Menjadi Muslim di Edinburgh Skotlandia

Menjadi minoritas di negeri orang adalah pengalaman yang berwarna warni. Sebagai muslim, hidup di Inggris tidaklah menjadi susah, karena penerimaan masyarakatnya yang baik.

MACAM-MACAM MUSLIM

Di Edinburgh tak sulit bertemu muslim, dan tak sulit untuk menandainya. Sekali-kali kita akan melihat orangnya di Central Mosque berjamaah dan melihatnya kembali di bis atau di toko. Salah seorang security penjaga supermarket LidL di City Centre ternyata seorang muslim, saya pernah melihatnya sehabis jumatan di Central Mosque. Salah seorang pustakawan di Kings Buildings University of Edinburgh juga seorang muslim, saya biasa berjamaah dengannya di Praying Room di Kings Buildings.

Muslim di Edinburgh di dominasi dari Arab, Pakistan, dan Afrika. Sebagian besar muslim berkulit berwarna. Sebagian kecil berkulit putih dan ras asli inggris.

Selesai shalat jumat para jamaah di Central Mosque biasanya berkumpul di luar mesjid saling berjabat tangan, kemudian berpelukan dan bercengkerama. Kadang sampai bikin macet orang yang mau keluar dari pintu belakang. Setiap minggu selalu begitu, shalat jumat menjadi waktunya saling berbagi kabar.

Kami yang dari Asia Tenggara semacam Indonesia dan Malaysia juga biasanya bertemu di depan mesjid selepas jumatan. Jumlah teman-teman asal Malaysia selalu lebih banyak, kadang-kadang saya dikira orang Malaysia. Kalau saya perhatikan, setiap jumatan ada turis malaysia yang datang ke Edinburgh untuk liburan. Malaysia memang mendapat kemudahan bebas visa dari Inggris sebagai sesama negara Commonwealth, itulah sebabnya mereka banyak ke Edinburgh, disamping kemampuan ekonominya yang relatif lebih baik. Kadang-kadang saya juga bertemu dengan orang Indonesia yang sedang ada pelatihan di London kemudian jalan2 ke Edinburgh, sekali-kali ketemu mahasiswa Indonesia dari Kota lainnya.

Di kelas saya ada beberapa orang muslim juga. Satu orang dari Malaysia, namanya Q, dua orang dari Saudi Arabia yaitu Badar dan Asis, seorang Scotish berdarah asli Palestina bernama Saad.

Seorang lagi teman dari negara kaya minyak pecahan uni soviet bernama Joni. Awalnya saya berpikir kawan Kazakhs ini bukan muslim karena sebelumnya saya tak pernah melihatnya berjamaah di Mesjid Central Mosque ataupun praying room di Kings Building. Sekali waktu saya bertemu dengannya di sekitaran George Square ketika saya akan shalat jumat di Central Mosque dan dia sedang mendorong sepedanya.
“Hi Ahmad, where are you going?”
“Hi man, I’m gonna praying” kataku sambil menunjuk mesjid
“Oo, you are a moslem” katanya
Hanya itu saja, dia tak mendeklarasikan dirinya muslim juga, dan kemudian dia mendorong sepedanya ke arah berbeda.

Aku dan si Q kadang bertanya-tanya itu teman kita muslim apa bukan sih, soalnya namanya ada unsur2 arab-arabnya sedikit. Dibelakang namanya ada ulla.

Hingga kemudian satu semester berlalu, nilai-nilai ujian sudah keluar. Beberapa orang nampak kecewa dengan para dosen yang Raja Tega. Ada yang masih tak percaya berusaha menenangkan diri. Masalahnya tak ada pengulangan. Kawan ini dapat nilai sangat rendah di salah satu mata kuliah, kalau tak salah ingat nilainya 20 dari 100, dan dimata kuliah lain nilainya jelek juga.
Saya bertanya kepada dia
“How was your mark?”
“Dont ask me man, very bad” jawabnya dengan lusuh

Habis itu saya tak bertanya lagi. Pas waktu shalat dzhuhur, saya berjalan menuju ke Praying Room yang terletak di Chaplaincy Kings Building. Ketika saya berjalan melewati Cafetaria kawan ini memanggil saya.

“Are you going to shalah?” Tanyanya
Lo dia tahu nih shalat, kata saya dalam hati
“I am going with you, only Allah can help me in this situation, man”
Kamipun berjalan bersama, sejak itu saya sering bertemu dengannya di Central Mosque atau di Praying Room di Kings Buolding.

Dua orang Arab temanku tadi, satu orang sering saya lihat di Praying Room,satunya lagi tak pernah sekalipun ketemu, tapi dia muslim.

Yang paling sering saya temui adalah Saad dan Q. Saya sering bertemu dengan teman-teman Malaysia di Kings Building. Bisa dibilang, saya satu-satunya mahasiswa muslim asal Indonesia di Kings Building, ada juga sih yang muslim lain tapi mahasiswi.

Pada masa-masa awal kuliah, saat duduk di Praying Room menunggu jamaah, temab-teman beewajah melayu biasanya menghampiri dan bertanya dalam bahasa “darimana?”. Saya jawab ” Indonesia”, dan mereka akan bercerita kalau sebelumnya ada juga satu orang Indonesia lain yang kuliahnya di KB. Teman-teman Melayu yang bertanya ini asal Malaysia.

TEMPAT IBADAH

lebaran iduladha_DSC_0681

Suasanan di dalam Central Mosque (2013)

Lokasi shalat bagi muslim di Edinburgh tidaklah sulit didapatkan, khususnya bagi mahasiswa. Ada Central Mosque yang merupakan mesjid besar di Poterrow beedekatan dengan University of Edinbugh di Central Area. Kapasitasnya bisa mencapai 1000 orang dan ada balkonnya buat jamaah wanita.Mesjid ini dibiayai oleh Raja Saudi Arabia waktu itu Raja Fahd. Ada juga mesjid di Roxburgh, cuma saya tak pernah kesana jadi tak bisa cerita.

Shalat jumat dipusatkan di Central Mosque. Khatibnya biasanya berbahasa Arab dan Inggris, tapi 3/4 khutbahnya adalah bahasa arab. Shalat jumat selalu dimulai jam 13.00, meskipun waktu shalat zuhur bisa lebih maju dari itu. Hal ini dilakukan untuk menunggu para jamaah yang bekerja kantoran menyesuaikan dengan jam istirahatnya.
Di musim dingin (winter), bulan november merupakan hari terpendek, seringkali shalat jumat langsung dirangkaikan dengan shalat ashar berjamaah, karena ashar biasanya pada jam 13.45. :).

Shalat jumat di Central Mosque selalu ramai. Khatibnya biasanya berbahasa Arab 80% dan Inggrisnya 20%. Lebih sering saya tak mengerti apa yang diucapkannya dibanding mengertinya.

IMG_20131129_133117

Shalat Jumat di King’s Buildings (2014)

Di Kings Building sendiri, Praying room berada di gedung chaplaincy. Chaplaincy memiliki beberapa ruangan. Salah satu ruangannya adalah mushollah yang bisa menampun sekitar 20 orang Jamaah. Selalu cukup untuk menampung jamaah yang memang tak banyak. Di Mushollah ini juga dilaksanakan shalat jumat, meskipun jumlah jamaahnya tak pernah sampai 40 orang. Jadwal shalat berjamaah ditempel dan diupdate setiap beberapa hari karena perubahan jam shalat yang bisa berubah karena musim. Biasanya yang selalu menyesuaikan adalah jadwal shalat dzhuhur yang digeser, kadang mendekati jadwal shalat ashar di musim dingin.

Pernah sekali waktu, saya berada di Kings Building di hari jum’at saat masa menyusun Thesis, waktu itu adalah libur summer sehingga banyak mahasiswa yang libur kecuali yang memang sedang mengerjakan thesis. Saya sudah menunggu lama, tapi tak ada jamaah tambahan yang datang, sekitar 30 menit menunggu datang dua orang lagi. Kami saling memandang dan kemudian berniat untuk shalat dzuhur saja. Tapi salah seorang jamaah berkebangsaan Arab menawarkan solusi : Kita tetap shalat jumat bertiga, dia jadi khatib dan sekaligus imam. Bertiga kami setuju. Khotbah pendek dalam 3 menit disampaikan oleh Sang Khatib, kemudian dilanjutkan shalat jumat 2 rakaat, kami jumatan dengan sukses :).

HARI RAYA

Idul adha dan idul fitri dirayakan dengan semarak bagi muslim di Edinburgh. Meski tak ada hari libur, tapi umat muslim merayakannya dengan menghadiri shalat Ied di Mesjid. Pada hari raya idul adha, shalat dilaksanakan dalam 2 shift karena banyaknya jemaah, sementara untuk idul fitri shalat Ied sampai 3 kali shift karena jamaah lebih banyak.

Bagi pelajar dan warga Indonesia di Edinburgh, hari raya adalah saatnya mengenang dan mencicipi masakah khas kampung halaman Indonesia. Kami berkumpul dan mengadakan syukuran metode pot luck, dimana setiap orang membawa makanan atau minuman untuk dinikmati bersama. Di acara inilah kami bisa makan rendang, soto madura, siomay, coto makassar, sate, tempe goreng dan macam-macam masakan Indonesia lainnya. Acara kumpul bareng ini juga dihadiri oleh warga Indonesia non muslim.

warga indo_DSC_0807

Halal Bihalal Warga Indonesia Setelah Idul Adha (2014)

TOLERANSI

Negeri ratu Elizabeth bukanlah negara dengan mayortitas muslim. Islam minoritas di negara ini. Persentase muslimnya berdasarkan sensus tahun 2011 hanya 4.5% dari total populasi , tetapi agama ini adalah agama terbesar kedua setelah kristen (wikipedia). Di Skotlandia sendiri persentasenya hanya 1.45%. UK adalah negara sekuler yang memisahkan kehidupan beragama dari pemerintahan. Tak ada Menteri Agama, tetapi hak-hak beragama dijamin oleh Undang-undang.

Tentu disetiap tempat ada juga orang-orang yang tak toleran terhadap yang berbeda. Saya pernah menjumpainya dalam perjalanan dari St. Andrews ke Edinburgh, begitu tahu saya seorang muslim, 2 orang penumpang mencecar saya dengan pertanyaan apa maksud saya sebenarnya datang ke UK, apakah saya akan mengebom juga, tapi itu lebih karena mereka dalam keadaan pengaruh minuman keras. Selebihnya saya merasakan kehangatan orang-orang UK. Landlord, sopir, penjaga toko, lecturer, teman kuliah, tetangga rumah semuanya OK-OK saja. Istri saya bisa dengan nyaman menggunakan jilbab tanpa pernah dilecehkan.

Namun isu-isu mengenai muslim sering muncul di media. Kadang tone-nya  baik seperti ini, kadang juga tone-nya agak menohok kayak gini. UK merupakan salah satu pengekspor relawan ISIS yang menyebabkan berita-berita mengenai ISIS di UK rasa-rasanya lebih ramai di UK dibanding di Indonesia.  ISIS juga menggunakan anak muda dari UK yang fasih berbahasa Inggris untuk mengkampanyekan ISIS ke seluruh dunia.

Selain berita mengenai ISIS, berita lain yang bersinggungan dengan dunia islam adalah mengenai isu-isu makanan halal. Pernah menjadi berita nasional perihal Pizza Express yang ternyata menyajikan pizza dari daging halal tanpa memberitahukan kepada konsumennya. Para aktifis penyayang binatang memprotes hal tersebut, karena daging halal berarti si hewan-hewan ini disembelih yang berarti tidak berperikebinatangan karena menyiksa binatang, lebih baik menurut mereka hewan-hewan ini di setrum saja, hehehe.

MAKANAN

Tak sulit menemukan makanan halal di Edinburgh, banyak tersedia restoran halal dan toko bahan makanan halal disekitar city center Edinburgh. Toko bahan makanan yang paling sering saya kunjungi adalah Toko Bismillah. Toko ini dimiliki keturunan India atau Pakistan, tersedia daging ayam, kambing dan sapi berlabel halal di toko ini. Harganya bersaing, seekor ayam sekitar 2pound dan daging harganya 8pound, murah kan? Toko Bismillah terletak di pinggir jalan utama Nicholson Street dan berada diseberang Nicholson Square yang kadang menjadi tempat menikmati sinar lembut matahari dan bermain-main dengan burung merpati. Hari paling ramai di toko ini adalah pada hari jum’at karena jamaah shalat jumat yang pulang sekalian berbelanja kebutuhan. Selain daging di toko ini juga tersedia sayuran segar, pisang, singkong yang dilapisi lilin, kacang panjang, dan bumbu-bumbu kari India dan masalkan timur tengah. Indomie juga ada di toko ini, harganya 0.35pound, tapi produksi Arab, rasanya sedikit lebih hambar dibanding Indomie kita di Indonesia karena kurang MSGnya.

Disampin toko Bismillah terdapat 2 toko halal food yang lain, tapi tak terlalu ramai karena tidak pas berada di pertigaan jalan. Toko lain yang lebih besar dari Bismillah adalah Maqbool yang juga dimiliki orang India atau Pakistan. Letaknya bersampingan dengan mesjid di daerah Potterrow, seberang kampus University of Edinburgh. Di toko ini saya biasanya membeli kacang hijau dan kadang-kadang daging kalau di Bismillah sudah habis. Maqbool juga menjual aneka produk olahan daging dan berbagai jenis roti dan bumbu-bumbu khas timur tengah. Pembeli daging di toko ini tidak seramai di Toko Bismillah, namun nampaknya dia juga mensuplai untuk restoran karena sering saya melihat potongan-potongan daging diangkut keluar dari toko.

Kalau mau membeli bahan makanan lain tersedia toko kelontong China di dekat Central Mosque juga. Toko ini memberi diskon 5% bagi pelajar, cukup dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Selain menerima mata uang Pound Sterling, anda juga bisa berbelanja dengan menggunakan Yuan. Teman saya Jin dan Molin sering berbelanja dengan menggunakan mata uang Yuan. Saya biasanya beli Indomie dan Sambal ABC di toko ini, Indomie yang dijual di toko ini adalah asli Indonesia tapi untuk ekspor. Rasanya juga masih kalah sama Indomie Indonesia yang berjuta MSG rasanya. Beras juga kadang saya beli disini, jenisnya beras jenis Jasmine dari Thailand.

Kalau untuk membeli roti, kami membeli di Tesco atau Lidl. Hanya saja harus diperhatikan kode-kode komposisinya agar terhindar dari babi, kode yang paling gampang dikenali adalah E-471 dan E-472. Beras jasmine juga biasa kami beli Tesco, kadang harganya lebih murah saat diskon dibandingkan dengan di Toko China.

Selain toko bahan makanan, terdapat banyak juga restoran halal di sekitaran kampus University di Ciy Centre. Di samping mesjid ada Mosque Kitchen, menu andalan mahasiswa adalah chicken curry with rice seharga 4.5pound, Mosque Kitche juga ada di pinggir jalan Nicholson Street. Restoran ini ramai oleh para pengunjung baik yang muslim maupun yang bukan. Selain Mosque Kitchen ada juga Tikka Mahal, restoran india dengan rasa yang sangat menggugah selera. Sampai sekarang saya masih merindukan nikmatnya Rati Naan berisi daging dan Chicken Biryani dari Tikka Mahal. Kalau ke Edinburgh lagi, saya harus makan disini lagi.

Advertisements

Thank You

“Massikola tongengnotu nak okko Inggris, wasengko mauba’si wattemmu makkeda meloko lao”
(Akhirnya kamu benar sekolah di Inggris nak, saya pikir kamu main2) kata Mama’ku ketika kukabarkan lewat telpon ketika tiba di Inggris. Untuk murahnya pembayaran, saya Skype-an dengan mamanya Gawa dan kemudian mereka saling telponan, jadi interfacenya Skype-telpon-telpon, hehehe.

“Jadi disana orang pakai bahasa Inggris? Padahal saya ndak pernah dengar kau bahasa Inggris” kata mama’ku lagi. Saya hanya tertawa, pertanyaan ini masih ungkapan keheranannya.

Saya berangkat ke Inggris sebenarnya niatnya mau nonton Manchester United, tapi tidak ada sponsor yang mau membiayai, nah hanya lewat beasiswalah saya bisa nonton di Old Trafford. Hehehe, please forgive me bapak pewawancara.

Kota Edinburgh tempat kuliah saya adalah kota yang menyenangkan, tidak terlalu besar tapi juga tak sempit. Bangunan bersejarah dimana-mana, orang-orangnya ramah, dan makanan halal banyak tersedia, sebuah mesjid besar persis didepan kampus utama.

Namun kehidupan awal kuliah adalah tantangan buat saya, dua masalah utamanya. Pertama, kendala bahasa, kadangkala saya tak mengerti apa yang diomongkan dosennya, dan tak jarang dosen tak mengerti yang saya tanyakan. Untunglah saya tak sendiri. Di minggu-minggu awal, setiap jeda mahasiswa beragam bangsa berkumpul sambil saling bertanya
“Dosen tadi ngomong apa ya?” Hehehe.
Kendala kedua adalah banyaknya pelajaran yang menuntut menggunakan turunan rumus-rumus matematika jaman SMA atau awal kuliah. Dengan entengnya temenku asal China ketika saya tanya tentang sebuah rumus bilang “ini pelajaran high school, masak lupa”, alamakk SMA gw udah 15 tahun lalu.

Hal lain yang membuat keder adalah begitu cepatnya dosen menerangkan, sehingga bahan bejibun untuk dipelajari. Aturan plagiarisme juga diawasi ketat, tak boleh mengkopi tulisan orang 5 kata berturut-turut sama dan 10 kata sama dalam satu paragraf, harus diparafrase. Aturan ini menjadikan kita lebih hati-hati agar tak dipanggil dan disidang karena ketahuan copy paste. Dosen juga memberikan nilai secara tega, ada teman yang dapat nilai 9 dari 100%, untuk di Indonesia bisa dikatakan dia diberi ongkos menulis saja nggak. Yang lebih mengkhawatirkan karena tidak ada istilah reseat ketika ada mata kuliah yang gagal, kalo gagal ya terima aja, kalo mau ngulang bayar full dan ngulang dari awal tahun program. Syarat untuk lanjut disertasi adalah minimal melulusi 80 dari 120 kredit dan rata-rata dari 120 kredit adalah 50%. Kedengarannya 50% ini biasa-biasa saja, namun di Inggris nilai 70% sudah dianggap A atau Distinction dan nilai 40% sudah lulus. Tiga dari kawan sekelas saya tak bisa lanjut tahap disertasi karena tak memenuhi syarat ini. Dia hanya dapat gelar Diploma dan tak berhak mendapatkan gelar Master nantinya.

Tapi untunglah semangat saya tak pernah kendur, akhirnya semuanya berjalan baik, semua mata kuliah semester I lulus dengan baik. Dan saya masih sempat nonton Man United sebelum revision week. Teteup .

Jelang exam semester II, Gawa dan mamanya bergabung ke Edinburgh, saya pindah ke flat, tak lagi ngekos di keluarga scotland yang baik hati.
Saat Revision week, saya lebih banyak di kampus, Gawa dan mamanya sesekali datang dan kami bersantai bersama di Meadow atau Nicholson square sambil membiarkan Gawa kejar-kejaran dengan Merpati.

Hanya seminggu libur setelah exam, kerja yang lebih keras dimulai,menyelesaikan disertasi (iya, namanya emang disertasi di Inggris untuk thesis master kalo di Indenesia). Rutinitas mengukur di Lab, mengolah data dan mengukur lagi dilakukan selama sebulan. Tak sepatah katapun yang sempat di ketik, semuanya masih tahap simulasi di Matlab.

Bulan kedua, ramadhan datang bertepatan dengan summer, puasa bisa 19jam. Magrib jam 10, dan subuh jam 3. Saya biasanya buka di mesjid mengambil beberapa bungkus nasi biryani dan dibawa kerumah, saya tidur setelah shalat subuh dan berangkat lagi ke Lab jam 8 pagi. Hingga selesai bulan kedua, belum sepatah kata jua terketik, dan saya mulai khawatir dengan progress disertasi ini, padahal saya sudah full time 14 jam sehari dan 6 hari seminggu, namun masih jauh targetnya. Namun, sesekali saya juga rehat dengan menonton pertandingan Piala Dunia .

Selepas lebaran, saya tetap bekerja di lab dan di library dengan jadwal yang sama dengan saat ramadhan. Tapi kali ini setiap siang, Gawa dan mamanya datang membawa makanan ke Lab komputer. Saya makan siang sementara Gawa nonton Yutub pakai account kampus saya. Beberapa penghuni Lab mulai nampak familiar dengan Gawa.

Tanda kekhawatiran juga terlihat di mukanya mamanya Gawa. Beberapa orang teman sudah 30%, ada yang 50% dan ada yang sudah hampir seleesai. Pernah dia bertanya progress disertasi dan berusaha menyemangati, tapi saya tak senang dikejar, akhirnya dia tak bertanya lagi, tapi diwajahnya tampak kekhawatiran saya tak selesai. Jika tak selesai saya harus ngembaliin beasiswa, dan dia merasa akan disalahkan karena justru jadi distraction di Edinburgh.

Karena terlalu banyak data yang harus diolah, saya beristirahat lebih sedikit lagi. Saya mulai jam 8 pagi dan pulang jam 3 pagi. Sesekali bertemu dengan pria mabuk sempoyongan di jalan pulang. Disertasi saya selesai di print 4 jam sebelum deadline. Saya bawa dengan semangat ke kampus, dan kemuadian menyusul Gawa dan mamanya merayakan keberhasilan sementara saya mengumpul disertasi. Khusus untuk hari terakhir saya telah tak tidur lebih dari 24 jam.

Setelahnya saya tinggal menunggu hasil penilaian examiner dan supervisor.

***

Hari ini sebuah paket tiba dari Edinburgh, selembar kertas tipis hasil perjuangan setahun,banyak cerita dibaliknya dan tak sedikit perjuangan menyertainya dan ada banyak doa dan bantuan yang membuatnya layak saya terima.

Terima kasih tak berhingga untuk mama’ dan bapak atas doanya. Terima kasih buat Gawa dan Mamanya yang menemani dengan penuh sabar selama di proses disertasi, makasih buat kakak2 dan adekku yang membantu secara materil maupun immateriil, thanks juga buat teman2 atas supportnya. Terima kasih spesial buat sponsorku yang baik hati TPSDM Kementerian Komunikasi dan Informasi. Makasih juga buat teman2 Indonesia di Edinburgh yang membuat Indonesia rasanya dekat.

Meskipun mereka gak ngerti apa yang ditulis diatas, thanks to my supervisor and my friends in SES of UoE.

Manchester is Red

Kalau anda penggemar bola, anda sudah akan curiga duluan dengan judulnya. Pasti gak obyektif nih jalan ceritanya, pada ujung-ujungnya saya dianggap akan memuji-muji Manchester united sebagai penguasa Kota Manchester. Tenang saja, bagi anda penggemar Manchester City atau pembenci Manchester United ini bukan kisah tentang itu, meskipun nanti akan nyerempet juga, hehehe.

Ini cerita biasa tentang jalan-jalan saya ke Manchester bersama keluarga kecil ke Kota Manchester. Bagi saya, ini yang kedua kali ke Manchester, tapi bagi istri dan anak saya ini adalah pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di Kota di tengah Inggris ini. Perjalanan dari Edinburgh ke Manchester hanya 3.5 jam dengan kereta dari Waverley Station Edinburgh. Pindah kereta di Lancaster dan lanjut ke Manchester Piccadilly. Di Manchester kami menumpang di flat teman saya di Manchester yang baik hati, Thia, Maureen dan Tika. Thia merelakan kamarnya menjadi tempat menumpang kami, maklumlah sebagai pelajar dengan kantong yang cekak, tumpangan dirumah teman adalah penyelamat kantong yang menipis. Mereka juga harus rela mendengar teriakan, celotehan dan tangisan sibocah kecil Gawa yang moodnya seperti cuaca di Edinburgh ketika matahari mendekati summer solstice, sudut dekilnasi bumi terhadap matahari mendekati 23.45deg, meski kadang cerah namun bisa tiba-tiba mendung berangin dan hujan, begitulah kelakukan Gawa. Untuk hal ini saya harus berterima kasih sebanyak-banyaknya buat mereka.

Kami menginap dua malam di Manchester, namun hanya menghabiskan waktu setengah hari pertama dan seperempat hari kedua jalan-jalan disana, hari kedua kami ke Sheffield dan lanjut ke Edensor, sementara hari ketiga kami cabut dari Manchester dan menuju ke Liverpool. Kedua perjalanan ke kota tersebut akan saya ceritakan di lain seri.

Kami tiba di Manchester masih agak pagi, sekira pukul 11 siang, dijemput oleh Thia di Stasiun Piccadilly dan naik bis menuju flatnya yang berada di kawasan University of Manchester, tempat kuliahnya. University of Manchester adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, peringkatnya selalu 50 besar dunia, kampusnya juga besar, seorang artis Indonesia idola anak muda kabarnya sekolah di Business School disana. Dibandingkan dengan tempat kuliahku di Edinburgh, bangunan di University of Manchester nampaknya lebih luas. Ceritanya University of Manchester ini gabungan dua buah university yang dilebur menjadi satu. Keduanya adalah University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST) yang berdiri tahun 1824 (karena itu lambangnya masih pakai 1824) dan The Victoria University of Manchester yang berdiri tahun 1851. Mereka bergabung ditahun 2004.

DSC_0348

University of Manchester is Red

Saya sebenarnya diterima bersekolah di kampus ini, dan inilah universitas pertama yang mau menerima saya bersekolah di UK. Namun karena saya pikir ongkos hidup di Manchester lebih mahal dari Edinburgh, maka saya pilih yang Edinburgh, tapi ternyata saya salah, ongkos hidup di Manchester lebih murah dari Edinburgh, karena Edinburgh adalah Kota Wisata. Seperti juga University of Edinburgh, University of Manchester punya banyak penerima nobel, macam Ernest Rhutherford, Niels Bohr, John Hicks, dan penerima terkahir tahun 2010 adalah Andre Geim dan Konstantin Novoselov. Total 25 orang penerima nobel yang terasosisasi dengan University of Manchester yang sebagian besar di bidang Fisika, Kimia dan Ekonomi.

Apa obyek wisata yang bisa didatangi di Manchester? Obyek paling terkenal ya Old Trafford stadium, kandang salah satu klub terbaik di dunia, terbaik di Eropa versi saya, terbaik kedua didunia setelah PSM Makassar. Setelah beristirahat sejenak dan menyimpan bagasi, kami menuju ke Stadion Old Trafford. Hari itu Old Trafford sedang ramai-ramainya, karena ada pertandingan antara Man United vs Norwich City. Supporter berbondong-bondong menuju stadion menyaksikan tim hebat bertadning di kandang. Saya jadinya berbaur dengan para supporter yang berfoto disekitar stadion. Obyek yang paling sering digunakan berfoto adalah patung trinity Manchester United. Ini adalah patung tiga pahlawan Manchester United yang membawa piala champion ke tanah inggris untuk pertama kalinya ditahun 1968, mereka adalah George Best, Denis Law dan Bobby Charlton. Waktu itu pelatihnya adalah Sir Matt Busby. Sampai saat ini Sir Bobby Charlton masih hidup dan sering nangkring di kursi VIP bersama Sir Alex Ferguson.

DSC_0420

United Trinity (Saya, Gawa dan Tul)

Obyek lainnya adalah patung Sir Alex Ferguson. Bos Manchester asal tanah Scotland ini memang pelatih jempolan, jumlah gelarnya berderet-deret, kalau ditotal jumlahnya adalah 28 tropy major selama 26 tahun masa kekuasaannya. Maka itu wajar kalau sosoknya diabadikan dalam patung dan juga bagian tribun penonton dinamakan Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0441

Bajunya Rooney ini Buatan Negara Tercinta, Made In Indonesia

Setelah berfoto, lihat-lihat souvenir, kami meninggalkan stadion sebelum pertandingan dimulai menuju ke stadion lain. Stadion ini tempatnya jauh dari mana-mana, kalau kesana harus naik perahu getek, terus naik ojek sejam dan dilanjutkan dengan jalan kaki, lokasinya dipinggir sawah dan dari dekat stadion kita bisa mendengar gembala menghalau kambingnya, itulah Stadion Tetangga,hehehe. Enggak ding, saya becanda.

Selain Manchetser United, ada lagi klub lain di Kota Manchester, namanya Manchester City, pasti baru denger kan namanya? Hehehe. Meski prestasinya tak sementereng Manchester United, Manchester City adalah salah satu klub dengan prestasi besar, dia sudah juara liga Inggris sebanyak empat kali, prestasinya sudah setaraf dengan Sheffield Wednesday dan Newcastle United, namun masih dibawah Sunderland (6 gelar) dan Ason Villa (7 gelar), apalagi Everton yang sudah mengantongi 9 gelar, hehehe.

DSC_0485

Etihad Stadium

But Arab money has changed many things sodara-sodara, klub semenjana ini telah berubah wujud menjadi monster yang menakutkan, pemain-pemain mahal dia datangkan dari luar negeri, dia beli pemain kayak beli gantungan kunci, tinggal sebut harga langsung diboyong. Berkat uang minyak dari tanah Arab, pemain-pemain luar tersebut akhirnya main dipekarangan City of Manchester, hingga kini hanya satu anak kompleks sana yang masih tercatat sebagai pemain Manchester City, itupun cadangan abadi Micah Richards. Para pemain Inggris juga hanya satu yang bermain regular yaitu Joe Hart. Terakhir tim Manchester City menjuarai liga Inggris tahun ini, mungkin ini bener-bener terakhir karena Manchester United akan kembali berkibar, hehehe.

Selain kota bola kota Manchester adalah kota industry dan bisnis. Kota Manchester adalah kota Metropolitan, salah satu yang terbesar di UK, lebih besar tentunya dari Kota tercinta Edinburgh. Jika di Edinburgh warna kulit tak banyak macamnya, maka di Manchester lebih banyak jenis manusianya. Nampaknya area terbuka hijaunya tak sebanyak di Edinburgh, itulah sebabnya Piccadilly Garden di pusat kota seperti kekecilan menampung warga yang bersantai, sampah agak berserakan dan overcrowded menurut saya, sangat berbeda dengan di Edinburgh. Kami sempat juga jalan-jalan berkeliling Piccadilly Garden dan National Footbal Museum.

Nah kenapa saya menyebut Manchester is Red, karena hampir semua bangunan di Manchester berwarna merah, baik rumah maupun university berwarna merah, warnanya senada dengan warna stadion Old Trafford, jadi kalo saya menyebut Manchester is Red cukup fair kan?, kalo nggak, iya ajalah, hehehe.

DSC_0346

Manchester is Red

Salam dari Manchester

26 April 2014