Trip ke Old Trafford : Bagian 1. Show Batik MU dan Larangan Membawa Kamera

Cerita ini saya bagi dalam dua bagian karena ternyata panjangnya tulisan ini:

Ditulisan saya sebelumnya, saya sudah ceritakan mimpi saya menonton pertandingan Manchester United di Old Trafford, dan atas karunia Allah, mimpi itu telah terwujud.

Beberapa bulan lalu saya sudah mencari waktu yang tepat untuk ke Old Trafford, dan saya menemukan waktu paling tepat adalah dua hari setelah exam, tepatnya tanggal 21 Desember 2013. Saat booking tiket di bulan Oktober, saya agak was-was sebenarnya, dikarenakan berdasarkan prediksi waktu itu, temperature akan turun mendekati 1 derajat celcius. Dan itu bisa berarti, banyak cobaan dijalan, termasuk cobaan hawa dingin kalau mau berfoto di depan stadion Old Trafford.  Momen foto ini tak boleh diganggu oleh apapun.

Untuk bisa membeli tiket nonton di Old Trafford, kita harus menjadi member untuk satu musim, harga membershipnya £30, untuk tiket nontonnya sendiri £45, itupun berada hampir ditempat paling atas dari stadion. Tempatnya di Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0906

Membership Manchester United

Setelah memesan tiket dan membership sayapun mencoba mencari moda transportasi yang cocok ke Manchester, dan dapatlah harga promo tiket kereta £8 dengan kartu 16-25. Kartu ini hanya diperuntukkan bagi yang berusia 16-25 tahun, dan bagi “mature full student” harus dibuktikan dengan surat dari University masing-masing. Saya tak perlu cerita saya ada dikategori yang mana, hehehe. Tiket kereta yang saya dapatkan berangkat dari Edinburgh pukul 06.52 pagi dan rencana tiba ti Manchester pukul 10.15 pagi.

Untuk pulangnya, sebenarnya ada juga tiket promo kereta diharga yang sama, akan tetapi berangkat dari Manchester pukul 6 sore. Secara kalkulasi ini gak feasible, karena akan berebutan naik kendaraan dari Old Trafford ke stasiun setelah match. Puluhan ribu orang harus bersaing dalam waktu singkat, dan saya tak mau mengambil resiko itu. Ada tiket lain di malam hari, tapi harganya sudah dikisaran £50. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket Mega Bus, perjalanannya sedikit lebih lama namun harganya hanya £18. Berangkat dari Shudehill Interchange Manchester jam 7.30 malam.

Setelah tiket beres, dan exam rampung, saya menghubungi teman sesama penerima beasiswa Kominfo di Manchester, Sinthia dan Maureen. Thia ada di Manchester hari itu, namun Maureen sedang ke Notingham.

20 Desember

Saya sudah packing, syal Manchester, syal Indonesia, baju Manchester sudah masuk di tas. Beberapa makanan ringan sudah masuk, kamera sudah saya charge dan tripod sudah disiapkan. Alarm saya setting 3 kali. Maklum, musim dingin bawaannya malas bangun, matahari baru kelihatan pukul 9 pagi, sementara saya harus bangun pagi-pagi dan mengejar bis untuk ke Waverley Station

21 Desember

05.00

Weker bordering, saya bangun dengan kaku, dingin masih terasa, namun badan harus segera bergerak.

06.00

Ke Bus Stop, Bis Nomor 31 baru akan tiba pukul 06.17, Sampai distasiun dan duduk di coach A standard nomor kursi 3

06.50

Train berangkat meninggalkan Edinburgh menuju Preston Lancaster, hari masih gelap, jadi tak bisa saya menikmati pemandangan pagi hari, menjelang preston matahari mulai bersinar, pemandangan yang nampak adalah peternakan domba. Bendera St Andrews Cross sudah berganti St George Cross. Scotlandia sudah lewat dan disini sudah wilayah kekuasaan England.

09.45

Turun di Preston, harus pindah train ke Manchester, sudah nampak banyak orang memakai baju Manchester United. Beberapa orang diantaranya membawa serta anak-anaknya. Seharusnya, menurut jadwal kereta ke preston sudah berangkat pukul 09.52, namun keretanya agak lambat. Kereta baru tiba pukul 10.10. Dikereta ini baru ada pemeriksaan tiket.

11.00

Akhirnya sampai juga di Manchester Piccadilly. Saya janjian ketemua dengan Thia di Piccadilly Garden. Dari Stasiun saya mengikuti petunjuk arah kearah Picadilly Garden dengan berjalan kaki. Udara Manchester rasanya lebih hangat dibanding Edinburgh, suhunya sekitar 8 derajat. Saya yang sudah memakai pakaian berlapis-lapis-lapis rasanya mulai kegerahan.

Manchester Piccadilly Train Station

Manchester Piccadilly Station

Di Picadilly Garden, saya bertemu dengan Thia di Visitor Center dan untuk spot pertama yang kami kunjungi adalah National Footbal Museum. Saya hanya berfoto-foto didepannya saja, karena mengejar waktu ke tempat lain.

National Football Museum Mancester

National Football Museum

12.30.

Kami menuju ke Etihad Stadium, kandang dari Manchester City. Tetangga dan seteru dari Manchester United. Saat itu Manchester City lagi bertandang ke Fulham, jadi stadionnya sepi. Saya sempat berfoto-foto didepannya dan mengabadikan momen bersejarah menginvasi ke stadion Etihad.

Etihad Stadium Manchester

Glory Glory Man United on Man City Ground

Puas berfoto, kami kembali ke Piccadilly Garden, membeli semacam Kebab Turki yang rasanya enak banget dan kemudian berpisah.

13.30

Saya menumpang bis nomor 256 menuju stadion Old Trafford. Supporter berbaju merah sudah berjibun di Kota Manchestere sejak di Picadilly Garden. Penjual syal Man United beredar dimana-mana.

Tiba di stadion saya langsung beraksi dengan tripod, mengabadikan momen berharga dalam hidup. Saya tak menyangka, saya sudah benar-benar menginjakkan kaki di Old Trafford. Di rentang waktu 17 tahun lalu saya hanya bisa bermimpi dari sudut televisi  yang menyiarkan liga inggris. Kini mimpi itu jadi nyata.

Karena saya seorang diri ke stadion, saya harus mengandalkan diri, kamera dan tripod untuk mengabadikan momen berharga ini. Dari rumah saya sudah menyiapkan baju batik Manchester United yang dibelikan istri di Pasar Tanah Abang, baju dalamnya adalah kaos Manchester dari sebuah Factory Outlet di Bogor. Jersey Man United saya tersimpan baik dalam tas, karena menurut saya jenisnya terlalu generic, meskipun jersey tersebut adalah jersey asli 2 tahun sebelumnya.

Nah, ketika saya membuka dua lapis jaket saya dan menampakkan baju batik saya, mulailah banyak yang tersenyum melihat batik saya. Beberapa orang dengan mencuri-curi atau terang-terangan memoto saya bersama baju batik tersebut. Tiga orang anak-anak tak berhenti-hentinya tersenyum dan menunjuk baju saya. Ketika saya sudah memasang tripod dan mengambil gaya untuk foto dengan delay 10 detik, bukan hanya kamera saya yang memotret, beberapa orang juga ikut memotret saya. Saya senang-senang saja, jiwa narsis saya menemukan wadahnya di negeri orang, hehehe. Saya sebenarnya mau berpesan sama mereka, kalian semua akan sulit dapat batik kayak begini di Inggris, soalnya ini gak pake lisensi, karena lisensi adalah kosa kata aneh di Tanah Abang.

Foto Depan Old Traffford

Kawan kita disamping penggemar batik juga

Puas memoto-moto dan “mempertontonkan” batik Man United. Saya mencari pintu masuk stadion sesuai dengan yang tertera di email. Pintu Nomor N411. Sebelum masuk, saya berhenti disebuah sudut untuk merapikan kamera, tas, jaket dan tripod yang rasanya ribet banget. Saat asyik merapikan barang-barang tersebut, datanglah petugas keamanan mendekati:

“Sir, sorry you cannot bring your camera into the stadium, its too big, its dangerous, it’s a long lens camera”

Pala lu peyang, bisik saya, cita-cita gue seumur hidup mau motret pertandingan di dalam stadium, hanya karena kamera gue lensanya gede, cita-cita harus gue andalkan pada kamera HP yang sebentar lagi habis baterainya

“No, it isn’t” kataku “this is not a long lens camera”

“Let me show you the rule, please pack your bag and camera, I’ll show you”

Saya mengepak kamera, memasukkannya dalam tas dan mengikuti si Om

“You see this !!” katanya sambil menunjuk ke arah papan pengumuman yang berisi larangan barang yang boleh dibawa ke stadion.

Saya masih berdebat, mirip pemain sepakbola yang mempertanyakan keputusan wasit

“No, it’s not a long lens. A long lens camera is not like this”

“They will not allow you, now you follow me, please put your bag in that coach”

Saya ikuti si Om, tak ada cerita, kata saya dalam hati, masak kamera doang gak boleh masuk stadion. Iya sih, memang kamera saya lensanya lebih gede dibanding dengan kamera pada umumnya, tapi apanya yang berbahaya, saya gak bakalan melempar kamera ini kepada penonton lainnya karena itu tindakan pengecut, oh bukan maksud saya tindakan bodoh. Yang kedua, kalau ini soal bisnis hak ekslusif memotret saya gak bakalan bisa menyaingi the true long lens para pewarta foto yang duduk paling depan yang hanya berjarak 1 meter dari lapangan sementara saya berjarak jauh diatas.

Sampai di tempat penitipan, si Om tadi sudah pergi. Saya mulai memilah barang, beberapa orang juga menitip barangnya, namun tak ada yang menitip kameranya, ada yang membawa kamera yang hanya sedikit saja lebih kecil lensanya dari kamera saya. Saya tanyakan kepada petugas penitipan barang “Ini boleh dibawa gak Om?”

“Maybe allowed, maybe not”

Okelah kalau begitu, kameranya saya bawa saja, dan ternyata memang tak ada larangan dari petugas di pintu masuk. Momen berharga didalam stadion kini bisa diabadikan.

Bersambung ke Trip ke Old Trafford Bagian 2

Salam dari Edinburgh

24 December 2013

Advertisements

Perjalanan ke Barat

Judulnya sekilas mirip pengembaraan Biksu Tong dari dataran China yang melakukan perjalanan mencari kitab suci ke Negeri India. Tapi bukan itu yang akan saya tulis. Ini tentang awal perjalanan saya ke UK. Perjalanan saya memang ke arah barat, ke arah Eropa, melintasi Samudera Hindia, Dataran India dan mendarat di Dubai, setelah itu lanjut lagi menyusuri semenanjung Arab, melewati Turki , melintasi Eropa dan mendarat di Glasgow, Britania Raya dan dilanjutkan perjanan darat ke Edinburgh, ibu kota Skotlandia.

Saya mengawali perjalanan ke Edinburgh di subuh hari yang gelap dari Bekasi pada tanggal 6 September 2013. Pukul tiga dini hari, saya sudah terbangun, barang sudah dipacking oleh Istri dan dokumen sudah masuk di tas ransel dari semalam, kamera DSLR yang masih gres dan tak tahu cara penggunaannya sudah siap, pasangannya tripod plastic murah sudah terpilin bersama pakaian di koper. Timbangan badan di rumah menunjukkan bahwa berat koperku lebih dari 30 kg, sebuah tas pakaian lain juga akan menemani naik ke kabin. Indomie, bumbu pecel, teri kacang, bumbu instan dan beras berbaur dalam koper, mereka terselip dalam rimbunnya pakaian. Setrika dan rice cooker juga ikut berangkat ke Scotland bersama  syal Indonesia, syal Manchester United, batik Manchester, batik Cirebon, batik Jogja, batik keris, Sutra Bugis, kaos England, kaos MU Merah, kaos MU biru, sleeping bag, songkok dan lain-lain hingga cukup untuk membuat koper penuh sesak.

Saya diantar Istri, Ponggawa, Mama’ dan Bapak dan Ifal  berangkat dari rumah menuju Bandara sekitar Pukul 04.00 pagi dan tiba di bandara sejam kemudian. Pesawat Emirates EK 369 dari Jakarta menuju Dubai sedianya berangkat dari Terminal 2D pada Pukul 07.25. Namun antrian di counter check in Emirates sudah mengular pada Pukul 5 pagi, beberapa orang nampak bersitegang karena ada yang memotong antrean. Pesawatnya adalah jenis Boeing 777-300, pola kursinya 3-4-3. Untuk menemani perjalanan yang lama ini saya hanya nonton, tidur dan nonton. Total perjalanan ke Dubai adalah 7 jam 50 menit, ini adalah perjalanan terjauh tanpa transit yang pernah saya alami. Perjalan an terjauh saya selama ini adalah ke Papua, dan itupun transit di Makassar. Makanan yang disediakan oleh Emirates adalah standar halal, jadi bagi yang Muslim tidak menjadi masalah dengan makanannya.

IMG_20130906_065254

Filmnya Lumayan Banyak

IMG_20130906_181658

Menu Emirates

Sekitar pukul 12 waktu Dubai (waktu dubai 3 jam lebih lambat dibanding Jakarta) pesawat mendarat di Dubai. Suhu luar adalah 42 derajat, panas sekali kayaknya, bahkan air keran untuk berwudhupun hangat.

IMG_20130906_154252

Suasana Bandara Dubai

Setelah meluruskan kaki dan beristrihat sekitar 3 jam, saya mulai merasa teralienasi, tak tampak lagi wajah bertekstur Melayu, hanya ada beberapa wajah India dan China sisanya adalah Kaukasia. Perjalanan ke Glasgow dilanjutkan dengan pesawat Boeing 777-300 yang lain, waktu perjalanannyapun hampir sama. Sebenarnya ada juga penerbangan yang ke Edinburgh, tapi pilihannya terbatas dan karenanya saya pilih ke Glawgow. Di pesawat saya berusaha menonton TV dan menangkap kata perkata yang diucapkan oleh sang actor/aktris, beberapa dapat saya kenali, tapi tak sedikit yang tak ketahuan apa yang dia bilang. Dari sini mulai terbayang nanti seperti apa ngomongnya di Scotland, hehehe.

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara International Glasgow pada Pukul 19.55 Waktu Glasgow, terdapat perbedaan 6 jam antara Glasgow dan Jakarta. Turun dari pesawat, saya langsung mengikuti aliran orang yang berjalan keluar garbarata, takut kesasar, hehehe. Tak lama kemudian kita tiba di jalur imigrasi, seperti biasa terdapat jalur antrian untuk Warga Negara tempat kita mendarat, dan warga negara lain pada loket foreigner. Saya tak perlu menunggu lama sudah sampai di antrian terdepan, dengan ramah mbak-mbak petugas (P) bertanya kepada saya (S):

P : Halo, apa kabar? Mau kemana?

S : Kabar baik, saya mau ke Edinburgh

P : Mau ngapaian disana?

S : Sekolah di University of Edinburgh

P : Apa bidangnya disana?

S : Sustainable Energy

Saya harus mengulang sampai 3 kali, karena accent dan pronounciation saya yang terbatas

Komputernya nampaknya agak lelet

P : Ada sponsornya? Atau biaya sendiri?

S : O iya, sponsornya ada

P : Oo…You are very lucky, Please wait a moment, I have to check your visa and scholarship in system

Nampaknya sistemnya masih lelet

P : Sorry, we have a problem with the system

S : No problem

P : It’s a problem for us not for you (sambil ketawa)

      Are you going to Edinburgh tonight?

S : Yes

P : Tahu caranya ke Edinburgh?

S : Tidak tahu

Sebenarnya saya sudah dikasih tahu sama Bu Ofita, salah seorang mahasiswa S3 di Edinburgh, mengenai jalur transportasi dari Glasgow ke Edinburgh. 🙂

P : Oo gampang, nanti keluar dari sini, ambil bis ke Queen Street Station, dari Queen Street Station ke Waverley Station di Edinburgh

S : Siaapp, bisnya gratis gak mbak?

P : Ya nggaklahhh

S : Oke, makasih banyak mbakk

Saya memang tak sering ke luar negeri dan baru pertama kali ini keluar ASEAN, tapi menurut pengalaman saya yang sedikit, layanan Imigrasi Glasgow sangat bersahabat, dan tentunya berbeda dengan pengalaman buruk saya di Imigrasi Singapur.

Setelah keluar dari jalur imigrasi saya menarik uang rupiah dari mesin ATM di bandara, ratenya sekitar Rp 18.300 per pound, hampir sama dengan rate di tempat penukaran uang di Menteng , dengan ongkos Rp.20.000 sekali penarikan. Begitu keluar dari Bandara, hujan rintik-rintik membasahi Glasgow. Rasanya di luar lebih ber AC dibanding di dalam (hehehe), saya yang tak terbiasa dengan hawa dingin merapatkan jaket hasil belanja di FO Bogor, cukup menghangatkan badan dan menenangkan perasaan yang masih celingak celinguk mencari di manakah gerangan bis yang dimaksud mbak imigrasi tadi. Ternyata tempatnya agak diujung sebelah kiri, dengan dorongan dan sisa-sisa tenaga yang sudah diisi di pesawat saya mendorong koper dan tas menuju halte bus.

Disana sudah ada menunggu bis, ongkosnya £6 , untungnya pak sopir udah saya kasih tahu saya turun di Queen Street, jadi dia nyebut setiap pemberhentian untuk apa, hingga kemudian, dia nyebut, Queen Street, nah ini nih tempat saya turun. Dari Queen Street Station saya naik kereta ke Waverley Edinburgh, ongkosnya £12,5. Tiba di Edinburgh sudah agak malam, sekitar jam 10.30 malam. Saya mencoba naik taksi aja biar gampang dan aman ke rumah ongkosnya £13,5, sebenarnya ada juga bis ke dekat rumah dari Waverley, tapi tahu sendiri, saya orang baru di kampung sini, nanti kesasar malah nyampe Irlandia, hehehe.

Akhirnya saya tiba juga di rumah di kawasan East Kilngate Wynd, dari sini saya akan kembali ke bangku sekolah, sudah 10 tahun saya berpisah dengan kampus, saatnya kembali. Doakan saya ya 🙂

Edinburgh,

14/09/13

DSC_0163

SALAM DARI EDINBURGH 🙂

BACA JUGA :

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong