St Andrews : William dan Kate, Bendera Skotlandia dan Golf

Oleh : Ahmad Amiruddin

Birds in Leuchars Station Scotland

Di stasiun Leuchars, tak tampak tanda-tanda kehidupan kota. Di kiri kanan stasiun adalah lapangan rumput yang menghampar. Hanya kami berempat penumpang yang turun di stasiun ini. Seekor burung dengan santai bertengger di board penunjuk arah, menjadi makhluk kelima yang meramaikan stasiun. Sebuah bis menghubungkan Stasiun dan Kota St Andrews, Bus nomor 99 mengantar kami dalam waktu 10 menit.

Mendung menyelimuti Kota, cuaca terasa lebih dingin, berjalan dan merapatkan tangan di kantong adalah cara menurunkan efek dingin ini, rintik hujan menambah rasa dingin. Seorang tukang pos melangkah menyusuri jalanan Kota St. Andrews dari pintu ke pintu, sudah empat kali kami melihatnya selama setengah hari ini.

Kota ini memang kecil, kemana-mana nampaknya bertemu orang yang sama. Enam orang Ibu-ibu saling berncengkerama di bus stop, mereka pasti sudah saling mengenal, persis seperti ibu-ibu di kampung saya bercengkerama sambil menunggu pete-pete penuh di Pasar Rappang. Jalanan kota nampak lengang, tak banyak aktifitas warga di musim dimana matahari hanya muncul beberapa jam saja dan kembali menyelinap menikmati panjangnya malam musim dingin.

Inside St Andrews Town

Suasana Kota St. Andrews

***

University, Kate Middleton dan Pangeran William

St. Andrew memang kota kecil, penduduknya hanya 18.000 jiwa, sepertiganya  pelajar. Tapi kota kecil ini adalah kota yang sangat bersejarah, khususnya bagi dunia pendidikan, agama Kristen dan olahraga golf.

University of St Andrews didirikan tahun 1410, merupakan universitas tertua di Skotlandia dan tertua ketiga di UK setelah Oxford dan Cambridge. Karena usianya yang sudah lebih dari 600 tahun, di laman situsnya disebutkan bahwa universitas ini dibangun bahkan sebelum mesin cetak ditemukan, sebelum Forbidden City di Beijing dibangun, sebelum dibangunnya Macchu Pichu, sebelum Colombus menemukan Amerika dan sebelum Joan of Arc memulai peperangan. University of St. Andrew adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di UK yang masuk dalam 100 dunia versi QS World Ranking dan Times Higher Education.

Mahasiswa adalah penduduk terbesar kota ini, jumlahnya sekitar 7700. Kate Middleton dan Pangeran William bertemu di kota ini dan belajar di University of St. Andrews. William dan Kate belajar  Art History di St. Andrews pada tahun 2001. Sebuah artikel Daily Mail menyebutkan bahwa sebenarnya Kate awalnya memilih untuk kuliah di University of Edinburgh, dan gradenya sudah memenuhi syarat untuk masuk UoE, akan tetapi begitu mendengar rencana bahwa Pangeran William akan kuliah di St. Andrews, dia mengubah rencananya dan memutuskan untuk menunda masuk kuliah agar bisa sekelas dengan sang Pangeran. Awalnya mereka kuliah pada major yang sama, tapi sang Pangeran berganti program ke Geography setelah merasa tak cocok dengan Art History. Keduanya diwisuda pada waktu yang bersamaan di tahun 2005.

St. Salvatore Hall

Latar Belakang St. Salvatore

Pertemuan pertama mereka ketika sama-sama tinggal di University Hall St Salvator’s Hall, yang merupakan asrama mahasiswa undergraduate di tahun pertama. Akan tetapi, pada acara Charity Show dimana Kate memperagakan pakaian bikini di tahun 2002, Prince William jatuh hati pada Kate. Kisah mereka yang berjodoh di St. Andrews, tidak hanya milik William dan Kate. Karena kotanya yang romantis,maka satu dari sepuluh mahasiswa menemukan jodohnya di St. Andrews.

Coffeeshop where Kate Met William

“Where Kate Met Wills”. Berkah cinta keluarga kerajaan

St. Andrew The Apostle dan Bendera Skotlandia

Nama kota St. Andrews diambil dari nama St. Andrew the Apostle. St. Andrew adalah penyebar agama Katolik yang dianggap sebagai Pelindung rakyat Scotlandia. St. Andrew lahir di Betshaida, daerah yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan, perbatasan antara Israel dan Syria. Dia menyebarkan agama Kristen di Konstantinopel dan kemudian ke Yunani. Berdasarkan literature, di Yunani, St. Andrew dihukum raja karena membaptis istri dan saudara Raja. Hukuman yang dijatuhkan pada jaman itu adalah disalib dan St. Andrew meminta agar bentuk salib hukumannya berbentuk X.  Salib X atau “Saltire” juga disebut dengan St. Andrews Cross.

IMG_20130927_142623

Patung Kecil St. Andrew di National Museum (Foto : koleksi pribadi)

Ada yang berpendapat bahwa, sisa jasad St. Andrew sebenarnya dibawa ke Konstantinopel pada tahun pada tahun 357M dan kemudian “diselamatkan” ke Amalfi,  Italia Selatan pada tahun 1204 ketika Bangsa Perancis menyerang Konstantinopel.  Namun versi Skotlandia-nya, konon sisa jasad St. Andrews dibawa ke Scotlandia dari Patras Yunani oleh St. Rule. Jasad St. Andrew kemudian ditemaptkan di  Kirrymont, kota yang kemudian berganti nama menjadi St. Andrews.

Pada tahun 500M, Pasukan King Angus of The Picts yang jumlahnya lebih sedikit, berhadapan dengan bangsa Saxon di daerah Athelstaneford  (kini East Lothian). Sang Raja bermimpi bahwa dia akan melihat tanda Salib di langit dan akan dapat mengalahkan musuhnya. Keesokan harinya, sang Raja melihat tanda salib diangkasa yang berbentuk X. Pasukannya kemudian mampu mengalahkan musuh dan sejak saat itu tanda salib X menjadi symbol dari Skotlandia. William Wallace dan Raja Robet The Bruce juga menggunakan St. Andrews Cross, dalam masa-masa genting Skotlandia. St Andews Cross kemudian menjadi bendera Skotlandia.

Scotland Flag in Edinburgh

Bendera Skotlandia, St Andrew’s Cross di Edinburgh (Foto Koleksi Pribadi)

St. Andrew sendiri menjadi patron bagi banyak Negara, tidak hanya di Skotlandia, tapi juga di Rusia, Ukraina, Romania dan Bulgaria. Setiap tanggal 30 November, di seluruh skotlandia diperingati sebagai St. Andrew’s Day. Hampir semua tempat wisata, baik castle, palace maupun kebun binatang di Scotlandia digratiskan pada hari itu. Edinburgh Castle, Holy Rood Palace dan Edinburgh Zoo, bebas tiket masuk pada hari itu.

Ruin of St Andrew Chatedral

Reruntuhan Katedral St. Andrew

Di Kota St. Andrews terdapat reruntuhan Katedral St. Andrew. Katedral tersebut tinggal tersisa beberapa bagian saja yang utuh. Bagian Depan dan belakang dan sebagian dindingnya saja yang tersisa. Pada tanggal 14 Juni 1559, interior gereja dirusak oleh reformer gereja , dimana waktu itu Jhon Knox juga berada di kota tersebut. Pada era itu memang terjadi pertentangan antara Katolik dan Protestan.

Rumahnya Golf

Golf Store in St. Andrews

Toko Golf Menjadi toko terbanyak di St Andrews

“Home of Golf”, inilah sebutan untuk Old Course di kota St. Andrews. Lapangan golf dengan sebuah jembatan kecil ditengahnya menjadi salah satu landmark kota ini.

Old Golf Course

Old Course dan Jembatan yang menghiasi Kartu Pos di St Andrews

Pertandingan golf di Old Course sudah diselenggarakan sejak tahun 1400-an. Golf kemudian menjadi makin populer di Skotlandia sampai tahun 1457, sebelum dilarang oleh King James II of Scotland. Kemudian pada tahun 1502 King James IV menyenangi golf dan membolehkan kembali.

St Andrews Link Old Course

Old Course

Old Course menjadi tuan rumah Open Championsip, yang merupakan turnamen golf utama dunia saat ini. Meskipun sebenarnya penyelenggaraan Open Championsip yang pertama tidak diselenggarakan di Old Course St. Andrews namun di Prestwick, Glasgow. Old Course sudah menjadi tuan rumah Open Championship sebanyak 28 kali dan mendapat giliran setiap lima tahun sekali. Tiger Woods dua kali menjadi juara di Old Course yaitu tahun 2000 dan 2005.

***

Matahari beranjak menjauh, kami melangkahkan kaki menuju ke West Sand. Angin kencang musim dingin membuat kami tak bisa berlama-lama di Pantai.

Kereta pulang saya lebih lambat sejam dibanding teman-teman lainnya. Menunggu kereta dalam ruang tunggu tanpa double glaze adalah pekerjaan yang membosankan dan mendinginkan. Tepat pukul 18.30, kereta dari arah Dundee merapat ke stasiun Leuchars. Kursi saya nomor 22F. Dua orang duduk berhadapan di empat kursi yang tersedia. Empat kaleng bir yang sudah kosong, empat botol kecil minuman beralkohol kosong, tiga botol besar wisky, wine dan vodka yang hampir habis memenuhi meja. Saya tetap harus duduk di kursi yang sudah tertera, saya masuk dalam arena dan duduk dekat jendela. Dua orang ini telah mabuk, ngomongnya ngelantur. Mereka bertanya pertanyaan yang sama berulang kali, kadang-kadang sopan, kadang-kadang intimidatif, kadang-kadang rasis, tentang agama, tentang bom, tentang fundamentalis, tentang tujuanku kesini, kemudian pindah topic lagi tentang keluarga, tentang anak, tentang pekerjaan. Kemudian secara hampir bersamaan mereka ke toilet, dan pulang dengan muka lebih segar, kali ini pertanyaannya berulang kembali. Saya menjawab dengan senyum.

Ketika gerbong merapat ke Waverley station, saya keluar dengan perasaan campur aduk, yang saya sendiri tak tahu menggambarkannya. Seorang penumpang lain yang baru keluar, melangkah dengan simpatik, mendekat dan menepuk pundakku. Suara orang mabuk tadi pasti memenuhi gerbong yang berisi orang-orang yang duduk diam menikmati perjalanan.

Salam dari Edinburgh

Sumber : Link 1,2,3,4,5,6,7, 8

Baca Juga :

Tahun Baru 2014 di Edinburgh

Pawai Obor di Edinburgh

Mengenal Edinburgh

Advertisements

Oleh-oleh Palangkaraya

Sebelum ibukota pindah ke Palangkaraya, minggu lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kota di Tengah Kalimantan ini, sambil menunaikan tugas sekalian mencari peluang jika benar-benar ibu kota pindah kesana, kira-kira di lokasi mana bisa mendirikan banyak kos-kosan.

Saya berangkat ke Palangkaraya dengan pesawat Batavia. Betapa ceteknya pengetahuan saya, karena berpikir bahwa Palangkaraya masuk Waktu Indonesia Tengah, sehingga mengira-ngira akan ada perubahan jam ketika tiba disana, tapi ternyata Palangkaraya masuk Waktu Indonseia Barat, meskipun matahari mengikuti WITA. Pesawat Batavia yang kutumpangi, adalah satu-satunya pesawat yang terparkir di Bandara Tjilik Riwut ketika itu, betapa sepi bandara ini pikirku, apalagi kotanya, hehehe. Tak banyak maskapai yang melayani jalur ke Palangkaraya, bahkan tak ada penerbangan langsung yang menghubungkan antar ibu kota provinsi sesama Kalimantan.

Ketika keluar dari landasan pacu, saya mencoba melihat-lihat peta untuk memperkirakan di hotel mana nantinya menginap, dan juga untuk memperkirakan ongkos Taksi keluar bandara, sudah menjadi insting saya, karena pernah kerja di Bandara, bahwa kendaraan untuk keluar area Bandara sering banyak menimbulkan masalah, tapi ternyata tak terjadi di Bandara Tjilik Riwut, dengan ongkos Flat Rp. 60.000, saya menuju kota ke kantor yang ingin saya tuju dalam rangka tugas.

Bandara Tjilik Riwut (dok. pribadi)

Setelah menyelesaikan urusan hari pertama, saya menuju ke hotel Amaris, di Bandara saya juga sudah ketemu beberapa orang yang akan menginap di tempat yang sama, ratenya tak terlalu mahal Rp. 350.000 untuk kelas standar, bentuk kamarnyapun lucu dan minimalis, senang juga melihat isinya, apalagi lokasinya tak terlalu jauh dari Sungai Kahayan. Hanya sepeminuman teh, sudah bisa sampai di pinggir jembatan Sungai Kahayan yang merupakan icon Kota Palangkaraya.

Hotel Amaris (dok. pribadi)

Selepas ganti baju, sayapun berjalan kaki menuju Jembatan Sungai Kahayan, tak sampai 5 menit, saya sudah tiba. Beberapa pasangan muda-mudi menikmati pemandangan sore, sambil sesekali menenggelamkan kakinya di permukaan air sungai yang nampak kemerahan dari atas. Dua orang berlatih kayak, tanpa pakai baju, badannya sangat ateletis, menonjolkan otot dada six packs, latihan mendayung pasti telah memberinya berkah badan sebagus itu. Nampak pula dari kejauhan perahu getek mengantar penumpang menyeberangi sungai. Bosan hanya memoto-moto dan tak bisa memotret diri sendiri, saya mendekati seorang driver perahu getek, dia tengah asyik mengetik sesuatu si HP-nya ketika saya masuk ke perahunya, sambil mengajak ngobrol. Pak Utuh namanya, dia lagi menunggu penumpang untuk diseberangkan, tapi tak seorangpun yang mengisi perahunya, diapun menawari saya untuk naik perahu menyusuri sungai ke arah hulu

“dua puluh ribu” katanya ketika kutanya ongkosnya

“biasanya lima puluh ribu kalau rombongan, di hulu bagus pemandangannya”

Karena penasaran sayapun langsung mengiyakan, dan berkata

“ bapak jadi fotografer saya ya” jiwa narsis saya menunjukkan sifat aslinya

Pak Utuh Mendayung Penuh Senyum (dok. pribadi)

Pak Utuh Mendayung Penuh Senyum (dok. pribadi)

Jembatan Sungai Kahayan (dok. pribadi)

Perahu getek bermesin 20 HP itupun bergerak menjauhi pinggir sungai, awalnya Pak Utuh mendayung, kemudian dia menyalakan mesinnya dan bergerak perlahan, sebelum berangkat dia memotret saya dulu. Beberapa burung melayang mengitari sungai dan hinggap dibawah jembatan, sarangnya ada disana, diantara burung tersebut terdapat burung walet kata Pak Utuh.

Hal pertama yang kami temui adalah stasiun pengisian BBM milik pertamina dipinggir sungai, untuk memenuhi kebutuhan BBM perahu di sungai Kahayan, tak begitu jauh pak Utuh menunjuk monyet yang berlompatan di pohon pinggir sungai, monyet ekor panjang.

Dibagian agak hulu lagi, agak kejauhan saya melihat enam buah perahu kecil nampak berlomba, setiap perahu hanya diisi oleh drivernya dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi untuk ukuran kendaraan sungai “mereka lagi ngisi waktu dengan lomba” kata pak Utuh.

“Dibagian sana, depan lagi ada pesawat capung, punya orang bule” kata Pak Utuh lagi. Ketika mendekat dua buah pesawat nampak tergantung, tiga orang berada di sekitarya dan sepertinya mereka kenal dengan Pak Utuh. Masih terus menyusuri pinggir sungai, Pak Utuh menunjuk rumah makan dengan menu khas ikan yang biasanya ramai dikunjungi di Palangkaraya, karena lupa mencatat namanya saya tak bisa menulis namanya disini. Sekitar 25 menit menyusuri sungai masih kearah hulu, perahu kami merapat ke sebuah rumah makan pinggir sungai, namanya Kum Kum, kata Pak Utuh ini juga salah satu tempat yang sering dikunjungi orang, daya tariknya adalah karena ada koleksi hewan langka yang dipamerkan dalam sangkar, ada 3 ekor beruang madu, satu ekor burung khas kalimantan, beberapa ekor monyet ekor panjang, dan di sebuah kolam berair keruh bersemayam seekor buaya betina berumur 20 tahun bernama Jamila, nama yang cantik. Jamilah akhirnya muncul kepermukaan setelah penjaganya memancing untuk naik dengan sebuah daun yang digoyang-goyangkan diatas permukaan air, besar juga makhluk betina satu ini.

Setelah puas memoto Jamila dan Jamila sudah tahu kalau yang tadi bukan makanan, saya dan Pak Utuh pulang kembali ke arah hilir ditempat sebelumnya, di jalan masih berpapasan dengan orang-orang yang lagi lomba perahu, nampak pula dari kejauhan ekor angin topan yang ada diatas Kota Palangkaraya. Saya sempat bertanya ke Pak Utuh tentang penghasilannya mengoperasikan perahu getek, tapi dia tak bersedia menjawab, ketika didesak dia cuma tersenyum saja.

Pak Utuh Memandang Ekor Angin Topan

Malamnya saya dan kolega disana makan malam di Jl. Yos Sudarso, pusat kulinernya Palangkaraya, makanannya sea food khas Jawa Timuran, jenis warung yang biasa kita temui di Jakarta, hehehe. Sebelah kiri kanan Jl. Yos Sudarso dipenuhi banyak warung, nampaknya ada segmentasi, karena satu sisi jalan lampu warungnya terang dan yang satunya nampaknya kekurangan pasokan listrik, tapi setelah lebih dekat ternyata mereka lebih memilih listriknya digunakan untuk memutar musik keras dibanding untuk penerangan.

Besoknya setelah selesai tugas, saya jalan-jalan ke Arboretum Nyaru Menteng. Sebuah kawasan konservasi Orang utan. 40-an orang utan bergelantungan dalam dua buah sangkar besi berukuran besar, saudara tua kita ini dalam pemeliharaan sebelum dilepas kembali ke alam liar, sayang sekali tak bisa bersentuhan langsung dengan orang utannya. Lucu juga gaya mereka, persis Tarzan melompat dan bergelantungan kesana kemari, sesekali ada juga yang penasaran dan memandang tanpa dosa kearah saya.

Arboretum Nyaru Menteng (dok. pribadi)

Tak lengkap jika ke suatu tempat tanpa merasakan masakan khasnya, dan saya beruntung sepulang dari Arboretum Nyaru Menteng, kami singgah di RM Samba dan mencicipi Ikan Sungai khas Palangkaraya dan sayur rotan, rotan ternyata bisa dibikin sayur seperti bambu juga bisa dibuat sayur. Rasanya agak pekat dan manis diujung lidah, hingga selesai makan, sensasinya masih terasa.

Sayur Rotan (dok. pribadi)

Kembali ke soal jadi Ibukota, dari berita di koran lokal, anggota DPRD setempat sedang menyiapkan dengan serius Panitia Kerja untuk persiapan pemindahan ibukota. Konon, ide pemindahan ibu kota ini sudah ada sejak jaman Bung Karno. Bundaran besar di tengah kota Palangkaraya dinamakan Bundaran Soekarno, katanya dipersiapkan oleh Bung Karno sebagai pusat Ibu Kota negara nantinya. Kalaupun jadi pindah, banyak tanah kosong disekitar kota Palangkaraya, yang saati ini adalah berupa rawa-rawa yang tak dimanfaatkan.

Baca juga:

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2