Nyaris Juara

Final Piala AFF 2010 telah usai, kita menang di pertandingan terakhir tapi tak mampu mengejar defisit kekalahan di Bukit Jalil. Malaysia secara jelas telah menjadi juaranya, dan kita kembali menjadi Runner Up, tetapi cerita tentang perjuangan timnas tetap menarik hingga kini.

Atas bantuan teman saya Opiq mencarikan tiket, saya berkesempatan bergabung dengan 95.000 penonton di Stadion GBK pada malam ketika sebuah gol Malaysia memperdaya kiper Markus, dan dua Gol dari Garuda tak mampu membuat kita mengangkat trofi.

Sore jam 16.30, ketika motor saya mulai berbelok di Jalan Sudirman, para suporter berbaju merah telah mulai mengular di jalanan, beberapa bahkan tak pakai baju tapi melumuri badannya dengan cat berwarna Merah dan Putih. Saya parkir di Plaza Semanggi dan melanjutkan perjalanan dengan Angkot nomor 19 yang dipenuhi Suporter dan bahkan kondekturnyapun memakai baju Timnas. Sepanjang jalan yang tak jauh dari Semanggi ke Pintu Satu GBK, terompet dan nyanyian para suporter telah bersahut-sahutan saling menyemangati meskipun peluang kita seperti kata Tuan Riedl hanya sekitar 5-10%, tapi suporter tetap yakin bahwa kemenangan 5-1 tetaplah realistis karena kita pernah melakukannya di Stadion yang sama.

Garuda di Dada

Turun di Jembatan Halte Busway Gelora Bung Karno, Suporter semakin banyak, hingga jembatan penyeberangan itu rasanya tak cukup besar untuk menampung orang yang ingin menyeberang. Para pedagang asesoris telah mulai menawarkan dagangannya, terompet aneka macam, stiker yang ditempel dijidat dan dipipi, serta ikat kepala.

Masuk ke area GBK lebih ramai lagi, pedagangnya lebih banyak lagi, kaos Timnas dengan berbagai macam motif dan harga variatif mulai dari 25.000 rupiah tergantung dimana-mana, para pedagang mendapat berkah luar biasa dari lolosnya kita ke Final dan euforia itu menjadikan para suporter rela mengeluarkan kocek untuk melengkapi dirinya dengan baju, syal, terompet dan topi.

Ketika masuk ke area jogging stadion GBK lebih banyak orang lagi, dibanyak sudut stasiun televisi tak mau ketinggalan menyiarkan secara langsung suasana meriah dari GBK, salah satu atau dua diantaranya dianggap banyak orang terlalu lebay menyiarkan tentang Timnas sehingga mendatangi pemain di hotelnya dan masih sempat mewawancarai para pemain ketika dalam perjalanan dari Jakata ke Kuala Lumpur, gangguan-gangguan yang disebut oleh Tuan Riedl sebagai salah satu penyebab hilangnya konsentrasi pemain ketika bermain di Bukit Jalil, gangguan yang disebut beberapa blogger sebagai kelebayan orang-orang Media yang sebenarnya tak mengerti Sepak Bola. Tapi siaran langsung suasana meriah dari GBK pastilah bukan bagian dari kelebayan itu, justru sekarang lah saatnya mendukung Timnas.

Beberapa kendaraan lapis baja berwarna gelap berjejer menjaga keamanan, RI 1 akan hadir dan wajah Indonesia akan tercoreng ketika penonton tak bisa bersikap dewasa. Kita memang harus bersiap-siap, perlakuan suporter Malaysia di Kuala Lumpur menjadikan banyak orang khawatir akan serangan balasan suporter Indonesia yang sudah mencontohkan banyak kerusuhan dalam serial Liga yang digelar PSSI. Kekhawatiran lain adalah suporter Indonesia dianggap belum cukup dewasa sehingga kemungkinan akan rusuh ketika kita tak bisa Juara, dan kemungkinan untuk tak Juara itu besar, seperti yang sudah diucapkan oleh Riedl. Bahkan ada yang berpesan agar tak membawa senjata tajam dan sejenisnya masuk ke Stadion GBK, semuanya sudah tersedia dibawah kursi.

Tapi saya yang membawa istri untuk menonton bersama, tetap berpandangan tak bakal ada kerusuhan, sebabnya sederhana, karena SBY akan hadir menonton dan ada banyak wanita yang menonton, petugas akan memastikan SBY tidak dipermalukan oleh ulah suporter, dan kelakuan para suporter yang biasanya brutal bisa dinetralisir oleh suara-suara halus wanita yang jumlahnya mungkin 1/3 dari penonton, jadi tak perlu khawatir.

Setelah lolos dari pusaran penonton yang banyak, kami masuk dalam Stadion yang kelihatannya sudah penuh, dan memang kelihatan tak ada tempat duduk kosong, tapi untunglah saya dapat dua kursi kosong, rugi rasanya kalau sudah bayar mahal-mahal tapi harus berdiri terus menerus sepanjang pertandingan.

Penonton di Stadion GBK sangat bersemangat, nyanyian penyemangat dari artis ibukota membahana di Stadion, dan ketika Markus, Ferry, dan Kurnia mulai masuk kelapangan untuk pemanasan, suara penonton sudah bergemuruh dimana-mana. Ketika keseluruhan tim masuk, penonton makin bersemangat, Mexican wave dilakukan oleh penonton, yang beberapa kali mengitari stadion dan berakhir dan meredup ketika melewati bagian VIP tak jauh dari RI-1. Semangat Very Important Person, kalah jauh dengan penonton biasa. Semoga bukan karena mereka dapatnya gratis.

Saat terindah ketika menonton di Stadion GBK adalah ketika Lagu Kebangsaan Indondesia Raya berkumandang, badan ini bergetar, atmosfer stadion membawa suasana menyanyikan lagu kebangsaan itu begitu menyentuh, rasanya dengan mendengar lagu Indonesia Raya ini, para pemain kita akan kembali bersemangat mengalahkan Malaysia seperti yang pernah mereka dan para pendahulunya sering melakukan.

Semangat itu semakin membahana ketika kick off pertandingan, Teriakan INDONESIA…, membahana dari segala penjuru. Saya memandang berkeliling, adakah laser balasan dari penonton Indonesia terhadap kiper malaysia, saya tak melihat, yang ada hanya kilatan lampu kamera yang berganti-gantian dari segala sudut, suporter kita tahu bahwa tindakan suporter Malaysia tak patut ditiru, kita bisa menang dengan cara yang elegan tanpa harus menggunakan trik Malaysia.

Ketika salah seorang pemain Malaysia handsball di kotak terlarang dan wasit menunjuk titik putih, para penonton bersorak, melompat, berangkulan dan meniup terompet. Ketika Firman Utina mulai mengambil ancang-ancang, kami menahan nafas, berdoa dan berharap satu gol merubah keadaan dan memompa semangat Timnas, dan ternyata tendangan Firman ke arah kiri gawang Malaysia bisa dibaca kiper Malaysia. Penonton lesu, beberapa orang menutup kepalanya, ada yang meninju tangannya sendiri, mengangkat tangannya sambil menarik napas panjang. Sejenak stadion hening, masing-masing berpikir dalam kekalutannya menyesali yang terjadi, sementara Firman di lapangan nampak berjalan dengan tatapan penuh sesal, atmosfer telah berubah. Tapi setidaknya kita pernah bergembira untuk pinalti itu. Beberapa suporter berusaha menyemangati Firman dan kawan-kawan, tapi secara keseluruhan stadion masih dalam suasana hening.

Piala AFF untuk Suporter

Para pemain di lapangan masih tetap berusaha mengurung pertahanan Malaysia, tapi Firman sang Kapten nampak kesulitan mengembalikan kepercayaan dirinya, Firman seperti hilang dari lapangan setelah kejadian yang juga tak diinginkannya itu. Hingga kemudian sebuah umpan dari Maman Abdurrahman bergerak kearah yang salah, bolanya tepat mengarah ke kaki pemain Malaysia yang langsung mengirim umpan ke Moh Safee, peluang Malaysia itu berbuah gol yang bersarang ke gawang Markus, suporter kembali terdiam, Malaysia memang “pencuri” yang ulung, sebuah golnya menjadikan pertandingan itu semakin berat bagi pemain kita, butuh lebih dari sebuah keajaiban untuk menciptakan 5 gol yang semakin sulit untuk diwujudkan.

Banyak yang menyalahkan Maman, tapi bagi saya yang juga seorang bek, blunder itu sering dilakukan oleh seorang bek, bahkan bek sekelas Rio Ferdinand pun pernah melakukan, faktanya bahwa Maman juga pernah menyelamatkan gawang Indonesia dari kebobolan, ketika Markus melakukan blunder dalam pertandingan Indonesia melawan Thailand, dua kali Maman melakukan kesalahan yang berbuah gol, ini pasti pukulan berat buat dia, Maman bisa menutup blunder temannya tapi kawan setimnya tak bisa menutup kesalahan Maman.

Saat babak kedua dimulai, penonton kembali bergemuruh, lagu Garuda di Dadaku berkumandang dimana-mana, Spanduk peringatan dari Polda Metro Jaya diatas saya telah ditarik oleh Suporter dan digantikan suporter hujatan kepada Nurdin Halid, dilain tempat sebuah spanduk nampak naik turun diatas kepala penonton isinya sama “Nurdin Turun”, nampaknya selain Malaysia yang diteriaki malam itu, Nurdinpun mendapat perlakuan yang sama.

Penggantian Firman dan Irfan, memberi tekanan lebih bagi Malaysia, sebuah gol dari Nasuha dan Ridwan menjadikan stadion kembali bersemangat, perlu tiga gol lagi agar Indonesia menang, dengan waktu yang tersedia sulit untuk melakukannya. Para pemain Timnas telah berusaha, tapi 2-1 adalah hasil maskimal yang bisa dicapai.

Dan peluit panjangpun berbunyi, beberapa suporter melempar botol minuman ke arah petugas, tetapi berhenti ketika di teriaki kampungan oleh suporter lain. Secara umum suporter patut diacungi jempol, mendukung dengan semangat dan tak bikin ribut. Akhirnya ketika keluar Stadion, banyak yang justru berfoto di Barracuda yang terparkir di luar Stadion, beberapa orang nampak membujuk agar aparatnya bersedia ikut berfoto.

Malaysia pulang dengan pialanya, kita hanya jadi runner up. Orang hanya mengingat siapa juaranya, dan itu bukan Indonesia, kita seperti biasanya menjadi Tim yang nyaris Juara. Seperti dalam banyak kasus, Malaysia begitu pintar memanfaatkan kelemahan kita, kita biasanya menang dihebohnya aja, tapi kemudian keok di tempat terjadinya peperangan yang sesungguhnya. Media massa yang memblow up secara berlebihan seperti Infotainment yang kehabisan berita, para politisi yang numpang tenar, dan pengurus PSSI yang itu-itu lagi menambah daftar panjang cerita akhir dari Piala AFF.

Tetap semangat Kawan-kawan, Garuda Tetap di Dadaku, dan bagi yang sering lebay, hentikan segera, bersikap wajarlah, seperti kata Riedl.

Nampang

Rokok di Singapura

Rokok itu tak baik, tidak hanya saya yang bilang, bahkan produsen rokokpun menuliskan itu di bungkus rokoknya. Karena rokok tak baik dan tetap saja banyak yang suka maka jadilah dia barang yang dibatasi dan dipajaki tinggi dibeberapa negara. Salah satu negara yang menjadi neraka bagi para perokok adalah Singapura.

12923418181257871252
Pak Suman dan Rokoknya

Beberapa bulan silam, saya bertemu dengan mantan bos saya di Siemens, Suman Sinha, di restoran India-Muslim di sebuah jalan di dekat Pusat Kota Singapura. Itulah untuk pertama kalinya saya ke Singapura. Suman adalah Warga Negara India yang pernah bekerja di Indonesia dan beristri Warga Negara Indonesia, sekarang dia bekerja di Singapura, di perusahaan tempatnya dulu bekerja sebelum ke Indonesia. Kami duduk di area khusus perokok. Saya memesan murtabak dan Suman memesan roti, mirip roti cane yang dulu kami makan di jalan Sabang. Selesai makan Suman mengeluarkan rokoknya, sebungkus Marlboro dengan peringatan macam rupa dibungkusnya lengkap dengan gambar bagian mulut yang terkena kanker, sebuah ancaman yang sangat menakutkan bagi para perokok.

Saya sudah tak biasa merokok, aturan “pemerintah” di rumah mengharuskan saya tak lagi merokok, akan tetapi saya kadang sedikit bandel, dan kali ini saya membawa sebungkus rokok dari Indonesia, rokok itu sudah lama tak tersentuh di tas. Buat jaga-jaga kalau lagi perlu.
Nostalgia bersama Suman tentang proyek-proyek yang dulu kami kerjakan di Indonesia dan sering bikin mumet mengalir seiring rokokpun keluar dari sarangnya. Ketika saya mengeluarkan rokok itu, Suman langsung memperingatkan, bahwa setiap batang rokok di Singapura harus mempunyai tanda SDPC. Kalau tidak ada, bisa kena denda sampai S$ 10.000. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa merokok bertahun-tahun di Indonesia tanpa perlu khawatir dengan anggaran rokok, dan sisanya bisa digunakan untuk berobat ke dokter. Suman menunjuk dua orang berpakaian polisi yang tak jauh dari kami, yang kalau dibandingkan dengan polisi-polisi di Indonesia, dua orang tersebut kelihatan terlalu culun untuk ukuran polisi Indonesia, terlalu intelek dan tak keliatan tampang sangar, meskipun muka-muka kaku tanpa senyum khas Singapura melekat erat di wajah mereka.

Sayapun menyembunyikan bungkus rokok tersebut, meskipun tetap menghisap sebatang, rokok seharga sepuluh ribu perak itu bisa membuat saya bangkrut kalau kedapatan Polisi Singapura yang katanya tak bisa diajak damai. Pantesan saja, dulu ketika Suman di Indonesia merokoknya kayak kereta api. Disamping murah, larangan merokokpun hampir tak ada di negara yang kita cintai, yang oleh Suman di klaim sebagai negara yang sangat dicintainya juga, setelah India tentunya.

Peringatan Suman menuai tuahnya. Minggu kemarin saya berkesempatan ke Singapura lagi, kali ini tak melalui Changi, tapi menyeberang dari Batam. Saya dan rombongan berangkat pagi-pagi dari Harbour Bay, salah satu dari 4 pelabuhan penyeberangan di Batam. Sambil menunggu pemberangkatan, saya membeli dua bungkus rokok, yang rencananya akan saya berikan kepada sopir yang mengantar kami selama di Batam, tapi si sopir tak kunjung keliatan batang hidungnya. Satu bungkus saya buka dan hisap sebatang sambil menikmati udara pagi Batam.

Ketika panggilan boarding sudah terdengar dari speaker pelabuhan yang toiletnya sangat-sangat kotor tersebut sang sopir tak jua keliatan. Rokok tersebut saya masukkan ke tas kecil yang saya bawa bersama paspor dan NPWP didalamnya. Dua bungkus rokok itu bersama saya menyeberang ke Singapura. Seiring hilangnya sinyal HP saya Singapura telah semakin dekat. Perjalanan menyeberang hanya 45 menit, akan tetapi karena waktu Singapura dimajukan satu jam, maka secara waktu perjalanan menjadi 1 jam 45 menit.

Ketika tiba di pelabuhan Harbour Front Singapura, kami masuk dalam antrian imigrasi Singapura. Sedikitnya empat loket dibuka untuk mencap paspor para pendatang. Di depan, seorang polisi Singapura, yang sekali lagi keliatan culun mondar mandir mempersilahkan orang maju menuju loket. Tiba giliran saya, diperiksa oleh seorang gadis India-Singapura, ketika ditanya mau kemana? Saya jawab aja “Orchard”, kata orang-orang sih kalau jawab begitu bisa cepat prosesnya karena dikiranya kita akan menghabiskan uang di Singapura, tapi sori jek, saya tak ingin belanja di Orchard, kalaupun kesana paling hanya untuk foto-foto.

Setelah melewati petugas tukang stempel, saya masuk ke arah X-ray, sebuah tempat flyer tentang aturan singkat imigrasi tersedia sebelum jalur X-ray. Saya mengambil satu, tak sempat membaca penuh dan langsung memasukkan barang ke X-ray. Ketika saya sudah keluar dari pintu detektor logam, tas kecil saya masih dalam jalur conveyor, perasaan saya sudah tak enak, pasti ini ada apa-apanya, sementara teman-teman yang lain sudah menungu di luar.

Ketika tas saya keluar dari pemindai bertirai hitam itu, langsung diambil oleh petugas dan ditanya
“ berapa bungkus rokoknya?”
Waduh, mati aku, pikirku rokok ini pasti jadi masalah, pikiranku sudah macam-macam saja, kali aja penjual rokok di Batam itu mencampur ganja di rokokku. Bisa kena gantung saya di Singapura.
Saya bilang ada dua bungkus, ketika petugas menanyakan bungkus rokoknya. Si petugas langsung mencatat, katanya ada masalah dengan Costums. Saya bilang ke dia, saya tak perlu rokoknya, saya tinggal aja disini. Si petugas tak mengiyakan dan tetap mencatat nama saya dan mengarahkan ke bea cukai. Ketika masuk di ruangan saya diantar oleh seorang gadis China-Singapura, saya tanya ke dia, apakah memang dilarang membawa rokok ke Singapura, dia tak menjawab dan menyerahkan saya ke temannya yang satunya lagi, seorang Melayu-Singapura, namanya Slamat Jay (anggap saja begitu namanya).

Si Slamat Jay, mempersilahkan saya duduk, saya ditanya
“darimana di Indonesia”
“Jakarta” jawab saya
“Jakarta di bagian mana?”
“Bekasi” jawabku
“Oo saya kira dari Tegal”
Saya cuma tersenyum,
“saya dari Bugis” kata saya

dalam hati saya bilang nenek moyang saya yang bikin Kampung Bugis disini, dan pernah menguasai Pulau Belakang Mati yang sekarang jadi Sentosa Island, mungkin kakekmu dulu pernah dengar ceritanya, tapi sedikit yang diceritakan dalam sejarah Singapura.
Sayapun disuruh membaca ancaman hukuman buat para pelanggar yang membawa rokok tanpa melaporkan terlebih dahulu kepada petugas, pelanggaran pertama 1000 dollar, pelanggaran kedua 5000 dollar, pelanggaran ketiga 10.000 dollar. Saya mengkerut, 1000 dollar itu setara dengan 7 juta rupiah, sangat banyak untuk ukuran Indonesia.

Si Slamat Jay, menanyakan kepada saya, apakah saya sudah tahu hukuman bagi para pelanggar peraturan. Dijelaskannya bahwa, apapun jenis barang yang dilarang bisa dideteksi di X-ray, bukan karena orangnya yang pintar tapi karena X-ray-nya yang pintar. Saya tak peduli pikirku, saya tak menyembunyikan apa-apa, bahkan rokok yang awalnya hanya satu bungkus didapat petugas kuperlihatkan satu lagi, maksud saya, okelah saya bersalah membawa rokok dan tidak bayar pajak, tapi karena saya tak tahu, rokok saya boleh kamu ambil dan hisap sepuasnya, kapan lagi merasakan nikmatnya rokok kretek Indonesia yang super susah didapatkan di Singapura.

Setelah selesai berceramah kepada saya, Slamat Jay akhirnya memberi dispensasi kepada saya, saya tak didenda 1000 dollar, saya cuma diharuskan membayar pajak yang tadinya belum terbayar sebanyak 12 dollar, tak seberapa dibanding 1000 dollar. Saya bisa sedikit lega.

Setelah membayar pajak, saya bilang sama Slamat Jay kalau saya mau cari tempat sampah dan rokok sialan itu akan saya buang, saya tak mau bermasalah lagi dengan rokok di Singapura. Dia menghalang-halangi saya, katanya bawa saja, tak perlu lagi khawatir, kalau ada yang menanyakan perlihatkan struk pembayaran resmi dari customs Singapura.

Saya akhirnya keluar dari Bea Cukai, rokok itu saya tinggal di tempat sampah, ketika saya cerita sama istri ucapannya hanya “begitulah kalau melanggar peraturan “pemerintah””

Bagi para perokok yang ingin ke Singapura silahkan dibaca ini :
disini

Mobil Nasional dari Anak SMK

Sabtu kemarin (4/12), saya mengunjungi Indonesian Manufacturing 2010 di PRJ Kemayoran. Pameran ini berlangsung tanggal 1-4 Desember, terdiri dari beberapa rangkaian pameran yaitu Machine Tools, Plastic & Rubber dan Pro Pak. Rasanya seperti “pulang kampung” lagi ke Pabrik, meskipun beberapa jenis mesin yang dipamerkan berbeda dengan mesin-mesin yang dulunya sering kutemui di LG Philips, tempatku bekerja. Sebagian besar mesin yang dipamerkan adalah mesin-mesin CNC, PLC, alat-alat ukur, tools, genset,  dan kompressor.

Pintu Depan
Selamat Datang

Pameran ini dikunjungi banyak praktisi di bidang manufaktur, di hari terakhir ini beberapa mesin telah di labeli SOLD dan siap diantar ke pemesan, saya yang datang tidak mewakili siapa-siapa pastinya tak memesan apa-apa, niat saya sebenarnya mencari mesin-mesin pengolah hasil pertanian yang bisa diaplikasikan di kampung, ternyata pameran ini hanya memamerkan mesin yang berhubungan dengan metal, tapi tak apalah berkeliling melihat stand pameran dengan berbagai macam produk tetaplah menarik bagi seorang laki-laki, seperti begitu tertariknya seorang laki-laki ketika berjalan-jalan di Toko Perkakas semacam AC* Har*****, istri sayapun yang kebetulan berlatar belakang Teknik senang melihat produk-produk yang dipamerkan.

Beberapa perwakilan negara-negara produsen seperti Taiwan, Jerman, Thailand, dan Singapura membuka stand, dan yang paling luas areanya adalah dari Singapura.Mereka serius menggarap pasar Indonesia

 

Indonesia Pasar yang Besar

Begitu memasuki stand-nya, saya langsung disapa oleh penjaga stand, Eky Hartono namanya, ternyata dia masih kelas 3 SMK Warga Surakarta. Untuk ukuran remaja seumurannya, Eky sangat fasih dalam menjelaskan produk, product knowledge dan mungkin ilmu marketingnya lumayan bagus. Beberapa pertanyaan dilayaninya persis seperti seorang CS bank menjelaskan produknya. Saya menggunakan analogi CS Bank, karena hanya itulah yang saya tahu, pengalaman membeli mobil belum pernah.

Menurut Eky, mobil yang dipajang disana adalah asli bikinan anak-anak SMK yang bekerja sama dengan 2 perusahaan partner. Ada lima SMK tempat perakitan mobil, SMK tersebut berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satunya termasuk SMK Warga Surakarta tempat Eky bersekolah. Beberapa orang nampak mencoba mobil Double cabin dengan merk Digdaya, harganya termasuk murah hanya Rp. 125 Juta, dengan mesin 1500 cc yang dibuat sendiri oleh anak-anak SMK ini juga. Sementara itu untuk SUV harganya sedikit lebih mahal yaitu Rp. 140 juta dengan kapasitas mesin yang sama. Untuk pick upnya dijual seharga 60 juta. “Semua harga On The Road”, kata eky berpromisi. “90% bahannya adalah lokal dan sisanya yang diimpor adalah Electrical Component Unit”, jelas Eky.

 

Engine Merk Esemka
Engine Merk Esemka
Eky dan Mobil Karya Anak SMK
Eky dan Mobil Karya Anak SMK

Kalau diperhatikan bahan yang digunakan kayaknya lebih kuat dibanding mobil pada umumya, hanya saja dalam assembly-nya masih terdapat beberapa kekurangan dan nampak kurang teliti seperti bagian sambungan yang agak kurang rapi, tapi secara umum karya anak muda yang masih berumur belasan ini patut diapresiasi. Kabarnya beberapa Pemda telah melakukan pemesanan.

Anak-anak muda ini sebenarnya bisa berkarya, hanya saja dari sisi pemasaran mereka membutuhkan campur tangan dan bantuan tenaga profesional, termasuk dalam pengurusan perizinan. Seorang sumber mengatakan bahwa untuk saat ini, hanya dua Kepolisisan Daerah yang bersedia mengeluarkan STNK yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ilmunya sudah kita miliki, bahkan anak-anak muda inipun bisa membuat. Semoga langkah-langkah kreatif anak-anak muda ini bisa terus berlanjut sehingga suatu saat nanti kita bisa memiliki produk yang benar-benar asli indonesia, dari sisi merk, design dan produksi.

Salam Pemburu Souvenir 🙂

Pemburu Souvenir, hehe
The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started