Dear Faraday Ponggawa Anakku

Dear faraday.ponggawa@gmail.com

1.11.11 – 1.11.13
Selamat Ulang Tahun yang ke-2 anakku sayang. Maafkan papa tak bisa berada didekatmu diusiamu yang bertambah. Dua tahun ini kamu tumbuh dengan mengagumkan, Allah melimpahkan kepadamu anugerah kecerdasan motorik dan verbal dengan sangat cepat, gigimu telah tumbuh diusia 6 bulan, berjalan di usia 11 bulan, dan saat ini sudah mulai merangkai kata, bahkan kata Mama sudah bisa “membaca”, meskipun maksudnya membaca adalah menerjemahkan gambar dalam kata-kata yang berhubungan dengan gambar tersebut.

gwa naik sepeda
Faraday Ponggawa

Dan lebih hebatnya lagi sudah bisa paraphrase, ketika mama menyuruh “Gawa, panggil Ambo’ makan”, kamu teriak “Ambo’, Manre !!”. ketiika mama bilang “ Gawa, masuk sudah malam”, kamu bilang “masuk, sudah gelap”. Kemampuan ini harus kamu kembangkan, pada saatnya nanti akan berguna kalau mau menulis essay J. (cat: manre = makan dalam bahasa bugis).

Kamu tahu kan namamu di ambil dari mana?, namamu adalah perlambang, symbol dan sekaligus doa. Ada tiga kata di namamu : Ahmad, Faraday dan Ponggawa. Ahmad diambil dari nama Papa juga yang dalam bahasa Arab berarti terpuji, dan nama tersebut merupakan nama kecil Nabi Muhammad SAW. Orang yang menyandang nama Ahmad didoakan agar memiliki akhlak yang terpuji sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Faraday diambil dari nama ilmuwan Inggris bernama Michael Faraday. Faraday adalah ilmuwan terkemuka di bidang elektromagnetik, penemuannya yang paling berharga bagi umat manusia adalah Hukum Faraday yang menjadi dasar dari motor listrik. Dia juga yang pertama membuat transformator dan generator. Faraday-lah yang berjasa besar mengantarkan listrik ke rumah-rumah kita dengan penemuannya. Karena penemuan tersebut listrik bisa dibangkitkan, disalurkan dan digunakan untuk kemajuan peradaban manusia. Papa dan mama memberimu nama Faraday agar kamu bisa mencontoh Faraday, menjadi pionir dan penemu yang bermanfaat bagi umat manusia.

Nama Ponggawa, berarti pemimpin dalam bahasa bugis. Empat karakter yang dimiliki oleh seorang Ponggawa adalah macca (pintar), warani (berani), sogi (kaya) dan panrita (taat beragama). Tentu Papa dan Mama berharap kamu bisa jadi pemimpin yang baik, bagi keluarga, bagi agama dan tentu saja kamu berpeluang besar untuk menjadi pemimpin masa depan di Indonesia.
Kalau digabungkan namamu berarti seorang Pemimpin yang terpuji dan bermanfaat bagi banyak orang. Namamu juga symbol pertautan budaya, nama Ahmad yang identik dengan islam, nama Faraday yang merefer ke Inggris dengan peradabannya yang maju dan nama Ponggawa yang bersumber dari budaya bugis egaliter.

Papa tak bermaksud untuk membebanimu dengan banyak hal, papa juga tak pintar-pintar amat, tak jago-jago amat, tapi Papa percaya satu hal, bahwa kita bisa menjadi lebih baik jika berusaha, bahwa kita juga tak akan menjadi apa-apa kalau diam saja, dan kita akan membusuk dan menjadi sarang jentik jika tak bergerak.

Papa percaya, kamu lebih jago dan lebih hebat dari Papa, bukan karena Papa lebih pintar mendidik anak dibanding Kakekmu, akan tetapi Kakekmu bilang, Gawa lebih hebat dari Papanya diusia 2 tahunnya. Di usia 2 tahun tugas utamamu bermain, karena itu tetaplah bergembira, tertawa dan kalau mau menangis juga dipersilahkan. Berimajinasilah sejauh-jauhnya dan setinggi-tingginya, karena kelak ketika kau mulai beranjak dewasa kamu kadang-kadang lupa cara berimajinasi dan terlalu mengandalkan rumus-rumus yang sudah pakem.

Papa tahu duniamu adalah dunia yang bergerak begitu cepat, teknologi semakin canggih dan kehidupan semakin menantang. Duniamu semakin tidak natural, mainan papa dulu adalah kulit jeruk dan besi bekas kursi untuk mobil-mobilan, bambu untuk senapan, pelepah pisang untuk main bola. Sekarang kamu sudah dimanjakan teknologi. Pada saatnya nanti, mainan-mainan papa akan dijadikan barang antik bagi anak muda diusiamu, sepedanya kakeknya papa akan dikenang sebagai kendaraan masa lalu yang kuat, motor GL 125 kakekmu akan dikenang sebagai raja jalanan jaman dulu, dan kami-kami yang seusia papamu ini akan menua dan hanya bisa mengenang saat-saat napas kami masih kuat-kuatnya untuk bermain bola 3 jam atau bermain hujan-hujanan tanpa pernah merasa capai. Meskipun kelihatan makin canggih, sebenarnya dunia ini menuju ketidakteraturan, Hukum II Termodinamika bilang, Entropy suatu system akan tetap atau akan semakin bertambah, yang artinya bahwa suatu system akan bergerak menuju ketidak teraturan secara alami. Tapi jangan khawatir, itu berlaku untuk sistem alam semesta secara keseluruhan, untuk duniamu, kamu masih bisa menginjeksikan energi kedalamnya melalui usaha dan kerja keras, entropi (ketidakteraturan) akan menurun ketika ada energi yang diinput dari luar sistem. Kalau kamu tak mengerti juga penjelasan Papa, tak apa-apa, Papa memang bukan anak Mesin.

Dunia masa kecilmu telah dijejali dengan facebook, twitter, instagram, path, foursquare, whatsapp, blog dan semacamnya. Itu semua belum ada dimasa papa sudah mulai berkumis. Jaman dulu komputer sangat langka, tapi sekarang telah berubah menjadi segenggaman tangan, dan satuan memori dan media penyimpan bergerak dari Kilo, ke Mega menjadi Giga dan sekarang sudah Tera. Itu terjadi kurang dari 15 tahun. Banyak terknologi yang hilang sebelum kamu sempat memahaminya, kamu belum sempat berkenalan dengan Black berry, dia sudah keburu almarhum karena tak mampu melawan zaman. Papa berharap kamu juga tak tergilas zaman nantinya. Karena itu beradaptasilah dengan zaman, belajarlah mengenali tanda-tanda zaman, tapi tetaplah berpegang teguh pada agama dan nilai luhur budaya yang mengalir didarahmu.

Kamu mungkin belum bisa membaca tulisan ini, tapi insya Allah, ketika kamu mulai bisa membaca kamu bisa merangkai duniamu sendiri. Sebagai penutup papa mau bilang pesan dari film “Jangan pernah percaya kepada siapapun yang mengatakan kamu tidak bisa, meskipun orang tersebut adalah Papa sendiri”. Dan satu lagi, belajarlah menulis sedari kecil, karena itu akan kau wariskan kepada anak cucumu.

O iya, kamu tahu kenapa dipanggil Gawa? Supaya jadi anak yang Gagah dan Berwibawa :).

Selamat Ulang Tahun Yang ke-2

Salam dari Edinburgh.

BANGKU TAMAN

Pak Jokowi gelisah, bangku-bangku yang sedianya untuk warga bersantai malah jadi tempat ciuman anak muda dan tempat tidur gelandangan. Pak Jokowi tentu tak senang dengan hal ini, maka dari itu beliau berinisiatif untuk mengubah desain bangku tersebut menjadi single. Ada pelajaran menarik dari bangku taman ini:

Pertama, bangku itu sebenarnya diperuntukkan untuk bersantai bagi warga yang mengunjungi taman, didesain double memang supaya bisa ditempati oleh keluarga. Pak Jokowi pasti sadar bahwa masyarakat Jakarta membutuhkan tempat duduk untuk menikmati taman sambil bercengkerama dengan keluarga. Dengan penatnya kota Jakarta, bersantai di Taman adalah cara mudah untuk menghilangkan stress. Sebagai pengusaha mebel  dan juga Gubernur, pak Jokowi tahu warga membutuhkan bangku untuk bersantai, maka dikirimlah bangku-bangku dari Solo untuk mengentertain warga Jakarta.

Kedua, kita tak siap untuk berbagi fasilitas umum. Bangku tersebut ternyata lebih sering digunakan oleh tunawisma dan tukang ojek. Berapa banyak kita lihat fasilitas umum di Jakarta diokkupasi bukan peruntukannya. Tak terhitung jumlah halte bus jadi tempat mangkal pedagang kaki lima, trotoar tak ada tempat buat pejalan kaki, tukang tambal ban di setiap perempatan, dan semuanya seperti merasa dia yang punya tanah disana, kita yang hanya sekali-sekali lewat tak punya hak untuk merasakan kenyamanan fasilitas tersebut.

Ketiga, Ini bukan berita baru dan sudah basi, Jakarta benar-benar sudah terlalu padat. Jumlah penduduk Jakarta  sudah diatas batas normal. Hampir tak ada tempat untuk bernafas dengan wajar di Jakarta. Taman yang sedianya buat relaksasi malah kadang terlalu padat dan terlalu banyak orang, sehingga kita harus berebut dengan orang lain bahkan hanya untuk sebuah tempat duduk.  Kalaupun sudah duduk dengan santai, tak lama kemudian antrian pengamen dating silih berganti. Pengamen di taman-taman bukanlah sahabat yang bisa menghibur, tak banyak yang mendendangkan lagu indah. Bahkan tak jarang pengamen tersebut memaksa kalau tak diberi.

Keempat, taman kita tak cukup penerangan. Penerangan bisa memberikan rasa aman kepada warga yang mengunjungi taman di malam hari, dan juga menghindarkan adegan mesum terjadi di tempat gelap. Dulu di monas, waktu saya masih ada proyek di sekitar Gambir, saya sering lewat di sekitar taman monas pada malam hari. Disekitar taman monas yang gelap itu terdapat abang-abang yang menyewakan tikar untuk pasangan muda-mudi yang lagi jatuh cinta tapi tak cukup modal untuk nongkrong di tempat lain. Tentu saja penyewaan dengan harga yang cukup mahal karena dalam cost penyewaan tersebut terdapat jaminan bahwa pasangan muda-mudi tersebut tak akan diganggu oleh siapapun. Entah bisnis yang sama masih terjadi sampai sekarang, saya tak tahu. Pak Jokowi sebenarnya bisa mengurangi adegan tidak senonoh di taman baik ditempat yang berbangku ataupun yang berbangku dengan memperbanyak penerangan di taman. Setan juga takut sama yang terang-terang.

Image
Bangku Taman di Edinburgh

Di Edinburgh, jumlah penduduknya hanya sekitar 400 ribu orang, tamannya sangat luas dengan tempat duduk dimana-dimana.  Bangku-bangku kayu yang berjejer dengan rapi di  Taman-taman Edinburgh adalah bangku kayu sumbangan para warga, bangku-bangku tersebut biasanya didedikasikan oleh penyumbang untuk mengenang keluarganya yang telah berpulang. Penyumbangnya bisa pribadi maupun organisasi tertentu. Dibangku tersebut tertulis nama-nama penyumbang dan untuk siapa bangku tersebut dibuat. Banyak bangku yang sudah lebih 30 tahun dan masih berfungsi dengan baik, tak nampak kehilangan kekuatan atau doyong dan membahayakan warga yang ingin duduk.

Ini tradisi yang baik sebenarnya karena bangku-bangku yang jumlahnya mungkin sudah ratusan tersebut menjadi tempat istirahat melepas lelah atau juga tempat belajar dan mencari inspirasi. Mungkin sebaiknya pak Jokowi mengkampanyekan juga kepada warga Jakarta untuk menyumbangkan bangku. Tapi tak usahlah, disumbang hari ini bisa hilang besok, apalagi kalau bangku kayu, gampang diangkutnya, kalau menyumbang bangku besi, malah bisa digergaji dan dijual ditukang loak.

Ah Jadi serba salah. Au ah… Itu urusan pak Jokowilah

Salam dari Edinburgh

Arthur’s Seat dan Legenda Raja Arthur

Tak sah ke Edinburgh kalau belum ke Arthur’s Seat, begitu kata orang-orang. Seperti orang ke Jakarta belum ke Monas kata Muhammad Aulia, teman sesama mahasiswa dari Indonesia di Edinburgh. Sebenarnya sudah dari minggu-minggu sebelumnya di ajak Aulia ke Arthur’s Seat karena letaknya yang terlalu jauh dari flatnya, namun dingin di pagi hari menghalangi niat tersebut.

Beruntunglah cuaca hari sabtu 5/10/13, cerah dan segar. Matahari bersinar, langit tampak terang dan tak nampak tanda-tanda hujan. Segera saya text Aulia dan ajak ke Arthur’s Seat. “OK” katanya “kita ketemu di Old College, University of Edinburgh”.

Kami berangkat dari South bridge menuju ke Scottish Parlement, berbelok di Museum of Earth dan kemudian menuju ke Hollyrood Park.

Naik gunung bukan hobby saya. Meskipun saya sebenarnya tidak pernah naik gunung beneran, sewaktu kecil saya biasa ke kebun bapak di Bulu Caggillung di Daerah Wajo, sebenarnya itu bukit tapi lama perjalanan kaki yang ditempuh kesana bisa 7 jam. Sewaktu SD, saya juga pernah menemani tetangga ketika pertama kali akan ditugaskan sebagai Guru Daerah Terpencil di Bila, ini naik bukit juga dan jalan kaki 6 jam. Tapi naik gunung beneran, tak pernah, jadi saya tak termasuk mantan mahasiswa pencinta gunung, kalo pencinta alam mungkin saya termasuk J.

Arthurs seat bisa dinaiki dari berbagai sudut, tapi karena kami lewatnya Scottish parliament, maka mulai naiknya dari sana, perjalanannya tak terlalu mendaki meskipun berkeringat juga. Pemandangan pertama adalah St. Margaret’s Loch, danau kecil dengan banyak bangau yang beterbangan Nampak indah dari atas.

Sedikit naik keatas lagi Nampak reruntuhan bangunan sisa Kapel  St Anthony. Kapel ini dibangun sekitar Abad ke-15, dan dari catatan terakhir Paus memberikan dana untuk perbaikan pada tahun 1426, sementara itu peribadatan terakhir adalah tahun 1581. Tak ada yang tahu persis seperti apa bentuk asli kapel tersebut karena yang tersisa hanya satu bagian tembok.

Reruntuhan Kapel St. Anthony
Reruntuhan Kapel St. Anthony

Dari kapel tersebut kita naik lagi keatas, beberapa orang tampak berusaha menuju puncak juga, ada yang mengambil jalur pendakian yang lebih mudah yang bisa diakses mobil. Banyak juga yang membawa peliharaannya jalan-jalan.

Jalur ke Puncak
Jalur ke Puncak

Mendekati puncak, jalanan diberi semacam pagar untuk memudahkan pendakian. Begitu sampai di puncak Arthur’s Seat, angin dingin menusuk tulang, tangan saya rasanya membeku, darah tropis saya tak terbiasa dengan angin dingin. Dipuncak Arthur’s Seat kita dapat melihat pemandangan Edinburgh 360derajat, tampak dari atas Old College, Edinburgh Castle, Scott Monument, Pelabuhan, Stadion, Calton Hill, dan masih banyak lagi. Di puncak inilah orang-orang berfoto dengan bermacam gaya untuk mengabarkan kepada saudara “Aku telah sampai di Edinburgh”.

Edinbra 360derajat
Edinburgh 360derajat

Legenda Raja Arthur

Raja Arthur sudah menjadi legenda Dunia, ceritanya dibukukan dan difilmkan. Cerita tentang Raja Arthur punya banyak versi dari banyak pengarang. Dia sebenarnya Raja Jaman Abad ke-5, namun ceritanya pertama kali muncul pada tahun 830 oleh seorang pengarang bernama Nenius. Dalam cerita ini Raja Arthur memimpin pasukan Britania menghadapi gempuran bangsa Anglo-Saxon dari Jerman, Nenius mencatat terdapat 12 pertempuran yang dipimpin oleh King Arthur. Cerita Raja Arthur berkembang seriring zaman, dia berubah menjadi legenda dan mitos, dan mitos tentang Merlin, Excalibur dan The Knight of Round Table menjadi lebih penting dari sejarah itu sendiri, pada akhirnya Raja Arthur diangkat sebagai Cerita Pahlawan untuk menyemangati Bangsa Britania tentang kebaikan dan kegigihan, kesetiakawanan dan kegigihan melawan kejahatan.

Dari cerita tersebut, apa hubungannya Arthur’s Seat dengan Raja Arthur. Banyak dugaan bermuculan seperti juga misterinya sejarah Raja Arthur sendiri. Yang paling narsis menyatakan bahwa memang ada hubungan antara Raja Arthur dengan Arthur’s Seat, disanalah tempat pasukan Raja Arthur jaman dahulu, tapi ada juga yang menyatakan bahwa nama tersebut karena kesalahan pengejaan Ard-na-Said, “Height of Arrows”, mungkin diantaranya pernah disebut “Archer’s Seat”, dan jadilah Arthur’s Seat.

Bagaimanapun cerita asal muasal nama Arthur’s Seat menjadi tidak penting bagi orang Edinburgh, mereka lebih senang percaya, Arthur’s Seat memang ada hubungannya dengan Raja Arthur. Tak perlu disalahkan, kita juga lebih senang demikian, dan yang lebih penting bagi saya…

I WAS THERE……:)

I Was Here
I Was Here

Salam dari Edinburgh

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started