Edisi Sahabat (6)

Edisi Sahabat (6) :

A true friend never gets in your way unless you happen to be going down.  – Arnold H. Glasow

kaddy

Kaddy di kepaja meja, menggagas reuni tahun 2009

 Kaddy

Bagi mahasiswa baru, Ospek adalah mimpi buruk. Bagi yang tidak ikut Ospek, mimpi itu bisa lebih buruk lagi. Ospek atau Pozma bagi anak Teknik Unhas adalah pestanya senior untuk menyambut juniornya dengan cara “adil dan beradab”. Adil maksudnya perlakuannya sama dengan yang mereka terima sewaktu menjadi mahasiswa baru, beradab maksudnya caranya sama dengan yang dilakukan senior terhadap mereka. Secara turun temurun kekerasan merajalela di masa Pozma, dan bagi yang tidak ikut Ospek, sanksinya akan lebih keras. Senior akan membentuk tim buser yang mencari semua maba yang tidak ikut Pozma sampai ke ruang-ruang kuliah dan laboratorium.

Kaddy adalah salah seorang mahasiswa baru yang tidak ikut Pozma waktu itu. Dia menjadi incaran dan buruan para senior hingga kesudut-sudut laboratorium Fisika. Teriakan senior yang mencari siapa-siapa saja yang tidak ikut Pozma sudah cukup membuat maba yang ikut Pozma untuk ciut dan gentar nyalinya, apalagi yang tidak ikut Ospek. Dalam satu kesempatan operasi buser oleh senior, Kaddy berhasil meloloskan diri hanya karena disembunyikan oleh Asisten Lab Fisika. Karena tak ikut Pozma, maka kehidupan awal kuliah Kaddy penuh tantangan. Dia harus menghindari senior sementara tetap harus ikut kuliah. Ditahun kedua kuliah Kaddy harus mengikuti kembali pengkaderan bersama mahasiswa yang lebih muda.

Saya mengenal Kaddy di awal-awal kuliah ketika dia masih dalam buruan senior di studio gambar Tato di Rappocini. Kami kemudian menjadi sahabat kental, bersama menjadi asisten Lab dan menjadi pasangan skripsi yang begitu padu.

Dalam banyak kisah percintaan sahabat-sahabat masa kuliah saya, Kaddy adalah segelintir yang melanjutkan romantisme masa kuliahnya ke jenjang pernikahan, yang lain berhenti, atau bahkan ada yang belum pernah mencoba, hehehe. Setahu saya perjalanan cintanya Kaddy mengalami pasang surut dalam tempo yang agak cepat. Mood percintaannya bisa berimbas ke banyak hal. Hal itu bisa dilihat dari rusaknya speedometer motornya yang kena tinju ketika habis clash dengan pacarnya atau oleh banyaknya praktikan yang batal responsi. Kaddy memang agak  keras kepala dan temperamen, entah kenapa banyak sahabat saya memang temperamen, hehehe.

O iya, motornya Kaddy adalah langganan saya pinjam, maklum Bapak saya tak mampu membekali saya dengan kendaraan untuk kuliah. Bersama Kaddy dan motornya kami pernah mengikuti pawai menyambut kemenangan PSM menjuarai Kompetisi Perserikatan berkeliling kota Makassar. Bersama motor itu pula Kaddy sering menemukan lawan balap dadakan di jalanan Makassar. Kaddy adalah seorang pembalap, dan tak mau kalah kalau sudah ditantang.

Kaddy adalah salah satu sahabat saya yang paling pintar. Analisisnya tajam dan sangat bagus. Dia berbakat dalam analisis motor listrik dan hal-hal yang berhubungan dengan mesin. Pernah suatu kali, hanya dia yang nampaknya mengerti mata kuliah Thermodinamika yang diajarkan oleh dosen mesin. Kamipun memintanya untuk memberi semacam mentoring. Hasilnya lumayan bagus buat murid-muridnya, saya dapat B karena diajar dan dia dapat C. Nilai ujian memang kadang aneh, jadi bukan berita baru, hehehe. Sebagai asisten Lab, percobaan alat yang agak kompleks dan sering ngadat biasanya dibebankan kepada Kaddy. Kaddy juga adalah pengingat yang kuat, alamat dan jalan akan dengan mudah dia hafal. Bakat lain Kaddy adalah menyanyi, meski suaranya tak semerdu Tommy J Pisa atau Broery Marantika, tapi suaranya lebih bagus dibanding banyak teman-teman yang lain. hehehe.

Dalam masa membuat skripsi, Kaddylah sebenarnya yang lebih banyak berperan, saya lebih banyak menambahkan saja, saya curiga dia sudah dipepet harus cepat-cepat nikah oleh pacarnya yang kini sudah jadi istrinya sekarang. Dia nampak kecewa ketika kami harusnya selesai satu semester sebelumnya, tapi karena saya harus ikut Kerja Praktek ke KPC, rencana selesai harus diundur.

Setelah kuliah selesai, Kaddy mendapatkan job di Papua dan bekerja di sana selama beberapa bulan. Papua memberinya kenang-kenangan yang terus menerus menetap didarahnya. Penyakit malaria menjangkitinya ketika bekerja disana. Hingga sekarang, malarianya masih kadang muncul.

Tak lama di Papua, Kaddy diminta pulang kampung mengelola usaha keluarganyan yang mulai decline. Sebagai seorang anak elektro dengan kecerdasan dan kemampuan diatas rata-rata, Kaddy tentu dilematis dengan hal ini. Di satu sisi, mimpi masa mahasiswanya masih terus menerus berosilasi dikepalanya untuk bekerja sesuai dengan bidang ilmunya, namun panggilan keluarganya juga tak boleh dikesampingkan.

Dalam sebuah dialog lewat telpon, saya pernah bilang kepada Kaddy. Cita-cita saya adalah mengumpulkan modal, kembali ke kampung, dan mengelola usaha dan itu butuh waktu 20 s.d 30 tahun. Sementara Kaddy, tak perlu melewati masa 20-30 tahun. Dia sudah jadi pengusaha. Pilihannya untuk banting stir menjadi pengusaha berbuah manis, usaha keluarganya kembali bangkit dan terus berkembang hingga sekarang.

Sebagai sahabat yang tinggal di Sulawesi, Kaddy kadang masih menyempatkan mengunjungi orang tua sahabat-sahabatnya yang masih berada di kampung. Si keras kepala ini adalah sahabat yang care.

To Be Continued

Edinburgh 17 February 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s