Toilet yang tidak user-friendly

toilet-in-japanIni masalah yang mungkin agak remeh, tapi saya sering mengalaminya. Kepentingan buang air di toilet umum.

Di mall, saya sering bermasalah dengan urinoir atau toilet yang tidak menyediakan air untuk bilasan.
Cobalah berkunjung di mall-mall besar di Jakarta, sebagian besar diantaranya tidak menyediakan fasilitas toilet sesuai dengan yang dibutuhkan, dipikirnya bahwa yang datang ke mall itu orang bule kali, sehingga toilet tak disediakan air untuk bilasan atau urinoir yang tak memiliki saluran untuk mencuci, untuk membersihkan hanya disediakan tissue.

Nah, kalau saya saja yang cowok dan relatif sederhana dalam kegiatan yang satu ini, lebih parah lagi kalau buat cewek. Istri saya sering terpaksa tak jadi melakukan kegiatannya lantaran di toilet hanya disediakan tissue, tak bersih dan tak bisa menghilangkan najis.

Saya tak habis mengerti apa yang menjadi pertimbangan pengelola mall, dengan menyediakan fasilitas yang sebenarnya tak cocok dengan mayoritas masyarakat indonesia yang muslim, yang mensyaratkan membersihkan dengan air setelah buang hajat. Toiletnya memang tetap terjaga kebersihannya, tapi pelanggan tak bisa puas dan bersih bertoilet ria.

Kalau dulu di beberapa tempat di kampus lain lagi masalahnya (sekarang sih sudah bagus mungkin). Toilet di kampus biasanya berada di sekitar tangga, dan aroma harum siap menyapa setiap kali naik turun tangga. Tak sulit mencari lokasi toilet ada dimana, tak perlu petunjuk papan, cukup dengan penciuman lokasinya bisa ditebak.

Sayangnya sebagian besar tak bisa dipakai, beberapa terkunci rapat dengan gembok. Yang terbuka tak ada airnya, yang ada airnya tak punya pula pintu, yang ada pintunya tak ada pula penguncinya. Bagi cowok yang buang air kecil terpaksa berdiri lebar-lebar agar sebelah kakinya bisa dipakai untuk menyangga pintu. Yang repot kalau buang air besar, jarak jambangan dengan pintu cukup jauh, tak mampu dijangkau tangan. Cara yang biasanya ditempuh kalau sudah benar-benar kebelet adalah melaksanakan hajat sambil memegang sapu yang mendorong pintu, dan berdehem dalam interval tertentu agar ketahuan ada orang di dalam, maka beruntunglah orang-orang yang memang lagi sakit batuk. Bagi cewek harus punya teman yang bisa diajak dalam suka dan duka, tidak hanya bisa diajak makan tapi bisa juga diajak untuk menjaga pintu ketika lagi buang hajat. Di kampus biasanya cewek tak pernah sendiri untuk urusan yang satu ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s