Misteri Paku Di Tubuh Syafira

Santernya pemberitaan tentang paku di betis kiri dan kanan di tubuh bocah Safira-3 tahun- menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat. Keberaadan paku di tubuh manusia sangat sulit bahkan mustahil untuk dijelaskan.

Beberapa tahun sebelumnya, kita juga dikejutkan dengan berita tentang seorang ibu yang tumbuh kawat didalam dirinya, kawat tersebut menyatu dalam jaringan si ibu hingga sekarang. Masih menjadi perdebatan, dari mana asal paku tersebut, dan bagaimana caranya dia bisa bersarang disana. Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya di RS Andi Makkasau, terdapat beberapa keanehan untuk kasus Syafira:

Posisi paku

Posisi paku yang didapatkan berada dalam arah yang sama, dengan ujung paku menghadap kebawah dan semua didapatkan dalam jaringan kulit.

Tidak terikat dengan jaringan

Awalnya, tim bermaksud hanya mengambil satu sampel untuk di lakukan uji laboratorium terlebih dahulu, namun ternyata paku tersebut tidak terikat dengan jaringan tubuh, yang artinya adalah benda yang berasal dari luar, agak berbeda dengan kejadian manusia kawat di banjarmasin yang kawatnya terus tumbuh dari dalam tubuh. Akhirnya setelah melihat yang ada adalah paku, maka diputuskan untuk mengeluarkan semua paku dalam operasi yang memakan waktu 2 jam.

Misteri jarum suntik baru

Dari ke-26 benda logam yang didapatkan, terdapat satu benda logam yang berbeda yaitu sebuah jarum suntik. Potongan jarum suntik tersebut dalam kondisi baru. Dalam rontgen yang dilakukan oleh tim dokter sebelumnya tidak ditemukan jarum suntik.

Luka-luka di sekitar betis Syafira

Disekitar betis syafira terdapat bekas-bekas luka hitam yang menurut pengakuan orang tuanya adalah bekas cacar. Banyak orang yang berpendapat bahwa bisa saja luka-luka tersebut menjadi jalan masuk paku.

Dari mana asal paku-paku tersebut? Ada yang mengatakan ini adalah santet, orang tua Syafira sendiri sudah membantah sengaja memasukkannya. Syafira sendiri yang ditanya, hanya mengeluarkan ekspresi mengepalkan tangan dan menggumam seperti orang yang gemas “ihhhhhh” katanya.

Foto-fotonya bisa dilihat di:

https://taroada.wordpress.com/2011/11/05/exclusive-foto-paku-di-betis-syafira/

Ahmad Fuadi, Berbagi dan Bonus Film

Tampil dengan balutan kemeja putih berlengan panjang dan celana jeans biru, Ahmad Fuadi hadir berbagi pengalamannya dalam proses menciptakan karya fenomenal di Telkomsel Kompasiana Blogshop 28 Oktober 2011. Novel Negeri 5 Menara (N5M) gubahan Ahmad Fuadi mengetengahkan kisah romantisme khas anak pondokan, yang menurut pengakuan Fuadi telah dicetak 200 ribu kopi dalam 2 tahun, sebuah rekor bagi Penerbit Kompas Gramedia. N5M diangkat dari kisah nyata sang penulis dari negerinya yang jauh di tepi Danau Maninjau hingga kemudian merantau ke Gontor. Di Gontor Fuadi mendapatkan banyak pelajaran hidup, dan mantra pertama yang diajarkan ustadnya “manjadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses, menjadi pengikat dari buku yang ditulisnya. Menurut Bang Fuadi, dia cukup beruntung karena sebelumnya tak ada yang membuat novel tentang cerita kehidupan pesantren padahal pesantren di Indonesia ada puluhan ribu. “buku saya tak laku di Gontor” kata Bang Fuadi, karena bagi orang Gontor hal itu biasa saja. Alif, tokoh utama dalam cerita N5M bisa diganti dengan nama siapa saja santri Gontor, karena begitulah memang kehidupan disana.

Ahmad Fuadi (Foto : Imansyah Rukka)
Ahmad Fuadi (Foto : Imansyah Rukka)

Kisah Nyata

Meski diangkat dari kisah nyata dan sebagian besar peristiwa yang diangkatnya dalam novel adalah pengalaman pribadinya namun novel N5M bukanlah biografi seorang Ahmad Fuadi. Dengan menjadikan tokoh rekaan Alif, maka Fuadi memberi jarak antara dirinya dengan sang tokoh. Dia sempat mengalami keraguan saat menciptakan novel ini, sampai dibatas mana akan membuka kisah hidupnya, tapi kemudian dia beranggapan toh ini bukan biografinya.

Fuadi lahir Tahun 1972 di tepi Danau Maninjau Sumatera Barat. Pada usia 15 tahun, setamat SMP, dia dipaksa oleh ibunya untuk sekolah agama dan dikirimlah dia untuk bersekolah di Pondok Modern Darussalam Gontor. Setamat dari Gontor Fuadi melanjutkan kuliah pada jurusan Hubungan Internasional Universitas Pajajaran. Setelah Sarjana Fuadi menjadi wartawan TEMPO, tetapi kemudian dia mendapat beasiswa ke Amerika, sekaligus menjadi reporter Voice of Amerika. Bang Fuadi adalah penerima 8 macam beasiswa dan telah mengunjungi 30 negara.

Titik Balik

Awalnya Fuadi tak berniat membuat buku, akan tetapi suatu saat ditahun 2007 dia merasa telah mencapai segala mimpinya, dia teringat akan pesan gurunya di Pesantren bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Karena itu dia ingin berbagi kisah-kisah hidupnya yang bisa jadi inspirasi bagi orang lain. Maka dia mulai mengumpulkan bahan-bahan tulisan. Fuadi membaca kembali semua surat-surat ibunya yang dikirim kepadanya saat di pesantren, meminta dikirimi foto-foto selama nyantri dari teman-temannya, membaca buku-buku yang berhubungan dengan asrama dan persahabatan seperti Laskar Pelangi, The Kite Runner, Harry Potter dan melakukan riset untuk memperkuat ceritanya. Setelah menguatkan tekadnya untuk membuat novel dan mencari bahan, Fuadi kemudian membuat mind mapping mengenai proyek bukunya, berisi alur, tokoh, setting dan plot.

Dia tak menulis langsung keseluruhan bukunya, tapi membuat gambaran besarnya yang kira-kira nanti menjadi bagian dari daftar isi, kemudian setiap gambaran besar cerita itu dipecah-pecah dalam kalimat-kalimat pendek yang menggambarkan peristiwa yang akan diceritakannya. Baru setelah itu kalimat-kalimat pendek tersebut disambung menjadi satu paragraf dan kemudian menjadi rangkaian cerita utuh. Bang Fuadi menyediakan waktunya setengah jam setiap selesai shalat subuh untuk menulis ceritanya minimal satu halaman, dengan cara seperti itu katanya bukunya selesai dalam waktu satu setengah tahun. Itu dilakukannya untuk Negeri Lima Menara juga untuk novel kedua Ranah Tiga Warna.

Dukungan Istri

Istri Bang Fuadi, Mbak Yayi, adalah wartawan Tempo juga. Dialah yang menjadi editor dari buku-buku Bang Fuadi, bisa dikatakan dialah yang membaca, mencoret dan memperbaiki tulisan Ahmad Fuadi.

Dalam Novel Ranah 3 Warna Bang Fuadi menuliskan.

“Kalaulah kulit novel ini boleh ada 2 nama pengarang, tanpa ragu akan saya tuliskan nama istri saya. Danya “Yayi” Dewanti sebagai penulis kedua. Karena Yayi-lah yang banyak memberi masukan mulai dari plot, diksi sampai remeh-temeh tata bahasa. Dia bermain di berbagai lini, mulai sebagai suporter, editor sampai penasehat ahli”.

Laku dan Difilmkan itu Hanya Bonus

Bang Fuadi tak pernah berpikir bahwa bukunya akan laku keras dan dibaca banyak orang. Prinsip awal ketika dia menulis buku adalah asal ada yang baca. Ketika ada 2 orang yang membacanya, itu sudah bonus, dan ketika ada 1000 orang itu lebih bonus lagi apalagi sampai 200 ribu orang.

Nah kemudian, ketika dia mendapatkan tawaran dari produser million production untuk mengangkat novel tersebut ke layar lebar itu menjadi bonus juga. Bang Fuadi berpandangan bahwa niat awalnya adalah berbagi, maka dengan difilmkannya novel N5M maka akan semakin banyak orang yang bisa terinspirasi.

Salah satu (bocoran) adegan film Negeri 5 Menara (Foto : Imansyah Rukka)
Salah satu (bocoran) adegan film Negeri 5 Menara (Foto : Imansyah Rukka)

Bang Fuadi berpikir bahwa buku itu tidak cukup hanya menginspirasi tapi harus berwujud dalam tindakan. Karena itu, setelah sukses dengan novelnya Ahmad Fuadi dan istrinya membentuk Komunitas 5 Menara. Beberapa persen hasil penjualan bukunya disumbangkan untuk pembangunan sekolah yang dikelola komunitas ini.Saat ini telah ada sekolah yang dibangun di Sumatera Barat dan di Bintaro, karena itu ketika ada yang meminta buku secara gratis kemarin Bang Fuadi berkata “ beli bukunya, buat sumbangan ke Komunitas 5 Menara” .

Pesan dari Bang fuadi yang masih terngiang.

“Menulislah dengan hati karena apa yang ditulis dengan hati akan sampai dihati”

Salam

Ahmad Amiruddin

– Yang msh menyesal tak bawa buku N5M dan R3W utk tandatangan pengarangnya

Penipu SMS Masih Berkeliaran

Awalnya saya pikir tipuan SMS itu gak ada lagi. Sejak Rame-rame dan heboh-heboh kemarin, saya yakin para operator sudah banyak berbenah. Konten premiumpun dihentikan sementara, bahkan RBT dihentikan sementara.
Tapi kita tak tahu yang namanya sementara itu bisa sejam, sehari, seminggu atau sebulan. Heboh SMS sudah hilang dari peredaran, digantikan isu reshuffle yang juga sebentar lagi basi. Besok-besok orang sudah lupa kalau dulu banyak yang ketipu ngirim SMS, beli konten tanpa disadari atau pulsanya kesedot berbulan-bulan tanpa bisa dihentikan.

SMS dari

Hari ini saya dapat hadiah 15 juta, luar biasa senangnya. Sayangnya rasa ragunya lebih besar lagi. Pengirimnya tertulis TELKOMSEL@POIN, canggih bener.
Selengkapnya SMS-nya
TELKOMSEL@POIN
(777)Selamat! SimCard anda
mendptkan cek tunai senilai Rp. 15 jt
dr telkomsel poin
u/info Hub;
PT. TELKOMSEL
021 2871 7886
Karena penasaran pengen dapet 15 juta saya coba hubungi Telkomsel 111, mbaknya diujung sana mengecek apakah ada atau tidak nomor saya dalam pemenang Telkomsel Poin, katanya tak ada dan bisa dipastikan itu penipuan, dan bukan cuma saya yang telah melaporkan, sekarang sedang ditindaklanjuti.
Saya sih bisa membaca kalau ini penipuan, tapi yang membuat saya kagum sama penipunya nomor yang tercantum di HP saya adalah TELKOMSEL@POIN, nomornya sudah langsung terconvert menjadi nama. Sependek pengetahuan saya yang bisa merubah nama langsung adalah operator, tak bisa sembarang orang yang bisa, kalau semua orang bisa langsung merubah nama begitu, bisa celaka dunia pertelekomunikasian.
Harapan saya, tidak ada kerjasama antara Telkomsel dengan sang pengirim, karena itu, hal-hal semacam ini harus ditindak cepat. Saya sudah banyak mendengar orang yang mentransfer uang karena diiming-imingi hadiah yang banyak, dan itu manusiawi menurut saya. So, hati-hati aja, tipuan SMS masih bisa muncul dan menggerogoti pulsa atau rekening anda.

Salam
Ahmad Amiruddin

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started