Inilah Istana Harry Potter

Dari sebuah novel menjadi film yang sangat sukses. Anak kecil, remaja dan orang dewasa terpesona dengan cerita Harry Potter yang divisualisasikan dalam film. Banyak yang penasaran dimanakah lokasi pengambilan gambar Harry Potter, dimana mereka latihan sapu terbang, dimanakah tempat Hagrid bermukim, dimanakah Hogwarts  berada, dan masih banyak pertanyaan lagi.

Orang Hollywood memang pintar mendramatisir sebuah lokasi atau sebuah peristiwa. Tentu tak ada kejadian sebenarnya orang pakai sapu terbang, juga tak ada kejadian sebenarnya mobil terbang dan mendarat di sekitar Hogwarts. Anyway, pesona Harry Potter tidak hanya di buku dan difilmnya, tapi cerita tersebut berlanjut ke rasa penasaran orang, dimanakah bisa menemukan lokasi syuting Harry Potter. Seperti juga kita yang penasaran dengan New Zealand setelah menonton Lord of The Ring, saya jadi penasaran dengan lokasi syuting Harry Potter. Memang tak semua kejadian dalam film dilakukan di istana ini, akan tetapi ada banyak adegan yang dilakukan istana Alnwick.

Alnwick Castle dan Keluarga Percy

Alnwick Castle sejatinya masih ditempati sampai sekarang, keluarga Percy menikmatinya pada saat musm dingin. Istana ini juga masih berpenghuni hingga kini, dan masih sering digunakan untuk acara resepsi. Tempat yang pertama dikunjungi ketika ke istana ini adalah state room, bagian ini masih ditempati hingga kini oleh keluarga Percy. Di gedung State ini ada koleksi buku hingga 40.000 buku dari berbagai disiplin ilmu, buku tertua pada tahun 1475 dan yang terbaru pada tahun 1920.

Beragam ruangan di State Rooms berhias lukisan-lukisan abad 17 dan dekorasi meja, furniture dan wallpaper yang dibuat ratusan tahun yang lalu. Para pembuatnya sebagian besar orang Romawi. Bangsawan Britania jaman dulu, ketika mendengar ada seniman bagus, dengan segera dia akan memboyong untuk dipekerjakan di istananya.

4114_1500x1067

Peta seperti ini jadi souvenir yang diberikan gratis saat berkunjung ke Alnwick Castle (courtesy: nationalcraft.com)

Yang paling menarik dari salah satu hiasan adalah di Dining Room, terdapat tiga puluh lima tongkat yang diukir dengan indah oleh seniman  Nurman Tulipis, hiasan dikepala tongkat tersebut beragam bentuk seperti tupai, ikan, burung, ular, bentuknya sangat indah dan menawan. Sayangnya dilarang memotrtet di state rooms. Dari situs resminya seperti ini fotonya:

Dining Room. Lingkaran merah adalah stick dengan ukiran yang indah (alnwick castle.com)

Alnwick Castle  berada di Northumberland, wilayah England yang berbatasan dengan Scotland. Istana ini dibangun pertama kali tahun 1006 oleh Baron of Alnwick untuk melindungi England dari serangan Scotland. Sisa-sisa jebakan masa perang jaman seribu tahun lalu masih tersisa digerbang benteng ini. Dalam perjalanan waktu, istana dan benteng yang mengelilinginya menjadi saksi pertempuran antara Scotland dan England, bahkan salah satu Raja Scotland meninggal sebelum masuk benteng pada tahun 1174. Kisah-kisah peperangan antara Scotland dan England masih jadi bahan olok-olokan oleh pemandu di Alnwick Castle, tentu saja karena dia adalah orang England maka yang diolok adalah orang Scotland.

Keluarga Percy yang menjadi pemilik dari Alnwick castle saat ini pertama kali memiliki istana tersebut pada tahun 1309. Sebelum membeli Alnwick Castle, Henry Percy, nenek moyang dari Percy Family saat ini adalah pahlawan perangnya England di kawasan Wales dan Scotland. Karena keberhasilan dan keberaniannya oleh Raja Edward I dia diberikan property yang luas dikawasan Scotland. Putra dari Henry Percy Earl I Northumberland juga bernama Henry Percy, tapi dia lebih dikenal sebagai Henry Hotspurs.m karena karakternya yang meledak-ledak. Dia adalah pahlawan perang inggris seperti ayahnya, dia juga disegani oleh lawan, baik Scotland maupun Perancis saat itu. Namun kemudian Henry Hostpurs membangkang terhadap Raja Inggris Henry IV yang dianggapnya tiran. Dia kemudian terbunuh namun perlawanannya dikagumi.  Shakespeare mengabadikan kisa Henry Hostspurs dalam Henry IV.

DSC_0900-name

Pemandu Bercerita Tentang Harry Hotspurs

Terus apa hubungannya dengan Tottenham Hostpurs? Para pendiri Tottenham terinspirasi oleh semangat dan perjuangan Henry Hotspurs. Namanya kemudian dijadikan nama klub pada tahun 1882, yang awalnya hanya bernama Hotspurs FC, namun karena ada klub lain saat itu bernama London Hotspurs, maka namanya dirubah menjadi Tottenham Hostspurs. Motto dari klub ini adalah  “to dare, is to do,” yang tak diragukan lagi lekat dengan karakter Henry Hostpurs yang tak kenal takut. Tottenham sendiri adalah nama jalan yang tempat para pendiri Spurs sering bertemu.

Harry Potter dan Alnwick Castle

Alnwick Castle adalah lokasi yang secara konsisten hadir dalam semua film Harry Potter, mulai dari Harry Potter and The Philosophers Stone sampai kepada Harry Potter and The Deathly Hallows Part-2.

Salah satu diantara adegan Harry Potter yang diambil di Alnwick Castle adalah latihan sapu terbang :

Harry Potter Broomstick

Latihan Sapu terbang di film

DSC_0842-name

Lokasi Latihan Sapu Terbang

Scene yang satu ini juga menjadi salah satu daya tarik utama dari Alnwick Castle karena ada acara latihan “sapu terbang” setiap harinya dilokasi ini.

DSC_0851-name

Lokasi Sapu Terbang

DSC_1006

Lokasi Quidditch Pitch, aslinya tanpa tiribun

DSC_1013-edit

Forbidden Forestnya Hagrid

Atraksi lain yang menarik di Alnwick Castle adalah Dragon Quest dan Knight Quest. Di salah satu sudut dari Alnwick Castle ini kita bebas memilih pakaian ala Ksatria abad pertengahan dan berpose di lokasi yang telah disediakan lengkap dengan “naga”nya.

Selain lokasi syuting, istana ini juga menawarkan banyak spot dan view untuk berfoto.

DSC_1009-tile2

View di Alnwick Castle

Didekat Alnwick Castle juga terdapat Alnwick Garden. Dimana terdapat tree house dan toxic plant di taman tersebut.

DSC_1018-tile edit edit

Alnwick Garden

Tapi tak lengkap rasanya ke Istana Harry Potter kalau tidak mencoba sapu terbang.

DSC_0969-edit

Salam dari Alnwick Castle 🙂

Sumber tulisan :

Link 1, 2, 3, 4, 5

I am Indonesian

Dulu, dulu banget, ada yang pernah bilang ke saya, “ Indonesia itu tidak dikenal di Luar Negeri, yang ditahu orang luar itu Bali, bahkan ada yang tidak tahu bahwa Bali itu di Indonesia”

Saya yang tak punya kesempatan ketemu dengan orang luar negeri di negeri mereka, tak bisa mengkonfirmasi hal tersebut. Saya merasa heran, kenapa ada orang yang tak tahu Indonesia. Ini Indonesia Bos, dari Sabang sampai Merauke itu kelihatan banget di Peta. Okelah, memang dipeta orang Indonesia, Indonesia ada di tengah-tengah peta dan di peta Negara lain semacam di Eropa, Indonesia ada di pinggir-pinggir. Tapi, Indonesia itu panjang loh, perjalanan dari Sabang ke Merauke hanya beda sedikit lamanya dengan penerbangan dari Dubai ke Glasgow, padahal itu sudah melewati Turki, daratan eropa barat dan Inggris sendiri. Tak mungkin hamparan pulau-pulau sepanjang itu luput dari pandangan orang-orang ketika melihat peta.

Karenanya begitu saya memperkenalkan diri dengan teman-teman dari 18 arah mata angin, saya selalu bertanya, apakah mereka tahu Indonesia. Okelah tak usah tanya si Quyyum dari Malaysia, si Saad keturunan Palestin, atau si Badar dari Saudi Arabia, atau si Joanna dan kawan-kawannya dari China, atau si Thailand berwajah China, mereka sudah pasti tahu Indonesia.

Sandya, gadis prancis keturunan Iran tahu Indonesia. Teman dari Mexico tahu Jakarta, teman-teman keturunan Alexander the great dari Greece semua tahu Indonesia, si Kazakztan juga ngerti Indonesia, si Scottish yang pemalu, si Irish yang ramah, si Chili yang panjang kumisnya semua tahu Indonesia. Semua yang saya tanya tahu Indonesia.

Ya, mungkin karena mereka cukup berpendidikan dan malu kalau dibilang pelajaran geografinya jelek. Tapi itu menunjukkan satu hal, pada dasarnya Indonesia itu dikenal di dunia internasional. Beda kalau saya tanya tentang Makassar, Sulawesi atau Kadidi kampong halaman saya, tak ada yang tahu, tapi hampir semuanya tahu Jakarta dan Bali. Bahkan Sandya pernah ke Indonesia dan punya sepupu orang Indonesia.

Indonesia terkenal di University of Edinburgh bahkan disebut dalam dua slide presentasi Professor bahasa pada saat Induction Week mahasiswa Post Graduate yang jumlahnya mungkin 300 orang saat itu diruangan.

IMG_20130910_163925

New College

IMG_20130910_135559

Suasana Hall

Di Hall A, New College, salah satu gedung berarsitektur indah nan cantik dari University of Edinburgh, Professor Tony Linch memaparkan tentang kultur perkuliahan di UoE. Beliau memberi contoh, ada mahasiswa yang selalu bertanya di kelas, bahkan pertanyaan yang bodoh sekalipun, ada mahasiswa yang selalu duduk didepan dan mencatat setiap ucapan dosennya, tapi yang membuat dia paling berkesan adalah mahasiswa Indonesia yang pernah dia ajar.

Professor Linch bercerita tentang Mahasiswa Indonesia-nyaIMG_20130910_141920

Dalam sebuah kelas yang berisi orang Indonesia semua, salah satu yang tertua menjadi semacam juru bicaranya. Dan inilah dialog sang professor, ketika memberikan kesempatan kepada kelas tersebut untuk bertanya :

TL = Tony Linch (Sang Professor)

S = Student

IMG_20130910_141914

Slide 1

Saya tersenyum melihat slide ini, Indonesia banget, dan “gue banget nih”. Di ruangan tersebut mungkin tak banyak orang Indonesia, setahu saya selain saya ada lagi satu orang yang duduk agak berjauhan, diapun tersenyum melihat slide tersebut.

Tapi ternyata, masih ada satu slide lagi, dan ini jawabannya:

IMG_20130910_142003

Because You Are A Good Teacher, ……..Jawaban Cerdas 🙂

Seisi ruanganpun tersenyum dengan jawaban tersebut, saya sekali lagi bilang, waah Indonesia banget nih, gue banget :).

Saya awalnya berpikir hanya saya yang tidak akan banyak bertanya di kelas, meskipun keinginan sebenarnya menggebu-gebu. Dalam 3 minggu terakhir ini dari 8 orang China di kelas tak satupun yang bertanya atau menjawab pertanyaan dosen, saya tahu penyebabnya, ini kendala bahasa. Kalau saya sih masih menjawab sekali-sekali atau bertanya sekali-sekali. Tapi sisi positif dari budaya yang berkembang disini adalah, mereka tak akan menertawakan kemampuan berbahasa inggris kita, mereka menunggu dengan sabar satu persatu kalimat itu meluncur dari mulut kita, dan meminta dengan sopan untuk diulangi kalau mereka kurang jelas. Dan saya dalam satu atau dua kali kesempatan membuat kelas terpaksa freeze, saya seperti menghentikan waktu, saya berusaha mencari padanan kata tertentu dalam bahasa inggris, tapi lama baru ketemu, saya menengok mencari teman malaysia dia tak menghadap saya, untunglah teman sekelas dan dosen mau bersabar. Mereka mengerti bahwa bahasa Inggris itu bukan bahasa ibu saya. Ini kan bahasa inggris bos, bukan bahasa Indonesia, jadi wajar kalau saya agak tersendat :). Seandainya kuliahnya dalam bahasa bugis mungkin dosennya yang bakal bosan mendengar saya bicara. hehehe.

Saya dari Indonesia, masih ada yang belum kenal Indonesia? Gak Gaul deh Loe…:)

King’s Building

Edinburgh

25/09/13

IMG_20130919_100517

Salam dari King’s Buildings Edinburgh

BACA JUGA :

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong

Perjalanan ke Barat

Judulnya sekilas mirip pengembaraan Biksu Tong dari dataran China yang melakukan perjalanan mencari kitab suci ke Negeri India. Tapi bukan itu yang akan saya tulis. Ini tentang awal perjalanan saya ke UK. Perjalanan saya memang ke arah barat, ke arah Eropa, melintasi Samudera Hindia, Dataran India dan mendarat di Dubai, setelah itu lanjut lagi menyusuri semenanjung Arab, melewati Turki , melintasi Eropa dan mendarat di Glasgow, Britania Raya dan dilanjutkan perjanan darat ke Edinburgh, ibu kota Skotlandia.

Saya mengawali perjalanan ke Edinburgh di subuh hari yang gelap dari Bekasi pada tanggal 6 September 2013. Pukul tiga dini hari, saya sudah terbangun, barang sudah dipacking oleh Istri dan dokumen sudah masuk di tas ransel dari semalam, kamera DSLR yang masih gres dan tak tahu cara penggunaannya sudah siap, pasangannya tripod plastic murah sudah terpilin bersama pakaian di koper. Timbangan badan di rumah menunjukkan bahwa berat koperku lebih dari 30 kg, sebuah tas pakaian lain juga akan menemani naik ke kabin. Indomie, bumbu pecel, teri kacang, bumbu instan dan beras berbaur dalam koper, mereka terselip dalam rimbunnya pakaian. Setrika dan rice cooker juga ikut berangkat ke Scotland bersama  syal Indonesia, syal Manchester United, batik Manchester, batik Cirebon, batik Jogja, batik keris, Sutra Bugis, kaos England, kaos MU Merah, kaos MU biru, sleeping bag, songkok dan lain-lain hingga cukup untuk membuat koper penuh sesak.

Saya diantar Istri, Ponggawa, Mama’ dan Bapak dan Ifal  berangkat dari rumah menuju Bandara sekitar Pukul 04.00 pagi dan tiba di bandara sejam kemudian. Pesawat Emirates EK 369 dari Jakarta menuju Dubai sedianya berangkat dari Terminal 2D pada Pukul 07.25. Namun antrian di counter check in Emirates sudah mengular pada Pukul 5 pagi, beberapa orang nampak bersitegang karena ada yang memotong antrean. Pesawatnya adalah jenis Boeing 777-300, pola kursinya 3-4-3. Untuk menemani perjalanan yang lama ini saya hanya nonton, tidur dan nonton. Total perjalanan ke Dubai adalah 7 jam 50 menit, ini adalah perjalanan terjauh tanpa transit yang pernah saya alami. Perjalan an terjauh saya selama ini adalah ke Papua, dan itupun transit di Makassar. Makanan yang disediakan oleh Emirates adalah standar halal, jadi bagi yang Muslim tidak menjadi masalah dengan makanannya.

IMG_20130906_065254

Filmnya Lumayan Banyak

IMG_20130906_181658

Menu Emirates

Sekitar pukul 12 waktu Dubai (waktu dubai 3 jam lebih lambat dibanding Jakarta) pesawat mendarat di Dubai. Suhu luar adalah 42 derajat, panas sekali kayaknya, bahkan air keran untuk berwudhupun hangat.

IMG_20130906_154252

Suasana Bandara Dubai

Setelah meluruskan kaki dan beristrihat sekitar 3 jam, saya mulai merasa teralienasi, tak tampak lagi wajah bertekstur Melayu, hanya ada beberapa wajah India dan China sisanya adalah Kaukasia. Perjalanan ke Glasgow dilanjutkan dengan pesawat Boeing 777-300 yang lain, waktu perjalanannyapun hampir sama. Sebenarnya ada juga penerbangan yang ke Edinburgh, tapi pilihannya terbatas dan karenanya saya pilih ke Glawgow. Di pesawat saya berusaha menonton TV dan menangkap kata perkata yang diucapkan oleh sang actor/aktris, beberapa dapat saya kenali, tapi tak sedikit yang tak ketahuan apa yang dia bilang. Dari sini mulai terbayang nanti seperti apa ngomongnya di Scotland, hehehe.

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara International Glasgow pada Pukul 19.55 Waktu Glasgow, terdapat perbedaan 6 jam antara Glasgow dan Jakarta. Turun dari pesawat, saya langsung mengikuti aliran orang yang berjalan keluar garbarata, takut kesasar, hehehe. Tak lama kemudian kita tiba di jalur imigrasi, seperti biasa terdapat jalur antrian untuk Warga Negara tempat kita mendarat, dan warga negara lain pada loket foreigner. Saya tak perlu menunggu lama sudah sampai di antrian terdepan, dengan ramah mbak-mbak petugas (P) bertanya kepada saya (S):

P : Halo, apa kabar? Mau kemana?

S : Kabar baik, saya mau ke Edinburgh

P : Mau ngapaian disana?

S : Sekolah di University of Edinburgh

P : Apa bidangnya disana?

S : Sustainable Energy

Saya harus mengulang sampai 3 kali, karena accent dan pronounciation saya yang terbatas

Komputernya nampaknya agak lelet

P : Ada sponsornya? Atau biaya sendiri?

S : O iya, sponsornya ada

P : Oo…You are very lucky, Please wait a moment, I have to check your visa and scholarship in system

Nampaknya sistemnya masih lelet

P : Sorry, we have a problem with the system

S : No problem

P : It’s a problem for us not for you (sambil ketawa)

      Are you going to Edinburgh tonight?

S : Yes

P : Tahu caranya ke Edinburgh?

S : Tidak tahu

Sebenarnya saya sudah dikasih tahu sama Bu Ofita, salah seorang mahasiswa S3 di Edinburgh, mengenai jalur transportasi dari Glasgow ke Edinburgh. 🙂

P : Oo gampang, nanti keluar dari sini, ambil bis ke Queen Street Station, dari Queen Street Station ke Waverley Station di Edinburgh

S : Siaapp, bisnya gratis gak mbak?

P : Ya nggaklahhh

S : Oke, makasih banyak mbakk

Saya memang tak sering ke luar negeri dan baru pertama kali ini keluar ASEAN, tapi menurut pengalaman saya yang sedikit, layanan Imigrasi Glasgow sangat bersahabat, dan tentunya berbeda dengan pengalaman buruk saya di Imigrasi Singapur.

Setelah keluar dari jalur imigrasi saya menarik uang rupiah dari mesin ATM di bandara, ratenya sekitar Rp 18.300 per pound, hampir sama dengan rate di tempat penukaran uang di Menteng , dengan ongkos Rp.20.000 sekali penarikan. Begitu keluar dari Bandara, hujan rintik-rintik membasahi Glasgow. Rasanya di luar lebih ber AC dibanding di dalam (hehehe), saya yang tak terbiasa dengan hawa dingin merapatkan jaket hasil belanja di FO Bogor, cukup menghangatkan badan dan menenangkan perasaan yang masih celingak celinguk mencari di manakah gerangan bis yang dimaksud mbak imigrasi tadi. Ternyata tempatnya agak diujung sebelah kiri, dengan dorongan dan sisa-sisa tenaga yang sudah diisi di pesawat saya mendorong koper dan tas menuju halte bus.

Disana sudah ada menunggu bis, ongkosnya £6 , untungnya pak sopir udah saya kasih tahu saya turun di Queen Street, jadi dia nyebut setiap pemberhentian untuk apa, hingga kemudian, dia nyebut, Queen Street, nah ini nih tempat saya turun. Dari Queen Street Station saya naik kereta ke Waverley Edinburgh, ongkosnya £12,5. Tiba di Edinburgh sudah agak malam, sekitar jam 10.30 malam. Saya mencoba naik taksi aja biar gampang dan aman ke rumah ongkosnya £13,5, sebenarnya ada juga bis ke dekat rumah dari Waverley, tapi tahu sendiri, saya orang baru di kampung sini, nanti kesasar malah nyampe Irlandia, hehehe.

Akhirnya saya tiba juga di rumah di kawasan East Kilngate Wynd, dari sini saya akan kembali ke bangku sekolah, sudah 10 tahun saya berpisah dengan kampus, saatnya kembali. Doakan saya ya 🙂

Edinburgh,

14/09/13

DSC_0163

SALAM DARI EDINBURGH 🙂

BACA JUGA :

– I am Indonesian

– LAURISTON CASTLE, TAK Berubah Sejak 1926

– Perjalanan Ke Barat

– Mimpi Nonton Manchester United

– Oleh-Oleh Malaysia Bag. 1

– Oleh-Oleh Malaysia Bag.2

 Oleh-Oleh Palangkaraya

 Liburan Mamuju

– Oleh-Oleh Belitong