Idul Adha di Edinburgh, United Nations dan Indomie

Hari ini idul Adha, tanggal 15 Oktober 2013 versi orang Romawi dan tanggal 10 Zulhijjah 1434 versi Hijriah. Saya kebetulan ada di Kota Edinburgh di Negara Kerajaan Inggris dimana islam hanya sebagian kecil dari total penduduknya. Hari ini di Indonesia adalah hari libur, bahkan kemarin adalah cuti bersama bagi seluruh rakyat indonesia karena hari senin kemarin ketiban sial dijepit oleh dua warna merah di kalender, dia menjadi salah satu kurban idul adha kali ini.

Pada shalat jumat minggu sebelumnya sudah diumumkan oleh Pengurus Mesjid Central bahwa ibadah shalat idul adha dilaksanakan dalam dua shift, shift pertama adalah jam 08.00 dan shift kedua pukul 09.30. Bagi yang tinggal di Indonesia, dua shift shalat eid bukanlah hal yang jamak, tapi karena keterbatasan ruang mesjid serta kurang memungkinkannya jamaah ditampung diluar mesjid karena cuaca mulai dingin disertai angin dan kemungkinan hujan, maka jadilah shalat idul adha dalam dua shift, lengkap dengan shalat dan khutbahnya masing-masing.

Karena shift 1 sangat dingin dan ada undangan berkunjung ke rumah Pak Totok dan Bu Ofita di dekat Mesjid, saya memutuskan untuk mengikuti yang shift 2.  Saya bergegas menuju bus stop dekat rumah, hujan membasahi ibukota skotlandia ini, dingin lumayan buat saya disuhu sekitar 10derC, Ketika Bis 31 telah datang, saya naik dengan bismillah, tak tampak ada orang yang mau ke mesjid untuk shalat, tak tampak suasana lebaran kayak Indonesia. Rasanya memang ada yang kurang, saat lebaran adalah saat berkumpul dengan keluarga dan menikmati suasana dan juga makanannya, saya memang tidak selalu berlebaran di kampung, bahkan sejak migrasi ke jakarta sepuluh tahun lalu, saya sudah jarang lebaran idul adha di Sidrap, Sulawesi Selatan, akan tetapi minimal saya berlebaran dengan keluarga dekat, baik bersama istri atau bersama kakak di Bogor, dan dimanapun saya berlebaran di Indonesia, suasananya, bau masakannya dan sensasinya terasa.

Kalau di Kadidi Sidrap saat ini, orang-orang sudah berbondong-bondong ke Mesjid, Pung Imang (Imam mesjid) dan Pung Katte (Marmot) sudah sedari subuh menghidupkan syiar dengan takbir yang berkumandang, para haji jaman dulu berangkat dengan pakaian khas arab, anak-anak berlarian dengan bau baju baru yang masih terasa, sandal baru keluar dari box-nya dan kita berlebaran menuju mesjid disambut suara khas Pak Muis yang mengatur jamaah dan membacakan penyumbang dalam ritme cepat.

Tapi itu di Indonesia, lain lubuk lain belalang lain kampung lain pula lebarannya. Dinegara ini muslim hanya 4,8% berdasarkan sensus tahun 2011. Sebenarnya soal jumlah, ini kabar baik, jumlahnya meningkat dibanding tahun 1961 yang hanya 0,1% dari total populasi dari jumlah mesjidnya seUK sekitar 1500, rasio muslim per mesjid adalah 1900 orang per 1 mesjid (wikipedia).

Karena muslim masih sedikit disini, maka hari Idul Adha bukanlah hari libur nasional, aktifitas berjalan dengan normal seperti biasa, yang ke kantor tetap ke kantor dan yang sekolah kayak saya tetap harus ke sekolah. Kuliah saya jam 2 siang, padahal untuk idul adha kali ini saya sudah mau mengurbankan jam kuliah saya demi Idul Kurban, tapi tak jadi, tak ada kuliah yang bisa dikorbankan dan tak ada alasan untuk tidak hadir kuliah.

Mesjid sudah hampir penuh ketika saya tiba, bagian lantai atas yang biasanya buat akhwat juga sudah hampir penuh, untuk akhwatnya sendiri ditempatkan di lantai ground dekat dengan tempat berwudhu.

Susana Lantai 1 sebelum Lebaran dan sebelum saya dilarang Security foto, "Brother No Foto" katanya (taroada)
Susana Lantai 1 sebelum Lebaran dan sebelum saya dilarang Security, “Brother No Photo” katanya (taroada)

Di Mesjid ini, semua macam warna kulit, warna rambut, warna pupil, jenis rambut, jenis kulit, jenis mata, semua ada. Eropa, Asia, Afrika, Amerika semua ada di Mesjid ini, dan karena itulah khatib dalam khotbahnya berpesan, We Are United Nations, kita ini Persatuan Bangsa-Bangsa rupanya, kita ini PBBlah kata saya, lebaran ini adalah perwujudan berkumpulnya bangsa-bangsa dalam satu kesatuan. Haji di Padang Arafah lebih lengkap lagi jens manusia dan negaranya, itu menjadi bukti bahwa kita ini satu tak peduli ras dan warna kulit. We Are United.

Selesai Khutbah yang singkat, maka saatnya kita serbu rumah bu Ofita (mahasiswa S3 di University of Edinburgh). Saya dan Aulia ketemu di luar mesjid dan menuju ke TKP. Di Flat tersebut telah menunggu Pak Totok (suami bu Ofita) sang tuan rumah. Bu Ofita agak lambat nyampai, terhalang jamaah yang bersalaman dan berpelukan dipintu keluar.

Pak Totok dan keluarga menyiapkan lontong, sambel goreng hati, gado-gado dan es cincau, rasanya Indonesia tak begitu jauh di flat ini, Indonesia serasa hadir bersama luruhnya es cincau dan meresapnya sambel goreng hati diujung lidah. Beberapa orang menyusul setelah, Fajri, Wibi dan Handa sekeluarga, kami menikmati Lebaran di negeri orang sebagai tradisi berkumpul bersama mengeratkan tali silaturahmi.

ACARA MALAM

Malam harinya, acara silaturahmi menyambut Idul Adha diselenggarakan oleh Islamic Society University of Edinburgh.

Masing-masing negara membawa makanan khas dari tanah airnya, dan kita negara Republik Indonesia di wakili oleh masakan Fajri, anak Master of Law asal Jogja yang rajin ngumpul sama anak-anak Mesjid. Fajri dibantu Wibi menyiapkan resep tanah leluhur yaitu Indomie Goreng, pengerjaannya di flat Aulia, jadi mereka bertiga layak diberikan kredit sebagai duta bangsa yang mempersembahkan masakan terbaik dari negerinya.

DSC_0705
INDONESIA !!!
Mas-mas yang pakai batik itu namanya Fajri, Chef dari Indonesia
Mas-mas yang pakai batik itu namanya Fajri, Chef dari Indonesia (FB Isoced)

Orang Malaysia membawa Nasi Lemak, anda tahu kan nasi lemak? semacam nasi uduk dengan sambal ditambah teri dan kacang goreng, rasanya sangat nikmat ketika saya dulu makan di Selangor Malaysia, kali ini harapan saya juga mengalir seiring waktu yang rasanya terlalu lama belum dimulai-mulai juga acaranya.

Nasi Lemak Malaysia (taroada)
Nasi Lemak Malaysia (taroada)

Nah sebelum acara makan-makan dimulai, dilaksanakan Kultum, isinya memikat sebenarnya, tentang Common Good, bahwasanya kita sebelum menyeru kepada kebaikan kita harus melaksanakan kebaikan yang menurut kacamata universal memang sebuah kebaikan, kita harus memastikan diri kita baik dulu.

Habis ceramah, tiba saatnya pelelangan kaligrafi, kaligrafi dijual kepada penawar tertinggi, tentu saja uangnya untuk disumbangkan. Pembawa acara lelang adalah Saad, pemuda Palestina teman sekelasku. Pemuda “pemuja” differensial, integral dan sinusoidal ini melelang tujuh kaligrafi karya beberapa mahasiswa lintas bangsa. Diantara ketujuh lukisan tersebut harga tertinggi adalah 100pound = Rp1,8 juta dan terendah adalah 20pound = Rp360ribu. Tiga orang pembelinya adalah mahasiswa Malaysia, sementara kami mahasiswa Indonesia, hanya bisa tersenyum-senyum dan berusaha untuk tidak salah menggerakkan tangan ketika ngobrol supaya tidak dikira sedang menawar harga oleh Saad.

Saad sang tukang lelang (taroada)
Saad sang tukang lelang (taroada)

Acara inti dilanjutkan dengan makan-makan, selain masakan Indonesia dan Malaysia, terdapat masakan Iran, Uzbek, Jerman dan Pakistan. Semuanya saya coba, dan tahukah anda masakan yang paling digemari disana? Indomie adalah benda yang paling cepat ludes dari meja panjang itu, Teman-teman Malaysia sudah mengincarnya juga dari awal. Indonesia kembali membuktikan dirinya, dan Fajri dkk ternyata tak mengecewakan, hehehe.

Selamat Idul adha kawan-kawan dan keluarga 🙂

Edinburgh 15 Oktober 2013

Foto Lainnya:

Selamat Idul Adha dari Warga Indonesia
Selamat Idul Adha dari Warga Indonesia (taroada)
Foto Man Only
Foto Man Only (FB Isoced)

LAURISTON CASTLE, Tak Berubah Sejak 1926

DSC_0369
Tampak Depan Lauriston Castle (taroada)

Sudah seminggu sebelumnya Edinburgh University Indonesian Society berencana akan mengadakan trip kesalah satu Castle di Edinburgh. Yang akan dikunjungi adalah Lauriston Castle. Dari gambar yang diupload teman-teman Society nampaknya Castle ini menarik dan banyak yang bisa dilihat.

Saya agak terlambat sampai di lokasi janjian di Old College, tapi untunglah saya ditunggu Aulia, teman Indonesia yang juga kuliah Master di University of Edinburgh. Rombongan pertama suda berangkat dan kami menyusul 7 menit kemudian. Perjalanan sekitar 45 menit dari central area dan dilanjutkan dengan berjalan kaki karena bus yang ditumpangi tidak lewat persis di jalan masuk Castle. Tiba di lokasi, rupanya saya sama Aulia yang duluan nyampe dan rombongan pertama justru tiba belakangan karena kesasar dan harus berjalan lebih jauh.

Pengunjung Castle ini tidak banyak, hanya rombongan society kami ditambah 2 orang turis lainnya, tiket masuk £5 untuk umum dan £3 untuk society, karena kami ikut society bayarnya hanya £3.

Pada abad pertengahan, lokasi Lauriston Castle sudah pernah ada bangunan akan tetapi hancur pada jaman pemerintahan Earl of Hertford. Kemudian Lauriston Castle dibangun pada tahun 1593 oleh Napier Family, yaitu Sir Archibald Napier of Merchiston. Sir Archibald ini adalah ayah dari Jhon Napier yang tempat kelahirannya di Merchiston dijadikan kampus Napier University. John Napier adalah ilmuwan yang yang menemukan algoritma dan bilangan decimal.

Lauriston Castle kemudian berpindah kepemilikan kepada John Law dari tahun 1671—1729, kemudian berpindah tangan lagi kepada politisi Andrew Rutherfurd dari tahun 1791-1854. Terakhir Lauriston Castle dimiliki oleh William Robert Reid, pemilik Morison & Co sejak  tahun 1902 dan oleh orang kaya bernama Reid tersebut istana Laurington dilengkapi dengan system listrik, perpipaan, dan telpon  yang sangat langka pada saat itu. Mr. Reid adalah pengusaha furniture dan itu juga sebabnya furnitur yang ada di istana ini lengkap dan indah.

Sejak Mrs Reid meninggal pada tahun 1926, kondisi castle dijaga sama dengan aslinya dan tetap terpelihara sampai sekarang. Dari mengunjungi istana ini kita bisa tahu selera, cara hidup, dan kehidupan pergaulan dari orang kaya jaman dulu di Inggris.  Furniture yang ada didalam Castle ini masih sama persis pada saat ditinggalkan oleh pemiliknya pada tahun 1926.

DSC_0373
Ruang Tengah, Jaman Dulu Sebagain Besar Orang Cuma Sampai di Ruang Tengah Ini (taroada)
DSC_0375
DIruang Kerja ini Foto-foto dan Furniturenya sama dengan sebelumnya, terdapat lampu dari listrik dan sudah ada telponnya, nomor telponnya single digit, “8” kalo tak salah ingat. Dari ruangan inilah Mr Reid mengontrol usahanya. Abang-abang yang garuk kepala itu Pemandu kita (taroada)
Kalo ada yang bilang dinding bisa mendengar, nah diruangan ini hal tersebut bisa terjadi, terdapat pintu rahasia diantara dinding luar dan dinding dalam, dimana semua pembicaraan bisa didengar dari ruang tersebut (taroada)
Kalo ada yang bilang dinding bisa mendengar, nah diruangan ini hal tersebut bisa terjadi, terdapat pintu rahasia diantara dinding luar dan dinding dalam, dimana semua pembicaraan bisa didengar dari ruang tersebut (taroada)
Toilet Duduk, Sejak 1926
Toilet Duduk, Sejak 1926
Ruang Tidur Nyonya Reid
Ruang Tidur Nyonya Reid
Bentuknya seperti Kakao dari Indonesia, karena memang demikianlah adanya, waktu itu namanya bukan Indonesia masih Hindia Belanda
Bentuknya seperti Kakao dari Indonesia, karena memang demikianlah adanya, waktu itu namanya bukan Indonesia masih Hindia Belanda, idenya memang Kakao dari tanah air, terdapat di kamar Nyonya Reid (taroada)
They Have "Morning Room"
They Have “Morning Room”
And Afternoon Room
And Afternoon Room
Ruang Makan, diruangan ini terdapat lukisan minyak gede
Ruang Makan, diruangan ini terdapat lukisan minyak gede
Ini ruang baca pastinya
Ini ruang baca pastinya
Taman Persahabatan, tak perlu ke Jepang
Taman Persahabatan, tak perlu ke Jepang
Lauriston Castle dari Belakang
Lauriston Castle dari Belakang, tampak orang bernain Cricket, taman ini memang menjadi Home dari Club Cricket

Disamping Laurisiton Castle terdapat Kyoto Frienship Garden, taman ini baru dibangun tahun 2002 sebagai kenang-kenangan dijadikannya Kyoto dan Edinburgh sebagai Sisters City.

Orang Britain memang pandai merawat tradisi, mungkin karena itu pemerintahannya masih menjadikan Ratu sebagai kepala Negara ketika banyak Negara eropa telah beralih ke Republik. Bangunan-bangunan berusia ratusan tahun dan masih berfungsi dengan baik hingga sekarang.

Edinburgh 28 September 2013

Rombngan Kami
Rombongan Kami, di tangga sebelum masuk ruang tengah. SALAM DARI LAURISTON CASTLE

BACA JUGA:

– I am Indonesian

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong

I am Indonesian

Dulu, dulu banget, ada yang pernah bilang ke saya, “ Indonesia itu tidak dikenal di Luar Negeri, yang ditahu orang luar itu Bali, bahkan ada yang tidak tahu bahwa Bali itu di Indonesia”

Saya yang tak punya kesempatan ketemu dengan orang luar negeri di negeri mereka, tak bisa mengkonfirmasi hal tersebut. Saya merasa heran, kenapa ada orang yang tak tahu Indonesia. Ini Indonesia Bos, dari Sabang sampai Merauke itu kelihatan banget di Peta. Okelah, memang dipeta orang Indonesia, Indonesia ada di tengah-tengah peta dan di peta Negara lain semacam di Eropa, Indonesia ada di pinggir-pinggir. Tapi, Indonesia itu panjang loh, perjalanan dari Sabang ke Merauke hanya beda sedikit lamanya dengan penerbangan dari Dubai ke Glasgow, padahal itu sudah melewati Turki, daratan eropa barat dan Inggris sendiri. Tak mungkin hamparan pulau-pulau sepanjang itu luput dari pandangan orang-orang ketika melihat peta.

Karenanya begitu saya memperkenalkan diri dengan teman-teman dari 18 arah mata angin, saya selalu bertanya, apakah mereka tahu Indonesia. Okelah tak usah tanya si Quyyum dari Malaysia, si Saad keturunan Palestin, atau si Badar dari Saudi Arabia, atau si Joanna dan kawan-kawannya dari China, atau si Thailand berwajah China, mereka sudah pasti tahu Indonesia.

Sandya, gadis prancis keturunan Iran tahu Indonesia. Teman dari Mexico tahu Jakarta, teman-teman keturunan Alexander the great dari Greece semua tahu Indonesia, si Kazakztan juga ngerti Indonesia, si Scottish yang pemalu, si Irish yang ramah, si Chili yang panjang kumisnya semua tahu Indonesia. Semua yang saya tanya tahu Indonesia.

Ya, mungkin karena mereka cukup berpendidikan dan malu kalau dibilang pelajaran geografinya jelek. Tapi itu menunjukkan satu hal, pada dasarnya Indonesia itu dikenal di dunia internasional. Beda kalau saya tanya tentang Makassar, Sulawesi atau Kadidi kampong halaman saya, tak ada yang tahu, tapi hampir semuanya tahu Jakarta dan Bali. Bahkan Sandya pernah ke Indonesia dan punya sepupu orang Indonesia.

Indonesia terkenal di University of Edinburgh bahkan disebut dalam dua slide presentasi Professor bahasa pada saat Induction Week mahasiswa Post Graduate yang jumlahnya mungkin 300 orang saat itu diruangan.

IMG_20130910_163925
New College
IMG_20130910_135559
Suasana Hall

Di Hall A, New College, salah satu gedung berarsitektur indah nan cantik dari University of Edinburgh, Professor Tony Linch memaparkan tentang kultur perkuliahan di UoE. Beliau memberi contoh, ada mahasiswa yang selalu bertanya di kelas, bahkan pertanyaan yang bodoh sekalipun, ada mahasiswa yang selalu duduk didepan dan mencatat setiap ucapan dosennya, tapi yang membuat dia paling berkesan adalah mahasiswa Indonesia yang pernah dia ajar.

Professor Linch bercerita tentang Mahasiswa Indonesia-nyaIMG_20130910_141920

Dalam sebuah kelas yang berisi orang Indonesia semua, salah satu yang tertua menjadi semacam juru bicaranya. Dan inilah dialog sang professor, ketika memberikan kesempatan kepada kelas tersebut untuk bertanya :

TL = Tony Linch (Sang Professor)

S = Student

IMG_20130910_141914
Slide 1

Saya tersenyum melihat slide ini, Indonesia banget, dan “gue banget nih”. Di ruangan tersebut mungkin tak banyak orang Indonesia, setahu saya selain saya ada lagi satu orang yang duduk agak berjauhan, diapun tersenyum melihat slide tersebut.

Tapi ternyata, masih ada satu slide lagi, dan ini jawabannya:

IMG_20130910_142003
Because You Are A Good Teacher, ……..Jawaban Cerdas 🙂

Seisi ruanganpun tersenyum dengan jawaban tersebut, saya sekali lagi bilang, waah Indonesia banget nih, gue banget :).

Saya awalnya berpikir hanya saya yang tidak akan banyak bertanya di kelas, meskipun keinginan sebenarnya menggebu-gebu. Dalam 3 minggu terakhir ini dari 8 orang China di kelas tak satupun yang bertanya atau menjawab pertanyaan dosen, saya tahu penyebabnya, ini kendala bahasa. Kalau saya sih masih menjawab sekali-sekali atau bertanya sekali-sekali. Tapi sisi positif dari budaya yang berkembang disini adalah, mereka tak akan menertawakan kemampuan berbahasa inggris kita, mereka menunggu dengan sabar satu persatu kalimat itu meluncur dari mulut kita, dan meminta dengan sopan untuk diulangi kalau mereka kurang jelas. Dan saya dalam satu atau dua kali kesempatan membuat kelas terpaksa freeze, saya seperti menghentikan waktu, saya berusaha mencari padanan kata tertentu dalam bahasa inggris, tapi lama baru ketemu, saya menengok mencari teman malaysia dia tak menghadap saya, untunglah teman sekelas dan dosen mau bersabar. Mereka mengerti bahwa bahasa Inggris itu bukan bahasa ibu saya. Ini kan bahasa inggris bos, bukan bahasa Indonesia, jadi wajar kalau saya agak tersendat :). Seandainya kuliahnya dalam bahasa bugis mungkin dosennya yang bakal bosan mendengar saya bicara. hehehe.

Saya dari Indonesia, masih ada yang belum kenal Indonesia? Gak Gaul deh Loe…:)

King’s Building

Edinburgh

25/09/13

IMG_20130919_100517
Salam dari King’s Buildings Edinburgh

BACA JUGA :

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started