Manchester is Red

Kalau anda penggemar bola, anda sudah akan curiga duluan dengan judulnya. Pasti gak obyektif nih jalan ceritanya, pada ujung-ujungnya saya dianggap akan memuji-muji Manchester united sebagai penguasa Kota Manchester. Tenang saja, bagi anda penggemar Manchester City atau pembenci Manchester United ini bukan kisah tentang itu, meskipun nanti akan nyerempet juga, hehehe.

Ini cerita biasa tentang jalan-jalan saya ke Manchester bersama keluarga kecil ke Kota Manchester. Bagi saya, ini yang kedua kali ke Manchester, tapi bagi istri dan anak saya ini adalah pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di Kota di tengah Inggris ini. Perjalanan dari Edinburgh ke Manchester hanya 3.5 jam dengan kereta dari Waverley Station Edinburgh. Pindah kereta di Lancaster dan lanjut ke Manchester Piccadilly. Di Manchester kami menumpang di flat teman saya di Manchester yang baik hati, Thia, Maureen dan Tika. Thia merelakan kamarnya menjadi tempat menumpang kami, maklumlah sebagai pelajar dengan kantong yang cekak, tumpangan dirumah teman adalah penyelamat kantong yang menipis. Mereka juga harus rela mendengar teriakan, celotehan dan tangisan sibocah kecil Gawa yang moodnya seperti cuaca di Edinburgh ketika matahari mendekati summer solstice, sudut dekilnasi bumi terhadap matahari mendekati 23.45deg, meski kadang cerah namun bisa tiba-tiba mendung berangin dan hujan, begitulah kelakukan Gawa. Untuk hal ini saya harus berterima kasih sebanyak-banyaknya buat mereka.

Kami menginap dua malam di Manchester, namun hanya menghabiskan waktu setengah hari pertama dan seperempat hari kedua jalan-jalan disana, hari kedua kami ke Sheffield dan lanjut ke Edensor, sementara hari ketiga kami cabut dari Manchester dan menuju ke Liverpool. Kedua perjalanan ke kota tersebut akan saya ceritakan di lain seri.

Kami tiba di Manchester masih agak pagi, sekira pukul 11 siang, dijemput oleh Thia di Stasiun Piccadilly dan naik bis menuju flatnya yang berada di kawasan University of Manchester, tempat kuliahnya. University of Manchester adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, peringkatnya selalu 50 besar dunia, kampusnya juga besar, seorang artis Indonesia idola anak muda kabarnya sekolah di Business School disana. Dibandingkan dengan tempat kuliahku di Edinburgh, bangunan di University of Manchester nampaknya lebih luas. Ceritanya University of Manchester ini gabungan dua buah university yang dilebur menjadi satu. Keduanya adalah University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST) yang berdiri tahun 1824 (karena itu lambangnya masih pakai 1824) dan The Victoria University of Manchester yang berdiri tahun 1851. Mereka bergabung ditahun 2004.

DSC_0348

University of Manchester is Red

Saya sebenarnya diterima bersekolah di kampus ini, dan inilah universitas pertama yang mau menerima saya bersekolah di UK. Namun karena saya pikir ongkos hidup di Manchester lebih mahal dari Edinburgh, maka saya pilih yang Edinburgh, tapi ternyata saya salah, ongkos hidup di Manchester lebih murah dari Edinburgh, karena Edinburgh adalah Kota Wisata. Seperti juga University of Edinburgh, University of Manchester punya banyak penerima nobel, macam Ernest Rhutherford, Niels Bohr, John Hicks, dan penerima terkahir tahun 2010 adalah Andre Geim dan Konstantin Novoselov. Total 25 orang penerima nobel yang terasosisasi dengan University of Manchester yang sebagian besar di bidang Fisika, Kimia dan Ekonomi.

