MIE AYAM STASIUN BOGOR DAN JONAN

jonan

Jonan (tempo.co)

September tahun 2014, setahun tak ke Bogor dan setahun tak naik kereta. Saya sudah lama memendam niat makan mie ayam enak di bawah jembatan penyeberangan dekat stasiun bogor. Mie ayam dengan rasa khas chinese yang selalu membuat saya meluangkan waktu untuk menikmatinya. Mie ayam ini nampaknya sudah puluhan tahun beroperasi disana. Seingat saya ada beberapa foto lama tertempel di dinding toko tersebut.

Karena setahun tak naik kereta, rasanya ANEH. Kereta sudah ada halo halonya, setiap stasiun ada yang ngomong kita dimana. Dulunya kita harus menebak-nebak atau harus bertanya sama penumpang lain kereta sedang berhenti dimana. Kereta dulu hanya diperuntukkan bagi orang yang terbiasa naik kereta dan hafal ciri khas stasiun yang akan ditemoati berhenti. Sekarang, tulisan stasiun tujuan terpampang di setiap sudut yang mudah terlihat. Naik kereta juga sudah pakai kartu. Penjual tak ada lagi didalam stasiun. Dulunya pengemis dan pengamen arti tak berhenti di dalam gerbong kereta, sekarang kereta bebas dari pengamen dan pengemis. Security berjalan hilir mudik mengingatkan orang yang duduk untuk berdiri. tak nampak lagi penumpang yang membawa kursi lipat yang mengokupasi banyak tempat.

Sampai stasiun bogor, ternyata pintu keluar sudah dipindah. Dulunya harusnya berbelok untuk keluar, melewati barisan pedagang-pedagang sekitar stasiun. Pintu keluar lurus-lurus saja. Dan yang Aneh, perasaan sekitar stasiun ini kayak pasar dulunya, sekarang malah BERSIH sekali dan halamannya berisi parkiran mobil dan motor.

Saya berjalan-jalan keluar dari stasiun mencari lokasi mie ayam favorit saya. Lama saya berkeliling, tampaknya ada yang aneh dengan stasiun ini. Dulunya sekitar jembatan banyak pedagang dan bangunan permanen, dan mie ayam favorit saya tepat di dekat jembatan itu. Jangan-jangan jembatannya yang pindah.

Tapi bukan hanya toko penjual mie ayam yang hilang, semua penjual dipinggir jalan itu bersih, hanya menyisakan pagar pembatas stasiun. Nampaknya itu tanah KAI dan mereka telah merebut kembali tanahnya yang puluhan tahun digunakan pihak lain. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang “gila” bernama Jonan. Tak terbayangkan oleh saya mie ayam favorit saya yang nampaknya puluhan tahun disana hilang tak berbekas.

Sekarang Jonan beraksi, pasti banyak yang tak suka. Yang paling bersuara keras adalah orang-orang yang sudah puluhan tahun menikmati kesemrawutan yang ada, seperti juga saya yang senang menikmati mie ayam yang ternyata pakai tanah KAI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s