Makanan Bugis Makassar Yang Kurindukan

Lidah memang tak bisa bohong, dan sejarah rasa yang pernah melewatinya akan terus tersimpan dalam memori, mengendap dan meruap sekali-kali ketika lama tak bertemu makanan serupa. Saya lahir dan besar di daerah Sulawesi Selatan, tentu saja lidah dan indera saya sudah menyatu dengan rasa masakan dari sana. Indonesia yang luas membuat selera orang bisa berbeda tergantung dari sejarah perkenalan lidahnya. Orang Padang akan selalu merindukan Rendang, orang Palembang akan selalu merindukan mpek-mpek dan orang Sunda mungkin akan selalu merindukan Karedok.  Dari tanah yang jauh ini, saya kadang-kadang bermimpi ( benar-benar bermimpi dalam tidur) beberapa masakan berikut ini:

1. COTO MAKASSAR

14262_1156892324117_3952321_n
Coto Makassar

Coto Makassar adalah salah satu makanan paling enak dari tanah Makassar. Kalau mau disebut khas Indonesia, inilah mungkin salah satu masakan paling Indonesia. Tak seperti nasi goreng yang juga di klaim sebagai masakan khas Negara tetangga, coto hanya ada di Indonesia. Coto di Makassar dan di Jakarta biasanya berbeda rasanya, karena nampaknya para penjual coto di luar Makassar berusaha menyesuaikan rasanya dengan lidah orang setempat. Di Jakarta, setahu saya, coto yang paling Makassar berada di Daerah Senen, Jalan Kramat. Kalau anda sering lewat di bilangan atrium senen, maka dibelakang para penjual Nasi Kapau yang berjejer di Jalan Kramat, terdapat Warung Coto yang rasanya comparable dengan rasa coto di Makassar. Anda boleh berdebat dengan orang Makassar yang pernah makan coto di Senen dengan yang pernah makan coto di Ampera, Kelapa Gading, Dewi Sartika, atau di Tebet, survey akan membuktikan kelezatan rasa coto di Senen mendekati rasa coto di Makassar.

Kalau di Makassar bagaimana? Ada banyak warung coto di Makassar dan hampir semuanya enak. Yang paling ramai sekarang adalah Coto Nusantara. Tentu orang juga boleh berdebat, coto yang mana yang lebih enak, ada yang bilang Coto Maros di Jalan Urip, Coto Gagak, Coto Paraikatte, buat saya semuanya enak. Cuma yang paling sering saya datangi kalau ke Makassar adalah Coto Nusantara. Selain dari warung coto tersebut, coto yang paling enak adalah buatan istri saya. Setiap tahun, kami mengundang teman-teman Makassar yang berdomisili di Jakarta untuk menikmati makan coto bersama di rumah kami. Tak ada yang makan hanya semangkok, pastinya nambah kalau di rumah, entah karena gratis atau karena enak atau perpaduan keduanya, dan kami senang karenanya. Salah satu kenikmatan bagi orang bugis adalah melihat tamunya melahap dengan nikmat makanan yang disajikan.

Rasa coto sangat khas, percampuran rempah dan kacang dengan kuah yang kental. Saya tak tahu persis, tapi Istri saya tahu membuatnya. Biasanya coto dimakan bersama Ketupat, kacang, ditaburi daun bawang dan jeruk nipis. Daun bawang dan bawang goreng yang banyak adalah salah satu yang membuat coto enak disamping sambel yang dicampur tauco.

Daging untuk coto adalah daging sapi. Macam-macam jenisnya, tergantung selera pemirsa. Ada daging (bener-bener daging saja), lidah, otak, limpa, paru, hati, jantung, babat (handuk kalau kata orang Makassar), yang diiiris kecil dan dicampur dengan  kuah. Pencampuran antara jenis-jenis daging ini melahirkan banyak istilah dalam dunia penggemar coto, seperti: Hadija : Hati Daging Jantung; Hatija : Hati Jantung Halija : Hati Lidah Jantung. Masih banyak istrilah lainnya. Tapi kalau saya penggemar, CAMPUR saja. Yang berarti masing-masing jenis daging tadi mendapat tempat di mangkok.

Seperti tradisi minum teh di Jepang, cotopun sebenarnya ada aturannya. Mulai dari jenis dan rupa mangkok yang digunakan, jenis sendok, maupun cara makan ketupat mempunyai cara yang kalau salah satu unsur tidak terpenuhi, rasanya akan ada yang kurang dalam menikmati coto.

2. KAJU TETTU (SAYUR TUMBUK)

14262_1156845842955_807714_n
Kaju Tettu (Sayur Tumbuk) (sumber : FB Tul Faidah)

Ini adalah jenis masakan sayur khas bugis. Di kampong saya semua bahannya bisa didapatkan di dekat rumah. Ada tiga macam percampuran bahan di sayur ini. Daun Singkong yang masih muda yang ditumbuk bersama jantung pisang dan ditambah dengan parutan kelapa setengah tua dimasak hingga matang. Aroma daun yang bercampur dengan jantung pisang yang masih segar dan disajikan dalam keadaan masih panas, adalah salah satu kenikmatan langit yang diturunkan Allah.

Versi lainnya bisa didapatkan di Bekasi, bahkan anak saya, Ponggawa pun ikut andil dalam membuat sayur tumbuk ini dirumah. Kami membawa semacam alat tumbuk (palungeng kecil kata orang bugis) ke Jakarta. Rasanya memang tak seenak di kampong, karena daun singkongnya tidak segar dan tidak semua muda, begitu pula jantung pisangnya sudah tak segar lagi. Namun, rasanya masih tetap enak. Mungkin juga karena yang memasak adalah istri saya, maka rasanya bisa berlipat-lipat nikmatnya.

IMG_20130716_165114
Gawa lagi buat sayur tumbuk

3.      PALEKKO’

14262_1156857283241_2315849_n
Palekko, karena keasyikan makan, lupa moto sebelum makan 🙂 (sumber FB Tul Faidah)

Salah satu makanan andalan saya. Palekko adalah masakan daging bebek yang dipotong kecil-kecil. Bumbunya sebenarnya sederhana, bumbu utamanya hanya bawang putih, bawang merah, garam dan sebanyak-banyaknya cabe. Jumlah cabe ditentukan oleh dua hal sebenarnya. Pertama oleh selera, sebagian besar penggemar palekko adalah penggemar masakan pedas. Palekko tanpa rasa pedas, seperti man united yang kehilangan lapangan tengah, bermain tanpa roh. Faktor kedua adalah jumlah peserta yang akan ikut makan. Jenis masakan ini juga masakan spesial tahun baru di kampong.  Jumlah bebek yang tersedia dengan jumlah mulut yang menanti  masaknya palekko, kadang tak sebanding, biasanya 2 bebek, jadi rebutan bisa sampai 15 orang. Cara paling ampuh untuk meredam terjadinya perang memperebutkan palekko adalah dengan membuat palekko ini, pedas sepedas-pedasnya, sehingga yang mau memakannya bahkan sampai harus menyiapkan kobokan untuk mengurai efek pedas yang sudah meresap dalam palekko. Itupun, sebenarnya kadangkala, meskipun sudah dibikin pedas, jumlah palekko dipenggorengan sudah di korupsi secara tega oleh tukang masak yang biasanya teman-teman juga.

Kadangkala di Bekasi, untuk mengobati rasa kangen akan palekko, kami sekeluarga kecil membeli bebek di Pasar Kranji Bekasi. Dua bebek hanya untuk 3-4 orang. Saya yang biasanya bertugas membeli, memotong-motong dan menyiapkan sebelum digoreng dan dicampur dengan bumbu oleh istri saya. Bagian yang paling nikmat adalah hatinya. SUngguh nikmat rasanya. Di Kampung kami di Kadidi Sidrap, setiap pulang kampong, pasti mama’ akan memasakkan palekko. Bebek di kampong rasanya lebih enak daripada bebek di bekasi.

4.      PALLU BASA

Pallubasa
Pallu Basa Pakai Alas (Sumber : FB Tul Faidah)

Pallu basa adalah masakan berkuah yang dicampur bubuk kelapa goreng, Khusus untuk masakan ini, tidak ada versi rumahannya, jadi hanya bisa saya nikmati di warung pallu basa di Makassar. Warung Pallu Basa paling terkenal di Makassar namanya Pallu Basa Serigala. Bukan karena dari daging serigala, tapi karena terletak di jalan serigala, dagingnya sendiri adalah daging sapi. Warung ini mengklaim dagingnya adalah 100% daging asli lokal.

Awalnya pallu basa serigala adalah warung kecil dengan gerobak dan meja panjang ukuran 1 kali 3 meter. Dulu, untuk makan di warung ini, kita harus antre hanya untuk bisa duduk makan di mejanya dan setiap selesai makan harus sudah berdiri, tak ada kesempatan untuk minum di meja tersebut apalagi ngobrol sambil merokok. Setelah selesai makan, para pelanggan akan berdiri membawa minuman teh botolnya mencari tempat lain disekitar warung untuk menutup sesi makannya.Dulunya, sambil makan diwarung ini, anda akan melihat mata-mata orang kelaparan penuh harap anda segera enyah dari tempat duduk anda.

Kini, warungnya sudah luas, menyewa satu ruko persis didepan bekas warung gerobaknya yang dulu. Tempatnya kali ini lebih luas daripada sebelumnya dan sekarang lebih ramai karena banyak pelanggan baru yang dulunya tak mau susah payah antri.

Istilah yang akrab bagi penggemar Pallu Basa adalah, “pakai alas!!”. Maksudnya bukan mangkoknya pakai alas, tapi ditambahkan kuning telur ayam kampong. Saya tak pernah hanya makan semangkok di warung ini, minimal tambah satu pakai alas dan tambah nasi. Ohh enaknya.

5.      SOP KONRO

Selain Coto Makassar, inilah masakan lain yang terkenal dari Makassar. Kalau coto itu boneless, maka Sop Konro, adalah Sop Tulang Iga. Sama seperti coto, sop konro juga berkuah, namanya juga sop. KUahnya berwarna kehitaman karena dicampur dengan buah kaluak, jenih buah ini banyak tersedia di Makassar maupun di Jakarta karena digunakan untuk masakan rawon. Biasanya saya makan Sop Konro dirumah, masakan konro istri saya juga nikmat luar biasa. Berbeda dengan Coto yang dimakan bersama ketupat,  Sop Konro biasanya dimakan bersama nasi, tapi keduanya sama-sama memerlukan “siraman” rasa asem dari jeruk nipis untuk bisa terasa nikmat. Di kampong, biasanya sop konro banyak tersedia pada saat lebaran Idul Adha.

Tak semua lidah orang bisa langsung klop dengan coto, akan tetapi biasanya untuk sop konro, hampir semua lidah orang Indonesia cocok dengannya. Variasi Sop Konro yang dibakar tersedia di warung khas Makassar di Tebet. Tulang iga disiram dengan kuah kacang disajikan bersama kuah sop konro. Banyak orang Jakarta menggemarinya, walaupun dengan berat hati saya katakana, bukan jenis konro ini yang saya suka.

 6.      IKAN BAKAR DAN NASU BALE (SOP IKAN)

14262_1156921164838_3869249_n
Ikan Bakar (sumber FB Tul Faidah)

Ikan adalah makanan yang tidak pernah absen dari meja makan saya selama tinggal di Jakarta. Saya dan lebih-lebih istri saya adalah penggemar ikan sejati. Tukang sayur keliling yang biasanya membawa ikan sudah hafal dengan ini. Bersyukurlah kita tinggal di Indonesia, lautnya luas, pantainya banyak dan ikannya murah, sehingga ikan bisa didapatkan dengan mudah dan bisa dibeli dengan murah. Jenis ikan bakar yang saya suka adalah yang polos, saya tak suka jenis ikan bakar yang dioles oleh segala rupa bumbu sehingga rasa ikannya hilang dan berganti rasa kecap dan semacamnya. Beberapa kali saya makan di warung yang menyediakan ikan bakar selain di Indonesia Timur, semuanya sudah berbumbu, terus terang saya tak terlalu selera dengan ikan bakar macam itu. Ada yang sampai kadang mempertanyakan, masak orang Makassar ndgak suka makan ikan?. Bukan soal ikannya bos, tapi soal cara masaknya. Cara masak/bakar ikan yang tidak sesuai selera saya, membuat saya kadangkala menahan diri untuk makan banyak.

14262_1156921124837_5206041_n
Ikan Masak (nasu bale) (sumber : FB Tul Faidah)

Nasu bale adalah masakan wajib yang selalu saya cari-cari dirumah. Bumbunya sederhana, kunyit dan asam dari mangga burak yang dikeringkan, kami menyebutnya paccukka. Nasu Bale paling enak menurut saya adalah dari ikan bandeng. Ohh nikmatnya

——————————————-

Sudah dulu, lagi lapar nih……

Salam dari Edinburgh

Refleksi Akhir Tahun : Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin, aku dan sahabatku Adde, berhenti sekolah setelah selesai TK sementara umur belum genap 7 tahun, dan jadilah kami pengangguran di usia yang sangat muda. Belum lama rasanya, dua orang anak ingusan berhadapan di lapangan bola dengan tangan siap mencakar anak didepannya, dalam teriakan dan sorakan anak-anak yang lebih besar. Keduanya kemudian pulang dalam keadaan muka penuh cakar sambil menangis sesenggukan. Dua bocah itu adalah aku dan adde. Itu sudah 28 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin, bapak membelikan sepeda Mustang warna merah yang dicicil lima belas ribu perbulan selama sepuluh bulan, yang kupakai ke sekolah bersama Adde. Di jalan kami dipalak, dan was-was setiap hari. Masih segar dalam ingatan, aku memanggul sepeda itu masuk pekarangan sekolah karena kena hukuman dari Guru BP. Rasanya baru kemarin, tapi itu 21 tahun lalu.

Rasanya baru kemarin, Pak Nursalam guru Fisikaku, datang kerumah dimusim ujian dan mengajak kami jalan-jalan santai di malam sebelum ujian dan pergi mencari jangkrik di perbatasan Kabupaten. Rasanya belum lama, aku jatuh cinta dengan Fisika dan menyenangi kesederhanaannya. Rasanya semuanya baru kemarin, tapi itu sudah 17 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin Piala Dunia 98 digelar. Mahasiswa bergerak menumbangkan rezim Soeharto, gedung dewan jadi lautan mahasiwa. Pak Harto turun dengan terpaksa dan rakyat berpesta dan bersorak. Media massa dibuka krannya. Sementara aku dan teman-teman berjibaku dengan soal-soal UMPTN, melewatkan sebagian pertandingan bola, demi masa depan. Rasanya baru kemarin, Titi datang membawa sepucuk Koran ke Kadidi dan kami membacanya bersama Adde, dan ternyata kami lulus UMPTN. Rasanya masih segar, Aku, Kele, Adde dan Kadisman melewatkan malam tanpa tidur, menggunting papan nama suruhan senior Teknik, dan disubuh hari yang gelap, merangkak dari depan Kampus sampai ke Area Teknik, dalam pusaran senior yang tak berhenti mencari mangsa. Rasanya semua baru kemarin tapi itu sudah 16 tahun lalu.

depan
13 tahun lalu
PBT 401
12 tahun lalu

Rasanya baru kemarin, begadang sampai pagi, tidur disiang hari, bercanda tanpa ingat waktu di depan himpunan, sementara kuliah tak banyak yang perhatikan. Rasanya baru kemarin, ujung jari melepuh bersama bunyi ketukan mesin ketik tenggelam dalam suasana praktikum dan tekanan dari asisten Laboratorium. Rasanya baru kemarin, songkolo’ bagadang masih hangat, coto begadang masih mengepul, nasi kuning masih harum disantap dalam dinginnya subuh hari di Makassar bersama sahabat-sahabat masa kuliah. Rasanya baru kemarin, tahun baru millennium, dengan rambut yang mulai memanjang, terkena razia polisi di Pantai Losari, hanya karena kami semua kurus dan berwajah kusut di malam tahun baru yang sangat ramai. Rasanya semua baru kemarin, tapi itu sudah 13 tahun yang lalu.

Rasanya baru kemarin, setelah lima tahun kuliah, tandu dibuat oleh teman-teman di Asrama Mahasiswa dan kami para wisudawan menjadi Raja Sehari. Kami ditandu dari Asrama menuju Baruga Pettarani dengan tatapan kagum dan aneh dari para hadirin di Aula tersebut. Pak Rektor dengan akrab memindahkan tali di toga sebagai tanda resminya kami menjadi pengangguran. Lagu Iwan Fals, sarjana muda menjadi lagu penyambut kami setelah wisuda berlangsung. Rasanya semua baru kemarin, tapi itu sudah 10 tahun lalu.

Kini, aku telah dikaruniai Istri yang cantik dan penuh kasih sayang dan diberkahi anak yang cerdas dan sehat. Sekarang, aku berada jauh dari semua tempat peristiwa tersebut terjadi. Di Inggris Raya yang dulu hanya bisa dilihat dan ditandai dipeta. Kini di Edinburgh, menjelang 2014, aku hanya bisa mengingat memori itu satu persatu dan merangkainya dalam satu barisan panjang dan mensyukuri setiap kolom hidup yang kujalani. Semoga Tahun 2014, jauh lebih baik, lebih bermakna dan Allah masih memberikan kesehatan untuk kembali mengingat kenangan ini 10, 20 atau 30 tahun lagi.

Refleksi Akhir Tahun 2013

DSC_0822
Salam dari Edinburgh

Pemanfaatan Energi Angin

Oleh : Ahmad Amiruddin

Pendahuluan

Energi angin telah dimanfaatkan selama ribuan tahun untuk menggerakkan mesin seperti penggilingan gandum, pompa air dan aplikasi mekanik lainnya. Penggunaan energi angin sebagai Pembangkit Tenaga Listrik semakin menarik dalam dekade terakhir karena sifatnya yang terbarukan. Di Indonesia Pembangkit Listrik dari energi angin disebut Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Menurut sejarahnya, upaya untuk membangkitkan energi listrik dari angin telah dilakukan sejak abad ke-19, yang dimulai oleh Professor James Blyth dari the Royal College of Science and Technology Inggris. Seiring perjalanan waktu, teknologi energi angin berkembang dengan pesat. Pada era 1980-an, perkembangan energi angin dianggap telah matang. Dari tahun 1980 s.d 2000an, biaya pembangunan PLTB menurun secara linear dan kapasitas pembangkitan meningkat secara signifikan. Saat ini, dibeberapa Negara Eropa, PLTB dianggap jenis pembangkitan listrik dengan biaya yang paling efektif. Dengan adanya perbaikan pada desain , biaya, dan reliability maka diharapkan dalam beberapa dekade ke depan perkembangan PLTB akan lebih meningkat.

Perkembangan PLTB juga semakin menarik dengan penempatan lokasinya di lepas pantai, yang secara teknis memiliki keunggulan dibanding dengan penempatan PLTB di daratan. Pada tahun 2010, total kapasitas pembangkitan PLTB diseluruh dunia telah mencapai 194 GW, 36 GW diantaranya baru dibangun pada tahun tersebut yang berarti 11 kali lipat kapasitas dibanding yang dipasang pada tahun 2000. Secara rata-rata, pertumbungan PLTB diseluruh dunia mencapai 22% setiap tahun. (Boyle and Open University., 2012)

Turbin Angin (Wind Turbine)

Secara garis besar turbin angin terbagi atas dua konfigurasi. Horizontal Axis dan Vertikal Axis. Horizonal axis, sumbu putarnya sejajar dengan arah angin. Sementara Vertikal Axis, sumbu putarnya tegak lurus terhadap arah angin.

Horizontal dan vertical turbine
Horizontal dan vertical turbine (Sumber : http://www.windturbineworks.com/basics.html)
windturbine
Horizontal Axis Wind Turbine (sumber : http://www.allenergies.net/wind/images/windturbine.JPG)

Horizontal Axis Wind Turbines (HAWT) secara umum memiliki 2 atau 3 blade atau bisa lebih. Turbin angin dengan banyak blade digunakan sejak abad ke-19 untuk pompa air di lahan pertanian.

Solidity digunakan untuk menggambarkan area sapuan turbin angin yang solid. Karenanya, turbin angin dengan jumlah blade yang banyak memiliki solidity tinggi (high solidity). Turbin angin yang memiliki area solid yang lebih kecil (area kosong lebih banyak) disebut low solidity. Turbin angin untuk pompa air memiliki turbin high solidity dan turbin untuk pembangkit listrik memiliki low solidity.

Turbin low solidity bekerja efektif bekerja efektif pada kecepatan putaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan high solidity.

SI Exif
Vertical Wind Turbine (Sumber : http://www.conserve-energy-future.com/VerticalAxisWindTurbines.php)

Vertical Axis wind Turbine (VAWT) atau turbin angin sumbu vertikal, dapat mengekstrak tenaga angin dari semua arah tanpa perlu mengubah posisi rotor jika terjadi perubahan arah angin. Namun demikian, kekurangan dari jenis turbin ini adalah masalah power quality, siklus beban dan system tower yang lebih rumit dibanding HAWT, disampinng itu VAWT memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan dengan HAWT. Saat ini, secara komersial lebih banyak digunakan HAWT dibandingkan dengan VAWT.

Aerodinamic pada Turbin Angin

Gaya yang bekerja pada pemanfaatan energi angin terdiri atas dua jenis gaya : gaya dorong (drag force) dan gaya angkat (lift force). Gaya dorong adalah komponen gaya yang sejajar dengan arah angin. Gaya angkat adalah gaya yang tegak lurus terhadap arah angin. Untuk energi angin, gaya angkat lebih banyak digunakan dibandingkan dengan gaya dorong.

Energi angin

Energi yang terkandung dalam angin adalah energi kinetik. Energi kinetic pada benda yang bergerak (angin) sebanding dengan setengah dari massa (m), dikali dengan kuadrat kecepatan angin (V)

Kinetic energi = setengah massa x kuadrat kecepatan =   0.5 mV² (1)

dimana m dalam kilogram dan V dalam meter per second

massa udara sendiri tergantung dari kerapatan massa udara  (pada ketinggian 0 diatas permukaan laut = 1.2256 kg/m3 dan  debit  udara (Q) yang melewati (volume/second). Volume udara dapat pula disubtitusikan sebagai perkalian antara luas bidang yang dilewati angin (A) dikalikan dengan kecepatan V.

sehingga: m = ρAV (2)

persamaan diatas dapat disubstitusikan ke persamaan (1), sehingga didapatkan

P = 0.5 ρAV³ (Joule/second) atau (Watt)

Sehingga bisa disimpulkan bahwa daya pada angin sebanding dengan:

  • Kerapatan massa dari udara
  • Luas bidang yang dilewati angin
  • Kecepatan angin

Nilai daya diatas adalah daya yang dapat dihantarkan oleh angin. Namun dalam aplikasinya, tidak ada peralatan mekanis yang dapat mengekstrak semua energi angin yang melewatinya. Persentase kemampuan ekstraksi ini disebut power coeeficient (Cp). Sehingga persamaan daya untuk energi angin menjadi.

Nilai Cp maksimum berdasarkan persamaan Bernoulli adalah 0.59

Performance Turbin

Dalam normal operasi, performance turbin angin digambarkan dengan Kurva Power dalam 4 zona operasi :

power curve
Performance Turbine Curve (Harrison, 2013)

Zona 1 : Sebelum kecepatan cut-in, P = 0

Zona 2 : Diatas kecepatan cut-in dan dibawah kecepatan ratingnya, nilai P mengikuti polynomial

Zona 3 : Diatas kecepatan rating dan dibawah kecepatan cut-out, nilai daya tetap sesuai dengan rating

Zona 4 : diatas kecepatan cut-out, turbin shut down, P = 0

 

Kesimpulan:

  • PLTB merupakan salah satu jenis pembangkit listrik dari energy terbarukan yang perkembangannya sangat pesat dan teknologinya telah dianggap mapan.
  • Gaya yang lebih mempengaruhi dalam ekstraksi energy angin untuk pembangkit listrik adalah gaya angkat.
  • Energi angin yang dapat diekstrak sangat tergantung kepada kerapatan massa udara, luas bidang cakupan angin, kecepatan angin dan peralatan mekanis yang digunakan.
  • Performance turbin angin dapat dianalisa dari 4 zona yang dibatasi oleh kecepatan pada saat cut in, kecepatan rating dan kecepatan saat cut-out.

Reference:

BOYLE, G. & OPEN UNIVERSITY. 2012. Renewable energy : power for a sustainable future, Oxford, Oxford University Press in association with the Open University.

HARRISON, G. 2013. Wind Power : Lecture Technologies for Sustainable Energy. University of Edinburgh.

“Vertical Axis Wind Turbines.” ConserveEnergyFuture. N.p., n.d. Web. 26 Dec. 2013.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started