Apa obyek wisata yang bisa didatangi di Manchester? Obyek paling terkenal ya Old Trafford stadium, kandang salah satu klub terbaik di dunia, terbaik di Eropa versi saya, terbaik kedua didunia setelah PSM Makassar. Setelah beristirahat sejenak dan menyimpan bagasi, kami menuju ke Stadion Old Trafford. Hari itu Old Trafford sedang ramai-ramainya, karena ada pertandingan antara Man United vs Norwich City. Supporter berbondong-bondong menuju stadion menyaksikan tim hebat bertadning di kandang. Saya jadinya berbaur dengan para supporter yang berfoto disekitar stadion. Obyek yang paling sering digunakan berfoto adalah patung trinity Manchester United. Ini adalah patung tiga pahlawan Manchester United yang membawa piala champion ke tanah inggris untuk pertama kalinya ditahun 1968, mereka adalah George Best, Denis Law dan Bobby Charlton. Waktu itu pelatihnya adalah Sir Matt Busby. Sampai saat ini Sir Bobby Charlton masih hidup dan sering nangkring di kursi VIP bersama Sir Alex Ferguson.

DSC_0420

United Trinity (Saya, Gawa dan Tul)

Obyek lainnya adalah patung Sir Alex Ferguson. Bos Manchester asal tanah Scotland ini memang pelatih jempolan, jumlah gelarnya berderet-deret, kalau ditotal jumlahnya adalah 28 tropy major selama 26 tahun masa kekuasaannya. Maka itu wajar kalau sosoknya diabadikan dalam patung dan juga bagian tribun penonton dinamakan Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0441

Bajunya Rooney ini Buatan Negara Tercinta, Made In Indonesia

Setelah berfoto, lihat-lihat souvenir, kami meninggalkan stadion sebelum pertandingan dimulai menuju ke stadion lain. Stadion ini tempatnya jauh dari mana-mana, kalau kesana harus naik perahu getek, terus naik ojek sejam dan dilanjutkan dengan jalan kaki, lokasinya dipinggir sawah dan dari dekat stadion kita bisa mendengar gembala menghalau kambingnya, itulah Stadion Tetangga,hehehe. Enggak ding, saya becanda.

Selain Manchetser United, ada lagi klub lain di Kota Manchester, namanya Manchester City, pasti baru denger kan namanya? Hehehe. Meski prestasinya tak sementereng Manchester United, Manchester City adalah salah satu klub dengan prestasi besar, dia sudah juara liga Inggris sebanyak empat kali, prestasinya sudah setaraf dengan Sheffield Wednesday dan Newcastle United, namun masih dibawah Sunderland (6 gelar) dan Ason Villa (7 gelar), apalagi Everton yang sudah mengantongi 9 gelar, hehehe.

DSC_0485

Etihad Stadium

But Arab money has changed many things sodara-sodara, klub semenjana ini telah berubah wujud menjadi monster yang menakutkan, pemain-pemain mahal dia datangkan dari luar negeri, dia beli pemain kayak beli gantungan kunci, tinggal sebut harga langsung diboyong. Berkat uang minyak dari tanah Arab, pemain-pemain luar tersebut akhirnya main dipekarangan City of Manchester, hingga kini hanya satu anak kompleks sana yang masih tercatat sebagai pemain Manchester City, itupun cadangan abadi Micah Richards. Para pemain Inggris juga hanya satu yang bermain regular yaitu Joe Hart. Terakhir tim Manchester City menjuarai liga Inggris tahun ini, mungkin ini bener-bener terakhir karena Manchester United akan kembali berkibar, hehehe.

Selain kota bola kota Manchester adalah kota industry dan bisnis. Kota Manchester adalah kota Metropolitan, salah satu yang terbesar di UK, lebih besar tentunya dari Kota tercinta Edinburgh. Jika di Edinburgh warna kulit tak banyak macamnya, maka di Manchester lebih banyak jenis manusianya. Nampaknya area terbuka hijaunya tak sebanyak di Edinburgh, itulah sebabnya Piccadilly Garden di pusat kota seperti kekecilan menampung warga yang bersantai, sampah agak berserakan dan overcrowded menurut saya, sangat berbeda dengan di Edinburgh. Kami sempat juga jalan-jalan berkeliling Piccadilly Garden dan National Footbal Museum.

Nah kenapa saya menyebut Manchester is Red, karena hampir semua bangunan di Manchester berwarna merah, baik rumah maupun university berwarna merah, warnanya senada dengan warna stadion Old Trafford, jadi kalo saya menyebut Manchester is Red cukup fair kan?, kalo nggak, iya ajalah, hehehe.

DSC_0346

Manchester is Red

Salam dari Manchester

26 April 2014

Advertisements

Trip ke Old Trafford : Bagian 2. Sopannya Penonton di Old Trafford

Pada bagian pertama, saya bercerita mengenai daya tarik batik Man United di Old Trafford dan larangan membawa kamera lensa panjang masuk ke stadion, kali ini saya akan bercerita mengenai kondisi dalam stadion Old Trafford dan perjalanan pulang kembali ke Edinburgh.

—————–

21 Desember 

15.00

Stadion Old Trafford Manchester

Jelang Pertandingan

Peluit dibunyikan dan pertandingan dimula. Suara penonton West Ham juga kencang meskipun jumlahnya sangat sedikit. Tapi yang pasti mereka harus membayar lebih mahal dibanding supporter tuan rumah. Penonton Manchester united berasal dari beragam bangsa, dan bukan hal aneh mendengar dialeg Indonesia dan Malaysia di dalam stadion.

Tak seperti di Senayan yang tak jelas nomor kursinya, di Old Trafford semua tempat duduk ada nomor kursinya. Tak ada cerita mengokupasi nomor kursi orang lain. Dua orang petugas berdiri sepanjang pertandingan menghadap penonton di section saya. Tak pernah si petugas berbalik badan menghadap ke arah lapangan bola. Matanya seperti terus menerus menyelidik tangan para penonton kalau ada yang sampai berbuat macam-macam. Jumlah petugas lebih banyak lagi diantara supporter Man United dan West Ham. Di bagian lain terdapat tempat khusus bagi pengguna kursi roda yang ingin menyaksikan pertandingan.

Suasana Stadion Old Trafford

Supported West Ham dan Man United dipisahkan Petugas Berompi, foto saat pertandingan

Stadion Old Trafford Manchester United

Area Khusus Pengguna Kursi Roda

Lagu glory-glory Man United membahana seisi stadion. Bapak-bapak yang membawa anaknya di samping saya berdiskusi tentang taktik dengan anaknya. Dari kecil dalam budaya Inggris, seorang anak sudah harus menentukan klub pilihannya. Kadang-kadang jika bapak dan ibunya berbeda keyakinan klub, anak-anaknya harus memilih satu diantaranya, bapak ini penggemar Manchester United, telah memenangkan hati anaknya.

Sebagai penonton di stadion, kami sebenarnya adalah bagian dari show ini, tak akan ada serunya menonton pertandingan di televisi, jika tak ada gemuruh suara penonton di stadion sepanjang pertandingan. Menurut saya, penonton di Stadion Old Trafford terlalu sopan, harusnya menontonnya lebih dinamis dibanding ini. Harus diakui para penonton di Senayan jauh lebih garang dibanding di sini, dan itu juga berarti jauh lebih berbahaya. Di Inggris, tak ada pagar tinggi pembatas antara penonton dan lapangan bola. Dengan sekali melompat, dengan mudah penonton menjangkau pemain, melempar botol atau koin. Tapi tindakan itu tak jamak disini, hukumannya larangan menonton seumur hidup. Dan itu bisa berarti benar-benar tidak bisa ke stadion seumur hidup. Sistem administrasi dan pendataan yang baik dalam alamat dan data kependudukan tercermin dalam efektifnya sanksi ini.

Dengan tak jauhnya jarak antara penonton terdepan dengan lapangan, maka itu juga berarti jarak saya yang berada di belakang, tak juga jauh-jauh amat dari lapangan, dibanding kalau saya menonton di Senayan. Waktu saya menonton di senayan, tiket yang saya beli memang bukan yang VVIP, tapi hanya satu kelas dibawahnya, namun saya tak bisa melihat dengan jelas para pemain di lapangan, bahkan Bambang Pamungkas yang lagi pemanasan di pinggir lapangan saya pikir adalah anak Gawang.

Aneh nih anak gawang, pakai acara melambai-lambaikan tangan ke penonton segala pikir saya.

Kadangkala, kalau kita menonton di Senayan, banyak penonton yang iseng, dan isengnya kelewatan, kalau kita berada di depan, maka siap-siaplah mendapat lemparan botol dari atas, yang kurang ajarnya lagi berisi cairan air seni.

