Inggris Pantas di Semifinal

BESTPIX-Colombia-v-England-Round-of-16-2018-FIFA-World-Cup-Russia

Di luar banyak perkiraan, Inggris sudah sampai di semifinal. Argentina, Spanyol, Brazil sudah pulang kampung. Tuan rumah Rusiapun sudah kembali ke kosannya. Sementara Inggris, Kroasia, Belgia dan Prancis akan berebut satu juara dunia. Akankah Inggris dan Perancis menambah bintangnya atau Kroasia dan Belgia menjadi negara kesembilan yang punya bintang di atas badgenya.

Sebagai penggemar Inggris puluhan tahun, saya punya analisis sendiri maupun yang saya contek dari banyak komentator. Menurut saya inilah beberapa hal yang membuat Inggris bisa menjejakkan kaki di Semifinal.

1) Rendahnya ekspetasi publik.

Setelah Pialah Dunia 1990, Inggris hancur-hancuran di setiap helatan Piala Dunia. Semifinal terakhir di mayor turnamen hanyalah di Euro 1996, ketika Terry Venables bisa membawa Inggris ke Semifinal di tanahnya sendiri. Saat 1996 itu, harapan rakyat Inggris sangat besar, mereka punya Gareth Southgate, Sol Campble, Steve Mc Manaman, dan Alan Sharer.

Setelahnya Inggris punya banyak nama pemain yang kalau ditambahkan ternyata tidak lebih banyak dari diri mereka (rather than The whole is greater than the sum of its parts). Nama-nama mentereng macam David Beckham, Michael Owen, Rio Ferdinand, Gary Nevillve, Paul Scholes yang dikagumi oleh Xavi Hernandez, Steven Gerrard, semuanya tak bisa sampai semifinal.

Bahkan 4 tahun lalu, ketika saya di UK, saya tak bisa lama menikmati laga Inggris karena sejak pertandingan pertama Balotelli sudah membuat gaya selebrasi yang meruntuhkan mental Inggris hingga tak bisa lolos ke babak selanjutnya. Meskipun Italia juga tak lolos.

Karena hal tersebut, tahun ini publik Inggris tak menaruh banyak harapan pada timnasnya. Efeknya media Inggris juga tak kencang-kencang amat mengkritik.

Hampir semua pertandingan Inggris di Rusia, fansnya selalu kalah banyak di banding dengan fans lawan. Lawan Panama saja jumlah suporter Inggris kalah, padahal jumlah penduduk Inggirs 50an juta dengan ekonomi yang tinggi dan kecintaan padas sepakbola seakan-akan bola adalah agama.

Penyebab tak banyak suporter Inggris, disamping karena ada ketakutan masalah keamanan karena hubungan negara yang sedang garring-garring nya (demam) akibat diracunnya agen ganda Rusia di London, juga fans tak mau mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk kecewa kembali.

Sebelum-sebelumnya publik Inggris dan medianya selalu menkritik timnas Inggris, apalagi dibumbui dengan cerita mengenai para Wives And Girls (WAGs), pacar-pacar dan istri pemain yang selalu mencari perhatian di setiap event Piala Dunia.

Kalau sering baca media Inggris pasti minimal punya sense bahwa media di sana, kalau mencela, mencelanya setengah mampus, kalau memuji juga kadang nggak ketulungan. Tapi karena Shakespeare dari sana, maka membaca media Inggris tak akan membosankan, karena bahasanya yang dirangkai indah penuh metafora.

Karena kurangnya tekanan dari publik timnas Inggris bisa berkonsentrasi bermain dan tidak direpotkan oleh macam-macam isu. Mungkin hanya satu pemain Inggris yang paling sering jadi incaran. Raheem Sterling, apalagi setelah dia bikin tato senjata di betisnya, tapi itupun banyak yang membela.

2) Antonio Conte, Pochettino, Guardiola dan tentu saja Mourinho

Semua pemain Inggris mainnya di liga Inggris, tak satupun bermain di liga Eropa lainnya. Diantara semua tim semifinalis Piala Dunia kali ini, hanya Inggris yang begitu, tapi bukan itu yang membuat Inggris bisa sampai di Semifinal.

Inggris bisa sampai di Semifinal karena sumbangsih para pelatih yang melatih tim-tim liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Dari mekeralah bahan baku taktik dan pemain diambil oleh Gareth Southgate dan disempurnakan sesuai kebutuhan.

Kita tahu kedatangan Conte merubah lanscape liga Inggris, dia memperkenalkan (kembali) taktik 3-5-2. Taktik yang mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris tahun lalu. Taktik ini menyeimbangkan menyerang dan bertahan, namun membutuhkan stamina yang kuat serta adanya resiko serangan balik cepat yang sulit diantisipai.

Taktik 3-5-2 Chelsea membutuhkan pemain dengan ball posession yang baik di bagian belakang, holding miedfielder yang kokoh untuk melapisi pertahanan pada diri Nemanja Matic, box to box midfielder dengan nafas kuda pada diri Kante, dibutuhkan juga dua orang wingback dengan crossing yang bagus, seorang creative midfielder yang dilakoni oleh Eden Hazard dan poacher dengan finishing mematikan pada diri Diego Costa.

Dari Conte, Southgate mendapatkan taktik, kemudian dari Guardiola didapatkan bahan pemain dengan ball possesion bagus di belakang pada diri John Stones dan Kyle Walker yang di plot menjadi bek.

Dari Pochettino, Southgate mendapatkan 3 orang pemain yang dibutuhkannya, seorang poacher yang konsisten dan sekarang menjadi top skorer sementara pada diri Harry Kane, wing back kanan yang kandidat terbaik sekarang. Dan penemuan selanjutnya adalah Delle Alli, seorang pemain box to box dengan karakter menyerang, yang memberikan gol kemenangan Inggris semalam.

Tentu saja Mourinho tak ketinggalan. Inggris sangat terberkati oleh kepercayaan Mourinho kepada Ashley Young. Young, yang spesialis kaki kanan, diplot oleh Mourinho sebagai bek kiri, di Inggris dia menyingkirkan banya bek kaki kiri.

Konsistensinya menjadikan dia pilihan utama di depan Danny Rose. Namanya boleh Young tapi dia yang tertua.Crossingnya maut. Lihat saja gol yang diheading Meguire semalam, itu adalah tendangan Young.

Kemudian Mou menyumbang salah satu pemain dengan karakter khas lulusan akademi MU, seorang yang pekerja keras, tak mudah menyerah dan selalu bekerja untuk tim, dia adalah Jesse Lingard. Peran Lingard dan Delle Alli mirip peran Kante, namun peran tersebut mereka mainkan bersamaan ditunjang dengan peran sebagai playmaker juga.

3) Gareth Southgate dan Steve Holland

Ketika Sam Allardyce dipecat dari kursi kepelatihan, muncullah Gareth sebagai penggantinya. Dia bukan pelatih top. Fabio Capello yang sudah bergelimang piala dan diberkahi pemain di era Beckham saja tak mampu meracik tim yang bagus apalagi seorang Gareth yang hanya pernah melatih Middlesbrough, tim yang kini tak lagi berlaga di Divisi Utama.

Tapi pada diri Southgate, FA mempercayakan timnya untuk dibangun kembali dari puing-puing. Gareth kemudian bekerja sama dengan Steve Holland yang juga pernah menjadi asisten Conte. Nah taktik Conte diterjemahkan dengan baik oleh Southgate dan Holland.

Semula, orang menganggap, dengan mempercayakan tim Inggris yang bahan bakunya biasa-biasa saja pada Southgate, sampai lolos qualifikasi saja sudah syukur, eh tapi Southgate berhasil membawa tim ini ke Rusia dengan memuncaki kualifikasi grup dan belum pernah kalah, sampai waktu England B vs Belgia B di fase grup.

Apa rahasia Gareth? Dia punya rencana, dan dia berpegang pada rencananya dan mengeksekusinya dengan baik. Banyak suara-suara sumbang ketika misalnya dia justru memanggil Ashley Young dan memasangnya dibanding pemain yang lebih muda. Menempatkan Maguire dibanding Gary Cahill yang lebih berpengalaman di Piala Dunia. Mempercayakan ban kapten kepada Harry Kane dibanding Kapten Liverpool Jordan Henderson, serta tekanan publik agar tidak memainkan Sterling. Dia kukuh pada rencananya.
Souhtgate juga menciptakan harmoni di ruang ganti. Dia berusaha agar ruang ganti kondusif, dan tak ada pemberontakan dari para pemain yang tak dimainkan semacam Gary Cahill, Danny Welbeck, Phil Jones, Butland dan Danny Rose.

4) Jalur kucing

Iya, England diuntungkan dengan jalur ke semifinal yang tidak seterjal jalur lainnya yang berisi Uruguay, Perancis, Belgia, Argentina, dan Brazil. Hanya satu lawan kuat pada jalurnya yaitu Spanyol. Itupun sudah dikalahkan oleh Rusia di babak 16 besar.

Tak ada lawan berarti England hingga semifinal. Tapi mirip strategi Game Of Thrones, kita biarkan dulu klan Targaryan dan Starks berperan melawan dead walker, supaya bisa memperpanjang nafas hingga episode 8. Apakah yang terbaik yang selalu menang? Tak selalu. Italia pada Piala 2006 dan Yunani pada Piala Eropa 2004 bermain kotor, tapi mereka yang menjadi Juara. Hanya juara yang diingat.

God Save The Queen.

Advertisements

Perbandingan Kompor Gas dan Kompor Listrik Induksi

Gambar 1

Oleh : Ahmad Amiruddin (taroada.com)

Pada Mulanya

Kompor induksi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1933 di Wold Fair di Kota Chicago [1]. Konon kabarnya General Motors memperagakannya dengan meletakkan koran antara alat masak dan kompor, dimana koran tidak terbakar dan airnya mendidih.

Kompor induksi ini bukanlah penemuan yang ujug-ujug timbul karena hasil pemikiran satu tim. Tapi penemuan ini memiliki rentang panjang, sama panjangnya dengan penemuan listrik. Tapi kita sebut saja beberapa penemu, untuk mengingatkan bagaimana kompor induksi ini bisa jadi barang berguna kayak sekarang.

Pada tahun 1831, seorang ilmuwan bernama Michael Faraday menemukan bahwa dua buah koil yang terikat pada besi, dimana salah satu koil disambungkan dengan sumber listrik akan menghasilkan arus sesaat pada koil yang satunya, dari sanalah prinsip erlektromagnetik bermula. Hukum Faraday menyatakan bahwa magnet yang bergerak dalam koil akan menimbulkan arus listrik pada koil tersebut. Hukum Faraday menjadi peletak dasar ilmu listrik, yang kemudian berkembang menjadi mesin-mesin listrik hingga sekarang. [2]

Michael faraday juga meneliti mengenai  cahaya, tapi hubungan cahaya dan magnet tak dia temukan hubungannya, sampai seorang anak muda bernama William Thomson mengirimkan surat kepadanya setelah meneliti mengenai garis magnet yang dipublikasi Faraday. Anak muda tersebut kemudian menjadi professor pada Laboratorium yang berdekatan dengan Sungai Kelvin di University Glasgow.

Dari nama sungai itulah, William Thomson diberi gelar Lord Kelvin. Lord Kelvin nantinya lebih banyak meneliti mengenai thermodinamika, dan dialah peletak dasar Hukum Thermodynamika I dan II. Rumus dasar kita gunakan dalam perhitungan kalor dibawah nanti tak lepas dari sumbangsihnya.[3]

Ketika mesin listrik telah ditemukan, saat itu arus listrik masih jenis arus searah. Perusahaan listrik di Amerika dikuasai oleh Thomas Alfa Edison dengan General Electricnya. Tapi listrik arus searah tak praktis dan banyak rugi-ruginya khususnya saat dihantarkan jarak jauh.

Kemudian muncullah seorang jenius bernama Nikola Tesla. Dia menantang kemapanan Edison. Pada tahun 1887, Tesla menemukan arus bolak balik. Arus bolak balik dapat ditransmisikan dengan mudah, dinaikkan dan diturunkan tegangannya dengan transformator. Dari penemuan arus bolak balik inilah, listrik dapat diproduksi dan dihantarkan secara lebih mudah dan lebih efisien. Tapi tidak itu saja, penemuan listrik bolak balik juga menghasilkan banyak peralatan listrik yang menggunakan prinsip adanya frekuensi dari listrik yang dihasilkan.

Prinsip kerja yang ditemukan Faraday, ketika digabungkan dengan penemuan Tesla menghasilkan mesin listrik statis seperti transformator. Berkat penemuan Tesla, tak perlu ada bagian yang bergerak secara kasat mata seperti generator untuk menghasilkan listrik, tapi dengan adanya arus bolak balik otomatis ada arus yang berubah terhadap waktu yang menimbulkan fluks magnetik yang berubah-ubah pula. Induksi elektromagnetik yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi listrik inilah yang menyebabkan trafo bisa menaikkan dan menurunkan tegangan.  Prinsip yang mirip juga digunakan pada kompor induksi.

Kompor induksi di klaim memiliki keuntungan dibanding dengan kompor gas LPG. Bagaimana perbandingan antar kedua jenis kompor berbeda sumber tersebut? Artikel ini akan membandingkan biaya akhir yang dibutuhkan oleh konsumen dengan menggunakan kompor gas dan kompor induksi. Perhitungan yang digunakan adalah berdasarkan data-data yang dapat diakses melalui internet dan tidak dengan percobaan langsung. Selain itu, karena saya engineer elektro, bisa saja ada perhitungan saya terkait dengan kalor yang kurang tepat.

Kompor Listrik

Kompor listrik yang beredar di pasaran terbagi atas dua jenis. Kompor listrik konvensional dan kompor listrik induksi.  Kompor listrik konvensional menggunakan elemen pemanas yang terintegarasi dengan kompornya, elemen ini akan memanas dan berwarna merah ketika telah dihubungkan dengan sumber tegangan listrik. Dibandingkan dengan kompor listrik induksi, efisiensi kompor jenis ini lebih rendah dikarenakan adanya elemen pemanas yang harus dipanaskan dulu sebelum panas dikonduksikan ke peralatan masak. Perbandingan efisiensinya berdasarkan data US DOE adalah 74% untuk kompor listrik konvensional dan 84% untuk kompor listrik induksi.[4]

perbandingan 2

Prinsip kerja Kompor Induksi

Kompor induksi bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik, dibandingkan dengan menggunakan konduksi panas atau elemen pemanas. Kompor induksi memanaskan peralatan masak secara langsung sehingga suhu yang diinginkan dapat dicapai dengan cepat.

Prinsip dasarnya adalah koil digunakan pada bagian bawah kompor, yang kemudian dialiri arus listrik bolak balik. Arus bolak balik akan menimbulkan fluks magnet yang berubah-ubah menurut waktu. Sesuai dengan hukum Faraday, fluks yang berubah-ubah dan memotong penghantar akan menimbulkan arus. Arus tersebut timbul pada peralatan masak yang berbahan metal, karena adanya eddy current yang mengalir pada peralatan tersebut. Arus tersebut “terperangkap” dan menimbulkan efek panas ketika melewati tahanan [5]. Karena hal tersebut, maka peralatan masak untuk kompor induksi haruslah yang memiliki sifat magnetis, sehingga tidak bisa menggunakan yang berbahan kaca ataupun aluminium dan tembaga murni [6]. Cara terbaik untuk mengetesnya adalah dengan menempelkan magnet pada peralatan masak tersebut. Jika magnet dapat menempel, maka dapat digunakan, sedangkan jika magnet tidak menempel maka tidak bisa digunakan.

prinsip kerja

Gambar : Proses Kerja Kompor Induksi Listrik[5]

Gas LPG

Kompor gas LPG menggunakan bahan bakar LPG atau Liquified Petroleum Gas. Di Indonsia LPG yang berada di pasaran dijual oleh Pertamina dengan merk Elpiji. Elpiji mempunya komponen utama gas propane (C3H8) dan gas butane (C4H10). Berdasarkan Keputusan Dirjen Minyak dan Gas nomor 26525K/10/DJMT/2009 tentang Standard an Mutu (spesifikasi) bahan bakar gas jenis Liquified Petroleum Gas (LPG) yang dipasarkan di dalam negeri, LPG berisi campuran propan dan butane minimum 97% dari total berat. Nilai kalor dari elpiji adalah 47.089 kJ/kg.[7]

Prinsip kerja gas elpiji berbeda denga  kompor induksi. Pada kompor gas elpiji, sumber panas berasal dari pembakaran gas yang kemudian dikonduksikan melalui udara dan memanaskan alat masak. Dalam proses ini terdapat energi yang hilang menjadi panas. Prinsip kerja tersebut berbeda dengan kompor induksi dimana panas berasal dari peralatan masaknya langsung, sehingga efisiensi kompor induksi lebih tinggi dibandingkan dengan kompor gas. Namun jika dibandingkan antara bahan bakar gas dengan minyak tanah, efisiensi pembakaran gas lebih tinggi.

Metode Pehitungan[8]

Perhitungan yang digunakan berdasarkan data-data, asumsi dan rumus-rumus sebagai berikut:

  1. Berdasarkan data US DOE, Efisiensi kompor gas LPG adalah 40% dan kompor induksi adalah 84%
  2. Asumsi kedua jenis kompor tersebut akan digunakan memanaskan 10 liter air pada suhu awal 30 derajat celcius, sehingga untuk memanaskan 10 liter air dibutuhkan :
  • Energi = m x c x DT
  • Massa air = 10 liter x 1kg/liter = 10 kg
  • Delta T = 100 – 30 = 70 derajat
  • Energi yang dibutuhkan untuk memasak 10 liter air adalah = 10 x 4,2 kJ/kg x 70 = 2940 kJ.
  1. Harga eceran 1 tabung gas elpiji 12 kg berdasarkan pengalaman kami membeli dan diantar sampai di rumah pada bulan November 2017 adalah : Rp. 158.000,-.Harga ini bisa lebih mahal untuk daerah-daerah di luar jawa.
  2. Harga listrik untuk golongan tarif R1-1300 VA keatas = Rp. 1.467/kWh
  3. Tara kalor LPG = 47.089 kJ/kg.

Hasil Perhitungan

Tabel

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kompor induksi dapat menghemat sampai dengan 44% dibanding dengan menggunakan kompor gas LPG.

hasil akhir

Catatan perhitungan

  • Data perhitungan sangat terkait dengan data efisiensi, karenanya jika ada riset yang menghasilkan perbedaan efisiensi akan sangat berpengaruh terhadap perbedaan perhitungan. Khusus terkait dengan gas, penggunaan efisiensi 40% adalah data yang umum digunakan pada banyak referensi. Sementera untuk data kompor induksi terdapat variasi data efisiensi antara 75-84%. Namun yang dapat disimpulkan adalah kompor induksi lebih efisien dari kompor gas.
  • Gas LPG merupakan sumber energi primer, sedangkan listrik adalah energi sekunder. Gas yang digunakan pada kompor LPG dirubah langsung menjadi energi panas melalui proses pembakaran, sedangkan energi listrik merupakan energi yang dibangkitkan dari perubahan energi primer. Energi primer ini dapat berupa batubara, minyak, gas, angin dan air. Dalam proses perubahan energi primer ini menjadi listrik tentu ada rugi-rugi yang timbul, disamping itu setelah menjadi listrik maka disalurkan melalui jalur transmisi dan distribusi dimana losses yang timbul sekitar 8% dari energi yang dibangkitkan. Perhitungan yang digunakan dalam artikel tidak memperhitungkan hal tersebut, namun tarif tenaga listrik yang digunakan dalam perhitungan ini sudah mencerminkan  hal tersebut.
  • Perhitungan ini juga tidak melihat perbedaan biaya pembangkitan listrik pada daerah-daerah yang masih mengandalkan pembangkit berbahan bakar minyak yang biaya pokok penyediaannya listriknya bisa lebih besar dari tarif listrik.
  • Perhitungan juga belum mempertimbangkan biaya pembelian kompor induksi baru, dan peralatan masak yang baru dikarenakan peralatan masak yang digunakan pada kompor induksi berbeda dengan menggunakan kompor gas.

 

Referensi :

[1] (2017, 10 Desember). The History of Induction Cooking Technology. Available: http://bestinductioncooktopreview.org/the-history-of-induction-cooking-technology/

[2] L. P. Williams, “Michael Faraday,” in Encyclopedia Britannica, ed: Encyclopædia Britannica, inc., 2017.

[3] (2017, 12 December). William Thomson, Lord Kelvin. Available: https://nationalmaglab.org/education/magnet-academy/history-of-electricity-magnetism/pioneers/william-thomson-lord-kelvin

[4] (2017, 12 Desember). Cooking. Available: http://www.t2c.org.uk/cooking/

[5] A. Rasoi. (2017, 12 Desember). How Induction Cooktop Works. Available: http://www.apanirasoi.in/Cooking/how-induction-cooktop-works/

[6] (2017, 12 Desember). Induction-Friendly Cookware Guide. Available: http://www.metrokitchen.com/induction-compatible-cookware

[7] KESDM, “Konversi MITAN ke GAS,” K. ESDM, Ed., ed. Jakarta: Direktorat Jenderal Migas, 2009.

[8] (2017, 12 Desember). Cooktop Comparison: Gas, Electric and Induction. Available: https://www.bijlibachao.com/appliances/cooktop-comparison-gas-electric-and-induction.html

 

* Tulisan ini sengaja saya sebut nama Faraday, Tesla dan Kelvin karena saya mengambil nama mereka untuk nama anak saya :D.

Murphy’s Law, Van Gaal, Jonru dan Angkot Medan

Murphy Law 1

“Segala sesuatu yang bisa menjadi buruk pada akhirnya akan jadi buruk”,

—Murphy’s Law

Hukum Murphy ini salah satu hukum yang dianggap paling pesimis di dunia, Pak Mario Teguh pasti tak suka dengan hukum ini. Kata orang-orang, kalo jadi “hukum” kebenarannya sudah diakui 99.99%, dan itulah yang membedakannya dengan Teori. Teori Evolusi, misalnya, belum semua orang menerimanya. Katanya lagi, kalau sebuah Teori sudah diterima semua orang, maka akan menjadi Hukum.

Tapi ternyata tak seperti itu juga, Teori takkan pernah jadi hukum. Teori Evolusi milik Tuan Darwin dari University of Edinburgh (Ehm ehm) takkan pernah jadi hukum evolusi atau hukum Darwin. Maka berbahagialah Kirchoff dan Ohm yang namanya diabadikan dalam hukum atas namanya masing-masing. Menurut salah satu sumber beda hukum dan teori : Hukum adalah  sebuah statement singkat dan jelas tentang sebuah fenomena sementara theory sifatnya adalah penjelasan keseluruhan mengenai sebuah fenomena [1] . Nah bagaimana dengan Teori Hukum? mungkin Farhat Abbas yang lebih tempe tahu.

Dari mana asal muasal hukum Murphy?. Ceritanya berawal dari jaman Bapak saya masih SD di tahun 1948. Saat itu jalanan kampong saya masih belum beraspal dan Ibu saya belum lahir, saya gak yakin juga di usia segitu Bapak saya sudah pernah lihat pesawat, tapi saat itu di Benua lain yang jaraknya 15996.88 km[2] dari Makassar (Makassar ke kampong saya berjarak 3 hari berkuda ditambah perjalanan kaki sepenanakan nasi) ilmuwan Amerika sedang mengetes kemampuan manusia menahan impek dari G-forces pada saat terbang dalam kecepatan tinggi. Saat pengetesan kesalahan terjadi dan dilakukan oleh Edward Aloysius Murphy yang memasang sensor utama kebalik sehingga percobaan tidak berhasil. Dalam konferensi pers-nya sang Bos bernama Dr. John Stapp menyebutkan peristiwa tersebut sebagai Murphy’s Law dan menyatakan bahwa dari insiden tersebut mereka belajar bahwa apapun yang bisa menjadi salah akan menjadi salah pada akhirnya. Dalam dunia penerbangan, Hukum Murphy menjadikan standar penerbangan menjadi sangat ketat dikarenakan kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal.

Hukum Murphy disamping menjadikan standar safety penerbangan tak pernah kehabisan improvement untuk mencegah kesalahan, juga menjadikannya kambing hitam dari sebuah kegagalan. Bulan lalu seorang bernama depan Aloysius juga mengutip Murphy’s Law sebagai penyebab kekalahan tim kaya raya dan (setidaknya dulu) terbaik sejagat raya. Tim ini dikalahkan oleh sebuah tim bernama Midtjyland yang tak dikenal, sepert juga saya tak mengenal nama tukang parkir alfamart dekat rumah yang minta dua ribu rupiah ketika saya cuma belanja aqua botol seharga tiga ribu perak. Aloysius yang satu ini bernama lengkap Aloysius Paulus Maria “Louis” van Gaal. Segalanya menjadi makin buruk bagi van Gaal. Dikasih duit 200 juta pound buat beli kwaci pemain, tapi tak bisa juga tampil baik dan menang secara meyakinkan. Sungguh Aloysius Murphy telah mengutuknya.

Meskipun Murphy’s Law ini masih dhaif sanad dan matannya, tapi saya yakin Hukum ini sudah menjadi virus di Indonesia.  Ada orang-orang tertentu yang berpemahaman karena segala sesuatu bisa makin buruk, maka kehidupan Indonesia ini akan makin buruk juga. Tak mungkin Indonesia makin baik. Kresek 200 rupiah adalah kezaliman yang akan membuat pemerintah makin zalim. Kereta cepat hanya akan membuat China makin berkuasa. Pembangkit listrik 35 ribu megawatt tak akan ada yang memerlukan. Pokoknya tak mungkin besok lebih baik hari ini. Jonru adalah adalah satu murid Murphy yang salah ajar kayaknya. Hanya sprei dan seminar menulisnya aja yang bagus.

Nah, bicara-bicara tentang Murphy’s Law, hukum ini tak berlaku di Medan, khususnya bagi para sopir angkot dan tentu juga penumpangnya. Angkot di Medan (juga bentornya) adalah nemesis dari Murphy, mereka percaya bahwa segala sesuatu yang bisa menjadi baik akan menjadi baik-baik saja. Hari ini saya di Medan, dalam hitung-hitungan saya yang pernah mengulang mata kuliah Kalkulus tiga kali, tabrakan antara angkot dengan kendaraan lain kemungkinannya sangat besar. Sopir angkot membawa lari penumpangnya dengan kecepatan tinggi, selap selip mirip orang bawa motor, berhenti mendadak, tiba-tiba belok, tapi fine-fine aja. Taka ada lampu merah yang benar-benar merah di Medan, begitu kata teman saya. Begitu tahu ini, Aloysius Murphy bisa-bisa bunuh diri dengan memakan terong belanda bersianida.

Murphy, van Gaal dan Jonru bisa belajar banyak dari sopir angkot ini, kalau bisa baik maka akan baik-baik saja.

Salam dari Medan

26/02/2015

[1]          (25 Feb). The terms model, theory, and law have exact meanings in relation to their usage in the study of physics. Available: https://www.boundless.com/physics/textbooks/boundless-physics-textbook/the-basics-of-physics-1/the-basics-of-physics-31/models-theories-and-laws-195-6078/

[2]          (25 Feb.). Available: http://www.prokerala.com/travel/distance/#calculator

http://www.irishcentral.com/roots/history/The-surprising-origin-of-Murphys-Law-revealed.html

http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-3453553/Louis-van-Gaal-blames-Murphy-s-law-Manchester-United-s-2-1-Europa-League-defeat-Midtjylland.html