Angin Segar Energi Terbarukan dari Sulawesi

WhatsApp Image 2020-08-24 at 10.41.52
Penulis di PLTB Sidrap

Oleh : Ahmad Amiruddin

Jejeran tiang-tiang tinggi dengan tiga baling-baling serupa pisau runcing yang terpisah 120 derajat tampak anggun dari jauh. Sekilas putarannya nampak lebih pelan dibanding kipas angin, padahal itu karena diameternya yang sangat besar. Tinggi menaranya delapan puluh meter. Bilah pisaunya sendiri panjangnya 56 meter. Kalau kebetulan bilahnya itu tegak lurus ke atas, tinggi total menara dan bilahnya sudah hampir sama dengan Monas.

Setiap kali baling-baling itu berputar, suara menderu pergesekan angin dan bilahnya terdengar dengan jelas. Tak jauh dari sana, beberapa ekor sapi sedang memamah rumput dengan tenang.

Pemandangannya tak jauh beda dengan suasana alam Skotlandia. Tapi ini bukan di Eropa. suhunya tak dingin seperti di negara empat musim. Temperaturnya 32o Celcius. Sinar matahari juga tak kemerah-merahan seperti di belahan utara sana. Karena ini di Khatulistiwa, di kampung saya di Kabupaten Sidrap, di sebuah Desa Bernama Pabbaresseng.

Pabbaresseng artinya tempat beras. Bagi orang Bugis, pabbaresseng adalah benda keramat. Wadah yang tak boleh kosong. Boleh saja tak punya apa-apa, tapi pebberesseng harus selalu berisi. Karena prinsip itulah, Sidrap menjadi andalan utama penghasil beras di Sulawesi Selatan dan juga Indonesia Timur.

Tapi tak hanya jadi lumbung beras. Sesuai dengan nama desa tempat PLTB tersebut, tempat ini juga menjadi lumbung energi. Tempat energi disemai dan siap disalurkan. Dari Dusun Pabbaresseng tersebut Indonesia memproklamirkan dirinya siap mengedepankan Energi Terbarukan.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) tersebut adalah PLTB pertama berskala besar di Indonesia, dan terbesar di Asia Tenggara, Kapasitasnya 75 MW. Kebun angin ini dapat melistriki 75.000 rumah tangga di Sulawesi Selatan.

Menarik melihat bahwa Sulawesi tidak saja menjadi tempat pertama dibangunnya PLTB berskala besar. Tapi juga, PLTB nomor duanya juga dibangun di Sulawesi Selatan, dengan telah beroperasinya PLTB Tolo di Jeneponto dengan kapasitas 72 MW.

Sistem Kelistrikan di Sulawesi secara garis besar terbagi dua yaitu, Sistem Sulawesi Bagian Utara (Sulbagut), yang menghubungkan transmisi di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan kapasitas pembangkitan 581.95 MW. Sedangkan pada bagian selatan adalah Sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah dengan kapasitas pembangkitan 2.057 MW. Kedua PLTB tersebut memberi sumbangsih kapasitas pembangkitan sekitar 7.5% di sistem Sulbagsel.

Secara total, 30% bauran energi di Sulawesi berasal dari Energi Terbarukan dan sisanya adalah pembangkit fosil. Energi Terbarukan di Sulawesi berasal dari Panas Bumi (7,4%), Air (17,69%), Bayu (4,33%) dan Surya (0,12%). Proporsi tersebut jauh di atas rata-rata bauran energi terbarukan nasional yang masih 12% (Nurdin Pabi, PLN, 2020)

Tantangan

Seperti pabbaresseng yang tak boleh kosong dan selalu tersedia ketika diperlukan, sistem kelistrikan juga demikian. Pembangkit harus terus menerus tersedia saat diperlukan. Karena itulah pembangkit tidak serta merta baru dinyalakan ketika kita memencet remote TV. Dia harus sudah beroperasi sebelum kita memerlukannya.

Dengan pertimbangan itulah, diperlukan prediksi yang akurat jumlah listrik yang sekiranya akan dinyalakan oleh masyarakat saat tertentu. Sistem kelistrikan dijaga pada dua parameter utama yaitu frekuensi dan tegangan. Khusus untuk frekuensi, ditentukan oleh keseimbangan antara yang dibangkitkan dan yang diserap oleh masyarakat.

Frekuensi dalam sistem kelistrikan ini biasa digambarkan dengan orang yang naik sepeda tandem. Kecepatan kayuh harus selalu sama, dan juga bebannya harus seimbang dengan kekuatan kayuh agar sepeda tidak jatuh. Jumlah daya yang diproduksi oleh pembangkit harus seimbang dengan yang dibutuhkan oleh konsumen. Jika terlalu banyak yang disediakan bisa menyebabkan frekuensi pada sistem kelistrikan bergerak terlalu cepat, atau bisa juga menyebabkan naiknya ongkos produksi karena tidak terserap oleh sistem kelistrikan.

Sebaliknya, jika permintaan terlalu tinggi namun yang tersedia oleh pembangkit tidak mencukupi maka bisa terjadi frekuensi sistem melambat, semacam sepeda yang kelebihan beban. Ibarat sepeda tadi, sistem bisa jatuh yang berakibat padam total pada sistem kelistrikan.

Dengan pembangkit konvensional, lebih mudah mengatur sistem kelistrikan karena hanya harus menyesuaikan dengan beban, sementara pembangkitnya sendiri tidak memiliki variabilitas yang tinggi.

Menjadi tantangan kalau pembangkitnya adalah PLTB, karena kecepatan angin sangat bervariasi dan tidak bisa diatur. Alamlah yang menentukan kecepatan angin tersebut. Kita hanya bisa memprediksi berdasarkan data-data historikal yang dimiliki. Sayangnya data inipun masih sangat terbatas kita miliki, khususnya pada lokasi-lokasi yang spesifik.

Dengan semakin besarnya proporsi pembangkit yang memiliki intermitensi maka tantangan tersebut makin berat. Di sistem Sulawesi bagian selatan, proporsi PLTB sudah cukup signifikan yang pernah mencapai sekitar 10% dari sistem. Tak ada sistem kelistrikan besar di Indonesia yang proporsi pembangkit intermitennya sebesar itu. Tapi Sistem Sulawesi berhasil bertahan melewati tantangan tersebut.

Belajar dari Sulawesi

Integrasi Pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) khususnya yang sifatnya berubah-ubah ke dalam sistem kelistrikan yang terjadi di Sulawesi bisa dijadikan sebagai batu pijakan untuk melakukan hal serupa di sistem yang lebih besar seperti di Jawa Bali dan Sumatera,

Sebagai sebuah laboratorium, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik dari keberhasilan di Sulawesi.

Pertama, Keberanian untuk memulai. Daerah khatulistiwa bukanlah tempat favorit dibangunnya PLTB. Beberapa tahun lalu dosen mata kuliah Wind Energy saya di University of Edinbugrh, Colin Anderson, menyatakan bahwa tak banyak potensi di sekitar equator yang bisa dimanfaatkan. Tapi beberapa hari lalu saya bertegur sapa secara daring dan dia sangat terkesan ketika saya informasikan bahwa di Indonesia telah ada dua PLTB berkapasitas besar yang juga adalah terbesar di Asia Tenggara.

Bukan tanpa alasan sebenarnya dosen saya mengatakan itu. Coba kita buka peta potensi angin dunia di globalwindatlas.info. Dari peta tersebut akan diperlihatkan secara global potensi angin pada tiap negara.

Tangkapan Layar 1
Tangkapan layar globalwindatlas.info

Peta tersebut menunjukkan perbedaan warna antar lokasi dimana warna yang terang artinya kecepatan anginnya rendah dan warna merah cenderung gelap kecepatan anginnya tinggi. Dari peta tersebut terlihat bahwa daerah khatulistiwa, termasuk Indonesia, relatif berwarna terang sehingga kecepatan anginnya rendah.

Namun kalau kita kulik lebih jauh ternyata di balik warna terang tersebut terdapat daerah yang berwarna merah. Dan itulah yang dilakukan oleh pengembang PLTB Sidrap, PT UPC Renewables Indonesia. Mereka berani memulai, dan sebagaimana sebuah hal pertama, pasti akan lebih sulit dan lebih menantang dibanding kalau sudah terbiasa.

Dari peta di atas terdapat beberapa tempat lagi yang masih bisa dipanen anginnya yaitu di daerah Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Selain potensi energi angin, Indonesia juga diberi keberkahan banyak potensi Surya karena matahari bersinar sepanjang tahun. Pada daerah-daerah yang tidak kencang anginnya, atau tidak tersedia sumber energi panas bumi atau air, dapat memanfaatkan energi surya.

Total potensi energy surya di Indonesia adalah 207,8 GW, lebih dari cukup untuk melistriki seluruh Indonesia yang saat ini total kapasitas pembangkit nasional adalah 65.8GW. Sementara itu, energi surya yang dimanfaatkan baru sekitar 0,14 GW atau 0.02% dari potensinya (EBTKE, 2019).

Keberanian untuk memulai ini yang telah dilakukan di PLTB Sidrap, perlu dicontoh dan dikembangkan ke sumber energi lain seperti surya, ditambah lagi adanya tren biaya pembangunan PLTS juga mengalami penurunan setiap tahunnya.

Kedua, toleransi terhadap risiko. Pengambilan keputusan untuk memulai PLTB beskala besar bukan tanpa risiko. Terhadap sistem kelistrikan pasti ada pengaruhnya, ditambah lagi data-data forecasting masih sangat muda dan seringkali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Risiko-risiko teknis tersebut bisa berakibat kepada ketidaksetabilan sistem kelistrikan atau bahkan mengalami blackout. Namun risiko ini dapat dikelola dengan baik oleh PLN sehingga tidak terjadi kejadian pemadaman yang diakibatkan oleh terintegrasinya pembangkit besar tersebut ke dalam sistem kelistrikan.

Risiko lainnya adalah harganya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit konvensional. Pada saat penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik antara PLN dan Pengembang PLTB pada 2015, absorbsi risiko ini menjadi tanggungan pemerintah melalui skema “subsidi” kepada PLN sehingga dimungkinkan harga pembelian dari PLTB Sidrap lebih tinggi dari biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkitan setempat. Sebagaimana dikutip oleh Kumparan bahwa harga pembelian listrik PLTB Sidrap adalah 11 Sen atau sekitar Rp1.463/kWh sementara BPP di Sulawesi Selatan saat itu Rp. 1.050/kWh.

Namun sejak tahun 2017, dengan semangat untuk menekan tarif listrik yang dibebankan kepada masyarakat, telah terbit Peraturan Menteri ESDM nomor 50 Tahun 2017 yang mengamanatkan harga pembelian dari Pembangkit EBT harus lebih rendah dari Biaya Pembangkitan setempat. Sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian ESDM, sejak terbitnya peraturan tersebut belum ada lagi kontrak kontrak/Power Purchase Agreement (PPA) pembangkit IPP yang proses pengadaannya mengikuti ketentuan tersebut.

Akan tetapi, angin segar terhadap energi terbarukan kembali dihembuskan oleh Kementerian ESDM dengan adanya rancangan peraturan yang baru. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam forum International Energy Agency, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memajukan energi terbarukan dengan menerbitkan Peraturan Presiden yang mengatur harga jual dari pembangkit energi terbarukan. Peraturan tersebut akan kembali membuka opsi sistem feed in tariff yang jauh lebih menarik bagi investor.

Dengan bersedianya operator dan juga pemerintah untuk mengambil risiko mendorong PLTB yang berakibat kepada naiknya risiko teknis dan juga lebih tingginya harga pembelian dibanding BPP setempat dapat memacu para pengembang energi terbarukan untuk berlomba-lomba membangun pembangkit berbasis EBT.

Ketiga, keinginan untuk belajar. Sebagai PLTB berkapasitas besar pertama di Indonesia tentu dibutuhkan penyesuaian dan peningkatan kompetensi dari para profesional yang menanganinya, terutama pada pengatur penyaluran ketenagalisrtrikan. Operasi sistem ketenagalistrikan pasti banyak tantangan, namun tantangan tersebut memberi banyak kesempatan untuk belajar, baik PLN maupun pemerintah.

Yang menggembirakan adalah Capacity Factor (CF) dari PLTB di Sidrap dan Jeneponto adalah telah lebih tinggi dari rata-rata global masing-masing 40,7% dan 43,6% (Furqan Idris, PLN, 2020). Nilai Capacity Factor tersebut juga menunjukkan bahwa secara finansial harga pembelian PLTB dapat lebih kompetitif di masa datang. CF secara global untuk PLTB di daratan (onshore) berada di angka 34% (IRENA, 2019).

Sampai saat ini, pengatur beban di Sistem Sulawesi masih terus belajar dan berusaha untuk mengambil pelajaran berharga dari terintegrasinya pembangkit intermiten dalam sistem tersebut. Sementara itu, Pemerintah belajar harus menyesuaikan aturan jaringan yang dapat menunjang terintegrasinya pembangkit EBT ke dalam sistem kelistrikan.

***

Kita masih memiliki PR besar untuk mengejar target EBT sebesar 23% di tahun 2025. Pelajaran dari Sistem Sulawesi dapat menjadi batu loncatan untuk memperbesar proporsi Energi Terbarukan khususnya dari Pembangkit yang sifatnya intermiten yaitu PLTB dan PLTS.

Diperlukan terobosan-terobosan untuk memacu makin masif dan majunya EBT di Indonesia. Yang terjadi di Sulawesi bisa menjadi contoh yang baik yang dapat digunakan di bagian lain di Indonesia.

Berdamai dengan PLTU Batubara

Oleh : Ahmad Amiruddin

(Tulisan tayang perdana di Detik.com tanggal 22 Juli 2020 dan menjadi bahasan di rubrik fokus utama Majalah Listrik Indonesia, 15 Agustus 2020)

***

pltupaiton230319-3
PLTU Paiton (Bisnis.com)

“Omong kosong PLTU bersih”

Persis di depan saya berdiri seorang perempuan dengan goody bag bertuliskan itu. Baling-baling pesawat baru saja berhenti berputar. Kami sedang turun dari tangga pesawat di sebuah bandara di Kalimantan. Pulau dengan banyak tambang batu bara. Udara terasa panas, tapi untungnya angin berembus cukup kencang. Sementara proklamasi di tas tersebut berputar-putar di kepala saya.

Tak ada yang salah dengan tulisan tersebut. Tak ada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang benar-benar bersih 100%. Tapi kenapa kita masih menggunakannya? Jawabannya persis sama dengan kalau kita bertanya kepada perempuan tadi, “Kenapa masih pakai pesawat?” Bukankah transportasi udara adalah salah satu penyumbang polusi paling signifikan di dunia? Bahkan, pesawat adalah kendaraan umum dengan emisi terbesar per kilometernya (EEA, 2019).

Saya berandai-andai, perempuan tersebut akan menjawab, “Saat ini, naik pesawat adalah pilihan yang paling realistis.” Setidaknya untuk saat ini. Tak mungkin dia naik perahu layar dari Jakarta ke Kalimantan. Butuh waktu berhari-hari, itu pun belum tentu sampai.

Greta Thunberg, remaja paling vokal di dunia untuk isu lingkungan, menggunakan perahu layar untuk menyeberang dari Plymouth, Inggris ke New York, Amerika Serikat. Perjalanannya menyeberangi Samudera Atlantik dalam waktu empat belas hari. Perahu layarnya tak pakai mesin, hanya mengandalkan angin. Tak ada pembakaran, sehingga juga tak ada karbondioksida yang keluar.

Tapi tak semua orang memiliki privilese seperti itu. Bahkan hanya sangat sedikit yang mampu membiayai perjalanan tanpa karbon tersebut. Greta termasuk remaja yang beruntung.

Secara umum, dunia transportasi laut digerakkan oleh kapal berbahan bakar minyak. Bahkan sebenarnya Green Peace, sebuah organisasi perlindungan lingkungan yang paling solid, mengandalkan kapal berbahan bakar fosil untuk kapal-kapalnya di garis depan. Sebut saja misalnya MV Esperanza yang merupakan bekas kapal perang Soviet yang sudah pasti menggunakan BBM.

Kenapa mereka masih menggunakannya? Jawabannya sama, “Tak ada pilihan lain.” Sebenarnya ada pilihan yang bebas emisi, cepat, dan bisa mengangkut banyak, tapi sangat mahal karena bahan bakarnya adalah nuklir. Angkatan Laut Amerika menggunakannya untuk kapal-kapal perangnya. Tapi tidak mungkin kita akan berlayar dari Tanjung Priok ke Makassar, misalnya, dengan Kapal Perang Amerika.

Tiga Masalah

Sumber energi ada banyak macamnya, baik yang berasal dari energi fosil (batu bara, minyak, dan gas), maupun energi baru dan terbarukan (nuklir, panas bumi, air, surya, angin, arus laut). Namun apapun jenis energinya, pada dasarnya terjebak pada tiga masalah yang saling mengait dan kadang saling jegal dan mengorbankan satu sama lain. Masalah tersebut disebut oleh World Energy Council sebagai Energy Trilemma.

Problem dalam Energy Trilemma; pertama, energi haruslah dapat diakses semua rakyat serta murah sehingga terjangkau masyarakat luas dan juga tetap menguntungkan bagi pengusaha supaya ada keberlanjutan usaha, atau sering disebut energy equity. Kedua, energi harus ada terus-menerus, berkualitas, dan dapat diandalkan, diistilahkan energy security. Ketiga, dan ini tak kalah pentingnya, energi harus ramah lingkungan (environmental sustainability).

Intinya, energi harus murah, andal, dan ramah lingkungan. Tapi tak ada satu pun jenis sumber energi yang mampu menyelesaikan ketiga masalah tersebut sekaligus. Ada sumber energi yang murah dan andal, tapi tak ramah lingkungan. Sebaliknya, ada sumber energi yang ramah lingkungan, tapi sifatnya tak selalu bisa ditebak sehingga susah diandalkan dan juga relatif mahal.

Batu bara adalah sumber energi yang relatif ekonomis, tersedia di banyak tempat di Indonesia sehingga tidak harus mengimpor, serta sangat bisa diandalkan dalam memproduksi listrik. Itulah sebabnya PLTU batu bara dijalankan sebagai penopang beban dasar, karena sifatnya yang tidak banyak tingkah dan harga yang murah.

Batu bara bisa memenuhi kepentingan energi yang murah dan reliable. Kekurangan dari PLTU batu bara adalah dampak lingkungannya serta manuvernya yang terbatas saat operasi. Dalam operasi listrik, PLTU batu bara akan dibantu oleh Pembangkit berbahan bakar gas (PLTG) saat beban-beban puncak. Sifat PLTG lebih fleksibel, lebih lincah, dan emisi relatif lebih rendah, namun dua kali lipat lebih mahal biayanya dibanding harga listrik yang diproduksi PLTU.

Indonesia masih bergantung kepada batu bara. Sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah. Sebesar 60% energi listrik yang kita gunakan asalnya dari batu bara, sisanya adalah gas sebanyak 23%, bahan bakar minyak 4%, dan hanya 12% dari Energi Baru Terbarukan (RUKN 2019-2038). Meski demikian, secara berangsur-angsur porsi batu bara ditargetkan menurun, sehingga pada 2038 maksimal 47%, di sisi lain Energi Baru Terbarukan paling sedikit telah mencapai 28%.

Mungkin tidak kita sadari, di balik status-status Facebook kita, di belakang tema-tema besar Internet of Thing, revolusi industri 4.0, semuanya tak akan jadi kenyataan kalau listriknya tak ada. Dan listrik yang menerangi rumah kita, mengecas HP yang dipakai menulis status anti-PLTU, atau menyalakan BTS yang mengirim sinyal itu, sebagian besar berasal dari batu bara yang dibakar. Mulai dari PLTU di Halmahera hingga PLTU Nagan Raya di Aceh.

Sebenarnya ada pembangkit yang sangat ramah lingkungan. Emisinya nol, sumber energinya dari alam, nyaris ada setiap saat, dan tak perlu digali. Mereka adalah air, angin, dan tenaga matahari.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sangat andal, sangat fleksibel, dan harganya hanya sedikit di atas PLTU batu bara. Tapi sumber air tidak tersedia di semua tempat. Air yang bisa digunakan untuk pembangkit hanya pada tempat yang tinggi dan yang punya debit air yang mencukupi.

Sementara angin tidak kencang-kencang amat di daerah khatulistiwa. Tak banyak tempat di Indonesia yang potensi anginnya bagus seperti di Sulawesi Selatan, NTT, Kalimantan Selatan, dan di Sukabumi. Selain itu angin juga sifatnya angin-anginan. Kadang berembus kadang juga berhenti sama sekali.

Karena sifatnya yang berubah-ubah, prediksi yang tidak akurat dapat menyebabkan sistem kelistrikan bergoyang. Meski demikian, bukan tak berarti tak ada usaha juga. Di Indonesia telah ada dua pembangkit listrik tenaga bayu berkapasitas besar, yaitu di Sidrap (75 MW) dan Jeneponto (72 MW), keduanya di Sulawesi Selatan.

Adapun tenaga matahari sangat berlimpah di Tanah Air. Sepanjang tahun matahari bersinar. Meski kalau malam tak bisa berproduksi, kecuali energinya ditabung. Masa depan energi bersih kita ada di sini. Tapi itu di masa depan. Padahal kita butuhnya sekarang. Saat ini harganya masih mahal, meski trennya masih terus menerus menurun. Harganya belum bisa bersaing dengan PLTU batu bara.

Selain itu, energi surya juga masih belum bisa diandalkan untuk berpartisipasi menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Variabilitasnya tinggi sehingga memerlukan pembangkit pendamping atau baterai untuk menjaga ketika awan tiba-tiba lewat dan mataharinya sedang sembunyi. Untuk pembangkit pendamping ini tentu dibutuhkan juga investasi.

Tenaga surya sangat ramah lingkungan, tapi tak andal dan juga masih relatif mahal. Namun demikian telah ada beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas besar di Indonesia, di antaranya adalah PLTS Likupang 21 MW di Sulawesi Utara dan yang sedang tahap pembangunan adalah PLTS Cirata 145 MW.

Sebenarnya bisa saja pemerintah menetapkan disinsentif untuk PLTU batu bara dengan membebani pajak atau kewajiban untuk membeli sertifikat hijau seperti yang sudah dilakukan di negara-negara Eropa. Tapi dampaknya akan kembali kepada masyarakat, yaitu harus ada pihak yang membayar kenaikan tersebut. Pembangkit tersebut pasti akan meneruskan biaya produksinya kepada konsumennya. Artinya, kalau bukan masyarakat yang membayar langsung, maka negara yang membayar subsidinya.

Harus Berdamai

Saat ini dan beberapa tahun lagi kita harus berdamai dengan PLTU batu bara. Kita memerlukan listrik yang murah dan bisa diandalkan untuk mendorong produktivitas industri dan juga masyarakat. Persoalan lingkungan tak berarti harus dikesampingkan. Pelan-pelan porsi batu bara akan dikurangi sesuai dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.

Untuk memitigasi dampak lingkungannya, pengelola PLTU batu bara punya kewajiban untuk menjaga baku mutu emisi yang dikeluarkannya sesuai dengan yang telah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Akan ada hukuman pidananya bagi yang melanggar dan telah ada yang dipidanakan.

Saat ini, teknologi PLTU bersih juga semakin berkembang dengan penggunaan teknologi Ultra Super Critical yang lebih efisien dan juga gasifikasi batubara. Di lain pihak telah ada langkah-langkah awal untuk mensubstitusi batu bara dengan bahan bakar nabati berupa biomassa.

Sambil bersabar-sabar dan terus mengawasi PLTU agar menjaga mutu lingkungan maupun pertambangan batu baranya, kita bisa mendorong agar energi matahari makin banyak diminati dan digunakan di Indonesia. Pelan-pelan dengan semakin banyaknya pilihan, maka kita tak akan terjebak lagi dengan jawaban, “Tak ada pilihan lain.”

Ahmad Amiruddin, M.Sc bekerja di bidang energi, alumni MSc in Sustainable Energy Systems The University of Edinburgh

Masa Pandemi dan Kembalinya Kepakaran

Oleh : Ahmad Amiruddin

Kepakaran telah mati dan ilmu pengetahuan telah dikesampingkan. Begitu kira-kira Tom Nichols menggambarkan suramnya penghargaan terhadap pengetahuan dalam bukunya The Death of Expertise. Kita tahu bahwa akses internet yang terbuka dan informasi yang mengalir seperti air bah membuat orang lebih mudah mendapatkan rujukan dalam waktu cepat. Hanya keterbatasan paket data, waktu dan memori yang menghalangi informasi tersebut bisa terserap.

images (17).jpeg

Di sisi lain, semakin banyak ahli yang tak mau lagi turun memberikan pencerahan. Dia lebih senang berada di singgasananya dan melihat dari jauh sambil sesekali melirik sinis. Dari jarak yang jauh itu dia melihat seseorang yang dia tahu kelakuannya buruk sedang menerangkan ilmu kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami dan sangat meyakinkan, namun substansinya keliru.

Media-media dan para pemilik otoritas, karena seringnya melihat pakar abal-abal tersebut dan lebih mudah diakses untuk diwawancara, menjadi lebih sering mengundang sang pakar untuk wawancara dan untuk dimintai pendapatnya. Maka lingkaran pengetahuan makin menjauh dari jalur yang benar. Informasi salah tadi mengalir, bermuara dan mengendap dalam ingatan kolektif masyarakat tanpa bisa dicegah.

Terdapat beberapa hal yang menghalangi terjunnya para pakar yang sesungguhnya ini menyapa khalayak. Pertama, mereka tak memiliki cukup ruang untuk berbagi pengetahuan, hanya para pemilik otoritas yang mampu mengundang narasumber dan juga memiliki cukup dana untuk menyewa hotel atau ruang pertemuan. Kedua, mereka juga tak memiliki cukup waktu karena disibukkan dengan kerja-kerja profesionalnya. Ketiga, para pakar ini masih menahan diri untuk tidak tampil di publik dan tidak cukup percaya diri berhadapan langsung dengan audiens.

Pandemi Merubah Segalanya

Tapi semuanya berubah sejak masa pandemi ini datang. Ruang-ruang seminar terbuka lebar di dunia maya dan bisa dilakukan dan dikreasi oleh siapa saja. Tak perlu lagi bergantung kepada pemilik otoritas untuk membuat acara, para jelatapun bisa membuat panggungnya sendiri dan mengundang para ahli sebagai pembicara. Pelaksanaannya tak harus lagi di ruang khusus. Hanya cukup sebuah aplikasi dan gawai para peserta bisa terkumpul dalam sekejap.

Bekerja dari rumah juga memberi waktu luang kepada para ahli untuk bisa membagi ilmunya. Beberapa bulan terakhir saya mengikuti webinar dari para pakar yang sudah malang melintang puluhan tahun di bidang energi. Beberapa orang mantan menteri, mantan pembesar perusahaan besar di Indonesia, dosen-dosen ahli dan para peneliti.

Di lain pihak saya juga berkesempatan mendengar langsung para praktisi yang saat ini bekerja di banyak industri energi membagikan pengalamannya. Beberapa orang sedang membawakan materinya dari negeri yang jauh, yang saya pastikan dia akan jetlag dulu sebelum bisa membawakan materi kalau di undang memberikan ceramah di Jakarta.

Mereka semua turun, berbagi dan nampak sangat bersemangat. Para pencari ilmu juga demikian. Pengetahuan yang mereka bagikan selama ini terpendam karena tak semua para ahli memiliki platform untuk membagikan pengetahuannya. Tak semua punya akun Youtube, tak semua sering menulis di media atau di blog. Tak semua juga punya akses ke media dan institusi-intitusi resmi. Tapi sekarang mereka punya waktu, punya tempat, juga punya audiens yang mau mendengar.

Ilmu Pengetahuan Kembali Dihargai

Di sisi lain, COVID-19 menyadarkan kita pentingnya mengutamakan pengetahuan sebagai tolok ukur dalam mengambil keputusan dan tindakan. Kita tahu, sudah terlalu sering masalah di negara kita dianggap bisa diselesaikan dengan tiga hal. Pertama dengan unjuk rasa, kedua dengan deklarasi, ketiga dengan survei.

Demo berjilid-jilid di jalan juga tak akan membuat virus ini gentar. Unjuk rasa mungkin bisa mengubah keputusan manusia, menaikkan gaji atau mendorong disahkan atau tidak disahkannya sebuah aturan. Tapi tak bisa dia menggugah perasaan virus. Karena seperti kata Yuaval Noah Harari, makhluk selain manusia tak punya kesadaran bersama, juga tak percaya janji-janji sehingga tak bisa dibujuk.

Saat pandemik ini mulai berlangsung, kita akan dengan mudah menemukan di Youtube, sebuah komunitas yang mendeklarasikan kesiapan menghadapi COVID lengkap dengan yel-yel, berteriak mengepalkan tangan, dan dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Bisa dibayangkan dropletnya meluncur bermeter-meter pada saaat mereka berteriak “Yes, Yes, Yes”, dalam jarak yang cukup rapat. Sungguh sebuah tragikomedi. Yang terjadi setelah deklarasi bisa saja virus menyebar dan berbiak lewat udara yang dihirup bersama oleh para peserta deklarasi.

Ada pula lembaga survey yang melakukan sigi dan mengambil kesimpulan bahwa pada bulan Juni 2020 virus corona akan pergi dari Indonesia. Untungnya masyarakat tak percaya hasil survey tersebut. Kita semakin sadar bahwa hanya ahli virus yang mengetahui virus tersebut. Buktinya setelah “wawancara” yang dilakukan lembaga survey tersebut virus-virus tak memilih hengkang, malah bertambah di beberapa daerah.

Di lain waktu muncullah para pakar virus corona dadakan yang merasa paling tahu virus corona di Indonesia. Media dan para youtuber mewawancarai para pakar ini dan diampilifikasi oleh beberapa saluran youtube para pesohor. Kasus terakhir adalah wawancara yang dilakukan Anji dengan Hadi Pranoto. Belakangan para ahli kesehatan bereaksi dan memberikan klarifikasi. Keriuhan yang ditimbulkan oleh pakar abal-abal ini menjadikan pakar yang sesungguhnya mau tidak mau maju ke gelanggang.

Beda dengan politik yang membolehkan aksi-aksi teatrikal dan dramatisasi. Virus Corona hanya bisa dilawan dengan berbasis bukti. Bukti-bukti ilmiah tersebut harus terverifikasi, melalu riviu sejawat yang ketat dan dapat direplikasi. Banyaknya muncul para teoritikus bidang kesehatan yang tak melalui reviu ilmiah tersebut menyuburkan kesadaran kolektif di kalangan ahli, mereka harus mulai bersuara. Telah banyak dokter dan tenaga kesehatan yang bersuara dan membagikan ilmunya melalui wadah-wadah virtual.

Masa pandemi ini adalah momen kembalinya kepercayaan publik kepada para ahli yang sebenarnya. Kepakaran dihargai dan ilmu pengetahuan akan kembali menjadi rujukan. Pada banyak peristiwa kita melihat, para pakar telah kembali dan menyapa khalayak. Semoga untuk seterusnya.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog