Bapak Pulang

Sejak kecil, saya selalu diajak ke sawah atau ke kebun. Kami menghabiskan waktu mencangkul, menyiangi tanaman, menanam pohon atau memamen buah. Dulu-dulu bisa setengah harian saya bersama Bapak di kebun.

Dia tak pernah lepas dengan parang saat ke kebun, air minum selalu tersedia karena dia suka minum banyak. Tangannya cocok dengan tanaman dan tanah. Pada tanaman dan tanah yang disentuhnya, keluar buah manis dengan hasil yang banyak.

Bapak sangat perhatian dengan pendidikan. Jadinya kalau saya lagi malas ke sawah atau ke kebun, saya ambil buku. Kalau dia lihat saya pegang buku, maka saya bisa bebas dari tugas mencangkul atau menyemprot tanaman yang bikin tulang punggung makin membengkok.

Aslinya Bapak saya bukan hanya petani. Profesi formalnya adalah Mantri. Hampir semua orang Kadidi jaman dulu disunat olehnya. Jadi bisa dibilang bahwa hampir semua orang Kadidi yang lahir, ada campur tangannya di situ. Rumah kami sudah biasa diketok jam 2 atau 3 subuh ada orang yang gawat karena muntah darah, diare atau nafas sesak. Bapak tetap akan keluar melayani, bersama motor GL 125 warna merahnya, menembus dinginnya malam bersama doa mama’ saya.

Motornya ini biasa saya pakai ke Rappang. Suaranya keras, dan sering dipinjam teman-teman hanya untuk mendengarnya meraung-raung. Dulu Bapak perokok sangat-sangat aktif. Rokoknya adalah Bentoel International, mungkin tak ada lagi rokok seperti itu. Dia baru berhenti merokok setelah pulang haji. Insya Allah dia haji mabrur karena ada perbedaan antara sebelum dan sesudah haji. Rokok itu juga memberi jejak pada parunya.

Saat saya SD saya selaku Ranking satu, tapi tak pernah ada hadiah. Tiba-tiba pada saat saya kelas 4 atau kelas 5, Ranking 1 di kelas saya dapat hadiah bolpoin tinta mirip punya pak kepala sekolah, Pak Saade Tapa, yang diserahkan saat penyerahan rapor. Dan saya tentu yang dapat hadiah tersebut. Saat saya lewat di depan ruang guru, saya mendengar ucapan “ada-ada saja Pak Amir menyediakan hadiah, kenapa anak kecil dikasih pulpen begitu” Oalah ternyata itu adalah hadiah dari Bapak, tapi dibuat seolah-olah dari sekolah.

Bapak paling senang cerita ke saya kalau dia habis mimpi melihat saya terbang di awan. Anakku nanti akan terbang tinggi katanya. Di usia pensiunnya Bapak berhenti menyuntik, tak ada lagi aktifitas itu. Dia fokus ke 3 hal, sawah dan kebun, ibadah dan hubungan sosial. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kebun. Bisa berbulanan dia tinggal di rumah kebun di Siwa. Dalam suasana penuh damai. Tapi sejak 2018, Bapak terkena kanker prostat.

Dan dimulailah kami diingatkan bahwa Bapak saya makin tua. Saya sendiri yang ambil hasil labnya bahwa prostatsnya cukup parah.Tapi hasil treatmennya sangat bagus, dia kembali sehat bersemangat dan selalu gembira.Namun, sejak awal tahun ini kanker prostatnya kambuh lagi, dan mulai rutin konsuk ke RS Wahidin.

Dan hari itupun tiba. Apa yang kami khawatirkan terjadi. Bapak loyo tidak bisa berdiri. Adik saya mengabarkan. Saya ke Kadidi di hari keduanya, mendapatinya sudah keliatan lebih baik, bisa berdiri dan minta dicarikan coto. Saya belikan coto di Rappang dan kita makan bersama. Itulah makan bersama Bapak yang terakhir kali.

Sorenya dia makin loyo, bahkan terjatuh saat mencoba berdiri. Akhirnya keesokan harinya kami sekeluarga memutuskan untuk di rawat di RS Andi Makkasau Pare-Pare, hari itu hari minggu, 1 Agustus. Kebetulan di RS Pare-Pare ada kakak ipar saya dokter Muli dan suaminya dokter Kahar yang ahli penyakit dalam. Setelah diperiksa dan discreening awal di IGD bapak positif COVID-19 dan harus dirawat di ruang isolasi.

Dan harus ada yang menemani. Sebagai anak laki-laki, sehat, sudah divaksin dua kali, maka saya yang menemani Bapak. Itu artinya saya diisolasi juga bersama Bapak, tidak boleh keluar dari ruangan covid. Makan dan minum di sana. Sayalah yang kemudian menemani Bapak. Mengganti popoknya, membersihkan Buang airnya, menyuapi, menyimpan gigi palsunya dan kemudian tambahan lagi ikut mengawasi dan mengatur saturasinya.

Saya juga bertugas mengabarkan kepada keluarga kondisi Bapak setiap harinya, agar mereka tenang dan masalah tak jadi tambah runyam. Makin hari bapak membutuhkan suplai oksigen yang makin tinggi flownya, awalnya 5L/menit, terus 10L, 15L, 40L dan terakhir 50L. Kadang-kadang dia agak gelisah, apalagi setelah dipasang kateter. Kalau dia agak gelisah, saya lumuri minyak kayu putih kakinya, badan dan hidungnya. Kalau dia agak tenang saya putarkan video bukutangkis, atau video Youtube bersama cucunya di Siwa.

Saat malam hari adalah malam2 panjang, karena bisa jadi tiba2 oksigennya menurun dan saturasinya ikut turun. Untungnya banyak bantuan dari dokter dan perawat. Di lain pihak, saat menemani Bapak, saya disuplai oleh keluarga dari keluar. Mereka ikutan repot juga. Masa-masa eksklusif melayani Bapak di ruang isolasi adalah masa yang paling saya syukuri dalam hidup ini. Hari ke-6 dan ke-7 belum ada perbaikan, akhirnya diputuskan Bapak dirujuk ke Infection Center RS Wahidin Makassar.

Dalam perjalanan dari Pare-Pare ke Makassar sangat menengangkan buat saya karena, oksigen menipis ditambah ternyata dalam ambulans biasanya orang tidak nyaman. Namun, kami tiba di RS Wahidin dengan selamat dan Bapak langsung ditangani. Qadarullah bapak hanya dua hari bertahan di sana. Dia berpulang pada tanggal 8 bulan 8 Pukul 8 malam.

Dalam banyak perjalanan treatment, perawatan dan pemakaman almarhum kami sangat dibantu oleh banyak pihak. Keluarga yang selalu support, dokter dan perawat RS Andi Makkasau, juga RS Wahidin Makassar, serta sahabat saya Ibu Wawali Makassar Fatmawati Rusdi yang memfasilitasi ambulans dari Makassar ke Sidrap. Kami ucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak.

Juga kami mohon maaf jika almarhum memiliki kesalahan, mohon dibukakan pintu maaf.

Bapak sudah berpulang, tapi dia masih ada di buah-buah duriannya yang manis, pada bunga cengkeh yang harum, pada pematang2 sawah, pada matahari yang memanggang kulit petani dan pada orang tua yang selalu bertekad memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Selamat jalan pak. Senyumki, maafkan anakmu ini.

Kadidi, 09/08/2021

Published by taroada

Engineer | Manunited Fans | Indonesia | Edinburgh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog