Belajar dari system Exam di UK

Exam sudah berlalu, selama  2 minggu exam telah menyita hampir seluruh energy dan pikiran saya. Exam memang tempatnya bertempur, “the moment to show”. Bagi saya, exam adalah pertaruhan harga diri. Malu rasanya menerima beasiswa kalau tidak bisa menunjukkan kepada sponsor bahwa mereka tidak salah memilih kandidat penerima beasiswa, dan sebagai bapak dari seorang Ponggawa, saya malu kalau tidak bisa memberi contoh bagaimana berjuang dengan sungguh-sungguh kepada anak.

Bertapa di Perpustakaan

Sistem exam di UK memang agak unik, jika dibandingkan di tempat saya dulu berguru di Indonesia. Dari jauh hari, lebih dari sebulan sebelum revision week, jadwal exam sudah dipublikasikan kepada semua mahasiswa, sehingga kita sudah harus bersiap meningkatkan upaya belajar supaya tidak mati-matian nanti menjelang exam. Sebulan sebelum revision week, sambil kuliah di pagi hari sayapun kemudian membuat jadwal belajar untuk kelima mata kuliah yang harus dibaca minimal 3 jam setiap harinya. Tak akan pernah ada system kebut semalam, karena bahannya yang banyak, perlu analisa, serta kadang-kadang perlu mencari tambahan resources dari buku dan jurnal.

Harus saya akui juga, kendala bahasa masih kadang-kadang membuat saya sulit memahami beberapa kata yang diucapkan oleh pengajar, tapi itu tidak menjadi pembenaran sehingga saya dibolehkan untuk mendapatkan standar penilaian yang lebih rendah dibanding teman-teman yang lain. Mau dia Amerika, English, Scottish, Germany, French, Greek, Chinese, Malaysian semua sudah dianggap sama dalam menangkap mata pelajaran. Karena kendala bahasa itu pula, menurut saya, saya harus lebih giat belajar dibanding teman-teman yang sudah dari lahir berbahasa Inggris.

Kuliah terakhir semester ini di minggu ke 3 November 2013, dan jadwal exam pertama di tanggal 9 Desember 2013 dan terakhir tanggal 19 Desember, untuk 5 mata kuliah. Dari kuliah terakhir hingga exam adalah revision week.

Revision week ini sebenarnya minggu tenang tanpa kuliah di kelas. Kalau dulu waktu kuliah, minggu tenang ini adalah waktunya tenang, tak banyak aktivitas belajar hingga 2 hari menjelang ujian. Tapi kali ini lain, para pertapa di Perpustakaan sudah mulai menggelar ritualnya begitu denting jam revision week dimulai, hampir tak ada tempat yang kosong untuk belajar.

Kalau dulu saya belajar setelah lewat jam 12 malam, kali ini saya belajar dengan cara yang lebih manusiawi, terukur namun marathon. Saya  mulai nongkrong diperpustakaan jam 11 pagi sampai jam 11 malam. Untuk makan siang saya sudah bawa dari rumah menu makan siang yang enak, halal dan murah. Beli makanan di Kampus, tidak termasuk dalam kalkulator sponsor saya. Lokasi favorit saya adalah di lantai Silent Room yang berdekatan dengan rak buku-buku Engineering, hanya satu dua tarikan nafas saya bisa menjangkau buku-buku referensi dengan gampang.

Revision week membuat saya banyak teman, teman diskusi sangat diperlukan ketika harus memecahkan soal yang rumit atau berlatih membuat simulasi jawaban untuk Exam.

Soal-soal yang diajukan di exam punya bentuk berbeda, tergantung “system” yang dianut oleh pengajarnya. Berdasarkan metodenya saya bisa bagi beberapa:

1. Short Question, but Looong Answer.

Pertanyaannya cuma satu kalimat, misalnya bandingkanlah pendapat yang yang pro dan kontra teori x?

Pertanyaan terbuka seperti ini tidak ada yang benar dan salah, pengajar hanya mau tahu seberapa tahu dan seberapa dalam pemahaman kita mengenai sebuah hal, pertanyaan sependek ini dijawab minimal 1,5 halaman. Bagusnya jenis pertanyaan ini, semakin banyak kita membaca, maka semakin gampang kita menyusun argument, namun susahnya adalah apakah argument yang kita berikan sesuai dengan harapan pengajarnya. Untuk system ini terdapat 4 soal, dimana dipilih 2 soal untuk dijawab selama 2 jam. Waktu 2 jam itu tak akan pernah cukup sebenarnya.

Untuk jenis exam ini, sangat dibutuhkan banyak diskusi dan latihan menulis essay sendiri, dan tahu sendiri kan masalahnya, saya tak terbiasa menulis dalam bahasa Inggris. That’s my challenge.

2. Short Question but many questions and many sections + Calculation + Essay

Yang ini untuk mata kuliah 20 kredit, exam berlangsung selama 3 jam. Contoh pertanyaannya : 1) explain the principle of xxx, what the advantages and disadvantages, compare with yyy.

Jumlah pertanyaan seperti ini antara 11-15 questions, ditambah calculation yang kompleks dan essay 1 halaman. Untuk exam seperti ini, disamping bahannya yang bejibun dan harus membaca puluhan jurnal dan bahan presentasi, juga harus bisa bertempur dengan waktu. Waktu 3 jam tak cukup untuk menjawab semua pertanyaannya.

3. Science fiction book

Pertanyaannya bisa satu setengah halaman yang berisi deskripsi dan kalkulasi. Pertanyaannya misalnya : sebuah perusahaan menunjuk anda sebagai konsultan pembangunan pembangkit xxxx, kemudian data diberikan, masalah diajukan, pertanyaannya : kalkulasi xxx, deskripsikan pilihannya, apa kelebihannya, bagaimana kalau xxx, apa yang terjadi kalau efisiensinya naik?

Untuk yang ini, ada gampang ada susahnya, kalau sudah mengerti, akan dengan mudah mencari jawabannya, tapi kalau hanya mereka-reka, akan sangat sulit.

Ya iyalah, kalau mengerti memang gampang.

Untuk subject ini bahannya sangat banyak, dibutuhkan bebarapa hari dikali 12 jam hanya untuk membaca saja dan meringkas, belum memahami, mengerti alurnya dan study case. Wajah-wajah muram tampak hadir setelah exam subject ini.

4. I have No Idea

Inilah yang paling sulit, yang diajarkan dikelas, yang dipelajari di tutorial dan yang diexamkan setahun sebelumnya sama sekali beda. Wajah-wajah kesal dan sumpah serapah meluncur dengan deras untuk subject ini. Masalahnya adalah ini adalah soal hitungan teknik. Bisa dibayangkan bagaimana bingungnya mencari jawabannya, dan yang dilakukan adalah mencopy formula sheet yang disediakan dibelakang lembar soal.

Pestanya Mahasiswa

University of Edinburgh memperlakukan exam sebagai sesuatu yang sangat special bagi mahasiswa. Exam dirancang agar mahasiswa bisa mempersiapkan diri dengan baik dan bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya saat ujian. Perlakuan special itu ditunjukkan dengan pemilihan tempat ujian, perpustkaan sebagai sarana belajar, tiket bis gratis bagi yang pulang larut serta fasilitas konseling bagi yang bermasalah.

1472752_10202216968841091_1509863567_n

Exam di Playfair Library

Tempat ujian biasanya adalah gedung-gedung berinterior indah yang hanya digunakan untuk acara-acara penting. Tak ada exam dikelas-kelas yang biasa digunakan untuk kuliah sehari-hari. Ruangan hanya akan dibuka 10 menit sebelum ujian dilaksanakan dan tidak boleh meninggalkan ruangan 15 menit sebelum waktu ujian habis. Jangan pernah berharap bisa mencontek diruangan ujian, perjuangan selama beberapa bulan akan berakhir dengan sia-sia hanya karena mencontek, didiskualifikasi, disidang dan dipecat jadi mahasiswa, tak ada yang akan mau menanggung resiko itu dan karenanya tak aka nada yang mau mencontek atau dicontek. Dalam satu ruangan, biasanya terdiri dari beberapa kelas yang berbeda, namun sama dalam durasi ujiannya, jadi yang 2 jam akan bisa seruangan dengan yang 2 jam dari kelas lainnya. Tempat yang sering digunakan untuk ujian adalah Playfair libray dan Mc Ewan Hall, namun kalau tempatnya kurang, dilaksanakan di Adam House dan St Leonard Land Gym.

1376651_10201597835923155_721334161_n

Mc Ewan Hall

Selama revision week dan exam week, perpustakaan di Main Building buka hingga jam 02.30 pagi, sementara untuk di King’s Building buka sampai jam 11 malam. Saya biasanya belajar di King’s Buildings (KB), karena School saya berada disana dan buku-buku engineering ditempatkan di sana. Di KB library juga banyak teman diskusi sehingga memudahkan kalau ada yang mau ditanyakan. Terdapat fasilitas tiket gratis bagi yang menggunakan bis setelah lewat jam 6 sore, ada yang mengumpulkan tiket sampai 20 buah  padahal tinggal disekita area KB juga.

Hasil exam akan diproklamirkan pada Januari atau February 2014, mudah-mudahan hasilnya baik.

Salam dari Edinburgh

22 Desember 2013

 Baca Juga :

I am Indonesian

Perjalanan Ke Barat

Mimpi Nonton Manchester United

Inilah Istana Harry Potter

Dari sebuah novel menjadi film yang sangat sukses. Anak kecil, remaja dan orang dewasa terpesona dengan cerita Harry Potter yang divisualisasikan dalam film. Banyak yang penasaran dimanakah lokasi pengambilan gambar Harry Potter, dimana mereka latihan sapu terbang, dimanakah tempat Hagrid bermukim, dimanakah Hogwarts  berada, dan masih banyak pertanyaan lagi.

Orang Hollywood memang pintar mendramatisir sebuah lokasi atau sebuah peristiwa. Tentu tak ada kejadian sebenarnya orang pakai sapu terbang, juga tak ada kejadian sebenarnya mobil terbang dan mendarat di sekitar Hogwarts. Anyway, pesona Harry Potter tidak hanya di buku dan difilmnya, tapi cerita tersebut berlanjut ke rasa penasaran orang, dimanakah bisa menemukan lokasi syuting Harry Potter. Seperti juga kita yang penasaran dengan New Zealand setelah menonton Lord of The Ring, saya jadi penasaran dengan lokasi syuting Harry Potter. Memang tak semua kejadian dalam film dilakukan di istana ini, akan tetapi ada banyak adegan yang dilakukan istana Alnwick.

Alnwick Castle dan Keluarga Percy

Alnwick Castle sejatinya masih ditempati sampai sekarang, keluarga Percy menikmatinya pada saat musm dingin. Istana ini juga masih berpenghuni hingga kini, dan masih sering digunakan untuk acara resepsi. Tempat yang pertama dikunjungi ketika ke istana ini adalah state room, bagian ini masih ditempati hingga kini oleh keluarga Percy. Di gedung State ini ada koleksi buku hingga 40.000 buku dari berbagai disiplin ilmu, buku tertua pada tahun 1475 dan yang terbaru pada tahun 1920.

Beragam ruangan di State Rooms berhias lukisan-lukisan abad 17 dan dekorasi meja, furniture dan wallpaper yang dibuat ratusan tahun yang lalu. Para pembuatnya sebagian besar orang Romawi. Bangsawan Britania jaman dulu, ketika mendengar ada seniman bagus, dengan segera dia akan memboyong untuk dipekerjakan di istananya.

4114_1500x1067

Peta seperti ini jadi souvenir yang diberikan gratis saat berkunjung ke Alnwick Castle (courtesy: nationalcraft.com)

Yang paling menarik dari salah satu hiasan adalah di Dining Room, terdapat tiga puluh lima tongkat yang diukir dengan indah oleh seniman  Nurman Tulipis, hiasan dikepala tongkat tersebut beragam bentuk seperti tupai, ikan, burung, ular, bentuknya sangat indah dan menawan. Sayangnya dilarang memotrtet di state rooms. Dari situs resminya seperti ini fotonya:

Dining Room. Lingkaran merah adalah stick dengan ukiran yang indah (alnwick castle.com)

Alnwick Castle  berada di Northumberland, wilayah England yang berbatasan dengan Scotland. Istana ini dibangun pertama kali tahun 1006 oleh Baron of Alnwick untuk melindungi England dari serangan Scotland. Sisa-sisa jebakan masa perang jaman seribu tahun lalu masih tersisa digerbang benteng ini. Dalam perjalanan waktu, istana dan benteng yang mengelilinginya menjadi saksi pertempuran antara Scotland dan England, bahkan salah satu Raja Scotland meninggal sebelum masuk benteng pada tahun 1174. Kisah-kisah peperangan antara Scotland dan England masih jadi bahan olok-olokan oleh pemandu di Alnwick Castle, tentu saja karena dia adalah orang England maka yang diolok adalah orang Scotland.

Keluarga Percy yang menjadi pemilik dari Alnwick castle saat ini pertama kali memiliki istana tersebut pada tahun 1309. Sebelum membeli Alnwick Castle, Henry Percy, nenek moyang dari Percy Family saat ini adalah pahlawan perangnya England di kawasan Wales dan Scotland. Karena keberhasilan dan keberaniannya oleh Raja Edward I dia diberikan property yang luas dikawasan Scotland. Putra dari Henry Percy Earl I Northumberland juga bernama Henry Percy, tapi dia lebih dikenal sebagai Henry Hotspurs.m karena karakternya yang meledak-ledak. Dia adalah pahlawan perang inggris seperti ayahnya, dia juga disegani oleh lawan, baik Scotland maupun Perancis saat itu. Namun kemudian Henry Hostpurs membangkang terhadap Raja Inggris Henry IV yang dianggapnya tiran. Dia kemudian terbunuh namun perlawanannya dikagumi.  Shakespeare mengabadikan kisa Henry Hostspurs dalam Henry IV.

DSC_0900-name

Pemandu Bercerita Tentang Harry Hotspurs

Terus apa hubungannya dengan Tottenham Hostpurs? Para pendiri Tottenham terinspirasi oleh semangat dan perjuangan Henry Hotspurs. Namanya kemudian dijadikan nama klub pada tahun 1882, yang awalnya hanya bernama Hotspurs FC, namun karena ada klub lain saat itu bernama London Hotspurs, maka namanya dirubah menjadi Tottenham Hostspurs. Motto dari klub ini adalah  “to dare, is to do,” yang tak diragukan lagi lekat dengan karakter Henry Hostpurs yang tak kenal takut. Tottenham sendiri adalah nama jalan yang tempat para pendiri Spurs sering bertemu.

Harry Potter dan Alnwick Castle

Alnwick Castle adalah lokasi yang secara konsisten hadir dalam semua film Harry Potter, mulai dari Harry Potter and The Philosophers Stone sampai kepada Harry Potter and The Deathly Hallows Part-2.

Salah satu diantara adegan Harry Potter yang diambil di Alnwick Castle adalah latihan sapu terbang :

Harry Potter Broomstick

Latihan Sapu terbang di film

DSC_0842-name

Lokasi Latihan Sapu Terbang

Scene yang satu ini juga menjadi salah satu daya tarik utama dari Alnwick Castle karena ada acara latihan “sapu terbang” setiap harinya dilokasi ini.

DSC_0851-name

Lokasi Sapu Terbang

DSC_1006

Lokasi Quidditch Pitch, aslinya tanpa tiribun

DSC_1013-edit

Forbidden Forestnya Hagrid

Atraksi lain yang menarik di Alnwick Castle adalah Dragon Quest dan Knight Quest. Di salah satu sudut dari Alnwick Castle ini kita bebas memilih pakaian ala Ksatria abad pertengahan dan berpose di lokasi yang telah disediakan lengkap dengan “naga”nya.

Selain lokasi syuting, istana ini juga menawarkan banyak spot dan view untuk berfoto.

DSC_1009-tile2

View di Alnwick Castle

Didekat Alnwick Castle juga terdapat Alnwick Garden. Dimana terdapat tree house dan toxic plant di taman tersebut.

DSC_1018-tile edit edit

Alnwick Garden

Tapi tak lengkap rasanya ke Istana Harry Potter kalau tidak mencoba sapu terbang.

DSC_0969-edit

Salam dari Alnwick Castle 🙂

Sumber tulisan :

Link 1, 2, 3, 4, 5

Idul Adha di Edinburgh, United Nations dan Indomie

Hari ini idul Adha, tanggal 15 Oktober 2013 versi orang Romawi dan tanggal 10 Zulhijjah 1434 versi Hijriah. Saya kebetulan ada di Kota Edinburgh di Negara Kerajaan Inggris dimana islam hanya sebagian kecil dari total penduduknya. Hari ini di Indonesia adalah hari libur, bahkan kemarin adalah cuti bersama bagi seluruh rakyat indonesia karena hari senin kemarin ketiban sial dijepit oleh dua warna merah di kalender, dia menjadi salah satu kurban idul adha kali ini.

Pada shalat jumat minggu sebelumnya sudah diumumkan oleh Pengurus Mesjid Central bahwa ibadah shalat idul adha dilaksanakan dalam dua shift, shift pertama adalah jam 08.00 dan shift kedua pukul 09.30. Bagi yang tinggal di Indonesia, dua shift shalat eid bukanlah hal yang jamak, tapi karena keterbatasan ruang mesjid serta kurang memungkinkannya jamaah ditampung diluar mesjid karena cuaca mulai dingin disertai angin dan kemungkinan hujan, maka jadilah shalat idul adha dalam dua shift, lengkap dengan shalat dan khutbahnya masing-masing.

Karena shift 1 sangat dingin dan ada undangan berkunjung ke rumah Pak Totok dan Bu Ofita di dekat Mesjid, saya memutuskan untuk mengikuti yang shift 2.  Saya bergegas menuju bus stop dekat rumah, hujan membasahi ibukota skotlandia ini, dingin lumayan buat saya disuhu sekitar 10derC, Ketika Bis 31 telah datang, saya naik dengan bismillah, tak tampak ada orang yang mau ke mesjid untuk shalat, tak tampak suasana lebaran kayak Indonesia. Rasanya memang ada yang kurang, saat lebaran adalah saat berkumpul dengan keluarga dan menikmati suasana dan juga makanannya, saya memang tidak selalu berlebaran di kampung, bahkan sejak migrasi ke jakarta sepuluh tahun lalu, saya sudah jarang lebaran idul adha di Sidrap, Sulawesi Selatan, akan tetapi minimal saya berlebaran dengan keluarga dekat, baik bersama istri atau bersama kakak di Bogor, dan dimanapun saya berlebaran di Indonesia, suasananya, bau masakannya dan sensasinya terasa.

Kalau di Kadidi Sidrap saat ini, orang-orang sudah berbondong-bondong ke Mesjid, Pung Imang (Imam mesjid) dan Pung Katte (Marmot) sudah sedari subuh menghidupkan syiar dengan takbir yang berkumandang, para haji jaman dulu berangkat dengan pakaian khas arab, anak-anak berlarian dengan bau baju baru yang masih terasa, sandal baru keluar dari box-nya dan kita berlebaran menuju mesjid disambut suara khas Pak Muis yang mengatur jamaah dan membacakan penyumbang dalam ritme cepat.

Tapi itu di Indonesia, lain lubuk lain belalang lain kampung lain pula lebarannya. Dinegara ini muslim hanya 4,8% berdasarkan sensus tahun 2011. Sebenarnya soal jumlah, ini kabar baik, jumlahnya meningkat dibanding tahun 1961 yang hanya 0,1% dari total populasi dari jumlah mesjidnya seUK sekitar 1500, rasio muslim per mesjid adalah 1900 orang per 1 mesjid (wikipedia).

Karena muslim masih sedikit disini, maka hari Idul Adha bukanlah hari libur nasional, aktifitas berjalan dengan normal seperti biasa, yang ke kantor tetap ke kantor dan yang sekolah kayak saya tetap harus ke sekolah. Kuliah saya jam 2 siang, padahal untuk idul adha kali ini saya sudah mau mengurbankan jam kuliah saya demi Idul Kurban, tapi tak jadi, tak ada kuliah yang bisa dikorbankan dan tak ada alasan untuk tidak hadir kuliah.

Mesjid sudah hampir penuh ketika saya tiba, bagian lantai atas yang biasanya buat akhwat juga sudah hampir penuh, untuk akhwatnya sendiri ditempatkan di lantai ground dekat dengan tempat berwudhu.

Susana Lantai 1 sebelum Lebaran dan sebelum saya dilarang Security foto, "Brother No Foto" katanya (taroada)

Susana Lantai 1 sebelum Lebaran dan sebelum saya dilarang Security, “Brother No Photo” katanya (taroada)

Di Mesjid ini, semua macam warna kulit, warna rambut, warna pupil, jenis rambut, jenis kulit, jenis mata, semua ada. Eropa, Asia, Afrika, Amerika semua ada di Mesjid ini, dan karena itulah khatib dalam khotbahnya berpesan, We Are United Nations, kita ini Persatuan Bangsa-Bangsa rupanya, kita ini PBBlah kata saya, lebaran ini adalah perwujudan berkumpulnya bangsa-bangsa dalam satu kesatuan. Haji di Padang Arafah lebih lengkap lagi jens manusia dan negaranya, itu menjadi bukti bahwa kita ini satu tak peduli ras dan warna kulit. We Are United.

Selesai Khutbah yang singkat, maka saatnya kita serbu rumah bu Ofita (mahasiswa S3 di University of Edinburgh). Saya dan Aulia ketemu di luar mesjid dan menuju ke TKP. Di Flat tersebut telah menunggu Pak Totok (suami bu Ofita) sang tuan rumah. Bu Ofita agak lambat nyampai, terhalang jamaah yang bersalaman dan berpelukan dipintu keluar.

Pak Totok dan keluarga menyiapkan lontong, sambel goreng hati, gado-gado dan es cincau, rasanya Indonesia tak begitu jauh di flat ini, Indonesia serasa hadir bersama luruhnya es cincau dan meresapnya sambel goreng hati diujung lidah. Beberapa orang menyusul setelah, Fajri, Wibi dan Handa sekeluarga, kami menikmati Lebaran di negeri orang sebagai tradisi berkumpul bersama mengeratkan tali silaturahmi.

ACARA MALAM

Malam harinya, acara silaturahmi menyambut Idul Adha diselenggarakan oleh Islamic Society University of Edinburgh.

Masing-masing negara membawa makanan khas dari tanah airnya, dan kita negara Republik Indonesia di wakili oleh masakan Fajri, anak Master of Law asal Jogja yang rajin ngumpul sama anak-anak Mesjid. Fajri dibantu Wibi menyiapkan resep tanah leluhur yaitu Indomie Goreng, pengerjaannya di flat Aulia, jadi mereka bertiga layak diberikan kredit sebagai duta bangsa yang mempersembahkan masakan terbaik dari negerinya.

DSC_0705

INDONESIA !!!

Mas-mas yang pakai batik itu namanya Fajri, Chef dari Indonesia

Mas-mas yang pakai batik itu namanya Fajri, Chef dari Indonesia (FB Isoced)

Orang Malaysia membawa Nasi Lemak, anda tahu kan nasi lemak? semacam nasi uduk dengan sambal ditambah teri dan kacang goreng, rasanya sangat nikmat ketika saya dulu makan di Selangor Malaysia, kali ini harapan saya juga mengalir seiring waktu yang rasanya terlalu lama belum dimulai-mulai juga acaranya.

Nasi Lemak Malaysia (taroada)

Nasi Lemak Malaysia (taroada)

Nah sebelum acara makan-makan dimulai, dilaksanakan Kultum, isinya memikat sebenarnya, tentang Common Good, bahwasanya kita sebelum menyeru kepada kebaikan kita harus melaksanakan kebaikan yang menurut kacamata universal memang sebuah kebaikan, kita harus memastikan diri kita baik dulu.

Habis ceramah, tiba saatnya pelelangan kaligrafi, kaligrafi dijual kepada penawar tertinggi, tentu saja uangnya untuk disumbangkan. Pembawa acara lelang adalah Saad, pemuda Palestina teman sekelasku. Pemuda “pemuja” differensial, integral dan sinusoidal ini melelang tujuh kaligrafi karya beberapa mahasiswa lintas bangsa. Diantara ketujuh lukisan tersebut harga tertinggi adalah 100pound = Rp1,8 juta dan terendah adalah 20pound = Rp360ribu. Tiga orang pembelinya adalah mahasiswa Malaysia, sementara kami mahasiswa Indonesia, hanya bisa tersenyum-senyum dan berusaha untuk tidak salah menggerakkan tangan ketika ngobrol supaya tidak dikira sedang menawar harga oleh Saad.

Saad sang tukang lelang (taroada)

Saad sang tukang lelang (taroada)

Acara inti dilanjutkan dengan makan-makan, selain masakan Indonesia dan Malaysia, terdapat masakan Iran, Uzbek, Jerman dan Pakistan. Semuanya saya coba, dan tahukah anda masakan yang paling digemari disana? Indomie adalah benda yang paling cepat ludes dari meja panjang itu, Teman-teman Malaysia sudah mengincarnya juga dari awal. Indonesia kembali membuktikan dirinya, dan Fajri dkk ternyata tak mengecewakan, hehehe.

Selamat Idul adha kawan-kawan dan keluarga 🙂

Edinburgh 15 Oktober 2013

Foto Lainnya:

Selamat Idul Adha dari Warga Indonesia

Selamat Idul Adha dari Warga Indonesia (taroada)

Foto Man Only

Foto Man Only (FB Isoced)