Kamra

Saat reformasi seharusnya meluluhlantakkan tatanan yang selama ini dibangun orde baru, muncullah sipil berpakaian militer yang disponsori negara. Di awal reformasi muncul Kamra, kepanjangan dari keamanan rakyat. Tak jelas benar bedanya dengan Hansip. Tapi mirip-mirip sumber anggotanya. Mereka direkrut dari masyarakat kelas bawah, atau para pengangguran. Dan beririsanlah dia dalam satu episode kehidupan anak Ramsis.

Source : tafri22. wordpress. com

Perang antar Fakultas di Tamalanrea, sudah berlangsung bertahun-tahun. Teknik vs Sospol atau Teknik vs semua fakultas hampir setiap awal semester jadi rutinitas.

Saat itu perang antar fakultas telah berlangsung dua hari. Untuk menghindari eskalasi, pihak keamanan kampus menyerah. Polisi masuk ke area Rektorat dan berjaga di sana. Kampus harus steril dari mahasiswa. Pintu 1 dan Pintu 2 Unhas ditutup, tak boleh ada mahasiswa yang masuk.

Tapi mereka lupa bahwa ada mahasiswa yang memang tinggal di dalam kompleks kampus, mereka adalah warga asrama mahasiswa (Ramsis) Unhas. Akses utama ke Ramsis adalah di Pintu 2 Unhas.

Aparat kepolisian menugaskan Kamra yang menjaga di pintu masuk Unhas, termasuk pintu 2. Mereka menutup dengan portal dan melarang siapa saja masuk.

Akibatnya beberapa anak ramsis yang kebetulan dari luar kampus tertahan di portal pintu 2.

Komendan kamra berteriak kepada anak ramsis yang berkumpul.

“Tidak boleh ada yang masuk kampus”

“kami anak ramsis, pak” kata seorang perwakilan

“Biar fakultas ramsis dilarang masuk!!!” Teriaknya dengan lantang.

Beberapa anak ramsis mau ketawa, tapi tetap harus negosiasi.

Seorang perwakilan menjelaskan

” Pak, ramsis itu bukan fakultas, dia asrama mahasiwa, kami semua tinggal di sana, di sana ada dari semua fakultas, ada teknik, kedokteran, fisip, hukum, peternakan, pertanian, sastra, mipa, pokoknya ada semua”

Perwakilan itu meneruskan

” Bayangkan pak, banyaknya orang kita halangi masuk, di dalam itu ada 3 unit, tiap unit terdiri dari 8 blok, tiap blok ada 3 lantai, tiap lantai ada 12 kamar, belum lagi kalau tiap kamar ada 2 penghuni, coba kita hitung = 3×8×3×12×2 pak”

Komendan Kamra menyerah, akhirnya dia berteriak

“Fakultas Ramsis boleh lewat, yang lain tetap tidak boleh”

#ceritaramsis

Ahmad Amiruddin

Hikayat Tukang Cukur

Ingatan pertama saya tentang cukur adalah kenangan buruk. Ketika akan akan masuk SD, saya diantar oleh Bapak ke tukang cukur profesional pertama di Kampung, Nene’ Jama (Kakek Jama).

Peralatan Nene Jama lengkap. Praktiknya di bawah kolong rumah panggung. Dia punya clipper. Tentu saja clippernya saat itu belum pakai listrik. Hanya mengandalkan gerakan tangan. Karenanya agak sakit kalau menyentuh kepala. Tapi bukan itu masalahnya.

Setelah beberapa lama clipper mulai mencukur dari belakang, tiba2 seperempat rambut sebelah kanan saya sudah habis. Setelah itu seperempat sebelah kiri juga licin, tersisa hanya sedikit rambut segi empat di depan.

Tanpa persetujuan. Saya telah dicukur model bandang-bandang. Bandang2 adalah kue khas bugis berbentuk segiempat. Cukur model adeknya cuplis. Saya menangis sejadi-jadinya. Tapi orang dewasa hanya tertawa dan malah tambah meledek. Saya tak mengerti, kenapa anak SD harus bercukur model itu. Mungkin kalau pak Harto sempat ke Kadidi jaman itu, saya akan menanyakannya.

Setelahnya saya tak lagi mau dicukur model begitu. Nene Jama meninggal di usia saya SD, dan dimulailah periode tukang cukur saya adalah para relawan yang hanya dibayar senyuman dan terima kasih.

Dimulai dengan Bu Yayang, tetangga kanan rumah saya, yang juga guru SD di sekolah saya. Kadang2 juga Kak Unding, adeknya. Pangkasnya hanya dengan gunting dan sisir.

Agak besar, di usia SMP dan SMA, meski masih sering dipangkas sama kedua orang baik tersebut, saya lebih sering dicukur sama Beddu. Pemuda dekat lapangan bola Kadidi. Anak muda biasanya memang minta bantua dia. Kami biasanya dicukur menghadap lapangan, sambil menonton bola.

Masa-masa di Kampung, memang banyak yang gratis. Tak banyak tersedia tukang cukur. Juga tak ada cukup anggaran hanya untuk potong rambut. Semuanya adalah swadaya.

Kalau masa2 sekarang banyak yang pulang kampung karena kota tak lagi ramah, tak lagi ada tempat berjualan, tak ada lagi orang datang membeli atau meminta jasa. Maka kampunglah satu2nya tempat kembali. Masih banyak hal yang tak harus dibeli di Kampung. Masih banyak kelor, jantung pisang, ubi, mangga, ayam, telur bebek yang bisa saling berbagi.

Saat kuliah, saya memanjangkan rambut selama 2-3 tahun. Jadi di awal2 tak pernah potong rambut.

Kemudian setelah masa gondrong habis, mulailah masa rutin potong rambut. Karena saya tinggal di Ramsis, maka stok tukang cukur banyak. Ada 3 syarat prioritas masuk Ramsis kala itu, bisa main bola, main gitar, atau bisa cukur rambut. Langganan saya adalah Haris Kotala, sahabat asal Maluku. Saya hanya cukup meyediakan kepala dan satu buah silet. Kalau ada cukup uang maka bisa memberi Indomie siap santap.

Setelah sekolah saya selesai, maka mulailah saya berkenalan dengan tukang pangkas profesional asal Garut di Jabotabek ini.

Saat tinggal di Poris Tangerang, saya langganan sebuah pangkas rambut yang dikelola engko2. Saat akan mencukur saya sudah menjelaskan maunya yang kayak Bradd Pitt hasilnya. Tapi, setiap saya pulang istri saya pasti ngeledek. Hasilnya kok jelek gitu.

Hingga suatu hari dia penasaran, kenapa hasil cukur saya mengenaskan, dia ikut ke kios itu. Dan dia kemudian berkesimpulan, pantasan hasilnya kayak gitu, karena tukang pangkasnya selalu meniru rambutnya engko nya. Saya perhatikan memang rambut saya mirip. Sama2 berdiri, keras dan kuat.

Sejak itu, setiap kali saya pulang dari tukang pangkas, dia selalu bilang, mirip engko2. Bahkan sampai kami pindah ke Bekasi. Tak ada tukang cukur yang cocok seleranya.

Kemudian saya sekolah ke Edinburgh. Saya menyesal tak potong rambut sebelum berangkat, karena ongkosnya lumayan mahal. Bisa buat beli sekilo daging domba, kentang, wortel dan bumbu kari India di Toko Bismillah di Nicholson street.

Jadinya saya menunda2 hampir 8 bulan baru cukuran. Dan akhirnya ketika saya cukuran, cukup dalam saya harus merogoh kocek untuk ukuran mahasiswa. Tapi untuk pertama kalinya istri saya tak bilang, cukurnya mirip engko2 Poris. Sayapun senang.

Waktu kami kembali. Di depan kompleks mulai buka tukang pangkas baru. Judulnya Pangkas rambut Gunawan. Hanya dia sendiri di kiosnya. Jam bukanya semaunya dia. Kadang sudah ditungguin tidak muncul2. Kata istri saya mungkin pulang kampung menikah. Kalau berdasar itu saya hitung2 udah dua puluh lima kali dia menikah.

Kawan ini, hasil cukurnya mantap. Itu sudah pengakuan istri saya, yang saya tahu seleranya tinggi, yang terbukti dalam memilih suami #uhuk. Makanya saya hanya mau dicukur Gunawan ini.

Tapi sudah lebih lima minggu Gunawan hilang. Sudah pasti bukan karena pulang menikah. Tapi karena pandemi ini bikin orang takut ke tukang cukur. Daripada dia tinggal tanpa uang dan tanpa pelanggan, kampungnya di Garut akan memberinya jaring pengaman dan mengamankan perutnya dari kelaparan.

Dan, jadilah saya mendapatkan tukang cukur terbaik berselera tinggi ini sekarang. Untuk ketiga kalinya dia bilang ada tukang cukur yang bagus hasilnya. Setelah yg di Edinburgh, Gunawan dan sekarang dirinya sendiri.

Sekarang kami punya cukup modal untuk sekolah lebih lama lagi di luar, sudah ada tukang cukurnya. Mudah2an setelah korona.

*O, Iya terima kasih untuk semua tukang cukur saya

Dunia Hingga Kemarin

Oleh : Ahmad Amiruddin

Dalam bukunya The World Until Yesterday, Jared Diamond menggambarkan dunia sebelum jaman modern. Terdapat perbedaan mencolok antara masyarakat tradisional dengan dunia modern sekarang. Dan perbedaan itu masih bisa ditemui di banyak suku-suku pedalaman di Afrika, Papua, Indian atau aborigin di Australia.

Cara pandang tentang bahaya pada satu suku membuat mereka bisa survive dan bertahan dengan alam sekitarnya. Kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia di perkotaan.

Sebagai contoh, bahaya yg banyak ditakutkan oleh mayoritas masyarakat tradisional adalah kelaparan, tertimpa pohon, jatuh dari pohon, binatang buas atau ancaman dari suku lain. Itulah sebabnya mereka punya kemampuan indera yang baik untuk menghindari berteduh di bawah pohon besar atau mengenali tanda-tanda wilayahnya telah dimasuki oleh suku asing hanya berdasarkan satu dahan yang patah.

Sebaliknya bagi masyarakat modern, bahaya yang banyak merenggut nyawa adalah kecelakaan lalu lintas. Masyarakat Jakarta mengembangkan indera keenam menyeberang jalan raya dengan cara yang unik. Bisa meliuk dan bisa memperkirakan kapan mobil mendekat dan kapan tak boleh memotong.

Suku tradisnional akan berkeringat dingin memotong jalan kalau disuruh menyeberang di Jalan Casablanca. Sebaliknya masyarakat perkotaan tak bisa juga survive di pedalaman tanpa mempelajari kemampuan adaptasi mereka.

Satu hal lainnya, adalah tema pembicaraan dikuasai oleh hal-hal yang dianggap berbahaya atau tak bisa dijamin. Makanya di banyak suku tradisional tema pembahasan adalah makanan, karena bisa jadi mereka tak bisa bertahan karena makanan. Mereka tak banyak membicarakan seks, karena ada banyak waktu untuk itu. Sebalikanya di masyarakat modern–ini kata Jared ya–, tema makanan tak selalu dibicarakan dan tema seks lebih mendominasi karena ada banyak makanan, tapi tidak banyak waktu atau kesempatan untuk seks.

Dunia kita juga seperti baru saja ditarik garis pembatas, 2019 sebelum ada Corona dengan 2020, ketika telah ada Corona.

Tahun 2019, kita masih bisa ngumpul-ngumpul, ngopi-ngopi di Phoenam, rapat, meeting, business trip, jalan-jalan ke Bukit Tinggi, ke Raja Ampat, umroh dan sebagainya.

Tiba-tiba saja Corona ini menarik garis batas jelas. Tak ada lagi rapat, meeting, konser, pertandingan bola dan tabligh akbar. Bahkan Liverpool yang sudah harus juara, harus menunda dulu. Mungkin 30 tahun lagi.

Tema pembicaraan juga berubah. Semua tentang Corona. Tukang Sayur selalu tanya, dikompleksnya ada yang Corona gak, Mama’ di kampung mengkhawatirkan anaknya yang berada di Zona Merah dan anaknya di rantau mengkhawatirkan orang tuanya yang menua. Abang saya setiap hari harus mempersiapkan RS darurat di wisma Atlet. Bahkan anak saya yang tengah sudah semakin fasih bermain dengan menyebut-nyebut vilus colona.

Kapan ini selesai? Kita tak tahu. Tapi ini akan selesai. Sebuah peristiwa besar akan melahirkan pemimpin baru dan tatanan dunia baru. Sebuah dunia yang tak akan sama lagi. Akan ada yang jadi pahlawan, menjadi martir, jadi korban, dan akan ada pula yang menangguk untung dengan cara culas dari kehidupan yang serba tak pasti ini.

Kelak anak cucu kita mungkin akan membuat catatan juga. Dunia saat Corona. Kakek neneknya akan jadi pahlawan di sana, minimal dengan tetap berada di rumah.