St Andrews : William dan Kate, Bendera Skotlandia dan Golf

Oleh : Ahmad Amiruddin

Birds in Leuchars Station Scotland

Di stasiun Leuchars, tak tampak tanda-tanda kehidupan kota. Di kiri kanan stasiun adalah lapangan rumput yang menghampar. Hanya kami berempat penumpang yang turun di stasiun ini. Seekor burung dengan santai bertengger di board penunjuk arah, menjadi makhluk kelima yang meramaikan stasiun. Sebuah bis menghubungkan Stasiun dan Kota St Andrews, Bus nomor 99 mengantar kami dalam waktu 10 menit.

Mendung menyelimuti Kota, cuaca terasa lebih dingin, berjalan dan merapatkan tangan di kantong adalah cara menurunkan efek dingin ini, rintik hujan menambah rasa dingin. Seorang tukang pos melangkah menyusuri jalanan Kota St. Andrews dari pintu ke pintu, sudah empat kali kami melihatnya selama setengah hari ini.

Kota ini memang kecil, kemana-mana nampaknya bertemu orang yang sama. Enam orang Ibu-ibu saling berncengkerama di bus stop, mereka pasti sudah saling mengenal, persis seperti ibu-ibu di kampung saya bercengkerama sambil menunggu pete-pete penuh di Pasar Rappang. Jalanan kota nampak lengang, tak banyak aktifitas warga di musim dimana matahari hanya muncul beberapa jam saja dan kembali menyelinap menikmati panjangnya malam musim dingin.

Inside St Andrews Town

Suasana Kota St. Andrews

***

University, Kate Middleton dan Pangeran William

St. Andrew memang kota kecil, penduduknya hanya 18.000 jiwa, sepertiganya  pelajar. Tapi kota kecil ini adalah kota yang sangat bersejarah, khususnya bagi dunia pendidikan, agama Kristen dan olahraga golf.

University of St Andrews didirikan tahun 1410, merupakan universitas tertua di Skotlandia dan tertua ketiga di UK setelah Oxford dan Cambridge. Karena usianya yang sudah lebih dari 600 tahun, di laman situsnya disebutkan bahwa universitas ini dibangun bahkan sebelum mesin cetak ditemukan, sebelum Forbidden City di Beijing dibangun, sebelum dibangunnya Macchu Pichu, sebelum Colombus menemukan Amerika dan sebelum Joan of Arc memulai peperangan. University of St. Andrew adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di UK yang masuk dalam 100 dunia versi QS World Ranking dan Times Higher Education.

Mahasiswa adalah penduduk terbesar kota ini, jumlahnya sekitar 7700. Kate Middleton dan Pangeran William bertemu di kota ini dan belajar di University of St. Andrews. William dan Kate belajar  Art History di St. Andrews pada tahun 2001. Sebuah artikel Daily Mail menyebutkan bahwa sebenarnya Kate awalnya memilih untuk kuliah di University of Edinburgh, dan gradenya sudah memenuhi syarat untuk masuk UoE, akan tetapi begitu mendengar rencana bahwa Pangeran William akan kuliah di St. Andrews, dia mengubah rencananya dan memutuskan untuk menunda masuk kuliah agar bisa sekelas dengan sang Pangeran. Awalnya mereka kuliah pada major yang sama, tapi sang Pangeran berganti program ke Geography setelah merasa tak cocok dengan Art History. Keduanya diwisuda pada waktu yang bersamaan di tahun 2005.

St. Salvatore Hall

Latar Belakang St. Salvatore

Pertemuan pertama mereka ketika sama-sama tinggal di University Hall St Salvator’s Hall, yang merupakan asrama mahasiswa undergraduate di tahun pertama. Akan tetapi, pada acara Charity Show dimana Kate memperagakan pakaian bikini di tahun 2002, Prince William jatuh hati pada Kate. Kisah mereka yang berjodoh di St. Andrews, tidak hanya milik William dan Kate. Karena kotanya yang romantis,maka satu dari sepuluh mahasiswa menemukan jodohnya di St. Andrews.

Coffeeshop where Kate Met William

“Where Kate Met Wills”. Berkah cinta keluarga kerajaan

St. Andrew The Apostle dan Bendera Skotlandia

Nama kota St. Andrews diambil dari nama St. Andrew the Apostle. St. Andrew adalah penyebar agama Katolik yang dianggap sebagai Pelindung rakyat Scotlandia. St. Andrew lahir di Betshaida, daerah yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan, perbatasan antara Israel dan Syria. Dia menyebarkan agama Kristen di Konstantinopel dan kemudian ke Yunani. Berdasarkan literature, di Yunani, St. Andrew dihukum raja karena membaptis istri dan saudara Raja. Hukuman yang dijatuhkan pada jaman itu adalah disalib dan St. Andrew meminta agar bentuk salib hukumannya berbentuk X.  Salib X atau “Saltire” juga disebut dengan St. Andrews Cross.

IMG_20130927_142623

Patung Kecil St. Andrew di National Museum (Foto : koleksi pribadi)

Ada yang berpendapat bahwa, sisa jasad St. Andrew sebenarnya dibawa ke Konstantinopel pada tahun pada tahun 357M dan kemudian “diselamatkan” ke Amalfi,  Italia Selatan pada tahun 1204 ketika Bangsa Perancis menyerang Konstantinopel.  Namun versi Skotlandia-nya, konon sisa jasad St. Andrews dibawa ke Scotlandia dari Patras Yunani oleh St. Rule. Jasad St. Andrew kemudian ditemaptkan di  Kirrymont, kota yang kemudian berganti nama menjadi St. Andrews.

Pada tahun 500M, Pasukan King Angus of The Picts yang jumlahnya lebih sedikit, berhadapan dengan bangsa Saxon di daerah Athelstaneford  (kini East Lothian). Sang Raja bermimpi bahwa dia akan melihat tanda Salib di langit dan akan dapat mengalahkan musuhnya. Keesokan harinya, sang Raja melihat tanda salib diangkasa yang berbentuk X. Pasukannya kemudian mampu mengalahkan musuh dan sejak saat itu tanda salib X menjadi symbol dari Skotlandia. William Wallace dan Raja Robet The Bruce juga menggunakan St. Andrews Cross, dalam masa-masa genting Skotlandia. St Andews Cross kemudian menjadi bendera Skotlandia.

Scotland Flag in Edinburgh

Bendera Skotlandia, St Andrew’s Cross di Edinburgh (Foto Koleksi Pribadi)

St. Andrew sendiri menjadi patron bagi banyak Negara, tidak hanya di Skotlandia, tapi juga di Rusia, Ukraina, Romania dan Bulgaria. Setiap tanggal 30 November, di seluruh skotlandia diperingati sebagai St. Andrew’s Day. Hampir semua tempat wisata, baik castle, palace maupun kebun binatang di Scotlandia digratiskan pada hari itu. Edinburgh Castle, Holy Rood Palace dan Edinburgh Zoo, bebas tiket masuk pada hari itu.

Ruin of St Andrew Chatedral

Reruntuhan Katedral St. Andrew

Di Kota St. Andrews terdapat reruntuhan Katedral St. Andrew. Katedral tersebut tinggal tersisa beberapa bagian saja yang utuh. Bagian Depan dan belakang dan sebagian dindingnya saja yang tersisa. Pada tanggal 14 Juni 1559, interior gereja dirusak oleh reformer gereja , dimana waktu itu Jhon Knox juga berada di kota tersebut. Pada era itu memang terjadi pertentangan antara Katolik dan Protestan.

Rumahnya Golf

Golf Store in St. Andrews

Toko Golf Menjadi toko terbanyak di St Andrews

“Home of Golf”, inilah sebutan untuk Old Course di kota St. Andrews. Lapangan golf dengan sebuah jembatan kecil ditengahnya menjadi salah satu landmark kota ini.

Old Golf Course

Old Course dan Jembatan yang menghiasi Kartu Pos di St Andrews

Pertandingan golf di Old Course sudah diselenggarakan sejak tahun 1400-an. Golf kemudian menjadi makin populer di Skotlandia sampai tahun 1457, sebelum dilarang oleh King James II of Scotland. Kemudian pada tahun 1502 King James IV menyenangi golf dan membolehkan kembali.

St Andrews Link Old Course

Old Course

Old Course menjadi tuan rumah Open Championsip, yang merupakan turnamen golf utama dunia saat ini. Meskipun sebenarnya penyelenggaraan Open Championsip yang pertama tidak diselenggarakan di Old Course St. Andrews namun di Prestwick, Glasgow. Old Course sudah menjadi tuan rumah Open Championship sebanyak 28 kali dan mendapat giliran setiap lima tahun sekali. Tiger Woods dua kali menjadi juara di Old Course yaitu tahun 2000 dan 2005.

***

Matahari beranjak menjauh, kami melangkahkan kaki menuju ke West Sand. Angin kencang musim dingin membuat kami tak bisa berlama-lama di Pantai.

Kereta pulang saya lebih lambat sejam dibanding teman-teman lainnya. Menunggu kereta dalam ruang tunggu tanpa double glaze adalah pekerjaan yang membosankan dan mendinginkan. Tepat pukul 18.30, kereta dari arah Dundee merapat ke stasiun Leuchars. Kursi saya nomor 22F. Dua orang duduk berhadapan di empat kursi yang tersedia. Empat kaleng bir yang sudah kosong, empat botol kecil minuman beralkohol kosong, tiga botol besar wisky, wine dan vodka yang hampir habis memenuhi meja. Saya tetap harus duduk di kursi yang sudah tertera, saya masuk dalam arena dan duduk dekat jendela. Dua orang ini telah mabuk, ngomongnya ngelantur. Mereka bertanya pertanyaan yang sama berulang kali, kadang-kadang sopan, kadang-kadang intimidatif, kadang-kadang rasis, tentang agama, tentang bom, tentang fundamentalis, tentang tujuanku kesini, kemudian pindah topic lagi tentang keluarga, tentang anak, tentang pekerjaan. Kemudian secara hampir bersamaan mereka ke toilet, dan pulang dengan muka lebih segar, kali ini pertanyaannya berulang kembali. Saya menjawab dengan senyum.

Ketika gerbong merapat ke Waverley station, saya keluar dengan perasaan campur aduk, yang saya sendiri tak tahu menggambarkannya. Seorang penumpang lain yang baru keluar, melangkah dengan simpatik, mendekat dan menepuk pundakku. Suara orang mabuk tadi pasti memenuhi gerbong yang berisi orang-orang yang duduk diam menikmati perjalanan.

Salam dari Edinburgh

Sumber : Link 1,2,3,4,5,6,7, 8

Baca Juga :

Tahun Baru 2014 di Edinburgh

Pawai Obor di Edinburgh

Mengenal Edinburgh

Mengenal Edinburgh

Oleh : Ahmad Amiruddin

Edinburgh? Iya Edinburgh (baca Edinbrah). Beberapa penyiar TV Amerika menyebutnya Edinberg. Mereka membaca seperti melafalkan Pittsburgh dengan Pittsberg. Tapi orang-orang di UK menyebutnya Edinbrah. Ini adalah Ibukota Skotlandia, penduduknya “cuma” 480 ribu jiwa. Skotlandia sendiri adalah salah satu negara yang membentuk United Kingdom of Great Britain, disingkat UKGB atau UK saja. Orang Indonesia menyebutnya Inggris Raya. Ada sedikit kerancuan sebenarnya, karena UK terdiri dari England, Scotland, Irlandia Utara dan Wales. UK dan England sama-sama disebut Inggris di Indonesia. Kata Inggris sendiri konon kabarnya diwariskan oleh Penjajah Jepang kepada putra pertiwi. Anda tahu sendiri kan?, orang Jepang melafalkan el menjadi er dan jadilah inglish menjadi inggris, dan orang Indonesia menyebutnya dengan kata yang sama.

map_scotland (1)

Peta Scotland (Source: uknetguide.co.uk)

Edinburgh memang bukan kota terbesar saat ini di Skotlandia. Kota terbesar di Skotlandia adalah Glasgow, dan mungkin karena itulah orang Indonesia lebih mengenal Glasgow dibanding Edinburgh, disamping juga klub sepakbola Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic lebih terkenal daripada Edinburgh Hibernian dan Heart, dua tim sepakbola dari Kota Edinburgh.

KESAN PERTAMA

Apa kesan pertama saya ketika tiba di kota ini? CANTIK. Saya tak bermaksud merendahkan Kota Tua Jakarta atau Kota Tua Malaka, tapi disini, di Kota ini, hampir semua bangunan seperti itu modelnya dengan model Victorian, dan usia bangunan lebih dari satu abad. Keluar dari flat dan berfoto saja sudah lebih indah daripada berfoto di Kota Tua Jakarta yang kurang terawat atau Kota tua Malaka yang lebih terawat.

Kesan selanjutnya, orangnya RAMAH.  Mereka rajin menyapa, senang  tersenyum, bilang “excuse me” kalau dianggap menganggu, dan rajin berterima kasih. Orang Scotland dan British pada umumnya memang dikenal dengan tata kramanya yang santun.

Kesan ketiga, TERATUR.  Antri telah menjadi budaya yang melekat di masyarakat di Edinburgh. Di hampir semua tempat selalu ada antrian, bahkan naik bus antri dan turun bus juga antri. Tak ada penerobos lampu merah. Pejalan kaki mendapatkan tempat yang lapang tanpa perlu bersinggungan dengan pedagang kaki lima, tukang tambal ban, tukang ojek atau pengendara motor. Saya yang biasanya naik bis pergi dan pulang kuliah, sangat jarang mendengar suara klakson. Suara klakson adalah makhluk langka di kota ini. Tak ada yang sembarangan berjualan di pinggir jalan, atau tak ada yang membuka warung kecil sekalipun tanpa lisensi dari pemerintah setempat. Saya yang biasanya sampai malam di perpustakaan, kadang-kadang bermimpi sekali-sekali dengan melangkahkan kaki keluar gedung bisa menyetop tukang jualan keliling, tapi itu tak akan ditemui disini.

Bus in Edinburgh

Bis dalam kota

Kesan keempat MAHAL. Rata-rata mahal, meskipun tidak semua mahal. Harga daging, beras, susu, ayam, butter, dan apel masih sebanding atau kadang lebih murah dibanding di Indonesia. Tapi akomodasi mahal,  yang share flat dikisaran harga £350-450 perbulan belum termasuk tagihan listrik dan air. Transportasi bis dalam kota sekali naik £1.5, untuk langganan per empat minggu £40 bagi pelajar.  Makan dan minum di café bisa empat sampai lima kali lipat harga di Indonesia, paling murah £4.5. Harga bahan makanan yang termasuk paling mahal adalah Ikan. Sekilo ikan harganya dikisaran £25. Harga mi Instant asal Indonesia adalah £0.35, meskipun rasanya tak seenak Mi Instant yang khusus dijual di Indonesia.

KOTA PENDIDIKAN

Edinburgh telah menjadi tujuan pendidikan pelajar dari seluruh dunia. Bisa dikatakan bahwa 15-20% dari penduduk Edinburgh adalah pelajar. Maka tidak heran, jika anda kuliah di Edinburgh anda akan bertemu dengan teman di hampir disetiap supermarket yang dimasuki.

Terdapat empat perguruan tinggi terkemuka di Kota Edinburgh. Keempatnya adalah The Univeristy of Edinburgh, Heriott Watt University, Napier Edinburgh University dan Queen Margareth University. Jumlah pelajar asal Indonesia yang sekarang belajar di Kota Edinburgh sekitar 30 orang. Sebagian besar diantaranya adalah mahasiswa Post Graduate. Para pelajar Indonesia di Edinburgh tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia UK Cabang Edinburgh. PPI Edinburgh baru didirikan secara resmi pada tahun 2013.

Saya kuliah di University of Edinburgh. University ini berdiri sejak tahun 1583, merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Inggris, tapi merupakan perguruan tinggi termuda diantara enam perguruan tinggi tua yang ada. Berdasarkan peringkat QS World Rangking 2013, University of Edinburgh berada pada ranking 17 Dunia. University of Edinburgh banyak menelurkan ilmuwan dan pemimpin dunia, diantaranya penggagas terori evolusi Charles Darwin, fisikawan James Clerk Maxwell, filosof David Hume, Thomas Bayes, Joseph Lister, penemu telepon Alexander Graham Bell, fisikawan  Daniel Rutherford, fisikawan Max Born, penulis Sir Walter Scott, Robert Louis Stevenson, Novelis Sir Arthur Conan Doyle dan masih banyak lagi.  Sebanyak 18 penerima nobel terafiliasi dengan Univeristy of Edinburgh baik sebagai pelajar, researcher maupun professor. Penerima Nobel tahun 2013 Peter Higgs adalah penerima nobel Fisika terbaru dari University of Edinburgh atas penemuan partikel Higss Boson. Partikel Higgs-Boson juga terkenal dengan nama partikel Tuhan. Tiga orang mantan Perdana Menteri Inggris termasuk alumni University of Edinburgh.

KOTA WISATA

Apa kota terindah di UK? Kalau anda bertanya kepada orang Edinburgh, mereka pasti menjawab Edinburgh. Tapi kalau anda bertanya kepada orang dari Kota lain, mungkin mereka juga akan menyebut Edinburgh, kalaupun mereka menyebut kotanya sendiri, Edinburgh akan menjadi nomor dua. Yang jelas, bagi sebagian besar orang yang pernah ke Edinburgh, kota ini memang kota yang cantik dan layak untuk dikunjungi. Tak heran para pelajar Internasional yang menuntut ilmu di UK akan memprioritaskan untuk mengunjungi Edinburgh dalam masa studi mereka.

Edinburgh Castle view from Princess Street

Edinburgh Castle Tampak Dari Jauh

Kota Edinburgh seperti tak berubah oleh zaman. Arsitektur bangunannya masih sama dengan ratusan tahun lalu. Bangunan-banguan tua dan bersejarah berjajar memancarkan kejayaan masa lalu kingdom of the scots. Obyek yang paling sering dikunjungi di Edinburgh adalah Edinburgh Castle, Calton Hill, Arthur Seat, Greyfriar Kirkyard, National Museum, National Gallery, Holy Rood Palace, Princess Street, St Andrew Square, Camera Obscura dan Edinburgh Zoo.  Travel shop banyak bertebaran di Edinburgh, menawarkan perjalanan sehari ke Highland ataupun sightseeing seputar kota Edinburgh. Walking tour seputar kota juga tersedia di sekitar Royal Mile.

Edinburgh City, Citizen in The Park

Suasana Taman dan Warga yang menikmati cuaca cerah

AA1-DSC_0316

Musik Jalanan

Terdapat banyak festival sepanjang tahun di Kota Edinburgh, diantaranya adalah Edinburgh Science International Festival di bulan Mei, Film Festiva di bulan Junil dan Jazz and Blues Festival di bulan Juli, Edinburgh Military Tattoo,  Edinburgh Festival Fringe, International Festival dan book Festival di bulan Agustus, dan Edinburgh Hoogmanay yang merupakan perayaan tahun baru ala Scotlandia yang dianggap sebagai salah satu perayaan tahun baru yang paling menarik di dunia.

HIDUP SEBAGAI MUSLIM

Masyarakat Inggris sangat toleran terhadap keyakinan seseorang. Tak ada gangguan dalam menjalankan ibadah maupun berpakaian bagi muslimah di Inggris.  Jumlah muslim di Inggris berdasarkan sensus tahun 2011 adalah 4.8% dari total  sekitar 60 juta penduduk UK. Di Pusat Kota Edinburgh terdapat mesjid besar yang mampu menampung ribuan jamaah, mesjid ini juga berada di dekat central area University of Edinburgh. Selain digunakan untuk shalat, mesjid ini juga menyelenggarakan seminar keislaman. Untuk kampus yang berada jauh dari mesjid besar tersebut, seperti di kampus saya yang berada di area Kings Building terdapat mushallah yang dikelola teman-teman muslim, yang juga menyelenggarakan shalat jumat setiap pekannya.

Makanan halal banyak tersedia disekitar area mesjid. Tidak sulit mendapatkan daging dan ayam halal untuk dimasak. Masakan halal dicafe juga banyak tersebar di area sekitar mesjid. Umumnya jenis masakan yang dijual adalah khas India seperti kari ayam atau kari kambing.

AA1-DSC_0708

Toko Halal Food

Sebagai penutup. Kenapa tak Edinburgh saja?

Salam dari Edinburgh

Ahmad Amiruddin

@ahmadtaroada

https://taroada.wordpress.com

Reference:

Link 1,2,3,4, 5

Perjalanan ke Barat

Judulnya sekilas mirip pengembaraan Biksu Tong dari dataran China yang melakukan perjalanan mencari kitab suci ke Negeri India. Tapi bukan itu yang akan saya tulis. Ini tentang awal perjalanan saya ke UK. Perjalanan saya memang ke arah barat, ke arah Eropa, melintasi Samudera Hindia, Dataran India dan mendarat di Dubai, setelah itu lanjut lagi menyusuri semenanjung Arab, melewati Turki , melintasi Eropa dan mendarat di Glasgow, Britania Raya dan dilanjutkan perjanan darat ke Edinburgh, ibu kota Skotlandia.

Saya mengawali perjalanan ke Edinburgh di subuh hari yang gelap dari Bekasi pada tanggal 6 September 2013. Pukul tiga dini hari, saya sudah terbangun, barang sudah dipacking oleh Istri dan dokumen sudah masuk di tas ransel dari semalam, kamera DSLR yang masih gres dan tak tahu cara penggunaannya sudah siap, pasangannya tripod plastic murah sudah terpilin bersama pakaian di koper. Timbangan badan di rumah menunjukkan bahwa berat koperku lebih dari 30 kg, sebuah tas pakaian lain juga akan menemani naik ke kabin. Indomie, bumbu pecel, teri kacang, bumbu instan dan beras berbaur dalam koper, mereka terselip dalam rimbunnya pakaian. Setrika dan rice cooker juga ikut berangkat ke Scotland bersama  syal Indonesia, syal Manchester United, batik Manchester, batik Cirebon, batik Jogja, batik keris, Sutra Bugis, kaos England, kaos MU Merah, kaos MU biru, sleeping bag, songkok dan lain-lain hingga cukup untuk membuat koper penuh sesak.

Saya diantar Istri, Ponggawa, Mama’ dan Bapak dan Ifal  berangkat dari rumah menuju Bandara sekitar Pukul 04.00 pagi dan tiba di bandara sejam kemudian. Pesawat Emirates EK 369 dari Jakarta menuju Dubai sedianya berangkat dari Terminal 2D pada Pukul 07.25. Namun antrian di counter check in Emirates sudah mengular pada Pukul 5 pagi, beberapa orang nampak bersitegang karena ada yang memotong antrean. Pesawatnya adalah jenis Boeing 777-300, pola kursinya 3-4-3. Untuk menemani perjalanan yang lama ini saya hanya nonton, tidur dan nonton. Total perjalanan ke Dubai adalah 7 jam 50 menit, ini adalah perjalanan terjauh tanpa transit yang pernah saya alami. Perjalan an terjauh saya selama ini adalah ke Papua, dan itupun transit di Makassar. Makanan yang disediakan oleh Emirates adalah standar halal, jadi bagi yang Muslim tidak menjadi masalah dengan makanannya.

IMG_20130906_065254

Filmnya Lumayan Banyak

IMG_20130906_181658

Menu Emirates

Sekitar pukul 12 waktu Dubai (waktu dubai 3 jam lebih lambat dibanding Jakarta) pesawat mendarat di Dubai. Suhu luar adalah 42 derajat, panas sekali kayaknya, bahkan air keran untuk berwudhupun hangat.

IMG_20130906_154252

Suasana Bandara Dubai

Setelah meluruskan kaki dan beristrihat sekitar 3 jam, saya mulai merasa teralienasi, tak tampak lagi wajah bertekstur Melayu, hanya ada beberapa wajah India dan China sisanya adalah Kaukasia. Perjalanan ke Glasgow dilanjutkan dengan pesawat Boeing 777-300 yang lain, waktu perjalanannyapun hampir sama. Sebenarnya ada juga penerbangan yang ke Edinburgh, tapi pilihannya terbatas dan karenanya saya pilih ke Glawgow. Di pesawat saya berusaha menonton TV dan menangkap kata perkata yang diucapkan oleh sang actor/aktris, beberapa dapat saya kenali, tapi tak sedikit yang tak ketahuan apa yang dia bilang. Dari sini mulai terbayang nanti seperti apa ngomongnya di Scotland, hehehe.

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara International Glasgow pada Pukul 19.55 Waktu Glasgow, terdapat perbedaan 6 jam antara Glasgow dan Jakarta. Turun dari pesawat, saya langsung mengikuti aliran orang yang berjalan keluar garbarata, takut kesasar, hehehe. Tak lama kemudian kita tiba di jalur imigrasi, seperti biasa terdapat jalur antrian untuk Warga Negara tempat kita mendarat, dan warga negara lain pada loket foreigner. Saya tak perlu menunggu lama sudah sampai di antrian terdepan, dengan ramah mbak-mbak petugas (P) bertanya kepada saya (S):

P : Halo, apa kabar? Mau kemana?

S : Kabar baik, saya mau ke Edinburgh

P : Mau ngapaian disana?

S : Sekolah di University of Edinburgh

P : Apa bidangnya disana?

S : Sustainable Energy

Saya harus mengulang sampai 3 kali, karena accent dan pronounciation saya yang terbatas

Komputernya nampaknya agak lelet

P : Ada sponsornya? Atau biaya sendiri?

S : O iya, sponsornya ada

P : Oo…You are very lucky, Please wait a moment, I have to check your visa and scholarship in system

Nampaknya sistemnya masih lelet

P : Sorry, we have a problem with the system

S : No problem

P : It’s a problem for us not for you (sambil ketawa)

      Are you going to Edinburgh tonight?

S : Yes

P : Tahu caranya ke Edinburgh?

S : Tidak tahu

Sebenarnya saya sudah dikasih tahu sama Bu Ofita, salah seorang mahasiswa S3 di Edinburgh, mengenai jalur transportasi dari Glasgow ke Edinburgh. 🙂

P : Oo gampang, nanti keluar dari sini, ambil bis ke Queen Street Station, dari Queen Street Station ke Waverley Station di Edinburgh

S : Siaapp, bisnya gratis gak mbak?

P : Ya nggaklahhh

S : Oke, makasih banyak mbakk

Saya memang tak sering ke luar negeri dan baru pertama kali ini keluar ASEAN, tapi menurut pengalaman saya yang sedikit, layanan Imigrasi Glasgow sangat bersahabat, dan tentunya berbeda dengan pengalaman buruk saya di Imigrasi Singapur.

Setelah keluar dari jalur imigrasi saya menarik uang rupiah dari mesin ATM di bandara, ratenya sekitar Rp 18.300 per pound, hampir sama dengan rate di tempat penukaran uang di Menteng , dengan ongkos Rp.20.000 sekali penarikan. Begitu keluar dari Bandara, hujan rintik-rintik membasahi Glasgow. Rasanya di luar lebih ber AC dibanding di dalam (hehehe), saya yang tak terbiasa dengan hawa dingin merapatkan jaket hasil belanja di FO Bogor, cukup menghangatkan badan dan menenangkan perasaan yang masih celingak celinguk mencari di manakah gerangan bis yang dimaksud mbak imigrasi tadi. Ternyata tempatnya agak diujung sebelah kiri, dengan dorongan dan sisa-sisa tenaga yang sudah diisi di pesawat saya mendorong koper dan tas menuju halte bus.

Disana sudah ada menunggu bis, ongkosnya £6 , untungnya pak sopir udah saya kasih tahu saya turun di Queen Street, jadi dia nyebut setiap pemberhentian untuk apa, hingga kemudian, dia nyebut, Queen Street, nah ini nih tempat saya turun. Dari Queen Street Station saya naik kereta ke Waverley Edinburgh, ongkosnya £12,5. Tiba di Edinburgh sudah agak malam, sekitar jam 10.30 malam. Saya mencoba naik taksi aja biar gampang dan aman ke rumah ongkosnya £13,5, sebenarnya ada juga bis ke dekat rumah dari Waverley, tapi tahu sendiri, saya orang baru di kampung sini, nanti kesasar malah nyampe Irlandia, hehehe.

Akhirnya saya tiba juga di rumah di kawasan East Kilngate Wynd, dari sini saya akan kembali ke bangku sekolah, sudah 10 tahun saya berpisah dengan kampus, saatnya kembali. Doakan saya ya 🙂

Edinburgh,

14/09/13

DSC_0163

SALAM DARI EDINBURGH 🙂

BACA JUGA :

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong