutar motor, menggerakkan mesin, membuat lampu memancarkan sinar. Intinya inilah daya yang memang berguna. Kalo pada contoh bir, itulah yang diminum.

Daya reaktif adalah daya yang tidak jadi kerja nyata, tapi diperlukan untuk proses elektromagnetik pada mesin listrik. Contoh kalau pada gelas bir adalah busanya. Total dari daya yang ada adalah daya total atau apparent power satuannya kVA.

Sementara faktor daya adalah perbandingan antara daya aktif dengan daya total. Faktor daya ini akan selalu ada dalam listrik bolak balik. Seandainya daya reaktifnya nol maka faktor dayanya adalah nol. Nilai yang ideal adalah semakin mendekati satu atau semakin kecil daya reaktifnya, atau pada segelas bir diatas semakin sedikit gelembungnya.

Alat penghemat listrik diklaim bisa menurunkan pemakaian listrik dengan alasan bahwa dia mengurangi daya semu atau daya reaktif. Sekilas klaim ini nampak benar. Tapi yang terjadi adalah penurunan daya semu tidak berpengaruh terhadap daya aktif. Semakin sedikit gelembung pada bir tidak berpengaruh pada birnya sendiri, tetap saja yang bisa digunakan adalah yang ada.

Tapi daya semu ini pada titik tertentu juga berpengaruh, khususnya pada pelanggan industri yang menggunakan mesin-mesin listrik. Mesin-mesin listrik menarik daya reaktif karena adanya proses elektromagnetik pada mesin-mesin. Itulah sebabnya PLN mensyaratkan untuk pelanggan industri yang faktor dayanya kurang dari 0.85 agar membayar biaya daya reaktif, selain harus membayar biaya daya aktif nya. Kalau pada rumah tangga yang dibayar adalah daya aktifnya saja, karena penggunaan peralatan mesinnya tidak terlalu banyak.

Pada industri, untuk memperbaiki faktor daya, mereka menggunakan capasitor, agar daya reaktif tidak perlu semuanya ditarik dari PLN, dan tidak membayar biaya daya reaktif. Metode inilah yang ditiru oleh penjual alat penghemat listrik.

Hanya saja iklannya bisa menyesatkan, karena diiklankan bisa menghemat hingga 30% dari pembayaran bulanan. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal karena bagaimanapun daya aktif yang dibayar, itulah yang dibutuhkan oleh peralatan listrik untuk bekerja normal.

Secara keilmuan listrik alat ini memang tak menghemat penggunaan listrik. Kalaupun berguna, bisa saja hanya memperbaiki faktor daya. Dari tulisan saya sebelumnya di : https://taroada.com/2014/12/27/bener-nih-alat-penghemat-listrik-bisa-bikin-hemat/

Beberapa kesimpulan yang bisa saya ambil adalah :

  1. “Alat Penghemat Listrik” bukanlah penghemat listrik, bisa jadi merupakan alat Power Factor Correction. Kemungkinan bisa memperbaiki faktor daya dengan metode koneksi tertentu namun tidak didesain untuk menghemat listrik. Peralatan semacam ini umum digunakan pada konsumen besar untuk power factor correction.
  2. Efek signifikan terhadap penurunan tagihan listrik secara teoritis sangat kecil.
  3. Cara terbaik untuk mengurangi pembayaran rekening listrik adalah mengganti beban dengan daya yang lebih rendah, menggunakan listrik seperlunya dan berhemat menggunakan listrik.
  4. “Alat Penghemat Listrik” dapat meningkatkan faktor daya
  5. “Alat Penghemat Listrik” dapat mengurangi rugi daya di kabel.
  6. “Alat Penghemat Listrik” dapat mengoptimalkan daya berlangganan pada PLN

Kasih tahu temannya yang belum tahu ya. 😀

 

 

 

Kalkulator Hemat Energi

Dibanding menggunakan kartu sakti yang hoax, mungkin cara ini lebih berguna.

***

Beberapa tahun silam, ketika baru berpindah rumah, saya mendapatkan tagihan listrik di rumah saya mengalami kenaikan dibanding saat di rumah lama. Saya mencurigai ada yang salah dengan meter prabayar saya. Saya kemudian mencoba mengetes dengan memasukkan kode ke kWh meter untuk melihat arus sesaat yang mengalir, dan didapatkan cukup comparable dengan beban saat itu.

Karena masih tak percaya, saya melakukan audit energy kecil-kecilan. Saya mulai menghitung semua peralatan listrik di rumah, berapa dayanya dan seberapa lama penggunaannya setiap hari. Mulai dari lampu, kulkas, TV, mesin air, mesin cuci, AC dihitung dan diperkirakan seberapa banyak energi yang digunakan. Hasilnya kemudian saya kalikan dengan tarif listrik per kWh yang seharusnya ditagihkan kepada saya. Hasilnya memang kurang lebih sama antara hitungan saya dengan tagihan bulanan.

Saya mendapati bahwa kulkas yang memang harus 24 jam, tak bisa lagi dihemat, kecuali saya harus membeli kulkas baru dengan teknologi inverter. Khusus untuk mesin air, kami menggunakan tandon, seperti juga rumah tangga pada umumnya di Indonesia. Kami tidak menggunakan sistem automatic. Jadi kami sendiri yang menyalakan, dan mematikan saat tandon penuh. Mesin air tak bisa juga dihemat, karena hanya dinyalakan dua kali sehari.

Yang bisa dihemat adalah lampu yang masih menggunakan jenis CFL, kami ganti dengan lampu LED. Harganya sedikit lebih mahal, tapi tahan lama dan banyak diskon kalo beli banyak. Selanjutnya dispenser saya matikan sama sekali listriknya. Air panas hanya dari kompor gas.

Rice cooker yang awalnya berkapasitas 5 liter, kami ganti dengan kapasitas 2 liter, jadi nasinya hanya untuk sekali atau dua kali makan untuk kami sekeluarga. Setelah memasak tak perlu dinyalakan terus untuk menghangatkan makanan.

Langkah lainnya AC selalu diset pada suhu 27-28 derajat. Buat apa disetting suhu 16 derajat hanya untuk memakai selimut, memangnya kita lagi di Scotland? Kalau ACnya baru enak pada suhu 22 derajat artinya ACnya sudah harus dicuci. Ini juga ditunjang kamar kami yang memang sempit, jadi gak perlu suhu rendah.

Lampu luar rumah jenis halogen tidak digunakan lagi di malam hari, saya ganti dengan LED dengan sensor cahaya, sehingga menyala otomatis saat malam.

Hasilnya cukup signifikan. Total penggunaan listrik saya secara kWh menurun.

Nah dibandingkan dengan menggunakan kartu sakti yang sebenarnya tak masuk akal, maka cara paling masuk akal untuk menghemat energy adalah mengurangi penggunaannya, kurangi jamnya atau kurangi dayanya.

Tentu tidak semua orang memiliki basic ilmu untuk menghitung penggunaan listiknya di rumah. Nah aplikasi kalkulator hemat energy dari Ditjen EBTKEKementerian ESDM bisa cukup membantu. Yang periu diketahui untuk menginput datanya adalah daya peralatan dalam watt dan lama penggunaannya, juga diperlukan data luasan ruangan.

Dari input data itu dapat dihitung berapa sumbangsih tiap peralatan terhadap tagihan bulanan dan di bagian mana yang bisa dihemat. Di akhir bagian akan ada rekomendasi yang bisa diikuti.

Setelah selesai mengitung-hitung, supaya bisa berhemat tentu harus ada action. Mengurangi daya pemakaian atau mengurangi lama pemakaian. Tapi bukan dengam menempel kartu sakti dan berharap tagihan menurun.

 

Kalkulator Hemat Energi