Perayaan Tahun Baru 2014 : Hogmanay di Edinburgh

Acara hogmanay atau perayaan tahun baru ala Edinburgh berlangsung meriah. Acaranya riuh dengan banyaknya orang, semarak dan elegan dengan pesta kembang api, dan lucu dengan adanya orang mabuk. Ratusan ribu orang memadati area puncak perayaan hogmanay di sekitar princess street dan edinburgh castle.

Sebelum ke acara street party, saya mengantar teman-teman pelajar Indonesia yang dari Manchester ke Calton Hill. Mereka sebelumnya juga tour sightseeing  ke University of Edinburgh, Greifriar Bobby, Elephant House, Edinburgh Castle dan Central Mosque. Calton hill adalah lokasi paling enak melihat pesta kembang Api di Edinburgh tanpa harus membayar. Tak lama setelah masuk di Calton hill, seseorang berlari meluncur dari atas dan menabrak pundak saya, dia terus berlari kebawah dan ambruk di jalan keluar, Polisi mengelinginya. Belum jam 9 sudah ada yang mabuk dan tepar.

Mc Ewan Hall University of Edinburgh

Manchester Army di Mc Ewan Hall, University of Edinburgh

Calton Hill at New Year Eve- Night

Edinburgh dilihat dari Calton Hill

Calton Hill at New Year Eve- Night

Calton Hill

Fireworks from Calton Hill

Fire Works Jam 20.30 dari Calton Hill

Saya masuk ke lokasi Street Party di Princess Street sekira jam 9. Suasana sudah mulai ramai. Harga tiket masuk princess street £20 Ini mirip kita membayar empat ratus ribu hanya buat masuk ke Jalan Sudirman-Thamrin di malam tahun baru. Begitu masuk, beberapa orang sudah mulai kelihatan mabuk. Sepasang muda mudi berjoget di depan monitor besar, goyangannya menarik beberapa orang, sampai kemudian salah satunya mencoba bersalto, namun tak bisa membalikkan badannya, mencoba berkali-kali dan terjatuh, tangannya tak kuat menahan badannya yang dipenuhi cairan alcohol.

Street Party Hogmanay Edinburgh 2014

Tariiiikkk Mannnng

Suasana Princess Street memang ramai, tapi kelihataannya yang memenuhi jalan adalah para wisatawan, dan bukan warga setempat. Wajah-wajah Asia akrab dijalan, beberapa orang berwajah Eropa yang saya temui di jalanpun adalah orang yang tak tahu nomor bis yang harus ditumpangi, yang bisa saya simpulkan bukan warga Edinburgh. Lebih 70 orang pelajar Indonesia dari seluruh UK ada di Edinburgh juga meskipun tidak berkumpul di satu titik. Para pelajar yang saya temui diantaranya dari Manchester. Lancaster, Glasgow, Liverpool, London dan Birmingham.

Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK

PPI UK di Edinburgh

Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK

Pelajar Indonesia tenggelam dalam lautan orang asing

Indonesian Student in UK - PPI Edinburgh UK

Edinburgh dan Glasgow

Indonesian Student in UK - PPI Manchester UK

Another Manchester Army

Warga Edinburgh sendiri nampaknya memilih untuk menghabiskan malam di rumah atau berkumpul bersama keluarga. Memang ada yang berpikir lebih enak tinggal di rumah dan menonton acara kembang api di TV, seperti yang biasa juga saya lakukan kalau di Jakarta. Banyak alasan warga setempat untuk tidak keluar rumah menikmati tahun baru, seperti yang dikutip oleh Media setempat. Berikut adalah “resiko” merayakan tahun baru di jalan yang saya adaptasi dari Metro.co.uk.

Lebih mahal, untuk masuk ke lokasi acara saja harus bayar £20, kalau mau menikmati musik yang lebih enjoy dari grup band terkenal bayar lagi £45,  ditambah lagi bagi yang tidak bisa kalau tidak minum alkohol, pasti harus beli minuman yang harganya juga tidak murah dan jumlahnya tidak sedikit.

Dingin, suhu Edinburgh saat malam pergantian tahun sekitar 6 derajat, tapi feel saya lebih dingin. Pakaian saya sudah berlapis 4 tapi rasanya masih dingin. Untuk menghangatkan diri, kami bergerak dan berbaur dengan orang-orang yang terjebak dalam pusaran dua arah, meski agak stress, tapi ini cara yang efektif untuk mengurangi dingin.

Susah pulang. Segera setelah acara tahun baru selesai, orang-orang akan segera berbondong-bondong menuju jalan pulang. Rebutan bis menjadi hal yang lumrah. Beberapa jalan ditutup, dan kadangkala tak tahu dimana harus menunggu bis karena ternyata bus stop yang ditempati menunggu tidak dilewati oleh bis.

Mabok dan mempermalukan diri sendiri. Ini kejadian yang paling banyak saya temui di pesta tahun baru semalam. Ada yang muntah sembarang tempat dan yang lebih parah lagi, ada yang buang air kecil di tengah jalan, perempuan lagi. Banyak yang terkapar bersandar di pagar pembatas, meracau tak keruan, ada juga yang berjalan dengan menopangkan tangannya di pagar pembatas persis suster ngesot. Yang lainnya lagi, menyapa setiap orang yang lewat dengan ucapan Happy New Year, seribu orang lewat, seribu juga yang disapa dan dijabat tangannya. Ada juga yang memeluk setiap orang yang bisa dijangkaunya. Ada pula yang menggantung di traffic light, nggak jelas apa yang dilakukannya, selain dia memang mabok. Orang mabok kan boleh ngapain aja, hehehe. Banyak yang pasangan muda-mudi yang kayaknya janjian, tidak boleh mabuk dua-duanya. Kalau laki-lakinya yang mabuk beneran, perempuannya gak boleh mabuk-mabuk amat, atau sebaliknya perempuannya yang mabuk, cowoknya yang menenangkan. Seorang cewek sampai harus menyilangkan kakinya didepan cowoknya agar si cowok yang sudah mabuk berat tidak bikin ulah, mungkin saja kalau dia bawa gembok, digemboknya cowoknya itu. Tapi, meskipun mabok, tidak ada kejadian rusuh yang berarti, ada memang yang melempar tapi hanya satu dua orang, secara umum meskipun mabuk mereka tetap happy, piss dan masih bisa bilang sorry, kalau nabrak kita. Sepanjang perjalanan pulang saya hanya bisa tersenyum dan tertawa dengan polah tingkah kawan-kawan kita ini.

Berita utama tahun baru dari Daily Mail hari ini adalah para peminum ini. Di hampir semua lokasi di UK, orang mabuk saat pergantian tahun selalu menjadi masalah, foto-foto para pemabuk ini menghiasi halaman depan situs dailymail dari beberapa lokasi seperti Swansea, Manchester, Newcastle, Birmingham, dan London, untungnya tak ada dari Edinburgh.

Masalah mabuk ini sudah menjadi kejadian dan masalah rutin setiap tahun. Saya bahkan pernah melihat ada peringatan khusus dari polisi yang tulisannya kira-kira begini “Jangan mabok di malam tahun baru, kalau nggak mau nyesel, kamu gak bisa lihat kembang api hanya karena nggak kuat berdiri karena kebanyakan minum”.

Pesta Kembang Api

Meski “beresiko” tapi perayaan malam tahun baru akan diobati dengan pesta kembang api yang berpusat di Edinburgh Castle. Kami sempat bercanda, semoga kembang apinya lebih bagus dari kembang api anak kompleks di Jakarta. Satu setengah jam sebelum acara berlangsung, saya berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia dari seluruh UK, pas didepan patung penunggang kuda princess street. Inilah salah satu spot terbaik dari princess street karena tidak dihalangi pohon dan gedung. Spot ini juga menjadi lokasi tim dokumentasi acara Hogmanay. Saya bagikan videonya, yang berisi awal dan akhirnya saja, sisanya saya nikmati sendiri, hehehe, total durasi kembang apinya sekitar 5 menit:

 

Salam dari Edinburgh

Baca Juga :

Mengenal Edinburgh

Torchlight Procession di Edinburgh

Advertisements

Mengenal Edinburgh

Oleh : Ahmad Amiruddin

Edinburgh? Iya Edinburgh (baca Edinbrah). Beberapa penyiar TV Amerika menyebutnya Edinberg. Mereka membaca seperti melafalkan Pittsburgh dengan Pittsberg. Tapi orang-orang di UK menyebutnya Edinbrah. Ini adalah Ibukota Skotlandia, penduduknya “cuma” 480 ribu jiwa. Skotlandia sendiri adalah salah satu negara yang membentuk United Kingdom of Great Britain, disingkat UKGB atau UK saja. Orang Indonesia menyebutnya Inggris Raya. Ada sedikit kerancuan sebenarnya, karena UK terdiri dari England, Scotland, Irlandia Utara dan Wales. UK dan England sama-sama disebut Inggris di Indonesia. Kata Inggris sendiri konon kabarnya diwariskan oleh Penjajah Jepang kepada putra pertiwi. Anda tahu sendiri kan?, orang Jepang melafalkan el menjadi er dan jadilah inglish menjadi inggris, dan orang Indonesia menyebutnya dengan kata yang sama.

map_scotland (1)

Peta Scotland (Source: uknetguide.co.uk)

Edinburgh memang bukan kota terbesar saat ini di Skotlandia. Kota terbesar di Skotlandia adalah Glasgow, dan mungkin karena itulah orang Indonesia lebih mengenal Glasgow dibanding Edinburgh, disamping juga klub sepakbola Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic lebih terkenal daripada Edinburgh Hibernian dan Heart, dua tim sepakbola dari Kota Edinburgh.

KESAN PERTAMA

Apa kesan pertama saya ketika tiba di kota ini? CANTIK. Saya tak bermaksud merendahkan Kota Tua Jakarta atau Kota Tua Malaka, tapi disini, di Kota ini, hampir semua bangunan seperti itu modelnya dengan model Victorian, dan usia bangunan lebih dari satu abad. Keluar dari flat dan berfoto saja sudah lebih indah daripada berfoto di Kota Tua Jakarta yang kurang terawat atau Kota tua Malaka yang lebih terawat.

Kesan selanjutnya, orangnya RAMAH.  Mereka rajin menyapa, senang  tersenyum, bilang “excuse me” kalau dianggap menganggu, dan rajin berterima kasih. Orang Scotland dan British pada umumnya memang dikenal dengan tata kramanya yang santun.

Kesan ketiga, TERATUR.  Antri telah menjadi budaya yang melekat di masyarakat di Edinburgh. Di hampir semua tempat selalu ada antrian, bahkan naik bus antri dan turun bus juga antri. Tak ada penerobos lampu merah. Pejalan kaki mendapatkan tempat yang lapang tanpa perlu bersinggungan dengan pedagang kaki lima, tukang tambal ban, tukang ojek atau pengendara motor. Saya yang biasanya naik bis pergi dan pulang kuliah, sangat jarang mendengar suara klakson. Suara klakson adalah makhluk langka di kota ini. Tak ada yang sembarangan berjualan di pinggir jalan, atau tak ada yang membuka warung kecil sekalipun tanpa lisensi dari pemerintah setempat. Saya yang biasanya sampai malam di perpustakaan, kadang-kadang bermimpi sekali-sekali dengan melangkahkan kaki keluar gedung bisa menyetop tukang jualan keliling, tapi itu tak akan ditemui disini.

Bus in Edinburgh

Bis dalam kota

Kesan keempat MAHAL. Rata-rata mahal, meskipun tidak semua mahal. Harga daging, beras, susu, ayam, butter, dan apel masih sebanding atau kadang lebih murah dibanding di Indonesia. Tapi akomodasi mahal,  yang share flat dikisaran harga £350-450 perbulan belum termasuk tagihan listrik dan air. Transportasi bis dalam kota sekali naik £1.5, untuk langganan per empat minggu £40 bagi pelajar.  Makan dan minum di café bisa empat sampai lima kali lipat harga di Indonesia, paling murah £4.5. Harga bahan makanan yang termasuk paling mahal adalah Ikan. Sekilo ikan harganya dikisaran £25. Harga mi Instant asal Indonesia adalah £0.35, meskipun rasanya tak seenak Mi Instant yang khusus dijual di Indonesia.

KOTA PENDIDIKAN

Edinburgh telah menjadi tujuan pendidikan pelajar dari seluruh dunia. Bisa dikatakan bahwa 15-20% dari penduduk Edinburgh adalah pelajar. Maka tidak heran, jika anda kuliah di Edinburgh anda akan bertemu dengan teman di hampir disetiap supermarket yang dimasuki.

Terdapat empat perguruan tinggi terkemuka di Kota Edinburgh. Keempatnya adalah The Univeristy of Edinburgh, Heriott Watt University, Napier Edinburgh University dan Queen Margareth University. Jumlah pelajar asal Indonesia yang sekarang belajar di Kota Edinburgh sekitar 30 orang. Sebagian besar diantaranya adalah mahasiswa Post Graduate. Para pelajar Indonesia di Edinburgh tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia UK Cabang Edinburgh. PPI Edinburgh baru didirikan secara resmi pada tahun 2013.

Saya kuliah di University of Edinburgh. University ini berdiri sejak tahun 1583, merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Inggris, tapi merupakan perguruan tinggi termuda diantara enam perguruan tinggi tua yang ada. Berdasarkan peringkat QS World Rangking 2013, University of Edinburgh berada pada ranking 17 Dunia. University of Edinburgh banyak menelurkan ilmuwan dan pemimpin dunia, diantaranya penggagas terori evolusi Charles Darwin, fisikawan James Clerk Maxwell, filosof David Hume, Thomas Bayes, Joseph Lister, penemu telepon Alexander Graham Bell, fisikawan  Daniel Rutherford, fisikawan Max Born, penulis Sir Walter Scott, Robert Louis Stevenson, Novelis Sir Arthur Conan Doyle dan masih banyak lagi.  Sebanyak 18 penerima nobel terafiliasi dengan Univeristy of Edinburgh baik sebagai pelajar, researcher maupun professor. Penerima Nobel tahun 2013 Peter Higgs adalah penerima nobel Fisika terbaru dari University of Edinburgh atas penemuan partikel Higss Boson. Partikel Higgs-Boson juga terkenal dengan nama partikel Tuhan. Tiga orang mantan Perdana Menteri Inggris termasuk alumni University of Edinburgh.

KOTA WISATA

Apa kota terindah di UK? Kalau anda bertanya kepada orang Edinburgh, mereka pasti menjawab Edinburgh. Tapi kalau anda bertanya kepada orang dari Kota lain, mungkin mereka juga akan menyebut Edinburgh, kalaupun mereka menyebut kotanya sendiri, Edinburgh akan menjadi nomor dua. Yang jelas, bagi sebagian besar orang yang pernah ke Edinburgh, kota ini memang kota yang cantik dan layak untuk dikunjungi. Tak heran para pelajar Internasional yang menuntut ilmu di UK akan memprioritaskan untuk mengunjungi Edinburgh dalam masa studi mereka.

Edinburgh Castle view from Princess Street

Edinburgh Castle Tampak Dari Jauh

Kota Edinburgh seperti tak berubah oleh zaman. Arsitektur bangunannya masih sama dengan ratusan tahun lalu. Bangunan-banguan tua dan bersejarah berjajar memancarkan kejayaan masa lalu kingdom of the scots. Obyek yang paling sering dikunjungi di Edinburgh adalah Edinburgh Castle, Calton Hill, Arthur Seat, Greyfriar Kirkyard, National Museum, National Gallery, Holy Rood Palace, Princess Street, St Andrew Square, Camera Obscura dan Edinburgh Zoo.  Travel shop banyak bertebaran di Edinburgh, menawarkan perjalanan sehari ke Highland ataupun sightseeing seputar kota Edinburgh. Walking tour seputar kota juga tersedia di sekitar Royal Mile.

Edinburgh City, Citizen in The Park

Suasana Taman dan Warga yang menikmati cuaca cerah

AA1-DSC_0316

Musik Jalanan

Terdapat banyak festival sepanjang tahun di Kota Edinburgh, diantaranya adalah Edinburgh Science International Festival di bulan Mei, Film Festiva di bulan Junil dan Jazz and Blues Festival di bulan Juli, Edinburgh Military Tattoo,  Edinburgh Festival Fringe, International Festival dan book Festival di bulan Agustus, dan Edinburgh Hoogmanay yang merupakan perayaan tahun baru ala Scotlandia yang dianggap sebagai salah satu perayaan tahun baru yang paling menarik di dunia.

HIDUP SEBAGAI MUSLIM

Masyarakat Inggris sangat toleran terhadap keyakinan seseorang. Tak ada gangguan dalam menjalankan ibadah maupun berpakaian bagi muslimah di Inggris.  Jumlah muslim di Inggris berdasarkan sensus tahun 2011 adalah 4.8% dari total  sekitar 60 juta penduduk UK. Di Pusat Kota Edinburgh terdapat mesjid besar yang mampu menampung ribuan jamaah, mesjid ini juga berada di dekat central area University of Edinburgh. Selain digunakan untuk shalat, mesjid ini juga menyelenggarakan seminar keislaman. Untuk kampus yang berada jauh dari mesjid besar tersebut, seperti di kampus saya yang berada di area Kings Building terdapat mushallah yang dikelola teman-teman muslim, yang juga menyelenggarakan shalat jumat setiap pekannya.

Makanan halal banyak tersedia disekitar area mesjid. Tidak sulit mendapatkan daging dan ayam halal untuk dimasak. Masakan halal dicafe juga banyak tersebar di area sekitar mesjid. Umumnya jenis masakan yang dijual adalah khas India seperti kari ayam atau kari kambing.

AA1-DSC_0708

Toko Halal Food

Sebagai penutup. Kenapa tak Edinburgh saja?

Salam dari Edinburgh

Ahmad Amiruddin

@ahmadtaroada

https://taroada.wordpress.com

Reference:

Link 1,2,3,4, 5

Trip ke Old Trafford : Bagian 1. Show Batik MU dan Larangan Membawa Kamera

Cerita ini saya bagi dalam dua bagian karena ternyata panjangnya tulisan ini:

Ditulisan saya sebelumnya, saya sudah ceritakan mimpi saya menonton pertandingan Manchester United di Old Trafford, dan atas karunia Allah, mimpi itu telah terwujud.

Beberapa bulan lalu saya sudah mencari waktu yang tepat untuk ke Old Trafford, dan saya menemukan waktu paling tepat adalah dua hari setelah exam, tepatnya tanggal 21 Desember 2013. Saat booking tiket di bulan Oktober, saya agak was-was sebenarnya, dikarenakan berdasarkan prediksi waktu itu, temperature akan turun mendekati 1 derajat celcius. Dan itu bisa berarti, banyak cobaan dijalan, termasuk cobaan hawa dingin kalau mau berfoto di depan stadion Old Trafford.  Momen foto ini tak boleh diganggu oleh apapun.

Untuk bisa membeli tiket nonton di Old Trafford, kita harus menjadi member untuk satu musim, harga membershipnya £30, untuk tiket nontonnya sendiri £45, itupun berada hampir ditempat paling atas dari stadion. Tempatnya di Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0906

Membership Manchester United

Setelah memesan tiket dan membership sayapun mencoba mencari moda transportasi yang cocok ke Manchester, dan dapatlah harga promo tiket kereta £8 dengan kartu 16-25. Kartu ini hanya diperuntukkan bagi yang berusia 16-25 tahun, dan bagi “mature full student” harus dibuktikan dengan surat dari University masing-masing. Saya tak perlu cerita saya ada dikategori yang mana, hehehe. Tiket kereta yang saya dapatkan berangkat dari Edinburgh pukul 06.52 pagi dan rencana tiba ti Manchester pukul 10.15 pagi.

Untuk pulangnya, sebenarnya ada juga tiket promo kereta diharga yang sama, akan tetapi berangkat dari Manchester pukul 6 sore. Secara kalkulasi ini gak feasible, karena akan berebutan naik kendaraan dari Old Trafford ke stasiun setelah match. Puluhan ribu orang harus bersaing dalam waktu singkat, dan saya tak mau mengambil resiko itu. Ada tiket lain di malam hari, tapi harganya sudah dikisaran £50. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket Mega Bus, perjalanannya sedikit lebih lama namun harganya hanya £18. Berangkat dari Shudehill Interchange Manchester jam 7.30 malam.

Setelah tiket beres, dan exam rampung, saya menghubungi teman sesama penerima beasiswa Kominfo di Manchester, Sinthia dan Maureen. Thia ada di Manchester hari itu, namun Maureen sedang ke Notingham.

20 Desember

Saya sudah packing, syal Manchester, syal Indonesia, baju Manchester sudah masuk di tas. Beberapa makanan ringan sudah masuk, kamera sudah saya charge dan tripod sudah disiapkan. Alarm saya setting 3 kali. Maklum, musim dingin bawaannya malas bangun, matahari baru kelihatan pukul 9 pagi, sementara saya harus bangun pagi-pagi dan mengejar bis untuk ke Waverley Station

21 Desember

05.00

Weker bordering, saya bangun dengan kaku, dingin masih terasa, namun badan harus segera bergerak.

06.00

Ke Bus Stop, Bis Nomor 31 baru akan tiba pukul 06.17, Sampai distasiun dan duduk di coach A standard nomor kursi 3

06.50

Train berangkat meninggalkan Edinburgh menuju Preston Lancaster, hari masih gelap, jadi tak bisa saya menikmati pemandangan pagi hari, menjelang preston matahari mulai bersinar, pemandangan yang nampak adalah peternakan domba. Bendera St Andrews Cross sudah berganti St George Cross. Scotlandia sudah lewat dan disini sudah wilayah kekuasaan England.

09.45

Turun di Preston, harus pindah train ke Manchester, sudah nampak banyak orang memakai baju Manchester United. Beberapa orang diantaranya membawa serta anak-anaknya. Seharusnya, menurut jadwal kereta ke preston sudah berangkat pukul 09.52, namun keretanya agak lambat. Kereta baru tiba pukul 10.10. Dikereta ini baru ada pemeriksaan tiket.

11.00

Akhirnya sampai juga di Manchester Piccadilly. Saya janjian ketemua dengan Thia di Piccadilly Garden. Dari Stasiun saya mengikuti petunjuk arah kearah Picadilly Garden dengan berjalan kaki. Udara Manchester rasanya lebih hangat dibanding Edinburgh, suhunya sekitar 8 derajat. Saya yang sudah memakai pakaian berlapis-lapis-lapis rasanya mulai kegerahan.

Manchester Piccadilly Train Station

Manchester Piccadilly Station

Di Picadilly Garden, saya bertemu dengan Thia di Visitor Center dan untuk spot pertama yang kami kunjungi adalah National Footbal Museum. Saya hanya berfoto-foto didepannya saja, karena mengejar waktu ke tempat lain.

National Football Museum Mancester

National Football Museum

12.30.

Kami menuju ke Etihad Stadium, kandang dari Manchester City. Tetangga dan seteru dari Manchester United. Saat itu Manchester City lagi bertandang ke Fulham, jadi stadionnya sepi. Saya sempat berfoto-foto didepannya dan mengabadikan momen bersejarah menginvasi ke stadion Etihad.

Etihad Stadium Manchester

Glory Glory Man United on Man City Ground

Puas berfoto, kami kembali ke Piccadilly Garden, membeli semacam Kebab Turki yang rasanya enak banget dan kemudian berpisah.

13.30

Saya menumpang bis nomor 256 menuju stadion Old Trafford. Supporter berbaju merah sudah berjibun di Kota Manchestere sejak di Picadilly Garden. Penjual syal Man United beredar dimana-mana.

Tiba di stadion saya langsung beraksi dengan tripod, mengabadikan momen berharga dalam hidup. Saya tak menyangka, saya sudah benar-benar menginjakkan kaki di Old Trafford. Di rentang waktu 17 tahun lalu saya hanya bisa bermimpi dari sudut televisi  yang menyiarkan liga inggris. Kini mimpi itu jadi nyata.

Karena saya seorang diri ke stadion, saya harus mengandalkan diri, kamera dan tripod untuk mengabadikan momen berharga ini. Dari rumah saya sudah menyiapkan baju batik Manchester United yang dibelikan istri di Pasar Tanah Abang, baju dalamnya adalah kaos Manchester dari sebuah Factory Outlet di Bogor. Jersey Man United saya tersimpan baik dalam tas, karena menurut saya jenisnya terlalu generic, meskipun jersey tersebut adalah jersey asli 2 tahun sebelumnya.

Nah, ketika saya membuka dua lapis jaket saya dan menampakkan baju batik saya, mulailah banyak yang tersenyum melihat batik saya. Beberapa orang dengan mencuri-curi atau terang-terangan memoto saya bersama baju batik tersebut. Tiga orang anak-anak tak berhenti-hentinya tersenyum dan menunjuk baju saya. Ketika saya sudah memasang tripod dan mengambil gaya untuk foto dengan delay 10 detik, bukan hanya kamera saya yang memotret, beberapa orang juga ikut memotret saya. Saya senang-senang saja, jiwa narsis saya menemukan wadahnya di negeri orang, hehehe. Saya sebenarnya mau berpesan sama mereka, kalian semua akan sulit dapat batik kayak begini di Inggris, soalnya ini gak pake lisensi, karena lisensi adalah kosa kata aneh di Tanah Abang.

Foto Depan Old Traffford

Kawan kita disamping penggemar batik juga

Puas memoto-moto dan “mempertontonkan” batik Man United. Saya mencari pintu masuk stadion sesuai dengan yang tertera di email. Pintu Nomor N411. Sebelum masuk, saya berhenti disebuah sudut untuk merapikan kamera, tas, jaket dan tripod yang rasanya ribet banget. Saat asyik merapikan barang-barang tersebut, datanglah petugas keamanan mendekati:

“Sir, sorry you cannot bring your camera into the stadium, its too big, its dangerous, it’s a long lens camera”

Pala lu peyang, bisik saya, cita-cita gue seumur hidup mau motret pertandingan di dalam stadium, hanya karena kamera gue lensanya gede, cita-cita harus gue andalkan pada kamera HP yang sebentar lagi habis baterainya

“No, it isn’t” kataku “this is not a long lens camera”

“Let me show you the rule, please pack your bag and camera, I’ll show you”

Saya mengepak kamera, memasukkannya dalam tas dan mengikuti si Om

“You see this !!” katanya sambil menunjuk ke arah papan pengumuman yang berisi larangan barang yang boleh dibawa ke stadion.

Saya masih berdebat, mirip pemain sepakbola yang mempertanyakan keputusan wasit

“No, it’s not a long lens. A long lens camera is not like this”

“They will not allow you, now you follow me, please put your bag in that coach”

Saya ikuti si Om, tak ada cerita, kata saya dalam hati, masak kamera doang gak boleh masuk stadion. Iya sih, memang kamera saya lensanya lebih gede dibanding dengan kamera pada umumnya, tapi apanya yang berbahaya, saya gak bakalan melempar kamera ini kepada penonton lainnya karena itu tindakan pengecut, oh bukan maksud saya tindakan bodoh. Yang kedua, kalau ini soal bisnis hak ekslusif memotret saya gak bakalan bisa menyaingi the true long lens para pewarta foto yang duduk paling depan yang hanya berjarak 1 meter dari lapangan sementara saya berjarak jauh diatas.

Sampai di tempat penitipan, si Om tadi sudah pergi. Saya mulai memilah barang, beberapa orang juga menitip barangnya, namun tak ada yang menitip kameranya, ada yang membawa kamera yang hanya sedikit saja lebih kecil lensanya dari kamera saya. Saya tanyakan kepada petugas penitipan barang “Ini boleh dibawa gak Om?”

“Maybe allowed, maybe not”

Okelah kalau begitu, kameranya saya bawa saja, dan ternyata memang tak ada larangan dari petugas di pintu masuk. Momen berharga didalam stadion kini bisa diabadikan.

Bersambung ke Trip ke Old Trafford Bagian 2

Salam dari Edinburgh

24 December 2013