Di Old Trafford, harus saya akui kecepatan lari para pemain bola memang sudah mendekati sprinter. Saat Antonio Valencia membawa bola dari lapangan tengah keatas, dalam waktu sekejap laksana kijang, Rafael yang berada dibelakang Valencia berlari secepat kilat kedepan untuk menerima umpan. Kecepatan lari Rafael, tak pernah saya lihat dalam pertandingan langsung seperti di Senayan. Serangan balik Man United memang mematikan dan menghibur. Rooney bermain luar biasa seperti sebelum-sebelumnya, umpan-umpannya terukur, daya jangkaunya ke seluruh lapangan. Adnan Januzaj bermain dengan penuh percaya diri. Tak tampak kekikukan dalam mengecoh lawan, padahal usianya masih 18 tahun. Dari tempat saya, Adnan Januzaj tak kelihatan diving ketika mendapatkan kartu kuning, namun siaran ulang yang saya lihat, dia memang diving, si bocah harus berhenti diving supaya bisa jadi pemain hebat.

Dipertandingan malam itu, Danny Welbeck mencetak gol kembali, disusul Adnan Januzaj dan Ashley Young. Semuanya rasanya berlalu dengan cepat karena tak ada siaran ulang. Pada break babak pertama penonton akan keluar dari tempat duduk dan menonton dari layar televisi didepan café review pertandingan babak pertama. Mirip pemain film yang melihat hasil rekaman syutingnya kembali.

Gol Stadion Old Trafford Manchester United

Perayaan Gol Dannie Welbeck

Satu gol dari West Ham United karena kesalahan perangkap offside Man United. Perangkap offside ini memang pedang bermata dua, karena kalau salah, bisa berarti pemain belakang kehilangan start lari dua sampai tiga langkah. Man United seperti memberikan gol gratis kepada West Ham.  Kesalahan malam itu ada pada Alexander Buttnerr yang terlambat mensejajarkan diri dengan bek tengah. Satu gol dari West Ham membuat supporter West Ham kembali bergemuruh. Setelah goal, David De Gea, merapikan kaos kakinya yang tidak melorot, mungkin dia mengutuk kesalahan teman-temannya atau, berusaha memaafkan diri sendiri karena kebobolan lewat kolong badannya.

Saya beruntung malam itu, menonton dan bergembira dengan penonton Manchester, bisa dibayangkan  betapa kecewanya, sudah jauh-jauh datang, namun pulang membawa cerita kekalahan.

17.00

Pertandingan sudah bubar, dan saatnya bersaing untuk naik tram menuju ke Shudehill Interchange. Hujan mulai mengguyur sekitaran Old Trafford. Saya masih mereka-reka tram yang harus dinaiki karena berbeda dengan dengan berangkat yang naik train, kali ini saya akan pulang ke Edinburgh naik bis. Dalam proses antri membeli tiket tram, saya berusaha membuka peta melalui HP, namun loadingnya agak lama hingga indicator baterai saya semakin mendekati nol. Dengan ribetnya bawaan, saya membuka power bank dan menyambungkan dengan HP, bulir-bulir hujan sepertinya ada yang menyusup ke HP. HP saya bernafas kembali, tetapi petunjuk naik tram saya dapatkan dari petugas.

Tak ada bedanya tram di Manchester setelah ada match dengan sesaknya Trans Jakarta. Orang penuh berdesak-desakan, dan saya adalah orang terakhir yang bisa naik ke Tram. Pengalaman adalah guru terbaik, saya bisa menyusup dengan cepat. Naik Trans Jakarta lebih susah dari ini, karena di Ibukota tercinta tidak hanya langkah yang harus dipecepat, dompet dan HP juga harus dijaga. Di tram, seseorang yang katanya banyak teman kerjanya orang Indonesia di perusahaan minyak memberi petunjuk dimana harus turun. Dia memuji kemampuan saya mensejajarkan diri dengan pintu, agar tram bisa tertutup, hehehe.

18.00

Saya akhirnya turun di Mancester Shudehiill dan masuk kedalam terminal interchange. Saat beristirahat sambil menunggu bis, seorang anak muda berkulit coklat mendekati saya.

“Hi Brother, are you moslem?”

Lo kok tahu mas?

“Yes, I am”

“Woo very good, are you new in Manchester” tanyanya

“Yes, I am waiting for Mega Bus”

“No, Mega Bus is not here”

Dia mulai cerita sambil meperlihatkan Handphonenya, saya tak terlalu menangkap kata-katanya tapi ada kata mother, help, call, phone dan Victoria, (Victoria adalah nama daerah setelah Shudehill).

Saya mulai mencium hawa-hawa gak bener. Kenangan saya melayang ke Terminal Kampung Rambutan, ketika akan berangkat tugas ke Yogyakarta saat bencana Gunung Merapi. Saat itu seorang bapak-bapak kena pepet dua orang preman terminal.

Tapi ini kan bukan Kampung Rambutan

Tiba-tiba sebuah bis megabus merapat ke Interchange, saya bilang sama kawan itu.

“Hang on, a second, I want to ask to that lady”

Saya tanya sama si Ibu petugas, apakah ini mega bus yang ke Edinburgh,

“No, its going to Glasgow, Edinburgh on 7.30”

Oke, kata saya. Ketika saya berbalik mencari si Kawan tadi, tak tampak batang hidungnya menghiasi interchange itu lagi. Tak boleh berburuk sangka, tapi dia memang punya niat jahat kayaknya. Tadi katanya Mega Bus gak disini.

lu kira gue gak bisa nanya?

07.30

Mega Bus merapat, tujuannya Edinburgh via Glasgow rupanya. Saya naik, tak banyak penumpang ke Edinburgh, masing-masing penumpang menguasai 2 kursi. Saya mencoba mencharge HP di stop kontak yang tersedia di bis, namun tidak bisa.

22 Desember

01.15

Bis tiba di Edinburgh, saya langsung mendapatkan bis N31 dan meluncur menuju rumah. Bis malam, lebih dari setengahnya berisi orang yang kepayahan menahan pengaruh minuman keras. Berjalan naik ke bis dengan doyong, sambil menyanyi dan meracau, tapi tak ada yang reseh. Semuanya Pisss. Sopir bisnyapun tetap ramah, meskipun dibutuhkan waktu lebih lama untuk penumpang baru ini mengeluarkan koin dari kantongnya.

Sampai di rumah saya mencoba mencharge kembali HP. Bau hangus tercium dari konektor usb ke HP. Efek hujan tadi di Manchester dan saya yang buru-buru mengecharge HP meninggalkan air dalam konektor tersebut. Pelajaran anak SMP bilang, air adalah konduktor, dan jika kutub positif dan negative short circuit alamat akan nada yang rusak. HP saya jadi korban, dan ini bukan Jakarta, tak ada Mall Ambassador disini, dan tak ada jam kerja murah disini dan artinya ongkos perbaikannya tak murah.

Memang tak mudah meraih mimpi.

Sekarang saatnya bermimpi yang lain.

Salam dari Edinburgh

Baca Juga:

Trip ke Old Trafford Bagian Pertama

Mimpi Nonton Manchester United

Perjalanan Ke Barat

Trip ke Old Trafford : Bagian 1. Show Batik MU dan Larangan Membawa Kamera

Cerita ini saya bagi dalam dua bagian karena ternyata panjangnya tulisan ini:

Ditulisan saya sebelumnya, saya sudah ceritakan mimpi saya menonton pertandingan Manchester United di Old Trafford, dan atas karunia Allah, mimpi itu telah terwujud.

Beberapa bulan lalu saya sudah mencari waktu yang tepat untuk ke Old Trafford, dan saya menemukan waktu paling tepat adalah dua hari setelah exam, tepatnya tanggal 21 Desember 2013. Saat booking tiket di bulan Oktober, saya agak was-was sebenarnya, dikarenakan berdasarkan prediksi waktu itu, temperature akan turun mendekati 1 derajat celcius. Dan itu bisa berarti, banyak cobaan dijalan, termasuk cobaan hawa dingin kalau mau berfoto di depan stadion Old Trafford.  Momen foto ini tak boleh diganggu oleh apapun.

Untuk bisa membeli tiket nonton di Old Trafford, kita harus menjadi member untuk satu musim, harga membershipnya £30, untuk tiket nontonnya sendiri £45, itupun berada hampir ditempat paling atas dari stadion. Tempatnya di Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0906

Membership Manchester United

Setelah memesan tiket dan membership sayapun mencoba mencari moda transportasi yang cocok ke Manchester, dan dapatlah harga promo tiket kereta £8 dengan kartu 16-25. Kartu ini hanya diperuntukkan bagi yang berusia 16-25 tahun, dan bagi “mature full student” harus dibuktikan dengan surat dari University masing-masing. Saya tak perlu cerita saya ada dikategori yang mana, hehehe. Tiket kereta yang saya dapatkan berangkat dari Edinburgh pukul 06.52 pagi dan rencana tiba ti Manchester pukul 10.15 pagi.

Untuk pulangnya, sebenarnya ada juga tiket promo kereta diharga yang sama, akan tetapi berangkat dari Manchester pukul 6 sore. Secara kalkulasi ini gak feasible, karena akan berebutan naik kendaraan dari Old Trafford ke stasiun setelah match. Puluhan ribu orang harus bersaing dalam waktu singkat, dan saya tak mau mengambil resiko itu. Ada tiket lain di malam hari, tapi harganya sudah dikisaran £50. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket Mega Bus, perjalanannya sedikit lebih lama namun harganya hanya £18. Berangkat dari Shudehill Interchange Manchester jam 7.30 malam.

Setelah tiket beres, dan exam rampung, saya menghubungi teman sesama penerima beasiswa Kominfo di Manchester, Sinthia dan Maureen. Thia ada di Manchester hari itu, namun Maureen sedang ke Notingham.

20 Desember

Saya sudah packing, syal Manchester, syal Indonesia, baju Manchester sudah masuk di tas. Beberapa makanan ringan sudah masuk, kamera sudah saya charge dan tripod sudah disiapkan. Alarm saya setting 3 kali. Maklum, musim dingin bawaannya malas bangun, matahari baru kelihatan pukul 9 pagi, sementara saya harus bangun pagi-pagi dan mengejar bis untuk ke Waverley Station

21 Desember

05.00

Weker bordering, saya bangun dengan kaku, dingin masih terasa, namun badan harus segera bergerak.

06.00

Ke Bus Stop, Bis Nomor 31 baru akan tiba pukul 06.17, Sampai distasiun dan duduk di coach A standard nomor kursi 3

06.50

Train berangkat meninggalkan Edinburgh menuju Preston Lancaster, hari masih gelap, jadi tak bisa saya menikmati pemandangan pagi hari, menjelang preston matahari mulai bersinar, pemandangan yang nampak adalah peternakan domba. Bendera St Andrews Cross sudah berganti St George Cross. Scotlandia sudah lewat dan disini sudah wilayah kekuasaan England.

09.45

Turun di Preston, harus pindah train ke Manchester, sudah nampak banyak orang memakai baju Manchester United. Beberapa orang diantaranya membawa serta anak-anaknya. Seharusnya, menurut jadwal kereta ke preston sudah berangkat pukul 09.52, namun keretanya agak lambat. Kereta baru tiba pukul 10.10. Dikereta ini baru ada pemeriksaan tiket.

11.00

Akhirnya sampai juga di Manchester Piccadilly. Saya janjian ketemua dengan Thia di Piccadilly Garden. Dari Stasiun saya mengikuti petunjuk arah kearah Picadilly Garden dengan berjalan kaki. Udara Manchester rasanya lebih hangat dibanding Edinburgh, suhunya sekitar 8 derajat. Saya yang sudah memakai pakaian berlapis-lapis-lapis rasanya mulai kegerahan.

Manchester Piccadilly Train Station

Manchester Piccadilly Station

Di Picadilly Garden, saya bertemu dengan Thia di Visitor Center dan untuk spot pertama yang kami kunjungi adalah National Footbal Museum. Saya hanya berfoto-foto didepannya saja, karena mengejar waktu ke tempat lain.

National Football Museum Mancester

National Football Museum

12.30.

Kami menuju ke Etihad Stadium, kandang dari Manchester City. Tetangga dan seteru dari Manchester United. Saat itu Manchester City lagi bertandang ke Fulham, jadi stadionnya sepi. Saya sempat berfoto-foto didepannya dan mengabadikan momen bersejarah menginvasi ke stadion Etihad.

Etihad Stadium Manchester

Glory Glory Man United on Man City Ground

Puas berfoto, kami kembali ke Piccadilly Garden, membeli semacam Kebab Turki yang rasanya enak banget dan kemudian berpisah.

13.30

Saya menumpang bis nomor 256 menuju stadion Old Trafford. Supporter berbaju merah sudah berjibun di Kota Manchestere sejak di Picadilly Garden. Penjual syal Man United beredar dimana-mana.

Tiba di stadion saya langsung beraksi dengan tripod, mengabadikan momen berharga dalam hidup. Saya tak menyangka, saya sudah benar-benar menginjakkan kaki di Old Trafford. Di rentang waktu 17 tahun lalu saya hanya bisa bermimpi dari sudut televisi  yang menyiarkan liga inggris. Kini mimpi itu jadi nyata.

Karena saya seorang diri ke stadion, saya harus mengandalkan diri, kamera dan tripod untuk mengabadikan momen berharga ini. Dari rumah saya sudah menyiapkan baju batik Manchester United yang dibelikan istri di Pasar Tanah Abang, baju dalamnya adalah kaos Manchester dari sebuah Factory Outlet di Bogor. Jersey Man United saya tersimpan baik dalam tas, karena menurut saya jenisnya terlalu generic, meskipun jersey tersebut adalah jersey asli 2 tahun sebelumnya.

Nah, ketika saya membuka dua lapis jaket saya dan menampakkan baju batik saya, mulailah banyak yang tersenyum melihat batik saya. Beberapa orang dengan mencuri-curi atau terang-terangan memoto saya bersama baju batik tersebut. Tiga orang anak-anak tak berhenti-hentinya tersenyum dan menunjuk baju saya. Ketika saya sudah memasang tripod dan mengambil gaya untuk foto dengan delay 10 detik, bukan hanya kamera saya yang memotret, beberapa orang juga ikut memotret saya. Saya senang-senang saja, jiwa narsis saya menemukan wadahnya di negeri orang, hehehe. Saya sebenarnya mau berpesan sama mereka, kalian semua akan sulit dapat batik kayak begini di Inggris, soalnya ini gak pake lisensi, karena lisensi adalah kosa kata aneh di Tanah Abang.

Foto Depan Old Traffford

Kawan kita disamping penggemar batik juga

Puas memoto-moto dan “mempertontonkan” batik Man United. Saya mencari pintu masuk stadion sesuai dengan yang tertera di email. Pintu Nomor N411. Sebelum masuk, saya berhenti disebuah sudut untuk merapikan kamera, tas, jaket dan tripod yang rasanya ribet banget. Saat asyik merapikan barang-barang tersebut, datanglah petugas keamanan mendekati:

“Sir, sorry you cannot bring your camera into the stadium, its too big, its dangerous, it’s a long lens camera”

Pala lu peyang, bisik saya, cita-cita gue seumur hidup mau motret pertandingan di dalam stadium, hanya karena kamera gue lensanya gede, cita-cita harus gue andalkan pada kamera HP yang sebentar lagi habis baterainya

“No, it isn’t” kataku “this is not a long lens camera”

“Let me show you the rule, please pack your bag and camera, I’ll show you”

Saya mengepak kamera, memasukkannya dalam tas dan mengikuti si Om

“You see this !!” katanya sambil menunjuk ke arah papan pengumuman yang berisi larangan barang yang boleh dibawa ke stadion.

Saya masih berdebat, mirip pemain sepakbola yang mempertanyakan keputusan wasit

“No, it’s not a long lens. A long lens camera is not like this”

“They will not allow you, now you follow me, please put your bag in that coach”

Saya ikuti si Om, tak ada cerita, kata saya dalam hati, masak kamera doang gak boleh masuk stadion. Iya sih, memang kamera saya lensanya lebih gede dibanding dengan kamera pada umumnya, tapi apanya yang berbahaya, saya gak bakalan melempar kamera ini kepada penonton lainnya karena itu tindakan pengecut, oh bukan maksud saya tindakan bodoh. Yang kedua, kalau ini soal bisnis hak ekslusif memotret saya gak bakalan bisa menyaingi the true long lens para pewarta foto yang duduk paling depan yang hanya berjarak 1 meter dari lapangan sementara saya berjarak jauh diatas.

Sampai di tempat penitipan, si Om tadi sudah pergi. Saya mulai memilah barang, beberapa orang juga menitip barangnya, namun tak ada yang menitip kameranya, ada yang membawa kamera yang hanya sedikit saja lebih kecil lensanya dari kamera saya. Saya tanyakan kepada petugas penitipan barang “Ini boleh dibawa gak Om?”

“Maybe allowed, maybe not”

Okelah kalau begitu, kameranya saya bawa saja, dan ternyata memang tak ada larangan dari petugas di pintu masuk. Momen berharga didalam stadion kini bisa diabadikan.

Bersambung ke Trip ke Old Trafford Bagian 2

Salam dari Edinburgh

24 December 2013