Supra Fit, Sahabat yang Selalu Setia

“Motor kok masih Supra Fit, bro? Gantilah dengan dengan yang lebih keren”

Sudah biasa saya dengar ucapan miring itu. Mungkin sudah sejak sepuluh tahun saya mendengarnya. Tapi motor Supra Fit ini tak pernah berkhianat, dia tak pernah ingkar janji. Dia setia dan tak pernah mengecewakan, maka itulah hubungan kami awet.

Saya beli motor Supra Fit saya sekitar 14 tahun lalu. Saat itu saya masih kerja di sebuah pabrik tabung TV milik perusahaan Korea yang terletak di dekat pintu tol Cibitung, Bekasi.  Pabrik tersebut dulunya diresmikan Pak Harto, sempat jadi penguasa pasar. Tapi  seperti Pak Harto yang akhirnya lengser, beberapa tahun lalu pabrik tersebut sudah tutup, karena tak ada lagi yang mau menonton TV tabung.

Saat membeli motor itu, koperasi karyawan pabrik sedang kerjasama dengan distributor motor honda yang pabriknya tak jauh dari tempat kerjaku. Kami mendapatkan fasilitas mencicil motor dua belas kali, tanpa DP dengan harga miring. Waktu itu harganya sembilan jutaan, padahal di luaran harganya sebelas jutaan rupiah.

Meski sudah dibeli saya tak pernah menggunakan motornya ke Pabrik, karena perusahaan sudah menyediakan bis jemputan. Lagian naik bis jemputan pabrik lebih enak dan lebih seru, bisa sambil ngobrol dengan karyawati pabrik yang bau parfumnya selalu wangi saat berangkat dan saat pulang.

Saya resign sebelum cicilan motor saya habis, jadi saya lunasin begitu pindah kerja. Setelah pindah kerja itulah saya mulai pakai motornya. Pertama dari Bekasi ke Cikarang, lalu saya pindah ke Tangerang sang Supra Fit menemani saya dari Tangerang ke Pulo Mas ke tempat kerja saya yang lain. Kemudian saya pindah kerja yang terakhir sejak sepuluh tahun lalu, kembali menjadi teman saya dari Bekasi ke Jakarta setiap hari.

Motor ini juga telah menemani masa-masa romantis saya bersama istri selama empat tahun berkeliling Jabodetabek saat kami belum punya anak. Hingga kami punya anak tiga masih kadang-kadang kami pakai berlima untuk menikmati Bebek Goreng Slamet di akhir pekan. Meskipun sekarang sudah jarang karena anak-anak makin besar dan kami makin khawatir dengan keselamatan.

Saya menyaksikan dari periode 14 tahun itu, beberapa teman saya sudah ganti motor lebih dari 5 kali. Ada yang selalu update motornya menyesuaikan dengan model terbaru. Tapi saya bertahan dengan motor Supra Fit yang mungkin akan segera jadi barang antik.

Beberapa teman saya juga membeli Supra Fit di waktu bersamaan itu, tapi sekarang motornya sudah tidak jelas lagi. Sebagian sudah berkarat di makan usia, sebagian mungkin sudah berpindah tangan menjadi kendaraan dinas tukang antar galon.

Selama ini saya puas dengan pelayanan Supra Fit saya, meski tak bisa digeber lagi hingga kecepatan 100 kilometer per jam, tapi di jalanan Jakarta yang ramai, kecepatannya bisa stabil di range 70-80 km dengan maneuver yang gampang. Motor N-Max dengan stiker Komunitas Motor Besar N-Max kadang-kadang saya lewatin, karena mereka susah berbelok, apalagi kalau gaya kakinya kayak orang naik Harley.

Selain manuvernya yang gampang, motor ini juga irit banget. Dengan kapasitas mesin hanya 100 CC maka dengan modal 20 ribu rupiah sudah cukup untuk seminggu dengan jarak tempuh dari Rumah Saya di Bekasi ke Kuningan sekitar 15 kilometer. Kalau naik mobil setiap hari, ongkos transportasi bisa habis sejutaan sebulan. Dengan selisih uang tersebut anak saya bisa beli Yupi dan Chitato setiap hari, dan sisanya bisa ditabung buat jadi calon bupati beli Brompton.

Adalagi kelebihannya yang lain, mesinnya bandel. Seperti namanya, motor ini selalu fit. Suara mesinnya masih halus. Selama karirnya menjadi asisten saya, tak pernah sekalipun motor ini mogok di tengah jalan. Hanya pernah tiga kali harus didorong karena kehabisan bensin. Paling kalau ada masalah sedikit adalah ban bocor, itupun tak sering-sering banget, mungkin karena lingkaran bannya yang cukup besar dibanding dengan motor matic.

Hanya satu masalah motor Supra Fit ini, dan ini yang mungkin membuat orang menggantinya. Naik Supra Fit tidak bergengsi. Dia identik dengan motor-motor tukang antar galon, padahal itu menunjukkan kalau motor ini memang tahan banting.

Tak bisa dipungkiri, tunggangan kadang mempengaruhi pandangan orang terhadap orang lain, khususnya pada pandangan pertama. 

Sekitar 10 tahun lalu, ketika akan berpindah tempat tinggal dari Tangerang ke Bekasi, saya dan istri berboncengan melakukan survey mencari rumah yang bisa dikontrak.

Kami kemudian tiba di sebuah perumahan yang cukup megah. Pada saat akan mendekat gerbang saya lihat portalnya masih terbuka. Saya kemudian bertanya kepada satpamnya,

”apakah di dalam ada rumah yang dikontrakkan?”

Setelah saya bertanya, bukannya langsung dijawab, salah seorang satpam langsung menutup portalnya dan menjawab

“gak ada mas”

Saya sedikit kesal, karena sepertinya dia menutup portal karena melihat penampilan kami berdua. Seorang satpam lainnya mencoba menenangkan suasana, tapi justru memperjelas alasan kenapa portalnya ditutup.

“Gak papa pak, masuk aja, kemaren-kemaren juga ada yang survey cuman naik motor, besoknya langsung beli”

Saya semakin yakin portalnya ditutup justru karena saya naik motor, apalagi hanya naik Supra Fit.

Akhirnya kami membatalkan beli ngontrak rumah di kompleks sana.  Sekitar dua tahun kemudian, kami beli rumah di lokasi lain yang lebih sederhana. Dan lima tahun sejak peristiwa penutupan portal tersebut saya akhirnya bisa masuk dengan bebas kompleks tersebut karena dua anak saya sekolah TK di sana, masih dengan motor Supra Fit yang pernah kena embargo. 

Mungkin ada orang yang menyandarkan gengsinya pada apa yang ditungganginya. Mereka hanya akan percaya diri jika naik motor kelas tinggi atau mobil mewah.  Tapi tak bisa juga dipungkiri, memang ada juga orang yang menghargai orang lain karena kendaraannya. 

Pernah juga saya pakai motor Supra Fit saya ketika ditugaskan mengikuti rapat di hotel bintang lima, jangankan bisa masuk ke lobby, baru nyalain lampu sein mau belok aja udah disempritin oleh satpam. Bisa jadi motor yang lewat dianggap kendaraan yang mengganggu pemandangan lobby hotel yang resik dan mewah. 

Pernah suatu kali saya iseng bertanya kepada dealer motor dekat rumah. Saya tanya berapa harga kira-kira kalau motor saya saya jual. Dia menimbang-nimbang sebentar dan kemudian dengan muka penuh rasa bersalah dia bilang, 

“satu juta aja, bang?”

Saya terkejut mendengarnya, masak motor yang penuh sejarah ini dihargai hanya satu juta saja. Sejak saat itu saya tak mau menjual lagi motor saya, pada saatnya nanti ketika mungkin akan berpisah, saya akan menyerahkannya saja kepada orang yang tepat.

Kepada teman yang biasa menyarankan saya ganti motor, saya biasanya menjawab

“Sejatinya bukan apa yang kamu tunggangi, tapi apa isi dompetmu otakmu, itu yang lebih penting”

Published by taroada

Engineer | Manunited Fans | Indonesia | Edinburgh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog