Berdamai dengan PLTU Batubara

Oleh : Ahmad Amiruddin

(Tulisan tayang perdana di Detik.com tanggal 22 Juli 2020 dan menjadi bahasan di rubrik fokus utama Majalah Listrik Indonesia, 15 Agustus 2020)

***

pltupaiton230319-3
PLTU Paiton (Bisnis.com)

“Omong kosong PLTU bersih”

Persis di depan saya berdiri seorang perempuan dengan goody bag bertuliskan itu. Baling-baling pesawat baru saja berhenti berputar. Kami sedang turun dari tangga pesawat di sebuah bandara di Kalimantan. Pulau dengan banyak tambang batu bara. Udara terasa panas, tapi untungnya angin berembus cukup kencang. Sementara proklamasi di tas tersebut berputar-putar di kepala saya.

Tak ada yang salah dengan tulisan tersebut. Tak ada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang benar-benar bersih 100%. Tapi kenapa kita masih menggunakannya? Jawabannya persis sama dengan kalau kita bertanya kepada perempuan tadi, “Kenapa masih pakai pesawat?” Bukankah transportasi udara adalah salah satu penyumbang polusi paling signifikan di dunia? Bahkan, pesawat adalah kendaraan umum dengan emisi terbesar per kilometernya (EEA, 2019).

Saya berandai-andai, perempuan tersebut akan menjawab, “Saat ini, naik pesawat adalah pilihan yang paling realistis.” Setidaknya untuk saat ini. Tak mungkin dia naik perahu layar dari Jakarta ke Kalimantan. Butuh waktu berhari-hari, itu pun belum tentu sampai.

Greta Thunberg, remaja paling vokal di dunia untuk isu lingkungan, menggunakan perahu layar untuk menyeberang dari Plymouth, Inggris ke New York, Amerika Serikat. Perjalanannya menyeberangi Samudera Atlantik dalam waktu empat belas hari. Perahu layarnya tak pakai mesin, hanya mengandalkan angin. Tak ada pembakaran, sehingga juga tak ada karbondioksida yang keluar.

Tapi tak semua orang memiliki privilese seperti itu. Bahkan hanya sangat sedikit yang mampu membiayai perjalanan tanpa karbon tersebut. Greta termasuk remaja yang beruntung.

Secara umum, dunia transportasi laut digerakkan oleh kapal berbahan bakar minyak. Bahkan sebenarnya Green Peace, sebuah organisasi perlindungan lingkungan yang paling solid, mengandalkan kapal berbahan bakar fosil untuk kapal-kapalnya di garis depan. Sebut saja misalnya MV Esperanza yang merupakan bekas kapal perang Soviet yang sudah pasti menggunakan BBM.

Kenapa mereka masih menggunakannya? Jawabannya sama, “Tak ada pilihan lain.” Sebenarnya ada pilihan yang bebas emisi, cepat, dan bisa mengangkut banyak, tapi sangat mahal karena bahan bakarnya adalah nuklir. Angkatan Laut Amerika menggunakannya untuk kapal-kapal perangnya. Tapi tidak mungkin kita akan berlayar dari Tanjung Priok ke Makassar, misalnya, dengan Kapal Perang Amerika.

Tiga Masalah

Sumber energi ada banyak macamnya, baik yang berasal dari energi fosil (batu bara, minyak, dan gas), maupun energi baru dan terbarukan (nuklir, panas bumi, air, surya, angin, arus laut). Namun apapun jenis energinya, pada dasarnya terjebak pada tiga masalah yang saling mengait dan kadang saling jegal dan mengorbankan satu sama lain. Masalah tersebut disebut oleh World Energy Council sebagai Energy Trilemma.

Problem dalam Energy Trilemma; pertama, energi haruslah dapat diakses semua rakyat serta murah sehingga terjangkau masyarakat luas dan juga tetap menguntungkan bagi pengusaha supaya ada keberlanjutan usaha, atau sering disebut energy equity. Kedua, energi harus ada terus-menerus, berkualitas, dan dapat diandalkan, diistilahkan energy security. Ketiga, dan ini tak kalah pentingnya, energi harus ramah lingkungan (environmental sustainability).

Intinya, energi harus murah, andal, dan ramah lingkungan. Tapi tak ada satu pun jenis sumber energi yang mampu menyelesaikan ketiga masalah tersebut sekaligus. Ada sumber energi yang murah dan andal, tapi tak ramah lingkungan. Sebaliknya, ada sumber energi yang ramah lingkungan, tapi sifatnya tak selalu bisa ditebak sehingga susah diandalkan dan juga relatif mahal.

Batu bara adalah sumber energi yang relatif ekonomis, tersedia di banyak tempat di Indonesia sehingga tidak harus mengimpor, serta sangat bisa diandalkan dalam memproduksi listrik. Itulah sebabnya PLTU batu bara dijalankan sebagai penopang beban dasar, karena sifatnya yang tidak banyak tingkah dan harga yang murah.

Batu bara bisa memenuhi kepentingan energi yang murah dan reliable. Kekurangan dari PLTU batu bara adalah dampak lingkungannya serta manuvernya yang terbatas saat operasi. Dalam operasi listrik, PLTU batu bara akan dibantu oleh Pembangkit berbahan bakar gas (PLTG) saat beban-beban puncak. Sifat PLTG lebih fleksibel, lebih lincah, dan emisi relatif lebih rendah, namun dua kali lipat lebih mahal biayanya dibanding harga listrik yang diproduksi PLTU.

Indonesia masih bergantung kepada batu bara. Sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah. Sebesar 60% energi listrik yang kita gunakan asalnya dari batu bara, sisanya adalah gas sebanyak 23%, bahan bakar minyak 4%, dan hanya 12% dari Energi Baru Terbarukan (RUKN 2019-2038). Meski demikian, secara berangsur-angsur porsi batu bara ditargetkan menurun, sehingga pada 2038 maksimal 47%, di sisi lain Energi Baru Terbarukan paling sedikit telah mencapai 28%.

Mungkin tidak kita sadari, di balik status-status Facebook kita, di belakang tema-tema besar Internet of Thing, revolusi industri 4.0, semuanya tak akan jadi kenyataan kalau listriknya tak ada. Dan listrik yang menerangi rumah kita, mengecas HP yang dipakai menulis status anti-PLTU, atau menyalakan BTS yang mengirim sinyal itu, sebagian besar berasal dari batu bara yang dibakar. Mulai dari PLTU di Halmahera hingga PLTU Nagan Raya di Aceh.

Sebenarnya ada pembangkit yang sangat ramah lingkungan. Emisinya nol, sumber energinya dari alam, nyaris ada setiap saat, dan tak perlu digali. Mereka adalah air, angin, dan tenaga matahari.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sangat andal, sangat fleksibel, dan harganya hanya sedikit di atas PLTU batu bara. Tapi sumber air tidak tersedia di semua tempat. Air yang bisa digunakan untuk pembangkit hanya pada tempat yang tinggi dan yang punya debit air yang mencukupi.

Sementara angin tidak kencang-kencang amat di daerah khatulistiwa. Tak banyak tempat di Indonesia yang potensi anginnya bagus seperti di Sulawesi Selatan, NTT, Kalimantan Selatan, dan di Sukabumi. Selain itu angin juga sifatnya angin-anginan. Kadang berembus kadang juga berhenti sama sekali.

Karena sifatnya yang berubah-ubah, prediksi yang tidak akurat dapat menyebabkan sistem kelistrikan bergoyang. Meski demikian, bukan tak berarti tak ada usaha juga. Di Indonesia telah ada dua pembangkit listrik tenaga bayu berkapasitas besar, yaitu di Sidrap (75 MW) dan Jeneponto (72 MW), keduanya di Sulawesi Selatan.

Adapun tenaga matahari sangat berlimpah di Tanah Air. Sepanjang tahun matahari bersinar. Meski kalau malam tak bisa berproduksi, kecuali energinya ditabung. Masa depan energi bersih kita ada di sini. Tapi itu di masa depan. Padahal kita butuhnya sekarang. Saat ini harganya masih mahal, meski trennya masih terus menerus menurun. Harganya belum bisa bersaing dengan PLTU batu bara.

Selain itu, energi surya juga masih belum bisa diandalkan untuk berpartisipasi menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Variabilitasnya tinggi sehingga memerlukan pembangkit pendamping atau baterai untuk menjaga ketika awan tiba-tiba lewat dan mataharinya sedang sembunyi. Untuk pembangkit pendamping ini tentu dibutuhkan juga investasi.

Tenaga surya sangat ramah lingkungan, tapi tak andal dan juga masih relatif mahal. Namun demikian telah ada beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas besar di Indonesia, di antaranya adalah PLTS Likupang 21 MW di Sulawesi Utara dan yang sedang tahap pembangunan adalah PLTS Cirata 145 MW.

Sebenarnya bisa saja pemerintah menetapkan disinsentif untuk PLTU batu bara dengan membebani pajak atau kewajiban untuk membeli sertifikat hijau seperti yang sudah dilakukan di negara-negara Eropa. Tapi dampaknya akan kembali kepada masyarakat, yaitu harus ada pihak yang membayar kenaikan tersebut. Pembangkit tersebut pasti akan meneruskan biaya produksinya kepada konsumennya. Artinya, kalau bukan masyarakat yang membayar langsung, maka negara yang membayar subsidinya.

Harus Berdamai

Saat ini dan beberapa tahun lagi kita harus berdamai dengan PLTU batu bara. Kita memerlukan listrik yang murah dan bisa diandalkan untuk mendorong produktivitas industri dan juga masyarakat. Persoalan lingkungan tak berarti harus dikesampingkan. Pelan-pelan porsi batu bara akan dikurangi sesuai dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.

Untuk memitigasi dampak lingkungannya, pengelola PLTU batu bara punya kewajiban untuk menjaga baku mutu emisi yang dikeluarkannya sesuai dengan yang telah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Akan ada hukuman pidananya bagi yang melanggar dan telah ada yang dipidanakan.

Saat ini, teknologi PLTU bersih juga semakin berkembang dengan penggunaan teknologi Ultra Super Critical yang lebih efisien dan juga gasifikasi batubara. Di lain pihak telah ada langkah-langkah awal untuk mensubstitusi batu bara dengan bahan bakar nabati berupa biomassa.

Sambil bersabar-sabar dan terus mengawasi PLTU agar menjaga mutu lingkungan maupun pertambangan batu baranya, kita bisa mendorong agar energi matahari makin banyak diminati dan digunakan di Indonesia. Pelan-pelan dengan semakin banyaknya pilihan, maka kita tak akan terjebak lagi dengan jawaban, “Tak ada pilihan lain.”

Ahmad Amiruddin, M.Sc bekerja di bidang energi, alumni MSc in Sustainable Energy Systems The University of Edinburgh

Masa Pandemi dan Kembalinya Kepakaran

Oleh : Ahmad Amiruddin

Kepakaran telah mati dan ilmu pengetahuan telah dikesampingkan. Begitu kira-kira Tom Nichols menggambarkan suramnya penghargaan terhadap pengetahuan dalam bukunya The Death of Expertise. Kita tahu bahwa akses internet yang terbuka dan informasi yang mengalir seperti air bah membuat orang lebih mudah mendapatkan rujukan dalam waktu cepat. Hanya keterbatasan paket data, waktu dan memori yang menghalangi informasi tersebut bisa terserap.

images (17).jpeg

Di sisi lain, semakin banyak ahli yang tak mau lagi turun memberikan pencerahan. Dia lebih senang berada di singgasananya dan melihat dari jauh sambil sesekali melirik sinis. Dari jarak yang jauh itu dia melihat seseorang yang dia tahu kelakuannya buruk sedang menerangkan ilmu kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami dan sangat meyakinkan, namun substansinya keliru.

Media-media dan para pemilik otoritas, karena seringnya melihat pakar abal-abal tersebut dan lebih mudah diakses untuk diwawancara, menjadi lebih sering mengundang sang pakar untuk wawancara dan untuk dimintai pendapatnya. Maka lingkaran pengetahuan makin menjauh dari jalur yang benar. Informasi salah tadi mengalir, bermuara dan mengendap dalam ingatan kolektif masyarakat tanpa bisa dicegah.

Terdapat beberapa hal yang menghalangi terjunnya para pakar yang sesungguhnya ini menyapa khalayak. Pertama, mereka tak memiliki cukup ruang untuk berbagi pengetahuan, hanya para pemilik otoritas yang mampu mengundang narasumber dan juga memiliki cukup dana untuk menyewa hotel atau ruang pertemuan. Kedua, mereka juga tak memiliki cukup waktu karena disibukkan dengan kerja-kerja profesionalnya. Ketiga, para pakar ini masih menahan diri untuk tidak tampil di publik dan tidak cukup percaya diri berhadapan langsung dengan audiens.

Pandemi Merubah Segalanya

Tapi semuanya berubah sejak masa pandemi ini datang. Ruang-ruang seminar terbuka lebar di dunia maya dan bisa dilakukan dan dikreasi oleh siapa saja. Tak perlu lagi bergantung kepada pemilik otoritas untuk membuat acara, para jelatapun bisa membuat panggungnya sendiri dan mengundang para ahli sebagai pembicara. Pelaksanaannya tak harus lagi di ruang khusus. Hanya cukup sebuah aplikasi dan gawai para peserta bisa terkumpul dalam sekejap.

Bekerja dari rumah juga memberi waktu luang kepada para ahli untuk bisa membagi ilmunya. Beberapa bulan terakhir saya mengikuti webinar dari para pakar yang sudah malang melintang puluhan tahun di bidang energi. Beberapa orang mantan menteri, mantan pembesar perusahaan besar di Indonesia, dosen-dosen ahli dan para peneliti.

Di lain pihak saya juga berkesempatan mendengar langsung para praktisi yang saat ini bekerja di banyak industri energi membagikan pengalamannya. Beberapa orang sedang membawakan materinya dari negeri yang jauh, yang saya pastikan dia akan jetlag dulu sebelum bisa membawakan materi kalau di undang memberikan ceramah di Jakarta.

Mereka semua turun, berbagi dan nampak sangat bersemangat. Para pencari ilmu juga demikian. Pengetahuan yang mereka bagikan selama ini terpendam karena tak semua para ahli memiliki platform untuk membagikan pengetahuannya. Tak semua punya akun Youtube, tak semua sering menulis di media atau di blog. Tak semua juga punya akses ke media dan institusi-intitusi resmi. Tapi sekarang mereka punya waktu, punya tempat, juga punya audiens yang mau mendengar.

Ilmu Pengetahuan Kembali Dihargai

Di sisi lain, COVID-19 menyadarkan kita pentingnya mengutamakan pengetahuan sebagai tolok ukur dalam mengambil keputusan dan tindakan. Kita tahu, sudah terlalu sering masalah di negara kita dianggap bisa diselesaikan dengan tiga hal. Pertama dengan unjuk rasa, kedua dengan deklarasi, ketiga dengan survei.

Demo berjilid-jilid di jalan juga tak akan membuat virus ini gentar. Unjuk rasa mungkin bisa mengubah keputusan manusia, menaikkan gaji atau mendorong disahkan atau tidak disahkannya sebuah aturan. Tapi tak bisa dia menggugah perasaan virus. Karena seperti kata Yuaval Noah Harari, makhluk selain manusia tak punya kesadaran bersama, juga tak percaya janji-janji sehingga tak bisa dibujuk.

Saat pandemik ini mulai berlangsung, kita akan dengan mudah menemukan di Youtube, sebuah komunitas yang mendeklarasikan kesiapan menghadapi COVID lengkap dengan yel-yel, berteriak mengepalkan tangan, dan dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Bisa dibayangkan dropletnya meluncur bermeter-meter pada saaat mereka berteriak “Yes, Yes, Yes”, dalam jarak yang cukup rapat. Sungguh sebuah tragikomedi. Yang terjadi setelah deklarasi bisa saja virus menyebar dan berbiak lewat udara yang dihirup bersama oleh para peserta deklarasi.

Ada pula lembaga survey yang melakukan sigi dan mengambil kesimpulan bahwa pada bulan Juni 2020 virus corona akan pergi dari Indonesia. Untungnya masyarakat tak percaya hasil survey tersebut. Kita semakin sadar bahwa hanya ahli virus yang mengetahui virus tersebut. Buktinya setelah “wawancara” yang dilakukan lembaga survey tersebut virus-virus tak memilih hengkang, malah bertambah di beberapa daerah.

Di lain waktu muncullah para pakar virus corona dadakan yang merasa paling tahu virus corona di Indonesia. Media dan para youtuber mewawancarai para pakar ini dan diampilifikasi oleh beberapa saluran youtube para pesohor. Kasus terakhir adalah wawancara yang dilakukan Anji dengan Hadi Pranoto. Belakangan para ahli kesehatan bereaksi dan memberikan klarifikasi. Keriuhan yang ditimbulkan oleh pakar abal-abal ini menjadikan pakar yang sesungguhnya mau tidak mau maju ke gelanggang.

Beda dengan politik yang membolehkan aksi-aksi teatrikal dan dramatisasi. Virus Corona hanya bisa dilawan dengan berbasis bukti. Bukti-bukti ilmiah tersebut harus terverifikasi, melalu riviu sejawat yang ketat dan dapat direplikasi. Banyaknya muncul para teoritikus bidang kesehatan yang tak melalui reviu ilmiah tersebut menyuburkan kesadaran kolektif di kalangan ahli, mereka harus mulai bersuara. Telah banyak dokter dan tenaga kesehatan yang bersuara dan membagikan ilmunya melalui wadah-wadah virtual.

Masa pandemi ini adalah momen kembalinya kepercayaan publik kepada para ahli yang sebenarnya. Kepakaran dihargai dan ilmu pengetahuan akan kembali menjadi rujukan. Pada banyak peristiwa kita melihat, para pakar telah kembali dan menyapa khalayak. Semoga untuk seterusnya.

Rumah Perjuanganku, Rumah Pertamaku 

House key on keychain
Rumah Pertama (nationalmortgageprofessional.com)

“Sob, besok aku ke rumahmu ya, mau cari rumah buat dibeli.”

Begitu teman kantorku, Dani, menghubungiku hari itu. Saya masih tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah kawasan di Bekasi. Sudah tahun kedua kami di sana, setelah sebelumnya tinggal tiga tahun di Tangerang, di sebuah rumah kontrakan juga. Peristiwa itu terjadi sekitar sepuluh tahun lalu.

Tak dinyana, momen itulah yang menjadi penanda awal saya memiliki rumah. Karena saya tak ingin mengecewakan teman, maka saya berkeliling mencarikan rumah yang yang siap dipasarkan di sekitar tempat tinggal saya.

Beberapa kompleks perumahan saya datangi. Ada tiga perumahan baru dekat tempat tinggal saya. Saya mengecek lokasinya bersama istri. Dia yang punya feeling lebih bagus dalam mencari rumah. Jiwa estetikanya jauh lebih baik dibanding saya yang biasanya tak pernah rapi.

Tiba di perumahan ketiga, kami melakukan pengecekan. Secara kriteria memenuhi selera istri saya, ada banyak unit baru saat itu dibangun. Kami mengobrol dengan bagian marketingnya. Istri sayapun merekomendasikan

“Ini saja rumah yang ditunjukkan besok buat Dani, bagus ini.”

Sampai di rumah, sambil membuka-buka flyer dari pengembang perumahan tersebut kamipun berdiskusi. Lokasinya sesuai dengan bayangan rumah ideal bagi istri saya. Jalanan depannya luas, sinar matahari cukup, tidak terlalu ramai dan ukurannya standar.

Kemudian, istri saya punya ide

“Bagaimana kalau kita beli di sana saja? Kita buat tanda jadi dulu.”

Dan pada saat mengantar teman melihat-lihat rumah, kamipun memutuskan untuk memberi tanda jadi, padahal tak punya cukup uang untuk uang muka keseluruhan.

Setelah tanda jadi itu, maka dimulailah proses mencari bank yang mau memberi kredit. Untuk mencari KPR, saya mendatangi banyak bank yang mau memberi pinjaman, tapi satu-satu menyerah memberi pinjaman kalau uang muka saya tak banyak. Mereka perlu jaminan saya bisa mencicil dengan baik.

Padahal saat itu saya sudah mulai bekerja sebagai Pegawai Negeri. Tapi tak banyak yang bersedia. Mungkin saat itu slip gaji saya tidak bankable. Akhirnya hanya satu bank yang bersedia, itupun dengan bunga yang jauh lebih tinggi dibanding yang lain.

Kami kemudian mengumpulkan recehan-recehan yang tersisa, mengeluarkan semua isi tabungan dan meminjam sama keluarga untuk membayar uang muka. Ternyata itupun tak cukup, masih kurang beberapa juta lagi. Sayapun hampir menyerah, saya sudah bilang kepada marketingnya kalau uang muka yang harus disetor tidak dikurangi sesuai dengan kemampuan saya, saya akan menyerah.

Solusipun datang dari marketingnya, dia yang akan menanggung sementara sisa uang muka tersebut, dan saya tinggal membayar nanti dengan mencicil. Jadilah saya berhasil melunasi uang mukanya.

Dan tinggallah kami sekarang sekeluarga di rumah tersebut. Sebuah rumah yang menurut kami sangat ideal sesuai dengan kemampuan kami. Adapun teman saya tak jadi mengambil rumah di sana, bukan jodohnya.

Rumus Mencari Rumah Pertama

Memiliki rumah pertama adalah impian bagi setiap pasangan muda. Setiap yang baru berkeluarga punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Kamipun demikian. Lebih tepatnya istri sayapun demikian.

Saya pada awalnya tidak terlalu kepikiran untuk langsung membeli rumah. Tak ingin terburu-buru. Maunya punya uang DP yang banyak, atau kalau bisa sekalian beli tunai. Tapi logika dalam pembelian rumah ternyata tak berjalan seperti itu. Membeli rumah harus dipaksakan dan tak boleh ditunda-tunda begitu ada kesempatan.

Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat, sebagaimana di beritakan Detik pada tahun 2019 menyatakan terdapat 81 juta anak milenial yang belum memiliki rumah. Dengan seiring bertambahnya waktu maka proporsi anak milenial juga akan makin meningkat, sehingga menjadi PR serius untuk memberikan rumah layak huni.

Bagi kita-kita yang sedang dalam proses mencari rumah, jumlah banyak tersebut artinya sebuah persaingan mendapatkan rumah yang layak. Jika diberi kebebasan memilih, sebagian besar orang akan memilih lokasi rumahnya yang strategis, lingkungannya asri, jalanannya luas, fasilitasnya lengkap, keamanan terjamin, dekat dengan lokasi rumah sakit, sekolah dan daerah rekreasi.

Tapi tidak begitu rumus yang berlaku dalam mencari rumah, khususnya bagi yang keuangannya terbatas. Para pekerja muda yang baru saja merintis karier yang juga sebagian diantaranya adalah generasi yang disebut dengan generasi sandwich. Generasi sandwich adalah generasi yang tidak hanya membiayai dirinya dan keluarga kecilnya tapi juga harus membiayai orang tuanya.

Berdasarkan pengalaman saya untuk mencari rumah pertama, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik.

Pertama, mulai saja dulu. Mencari rumah sama dengan proses mencari jodoh. Rumah itu cocok-cocokan, sehingga diperlukan proses pencarian dan juga kompromistis. Karena istri saya yang kepingin sekali punya rumah, maka saya telah menemaninya mencari rumah di banyak tempat di sekitar Jabotabek, dengan macam-macam lokasi.

Proses memulai ini akan memberikan kita trigger, memberi semangat, dan juga meningkatkan kreatifitas dan keinginan untuk mengumpulkan modal membeli rumah pertama. Dalam proses memulai itulah, ketika tiba saatnya, Anda akan membunyikan tombol ketika telah bertemu rumah yang cocok.

Kedua, sedikit dipaksakan tapi ingat kemampuan. Mungkin kalau saya tidak memaksakan diri pada awalnya untuk membeli rumah, saya tidak akan tinggal di rumah yang sekarang. Dan kalau saya tidak memaksakan saat itu, maka saya akan melihat rumah di kawasan tersebut akan naik harganya di kisaran harga yang makin sulit untuk dijangkau. Setahun setelah saya membeli rumah, seorang teman membeli juga di sekitar blok rumah saya dengan harga 100 juta lebih mahal dan lebih sempit. Sekarang harga rumah di sekitar tempat saya sudah naik lebih dari dua kali lipat dibanding saat saya membeli.

Namun demikian tetap harus dihitung kemampuan kita bisa menjalani masa “pemaksaan” itu berapa lama. Tiga tahun pertama dalam mencicil rumah adalah masa yang sulit, karena itu diperlukan melakukan penghematan-penghematan pos pengeluaran lainnya. Setelah beberapa tahun biasanya cicilan itu terasa lebih ringan dikarenakan penghasilan meningkat dan juga adanya inflasi sehingga nilai uang terasa lebih kecil.

Ketiga, dengarkan kata pasangan. Ini yang saya lakukan. Kita ingin agar rumah itu menjadi surga bagi keluarga kecil kita. Kita tak ingin ada pertengkaran hanya karena tidak pernah iklas menerima bahwa itu adalah rumah yang kita pilih bersama. Bagi saya saat memilih rumah, suara istri saya 100% yang harus didengarkan, karena dia yang lebih banyak di rumah. Dia yang akan merasakan matahari yang masuk menembus jendela, angin yang masuk melalui void atau kungkungan asap kalau rumahnya tak sesuai. Pasangan harus nyaman dengan rumah yang dipilih bersama.

Saat ini semakin sulit mencari rumah dengan kategori ideal seperti yang ada di kepala saya 10 tahun lalu di sekitar Jabodetabek. Tapi semakin lama kita menunggu untuk memulai mencari rumah, maka akan semakin jauh pula kita harus berkompromi dengan kategori rumah yang kita inginkan. Segeralah memulai, sedikit paksakan, dan berdiskusilah dengan pasangan.

Bagi Anda yang sedang mencari rumah pertama, semoga segera dipertemukan dengan jodohnya.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog