Trims Hendri !

Ketika pertandingan Indonesia Vs Oman pada Rabu (06/01) di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta hampir selesai dan Indonesia sebentar lagi mengucapkan selamat tinggal pada Piala Asia. Seorang suporter berlari masuk kelapangan, badannya kelihatan sedikit gempal, berkacamata dengan baju timnas garuda di dada. Wasit meniup peluit untuk menghentikan sementara pertandingan, pemain Oman kemudian menendang bola ke sisi sebelah kanan pertahanannya. Lelaki bernama Hendri Mulyadi itu berlari dengan cepat mengincar bola, dia lolos dari hadangan Boaz Salosa yang ingin menangkapnya. Ketika bola berhasil didapatkannya, dengan telanjang kaki Hendri menggiring dan mendribel bola dengan cepat menyusur sisi kiri mengarah ke gawang, seorang polisi nampak kesusahan mengejarnya, ketika telah masuk daerah gawang, Hendri berusaha mengecoh kiper dan menendang bola, sepakannya kurang keras, dengan tertawa namun waspada kiper Oman, Al Habsiy,  yang juga Kiper Bolton Wanderes menahan bola dan menyelamatkan gawangnya dari keisengan suporter Indonesia yang kesal dan kecewa dengan tim nasionalnya.

Aksi Hendri berakhir setelah dia menendang bola, polisi yang tadi mengejarnya menarik lehernya dan Hendripun tersungkur, pemuda asal Bekasi itu menjadi tontonan jutaan orang seluruh Indonesia dan mungkin seluruh dunia setelah videonya di upload di you tube.  Meski tak baik untuk ditiru, tapi protes Henri dipuji banyak orang, banyak yang menyesal kenapa Hendrik tak bisa bikin gol untuk menolong timnas agar tak kalah di kandang sendiri, ada-ada aja. Protes Hendri termasuk unik, banyak yang bilang dia kurang waras, namun demikian ini adalah protes yang paling kreatif yang pernah saya lihat. Yang paling sering kita lihat adalah suporter masuk kelapangan dengan lari membawa bendera, atau menarik kaos pemain, tapi yang ini lain, dia merebut bola dan berusaha mencetak gol lagi, bener-bener gila. Kenapa Hendrik melakukan itu ?  “Saya melakukan itu karena kecewa tas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri,” tuturnya saat ditanya wartawan di ruang interogasi keamanan yang terletak di area GBK.

Secara pribadi saya berterima kasih kepada Hendrik yang telah membuat PSSI harus mengevaluasi diri sebaik-baiknya . Setelah pencapaian terburuk sepanjang sejarah timnas di Sea Games Laos yang lalu, PSSI kembali menuai rekor buruk dalam 14 tahun terakhir yaitu tak lolos Putaran Final Piala Asia.  Kompetisi Indonesia Super League yang kita harap bisa melahirkan pemain-pemain tangguh, terlatih dan kompetitif berlaga di tingkat regional, belum menampakkan hasil, justru lebih sering disuguhi pertandingan bola plus plus, plus karate atau taekwondo. Untuk bersaing saja di tingkat ASEAN kita sudah jauh ketinggalan, bagaimana mau bermimpi bisa ikut Piala Dunia? Berbenahlah PSSI !

Bagi yang penasaran ingin melihat aksi Hendri, bisa dilihat disini :

Sang Pemimpi

Bermimpilah, karena kalau tidak kita akan mati.
Kesempatan menonton film sang pemimpi datang juga, sebuah film yang diadaptasi dari novel laris Andrea Hirata “Sang Pemimpi”, juga merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi. Produsernya adalah Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza. Namanya juga adaptasi maka tak semua isi cerita sama dengan novelnya, beberapa bagian nampak sengaja diubah agar sesuai dengan alur cerita film, beberapa bagian juga nampak kesulitan untuk menyesuaikan dengan dramatisasi Andrea di novelnya.

Tokoh sentral sang Pemimpi adalah Arai, si pemimpi kelas kakap dan pengkhayal paruh waktu, kata Ikal menggambarkan sahabatnya itu. Sebagian besar isi cerita adalah tentang bagaimana usaha tiga sahabat : Ikal (diperankan Zulfani ketika kecil, Vikri Setiawan ketika remaja, dan Lukman Sardi saat dewasa), Arai (diperankan Sandy ketika kecil dan Rendy Ahmad ketika remaja, serta Nazril Ilham saat Dewasa) dan Jimbron (diperankan Aswir Fitrianto) untuk meraih mimpi mereka, dan sumber peniup mimpi itu adalah Arai.

Pembaca novel Sang Pemimpi tentu sudah tahu bahkan mungkin banyak yang hafal dengan setiap detail adegan dalam novel tersebut. Jika anda bisa tertawa dan menangis membaca novelnya, anda tetap bisa merasakan hal yang sama dalam filmnya juga. Jika ketika kita membaca novelnya merasakan semangat yang menyala dan mimpi penuh gelora dari Arai, maka Arai remaja dalam filmpun bisa membuai kita. Meski dengan segala kekurangannya, film tersebut tetap punya nilai cita rasa lain yang  memberi pengalaman berbeda dibanding kita membaca novelnya.

Agak berbeda dengan novelnya, Arai di novel adalah penggemar Jim Morrison, dan meskipun telah dilatih berkali-kali memetik gitar, hasil akhir yang bisa dilakukannya untuk memikat Zakiah Nurmala adalah bernyanyi dengan lipsing di dekat jendela rumah Zakiah untuk menarik hatinya. Hasil adaptasinya memberi muatan lokal melayu, ketika Arai menyanyi begitu merdu dengan lagu melayu di jendela rumah Zakiah, mantap nian suaranya, sebuah mimpi lain dari Arai yang terwujud untuk memberi kesan kepada Zakiah sebelum berangkat merantau.

Arai, sang pemimpi itu, memberi cahaya bagi kedua sahabatnya. Terus menerus menyemangati teman-temannya, tentang mimpi mereka menjelajah Eropa dan bersekolah di Perancis, seperti yang diinginkan guru sastranya pak Balian (diperankan dengan mulus oleh Nugie). Mimpi-mimpi itulah yang menyemangati ketiga anak miskin itu untuk bekerja keras dan juga belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus sekaligus menabung untuk persiapan merantau ke Jakarta, titik singgah pertama mereka sebelum melanglang buana ke Eropa. Sebuah peta telah dibuat Arai sebagai guide jalur perjalanan mereka nantinya. Tapi mimpi tak selalu mudah apalagi dalam keterbatasan, karena itu Arai  tidak hanya sekedar berdiam diri dan hanya bermimpi, tapi terus menerus memlihara mimpi itu, mencurahkan tenaga pikiran dan doanya untuk meraihnya. Ada saat dimana mereka berkonflik, ketika Ikal capek dengan keadaan yang ada, ketika mereka terhukum atas ulah Arai, dan Ikal mulai meredup mimpinya. Sosok guru yang keras Pak Mustar menyadarkannya, Arai sahabatnya tetap menyemangati dan memperhatikannya, serta janji kepada orang tua yang telah memberi teladan agar tak pernah menyerah dalam keadaan apapun, menyebabkan ikal kembali berlari mengejar mimpinya. Sebuah pelajaran berharga bahwa jika ingin menjadi pemimpi yang berhasil, milikilah Orang tua yang pantang menyerah, sahabat yang senantiasa bersemangat dan guru yang bijak.

Riri Riza sang sutradara menurut saya, sangat tepat ketika memilih Rendy Ahmad sebagai pemeran Arai remaja. Sorot mata dan bahasa tubuh dari Rendy sangat pas dengan penggambaran Arai di novel, dia cocok sekali dengan peran itu. Satu yang kurang, meskipun cukup menarik dengan kemunculan perdananya di layar lebar,pemeran Arai dewasa adalah Nazril Ilham alias Ariel Peterpan. Sayang sekali pemeran Arai dewasa ini tak bisa memerankan dengan baik sosok Arai. Sorot mata, bahasa tubuh, senyum dan ketawanya sangat kaku, dan tak bisa menggambarkan sosok Arai yang luwes, sorot mata bercahaya, dan senyum yang agak sedikit nakal. Mata Ariel nampak menyimpan gundah, seperti biasa ketika kita mendengar lagu-lagunya.

Ah, saya tak usah bercerita banyak, kasihan yang belum nonton.

Judul: Sang Pemimpi
Genre: Drama
Sutradara: Riri Riza
Produksi: Miles Production
Pemain: Zulfani, Sandy Pranatha, Rendy Ahmad, Vikri Setiawan, Lukman Sardi, Nazril Ilham, Nugie, Mathias Muchus, Rieke Dyah Pitaloka

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Pemimpi_(film)

http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2009/11/26/brk,20091126-210531,id.html

http://www.filmsangpemimpi.com/filmsangpemimpi.htm

Hal Tak Penting Tentang Bandara Soekarno Hatta

DSC_0166
Gerbang Soekarno Hatta/ Photo by : A. Makkuradde

Menarik membaca tulisan pak Chappy Ada yang baru di Soekarno Hatta !. Saya juga pengen cerita tentang bandara. Tapi karena saya belum pernah ke Luar Negeri jadi tak bisa bercerita tentang antrian pemeriksaan Imigrasi. Saya mau cerita hal-hal tak penting yang kadang dilewatkan orang ketika di Bandara International Soekarno Hatta.

Saya ingin berbagi pengalaman saya selama lebih dua tahun berkantor di sekitar bandara.

Pernahkah anda ditawari ojek di bandara? Sering melihat motor berkeliaran dibandara? Dimanakah Parkir motor di Terminal 1 dan 2 bandara? Tahukah anda kalo dibandara ada Angkot? Dimana warung makan yang murah? Dimana bisa dapat kopi harga kaki lima? Percayakah anda kalo dibandara ada bendi yang kayak sering dilihat di Monas?

 

Nah kita bahas satu-satu aja

Transportasi

Ketika baru mendarat di Terminal 1 & 2 untuk kedatangan domestik kita sering kebingungan ketika begitu banyak yang menawari jasa untuk diantar. Ada yang dengan penuh senyum dan berompi menawari ojek, yang lain dengan pakaian lebih rapi berkemeja membawa kunci mobil menawarkan mobil carteran, ada juga yang membawa pengalas dengan selembar kertas check list menawarkan Taksi. Ada juga Damri yang melayani beberapa rute kearah Jakarta, serta Travel ke Bandung. Jadi ada banyak pilihan.

Tapi mungkin yang tak banyak orang tahu bahwa untuk keluar dari Bandara ada Angkot bertuliskan Airport Transportation, mobil kijang berwarna silver, berAC dengan tarif Rp. 4000, mengantar dari bandara ke Rawa Bokor. Rawa Bokor adalah daerah sekitar bandara, kalau anda baru keluar dari pintu tol Sedyatmo ada petunjuk arah keluar ke Rawa Bokor. Rawa Bokor menjadi pilihan buat kos-kosan sekitar bandara, beberapa hotel-hotel kecil untuk yang transit juga tersedia disana.

Kadangkala ada penipuan terhadap penumpang yang baru turun dari pesawat ketika ditawari angkutan. Sebuah cerita teman saya, sebut namanya Udin. Malam itu dia baru mendarat di Terminal 1 bandara Soekarno Hatta, rencananya akan menginap dulu dikosan Jai di Rawa Bokor. Jai sudah bilang ke Udin “Naik Ojek aja, paling bayar 10 atau 15 rebu”

Setelah Udin mengambil ranselnya bergegas dia keluar. Begitu keluar pintu, seorang bapak-bapak menawari untuk ikut dimobilnya, katanya kebetulan dia juga mau ke arah Rawa Bokor

Udin berkata ke yang nawarin ” Ongkosnya lima belas ya?”

Dijawab dengan anggukan oleh sang orang baik hati.

” Waa saya lebih untung nih, bisa ikut numpang naik mobil daripada harus naik ojek” Kata Udin dalam hati

Merekapun berangkat dari parkiran Terminal 1 bandara, ketika mendekati pompa bensin, sebelum keluar bandara didepan wisma soewarna

“Kita isi bensin dulu ya” kata sopir

Setelah masuk antrian buat isi bensin, si sopir minta uang dulu buat beli bensin

“Mas, bisa bayar dulu nggak, mau isi bensin nih”

Si Udin mengeluarkan dompet, dan diberinya duit 15 ribu ke sopir

“Masa lima belas ribu mas, ongkosnya 150 ribu”

“Loh tadi kan saya sudah tanya, ongkosnya lima belas kan?”

” Maksud saya tadi itu 150 ribu”Kata sopir

Setelah mengorek-ngorek semua isi dompetnya terkumpul uang 50 ribu, dan diserahkan ke sopir tadi, dia tak punya duit lagi dan sopir tak bisa memaksa. Selang lima menit mereka tiba di Rawa Bokor. Saya yang mendengar cerita teman itu dibuat gemas juga, ini sebenarnya penipuan. Tarif biasa naik ojek yang hanya menempuh waktu 15 menit dari bandara itu 10 ribu, paling mahal 15 ribu. Sementara kalau naik Taksi paling bayar 30 ribu

Jadi bagi yang baru mendarat dibandara Soekarno Hatta dan ada yang menawari untuk ikut mobilnya atau carteran, mending pikir-pikir dan harap lebih hati-hati. Saya sarankan untuk naik Taksi Blue Bird jika perjalanannya tak jauh dari daerah Tangerang dan Jakarta Barat, Taksi lain biasanya menolak. Alternatif lain naik Damri, tapi kalau mau lebih hemat adalah naik Angkot dari Bandara ke Rawa Bokor, dari Rawa Bokor ada Metromini arah Kali deres-Tanah abang, kalau sudah sampai di Kali deres disana ada busway yang bisa mengantar ke arah Harmoni. Dari Terminal Kalideres juga banyak bus yang mengantar ke Terminal-terminal di seputaran Jabotabek.

Parkir Motor

Sebelum dibangunnya Terminal 3, tak pernah secara tegas ada petunjuk dimana harus parkir motor di Bandara. Untuk Terminal 1 & 2, kita harus cukup tahu tempatnya baru bisa parkir, tak ada petunjuk sebelum benar-benar hampir masuk parkiran. Padahal ada area parkir khusus buat motor, tarifnya Rp. 2000 sekali masuk, dalam waktu tak terbatas. Sayangnya kondisi lahan parkirnya tak terawat, tempatnya tak bersemen jadi becek ketika hujan. Soal keamanan, tak usah khawatir para petugas keamanan tak akan membiarkan motor keluar kalau tak bawa STNK, saya pernah mengalaminya, ketika saya bilang sama petugasnya “tahan SIM saya aja pak dulu pak, saya kerja juga sekitar sini, besok saya ambil dengan membawa STNK” dengan santainya petugas bilang ” SIM itu Surat Ijin Mengemudi, kalo STNK itu Surat Tanda Nomor Kendaraan, jadi tak bisa pak” dengan sedikit dongkol saya tinggalin motor dan pulang, baru saya ambil lagi besoknya, bayarnya tetap Rp. 2000

Makan Minum

Bagi yang bawa duit pas-pasan, makan dan minum di bandara mungkin menjadi agak berat. Harga makan dan minum di bandara bisa jauh berbeda dengan di luar bandara, padahal rasanya biasa-biasa aja, tak ada yang istimewa. Tapi sebenarnya ada pilihan lain bagi anda yang mau sedikit menghilangkan gengsi dan tetap ingin mengisi perut. Di Area parkiran Terminal 1 & 2 terdapat bangunan pavilyun dimana terdapat rumah makan Padang, harganya sama dengan diluar, kalau mau makan rendang dengan teh manis cukup bayar 11 ribu. Mau ngopi yang murah? ada juga. Di kios yang terdapat di Terminal Bandara, Kopi Hitam dihargai biasanya dengan harga 10 ribu rupiah, tapi jika anda tidak peduli dengan gengsi dan rasa kantuk menyerang ketika menunggu di bandara, jalan-jalanlah ke arah parkiran mobil, disana terdapat pedagang asongan, ibu -ibu dengan penutup kepala yang menjual kopi dengan harga kaki lima, tinggal cari pohon yang teduh anda bisa ngopi sambil menikmati angin yang berhembus dan sesekali dihibur dengan pemandangan pesawat terbang rendah di langit.

Nah, itu aja deh, buat yang pengen alternatif hemat dibandara, ada pilihannya kok. Satu lagi yang belum saya jawab soal bendi di bandara, pernah lihat nggak? kalo saya sih nggak pernah, hehehe 🙂

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started