Memilih Klub Bola

Memilih klub bola sama seperti memilih pasangan hidup. Entah karena klubnya bagus sehingga kita mencintainya, atau karena kita mencintainya sehingga klub itu tampak selalu bagus. Seperti juga pasangan hidup, ada yang mempunyai dua, tiga bahkan empat pasangan, tergantung hormon dan tingkat kesetiaannya. Tipe SETIA atau setiap tikungan ada juga berlaku di Sepakbola. Ada yang memiliki klub kesayangan di setiap negara, ada yang menjagokan Real Madrid di Spanyol, Juventus di Italy, Bayern Muenchen di Jerman, Manchseter United di Inggris, Porto di Portugal dan Bujumfura FC di Uganda (ahh klub bola apa pula itu?). Ada juga yang punya empat klub kesayangan di Eropa, yang bingung sendiri kalau semua klub ini ketemu di Liga Champion, dia seperti suami yang kebingungan (atau bersorak) melihat madunya bertempur.

Level cinta para fans ke klub ini bisa melebihi kecintaan mereka terhadap kehidupan. Ada yang sampai jual rumah dan pasangan hidup (konon terjadi di Afrika), bahkan ada yang sampai bunuh diri karena malu, atau menembak teman sendiri.

Saya sendiri hanya menggemari satu klub, saya ini tipe monogami dalam memilih klub. Inisiasi pemilihan klub saya sewaktu SMA, dimana Manchester United sedang berjaya. Ketika sudah senang pada klub ini, semuanya jadi indah. Sir Alex Ferguson selalu datang memenuhi janji-janjinya membawakan trofi setiap tahunnya. Sekarang masa-masa indah Ferguson sudah selesai. Tak ada yang sebaik beliau, tapi saya sudah terlanjur suka dengan Manchester United. Karenanya menang atau kalah saya tetap mendukung United.

Saya mau anak saya mendukung Manchester United, meskipun nampaknya dia juga senang dengan Arsenal. Saya harus mendidiknya agar menjadi lebih tabah jika memilih klub ini.

gawa emirates

Bukan Fans Arsenal


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Advertisements

FERGIE TIME

Oleh : Ahmad Amiruddin

Fergie Time

Fergie Time (Getty Images/Daily Stars)

Pada awalnya ini hanya mitos. Beredar rumor wasit menambah waktu jika Man United sedang ketinggalan. Penyebabnya adalah karena sang pengadil tertekan oleh teriakan Alex Ferguson (Fergie) sambil menunjuk-nunjuk jam tangannya. Pada menit-menit ini, keajaiban biasanya datang menghampiri Man United. Menghancurkan lawannya yang tinggal menghitung mundur untuk menang. Lawan menjadi gelagapan dan gol-gol dimenit akhir tercipta, tak akan ada pendukung tim lain yang senang dengan hal ini, dan itulah keajaiban Fergie Time.

Kisah Fergie Time bermula di musim liga Inggris pertama tahun 1992/1993, ketika itu Man United berhadapan dengan Sheffield Wednesday. Kedudukan tetap 1-1 hingga 90 menit berakhir dan wasit memberikan 7 menit tambahan. Dalam rentang waktu tersebut, Steve Bruce dari Man United mencetak gol yang melapangkan jalannya Man United merebut gelar pertamanya setelah menunggu 26 tahun, dan itulah gelar liga inggris pertama yang dipersembahkan oleh Tuan Alex Ferguson sebelum gelar-gelar liga inggris lainnya bertaburan di pundaknya. Sejak saat itu kecurigaan merebak, Man United akan ditambahkan waktu lebih banyak ketika dia sedang ketinggalan.

Sebenarnya semua tim-tim besar di Liga Inggris mendapatkan tambahan waktu juga dibanding dengan tim-tim kecil. Graham Poll, mantan wasit yang sering menulis di Daily Mail menyatakan bahwa secara sadar ataupun tidak selalu ada tekanan untuk menjadikan tim besar itu tidak kalah dalam satu pertandingan apalagi bila pertandingan dilaksanakan di kandang tim besar tersebut.

Statistik 3 musim terakhir dari Sir Alex dari 2010/11, 2011/2012 dan 2012/2013 menunjukkan bahwa Man united bermain 79detik lebih lama ketika sedang kalah dibanding ketika menang. Lebih lama secara rata-rata dibanding Liverpool ataupun Manchester City. Tambahan waktu ini sebenarnya tak diatur FIFA. Konvensi umum mengatakan bahwa wasit menambah 30 detik untuk setiap gol atau pergantian pemain dan menghitung waktu ketika ada yang cedera di lapangan. Statistik juga menunjukkan bahwa “rata-rata” tim besar mendapatkan tambahan waktu lebih banyak ketika dia kalah dibandingkan ketika dia menang, kecuali Chelsea.

Fergie table

Sumber (bbc.co.uk)

Akan tetapi statistik ini tak selalu konsisten, Man united tak setiap musim mendapatkan waktu lebih banyak dibanding lainnya. Musim 2012/2013 memang Man United mendapatkan waktu lebih banyak, namun pada musim sebelumnya justru Man United mendapatkan waktu tambahan terendah dibanding tim besar lainnya.Dalam 20 tahun terakhir yang berada di bagian teratas bisa bergantian.

Namun, kisa Fergie Time telah menjadi cerita umum. Salah satu yang paling fenomenal adalah kemenangan Manchester United 2-1 melawan Bayern Munchen pada tahun 1999. Kedudukan masih 0-1 untuk kemenangan Bayern Munchen ketika waktu telah menginjak angka 90. Para pemain Muenchen berpikir telah menang dan meraih juara. Namun dua gol tambahan Man United dicetak oleh pemain pengganti Ole Gunnar Solksjaer dan Teddy Sheringham. Semuanya saat Fergie Time.

Kisah lain terjadi di tahun 2009 ketika dervy manchester berlangsung. Skor 3-3 bertahan hingga menit 90. Wasit memberikan tambahan waktu 6 menit, padahal wasit keempat mengindikasikan hanya empat menit tambahan. Gol dari Michael Owen memberikan kemenangan bagi Man United yang membuat pelatih Manchester CIty Mark Hughes berang.

“Saya tak melihat jam, saya tak tahu berapa menit tersisa” kata Sir Alex baru-baru ini. Gesture menunjuk jam digunakan untuk menekan wasit dan lawan ketika bertanding di Old Trafford. “Tentu saja tim lawan tertekan dengan hal ini”.

‘Most important thing is that those fans are walking out of the stadium desperate to get down to the pub to talk about, desperate to get home to tell their wife and their kids what happened at Old Trafford in the last minute of the game. And that’s my job, to get them home happy.”  (Alex Ferguson)

Tribun Terangker di Inggris

STRETFORD END

Man United biasanya mencetak gol-gol dimenit akhir di Tribun ini. Bagian barat dari Old Trafford inilah bagian suporter hard liner. Kearah tribun inilah para pencetak gol dari Man United berharap merayakannya. Inilah bagian yang paling ditakuti lawan se Inggris Raya.

Biasanya kapten Man United selalu memilih menyerang bagian ini dibabak kedua, ketika mengundi dengan tim lain, sangkapten akan memilih menyerang ke east stand dibabak pertama sehingga bisa menyerang ke stretford end dibabak kedua. Karena chance-nya 50/50 maka, biasanya pemain Man United pemanasan di bagian stretford end, sehingga ada kecenderungan pemain lawan lebih memilih bola saat undian awal.

Tapi menjadi lain ceritanya kalau melawan Liverpool, nampaknya kalo mereka yang menang undian kick off akan memilih menyerang Stretford End di babak kedua, dan Man United sendiri membalas dengan cara yang sama yaitu menyerang ke arah tribun The Kop di anfield saat babak kedua.

Pada awalnya Stretford End lebih kalem dibanding bagian lain stadion. Dulunya tribun ini kalah ramai oleh Score Board end, dibagian timur stadion. Denis Law, pemain berambut pirang yang menjalani debutnya di pertandingan awal musim tanggal 18 Agustus 1962 melawan West Bromwich Albion merubah tradisi itu. Seorang suporter bercerita : United menyerang Stretford End di awal babak pertama, dan pada menit kedelapan sebuah crossing dikirimkan oleh pemain Man United, Giles, ke kotak pinalti, tak tampak bola passing ini akan menjadi berbahaya, hingga kemudian sebuah bayangan merah dan putih,berlari secepat kilat dan melompat, badannya seperti tergantung diudara selamanya. Sungguh timing yang tepat, dengan deras dahi si pirang menghantam bola. Bola benar-benar seperti roket melayang kebelakang jaring Albion.sebuah gol klasik tercipta. Sang pencipta gol terjatuh dan begitu mendarat dia berlari ke depan Stretford End, tangan kanannya terangkat, telunjuk kanan menunjuk ke langit, dan wajahnya bersinar penuh senyum. Gemuruh penonton menyambutnya. Fajar baru telah tiba, dan kami memiliki raja baru, dan Stretford End lahir. Gaya Denis Law menunjuk langit ketika mencetak gol menjadi familiar bertahun tahun kemudian. Patung Denis Law dengan posi ini terpasang di stretford End. Hanya dua pemain yang dikenal sebagai King of Stretford End, selain Denis Law yang lain adalah Eric Cantona.

Pada bagian tribun ini pula biasaya dipasang spanduk-spanduk dukungan yang diinspirasi oleh sejarah dan kultur yang berkembang di MU. Salah satu spanduk yang menuai banyak pro kontra adalah “The Chosen One”. Spanduk yang dipasang di tengah Stretford End sebagai dukungan kepada David Moyes yang dianggap sebagai orang yang dipilih oleh Sir Alex Ferguson untuk meneruskan kejayaan Manchester United di Inggris. Namun akhirnya, spanduk ini harus dijaga stewards gara-gara akan diturunkan oleh para suporter ketika prestasi anak asuhan David Moyes terjun bebas. Sekarang setelah era Van Gaal spanduk itu telah hilang. Mungkin juga orang berusaha melupakan kenangan pahit yang ditinggalkan oleh David Moyes. Pemasangan spanduk di Stretford End di koordinir oleh Stratford End Flags, sebuah organisasi fans Man United.

Tuan Alex Ferguson menyebut suporter di stretford end seperti menghisap bola ketika mereka menyerang kearah sana. Jhony Evans mengatakan, saat-saat corner dari arah stretford end di babak kedua mereka biasanya mendapatkan keajaiban.
Dan Ahmad Amiruddin menyatakan semoga ada masa dimana dia bisa menonton di Old Trafford lagi tapi kali ini di Stretford End dibagian paling depan.

Glory glory Man United

Photo taken 21st December 2013, Man United Vs Norwich City, absolutely not from Stretford End