Masa Pandemi dan Kembalinya Kepakaran

Oleh : Ahmad Amiruddin

Kepakaran telah mati dan ilmu pengetahuan telah dikesampingkan. Begitu kira-kira Tom Nichols menggambarkan suramnya penghargaan terhadap pengetahuan dalam bukunya The Death of Expertise. Kita tahu bahwa akses internet yang terbuka dan informasi yang mengalir seperti air bah membuat orang lebih mudah mendapatkan rujukan dalam waktu cepat. Hanya keterbatasan paket data, waktu dan memori yang menghalangi informasi tersebut bisa terserap.

images (17).jpeg

Di sisi lain, semakin banyak ahli yang tak mau lagi turun memberikan pencerahan. Dia lebih senang berada di singgasananya dan melihat dari jauh sambil sesekali melirik sinis. Dari jarak yang jauh itu dia melihat seseorang yang dia tahu kelakuannya buruk sedang menerangkan ilmu kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami dan sangat meyakinkan, namun substansinya keliru.

Media-media dan para pemilik otoritas, karena seringnya melihat pakar abal-abal tersebut dan lebih mudah diakses untuk diwawancara, menjadi lebih sering mengundang sang pakar untuk wawancara dan untuk dimintai pendapatnya. Maka lingkaran pengetahuan makin menjauh dari jalur yang benar. Informasi salah tadi mengalir, bermuara dan mengendap dalam ingatan kolektif masyarakat tanpa bisa dicegah.

Terdapat beberapa hal yang menghalangi terjunnya para pakar yang sesungguhnya ini menyapa khalayak. Pertama, mereka tak memiliki cukup ruang untuk berbagi pengetahuan, hanya para pemilik otoritas yang mampu mengundang narasumber dan juga memiliki cukup dana untuk menyewa hotel atau ruang pertemuan. Kedua, mereka juga tak memiliki cukup waktu karena disibukkan dengan kerja-kerja profesionalnya. Ketiga, para pakar ini masih menahan diri untuk tidak tampil di publik dan tidak cukup percaya diri berhadapan langsung dengan audiens.

Pandemi Merubah Segalanya

Tapi semuanya berubah sejak masa pandemi ini datang. Ruang-ruang seminar terbuka lebar di dunia maya dan bisa dilakukan dan dikreasi oleh siapa saja. Tak perlu lagi bergantung kepada pemilik otoritas untuk membuat acara, para jelatapun bisa membuat panggungnya sendiri dan mengundang para ahli sebagai pembicara. Pelaksanaannya tak harus lagi di ruang khusus. Hanya cukup sebuah aplikasi dan gawai para peserta bisa terkumpul dalam sekejap.

Bekerja dari rumah juga memberi waktu luang kepada para ahli untuk bisa membagi ilmunya. Beberapa bulan terakhir saya mengikuti webinar dari para pakar yang sudah malang melintang puluhan tahun di bidang energi. Beberapa orang mantan menteri, mantan pembesar perusahaan besar di Indonesia, dosen-dosen ahli dan para peneliti.

Di lain pihak saya juga berkesempatan mendengar langsung para praktisi yang saat ini bekerja di banyak industri energi membagikan pengalamannya. Beberapa orang sedang membawakan materinya dari negeri yang jauh, yang saya pastikan dia akan jetlag dulu sebelum bisa membawakan materi kalau di undang memberikan ceramah di Jakarta.

Mereka semua turun, berbagi dan nampak sangat bersemangat. Para pencari ilmu juga demikian. Pengetahuan yang mereka bagikan selama ini terpendam karena tak semua para ahli memiliki platform untuk membagikan pengetahuannya. Tak semua punya akun Youtube, tak semua sering menulis di media atau di blog. Tak semua juga punya akses ke media dan institusi-intitusi resmi. Tapi sekarang mereka punya waktu, punya tempat, juga punya audiens yang mau mendengar.

Ilmu Pengetahuan Kembali Dihargai

Di sisi lain, COVID-19 menyadarkan kita pentingnya mengutamakan pengetahuan sebagai tolok ukur dalam mengambil keputusan dan tindakan. Kita tahu, sudah terlalu sering masalah di negara kita dianggap bisa diselesaikan dengan tiga hal. Pertama dengan unjuk rasa, kedua dengan deklarasi, ketiga dengan survei.

Demo berjilid-jilid di jalan juga tak akan membuat virus ini gentar. Unjuk rasa mungkin bisa mengubah keputusan manusia, menaikkan gaji atau mendorong disahkan atau tidak disahkannya sebuah aturan. Tapi tak bisa dia menggugah perasaan virus. Karena seperti kata Yuaval Noah Harari, makhluk selain manusia tak punya kesadaran bersama, juga tak percaya janji-janji sehingga tak bisa dibujuk.

Saat pandemik ini mulai berlangsung, kita akan dengan mudah menemukan di Youtube, sebuah komunitas yang mendeklarasikan kesiapan menghadapi COVID lengkap dengan yel-yel, berteriak mengepalkan tangan, dan dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Bisa dibayangkan dropletnya meluncur bermeter-meter pada saaat mereka berteriak “Yes, Yes, Yes”, dalam jarak yang cukup rapat. Sungguh sebuah tragikomedi. Yang terjadi setelah deklarasi bisa saja virus menyebar dan berbiak lewat udara yang dihirup bersama oleh para peserta deklarasi.

Ada pula lembaga survey yang melakukan sigi dan mengambil kesimpulan bahwa pada bulan Juni 2020 virus corona akan pergi dari Indonesia. Untungnya masyarakat tak percaya hasil survey tersebut. Kita semakin sadar bahwa hanya ahli virus yang mengetahui virus tersebut. Buktinya setelah “wawancara” yang dilakukan lembaga survey tersebut virus-virus tak memilih hengkang, malah bertambah di beberapa daerah.

Di lain waktu muncullah para pakar virus corona dadakan yang merasa paling tahu virus corona di Indonesia. Media dan para youtuber mewawancarai para pakar ini dan diampilifikasi oleh beberapa saluran youtube para pesohor. Kasus terakhir adalah wawancara yang dilakukan Anji dengan Hadi Pranoto. Belakangan para ahli kesehatan bereaksi dan memberikan klarifikasi. Keriuhan yang ditimbulkan oleh pakar abal-abal ini menjadikan pakar yang sesungguhnya mau tidak mau maju ke gelanggang.

Beda dengan politik yang membolehkan aksi-aksi teatrikal dan dramatisasi. Virus Corona hanya bisa dilawan dengan berbasis bukti. Bukti-bukti ilmiah tersebut harus terverifikasi, melalu riviu sejawat yang ketat dan dapat direplikasi. Banyaknya muncul para teoritikus bidang kesehatan yang tak melalui reviu ilmiah tersebut menyuburkan kesadaran kolektif di kalangan ahli, mereka harus mulai bersuara. Telah banyak dokter dan tenaga kesehatan yang bersuara dan membagikan ilmunya melalui wadah-wadah virtual.

Masa pandemi ini adalah momen kembalinya kepercayaan publik kepada para ahli yang sebenarnya. Kepakaran dihargai dan ilmu pengetahuan akan kembali menjadi rujukan. Pada banyak peristiwa kita melihat, para pakar telah kembali dan menyapa khalayak. Semoga untuk seterusnya.

Rumah Perjuanganku, Rumah Pertamaku 

House key on keychain
Rumah Pertama (nationalmortgageprofessional.com)

“Sob, besok aku ke rumahmu ya, mau cari rumah buat dibeli.”

Begitu teman kantorku, Dani, menghubungiku hari itu. Saya masih tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah kawasan di Bekasi. Sudah tahun kedua kami di sana, setelah sebelumnya tinggal tiga tahun di Tangerang, di sebuah rumah kontrakan juga. Peristiwa itu terjadi sekitar sepuluh tahun lalu.

Tak dinyana, momen itulah yang menjadi penanda awal saya memiliki rumah. Karena saya tak ingin mengecewakan teman, maka saya berkeliling mencarikan rumah yang yang siap dipasarkan di sekitar tempat tinggal saya.

Beberapa kompleks perumahan saya datangi. Ada tiga perumahan baru dekat tempat tinggal saya. Saya mengecek lokasinya bersama istri. Dia yang punya feeling lebih bagus dalam mencari rumah. Jiwa estetikanya jauh lebih baik dibanding saya yang biasanya tak pernah rapi.

Tiba di perumahan ketiga, kami melakukan pengecekan. Secara kriteria memenuhi selera istri saya, ada banyak unit baru saat itu dibangun. Kami mengobrol dengan bagian marketingnya. Istri sayapun merekomendasikan

“Ini saja rumah yang ditunjukkan besok buat Dani, bagus ini.”

Sampai di rumah, sambil membuka-buka flyer dari pengembang perumahan tersebut kamipun berdiskusi. Lokasinya sesuai dengan bayangan rumah ideal bagi istri saya. Jalanan depannya luas, sinar matahari cukup, tidak terlalu ramai dan ukurannya standar.

Kemudian, istri saya punya ide

“Bagaimana kalau kita beli di sana saja? Kita buat tanda jadi dulu.”

Dan pada saat mengantar teman melihat-lihat rumah, kamipun memutuskan untuk memberi tanda jadi, padahal tak punya cukup uang untuk uang muka keseluruhan.

Setelah tanda jadi itu, maka dimulailah proses mencari bank yang mau memberi kredit. Untuk mencari KPR, saya mendatangi banyak bank yang mau memberi pinjaman, tapi satu-satu menyerah memberi pinjaman kalau uang muka saya tak banyak. Mereka perlu jaminan saya bisa mencicil dengan baik.

Padahal saat itu saya sudah mulai bekerja sebagai Pegawai Negeri. Tapi tak banyak yang bersedia. Mungkin saat itu slip gaji saya tidak bankable. Akhirnya hanya satu bank yang bersedia, itupun dengan bunga yang jauh lebih tinggi dibanding yang lain.

Kami kemudian mengumpulkan recehan-recehan yang tersisa, mengeluarkan semua isi tabungan dan meminjam sama keluarga untuk membayar uang muka. Ternyata itupun tak cukup, masih kurang beberapa juta lagi. Sayapun hampir menyerah, saya sudah bilang kepada marketingnya kalau uang muka yang harus disetor tidak dikurangi sesuai dengan kemampuan saya, saya akan menyerah.

Solusipun datang dari marketingnya, dia yang akan menanggung sementara sisa uang muka tersebut, dan saya tinggal membayar nanti dengan mencicil. Jadilah saya berhasil melunasi uang mukanya.

Dan tinggallah kami sekarang sekeluarga di rumah tersebut. Sebuah rumah yang menurut kami sangat ideal sesuai dengan kemampuan kami. Adapun teman saya tak jadi mengambil rumah di sana, bukan jodohnya.

Rumus Mencari Rumah Pertama

Memiliki rumah pertama adalah impian bagi setiap pasangan muda. Setiap yang baru berkeluarga punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Kamipun demikian. Lebih tepatnya istri sayapun demikian.

Saya pada awalnya tidak terlalu kepikiran untuk langsung membeli rumah. Tak ingin terburu-buru. Maunya punya uang DP yang banyak, atau kalau bisa sekalian beli tunai. Tapi logika dalam pembelian rumah ternyata tak berjalan seperti itu. Membeli rumah harus dipaksakan dan tak boleh ditunda-tunda begitu ada kesempatan.

Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat, sebagaimana di beritakan Detik pada tahun 2019 menyatakan terdapat 81 juta anak milenial yang belum memiliki rumah. Dengan seiring bertambahnya waktu maka proporsi anak milenial juga akan makin meningkat, sehingga menjadi PR serius untuk memberikan rumah layak huni.

Bagi kita-kita yang sedang dalam proses mencari rumah, jumlah banyak tersebut artinya sebuah persaingan mendapatkan rumah yang layak. Jika diberi kebebasan memilih, sebagian besar orang akan memilih lokasi rumahnya yang strategis, lingkungannya asri, jalanannya luas, fasilitasnya lengkap, keamanan terjamin, dekat dengan lokasi rumah sakit, sekolah dan daerah rekreasi.

Tapi tidak begitu rumus yang berlaku dalam mencari rumah, khususnya bagi yang keuangannya terbatas. Para pekerja muda yang baru saja merintis karier yang juga sebagian diantaranya adalah generasi yang disebut dengan generasi sandwich. Generasi sandwich adalah generasi yang tidak hanya membiayai dirinya dan keluarga kecilnya tapi juga harus membiayai orang tuanya.

Berdasarkan pengalaman saya untuk mencari rumah pertama, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik.

Pertama, mulai saja dulu. Mencari rumah sama dengan proses mencari jodoh. Rumah itu cocok-cocokan, sehingga diperlukan proses pencarian dan juga kompromistis. Karena istri saya yang kepingin sekali punya rumah, maka saya telah menemaninya mencari rumah di banyak tempat di sekitar Jabotabek, dengan macam-macam lokasi.

Proses memulai ini akan memberikan kita trigger, memberi semangat, dan juga meningkatkan kreatifitas dan keinginan untuk mengumpulkan modal membeli rumah pertama. Dalam proses memulai itulah, ketika tiba saatnya, Anda akan membunyikan tombol ketika telah bertemu rumah yang cocok.

Kedua, sedikit dipaksakan tapi ingat kemampuan. Mungkin kalau saya tidak memaksakan diri pada awalnya untuk membeli rumah, saya tidak akan tinggal di rumah yang sekarang. Dan kalau saya tidak memaksakan saat itu, maka saya akan melihat rumah di kawasan tersebut akan naik harganya di kisaran harga yang makin sulit untuk dijangkau. Setahun setelah saya membeli rumah, seorang teman membeli juga di sekitar blok rumah saya dengan harga 100 juta lebih mahal dan lebih sempit. Sekarang harga rumah di sekitar tempat saya sudah naik lebih dari dua kali lipat dibanding saat saya membeli.

Namun demikian tetap harus dihitung kemampuan kita bisa menjalani masa “pemaksaan” itu berapa lama. Tiga tahun pertama dalam mencicil rumah adalah masa yang sulit, karena itu diperlukan melakukan penghematan-penghematan pos pengeluaran lainnya. Setelah beberapa tahun biasanya cicilan itu terasa lebih ringan dikarenakan penghasilan meningkat dan juga adanya inflasi sehingga nilai uang terasa lebih kecil.

Ketiga, dengarkan kata pasangan. Ini yang saya lakukan. Kita ingin agar rumah itu menjadi surga bagi keluarga kecil kita. Kita tak ingin ada pertengkaran hanya karena tidak pernah iklas menerima bahwa itu adalah rumah yang kita pilih bersama. Bagi saya saat memilih rumah, suara istri saya 100% yang harus didengarkan, karena dia yang lebih banyak di rumah. Dia yang akan merasakan matahari yang masuk menembus jendela, angin yang masuk melalui void atau kungkungan asap kalau rumahnya tak sesuai. Pasangan harus nyaman dengan rumah yang dipilih bersama.

Saat ini semakin sulit mencari rumah dengan kategori ideal seperti yang ada di kepala saya 10 tahun lalu di sekitar Jabodetabek. Tapi semakin lama kita menunggu untuk memulai mencari rumah, maka akan semakin jauh pula kita harus berkompromi dengan kategori rumah yang kita inginkan. Segeralah memulai, sedikit paksakan, dan berdiskusilah dengan pasangan.

Bagi Anda yang sedang mencari rumah pertama, semoga segera dipertemukan dengan jodohnya.

Dari Aceh ke Skotlandia, Wanita yang Tak Pernah Menyerah

Dia wanita yang menerjang tembok dan meninju langit. Cobaan tak henti menghampirinya tapi dia setangguh karang. Istri saya bertemu dengannya ketika sama-sama mengantri di Lidl, sekitar tahun 2014, beberapa bulan sebelum saya selesai sekolah dan meninggalkan Edinburgh.

Dia menyapa istri saya langsung berbahasa Indonesia. Istri saya kaget, tapi Bu Aida sepertinya sudah biasa begitu, menyapa orang yang berwajah melayu. Dia pikir istri saya orang Malaysia, seperti banyak mahasiswi yang dikenalnya.

Setelahnya dia mengajak ke rumahnya. Ternyata flatnya hanya terpisah 100 meter dari tempatku. Kesanalah Gawa sering nonton CBeebies karena kami tak punya TV. TV harus bayar licence di Inggris. Setelah beberapa kali berbincang, istri saya mengajak, papa harus mewawancara Bu Aida, pengalaman hidupnya luar biasa.

Jadilah kemudian saya ke flatnya. Beliau sudah usia pensiun. Sebelumnya bekerja di rumah sakit sebagai cleaning selama lebih dari 30 tahun. Di usia pension dia telah menjadi warga Negara Inggris. Mantan suaminya adalah Warga Scotland. Dia punya dua anak yang tinggal di Edinburgh.

Negara membiayai kehidupan pensiun Bu Aida dari asuransi yang dibayarnya selama dia bekerja. Dia disewakan flat dan diberi tunjangan setiap pekannya. Tak ada pendidikan formalnya, dia tak pernah sekolah SD, tapi kemudian dia bisa hidup di UK. Kisah perjalanan hidupnya berliku dan penuh tantangan, tapi beliau wanita yang tangguh.

Diselingi suara TV, berikut cerita yang bisa saya sarikan dari rekaman sekitar 30 menit yang saya punyai. Beberapa logatnya kurang saya mengerti, jadi beberapa bagian saya pakai asumsi untuk membuat ceritanya mengalir. Sambil bercerita, dia lebih banyak menertawakan penderitaannya.

Aida berasal dari Aceh. Ayahnya meninggal saat umurnya 4 bulan, dan Ibu meninggal di usia 4 tahun. Dia anak bungsu dari 5 bersaudara. Setelah orang tuanya meninggal, kakaknya yang pertama sering memukulnya. Akhirnya dia pergi dengan kakak nomor dua, tapi kehidupan kakaknya sangat pas-pasan. Kakaknya tak punya apa-apa. Dia kemudian diangkat anak oleh seorang baik bernama Tuanku M di Banda Aceh.

Lain Tuanku M, lain pula istrinya. Istrinya tak suka dengan si Aida kecil. Dia sering kena cubit, sampai di masa tuanya bekasnya masih kelihatan. Kata Bu Aida, dokter di Edinburgh sampai pernah bertanya kepadanya kenapa punya banyak bekas luka.

Jari-jarinya juga melengkung tak bisa lurus karena keseringan kena hukum ditekuk. Dia memperlihatkan sambil tersenyum, “macam jari penari”. Kemudian keluarga M pindah ke kota Mdn dan Aida juga pindah ke sana. Di sana juga dia selalu dipukuli.

Akhirnya dia melarikan diri pulang ke Aceh. Kemudian tinggal di rumah seorang inspektur Polisi. Suatu hari datang surat dari anak Tuanku M yang di Mdn. Dalam surat itu dia menganggap Aida kecil seperti adiknya sendiri, dan Aidapun kembali ke Mdn lagi.

Aida kemudian tinggal di Mdn bersama keluarga Tuanku M. Dia tak pernah sekolah, meski diam2 belajar membaca. Dan salah satu anak gadis Tuanku M yanh bernama Tengku Z menikah dengan anak seorang Sultan. Aida kemudian diikutkan oleh Keluarga Tengku Z masuk ke Malaysia sekitar 1962 dan tinggal di daerah Petaling Jaya. Di Malaysia pernah diajaknya kawin lari seorang perantau asal Medan yang suka kepadanya, tapi sang pria tak berani.

Lalu keluarga itu bersama Aida pindah ke Singapura dan tinggal di flat. Beberapa penghuni flat sekitar heran, kenapa flat tempat bu Aida selalu bising, “dia pukulin kita” kata Bu Aida. Seperti Ibunya, Tengku Z juga tak kalah garangnya, kata Bu Aida, suaminyapun sering dia labrak.

Berkenalanlah dia dengan seorang perantau lain asal Aceh bernama Ramlah. Dan dari sanalah dia merencanakan lari dari keluarga Tengku Z. Awalnya mereka berdua berniat untuk melaporkan ke polisi, tapi tak jadi, resikonya lebih besar bagi mereka.

Akhirnya Aida berhasil pergi. Ramlah bekerja pada penjual nasi dan menikah dengannya. Aida kerja di sebuah toko orang India. Waktu dia lari paspornya sebenarnya masih ditahan di lemarinya Tengku Z. Tapi untung dia masih punya KTP. Setelah 13 tahun di Singapur. Suatu hari dia diajak oleh temannya ke Johor Bahru. Tapi ketika mau masuk Singapur dia tertahan di Johor karena working permitnya sudah habis.

Ada temannya yang mengajaknya bekerja di bar, dan saat hari pertama di bar itulah dia bertemu dengan suaminya yang orang Scotlandia. Saat itu dia belum bisa bahasa Inggris.

Kemudian mereka menikah dan boyong ke Scotland. Bu Aida kemudian bekerja di Rumah Sakit di Scoltand sebagai cleaning. Kwarganegaraannya juga berubah, sudah menjadi warga negara UK. Saat Scotland Referendum, dia ada diantara para imigran yang mendukung Scotland berpisah dari UK. Setelah menikah dan punya anak, cobaan tak berhenti. Suaminya selingkuh yang didapatinya sendiri di dalam rumahnya. Dia kemudian menggugat cerai.

Nama-nama di atas sengaja saya kaburkan karena ternyata setelah saya googling dan tracking keluarga yang ditgempati Bu Aida adalah salah satu keluarga kerajaan di Sumatera, persis dengan yang diceritakan Bu Aida nama-namanya.

“Anak kakak angkat saya meninggal saat bertugas menerbangkan pesawat saat menolong ketika bencana terbesar abad ini menimpa dunia”, begitu kira-kira bu Aida bercerita.

Ternyata di balik aktor-aktor utama yang tampil, bisa jadi ada pemain figuran yang babak belur dan menyimpan cerita penuh derita hingga berpuluh tahun.

***

Setelah saya pulang ke Indonesia, saya masih sempat berkabar dengan Bu Aida. Dia tak bisa medsosan dan hanya punya HP analog. Tiga kali kami berkirim surat. Dia sangat senang, tapi di balik ceritanya dia bilang matanya mulai kabur, khususnya yang sebelah kiri. Pernah juga saya titip emping lewat Aulia, kawan yang ikut wisuda ke Edinburgh.

Bu Aida lebih banyak menghabiskan waktunya beribadah. Jumatan biasanya di Central Mosque Edinburgh dan bercengkerama dengan orang Indonesia atau Malaysia di sana. Bu Aida juga sudah pernah menunaikan Ibadah haji.

Tanggal 29 Mei, warga Indonesia di Edinburgh, Bu Yufrita, mengabarkan kalau dia menemukan Bu Aida terbaring di pintu kamar mandi dalam keadaan setengah sadar, dia kemudian membawanya ke rumah sakit untuk perawatan. Meski masih ceria tapi keadaannya makin memburuk.

Dan Pagi ini, saya mendengar kabar duka dari Edinburgh. Bu Aida telah berpulang setelah memenangkan segala rintangan hidupnya.

Padanya kita bisa belajar, kesabaran, keberanian dan keteguhan hati. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Selamat jalan Bu Aida. Al Fatihah.

Setelah kemarin seorang sahabat berpulang dan akan selalu saya ingat karena kebaikannya, hari ini seorang wanita teguh telah juga berpulang.

Keduanya memberi kenangan pada saya. Dengan apa kita akan dikenang ketika pergi?

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog