Lima Alasan Kuliah di Inggris

Oleh : Ahmad Amiruddin

Ada banyak pilihan tempat kuliah di Luar Negeri, beberapa orang dihadapkan pada keputusan penting untuk memilih tempat kuliah di beberapa negara. Tentu pertimbangan ini menjadi penting agar tidak menyesal di kemudian hari. Karena saya pernah kuliah di Skotlandia sebagai bagian dari Inggris Raya, maka saya akan menyarankan anda untuk kuliah di Inggris. Saya tak menjamin anda akan having fun selama kuliah, tapi saya menjamin anda tak akan menyesal kuliah di Inggris. Jika belum mengambil keputusan akan kuliah dimana, sebaiknya anda baca alasan-alasan keren di bawah ini sebelum anda memutuskan kuliah di negara lain. Apa keuntungannya saya berbagi hal ini? Tidak ada, kecuali saya akan mengambil honor di British Council (BC) karena mempromosikan sekolah di UK, hehehe. (Yang ini bercanda, sambil ngarep dikasih honor beneran sama BC).

Ada lima alasan utama kenapa anda harus kuliah di UK. Kenapa cuman lima? Karena lima sudah cukup banyak, satu alasan saja sudah cukup membuat anda memilih Inggris.:). Lima alasan akan membuat anda pada level “sakitnya tuh disini” jika tak memilih negeri Pangeran William ini.

1) Universitas Kelas Dunia

Knowledge-is-Great-Britain

(via telegraph.co.uk)

Pada daftar ranking 100 teratas universitas dunia yang dirilis oleh QS World Ranking, ada 19 Universitas yang berasal dari Inggris Raya, dan ada empat yang masuk dalam top enam dunia. Kebanyakan dari universitas ini telah berusia lebih dari 200 tahun. Anda tak perlu pusing untuk memilih universitas karena kekurangan stok universitas bagus yang akan di apply.

Dalam daftar 30 top dunia anda bisa memilih University of Cambridge, Imperial College London, University of Oxford, King’s College London, University of Edinburgh, University of Manchester dan Bristol. Masih banyak perguruan tinggi lain yang bagus di Inggris seperti Birmingham University, Leicester University, Lancaster University, University of Southamptown, University of  Warwick, University of Glasgow, University of St Andrews, dan masih banyak lagi yang lain yang bagus dan keren-keren.

Perguruan Tinggi di Inggris juga banyak menelurkan ilmuwan kelas dunia seperti Newton, Lord Kelvin, Michael Faraday dan Stephen Hawkings. Ratusan peraih Nobel juga lahir dari universitas-universitas ternama di Inggris.

Kualitas pendidikan yang bagus ini membuat anda tidak bisa main-main kuliah. Dosen Raja Tega adalah pemandangan biasa di Inggris. Tak ada namanya nilai kasian karena berasal dari negara dunia ketiga yang bahasa Inggrisnya pas-pasan, karena miskin, karena usianya sudah tua, karena jomblo atau karena putus cinta. Nilai berdasarkan hasil tugas atau exam. Tak akan ada toleransi bagi yang mencontek.

2) Bahasa Inggrisnya Orang Inggris

enhanced-buzz-2164-1402505049-8

(via buzzfeed.com)

Kuliah di Inggris pastinya pakai bahasa Inggris. Bahasa ini telah dipelajari orang Indonesia sejak bangku SMP. Little-little we can lah. Karenanya tentu tak sesulit ketika harus belajar bahasa baru, sehingga setahun pertama harus belajar bahasa pengantar sebelum memulai masuk ke substansi mata kuliah.

Aksen British sangat berbeda dengan aksen Amerika. Kedengarannya lebih tebal, lebih elegan dan lebih klasik. Mendengarnya orang Inggris bicara seperti sedang menonton film Harry Potter. Tiba-tiba saja rasanya kita merasa sedang bicara dengan bangsawan abad pertengahan. Kalau di Amerika hanya para Vampire yang hidupnya ratusan tahun yang memiliki aksen seindah ini. Sepulang dari Inggris anda akan merindukannya, mendengar dengan penuh hikmat film-film beraksen british.

Karena belajarnya di negara asal bahasa Inggris, maka persyaratan bahasa Inggris untuk kuliah disana sedikit lebih tinggi dibanding negara Eropa lainnya. Secara rata-rata dibutuhkan IELTS 6.5 atau TOEFL IBT 92 untuk dapat diterima. Memang agak tinggi, tapi bisa-lah, dengan berusaha bersungguh-sungguh, nilai segitu tak susah-susah amat.

3) Budaya dan Sejarahnya

great-heritage_2004843i

(via telegraph.co.uk)

Budaya Inggris sudah berusia ratusan tahun. Sampai sekarang Ratunya masih berkuasa dan memerintah United Kingdom of Great Britain yang terdiri dari England, Skotlandia, Wales dan North Ireland. Ratu Elizabeth II, raru Inggris Raya sekarang, juga menjadi kepala negara atau ratu bagi 16 negara berdaulat yang dulu pernah dibawah jajahannya  seperti Australia, New Zealand, Canada dan Papua New Guinea.

Kerajaan England dan Kerajaan Skotlandia yang menjadikan persatuan Inggris Raya sekarang ini sudah ada seribu tahun yang lampau. Keduanya punya sejarah panjang peperangan dengan bangsa-bangsa viking dan bangsa Eropa lain, kemudian berperang dengan mereka sendiri hingga menjadi sebuah uni pada tahun 1707 dengan satu Raja.

Karena sifatnya yang kerajaan banget, maka budaya rakyat Inggris menjadi terpengaruh oleh budaya kerajaan ini. Sopan santun ala bangsawan menjadikan rakyat Inggris terkenal sopan dan menghargai tamu. Dengan sekolah di Inggris, kita bisa belajar banyak mengenai budaya dan sejarah Inggris. Museum-museum besar banyak tersebar di kota-kota utama negara ini. Koleksinya sangat beragam dan menjadi rujukan bagi para pencari ilmu.

4) Kastilnya yang mempesona

edinburg castle

Edinburgh Castle dari arah Princess Street Garden

Kamu yang terbiasa narsis sangat cocok kuliah di Inggris.  Di sela-sela aktifitas kuliah kamu bisa menyempatkan diri mengunjungi kastil-kastil bersejarah di Inggris, mulai dari Buckingham Palace di London, Edinburgh Castle, Stirling Castle, Alnwick Castle, Urquhart Castle dan kastil-kastil yang lainnya.

Setiap kastil ini punya sejarah sendiri dan tak jarang menjadi tempat syuting film-film yang berbasis di Inggris macam Harry Potter. Jepret dimanapun akan keliatan keren. Kastil bertebaran dimana-mana. Spot fotonya sangat bagus. Tembok berlapis bata akan merefleksikan cahaya merah matahari.

5) Klub Sepakbola yang mendunia

gawa man united

Inilah alasan paling keren kuliah di Inggris, menonton langsung tim kesayanganmu berlaga. Tak lengkap menjadi penggemar Manchester United kalau belum pernah menonton di Old Trafford. Akan selalu kurang kalau menjadi penggemar Liverpool, Chelsea, Arsenal, City, Tottenham kalau hanya melihat di layar kaca tanpa sekalipun pernah melihat bintang kesayangan mengolah bola di lapangan hijau. Atmosfer stadion yang bergemuruh, chant para penonton yang selama ini hanya bisa dilihat you tube bisa dinyanyikan di lapangan.

Ke Inggris-lah, maka sempurnalah dukunganmu terhadap tim favoritmu.

So Tunggu Apa Lagi?

Advertisements

Thank You

“Massikola tongengnotu nak okko Inggris, wasengko mauba’si wattemmu makkeda meloko lao”
(Akhirnya kamu benar sekolah di Inggris nak, saya pikir kamu main2) kata Mama’ku ketika kukabarkan lewat telpon ketika tiba di Inggris. Untuk murahnya pembayaran, saya Skype-an dengan mamanya Gawa dan kemudian mereka saling telponan, jadi interfacenya Skype-telpon-telpon, hehehe.

“Jadi disana orang pakai bahasa Inggris? Padahal saya ndak pernah dengar kau bahasa Inggris” kata mama’ku lagi. Saya hanya tertawa, pertanyaan ini masih ungkapan keheranannya.

Saya berangkat ke Inggris sebenarnya niatnya mau nonton Manchester United, tapi tidak ada sponsor yang mau membiayai, nah hanya lewat beasiswalah saya bisa nonton di Old Trafford. Hehehe, please forgive me bapak pewawancara.

Kota Edinburgh tempat kuliah saya adalah kota yang menyenangkan, tidak terlalu besar tapi juga tak sempit. Bangunan bersejarah dimana-mana, orang-orangnya ramah, dan makanan halal banyak tersedia, sebuah mesjid besar persis didepan kampus utama.

Namun kehidupan awal kuliah adalah tantangan buat saya, dua masalah utamanya. Pertama, kendala bahasa, kadangkala saya tak mengerti apa yang diomongkan dosennya, dan tak jarang dosen tak mengerti yang saya tanyakan. Untunglah saya tak sendiri. Di minggu-minggu awal, setiap jeda mahasiswa beragam bangsa berkumpul sambil saling bertanya
“Dosen tadi ngomong apa ya?” Hehehe.
Kendala kedua adalah banyaknya pelajaran yang menuntut menggunakan turunan rumus-rumus matematika jaman SMA atau awal kuliah. Dengan entengnya temenku asal China ketika saya tanya tentang sebuah rumus bilang “ini pelajaran high school, masak lupa”, alamakk SMA gw udah 15 tahun lalu.

Hal lain yang membuat keder adalah begitu cepatnya dosen menerangkan, sehingga bahan bejibun untuk dipelajari. Aturan plagiarisme juga diawasi ketat, tak boleh mengkopi tulisan orang 5 kata berturut-turut sama dan 10 kata sama dalam satu paragraf, harus diparafrase. Aturan ini menjadikan kita lebih hati-hati agar tak dipanggil dan disidang karena ketahuan copy paste. Dosen juga memberikan nilai secara tega, ada teman yang dapat nilai 9 dari 100%, untuk di Indonesia bisa dikatakan dia diberi ongkos menulis saja nggak. Yang lebih mengkhawatirkan karena tidak ada istilah reseat ketika ada mata kuliah yang gagal, kalo gagal ya terima aja, kalo mau ngulang bayar full dan ngulang dari awal tahun program. Syarat untuk lanjut disertasi adalah minimal melulusi 80 dari 120 kredit dan rata-rata dari 120 kredit adalah 50%. Kedengarannya 50% ini biasa-biasa saja, namun di Inggris nilai 70% sudah dianggap A atau Distinction dan nilai 40% sudah lulus. Tiga dari kawan sekelas saya tak bisa lanjut tahap disertasi karena tak memenuhi syarat ini. Dia hanya dapat gelar Diploma dan tak berhak mendapatkan gelar Master nantinya.

Tapi untunglah semangat saya tak pernah kendur, akhirnya semuanya berjalan baik, semua mata kuliah semester I lulus dengan baik. Dan saya masih sempat nonton Man United sebelum revision week. Teteup .

Jelang exam semester II, Gawa dan mamanya bergabung ke Edinburgh, saya pindah ke flat, tak lagi ngekos di keluarga scotland yang baik hati.
Saat Revision week, saya lebih banyak di kampus, Gawa dan mamanya sesekali datang dan kami bersantai bersama di Meadow atau Nicholson square sambil membiarkan Gawa kejar-kejaran dengan Merpati.

Hanya seminggu libur setelah exam, kerja yang lebih keras dimulai,menyelesaikan disertasi (iya, namanya emang disertasi di Inggris untuk thesis master kalo di Indenesia). Rutinitas mengukur di Lab, mengolah data dan mengukur lagi dilakukan selama sebulan. Tak sepatah katapun yang sempat di ketik, semuanya masih tahap simulasi di Matlab.

Bulan kedua, ramadhan datang bertepatan dengan summer, puasa bisa 19jam. Magrib jam 10, dan subuh jam 3. Saya biasanya buka di mesjid mengambil beberapa bungkus nasi biryani dan dibawa kerumah, saya tidur setelah shalat subuh dan berangkat lagi ke Lab jam 8 pagi. Hingga selesai bulan kedua, belum sepatah kata jua terketik, dan saya mulai khawatir dengan progress disertasi ini, padahal saya sudah full time 14 jam sehari dan 6 hari seminggu, namun masih jauh targetnya. Namun, sesekali saya juga rehat dengan menonton pertandingan Piala Dunia .

Selepas lebaran, saya tetap bekerja di lab dan di library dengan jadwal yang sama dengan saat ramadhan. Tapi kali ini setiap siang, Gawa dan mamanya datang membawa makanan ke Lab komputer. Saya makan siang sementara Gawa nonton Yutub pakai account kampus saya. Beberapa penghuni Lab mulai nampak familiar dengan Gawa.

Tanda kekhawatiran juga terlihat di mukanya mamanya Gawa. Beberapa orang teman sudah 30%, ada yang 50% dan ada yang sudah hampir seleesai. Pernah dia bertanya progress disertasi dan berusaha menyemangati, tapi saya tak senang dikejar, akhirnya dia tak bertanya lagi, tapi diwajahnya tampak kekhawatiran saya tak selesai. Jika tak selesai saya harus ngembaliin beasiswa, dan dia merasa akan disalahkan karena justru jadi distraction di Edinburgh.

Karena terlalu banyak data yang harus diolah, saya beristirahat lebih sedikit lagi. Saya mulai jam 8 pagi dan pulang jam 3 pagi. Sesekali bertemu dengan pria mabuk sempoyongan di jalan pulang. Disertasi saya selesai di print 4 jam sebelum deadline. Saya bawa dengan semangat ke kampus, dan kemuadian menyusul Gawa dan mamanya merayakan keberhasilan sementara saya mengumpul disertasi. Khusus untuk hari terakhir saya telah tak tidur lebih dari 24 jam.

Setelahnya saya tinggal menunggu hasil penilaian examiner dan supervisor.

***

Hari ini sebuah paket tiba dari Edinburgh, selembar kertas tipis hasil perjuangan setahun,banyak cerita dibaliknya dan tak sedikit perjuangan menyertainya dan ada banyak doa dan bantuan yang membuatnya layak saya terima.

Terima kasih tak berhingga untuk mama’ dan bapak atas doanya. Terima kasih buat Gawa dan Mamanya yang menemani dengan penuh sabar selama di proses disertasi, makasih buat kakak2 dan adekku yang membantu secara materil maupun immateriil, thanks juga buat teman2 atas supportnya. Terima kasih spesial buat sponsorku yang baik hati TPSDM Kementerian Komunikasi dan Informasi. Makasih juga buat teman2 Indonesia di Edinburgh yang membuat Indonesia rasanya dekat.

Meskipun mereka gak ngerti apa yang ditulis diatas, thanks to my supervisor and my friends in SES of UoE.

Menghitung Biaya Kuliah di Luar Negeri : Edinburgh dan Inggris Raya (UK)

1 UK Flag

Bendera UK di National Gallery Edinburgh

Kuliah di Luar Negeri masih menjadi pesona dan impian banyak orang. Selain kualitas pendidikan yang sudah kesohor dan tradisi akademisnya yang sudah berusia ratusan tahun, mengunjungi negeri-negeri asing dan berpetualang dalam kultur yang baru juga menjadi magnet kuliah di Luar Negeri. Salah satu unsur terpenting yang harus dipikirkan ketika akan memutuskan untuk kuliah di luar negeri adalah kalkulasi anggaran. Maklumlah, biaya kuliah di Luar Negeri pada umumnya mahal, terlebih lagi di negeri-negeri yang sudah sangat maju perekonomiannya dibanding Negara tercinta Indonesia.

Untuk masalah biaya kuliah ini, saya akan memberikan gambaran besar, unsur-unsur biaya yang sebaiknya diperhitungkan dalam merancang total anggaran kuliah di Luar Negeri, khususnya di Inggris Raya dengan mengambil contoh tempat kuliah saya di Edinburgh. Biaya hidup di Edinburgh bisa lebih mahal dibanding kebanyakan kota di Luar London di Inggri Raya. Yang harus dicatat, ini hanya sharing pengalaman saja, bukan sebagai pedoman, sehingga saya tidak dituntut secara hukum, secara adat maupun di bully dikemudian hari hanya karena gambaran yang saya berikan tidak sesuai dengan kenyataan yang didapat.

1.      Biaya Keberangkatan dan Kepulangan

Ini tentu biaya pertama yang harus dihitung, biaya keberangkatan termasuk diantaranya adalah :

a. Biaya Tes Kesehatan TB

Sebagai syarat mendapat Visa Study di Inggris (UK), para pemohon visa pelajar dari Indonesia (tanya : kenapa Indonesia?) harus melampirkan sertifikat bebas TB. Tes TB Hanya dilaksanakan di Rumah sakit yang bekerjasama dengan Imigrasi UK. Berlaku sejak 1 Juli 2013.  Untuk di Jakarta dilaksanakan di RS Premier Jatinegara dan RS Premier Bintaro, Untuk di Bali dilaksanakan di BIMC Hospital Kuta. Biayanya Rp. 555.000 di Jakarta dan Rp. 526.000 di Bali. Tes TB hanya dilaksanakan bagi pemohon visa yang tinggal lebih dari 6 bulan di Inggris (UK).

Lebih lengkap bisa dibaca di: UKBA  UKGOV

b. Biaya Visa.

Pengajuan visa dilaksanakan melalui agen Kedutaan Inggris di Jakarta. Pengajuannya dilakukan di kantor Visa Applicationm Center UK, di PT VFS Service Indonesia, 22 Floor B, Zone B Plaza Asia, Jl. Jenderal Sudirman Jakarta. Alamat baru di Kuningan City Mall, 2nd Floor, Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 – Setiabudi, Kuningan Jakarta – 12940, Indonesia : Lebih Lengkap bisa dibuka di sini.

Biaya untuk Visa Student Tier-4 pada saat saya mengajukan di September 2013 adalah : Rp. 4.770.000. Bisa jadi, untuk sekarang sudah ada perubahan karena perubahan kurs rupiah terhadap Pound Sterling

Sebagai bahan bacaan kalau ada yang berubah silakan dibuka disini : visa student

 c. Tiket Pesawat

Setelah mendapatkan Visa. Tiket pesawat dapat dibeli. Untuk mendapatkan harga tiket pesawat yang lebih murah saya menggunakan kartu International Student Card yang bekerjasama dengan STA Travel. Harganya bisa hemat 20% dari harga regular.

Harga Tiket Berangkat dari Jakarta-Glasgow (one Way)  adalah : Rp. 11.000.000. Harga tiket lebih murah sebenarnya bisa didapatkan, range harga tiket ke UK dikisaran Rp. 8.000.000 – Rp. 14.000.000, tergantung exchange rate rupiah dan seasons juga. Untuk biaya kepulangan, harga tiket berangkat tinggal dikali dua.

Untuk alamat STA Travel lebih lanjut bisa dikontak kantornya di Allianz Tower, Jalan Rasuna Said Jakarta.

Biaya-biaya diatas belum termasuk airport tax dan biaya taksi dan kereta dari rumah ke bandara dan ketempat tujuan.

Agar pertimbangkan pula jumlah bagasi yang diperbolehkan oleh Airline masing-masing. Airline seperti Garuda (hanya ke London), Etihad, dan Emirates memberi bagasi yang lebih besar dibanding airline lainnya.

Sebagai perbandingan beberapa teman mendapatkan harga berikut :

– Hafied : Jakarta-Birmingham, Etihad = USD995

–  Denny : Jakarta-Manchester, Emirates = USD796

– Thia : Jakarta-Manchester, Qatar Airlines = USD632.5 (student price)

2.      Biaya Kuliah

Biaya kuliah, sangat tergantung kepada jurusan yang akan diambil. Biaya kuliah tiap jurusan sangat beragam, dan berubah setiap tahun. Biaya yang harus dibayar mahasiswa International dua kali lipat lebih besar dari Mahasiswa Inggris (UK) dan Uni Eropa.

Pada periode 2013-2014, biaya kuliah untuk program saya adalah GBP18.500, namun untuk 2014-2015 sudah naik menjadi GBP20.550.

Untuk kuliah undergraduate (S1) Engineering secara rata-rata untuk tahun 2014-2015 biayanya GBP20.050. Namun untuk S1 Hukum biayanya “hanya” GBP15.250.

Biaya kuliah di S1 University of Edinburgh bisa di cek disini

dan untuk program Master (S2) disini

3.      Biaya Hidup

Komponen biaya hidup saya buat dalam bulanan saja. Saya hanya setahun kuliah di Edinburgh, karena program Master memang cuma setahun di University of Edinburgh. Bagi yang kuliah S1 (lebih dari setahun) biayanya tentu lebih banyak.

a. Akomodasi

Besarnya variable, tergantung anggaran, jarak dari kampus, fasilitas dan keberuntungan. Kisaran harga untuk akomodasi sebulan di Edinburgh adalah GBP400 – GBP750. Untuk yang flat share dikisaran harga GBP400-GBP500. Sementara yang tinggal di flat terpisah tanpa berbagi kitchen dan living room dengan penghuni lain adalah dikisaran GBP550-GBP750. Untuk jaga-jaga siapkanlah anggaran minimal GBP550 untuk yang single. Unsur lain yang masuk dalam biaya akomodasi adalah tagihan listrik dan air, kisarannya GBP50 s.d GBP200, tergantung dari musim, pada musim dingin (winter) tagihan biasanya membengkak akibat pemakaian heater untuk pemanasan ruangan namun ada juga akomodasi yang sudah memasukkan tagihan utility dalam biaya sewa.

Untuk akomodasi bisa dicari di citylets dan gumtree:

Info lain dari teman (Hafied) :

 – spareroom.co.uk
– homeforstudents.co.uk
– easyroommate.com
– flatmaterooms.co.uk

b. Transportasi

Biaya tranportasi tergantung jarak tempat tinggal dari kampus. Akomodasi yang saya sebutkan diatas, sudah berada di area yang berdekatan dengan kampus, kalau kuliahnya di University of Edinburgh, namun jika kuliah di Univeristas lain agak berbeda hitungannya. Bis kota di Edinburgh untuk satu trip dengan menggunakan Lothian Bus adalah GBP1.5, untuk One day Trip GBP3.5, dan untuk berlangganan empat minggu GBP40. Yang bertempat tinggal jauh dari University biasanya menggunakan langganan empat minggu ini.

Untuk infonya bisa dilihat di website Lothian.

 c. Telepon

Biaya berlangganan kartu telepon pada kisaran GBP8 s.d GBP15, tergantung providernya. Yang lebih bagus sinyalnya biasanya harga langganannya lebih mahal. Saya sendiri menggunakan Giffgaff langganan GBP12/bulan, unlimited internet, namun sinyalnya kadang hilang.

Untuk info bisa dilihat disini: Giffgaff, Three, O2, Lebara

d. Makanan dan Minuman

Dimanapun didunia ini, biaya makan dan minum itu tergantung kemauan dan selera. Maksud saya kalau kita mau menghemat, maka kita bisa memasak sendiri, dengan membeli bahan makanan dari supermarket yang ada. Namun kalau tidak mau masak biayanya akan lebih mahal. Harga makanan tanpa minum di warung yang termurah menyediakan nasi kari ayam adalah GBP4.5. Kalau memasak sendiri biaya yang dikeluarkan bisa ditekan hingga sekitar GBP1.5/makan. Secara rata-rata pengeluaran untuk makan dan minum secara bulanan dikisaran GBP200-GBP250, itupun bisa lebih dan bisa kurang. Semakin sering masak, maka akan semakin hemat, semakin sering makan diluar maka pengeluaran akan makin tinggi.

Harga bahan makanan seperti daging sapi dan daging ayam sebanding dengan di Indonesia, namun untuk bahan makanan lainnya harganya biasanya tiga kali lipatnya.

e. Biaya Fotocopy, Stationery dan lain-lain

Jangan meremehkan biaya foto copy di negeri Ratu Elizabeth ini. Harga termurahnya dikisaran GBP0.05, setara dengan Rp.1000/lembar di kampus, kalau fotocopy diluar enam kali lebih mahal. Untuk setiap semester sediakan dana sekitar GBP50-60 untuk fotocopy dan stationery. Sebagai reference.

 4.      Biaya Lain-lain

Biaya lain-lain ini tergantung dari pribadi masing-masing, misalnya mau wisata ke London, siapkan budget untuk kereta PP London, ditambah biaya hotel dan biaya transportasi disana. Mau nonton Manchester United siapkan dana untuk kereta dan tiket masuk stadion. Biaya lain-lain juga termasuk beli pakaian, sepatu, tas, nonton festival, nongkrong sama teman, tiket castle, tiket museum, dan lain-lain.

Reference : Kereta, Bus 1, Bus 2

5.      Biaya Asuransi

Tak seperti pelajar di Negara lain, asuransi kesehatan bagi pelajar dan keluarganya di UK, gratis.

Sumber Dana

Setelah dihitung-hitung, ternyata dana yang dibutuhkan cukup besar untuk sekolah di Edinburgh untuk setiap tahunnya. Terus darimana sumber dananya? Ada yang biaya sendiri dan ada yang menggunakan beasiswa.

Bagi yang biaya sendiri tak perlu saya bahas, karena ada jutaan orang Indonesia yang bisa menyekolahkan anaknya diluar negeri, dengan asumsi bahwa satu persen penduduk Indonesia adalah orang yang memang sudah sangat makmur.

Bagi yang menggunakan beasiswa, ada banyak lembaga yang memberikan beasiswa bagi para peminat yang ingin sekolah di luar negeri, lembaga-lembaga itu seperti Ditjen Pendidikan Tinggi Kemdiknas (khusus dosen), Kementerian Komunikasi dan Informasi (PNS/Polri/Swasta), British Chevening (Umum), LPDP (umum) dan Bappenas (PNS).

Salam dari Edinburgh