No Tolerance. Sebuah rumus sederhana yang dikembangkan orang KOR dalam memerintah buruh-buruh yang bekerja di perusahaannya, mereka adalah tipe orang yang keras dalam memimpin, bersemangat, tidak terima alasan dan berprinsip memberi alasan sama dengan mempermalukan diri sendiri, dan bahkan tak senang melihat anak buahnya tersenyum. Kawan, kau boleh tidak setuju dengan pernyataan diatas, tapi kalau kau tak cukup percaya, lakukan pengambilan sample untuk menguji hipotesis diatas, dalam data diskrit bisa dihitung berapa p-value yang didapatkan, Minitab akan menunjukkan kepadamu, p-value< 0.05
Kawan, kau boleh tidak setuju dengan pernyataan diatas, tapi kalau kau tak cukup percaya, lakukan pengambilan sample untuk menguji hipotesis diatas, dalam data diskrit bisa dihitung berapa p-value yang didapatkan, Minitab akan menunjukkan kepadamu, p-value< 0.05
Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan KOR-BLD, gabungan dua buah perusahaan besar dunia, yang memproduksi tabung TV untuk ekspor dan lokal. Secara keseluruhan perusahaan ini menguasai mayoritas dari pasar tabung TV di dunia, manajemennya dipegang oleh orang KOR semua. Serupa banjir air pasang Tanjung Priok yang bertemu dengan banjir kiriman dari Bogor.Kebanggaan membuncah dan meluap ketika aku diterima, inilah tempat kerjaku yang pertama, aku menangani bagian inspection pada awalnya.
Serupa banjir air pasang Tanjung Priok yang bertemu dengan banjir kiriman dari Bogor.Kebanggaan membuncah dan meluap ketika aku diterima, inilah tempat kerjaku yang pertama, aku menangani bagian inspection pada awalnya.
Hal pertama yang kutemui ketika masuk adalah suara keras robot yang bergerak hilir mudik, suaranya menyakitkan telingaku, aku mencoba mencari ear plug untuk menutup telingaku, ketika kupasang, seorang kepala seksi yang sok, melarangku, katanya karena kau supervisor jangan sampai operator minta juga ear plug untuk menutup telinga. Nah loh? bukannya itu kewajiban perusahaan untuk melindungi buruhnya dari dampak negatif yang bisa merusak kesehatan, dasar cecunguk, dia pasti penjilat orang KOR. Ear plugpun kulepas, dia mungkin cukup gembira, senyuman tersungging dibalik dengusannya, karena selama beberapa lama, akupun mulai terbiasa dengan suara keras, baik dari mesin maupun orang-orang, sensitifitas pendengaranku menurun, karena telingaku tak sakit lagi. Ini baru orang lokal, belum orang KORnya.
Nah loh? bukannya itu kewajiban perusahaan untuk melindungi buruhnya dari dampak negatif yang bisa merusak kesehatan, dasar cecunguk, dia pasti penjilat orang KOR. Ear plugpun kulepas, dia mungkin cukup gembira, senyuman tersungging dibalik dengusannya, karena selama beberapa lama, akupun mulai terbiasa dengan suara keras, baik dari mesin maupun orang-orang, sensitifitas pendengaranku menurun, karena telingaku tak sakit lagi. Ini baru orang lokal, belum orang KORnya.
Akupun mulai tenggelam dalam aktifitas di pabrik, jam kerja mulai jam 7 pagi, pulang belum tentu, terlambat tiga kali dapat surat peringatan tapi pulang sampai pagi, malah dapat dampratan kalau bos belum mengijinkan. Tak ada toleransi buat yang sakit, kalau sakit datanglah ke pabrik dan beristirahat di klinik, selama masih bisa berjalan ke pick up point bis, artinya masih bisa ke kantor, dan sakit hanyalah alasan. Tapi kalau sering ke klinik dapat panggilan lagi dari HRD, dan akan ditanyai macam-macam. Hidup dipabrik dilingkupi oleh kecurigaan orang KOR.
Tak ada toleransi buat yang sakit, kalau sakit datanglah ke pabrik dan beristirahat di klinik, selama masih bisa berjalan ke pick up point bis, artinya masih bisa ke kantor, dan sakit hanyalah alasan. Tapi kalau sering ke klinik dapat panggilan lagi dari HRD, dan akan ditanyai macam-macam. Hidup dipabrik dilingkupi oleh kecurigaan orang KOR.
Kita memang bangsa yang mudah direndahkan, karena kita miskin dan hanya bisa menjadi buruh buat mereka. Makanya seorang teman disana pernah bilang, kalau mau berangkat kerja, simpan hatimu dirumah, karena kalau nggak kau akan sakit hati. Teman lain berencana mendirikan pabrik di Negeri dekat Laut Kuning itu dan meng-hire pegawainya dari tempat kami bekerja dan menjadikan mereka Manager dan General Manager disana, dan giliran kita yang memerintah.
Teman lain berencana mendirikan pabrik di Negeri dekat Laut Kuning itu dan meng-hire pegawainya dari tempat kami bekerja dan menjadikan mereka Manager dan General Manager disana, dan giliran kita yang memerintah.
Ditahun keduaku, kami kedatangan bos baru dari KOR Alih-alih memberi kesempatan kepada orang lokal untuk menjadi bos, mereka malah memilih untuk mendatangkan orang KOR, kualitasnya belum tentu bagus tapi percaya dirinya luar biasa, lebih percaya diri daripada Delon yang suaranya becek tapi maju terus di Indonesian Idol. Bos baru ini, datang dan mulai bertitah di tempat kami, targetnya menanjak jauh melampaui para pendahulunya, dia menargetkan saving cost jutaaan US$ selama setahun.
Bos baru ini, datang dan mulai bertitah di tempat kami, targetnya menanjak jauh melampaui para pendahulunya, dia menargetkan saving cost jutaaan US$ selama setahun.
Jadilah aku bulan-bulanannya, aku disuruh melapor setiap hari kepadanya, dan karena targetnya yang begitu tinggi, aku sering kesulitan memenuhi ekspektasinya. Jadilah rutinitasku, dipanggil menghadap setiap jam 8 pagi, dan setiap orang akan tahu kalau aku habis menghadap dia, karena bentakannya yang keras menggema keseluruh ruangan. Kalau lolos jam 8, masih dipanggil lagi jam 1 siang, kalau belum puas juga dia panggil lagi jam 5 sore, dan biasanya dia menyuruhku untuk stand by dipabrik sampai pagi.
Kalau lolos jam 8, masih dipanggil lagi jam 1 siang, kalau belum puas juga dia panggil lagi jam 5 sore, dan biasanya dia menyuruhku untuk stand by dipabrik sampai pagi.
Sosok bos yang satu ini, bisa kugambarkan kalau wajahnya mirip Sinchan, tangannya bulat kekar, dengusannya mengembuskan bau bawang dan soju (minuman keras KOR), suaranya melengking tinggi mirip suara engsel pintu. Semua orang dilabrak oleh bos ini, dia sebenarnya tak bisa manajemen, yang dia bisa adalah marah, dan dia paling senang kalau mendapatkan orang yang bisa disalahkan, senyumnya tersungging, tapi kita tak boleh ikut tersenyum. Setiap meeting regular yang dilaksanakan dua kali seminggu, bos ini lebih senang mencecar grafik balok yang nilainya tidak sesuai target atau kalau trend pencapaian fluktuatif dan tidak ada tanda-tanda perbaikan. Karena sering mengahadap maka beberapa kali aku, mendapat perlakuan tidak nyaman, kertas laporanku pernah beberapa kali digulung-gulung, dirobek, atau dijentik dengan jarinya hingga melayang kertas itu serupa kapas dan jatuh didekat kaki temanku.
Setiap meeting regular yang dilaksanakan dua kali seminggu, bos ini lebih senang mencecar grafik balok yang nilainya tidak sesuai target atau kalau trend pencapaian fluktuatif dan tidak ada tanda-tanda perbaikan. Karena sering mengahadap maka beberapa kali aku, mendapat perlakuan tidak nyaman, kertas laporanku pernah beberapa kali digulung-gulung, dirobek, atau dijentik dengan jarinya hingga melayang kertas itu serupa kapas dan jatuh didekat kaki temanku.
Suatu kali aku dipanggil dia, masalah timbul di proses yang kutangani. Dengan malas aku menghadap dia, aku sudah 24 jam dipabrik, mataku menuntut mau tidur, kantung mataku menggelembung protes, kubawa selembar kertas print power point. Di lembaran itu berisi trend barang cacat yang muncul selama 24 jam terakhir, trendnya tak juga membaik, setelah semalaman aku berusaha untuk mencari penyebabnya, aku bukan sangkuriang yang bisa memenuhi permintaan Dayang Sumbi dalam semalam, lagian dia juga bukan Dayang Sumbi. Hanya saja dia punya andil cukup besar dalam proses mengembang dan mengempisnya dompetku setiap bulannya. Dari jarak 5 meter, matanya nyalang menatapku, bisa kurasakan aroma nafasnya menyemburkan bau bawang, kulit mukanya mengeras, kalau seperti itu mukanya kelihatan lebih kencang sebagian tertarik kebelakang, mungkin bersembunyi dan tak sanggup merasakan aroma perang yang mulai menjalari tuannya.
Hanya saja dia punya andil cukup besar dalam proses mengembang dan mengempisnya dompetku setiap bulannya. Dari jarak 5 meter, matanya nyalang menatapku, bisa kurasakan aroma nafasnya menyemburkan bau bawang, kulit mukanya mengeras, kalau seperti itu mukanya kelihatan lebih kencang sebagian tertarik kebelakang, mungkin bersembunyi dan tak sanggup merasakan aroma perang yang mulai menjalari tuannya.
Aku beringsut maju, pikiranku adalah bagaimana secepatnya aku menyelesaikan persoalan dengan dedemit satu ini. Aku mengambil kursi didepannya, kusodorkan kertas yang kupegang ke depan Duli Paduka Bossku yang Agung itu, direngut kertas itu dengan kasar, sejenak matanya beralih dari wajahku yang kusut kearah kertas yang sebentar lagi juga kusut dalam genggamannya. Sejenak dia terdiam, hanya nafas naganya yang tercium, dan keluarlah teriakan
”AHMADDDDDDDD!!!, %^&**^**(((%%^&*%%!!!!”,
aku tak mengerti apa yang diomongkannya, yang jelas kertas yang ada dipegangannya itu bergoyang-goyang serupa tukang sate mengipas-ngipas pesanan. Aku menatapnya, tak bisa kulepaskan mataku dari matanya, hatiku terkipasi olehnya, beberapa kali kertas itu naik turun, menyentuh sedikit bagian mukaku.
Aku emosi, gerahamku gemerutuk, aku diam saja dengan omongannya, peduli setan dengan apa yang diomongankannya. Beruntunglah saya orang miskin yang lagi mengemis sama orang lain, ingin rasanya kutonjok mukanya, kubanting dia dikursi, atau kucabut salah satu tulang rusukku, dan kutusukkan ke hatinya yang sombong, tapi semuanya hanya berakhir dengan kata ingin, dasar pengecut… !!! Kubiarkan sampai suaranya habis, kubiarkan dia melatih urat lehernya, mungkin dia akan memerlukannya nanti, untuk marah lebih keras diproses yang diselingi suara robot yang tak kalah gemanya. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan keras, Napasnya tersengal, aku diam saja. Kualihkan mataku ke tempat lain, kali ini sama sekali aku tak melihat kearahnya. Mungkin karena kecapaian mengomel, dan tak mendapat respon dia bertanya dengan suara dipelankan.
Tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan keras, Napasnya tersengal, aku diam saja. Kualihkan mataku ke tempat lain, kali ini sama sekali aku tak melihat kearahnya. Mungkin karena kecapaian mengomel, dan tak mendapat respon dia bertanya dengan suara dipelankan.
”Kenapa tak menjawab ? ”, kubilang ” saya emosi”.. Pertemuan bubar, dia menyuruh mencari teman lain, yang siap dia marahi, tak ada solusi darinya, kemampuan terbaik yang bisa dia tunjukkan kepadaku hanyalah marah.
Sejak kedatangan bos satu ini, aku sering mengalami mimpi buruk, kepalaku kadang berdenyut, kalau malam aku tak ingin cepat-cepa tidur, cepat tidur berarti akan cepat juga bertemu dia besoknya. Sebelum berangkat kerja aku selalu berpikir apa yang akan kukatakan kepadanya pagi ini, mudah-mudahan ada proses (kami menyebut proses untuk unit dari manufacturing) lain yang lebih parah persoalannya, sehingga api amarah tidak menjilat ke arahku Setiap mobil jemputan keluar pintu tol dan terlihat baliho pabrik, aku dilanda perasaan yang berkecamuk, apa saja bisa terjadi hari ini.. Karena gayanya yang petantang petenteng, tak banyak orang yang menyukainya, dan tak banyak orang yang bisa mengatasinya, dan mulailah saat itu anak buahnya berlarian satu persatu mencari tempat yang lebih teduh tak kurang dari tujuh orang dalam setahun itu, hingga bos lokalkupun mengambil jalan yang sama.
Karena gayanya yang petantang petenteng, tak banyak orang yang menyukainya, dan tak banyak orang yang bisa mengatasinya, dan mulailah saat itu anak buahnya berlarian satu persatu mencari tempat yang lebih teduh tak kurang dari tujuh orang dalam setahun itu, hingga bos lokalkupun mengambil jalan yang sama.
Tapi bos ini juga punya sedikit perasaan, dia mengajak anak buahnya makan malam. Semua anak buahnya waktu itu diajak untuk makan malam di Restoran KOR di daerah Lippo Cikarang. ” Kita happy malam ini” Katanya.
Temanku sering berpesan kalau diajak orang KOR makan malam, dan karena bagi muslim haram minum yang beralkohol, maka usahakan untuk berada jauh dari orang KORnya, karena bagaimanapun dia pasti mengajak dan mengharuskan untuk minum. Saat tiba di restoran, yang model mejanya lesehan, tampaknya teman-teman berebut untuk mendapatkan tempat duduk di point of view yang tersembunyi dari Bos, dan jadilah aku duduk hampir berdampingan dengan bos, diantarai oleh seorang teman. Sambil menunggu makanan keluar, pelayannya mengeluarkan teh tawar. Berturut-turut kemudian berbotol-botol besar Bir Bintang keluar, sebuah perintah keluar dari bos untuk menuangkan menuangkan bir ke gelas masing-masing dan bersulang, aku dan beberapa teman mengangkat gelas berisi teh dan meminumnya dengan pelan-pelan, dan bermimik kepahitan ketika segelas ”bir” itu tandas di tenggorokan, percobaan pertama berhasil lolos.
Kita pun mulai menikmati makanan, dipertengahan makan, keluar beberapa botol soju, sang Boss bertitah
Sambil menunggu makanan keluar, pelayannya mengeluarkan teh tawar. Berturut-turut kemudian berbotol-botol besar Bir Bintang keluar, sebuah perintah keluar dari bos untuk menuangkan menuangkan bir ke gelas masing-masing dan bersulang, aku dan beberapa teman mengangkat gelas berisi teh dan meminumnya dengan pelan-pelan, dan bermimik kepahitan ketika segelas ”bir” itu tandas di tenggorokan, percobaan pertama berhasil lolos.
Kita pun mulai menikmati makanan, dipertengahan makan, keluar beberapa botol soju, sang Boss bertitah
” Semua harus minum malam ini, kita happy”
Bos lokal melihat muka kami satu persatu menandakan protes, diapun berucap ke Bos KOR
” Mister, orang muslim tidak boleh minum”
” Boleh, saya sudah telpon, katanya boleh”
Boleh????Nelpon kemana dia??
Ahmad Amiruddin
Gambir, Januari 2008