Menyepi di Edensor

Oleh : Ahmad Amiruddin

Saya pikir awalnya Edensor itu negeri khayalan, kenyataannya ada didunia yang juga sebenarnya tidak nyata ini.

Dari Manchester kami mengawali hari menuju Edensor Village, sebuah desa khas pedalaman inggris, yang bagi orang Indonesia dikenal lewat novel Andrea Hirata.

***

Manchester-Edensor tak terlalu jauh, hanya sejam dengan kereta. Tapi, keretanya cuma sampai di Sheffield, dari Sheffield kita lanjut dengan bis menuju Chatsworth. Chatsworth House dan Edensor Village adalah dua obyek wisata yang berdekatan, hanya dengan berjalan kaki dari Chatsworth house kita bisa sampai di Edensor.

Dalam perjalanan dari Sheffield ke Edensor, rata-rata penumpang bis adalah orang yang sudah berumur, nampaknya kampung Edensor ini memang menjadi lokasi peristrirahan bagi para pensiunan. Perjalanan dari Sheffield ke Chatsworth ditempuh kurang lebih 45 menit dari terminal bis Sheffield, perjalanan tersebut melewati Peak District National Park, salah satu taman nasional tertua di dunia. Keindahan hamparan gunung dan rumah berarsitektur inggris menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

CHATSWORTH HOUSE

DSC_0441
Chatsworth House

Sesampai di Chatsworth, kami turun menghirup udara pegunungan, menikmati pemandangan Chatsworth House dari luar. Bangunan ini adalah salah satu istana jaman dulu, jaman sekarang juga sih, hehe. Memang sangat nyaman buat peristirahatan, berada ditengah lahan luas dikelilingi lapangan rumput, perbukitan, peternakan dan sungai yang mengalir jernih. Kabarnya orang yang bekerja mengurus istana ini sebanyak 700 orang, yang mengurus 300 ruangan, 62 peternakan, dan 3 desa.

Chatsworth house sejatinya adalah rumah keluarga Duke of Devonshire yang dimiliki oleh keluarga Cavendish sejak 1549. Bentuk bangunannya bergaya Baroque, dan memiliki halaman belakang yang luas. Karena kerennya bangunan disini sudah sering digunakan untuk syuting film, salah satu yang terkenal adalah Pride and Prejudice. Kegiatan di Chatsworth house sudah difilmkan juga oleh BBC dalam 3 episode dan ditayangkan ditahun 2011. Ada banyak obyek yang bisa dilihat didalam Chatsworth house maupun Chatsworth Garden, namun kami tak sempat menikmatinya, lagi hemat uey, hehehe.

Dihalaman Chastworth House saat kedatangan kami sedang digunakan untuk gathering penggemar mobil, kamipun sempat meminta izin untuk berfoto, dan dengan senang hati diijikan oleh pemilik mobil.

Dari Chatsworth House kita bisa berjalan kaki menuju Edensor Village, melintasi bukit yang tak terlalu tinggi. Di jalan kami berpapasan dengan banyak rombongan yang sedang hiking. Tak berapa jauh dari jalan setapak sekumpulan domba putih makan rumput dengan lahapnya. Dari atas bukit kita bisa melihat Chatsworth House maupun Edensor VIllage dari sisi yang berseberangan.

EDENSOR VILLAGE

PSX_20140603_161357
Edensor dari atas Bukit

Pembaca novel Andrea Hirata tentu pernah membaca tentang desa ini. Inilah desa cantik dengan gereja bermenara lancip dan rumah gaya lama. Desanya tentu tak sama dengan desa di kampung kita.

Edensor yang sekarang sebenarnya adalah desa yang dipindah dari pinggir sungai yang berdekatan dengan Chatsworth House. Sang Duke Devonshire yang berkuasa kurang berkenang melihat desa yang berada dipinggir sungai tersebut, karena dianggap mengganggu pemandangan. Oleh Sang Duke, rumah yang berdekatan dengan House of Chatsworth dihancurkan dan dipindahkan ke lokasi yang baru. Proyeknya dimulai tahun 1762 dan tak selesai sampai dia meninggal dan dilanjutkan oleh penerusnya hingga Duke ke-6 dan selesai tahun 1830an.Duke keenam inilah yang merancang sebuah desa baru yang letaknya tak menggangu view dari arah chatsworth house. Sang Duke kemudian menugaskan Head Gardernern-ya Joseph Paxton dan Arsitek dari Derbyshire John Robertson untuk perancangan desa tersebut.

Bangunan yang paling kelihatan di Edensor adalah  Gereja St Peter. Dibangun tahun 1870.  Dari arah perbukitan, inilah landmark Edensor yang paling terkenal, dan juga menjadi siluet dari sampul novel Andrea Hirata.

Gereja ini memiliki kisah tersendiri. Dihalaman gereja tersebut terdapat kuburan Kathleen Kennedy, saudara perempuan dari Presiden USA John F Kennedy dan istri dari Billy, Marquis of Hartington. Kathleen meninggal dalam kecelakaan pesawat, empat tahun setelah suaminya tewas dalam perang dunia kedua, Lima bulan sebelum penembakannya  pada tahun 1963, John F Kennedy mendarat dengan helikopternya untuk mengunjungi kuburan saudaranya. Dipapan gereja inilah pula kita bisa berfoto narsis, sebagai penanda telah ke Edensor.

***

Dalam perjalanan pulang, kami sebus dengan tipikal penumpang yang sama kembali, para senior yang berumur pensiun. Seperti kita yang terobsesi kembali menyepi didesa setelah pensiun, demikian pula para orang tua ini nampaknya berpikir.

Salam dari Edensor

Manchester is Red

Kalau anda penggemar bola, anda sudah akan curiga duluan dengan judulnya. Pasti gak obyektif nih jalan ceritanya, pada ujung-ujungnya saya dianggap akan memuji-muji Manchester united sebagai penguasa Kota Manchester. Tenang saja, bagi anda penggemar Manchester City atau pembenci Manchester United ini bukan kisah tentang itu, meskipun nanti akan nyerempet juga, hehehe.

Ini cerita biasa tentang jalan-jalan saya ke Manchester bersama keluarga kecil ke Kota Manchester. Bagi saya, ini yang kedua kali ke Manchester, tapi bagi istri dan anak saya ini adalah pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di Kota di tengah Inggris ini. Perjalanan dari Edinburgh ke Manchester hanya 3.5 jam dengan kereta dari Waverley Station Edinburgh. Pindah kereta di Lancaster dan lanjut ke Manchester Piccadilly. Di Manchester kami menumpang di flat teman saya di Manchester yang baik hati, Thia, Maureen dan Tika. Thia merelakan kamarnya menjadi tempat menumpang kami, maklumlah sebagai pelajar dengan kantong yang cekak, tumpangan dirumah teman adalah penyelamat kantong yang menipis. Mereka juga harus rela mendengar teriakan, celotehan dan tangisan sibocah kecil Gawa yang moodnya seperti cuaca di Edinburgh ketika matahari mendekati summer solstice, sudut dekilnasi bumi terhadap matahari mendekati 23.45deg, meski kadang cerah namun bisa tiba-tiba mendung berangin dan hujan, begitulah kelakukan Gawa. Untuk hal ini saya harus berterima kasih sebanyak-banyaknya buat mereka.

Kami menginap dua malam di Manchester, namun hanya menghabiskan waktu setengah hari pertama dan seperempat hari kedua jalan-jalan disana, hari kedua kami ke Sheffield dan lanjut ke Edensor, sementara hari ketiga kami cabut dari Manchester dan menuju ke Liverpool. Kedua perjalanan ke kota tersebut akan saya ceritakan di lain seri.

Kami tiba di Manchester masih agak pagi, sekira pukul 11 siang, dijemput oleh Thia di Stasiun Piccadilly dan naik bis menuju flatnya yang berada di kawasan University of Manchester, tempat kuliahnya. University of Manchester adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, peringkatnya selalu 50 besar dunia, kampusnya juga besar, seorang artis Indonesia idola anak muda kabarnya sekolah di Business School disana. Dibandingkan dengan tempat kuliahku di Edinburgh, bangunan di University of Manchester nampaknya lebih luas. Ceritanya University of Manchester ini gabungan dua buah university yang dilebur menjadi satu. Keduanya adalah University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST) yang berdiri tahun 1824 (karena itu lambangnya masih pakai 1824) dan The Victoria University of Manchester yang berdiri tahun 1851. Mereka bergabung ditahun 2004.

DSC_0348
University of Manchester is Red

Saya sebenarnya diterima bersekolah di kampus ini, dan inilah universitas pertama yang mau menerima saya bersekolah di UK. Namun karena saya pikir ongkos hidup di Manchester lebih mahal dari Edinburgh, maka saya pilih yang Edinburgh, tapi ternyata saya salah, ongkos hidup di Manchester lebih murah dari Edinburgh, karena Edinburgh adalah Kota Wisata. Seperti juga University of Edinburgh, University of Manchester punya banyak penerima nobel, macam Ernest Rhutherford, Niels Bohr, John Hicks, dan penerima terkahir tahun 2010 adalah Andre Geim dan Konstantin Novoselov. Total 25 orang penerima nobel yang terasosisasi dengan University of Manchester yang sebagian besar di bidang Fisika, Kimia dan Ekonomi.

Apa obyek wisata yang bisa didatangi di Manchester? Obyek paling terkenal ya Old Trafford stadium, kandang salah satu klub terbaik di dunia, terbaik di Eropa versi saya, terbaik kedua didunia setelah PSM Makassar. Setelah beristirahat sejenak dan menyimpan bagasi, kami menuju ke Stadion Old Trafford. Hari itu Old Trafford sedang ramai-ramainya, karena ada pertandingan antara Man United vs Norwich City. Supporter berbondong-bondong menuju stadion menyaksikan tim hebat bertadning di kandang. Saya jadinya berbaur dengan para supporter yang berfoto disekitar stadion. Obyek yang paling sering digunakan berfoto adalah patung trinity Manchester United. Ini adalah patung tiga pahlawan Manchester United yang membawa piala champion ke tanah inggris untuk pertama kalinya ditahun 1968, mereka adalah George Best, Denis Law dan Bobby Charlton. Waktu itu pelatihnya adalah Sir Matt Busby. Sampai saat ini Sir Bobby Charlton masih hidup dan sering nangkring di kursi VIP bersama Sir Alex Ferguson.

DSC_0420
United Trinity (Saya, Gawa dan Tul)

Obyek lainnya adalah patung Sir Alex Ferguson. Bos Manchester asal tanah Scotland ini memang pelatih jempolan, jumlah gelarnya berderet-deret, kalau ditotal jumlahnya adalah 28 tropy major selama 26 tahun masa kekuasaannya. Maka itu wajar kalau sosoknya diabadikan dalam patung dan juga bagian tribun penonton dinamakan Sir Alex Ferguson Stand.

DSC_0441
Bajunya Rooney ini Buatan Negara Tercinta, Made In Indonesia

Setelah berfoto, lihat-lihat souvenir, kami meninggalkan stadion sebelum pertandingan dimulai menuju ke stadion lain. Stadion ini tempatnya jauh dari mana-mana, kalau kesana harus naik perahu getek, terus naik ojek sejam dan dilanjutkan dengan jalan kaki, lokasinya dipinggir sawah dan dari dekat stadion kita bisa mendengar gembala menghalau kambingnya, itulah Stadion Tetangga,hehehe. Enggak ding, saya becanda.

Selain Manchetser United, ada lagi klub lain di Kota Manchester, namanya Manchester City, pasti baru denger kan namanya? Hehehe. Meski prestasinya tak sementereng Manchester United, Manchester City adalah salah satu klub dengan prestasi besar, dia sudah juara liga Inggris sebanyak empat kali, prestasinya sudah setaraf dengan Sheffield Wednesday dan Newcastle United, namun masih dibawah Sunderland (6 gelar) dan Ason Villa (7 gelar), apalagi Everton yang sudah mengantongi 9 gelar, hehehe.

DSC_0485
Etihad Stadium

But Arab money has changed many things sodara-sodara, klub semenjana ini telah berubah wujud menjadi monster yang menakutkan, pemain-pemain mahal dia datangkan dari luar negeri, dia beli pemain kayak beli gantungan kunci, tinggal sebut harga langsung diboyong. Berkat uang minyak dari tanah Arab, pemain-pemain luar tersebut akhirnya main dipekarangan City of Manchester, hingga kini hanya satu anak kompleks sana yang masih tercatat sebagai pemain Manchester City, itupun cadangan abadi Micah Richards. Para pemain Inggris juga hanya satu yang bermain regular yaitu Joe Hart. Terakhir tim Manchester City menjuarai liga Inggris tahun ini, mungkin ini bener-bener terakhir karena Manchester United akan kembali berkibar, hehehe.

Selain kota bola kota Manchester adalah kota industry dan bisnis. Kota Manchester adalah kota Metropolitan, salah satu yang terbesar di UK, lebih besar tentunya dari Kota tercinta Edinburgh. Jika di Edinburgh warna kulit tak banyak macamnya, maka di Manchester lebih banyak jenis manusianya. Nampaknya area terbuka hijaunya tak sebanyak di Edinburgh, itulah sebabnya Piccadilly Garden di pusat kota seperti kekecilan menampung warga yang bersantai, sampah agak berserakan dan overcrowded menurut saya, sangat berbeda dengan di Edinburgh. Kami sempat juga jalan-jalan berkeliling Piccadilly Garden dan National Footbal Museum.

Nah kenapa saya menyebut Manchester is Red, karena hampir semua bangunan di Manchester berwarna merah, baik rumah maupun university berwarna merah, warnanya senada dengan warna stadion Old Trafford, jadi kalo saya menyebut Manchester is Red cukup fair kan?, kalo nggak, iya ajalah, hehehe.

DSC_0346
Manchester is Red

Salam dari Manchester

26 April 2014

Gondrong adalah Hak Asasi

MAJU GONDRONG !!!

Foto ini diambil tahun 2000, dua tahun setelah saya menjadi mahasiswa baru. Saat saya perlihatkan kepada teman kuliah di Edinburgh, banyak yang tak percaya kalau saya pernah gondrong.

Ada yang bertanya “ini tahun berapa?”. “itu sepuluh tahun lalu” saya bilang sekenanya, diskon 4 tahun dari seharusnya. Mereka masih tak percaya, “saat itu kamu umur berapa?”. “dua puluh tahun” saya bilang, “ha? what? it means that you are 30’s now”

Bukan salah saya kalau dianggap awet muda. Saya sudah survey ke hampir semua teman-teman disini, tebakan tertingginya saya berumur 27 tahun, masih korting 8 tahun dari yang seharusnya. Tapi saya tak mau cerita tentang wajah yang masih menipu ini. Saya mau cerita tentang gondrong.

Saya baca dari Identitas (situs pers mahasiswa Unhas), sebuah fakultas di Unhas melarang mahasiswanya untuk gondrong, alasannya untuk perbaikan citra fakultas, agar alumninya lebih gampang cari kerja. Kalau masih melanggar, ditegur, dan kalau masih melanggar lagi akan di D.O. Tentu banyak mahasiswa yang sedari TK bercita-cita pengen gondrong, kandas dan karam cita-citanya hanya karena aturan absurd ini.

Gondrong tak ada hubungannya dengan cari kerja. Memang ada hubungannya dengan pencitraan, tapi berpikir terbukalah, jaman mahasiswa itu bukan jaman cari kerja. Setelah kuliah mereka para gondrong kucel itu bakal potong rambut juga, menyesuaikan dengan standar dunia kerja. Mereka akan berusaha sekuat mungkin biar diterima kerja, mungkin karena alasan ekonomi atau karena dipepet kawin sama pacar jaman mahasiswanya. So, Pak Dekan yang bikin aturan ini gak perlu khawatir.

Dalam pengalaman saya, melamar, tes, wawancara, ditolak atau diterima, tidak ada pertanyaan “pernahkah kamu gondrong jaman mahasiswa?”. Pertanyaan out of context yang pernah saya dapatkan adalah “kenapa kampusnya sering tawuran?. kenapa bakar kampus? kenapa ndak bakar roti saja biar bisa dimakan?”. Sebagai bekas gondrong, apakah saya mengalami kesulitan mencari kerja? Jawabannya iya, tapi bukan karena gondrongnya, tapi karena harus bersaing dengan Universitas lain, karena harus menghaluskan lidah yang susah sekali berbahasa inggris, karena kurang pengetahuan tentang yang dibutuhkan dunia kerja. Memang saya juga pernah ditolak karena attitude yang kurang serius dalam proses rekruitmen, tapi itu bukan karena saya gondrong, saya sudah potong rambut saat itu, dan rapi kece cepak.

Gondrong memang kadang berasosiasi negative. Di kampung saya di Kadidi-Sidrap-Sulsel, ketika saya pulang kampung, kepala kampung , yang secara garis keturunan masih kakek saya, melarang saya datang kerumahnya selama rambut saya masih panjang. Pernah juga saya bersama Asdhy (sahabat kuliah sesama gondrong), berkunjung ke rumah temannya yang bapaknya Direktur Utama di Semen Tonasa waktu itu, dan selama kami bertamu dijagain dua orang satpan diluar dan diusir sama ibunya teman. Hehehe. Tapi itu kan jaman mahasiswa, tak ada hubungannya dengan dunia kerja.

Ada juga pemuda berambut gondrong yang dicerca media sosial, tapi bukan karena gondrongnya, tapi karena ceramah sambil nginjek kepala tukang sound system.

Saya pikir, biarkanlah mahasiswa itu gondrong, tak ada hubungannya otak dan attitude dengan gondrong. Lebih baik pihak universitas fokus ke hal-hal yang lebih substansial. Seperti junior saya, Cipu, yang pernah kuliah di Australi, agar Universitas untuk membuka akses ke jurnal internasional sebanyak-banyaknya, WC diperbaiki, bahasa inggris dibudayakan, plagiarism diberantas hingga ke akar-akarnya, tak ada lagi istilah mencontek di kelas atau copy paste skripsi.

Kalau tak percaya gondrong itu gak ada hubungannya dengan cari kerja, coba tanyakan kepada teman-teman saya di foto itu. Salah seorang diantaranya bahkan adalah dosen di Jurusan Teknik Elektro, pakar robot dari Unhas.

Bagi adek2, yang mau gondrong, perjuangkan cita-citamu, kalau nggak, kalian tidak akan bisa punya foto sekeren diatas, hehehehe.

 Salam dari Edinburgh

02/03/14

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Dwiki Setiyawan's Blog

Pencerah Langit Pikiran

Tofan Fadriansyah

Just another WordPress.com weblog

Design a site like this with WordPress.com
Get started