Oleh oleh Malaysia (bag. 2 Bugis Malaysia)

“Kamu dari mana di Indonesia”
“Saya dari Sulawesi, Saya Bugis”
“Oo, aga kareba?”
“baik-baik”

Itulah penggalan percakapan saya dengan Azaruddin, seorang pegawai Energy Comission Malaysia. Dihari ke tiga training di TNB Malaysia, saya dan Azaruddin berbincang santai menunggu speaker datang, setelah makan siang yang tak bisa makan banyak, kami baru saja makan jam 11 untuk tea break, kemudian disuguhi menu yang lebih berat lagi disiang hari. Berdiri dan berbincang sambil ketawa adalah metode mudah mengusir ngantuk sebelum masuk kelas.

Saya heran ketika Azaruddin Aga Kareba? (bahasa bugis = apa kabar?). Setahu saya memang banyak orang bugis di Malaysia, tapi saya tak menyangka ternyata salah seorang dari 3 peserta Malaysia dari pertemuan tersebut bisa berbahasa bugis.

“kamu bugis ya” kataku
“iya”
“bugis apa? Bone, Sidrap, Soppeng Wajo?” kataku lagi
“saya tak tahu, pokoknya saya bugis, orang tua saya bugis, dan satu-satunya bahasa bugis yang saya tahu hanya Aga kareba”

“mungkin sebaiknya kami tanya sama Dato’ Najib Tun Razak? siapa tahu leluhurmu sama” kataku
“o iya, dia memang bugis, orang di kesultanan Johor juga menggunakan bahasa bugis” kata Azaruddin

Azarudddin , Lelaki Bugis dari Malaysia

Cerita tentang orang bugis yang merantau sudah bukan barang baru lagi. Menurut sejarahnya, para perantau bugis telah bermigrasi ke seluruh Nusantara sejak 500 tahun yang lalu, mereka pergi meninggalkan tanah leluhur karena 2 alasan, alasan ekonomi dan alasan kemerdekaan. Situasi politik di Sulawesi Selatan tahun 1500an bergejolak, membuat banyak bangsawan bugis merantau, diantaranya adalah Daeng Celakdan keempat saudaranya, Raja pertama dari Selangor bergelar Sultan Salehuddin adalah putra dari Daeng Celak, berikut kutipan dari blognya bang Andy Soekry Akmal

Dalam sislilah Kerajaan Luwu yang salinannya dimiliki penulis, Wetenrilelang (Tenrileleang Petta Matinroe Ri Soreang) adalah Raja Luwu ke 24 dan 26. Ia dua kali bersuami, yaitu Lamallarangeng Datu Lompulle dan Lamappasili Datu Pattojo Matinroe Ri Duninna. Dari hasil perkawinannya dengan Lamappasili melahirkan Lamappapoleonro Datu Soppeng, sedangkan dari perkawinannya dengan Lammallarangeng, Wetenrileleang melahirkan seorang putri dan dua orang putra salah satunya Lamaddussila Karaeng Tanete.

Selanjutnya La Maddusila Karaeng Tanete, menurut silsilah Kerajaan Luwu, kawin dengan Iseng Tenribali Datu Citta. Namun dalam silsilah tersebut, tidak dijelaskan lagi keturunannya. Dan dari hasil penelusuran sejarah kemudian diketahui bahwa ternyata Lamaddusiila memiliki seorang putri bernama Wetenriborong yang kemudian menikah dengan Opu Daeng Kemboja. Pernikahan ini menghasilkan lima orang putra, masing-masing Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cella, Opu Daeng Manambong dan Opu Daeng Kamase. Menurut Prof Emeritus Dato` Dr Moh Yusoff bin Haji Hasyim, President Kolej Teknologi Islam Antarbangsa Melaka seperti dikutip Antara, kelima putra-putra inilah yang kemudian merantau ke Selangor dan menjadi cikal bakal keturunan raja-raja di Malaysia hingga saat ini. Kelima turunan Raja Luwu yang dikenal sebagai Opu Nan Lima ini, menjadi cikal bakal keturunan raja-raja di Malaysia selain juga menurunkan banyak raja-raja Melayu di Kalimantan dan Sumatera. Intinya, dari sembilan raja yang memerintah di Malaysia, ternyata pada umumnya merupakan keturunan RajaBugis dari Kerajaaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Pada closing ceremony, Azarudin meminta saya menulis kesan buat dia dalam bahasa bugi, saya menulis kata pendek aga kareba dalam huruf lontarak, dia nampak sangat senang, huruf lontarak jelas tak diajarkan di Malaysia, hanya diajarkan di sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan. Sebagai kenang-kenangan kuberikan baju bergambar Sultan Hasanuddin kepadanya.

O iya, Tun Abdul Razak (perdana menteri ke-2) dan putranya Najib Tun Razak (PM saat ini) adalah keturunan dari Sultan Hasanuddin. Dalam kunjungannya ke Makassar tahun 2009, Najib Tun Razak disambut sebagai keluarga yang kembali ke kampung halamannya, menurut Andi Maddusila Ijo, keturunan langsung dari Raja Gowa sebagaimana dikutip Vivanews.com

leluhur Tun Abdul Razak bernama Karaeng Aji, keturunan langsung Raja Gowa Sultan Abdul Djalil.  Seperti kebiasaan orang-orang Gowa Makassar, Karaeng Aji pergi merantau meninggalkan Negeri Gowa pada tahun 1722 menuju Negeri Pahang.

Selanjutnya berdasarkan penelusuran vivanews

… informasi yang dihimpun, di negeri Pahang, Karaeng Aji berhasil menjadi Syahbandar dan mendapat gelar Toh Tuan. Setelah itu, Karaeng Aji menikahi salah seorang Putri di negeri Pahang dan memiliki banyak keturunan di sana.

Beberapa cucu dan cicitnya di kemudian hari menjadi orang sukses dan nomor satu di Malaysia di antaranya: Datuk Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak (PM Malaysia sekarang), Tun Abdul Razak (PM Malaysia ke-2) dan Dato Musa Hitam.

Sebagai sesama orang bugis, saya bangga bertemu dengan  sikampotta (teman sekampung) di rantau, setelah belasan generasi merantau mereka masih mengingat darah yang mengalir ditubuhnya berasal dari sebuah jazirah di sulawesi bagian selatan.

Salama’ki sikampong

(bersambung)

– Oleh-Oleh Palangkaraya

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong

Advertisements

10 thoughts on “Oleh oleh Malaysia (bag. 2 Bugis Malaysia)

  1. Sudah bukan rahasia lagi kalau memang banyak orang Bugis di Malaysia. Sayangnya, they mainly just know that they have Bugis parents, sayang banget yah. Sepertinya butuh bikin paket wisata wisata leluhur di Malaysia

    Like

    • tks komennya Cipu
      oo iya, konon ada satu jutaam keturunan bugis makassar di Malaysia, mereka pasti rindu melohat kampung leluhurnya, bagaimana di australia? adakah jejak orang bugis disana?

      Like

  2. Perlu di ingat, orang Bugis tetap orang Bugis, jangan samakan dengan mana2 oranh indon lain. Bugis hampir dengan filipina, borneo, maluku & timor. kita bukan mirip orang indon yang datang merompak kat malaysia ni. Aku benci bila orang indon mengaku najib tu indon. padahal bugis & indon tu lain. dulu sebelum sukarno si komunis memerintah, mana ada indonesia? bugis bangsa hebat, pelayar dan pahlawan atas kurnia Allah swt.

    Like

  3. Budaya Melayu banyak menjiplak budaya Bugis. Kebudayaan asal melayu adlh spt penganut Buddha dan hindu terutama dr sudut pakaian adat. Lagisatu Bugis mmg sinonim dgn Indonesia malah perjuangan Raja Haji disanjung tinggi di Indonesi a berbanding di Malaysia. Malah Raja Haji menerangkan jelas2 perbezaan Melayu dgn Bugis dlm karya nya tapi Bugis di Malaysia tetap tak malu mengaku sbg Melayu. Kita kena ingat ketamadunan Bugis lebih tinggi dan lama berbanding ketamadunan Melayu yg baru muncul dizaman Melaka.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s